Categories
Berita

Pengajian dan Buka Bersama di KBRI Ottawa, Prof. Haris Sebut Ukhuwah Level Tertinggi Sikapi Perbedaan

Level tertinggi bersikap terhadap perbedaan adalah persaudaraan. Bukan peminggiran ataupun pemusnahan pada mereka yang berbeda. Demikian disampaikan Prof. Dr. HM. Noor Harisudin, S.Ag, SH, M.Fi.I,CLA, CWC, Direktur World Moslem Studies Center, dalam Pengajian dan Buka Bersama di KBRI Ottawa Kanada, Sabtu, 28 Pebruari 2026.

Pernyataan Prof. Haris sangat relevan dengan Negara Kanada yang dikenal dengan multikulturalisme-nya. Di Kanada, penganut agama hidup berdampingan dengan damai. Ada masjid, gereja, sinagoge, kuil, dan rumah ibadah yang lain. Jutaan penduduknya yang berasal dari berbagai negara juga hidup rukun dan damai. Mereka memegang teguh akan multukultarisme yang menjadi nilai utama warga Kanada.

Lebih lanjut, Prof. Haris menjelaskan bahwa perbedaan adalah sunnatulah. Kapanpun dan dimanapun, pasti ada perbedaan. “Jangankan kita berbeda dengan orang lain. Dalam diri kitapun, kita seringkali berbeda. Buktinya, pagi hari tempe, malam hari kedelai. Pagi A, siang B dan malam C. Ini bukti kalau diri kita juga sering berbeda. Oleh karena itu, jangan takut dengan perbedaan”, ujar Prof. MN Harisudin yang juga Dai Internasional Kanada Tahun 2026 ini.

Prof. Haris menceritakan anekdot seorang yang tertabrak di Indonesia di rel kereta pai. Dia sudah berlumuran darah. “Seorang yang mau menolong ini banyak tanya. Kamu agama apa? Islam jawab yang tertabrak. Islam apa? NU atau Muhammadiyah? NU jawabnya lagi. NU nya apa? PKB atau PPP? PKB jawabnya lagi. Masih ditanya lagi PKB nya siapa? Gus Dur atau Muhaimin? Akhirnya sebelum menjawab dia meninggal duluan”, cerita Prof Haris yang disambut gelak ratusan tawa hadirin pada sore itu.

Islam, kata Prof. Haris, memberikan guidance bagaimana menghadapi perbedaan. Bukan dengan cara pemusnahan terhadap mereka yang berbeda, melainkan dengan bersikap toleran terhadap perbedaan. “Laula mukhalafata lama musaamahata. Seandainya tidak ada perbedaan, maka tidak akan ada toleransi. Makanya, sungguh Indah, level pertama adalah berbeda, tapi toleran atau menghargai perbedaan tersebut”, ujar Prof. Haris yang juga Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

Level selanjutnya adalah berbeda, tapi bersatu. “Tentu hal yang tidak mudah. Namun, kita bisa menaikkan levelnya. Seseorang bukan hanya toleran, namun juga bersatu –misalnya–menjadi bagian dari nation atau bangsa, Demikian juga bersatu menjadi bagian dari umat Islam dunia. Meski kita tahu–umat Islam berbeda: NU, Muhammadiyah, Sunni, Syiah, Ahmadiyah, dan seterusnya”, kata Prof. MN. Harisudin yang sudah berkunjung ke 23 negara dunia.

Dan level paling tinggi adalah berbeda, namun bersaudara. “Inilah yang diajarkan Islam. Kita berbeda, namun kita bersaudara. Islam mengajarkan Tri Logi Ukhuwah: persuadaran berdasarkan keislaman (Ukhuwah Islamiyah), persaudaraan berdasarkan kebangsaan (Ukhuwah Wathaniyah) dan persadauraan berdasarkan kemanusiaan (Ukhuwah Basyariyah). Dengan Tri Logi Ukhuwah ini, umat Islam akan mudah bergaul dimanapun dan kapanpun juga, khususnya di Kanada ini”, kata Prof. MN Harisudin ulama muda yang juga Wakil Ketua Komisi Pesantren MUI Pusat.

Hadir pada kesempatan itu, Muhsin Syihab (Dubes RI Kanada), Rahmania Maryam Syihab (Ibu Dubes RI Kanada), Rezal Akbar Nasrun (Minister Consuler), Ust. Bani (Ketua Pengajian Muslim Ottawa), dan para diaspora muslim yang berjumlah seratus lebih. Selain buka bersama dengan makanan khas Indonesia yang memikat, juga ada doa bersama untuk umat Islam di Iran dan penggalangan dana untuk umat Islam di Palestina. Acara diakhiri dengan sholat tarawih berjamaah mulai jam 7.30 hingga 8.30 malam waktu Kanada. ***

Reporter: Iklil Naufal Umar
Editor : M. Irwan Zamroni Ali

Categories
Opini

Montreal dan Harmoni Umat: Menjaga Ukhuwah di Tengah Perbedaan

Keesokan hari setelah tiba di Kota Montreal, saya memilih bergabung shalat secara itmam. Itmam adalah menyempurnakan shalat lima waktu dalam jumlah asalnya: Subuh dua rakaat, Dzuhur empat rakaat, Ashar empat rakaat, Maghrib tiga rakaat, dan Isya empat rakaat.

Berbeda dengan itmam, qasar adalah meringkas sholat yang asalnya empat raka’at menjadi dua raka’at, yakni pada sholat Dzuhur, Ashar, dan Isya.

“Mengapa?” tanya Kiai Sigit panggilan saya kepada Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istemewa Nahdlatul Ulama AS-Kanada, Sigit Afrianto.

Saya jawab, “Biar saya cepat beradaptasi dengan Kanada. Kalau menjadi musafir—dengan rukhsah sholat jamak dan qasar, saya biasanya lebih lama beradaptasi karena selalu memposisikan diri sebagai musafir.”

Sebenarnya ini hanya soal kebiasaan. Termasuk kebiasaan puasa sunah di tempat yang kami kunjungi akan mempercepat adaptasi dengan daerah yang kita singgahi.

Pagi hari Selasa (17/2/2026), bersama Kiai Sigit saya bergabung dengan jamaah masjid untuk melaksanakan shalat lima waktu. Siangnya, kami berjalan-jalan mengitari Kota Montreal yang tenang, indah, dan memukau.

Jumlah masjid di Montreal, Kanada, cukup banyak. Jika pada 1956 hanya ada satu masjid, kini sudah ada sekitar 30 masjid—perkembangan yang luar biasa cepat.

Jumlah Muslim di Montreal juga mencapai 10 persen dari total penduduk sekitar 4 juta jiwa, atau kurang lebih 400 ribu orang. Tentu jumlah yang lumayan besar untuk ukuran negara dengan penduduk muslim minoritas.

“Selain berasal dari 18 negara yang berbeda, juga dengan ragam pemahaman yang beda. Ada yang sunni, syiah dan juga Ahmadiyah,” kata Kiai Sigit dalam perjalanan menuju masjid. Variannya juga banyak. Semua hidup berdampingan dengan baik.

Dalam konteks itulah, Imam Masjid Mekah—namanya Maulana Ismail Jogiyat—mengatakan kepada Kiai Sigit agar menghindari perdebatan tentang perbedaan dalam pemahaman Islam.

“Karena berdebat tentang perbedaan tidak ada artinya. Justru akan melemahkan Islam yang sudah minoritas di negeri ini,” jelas Maulana Ismail Jogiyat yang berasal dari India.

Ada masjid besar lain yang tidak jauh dari tempat Kiai Sigit. Namanya Masjid Jamie Canadian Islamic Center. Masjid ini cukup besar. Imamnya berasal dari Mesir bernama Sheih Awais. Pada bulan Ramadhan tahun ini, mereka bahkan mengundang imam khusus dari Mesir.

Masjid Jamie Canadian Islamic Center sendiri dulunya adalah sebuah sinagog yang dibeli lalu dijadikan masjid di Montreal. Arah kiblat sinagog tersebut kebetulan sama dengan kiblat umat Islam. Ukurannya dua kali lipat Masjid Mekah al-Mukarromah.

Masjid lainnya adalah Masjid Al Huda yang berada di tengah kota. Pak Ransang, teman Kiai Sigit, menjadi takmir masjid ini. Jamaahnya berasal dari Somalia, Serbia, dan beberapa negara lain yang warganya dahulu menjadi imigran atau pengungsi akibat perang. Jika dua masjid sebelumnya telah menjadi milik umat Islam, Masjid Al Huda ini masih berstatus sewa.

“Doakan Pak Ustadz. Kami bisa beli masjid ini,” kata Pak Ransang kepada saya ketika berkunjung ke sana.

Apa yang disampaikan para imam masjid tersebut sesuai dengan kaidah fikih: La yunkaru al-mukhtalafu fiihi, wa innama yunkaru al-mujma’u ‘alaihi.

Perselisihan pendapat ulama tidak boleh diingkari. Yang boleh diingkari adalah sesuatu yang telah disepakati ulama. Artinya, pendapat yang masih menjadi perdebatan di kalangan ulama harus dibiarkan berbeda. Kita hanya boleh menyalahkan perbuatan yang bertentangan dengan ijma ulama, seperti kewajiban sholat lima waktu, haji di Mekah, dan sebagainya. Meski demikian, kita tetap harus teguh dengan keyakinan masing-masing.

Itulah sebabnya, jika berkunjung ke Ottawa, Kanada, kita akan melihat indahnya perbedaan antara satu masjid dengan masjid lain. Misalnya dalam hal waktu shalat, kostum shalat, tata cara shalat, pelaksanaan shalat Jumat, tata tertib masjid, dan sebagainya.

Namun demikian, masih saja ada Muslim yang merasa paling benar. Ketika kami berkunjung ke Islamic Center of Quebec di Montreal, ada pengalaman menarik. Saya shalat berjamaah bersama Kiai Sigit. Setelah selesai salam, kami didatangi seorang pria asal Pakistan yang berbicara dalam Bahasa Arab. Ia mengingatkan bahwa shalat saya keliru, lalu menjelaskan bagaimana tata cara shalat yang menurutnya benar.

Saya hanya mendengarkan penjelasannya, sembari menjawab seperlunya dalam Bahasa Arab. Saya tidak beradu argumen. Dalam hati saya bergumam, orang ini mungkin belum selesai memahami indahnya perbedaan dalam berislam. Tentu inilah tantangan kita ke depan. Wallahu’alam.

Sumber: https://www.arina.id/khazanah/ar-7mhxr/montreal-dan harmoni-umat–menjaga-ukhuwah-di-tengah-perbedaan

Categories
Berita

KBRI Ottawa Undang Dai Internasional Bahas Fikih Keseharian Muslim di Kanada

Ottawa, 27 Pebruari 2026.Islam secara subtansi adalah sama, baik Islam di Asia, Amerika, Australia, Afrikan maupun Eropa. Hanya saja, pada praktiknya, sedikit berbeda karena perbedaan tempat, waktu dan keadaan. Oleh karena itu, kaidah dalam fikih, mengatakan taghayurul ahkam bi taghayuril azminati wal amkinati wal ahwali. Hukum Islam berubah sesuai perubahan zaman, tempat dan keadaan.

Bertolak dari ini, maka KBRI Ottawa bekerja sama dengan Pengajian Kamila menyelenggarakan Kajian Ramadan dengan tema “Fikih Keseharian Muslim di Kanada”. Kegiatan diselenggarakan Kamis, 26 Pebruari 2026 di Auditorium Caraka Nusantara KBRI Ottawa Kanada. Hadir pada saat itu, Dubes RI di Kanada, Muhsin Syihab, dan segenap jajarannya seperti Rezal Akbar Nasrun, Heru Santoso dan lain sebagainya.

Ketua Pengajian Kamila (Kajian Muslim Lintas Negara), Rahmania Maryam Syihab yang juga istri Dubes RI Kanada mengatakan bahwa pengajian ini diperuntukkan Muslim di Kanada. ” Secara online, diaspora Muslim hadir dari beberapa kota besar di Kanada seperti Ottawa, Montreal, Calgary, Toronto dan Vancouver. Semantara, secara offline di KBRI, hadir puluhan orang bapak dan ibu serta diaspora muslim di Ottawa”, kata ibu Rahmania Maryam Syihab yang asal Palembang.

Sementara itu, Prof. M. Noor Harisudin Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq mengatakan bahwa fikih adalah salah satu unsur penting dalam Islam.”Unsur dalam Islam itu ada tiga: Tauhid (Iman), Fikih (Syariah) dan tasawuf (Ihsan). Sekarang kita bahas fikihnya dulu”, kata Prof. Haris yang juga Direktur World Moslem Studies Center.

Soal fikih, lanjut Prof Haris, menyatakan bahwa umumnya orang menyebut hukum Islam yang lima yaitu wajib, sunah, haram, makruh dan mubah. “Ini tidak salah, namun kurang lengkap. Ada dimensi lain dalam fikih yang objeknya adalah perbuatan manusia. Misalnya bagaimana sholat –kita contohkan sholat dluhur–itu dilakukan; apakah telah memenuhi syarat dan rukun sholar. Kalau syarat dan rukun terpenuhi, maka sholat dluhur sah dan gugur kewajiban sholat tersebut”, ujar Prof. Haris yang juga Pengasuh PP Darul Hikam Mangli Jember.

Demikian juga, ketika sholat dluhur, apakah dilakukan dalam keadaan normal atau dilakukan dalam keadaan khusus. “Dalam keadaan normal berlaku hukum asal, misalnya jumlah sholat dluhur dan ashar 4 rokaat dan dilakukan pada waktunya. Dalam keadaan khusus –misalnya bepergian dan orangnya disebut musafir—maka dia mendapat keringanan dari Allah Swt. Dia boleh sholat jama dan qashar dari 4 rakaat menjadi hanya 2 rakaat. Ini yang disebut dengan rukhsah”, ujar Prof. Haris yang juga Wakil Ketua Komisi Pesantren MUI Pusat.

Para jamaah sangat atunsias mengikuti pengajian yang berlangsung dua jam mulai 12.30 hingga 14.30 Waktu Kanada Ada banyak pertanyaan. Salah satunya tentang puasa Ramadan di daerah yang Maghribnya jam 10 malam. “Tapi kami ikut puasa sampai jam 6 sore, ustadz. Padahal keadaan musim panas (summer). Bagaimana puasa kami, Ustadz”, tanya ibu Laila ketika dia dan suaminya tinggal di Yellowknife Kanada. Prof Haris menjelaskan bahwa itu merupakan khilafiah (perbedaan pendapat). Ada ulama yang mengatakan buka puasa jam 10 malam dan ada ulama cukup jam 6.

“Silahkan ikut pendapat yang ibu yakini. Dan puasa ibu juga sah”, tukas Prof. Haris yang sudah berdakwah keliling 23 Negara dan lima benua tersebut. Wallahu’alam***

Categories
Opini

Awal Ramadan yang ‘Mendebarkan’ di Kanada

Oleh: M. Noor Harisudin
Direktur Womester dan Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Di Kanada, kami sudah mendengar hasil Keputusan sidang itsbat di Indonesia bahwa hilal tidak terlihat hilal dari Sabang sampai Merauke. Sehingga umat Islam menyempurnakan 30 hari Sya’ban. Pemerintah Indonesia melalui Menteri Agama RI juga telah memutuskan bahwa 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Pebruari 2026. Meski demikian, beberapa ormas Islam melalui hisab — seperti Muhammadiyah  sudah mengumumkan jika awal Ramadan jatuh pada Rabu, 18 Pebruari 2026. Warga Muhammadiyah mulai puasa hari Rabu 18 Pebruari,

Bagaimana awal Ramadan di Kanada?

Awal Ramadan sangat penting bagi Muslim di Kanada yang populasinya sudah mencapai 2 juta jiwa atau sekitar 5 % dari total populasi warga Kanada. Islam adalah agama terbesar kedua di Kanada. Populasinya juga tumbuh pesat terutama di berbagai wilayah seperti Toronto, Quebec, Montreal dan juga Ottawa.

Malam itu, saya bersama Kiai Sigit berangkat menuju Masjid Makah al Mukaromah di Montreal Kanada. Jarak temph rumah Kiai Sigit ke masjid adalah 1 menit. Saya dan seratus lebih orang yang sholat Isya berjamaah di sini. Jamaah sholat penuh. Mereka dari berbagai negara,

Isya di Montrel, sekitar jam 07.00 waktu malam Kanada. Setelah selesai sholat Isya, Imam memegang mikropon dan menyampaikan bahwa malam ini jam 09.00 malam ini akan diumumkan kapan awal Ramadan. Masjid Mekah Al Mukaromah biasanya mengikuti rukyah yang dilakukan oleh Forum Komunikasi Imam Masjid se- Montreal dan Amerika Serikat.

“Ada dua jenis kelompok yang menentukan awal Ramadan. Pertama, dengan hisab yang digawangi oleh ISNA (Islamic Society of North America) dan ICNA (Islamic Circle North America). Kedua, dengan rukyah yang digawangi Forum Komunikasi Masjid *Quebec & Canada* dan AS”, kata Kiai Sigit menjelaskan pada kami.

Umat Islam Kanada yang mendasarkan awal Ramadan berdasarkan hisab telah menetapkan awal Ramadan jatuh pada Rabu, 18 Pebruari 2026. Sementara, umat Islam yang mendasarkan awal Ramadan berdasarkan rukyah berpuasa mulai Hari Kamis 19 Pebruari 2026.

“Bagi kami yang menggunakan rukyah, awal ramadan insyaallah pada Hari Kamis, 19 Pebruari 2026 karena kami –secara informasi– tidak melihat hilal baik di Quebec maupun Vancouver dan juga California”, kata Kiai Sigit pada saya.

Benar saja ini Kiai Sigit. Jam 09.30 malam waktu Quebec, takmir Masjid Makah Al-Mukarromah mengumumkan bahwa awal Ramadan jatuh pada Kamis, 19 Pebruari 2026. Alhamdulillah, gumam hati saya. Ini berarti saya masih ada waktu satu hari lagi untuk adaptasi dengan Kanada yang dingin sekali.  

Walhasil, umat Islam di Kanada berbeda dalam memasuki awal Ramadlan. Mereka yang memulai puasa pada hari Rabu karena berdasarkan hisab. Sebagian memulai Ramadlan hari Kamis karena berdasarkan rukyah di Montreal dan propinsi Quebec semata.

Namun demikian, yang menarik adalah semua umat Islam Kanada kompak. Mereka tidak mempersoalkan perbedaan awal Ramadan. Semua memasuki bulan Ramadan di tahun 2026 ini dengan penuh suka cita. Mereka berbondong ke masjid untuk sholat lima waktu, sholat tarawih, tadarus Qur’an dan kegiatan lainnya.

Wallahu’alam. ***

Categories
Berita

Dubes RI Muhsin Syihab Terima Kasih atas Kehadiran Dai Internasional Womester di Kanada

Ottawa Kanada, 22 Pebruari 2026

Dubes RI di Kanada, Muhsin Syihab mengucapkan terima kasih atas kedatangan Prof. M Noor Harisudin, Direktur World Moslem Studies Center (Womester) di Ottawa Kanada dalam rangka Safari Ramadan mulai 6 Pebruari hingga 3 Maret 2026. Demikian disampaikan oleh Muhsin Syihab dalam acara Pengajian dan Buka Bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Ottawa pada Minggu, 22 Pebruari 2026.

“Selaku Dubes RI Kanada, kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran semuanya di Auditorium KBRI Ottawa ini. Dan juga, kami terima kasih atas kedatangan tamu khusus kita, Prof M. Noor Harisudin ke Kanada. Beliau datang dalam rangka Safari Ramadlan. Prof Haris adalah seorang yang ahli dalam ilmu hukum Islam. Kemarin beliau ke Montreal, sekarang di Ottawa dan nanti akan ke Toronto’, kata Muhsin Syihab yang menjadi Dubes Kanada bukan Juli 2025.

Muhsin Syihab berharap agar digunakan untuk berkonsultasi tentang agama pada Prof. Haris yang juga Guru Besar Ilmu Fikih di UIN Kiai Haji Achmas Siddiq Jember. “Karena Prof Haris selama lima hari ke depan, Prof Haris akan mengisi di KBRI Ottawa”, ujar Muhsin Syihab, Dubes muda yang lahir pada 5 Juni 1970.

Sementara, Prof Haris berterima kasih pada Dubes Kanada yang sesungguhnya adalah seorang ulama juga. Dalam paparannya, Prof Haris menjelaskan tiga unsur Islam yaitu tauhid, fikih dan tasawuf. “Ketiga-tiganya harus dipelajari dan diamalkan secara seimbang. ”, kata Prof Haris, Dai Internasional yang sudah keliling 23 negara dunia tersebut.

Secara spesifik, Prof Haris menjelaskan tentang Fikih Luar Negeri yang dalam bahasa lain Fikih Aqaliyat. “ Fikih Luar Negeri itu yang Fikih Aqaliyat. Ini fikih untuk muslim yang hidup di negara dengan minoritas muslim seperti Kanada, Amerika, Australia, Taiwan, Belanda, Jerman, Hongkong, Rusia, Jepang dan sebagai”, ujar Prof Haris yang juga Wakil Ketua Komisi Pesantren MUI Pusat.

Terkait dengan Fikih Luar Negeri, Prof Haris memberikan catatan bahwa muslim luar negeri secara khusus mendapatkan rukhsah dari agama. Sebagaiman dikatahui, rukhsah adalah lawan dari azimah. Jika azimah adalah hukum asal, maka rukhash adalah hukum keringanan yang ditetapkan oleh Allah dalam keadaan tertentu (fi haalatin khassah).

“Karena ada kesulitan tertentu, maka muslim mendapatkan keringanan. Misalnya kesulitan mensucikan najis babi atau sering disebut dengan Najis Mugholadzah. Menurut jumhur ulama, cara mensucikannya dengan tujuh kali basuhan dan salah satunya dengan debu. Nah sucikan dengan debu ini sulit di beberapa negara, maka diganti dengan sabun”, ujar Prof. Haris yang juga Pengasuh PP Darul Hikam Mangli Jember.

Mashul Khufain (mengusap mauzah atau sepatu) adalah rukhsah lain yang diberikan pada muslim di negara minoritas. “Karena kesulitan kaki dicopot, maka kita tidak usah copot. Dan tidak da tempat wudlu, kecuali westafel yang menutut orang luar negeri dinggap kumuh dan tidak sopan meletakkan kaki di westafel untuk wudlu. Maka kita bolej mengikuti pendapat ulama yang membolehkan mashul khufain di negara yang tadi saya sebut. Saya sendiri juga praktik mashul khufain di berbagai negara tersebut”, ujar Prof. M Noor Harisudin yang juga Guru Besar Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmas Siddiq Jember.

Namun demikian, meski ada kelonggaran dalam Fikih Luar Negeri, Prof Haris tetap mendorong muslim Kanada untuk terus berdakwah. Demikian ini agar umat Islam tidak menjadi minoritas selamanya, namun suatu saat nanti bisa mayoritas. “Saya dengar di Montreal dulu hanya ada satu masjid tahun 1956. Kini Montreal sudah memiliki 30 masjid. Demikian juga masjid di Ottawa yang dulu hanya satu masjid, kini punya sepuluh masjid. Demikian kota-kota besar lain di Kanada”, kata Prof M Noor Harisudin yang juga Wakil Ketua PP Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara-Hukum Administrasi Negara 2025-2030.

Acara dihadiri seratus lebih jamaah diaspora Indonesia di Ottawa. Selain Muhsin Syihab (Dubes RI), juga hadir Rezal Akbar Nasrun (Minister Counsellor) dan Keluarga Besar KBRI Ottawa juga hadir semua. Jamaah juga hadir seperti Ust Bani (Ketua Pengajian Masyarakat Muslim Indonesia Ottawa), Ust. Amin (Sesepuh PM2IO) Sigit Afrianto (Wakil Rois Syuriyah PCI NU As-Kanada) Sebelum tausiyah Ramadan, diawali dengan doa khataman al-Qur’an oleh Ust Amin. Acara selanjutnya buka puasa bersama dan sholat tarawih secara berjamaah. ***

Categories
Opini

Mengenal Para Ahli Pesawat Diaspora Indonesia di Kanada

Oleh: M. Noor Harisudin
Direktur Womester dan Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Sore itu, Selasa, 17 Februari 2026.  Saya bersama Kiai Sigit ke Bombardier Aerospace  perusahaan produsen pesawat terkemuka asal Kanada yang berbasis di Montréal. Bombardier fokus pada pembuatan jet bisnis mewah berkinerja tinggi. Produk utamanya mencakup seri Global (5500, 6500, 7500, 8000) dan Challanger (3500, 6500).

Pesawat produk perusahaan ini dikenal atas kenyamanan, kecepatan, dan teknologi canggih, melayani pelanggan korporat dan pemerintahan. Bombardier sendiri berpusat di Quebec. Bombardier telah beroperasi selama 80 tahun lebih, dengan perakitan di kota Toronto Raya dan penyelesaian interior di Montreal Kanada.

“Saya dulu bekerja di sini. Sekarang pindah ke perusahaan Airbus”, jelas Kiai Sigit pada saya. Airbus SE perusahaan pesawat multinasional asal Eropa. Sejak tahun 2019, Airbus telah menjadi produsen pesawat terbang terbesar dan juga produsen helikopter terkemuka di dunia.Ada tujuh negara yang berkolaborasi dalam pembuatan pesawat air bus yaitu Kanada, Perancis, Jerman, Spanyol, Inggris, Tiongkok dan AS.

Kiai Sigit adalag alumni PT Dirgantara Indonesia. PT Dirgantara Indonesia—selanjutnya disingkat PTDI– adalah BUMN dirgantara terkemuka dan didirikan tahun 1976 oleh B.J. Habibie. PTDI terkenal sebagai satu-satunya produsen pesawat CN235 di dunia. Produk unggulan PTDI meliputi pesawat CN235-220, dan N219, yang tangguh untuk militer, sipil, dan misi khusus.

Ketika BJ Habibie dulu, para ahli pesawat Indonesia berkumpul di PTDI. Mereka berhasil membuat pesawat sendiri. Sayang, setelah ini, mega proyek ini habis. Kebijakan negara tak lagi mendukung pembuatan pesawat.

Mereka akhirnya tersebar ke berbagai negara. Belanda, Jerman, Brazil, dan Kanada. Ada kurang lebih 100 ahli pesawat alumni PTDI yang ke berbagai negara. Ketrampilan mereka dibutuhkan di negara tersebut pasca bubarnya  PTDI di Indonesia.

Pada bulan Maret 2024, saya bertemu Pak Gery, diaspora Indonesia ahli pesawat ‘alumni PTDI’ yang tinggal di Bremen Jerman. Saya juga sempat memberi pengajian di Musholla beliau di Bremen Jerman. 

“Pak Gery itu teman saya”, kata Kiai Sigit pada saya. Bedanya, Pak Gery di Jerman, Kiai Sigit dari Jerman, ke Brazil dan lalu terakhir Kanada.

Pada tahun 1995, Indonesia cukup keren. Para ahli pesawat didikan BJ Habibie sudah piawai membuat pesawat ditandai dengan terbangnya pesawat N250 hasil karya putra putri Indonesia, menandai 50 tahun Indonesia Merdeka. Sayang, karena krisis moneter tahun 1998 membuat tidak dilanjutkannya kebijakan pemerintah dalam mendukung program pesawat N250. Padahal, itu aset yang luar biasa.         

“Kita sulit berkembang, karena tidak didukung negara. Selain itu, sengaja produsen pesawat Indonesia dimatikan. Sehingga Indonesia akan selalu tergantung pada mereka”, kata Kiai Sigit pada saya. Padahal, kebutuhan pesawat sejenis N250 di Indonesia adalah sekitar 75 pesawat. Saat ini, kebutuhan ini dipenuhi oleh pesawat ATR buatan Perancis. Lumayan juga. Kalau beli ke perusahaan dalam negeri, tentu, betapa luar biasanya.

Tahun 2018 program pesawat Bombardier C-Series yang didesain oleh kiai Sigit, diakuisisi oleh perusahaan AIRBUS, dan berubah nama menjadi Airbus A220, sehingga sekarang  kiai Sigit menjadi satu satunya Principal Engineering Specialist dibidang pneumatic systems di AIRBUS Kanada. Putri pertama Kiai Sigit yang bernama Chyntia dulu juga bekerja di Bombardier, seperti ayahnya.

Selain Kiai Sigit, ada beberapa ahli pesawat di Montreal Kanada, yang dulu juga didikan BJ Habibie, misalnya Rangsang W.  yang kini bekerja di Kementrian  Pertahanan Kanada dan pak Endro Haryono yang kini bekerja di Bombardier. Ada juga Pak Lilik yang bekerja di Airbus. Semuanya aktif di masjid Montreal Kanada.

“Apa harapan Kiai Sigit pada pemerintah Indonesia”, tanya saya padanya suatu saat. Ternyata, dia ingin anak-anak Indonesa dan santri seperti dia. Indonesia tidak boleh kalah dengan negara lain khususnya dibidang teknologi, seperti pembuatan pesawat atau mobil.

Mengapa? Karena tidak ada negara maju yang tanpa industri. Salah satunya pesawat terbang. Selain tentu saja perusahaan ini akan menyerap tenaga kerja Indonesia yang lumayan banyak. Pertanyaannya, apakah pemerintah Indonesia siap untuk kembali mendukung kebangkitan industri   pesawat dan mobil Imdonesia?

Semoga. *

Categories
Opini

The Tiring Trip: Perjalanan Dakwah dari Ujung Selatan Menuju Ujung Utara Dunia

Oleh: M. Noor Harisudin
Direktur Womester dan Guru Besar UIN KHAS Jember

Malam Senin (15/2/2026), saya berangkat dari Bandara Soetta Jakarta. Tepatnya jam 23.00. Saya harus transit ke Hongkong via Pesawat Garuda Indonesia. Dari Hongkong, saya naik pesawat Cathay menuju Tokyo, Jepang. Kurang lebih lima jam juga sampai Jepang. Dari Jepang, saya menuju Kanada melalui maskapi Canada Airlines yang ditempuh hampir 12 jam. Perjalanan pesawat kalau ditotal kurang lebih 22 jam. Saya sampai di Kanada jam 6 sore padahal berangkat dari Tokyo Jepang juga jam 6 sore di hari yang sama (Senin). Mungkin anda bertanya. Jam 6 ke jam 6. Mengapa? Karena selisih waktunya adalah 12 jam. Antara Jepang dan Kanada.

Kanada adalah negara paling ujung utara dengan kutub utara. Sementara, Indonesia ada di ujung Selatan. Sehingga ini merupakan perjalanan panjang dari ujung selatan ke ujung utara dunia. Namun, perjalanan serasa mengasyikkan. Kanada adalah negara paling utara di Amerika Utara. Kanada dengan ibukota Ottawa itu memiliki 10 propinsi dan 3 teritori dengan populasi penduduk kurang lebih 41 juta. Kota-kota besar yang terkenal di Kanada adalah Toronto, Montreal, dan Vancouver. Bahasa resmi yang digunakan di negara ini adalah Bahasa Inggris dan Perancis. Khususnya propinsi Quebec, Bahasa Perancis lebih mendominasi karena daerah ini dulu pernah dijajah Perancis.

Ketika sampai di Montreal Airport, saya langsung dijemput Kiai Sigit Afrianto, Wakil Rois Syuriyah Pengurus Cabang Istemewa Nahdlatul Ulama AS-Kanada. Kiai Sigit adalah seorang tokoh NU Kanada yang saat ini bekerja di perusahaan Airbus Kanada. Dia bersama istri menjemput dengan Mobil Sedan Marcedesnya. Dari Bandara, kami membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai ke rumahnya. Rumah mewah eksotik lantai tiga yang bersih dan menawan.

Apalagi saat musim dingin di Kanada. Halaman rumah Kiai Sigit saljunya satu meter. Jalan-jalan dengan dipenuhi salju. Suhu 0,2 derajat hari itu.
“Masih untung Kiai. Di sini sudah 0. Kemarin sampai minus 32”, kata Kiai Sigit.
Saya masuk kamar dan melihat peta dunia. “Dari ujung selatan ke ujung utara dunia. Makanya, saya sebut the tiring trip. Perjalanan yang asyik, meski melelahkan. Selisih waktu dengan Indonesia 12 jam”, gumam hati saya.

Sepanjang jalan tadi, saya lihat rumah dan halamannya dipenuhi hamparan salju yang menggunung. Maklum, musim dingin (winter). Musim dingin di Kanada terjadi pada Desember hingga Maret. Suhu udara bisa turun hingga -30°C di beberapa daerah. Pada musim ini, orang Kanada mengadakan festival musim dingin yang meriah seperti Winterlude di Ottawa dan Carnaval de Québec di Quebec City. Salju adalah fase saat masih berupa serpihan atau pasrahan es, yang lembut dan kalau di injak ambles. Salju akan mengeras jadi es jika terkena matahari dengan temperature dibawah 0 derajat celcius.

Sementara, musim semi (spring) dimulai bulan Maret dan diakhir Mei. Musim semi adalah musim transisi di mana salju mulai mencair, suhu mulai menghangat, dan alam mulai tumbuh kembali. Pada musim semi, suhu udara yang mulai naik, berkisar antara 0°C hingga 15°C. Hari-hari juga menjadi lebih panjang. Salju mulai mencair, bunga-bunga mulai bermekaran, dan alam kembali hidup. Tak hanya bunga-bunga yang kembali bermekaran, musim ini juga menjadi waktu bagi burung-burung untuk bermigrasi.

Musim panas (summer) terjadi pada bulan Maret hingga Mei. Musim panas sangat menyengat. Suhu udara pada musim ini rata-rata berkisar antara 20°C hingga 30°C. Pada musim panas umumnya digunakan untuk menjelajah Kanada. Pada musim ini pula, Kanada mengadakan berbagai festival musik, budaya, hingga makanan. Beberapa diantaranya adalah Festival Jazz Montreal, Festival Fringe Toronto, dan Celebration of Light di Vancouver.

Terakhir, musim gugur (autumn) terjadi pada bulan September hingga Nopember. Pada musim ini pemandangan terlihat indah. Daun-daun yang hijau berubah menjadi warna-warni (oranye, kuning, dan merah) sebelum berguguran. Daun-daun pohon maple, oak, dan birch berubah menjadi kuning, oranye, dan merah, menciptakan pemandangan yang memukau. Daun ini semakin terlihat indah ketika mengunjungi Algonquin Provincial Park di Ontario dan Cape Breton Highlands National Park di Nova Scotia. Pada ghalibnya, orang Kanada pada musim ini mengadakan festival musim gugur seperti Festival Oktoberfest di Kitchener-Waterloo dan Festival Celtic Colours di Cape Breton.

Orang Kanada sudah terbiasa dengan empat musim tersebut. Ketika musim dingin misalnya. Hamparan salju setinggi satu hingga dua meter tetap dapat diatasi dengan baik. Jalanan tetap dapat digunakan untuk lalu Lalang transportasi karena salju sudah dibersihkan dengan baik. Namun salju yang ada di genteng rumah dan halaman rumah tetap dibiarkan. “Kalau di Jerman, salju tidak setinggi ini Kiai”, kata Kiai Sigit Afrianto pada saya.

Bagaimana hewan tetap hidup dan pohon tetap tumbuh? Nah ini menariknya. Air yang membeku di sungai dan danau membeku menjadi es setebal lebih dari 30 cm sehingga bisa dilalui orang atau kendaraan. Namun anehnya, ikan-ikan tidak mati. Ikan-ikan terhibernasi sampai pada waktunya nanti akan “hidup kembali”. Demikian juga tanaman dan pohon-pohon akan ‘hidup kembali’ setelah musim semi. Siklus kehidupan –laiknya manusia—ciptaan Tuhan yang menarik bukan?
Wallahu’alam. *

Categories
Berita

Tausiyah Ramadlan, Dai Internasional Womester Dorong Peningkatan Kualitas Beragama Diaspora Muslim Kanada

Direktur World Moslem Studies Center, Prof. Dr. KH. M. Noor Harisudin S.Ag, SH, M.Fil.I, CLA, CWC, mengapresiasi diaspora muslim Kanada yang telah mempraktikan agama Islam dengan baik. Padahal, sebagai negara dengan minoritas muslim, diaspora Kanada mendapati berbagai kesulitan yang tidak dijumpai di Indonesia. Demikian disampaikan Prof. Kiai Haris dalam Pengajian Syiar Montreal, di rumah H, Ransang W. Hadir puluhan diaspora yang tinggal di kota Montreal dan sekitarnya. Pengajian Syiar Montreal dilaksanakan menjelang buka puasa, Kamis, 19 Pebruari 2026. Jam 16.30 hingga 17.30 waktu Kanada.

Sebagaiman kita tahu, muslim di berbagai negara minoritas mendapati berbagai kesulitan terkait dengan fasilitas ibadah yang kurang dan bahkan tidak ada. Demikian juga dengan regulasi yang kadang mempersempit Gerak ibadah muslim. Namun justru disanalah, menurut Prof. Haris, diaspora muslim mendapatkan pahala ibadah yang lebih besar. Mengapa? Karena masyaqqatnya juga lebih besar. “Tentu effort diaspora muslim di Kanada lebih besar untuk misalnya sholat Subuh berjamaah di masjid. Karena mereka menghadapi tantangan dengan jauhnya masjid dan musim dingin yang esktrem”, kata Prof. Haris yang juga Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

Pada sisi lain, Prof Haris yang juga Wakil Ketua Komisi Pesantren MUI Pusat ini juga memotivasi diaspora muslim Kanada untuk terus meningkatkan beragama. “Kita beragama itu ada levelingnya. Ada kelasnya. Ibarat kelas, ad akelas TK, SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi. Nah, sama dengan beragama kita. Kita usahakan meningkat terus tiap tahun, termasuk dalam ibadah puasa “, ujar Prof Haris yang juga Wakil Ketua Pengurus Pusat Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara-Hukum Administrasi Negara (PP APHTN-HAN).

Menurut Prof Haris, puasa juga ada tingkatannya. “Kita ingin puasa yang dikritik oleh Rasulullah Saw. Rubba shaimin laisa lahu min shiyaamihi illal ju’a wal athasa. Artinya, banyak sekali orang berpuasa, namun tidak dapat apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja”, ujar Prof Haris yang juga Pengasuh PP Darul Hikam Mangli Jember.

Oleh karena itu, Prof. Haris mendorong muslim Kanada untuk meningkat kualitas agamanya. “Kalau bisa, kita tingkatkan leveling puasa kita. Puasa tidak makan, tidak minum, tidak senggama ya. Tapi juga puasa bicara, puasa mendengar, puasa melihat, dan puasa pikiran dari hal lain yang tidak berguna dalam kehidupan”, kata Prof. Haris yang juga Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur.

Sebagaimana puasanya Siti Maryam, lanjut Prof. Haris, dalam al-Qur’an, beliau diabadikan sebagai orang yang berpuasa dengan puasa bicara. “ Innii nadzartu lirrahmi shauma. Falan ukalimannasa yauma. Saya bernadzar pada tuhan untuk puasa. Maka saya tidak bicara pada manusia”, tukas Prof. Haris yang juga Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur. Karena puasa bicara, maka Nabi Isa yang masih bayi yang akhirnya bicara pada manusia yang lain.

Acara pengajian ini dihadiri puluhan diaspora muslim di rumah H. Ransang W. yang sekarang bekerja di Kementerian Pertahanan Kanada. Hadir pada kesempatan ini H. Sigit Afrianto (Wakil Rois Syuriyah PCI NU AS-Kanada), H. Ransang W (Mustasyar PCI NU AS-Kanada), Fariduddin Athar, Ph.D. (Ketua Pengajian Syiar Montreal), dan puluhan diaspora muslim Indonesia lainnya.

Prof. Haris sendiri dikenal sebagai Dai Internasional. Pada tahun ini Prof. Haris dikirim oleh World Moslem Studies Center bekerja sama dengan Lazawa Darul Hikam Indonesia untuk bertugas dakwah selama 15 hari Ramadlan (17 Pebruari – 3 Maret 2026) di Kota Montrael, Ottawa dan Toronto negara Kanada,. Sebelumnya, Prof Haris telah berdakwah ke berbagai negara seperti Taiwan, Malaysia, Singapura, New Zealand, Australia, Belanda, Jerman, Jepang, Amerika Serikat, Hongkong, Turki dan berbagai negara dunia. Misi Womester adalah menebarkan Islam rahmatan lil alamin ke seluruh penjuru dunia. ***

Reporter: Iklil Naufal Umar

Editor: M Irwan Zamroni Ali

Categories
Berita

Lazawa Darul Hikam dan Bank Indonesia Jember Perkuat Kerja Sama Wakaf untuk Kesejahteraan Umat

Jember – Lembaga Zakat dan Wakaf Darul Hikam melakukan kunjungan silaturahmi ke Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember. Kunjungan ini dipimpin oleh Direktur Lazawa Darul Hikam, Prof. Dr. KH. M. Noor Harisudin, S.Ag., S., M.Fi.I, CLA.,CWC. dan diterima langsung oleh Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwI) Jember, Bapak Iqbal Reza Nugraha pada Kamis, 12 Februari 2026 di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember.

Sebagaimana diketahui, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengukuhkan pimpinan baru Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI Jember), Iqbal Reza Nugraha yang sebelumnya dijabat Gunawan melalui rangkaian upacara pengukuhan di Kantor BI Jember, pada Senin 05 Januari 2026.

Pertemuan tersebut bertujuan untuk mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat kerja sama antara Lazawa Darul Hikam dan Bank Indonesia dalam pengembangan zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ziswaf), khususnya wakaf yang dikelola secara produktif untuk kesejahteraan umat.

Dalam pertemuan itu, kedua pihak sepakat bahwa wakaf memiliki potensi besar untuk membantu perekonomian masyarakat jika dikelola dengan baik dan berkelanjutan.

Prof. Haris yang juga Guru besar UIN KHAS Jember menyampaikan bahwa wakaf tidak hanya digunakan untuk kepentingan ibadah atau bantuan sosial sesaat, tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan produktif yang hasilnya dapat dirasakan oleh banyak orang.

“Wakaf itu punya potensi besar. Wakaf bisa digunakan untuk mendukung usaha ekonomi, layanan kesehatan, dan pendidikan. Wakaf juga tidak hanya untuk orang kaya, tetapi semua orang bisa ikut berwakaf sesuai kemampuannya,” ujar Prof. Haris yang juga pengasuh PP. Darul Hikam Mangli Jember.

Ia menambahkan, di beberapa negara seperti Malaysia, wakaf sudah dikelola dalam bentuk usaha yang menghasilkan. “Di Malaysia, wakaf dikelola dalam bentuk hotel, apartemen, dan bangunan sewa. Keuntungannya kemudian digunakan kembali untuk kepentingan umat,” jelas Prof Haris yang juga Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur.

Prof. Haris juga menyampaikan terima kasih kepada Bank Indonesia yang telah mempercayakan Lazawa Darul Hikam sebagai mitra dalam program Satu Wakaf.

“Kami berterima kasih kepada Bank Indonesia yang telah menggandeng Lazawa Darul Hikam dalam program Satu Wakaf. Saat ini ada empat program yang kami jalankan, yaitu wakaf sumur air bersih, wakaf pembelian tanah pesantren, wakaf sumur, dan wakaf sawah produktif,” ungkapnya.

Menurutnya, program-program tersebut sangat membantu masyarakat, terutama pesantren dan warga di daerah yang membutuhkan sarana air bersih dan penguatan ekonomi.

Lebih lanjut, Prof. Haris yang juga Direktur Wordl Moslem Studies Center menyatakan kesiapan Lazawa Darul Hikam untuk terus mendukung kerja sama dengan Bank Indonesia Jember.

“Kami siap mendukung Bapak Iqbal Reza Nugraha selaku Kepala Bank Indonesia KPwI Jember dalam mengembangkan wakaf dan pemberdayaan ekonomi umat di Jember,” katanya.

Sementara itu,Kepala Bank Indonesia KPwI Jember, Iqbal Reza Nugraha, menilai bahwa wakaf memiliki peluang besar jika didukung oleh dunia usaha. Ia mendorong perusahaan-perusahaan agar ikut berperan dalam pengembangan wakaf.

“Perusahaan seharusnya bisa menyisihkan sebagian hasil usahanya untuk wakaf. Potensinya sangat besar dan manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang,” ujarnya.

Iqbal juga menegaskan dukungannya terhadap wakaf produktif yang dapat membantu pelaku usaha kecil dan menengah.

“Kami mendukung wakaf produktif, terutama yang mendukung UMKM. Dengan pengelolaan yang baik, UMKM bisa berkembang dan bahkan berpeluang menembus pasar internasional,” tuturnya.

Reporter : Wildan Rofikil Anwar
Editor : M. Irwan Zamroni Ali

Categories
Berita

Gelar Public Expose 2026, Lazawa Darul Hikam Diapresiasi Guru Besar Politeknik Negeri Jember

Jember – Lembaga Zakat dan Wakaf Darul Hikam (Lazawa Darul Hikam) menggelar Public Expose 2026 pada Rabu, 11 Februari 2026, bertempat di Cafe Rollas Jember. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk komitmen Lazawa Darul Hikam dalam meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan zakat, infak, wakaf, dan kurban kepada publik, sekaligus memaparkan Laporan Kinerja Tahun 2025.

Direktur Lazawa Darul Hikam, Prof. Dr. KH. M. Noor Harisudin, S.Ag., S.H., M. Fil.I., CLA., CWC. dalam paparannya menyampaikan bahwa sepanjang tahun 2025 lembaganya mencatat berbagai capaian program strategis (milestone). Di antaranya adalah peluncuran website www.zakatdarulhikam.org sebagai platform khusus donasi zakat, sementara website www.wakafdarulhikam.org tetap difokuskan untuk donasi wakaf dan infak.

“Langkah ini kami lakukan untuk memudahkan para donatur sekaligus memperkuat sistem pengelolaan dan pelaporan dana secara profesional dan terpisah sesuai peruntukannya,” ujar Prof Haris yang juga Wakil Sekretaris PW NU Jawa Timur

Selain itu, Lazawa Darul Hikam juga melaksanakan Program Global Dakwah Ramadlan ke Jepang, berkolaborasi dengan Bank Indonesia KPwI Jember dalam program Satu Wakaf, penyaluran distribusi kurban kambing ke Rusia, serta penyaluran Wakaf Kursi di Masjidil Haram, Mekah, Arab Saudi.

Capaian lainnya meliputi Launching Majlis Taklim Padang Ati di Jember, Program Perdana Muslim Sehat Masjid Makmur, studi banding ke Lembaga Wakaf Salman ITB Bandung, keikutsertaan dalam Wakaf Produktif Pertanian dan Perkebunan Melon di Gunung Kidul bekerja sama dengan Wakaf Mulia, BWI, dan Bank Indonesia, serta peluncuran Aplikasi Online SIMOLDA (Sistem Manajemen Online Darul Hikam).

Secara keuangan, total penghimpunan dana Lazawa Darul Hikam tahun 2025 tercatat sebesar Rp289.924.000, yang terdiri dari wakaf Rp172.709.000, infak Rp79.915.000, serta zakat dan kurban Rp37.300.000.

Sementara itu, penyaluran dana tahun 2025 mencapai Rp201.659.000, yang dialokasikan ke berbagai program, antara lain Wakaf Pembangunan Pesantren dan Lembaga Pendidikan Rp45.834.000, Wakaf Pembelian Tanah Pesantren dan Lembaga Pendidikan Tahap I Rp34.825.000, Penyembelihan Hewan Kurban Rp24.200.000, hingga program-program sosial, dakwah, kesehatan, dan kemaslahatan umat lainnya.

Jumlah donatur Lazawa Darul Hikam hingga tahun 2025 sebanyak 776 orang, dengan rincian tahun 2022–2023 sebanyak 257 donatur, tahun 2024 sebanyak 236 donatur, dan tahun 2025 sebanyak 283 donatur. Para donatur tersebar dalam program wakaf sebanyak 157 orang, infak 103 orang, zakat 19 orang, dan kurban 4 orang, serta berasal dari berbagai daerah di dalam dan luar negeri, seperti Belanda, Australia, dan Malaysia.

Adapun total penerima manfaat mencapai 8.554 jiwa, terdiri dari 3.025 jiwa pada tahun 2024 dan 5.529 jiwa pada tahun 2025. Penerima manfaat tahun 2025 meliputi Wakaf Kursi sebanyak 2.400 jiwa, Dakwah Luar Negeri 1.400 jiwa, Buka Puasa Ramadhan 750 jiwa, MUSEMMA 680 jiwa, Kurban 120 jiwa, Zakat Profesi dan Zakat Maal 99 jiwa, Santunan Anak Yatim 60 jiwa, serta Wakaf Pembangunan Pesantren 20 jiwa.

Dalam kesempatan tersebut, Guru Besar Politeknik Jember, Prof. Dr. Ir. Ujang Suryadi, M.P., IPM. yang juga merupakan donatur Lazawa Darul Hikam, mengapresiasi pelaksanaan Public Expose sebagai bentuk keterbukaan lembaga.

“Saya sangat mengapresiasi Lazawa Darul Hikam yang berani dan konsisten menyampaikan laporan kinerja secara terbuka. Ini menunjukkan komitmen transparansi dan akuntabilitas yang sangat penting dalam pengelolaan dana umat,” ungkapnya.

Sementara itu, donatur lainnya, Dr. Minhaji, S.Ag., M.Pd.I yang juga Kepala Bidang Pendidikan Tinggi Universitas Ibrahimy Periode 2025 – 2030, menilai kinerja Lazawa Darul Hikam cukup membanggakan.

“Lazawa Darul Hikam ini terbilang masih sangat muda, baru berdiri sekitar dua tahun, tetapi sudah mampu menghimpun dana cukup besar dan memberikan manfaat yang luas bagi umat. Kami mendoakan agar lembaga ini terus maju, profesional, dan semakin dipercaya masyarakat,” tuturnya.

Turut hadir pengurus Lazawa Darul Hikam, Bu Nyai Hj, Robiatul Adawiyah, S.H., M.H. (Bendahara), M. Irwan Zamroni Ali, S.H., M.H., CWC (Nazhir), Wildan Rofikil Anwar, S.H., M.H. (Bidang Fundraising), Achmad Muthiurrahman, S.H (Bidang Multimedia), Iklil Naufal Umar (Staff Administrasi dan Keuangan), para awak media dan sejumlah tamu undangan.

Reporter: Iklil Naufal Umar
Editor : Wildan Rofikil Anwar