Categories
Berita

Haru dan Bahagia, Lazawa Darul Hikam Kembali Ajak Yatim Belanja Baju Lebaran di Jember Roxy Square

Jember – Lembaga Zakat dan Wakaf Darul Hikam menggelar kegiatan santunan baju Lebaran dan buka bersama anak yatim pada Rabu, 11 Maret 2026. Kegiatan ini diikuti oleh 20 anak yatim yang diajak langsung memilih baju Lebaran di pusat perbelanjaan Jember Roxy Square, salah satu mal terbesar di Kabupaten Jember.

Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hikam Putri, Ibu Nyai Hj. Robiatul Adawiyah, S.HI., M.H menyampaikan, sejak sore hari anak-anak yatim diajak berkeliling mal untuk memilih sendiri pakaian yang akan mereka kenakan saat Hari Raya Idulfitri. Kegiatan ini dilakukan agar mereka dapat merasakan kebahagiaan menyambut Lebaran seperti anak-anak lainnya.

“Melalui kegiatan ini kami ingin anak-anak yatim juga merasakan kebahagiaan yang sama saat menyambut Lebaran. Mereka bisa memilih sendiri baju yang mereka sukai, sehingga momen ini menjadi kenangan yang menyenangkan bagi mereka,” ujar Ibu Nyai Robi yang juga Wakil Ketua Fatayat NU Jember.

Setelah agenda belanja selesai, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama untuk para donatur dan keselamatan bangsa serta buka bersama anak yatim yang dilaksanakan di Aula Pondok Pesantren Darul Hikam Cabang Putra Ajung Jember. Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penutupan kegiatan pembelajaran di lingkungan pesantren.

Nazhir Lazawa Darul Hikam, Ust. M. Irwan Zamroni Ali, S.H., M.H, CWC, menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian sejumlah program sosial selama bulan Ramadan.

“Selain kegiatan santunan baju Lebaran Yatim, Lazawa Darul Hikam juga mengadakan buka bersama dengan seluruh mahasantri Darul Hikam sejak tanggal 1 sampai 20 Ramadan, serta menyalurkan santunan kepada kaum dhuafa,” ujar Ust. Irwan yang juga Dosen Fakultas Syariah UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

Ust. Irwan juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para donatur yang bergabung dalam program kegiatan ini. Ia menilai dukungan para donatur menjadi kunci terselenggaranya kegiatan berbagi kebahagiaan bagi anak-anak yatim tersebut.

“Kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para donatur yang telah mempercayakan zakat, infak, sedekah dan wakafnya melalui Lazawa Darul Hikam. Berkat dukungan dan kepedulian para donatur, kegiatan santunan baju Lebaran dan buka bersama anak yatim ini dapat terlaksana dengan baik,” ujar Ust. Irwan alumni Pasca Sarjana UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Yayasan sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hikam, Prof. Dr. KH. M. Noor Harisudin, S.Ag., S.H., M.Fil.I., CLA., CWC juga memberikan pesan kepada anak-anak yatim yang hadir. Ia menegaskan bahwa mereka adalah generasi penerus bangsa yang harus dijaga masa depannya.

“Adik-adik yatim ini adalah generasi penerus bangsa. Karena itu mereka harus dijaga dan diarahkan dengan baik. Yang paling penting adalah menghindari lingkungan yang tidak baik, karena lingkungan sangat mempengaruhi masa depan seseorang,” tutur Prof Haris yang juga Guru Besar UIN KHAS Jember.

Prof. Haris yang juga Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur menjelaskan, kegiatan ini tidak hanya sekadar santunan, tetapi juga menjadi momentum kebersamaan antara pesantren dan masyarakat.
“Kami berharap kegiatan ini membawa keberkahan bagi semua pihak. Selain berbagi dengan anak-anak yatim, kegiatan ini juga menjadi penutup pembelajaran di pesantren sebelum para maha santri PP Darul Hikam menyambut Hari Raya Idul Fitri,” tambah Prof. Haris yang juga baru datang dari Safari Ramadlan di Negara Kanada 16 Pebruari-3 Maret 2026.

Kegiatan santunan dan buka bersama ini berlangsung dengan penuh kehangatan. Anak-anak yatim tampak bahagia dapat memilih baju Lebaran mereka sendiri sekaligus berkumpul bersama para mahasantri, pengurus dan keluarga besar Darul Hikam dalam suasana kebersamaan di bulan Ramadan.

Reporter : Iklil Naufal Umar
Editor : M. Irwan Zamroni Ali

Categories
Galeri

Melihat Multikulturalisme di Kanada

Ketika saya tanya, apa nilai-nilai yang dibangun di Kanada? Duta Besar Republik Indonesia di Kanda, Muhsin Syihab mengatakan bahwa Kanada dibangun dengan nilai-nilai multi kuturalisme.

Alhamdulillah, sejak bertugas Safari Ramadlan 16 Februari hingga 3 Maret 2026, saya telah berada di wisma KBRI Ottawa antara 23-28 Februari 2026. Saya berkesempatan berdiskusi banyak dengan Dubes RI yang juga keponakan Prof Qurais Syihab tersebut.

Wisma KBRI Ottawa sendiri adalah bangunan megah, dulu dengan pemandangan indah di sekelilingnya. Di belakang wisma, ada sungai yang saat ini membeku dan dilapisi salju. Maklum, musim dingin (winter). Sejauh mata memandang, kita akan melihat bendera Perah Putih yang berkibar dengan gagahnya. Sementara, di depan Wisma KBRI Ottawa juga penuh salju dengan ketinggian di atas satu meter.

“Biasanya pada musim panas (summer), sungai ini tampak indah dengan boat yang berjalan di sepanjang sungai,” kata Pak Dubes Muhsin Syihab bercerita pada saya.

“Meski tidak menyebut Canadian Values, namun Kanada telah menetapkan multi kulturalisme sebagai bagian dari bangsa ini. Jadi ya multikulturalisme ini acuannya,” kata Dubes dalam perjalanan dari Wisma ke Kantor KBRI Ottawa di Kanada.

Di sekeliling Wisma KBRI, ada wisma kedutaan negara lain. Jarak tempuh Wisma KBRI ke Kantor KBRI Ottawa kurang lebih 20 menit. Ottawa adalah ibu kota Kanada. Kotanya tidak besar, namun cantik dan indah. Ia menjadi destinasi wisata di Kanada.

Sebagaimana kita tahu, Kanada adalah negara dengan multikulturalisme. Istilah multikulturalisme pertama kali digunakan di Kanada pada dekade 1960-an oleh Pierre Trudeau saat menjabat sebagai Perdana Menteri Kanada saat itu. Pierre Trudeau menggunakan istilah multikuturalisme untuk membedakannya dengan konsep bikulturalisme.

Sebelum Pierre Trudeau, Kanada dikenal memiliki dua kelompok etnis yang saling bersaing: bangsa Inggris dan bangsa Perancis. Pada masa pemerintahan Pierre Trudeau, Kanada diubah statusnya sebagai negara multi kultural. Karena kelompok etnis di Kanada telah terdiri dari bangsa Inggris, bangsa Prancis, Indian dan Inuti.

Tidak hanya itu. Kanada juga memiliki imigran dari berbagai negara khususnya Tiongkok, India, Jerman dan Arab. Oleh karena itu, kebijakan multikulturalisme-nya klop dengan faktaa sosiologis empiris mult kulturalnya warga Kanada. Kebijakan ini selanjutnya juga menjadi–apa yang saya sebut dengan–‘ideologi’ negara Kanada.

Pada tahun 1989, Will Kymlicka mempopulerkan studi multikulturalisme di Kanada. Gagasan tentang multikulturalisme dia tuangkan dalam buku Liberalism, Community and Culture. Pada tahun 1995, ia memperkuat gagasannya dengan menerbitkan buku Multicultural Citizenship. Gagasan buku ini gayung bersambut dengan gerakan multi kulturalisme yang dimulai sejak tahun 1970-an.

Salah satu yang menopang gerakan multikulturalisme adalah pendidikan. Kanada menerapkan pendidikan multikultural sejak tahun 1960. Demikian ini karena masyarakat Kanada sejak awal pembentukan negaranya terdiri dari aneka ragam budaya. Penduduknya juga berasal dari para imigran. Pendidikan multikultural di Kanada menjadi progresif karena sejak awal pembentukannya, sebagian wilayah Kanada mengenal budaya yang berlainan. Di sinilah, apa yang saya sebut ideologi multikulturalisme ditanamkan pada anak-anak Kanada.

Walhasil, multikulturalisme di Kanada juga tidak terlepas dari peranan pemerintah. Pemerintah sejak awal memproklamirkan kebijakan negara Kanada sebagai negara penganut multikulturalisme. Multikulturalisme Kanada dikatakan berhasil karena mampu melindungi hak-hak warga negaranya sehingga dapat meredam masalah-masalah yang terjadi antara setiap etnis dan menjadi model percontohan bagi negara-negara lain.

Namun demikian, multikulturalisme Kanada tidak berjalan tanpa hambatan. Banyak perselisihan yang terjadi dalam masyarakatnya karena memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai multikulturalisme itu sendiri. Sehingga multikulturalisme memainkan peran vital dalam perkembangan kehidupan warga Kanada.

Meski berlangsung kurang dari satu abad, negara Kanada boleh dikatakan sukses membangun multikuturalisme di negaranya. Kita bisa melihat ragam rumah ibadah di Kanada.

“Ada masjid (Muslim), gereja (Kristen), sinagoge (Yahudi), gurdwara (Orang Sikh) dan rumah ibadah yang lain. Ini bukti bahwa Kanada sukses membangun multi kulturalisme di negeri ini,” kata Kiai Sigit Afrianto pada saya. Sebelum balik ke Indonesia (3/3/2026), Kiai Sigit mengajak saya berkeliling ke berbagai rumah ibadah ini di Montreal.

Dalam agama Islam, ragam multikulturalisme dapat dilihat dengan berbagai aliran. Perbedaan Sunni-Syiah tidak “dibesar-besarkan” di negara ini. Demikian juga dengan Ahmadiyah.

“Dulu ketika Kiai Zulfa Mustofa dan Kiai Said Asrori ke Toronto, kami membawa beliau ke Jaffari Community Center. JCF adalah kampung Syiah Itsna Asyariyah di Thornhill Toronto. JFC menjadi salah satu pusat Syiah terbesar di Amerika Utara,” kata Gus Izul melalui pesan aplikasi WA kepada saya. Gus Izul yang nama lengkapnya Muhammad Izzul Haq, Ph.D adalah Ketua PCINU Amerika Serikat-Kanada masa khidmah 2023-2025.

Tidak hanya itu. Gus Izul juga menyebut Peace Village di Vaughan Toronto. “Ini kampung Ahmadiyah. Nama jalan-jalannya pakai nama-nama imam dan ulama Ahmadiyah,” kata Gus Izul yang juga alumnus program doktor McGill University di Montreal Kanada.

Tentu, masih banyak ragam aliran keagamaan yang ada di negara ini. Termasuk ragam aliran orang yang tidak beragama. “Banyak juga orang yang tidak beragama di Kanada. Dalam logika multikulturalisme, ateis juga bebas hidup di negara ini,” kata Kiai Sigit pada saya.

Wallahu’alam.

M. Noor Harisudin; Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember dan Direktur Womester.

sumber: https://www.arina.id/amp/khazanah/ar-9cixs/melihat-multikulturalisme-di-kanada

Categories
Opini

Tiga Fase Dakwah Islam di Amerika Serikat-Kanada

Oleh: M. Noor Harisudin
Direktur Womester dan Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Sabtu itu (21/2/2026), saya masih jetlek. Perjalanan 25 jam di pesawat—belum menghitung jam transitnya–dari Indonesia ke Kanada benar-benar melelahkan. Dan lagi, saya masih terbawa aura Indonesia. Tiga hari pertama di Montreal Kanada, saya  masih berjuang keras melawan jetlek. Malam hari, saya tidak bisa tidur. Sebaliknya, siang hari jam 12, saya pingin tidur. Beberapa orang memberi saran untuk melawan jetlet, namun toh jetlek tetap jetlek. Sehingga kamar mewah Kiai Sigit Afrianto, saya rebahan ke sana kemari, tapi tidak bisa tidur.

Ketika hari Sabtu itu jam 10 waktu Kanada, ada meeting dengan para tokoh PCI NU Amerika Serikat-Kanada, saya benar-benar memaksakan diri saya. Nanti jam 12 selesai, dan saya pasti bisa tidur, gumam saya. Singkat kata, saya masuk zoom bersama para tokoh NU AS-Kanada. Kiai Sigit Afrianto yang menjadi inisator plus moderator acara tersebut. Kiai Sigit memberi kesempaatan untuk berkenalan satu-satu. 

Rois Syuriyah PCI NU AS-Kanada 2025-2027, KH. Zainal Abidin yang memulai. “Saya ini sebetulnya bukan kiai. Namun tidak tahu, kenapa dipanggil kiai. Sebab bidang saya tehnik. Mas Anas Ketua Tanfidziyah tidak bisa hadir karena ada kegiatan, “ ujar Kiai Zainal Abidin. Kiai Zainal Abidin juga mengucapkan selamat datang pada saya di Kanada. Kanada dan Amerika Serikat gabung menjadi satu Pengurus Cabang Istimewa AS-Kanada. Ini seperti PCI NU Australia dan New Zealand.  

Ketika diberi waktu, saya menyampaikan maksud dan kedatangan di Kanada. “Saya dari World Moslem Studies Center. Terima kasih atas undangan PCI NU AS – Kanada ke sini. Saya tahu banyak kalau PCI NU AS Kanada sangat aktif berkegiatan dan keren semua. Misalnya Summer Course yang terkenal itu”, kata saya memulai sambutan. 

“Kami biasanya ada pengabdian masyarakat ke luar negeri khususnya di bulan Ramadlan. Sebelumnya Womester telah nelakukan engabdian masyarakat ke beberapa negara seperti Taiwan, Australia, Jepang, Belanda, Jerman, Hongkong, Malaysia, dan New Zealand,” ujar saya pada peserta zoom yang berjumlah delapan orang.

Selain itu, saya jelaskan topik khusus kami ke luar negeri, yaitu sosialisasu Pedoman Fikih Luar Negeri. “ Ini sesungguhnya modifikasi Fikih Aqaliyat. Kami sudah ke berbagai negara, bahwa negara minoritas muslim membutuhkan fiqh rukhsah (dispensasi) ini,” kata saya memberi mention pada tujuan utama kedatangan kami. Saya juga membagian oleh-oleh dua buku saya berjudul  “Fikih Minoritas” dan “Fikih Nusantara” untuk teman-teman di Montreal, Ottawa dan juga Toronto.    

Saya menyampaikan rukhash (dispensasi) dalam Pedoman Fikih Luar Negeri. Misalnya rukshah dengan bolehnya najis mughaladzah disucikan dengan tujuh basuhan. Salah satunya dengan campuran sabun. “Ini karena sulit kita menyampur air dengan debu kalau di negara minoritas Islam. Demikian juga bolehnya mashul khuffain ketika berwudlu di negara minoritas muslim karena faktor cuaca dingin dan masyaqat yang lain kalau sepatu dibuka ketika berwudlu”, urai saya.   

Perkenalan dan diskusi dengan para tokoh PCI NU AS Kanada yang berjalan kurang lebih dua jam itu dinamis dan sangat menarik. Satu persatu pun lalu berkenalan dan menanggapi topik pedoman fikih luar negeri.

Misalnya Ust. Moh. Daniar, Wakil Rois Syuriyah PCI NU AS-Kanada. “Saya ini pokoknya ikut khidmah di Nahdlatul Ulama sini. Ingin mendapat berkah Mbah Hasyim Asy’ari,” kata Ust. Daniar yang juga ahli IT. Saya lihat profil ustadz Moh. Daniar selalu merendah alias tawadlu’.  

Arif Hakim, Wakil Ketua Tanfidziyah PCI NU AS-Kanada adalah sahabat saya di Indonesia. “Saya sudah kenal lama Prof Haris di Indonesia. Saya sudah ketemu di berbagai forum. Ketika berangkat ke Amerika, saya diminta untuk menjadi pengurus PCI NU Amerika Serikat-Kanada”, kata Arif Hakim yang juga dosen UIN Fatmawati Bengkulu.

Arif Hakim adalah peserta Program Post Doctoral yang juga visiting lecturer di Hobart dan William Smith Colllages di Genewa New York, University of Illionis dan sejumlah kampus lain di Amerika Serikat.     

Ada juga tanggapan Ahalla Tsauro yang juga sedang mengambil Ph. D di Quebac City. “Saya pernah mengajar di UIN Sunan Ampel Surabaya. Saya juga alumni FISIP Unair Surabaya. Sekarang mengambil S3 di Quebac City, Kanada, ” kata mas Ahalla Tsauro asal Tuban Jawa Timur kepada saya dan peserta zoom meeting.

Kiai Fachrizal Halim dari Kanada menyambut baik pedoman fikih luar negeri. “Kami sangat tertarik dengan Fikih Luar Negeri yang cocok dengan kita di negara minoritas muslim. Keadaan saya sendiri disini sebagai dosen di Kanada. Namun semua saya tangani sendiri, karena tidak ada orang lain. Selain itu, saya ‘mengobati’ orang-orang dalam perspektif agama-agama, bukan hanya Islam. Namanya Faith Leader, ” ujar Kiai Afrizal Halim yang juga lulusan Ph.D di McGhill University Montreal tersebut.

Sementara, Ust. Joko Supriyanto –pengurus PCI NU AS Kanada yang lain–merasa keberatan dengan kata “minoritas”. “ Saya kira, kita tidak boleh bersandar dengan keadaan  minoritas di sini. Minoritas harus jadi Mayoritas. Makanya, kalau dulu pertama kali kita datang ke sini dalam rangka bekerja, nah sekarang niatnya kita tambah. Niat bekerja dan juga niat berdakwah,” ujar Ust. Joko Supriyanto yang juga aktif sebagai Ketua ICMI Amerika Utara.

Lebih dari itu, Ust. Joko Supriyanto menyatakan bahwa keadaan Islam di masa sekarang beda dengan masa dulu. “Kita di AS dulu masih sedikit. Alhamdulillah sekarang muslim sudah banyak. Saya menyebut ada tiga fase dakwah di sini. Pertama, fase membangun masjid. Ini sudah selesai. Kedua. fase membangun sekolah. Ini juga sudah selesai. Ketiga, fase membangun ekonomi. Ini sekarang kita kumpulkan para pengusaha di sini untuk dakwah Islam,” jelas Ust. Joko Supriyanto.

Saya setuju dengan Ust. Joko Supriyanto Dalam pandangan saya, Fikih Luar Negeri itu sebagai keadaan ‘koma’ dan bukan tujuan akhira. Sehingga dakwah menjadi solusi agar muslim semakin kuat secara kuantitas dan kualitas di AS – Kanada.

“Kalau sudah keadaan mayoritas, nanti fasilitas ibadah saudah memadai. Tentu kita tidak pakai Fikih Luar Negeri lagi. Rukhsah ini hilang dan kita jembali ke hukum asal (azimah), ” kata saya menjelaskan pada forum.

Sementara, soal tiga fase, dalam hemat saya, umat Islam di Kanada sudah masuk pada fase keempat. Yaitu fase politik. “Saya melihat, fase politik juga sudah masuk. Buktinya Zohran Mamdani menjadi mayor di New York, dan ada tujuh walikota muslim di negara tersebut. Meski fase keempat masih belum merata,” kata saya memberikan tanggapan.

Diskusi ditutup dengan perkenalan Kiai Sigit Afrianto. “Saya ini diminta menjadi jangkar penjaga gawang PCI NU di Kanada oleh Gus Izzul dan nahdlyin yang tinggal di Montreal, dan bendera PCINU AS-Kanada, sebelum akhirnya diminta menjadi Wakil Rois Syuriah melalui Pleno PCINU AS-Kanada,” kata Kiai Sigit Afrianto yang alumni PT Dirgantara Indonesia dan didikan BJ Habibie tahun 1990-an.

Wallahu’alam. ***    

Categories
Berita

Pengajian Syiar Montreal Kanada, Prof. Haris Bagikan Trik Jaga Keimanan di Negeri Multikulturalisme

Montreal Kanada, 5 Maret 2026
Hidup di tengah negara multikulturalisme saperti Kanada tidak mudah. Di tengah orientasi untuk hidup berdampingan (life together) dengan pemeluk agama lain, umat Islam harus memiliki keimanan yang kuat alias teguh pendirian. Kanada adalah negara multi kultural dengan jumlah imigran dari berbagai belahan dunia. Belum lagi tantangan keterbatasan dalam menjalankan ibadah di tengah negara Kanada dengan penduduk 41 juta orang tersebut.

Oleh karenanya, Pengajian Syiar Montreal mengambil tema “ Menjaga Keimanan di Tengah Kebebasan Fiqih Minoritas Muslim dalam Masyarakat Yang Toleran” dengan mengundang Prof. Dr. KH. M Noor Harisudin S.Ag, S.H, M.Fil.I, CLA, CWC pada Minggu, 1 Maret 2026 jam 16.30 sd 18.00 Waktu Kanada. Pengajian diselenggarakan di rumah Bapak Lilik, 20 Rue Oslo Dollard-des-Ormeaux QC H9A 2H5 Montreal Kanada. Hadir pada kesempatan itu, KH. Sigit Afriyanto (Wakil Rois Syuriyah PCI NU AS-Kanada), Faridudin Athar, Ph.D (Ketua Pengajian Syiar Montreal), dan seratus orang jamaah pengajian tersebut, diantaranya para mualaf di kota Montreal tersebut. Pengajian ini merukan kelanjutan dari pengajian sebelumnya di rumah KH. Sigit Afrianto di 4959 Rue Bastien Pirrefonds QC H8z 3J9 Montreal Kanada.

Sebagai seorang muslim di Kanada, Prof. Haris menyampaikan bagaimana tantangan tersebut. “Saya memahami karena alhamdulillah saya sudah keliling 23 negara dunia. Tentu tidak mudah menjalankan ibadah dengan fasilitas terbatas, cuaca ekstrem, dan sebagainya, maka tentu ini butuh effort yang luar biasa dari seorang muslim khususnya di Kanada,” ujar Prof. Haris yang juga Direktur World Moslem Studies Center.

Tantangan lain adalah menjaga keimanan di tengah-tengah ritme hidup di Kanada yang lebih banyak menghabiskan hari-hari untuk bekerja membangun negara Kanada. “Regulasi di Propinsi Quebac misalnya tidak membolehkan semua orang untuk ibadah di kantor dan sekolah. Tentu ini sangat merepotkan bagi muslim di propinsi ini. Tapi, insyaallah Islam punya solusinya. Bapak ibu bisa sholat lihurmatil wakti –apa adanya meski tidak suci dan tidak dapat sholat berdiri, namun nanti diganti ketika berada di rumah. Dan yang lebih penting, tidak berdosa karena memang tidak memungkinkan untuk sholat”, ujar Prof Haris yang juga Dewan Pakar Pengurus Besar IKA PMII.

Lebih lanjut, Prof. Haris mengajukan trik bagaimana menjaga keimanan di tengah negara multi kulturalisme Kanada. Setidaknya beberapa hal untuk penguatan keimanan. Pertama, dengan berdzikir pada Allah Swt. “ jaddiduu imanakum biqauli la ila halla illah. Perbarui imanmu dengan dzikir la ila ha illaha. Insyaallah dengan dzikir ini secara istiqamah, iman kita akan teguh dan terus terjaga, “ tegas Prof. Haris yang juga Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur tersebut.

Kedua, lanjut Prof. Haris, bertemu dengan habitus yang mendekatkan diri pada Allah. Prof. Haris menukil perkataan Ibnu Athailah dalam Master Piece-nya, Kitab Hikam. “La tashab man la yunhiduka haluhu wala yadullaka ‘allaahi maqaaluhu. Jangan kau berteman pada orang yang perkataan dan perbuatannya tidak dapat mendekatkan diri pada Allah Swt. Kalau bahasa perguruan tinggi, ada teori habitus. Kita ini tergantung komunitasnya. Iman akan kuat kalau habitus-nya yang mendukung seperti habitus dalam Pengajian Syiar Montreal tersebut,” kata Prof. Haris yang juga Wakil Ketua Komisi Pesantren MUI Pusat 2025-2043 tersebut.

Ketiga, lanjut Prof haris, iman kita akan kuat jika selalu menjalankan ajaran Islam dengan baik. “Kalau kita selalu praktik ajaran Islam, insyaallah iman kita akan semakin kuat. Sebaliknya, kalau tidak praktik, maka iman juga akan semakin melemah, Karena iman itu yaziidu wa yanqusu. Iman itu naik turun ,” terang Prof. Haris yang juga Dekan Fakultas Syariah UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember masa bakti 2019-2023 tersebut.

Keempat, minta pertolongan pada Allah Swt. “Kita ini siapa. Kita ini tidak punya kekuatan. Oleh karenanya, maka jangan bosan-bosan untuk minta pertolongan pada Allah Swt agar Allah menjaga keimanan kita. Allah Swt. insyallah akan melindungi kita semua, “ urai Prof. Haris di hadapan jamaah Pengajian Syiar Montreal tersebut.

Acara pengajian dilanjutkan dengan doa khataman al-Qur’an dan buka bersama serta sholat ghaib atas kurban meninggal dunia perang di Iran dan Palestina hari-hari ini. Acara selanjutnya jamaah sholat Isya dan tarawih di rumah Pak Lilik tersebut. ***

Reporter : Iklil Naufal Umar
Editor : M. Irwan Zamroni Ali

Categories
Berita

Pengajian dan Buka Bersama di KBRI Ottawa, Prof. Haris Sebut Ukhuwah Level Tertinggi Sikapi Perbedaan

Level tertinggi bersikap terhadap perbedaan adalah persaudaraan. Bukan peminggiran ataupun pemusnahan pada mereka yang berbeda. Demikian disampaikan Prof. Dr. HM. Noor Harisudin, S.Ag, SH, M.Fi.I,CLA, CWC, Direktur World Moslem Studies Center, dalam Pengajian dan Buka Bersama di KBRI Ottawa Kanada, Sabtu, 28 Pebruari 2026.

Pernyataan Prof. Haris sangat relevan dengan Negara Kanada yang dikenal dengan multikulturalisme-nya. Di Kanada, penganut agama hidup berdampingan dengan damai. Ada masjid, gereja, sinagoge, kuil, dan rumah ibadah yang lain. Jutaan penduduknya yang berasal dari berbagai negara juga hidup rukun dan damai. Mereka memegang teguh akan multukultarisme yang menjadi nilai utama warga Kanada.

Lebih lanjut, Prof. Haris menjelaskan bahwa perbedaan adalah sunnatulah. Kapanpun dan dimanapun, pasti ada perbedaan. “Jangankan kita berbeda dengan orang lain. Dalam diri kitapun, kita seringkali berbeda. Buktinya, pagi hari tempe, malam hari kedelai. Pagi A, siang B dan malam C. Ini bukti kalau diri kita juga sering berbeda. Oleh karena itu, jangan takut dengan perbedaan”, ujar Prof. MN Harisudin yang juga Dai Internasional Kanada Tahun 2026 ini.

Prof. Haris menceritakan anekdot seorang yang tertabrak di Indonesia di rel kereta pai. Dia sudah berlumuran darah. “Seorang yang mau menolong ini banyak tanya. Kamu agama apa? Islam jawab yang tertabrak. Islam apa? NU atau Muhammadiyah? NU jawabnya lagi. NU nya apa? PKB atau PPP? PKB jawabnya lagi. Masih ditanya lagi PKB nya siapa? Gus Dur atau Muhaimin? Akhirnya sebelum menjawab dia meninggal duluan”, cerita Prof Haris yang disambut gelak ratusan tawa hadirin pada sore itu.

Islam, kata Prof. Haris, memberikan guidance bagaimana menghadapi perbedaan. Bukan dengan cara pemusnahan terhadap mereka yang berbeda, melainkan dengan bersikap toleran terhadap perbedaan. “Laula mukhalafata lama musaamahata. Seandainya tidak ada perbedaan, maka tidak akan ada toleransi. Makanya, sungguh Indah, level pertama adalah berbeda, tapi toleran atau menghargai perbedaan tersebut”, ujar Prof. Haris yang juga Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

Level selanjutnya adalah berbeda, tapi bersatu. “Tentu hal yang tidak mudah. Namun, kita bisa menaikkan levelnya. Seseorang bukan hanya toleran, namun juga bersatu –misalnya–menjadi bagian dari nation atau bangsa, Demikian juga bersatu menjadi bagian dari umat Islam dunia. Meski kita tahu–umat Islam berbeda: NU, Muhammadiyah, Sunni, Syiah, Ahmadiyah, dan seterusnya”, kata Prof. MN. Harisudin yang sudah berkunjung ke 23 negara dunia.

Dan level paling tinggi adalah berbeda, namun bersaudara. “Inilah yang diajarkan Islam. Kita berbeda, namun kita bersaudara. Islam mengajarkan Tri Logi Ukhuwah: persuadaran berdasarkan keislaman (Ukhuwah Islamiyah), persaudaraan berdasarkan kebangsaan (Ukhuwah Wathaniyah) dan persadauraan berdasarkan kemanusiaan (Ukhuwah Basyariyah). Dengan Tri Logi Ukhuwah ini, umat Islam akan mudah bergaul dimanapun dan kapanpun juga, khususnya di Kanada ini”, kata Prof. MN Harisudin ulama muda yang juga Wakil Ketua Komisi Pesantren MUI Pusat.

Hadir pada kesempatan itu, Muhsin Syihab (Dubes RI Kanada), Rahmania Maryam Syihab (Ibu Dubes RI Kanada), Rezal Akbar Nasrun (Minister Consuler), Ust. Bani (Ketua Pengajian Muslim Ottawa), dan para diaspora muslim yang berjumlah seratus lebih. Selain buka bersama dengan makanan khas Indonesia yang memikat, juga ada doa bersama untuk umat Islam di Iran dan penggalangan dana untuk umat Islam di Palestina. Acara diakhiri dengan sholat tarawih berjamaah mulai jam 7.30 hingga 8.30 malam waktu Kanada. ***

Reporter: Iklil Naufal Umar
Editor : M. Irwan Zamroni Ali

Categories
Opini

Montreal dan Harmoni Umat: Menjaga Ukhuwah di Tengah Perbedaan

Keesokan hari setelah tiba di Kota Montreal, saya memilih bergabung shalat secara itmam. Itmam adalah menyempurnakan shalat lima waktu dalam jumlah asalnya: Subuh dua rakaat, Dzuhur empat rakaat, Ashar empat rakaat, Maghrib tiga rakaat, dan Isya empat rakaat.

Berbeda dengan itmam, qasar adalah meringkas sholat yang asalnya empat raka’at menjadi dua raka’at, yakni pada sholat Dzuhur, Ashar, dan Isya.

“Mengapa?” tanya Kiai Sigit panggilan saya kepada Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istemewa Nahdlatul Ulama AS-Kanada, Sigit Afrianto.

Saya jawab, “Biar saya cepat beradaptasi dengan Kanada. Kalau menjadi musafir—dengan rukhsah sholat jamak dan qasar, saya biasanya lebih lama beradaptasi karena selalu memposisikan diri sebagai musafir.”

Sebenarnya ini hanya soal kebiasaan. Termasuk kebiasaan puasa sunah di tempat yang kami kunjungi akan mempercepat adaptasi dengan daerah yang kita singgahi.

Pagi hari Selasa (17/2/2026), bersama Kiai Sigit saya bergabung dengan jamaah masjid untuk melaksanakan shalat lima waktu. Siangnya, kami berjalan-jalan mengitari Kota Montreal yang tenang, indah, dan memukau.

Jumlah masjid di Montreal, Kanada, cukup banyak. Jika pada 1956 hanya ada satu masjid, kini sudah ada sekitar 30 masjid—perkembangan yang luar biasa cepat.

Jumlah Muslim di Montreal juga mencapai 10 persen dari total penduduk sekitar 4 juta jiwa, atau kurang lebih 400 ribu orang. Tentu jumlah yang lumayan besar untuk ukuran negara dengan penduduk muslim minoritas.

“Selain berasal dari 18 negara yang berbeda, juga dengan ragam pemahaman yang beda. Ada yang sunni, syiah dan juga Ahmadiyah,” kata Kiai Sigit dalam perjalanan menuju masjid. Variannya juga banyak. Semua hidup berdampingan dengan baik.

Dalam konteks itulah, Imam Masjid Mekah—namanya Maulana Ismail Jogiyat—mengatakan kepada Kiai Sigit agar menghindari perdebatan tentang perbedaan dalam pemahaman Islam.

“Karena berdebat tentang perbedaan tidak ada artinya. Justru akan melemahkan Islam yang sudah minoritas di negeri ini,” jelas Maulana Ismail Jogiyat yang berasal dari India.

Ada masjid besar lain yang tidak jauh dari tempat Kiai Sigit. Namanya Masjid Jamie Canadian Islamic Center. Masjid ini cukup besar. Imamnya berasal dari Mesir bernama Sheih Awais. Pada bulan Ramadhan tahun ini, mereka bahkan mengundang imam khusus dari Mesir.

Masjid Jamie Canadian Islamic Center sendiri dulunya adalah sebuah sinagog yang dibeli lalu dijadikan masjid di Montreal. Arah kiblat sinagog tersebut kebetulan sama dengan kiblat umat Islam. Ukurannya dua kali lipat Masjid Mekah al-Mukarromah.

Masjid lainnya adalah Masjid Al Huda yang berada di tengah kota. Pak Ransang, teman Kiai Sigit, menjadi takmir masjid ini. Jamaahnya berasal dari Somalia, Serbia, dan beberapa negara lain yang warganya dahulu menjadi imigran atau pengungsi akibat perang. Jika dua masjid sebelumnya telah menjadi milik umat Islam, Masjid Al Huda ini masih berstatus sewa.

“Doakan Pak Ustadz. Kami bisa beli masjid ini,” kata Pak Ransang kepada saya ketika berkunjung ke sana.

Apa yang disampaikan para imam masjid tersebut sesuai dengan kaidah fikih: La yunkaru al-mukhtalafu fiihi, wa innama yunkaru al-mujma’u ‘alaihi.

Perselisihan pendapat ulama tidak boleh diingkari. Yang boleh diingkari adalah sesuatu yang telah disepakati ulama. Artinya, pendapat yang masih menjadi perdebatan di kalangan ulama harus dibiarkan berbeda. Kita hanya boleh menyalahkan perbuatan yang bertentangan dengan ijma ulama, seperti kewajiban sholat lima waktu, haji di Mekah, dan sebagainya. Meski demikian, kita tetap harus teguh dengan keyakinan masing-masing.

Itulah sebabnya, jika berkunjung ke Ottawa, Kanada, kita akan melihat indahnya perbedaan antara satu masjid dengan masjid lain. Misalnya dalam hal waktu shalat, kostum shalat, tata cara shalat, pelaksanaan shalat Jumat, tata tertib masjid, dan sebagainya.

Namun demikian, masih saja ada Muslim yang merasa paling benar. Ketika kami berkunjung ke Islamic Center of Quebec di Montreal, ada pengalaman menarik. Saya shalat berjamaah bersama Kiai Sigit. Setelah selesai salam, kami didatangi seorang pria asal Pakistan yang berbicara dalam Bahasa Arab. Ia mengingatkan bahwa shalat saya keliru, lalu menjelaskan bagaimana tata cara shalat yang menurutnya benar.

Saya hanya mendengarkan penjelasannya, sembari menjawab seperlunya dalam Bahasa Arab. Saya tidak beradu argumen. Dalam hati saya bergumam, orang ini mungkin belum selesai memahami indahnya perbedaan dalam berislam. Tentu inilah tantangan kita ke depan. Wallahu’alam.

Sumber: https://www.arina.id/khazanah/ar-7mhxr/montreal-dan harmoni-umat–menjaga-ukhuwah-di-tengah-perbedaan

Categories
Berita

KBRI Ottawa Undang Dai Internasional Bahas Fikih Keseharian Muslim di Kanada

Ottawa, 27 Pebruari 2026.Islam secara subtansi adalah sama, baik Islam di Asia, Amerika, Australia, Afrikan maupun Eropa. Hanya saja, pada praktiknya, sedikit berbeda karena perbedaan tempat, waktu dan keadaan. Oleh karena itu, kaidah dalam fikih, mengatakan taghayurul ahkam bi taghayuril azminati wal amkinati wal ahwali. Hukum Islam berubah sesuai perubahan zaman, tempat dan keadaan.

Bertolak dari ini, maka KBRI Ottawa bekerja sama dengan Pengajian Kamila menyelenggarakan Kajian Ramadan dengan tema “Fikih Keseharian Muslim di Kanada”. Kegiatan diselenggarakan Kamis, 26 Pebruari 2026 di Auditorium Caraka Nusantara KBRI Ottawa Kanada. Hadir pada saat itu, Dubes RI di Kanada, Muhsin Syihab, dan segenap jajarannya seperti Rezal Akbar Nasrun, Heru Santoso dan lain sebagainya.

Ketua Pengajian Kamila (Kajian Muslim Lintas Negara), Rahmania Maryam Syihab yang juga istri Dubes RI Kanada mengatakan bahwa pengajian ini diperuntukkan Muslim di Kanada. ” Secara online, diaspora Muslim hadir dari beberapa kota besar di Kanada seperti Ottawa, Montreal, Calgary, Toronto dan Vancouver. Semantara, secara offline di KBRI, hadir puluhan orang bapak dan ibu serta diaspora muslim di Ottawa”, kata ibu Rahmania Maryam Syihab yang asal Palembang.

Sementara itu, Prof. M. Noor Harisudin Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq mengatakan bahwa fikih adalah salah satu unsur penting dalam Islam.”Unsur dalam Islam itu ada tiga: Tauhid (Iman), Fikih (Syariah) dan tasawuf (Ihsan). Sekarang kita bahas fikihnya dulu”, kata Prof. Haris yang juga Direktur World Moslem Studies Center.

Soal fikih, lanjut Prof Haris, menyatakan bahwa umumnya orang menyebut hukum Islam yang lima yaitu wajib, sunah, haram, makruh dan mubah. “Ini tidak salah, namun kurang lengkap. Ada dimensi lain dalam fikih yang objeknya adalah perbuatan manusia. Misalnya bagaimana sholat –kita contohkan sholat dluhur–itu dilakukan; apakah telah memenuhi syarat dan rukun sholar. Kalau syarat dan rukun terpenuhi, maka sholat dluhur sah dan gugur kewajiban sholat tersebut”, ujar Prof. Haris yang juga Pengasuh PP Darul Hikam Mangli Jember.

Demikian juga, ketika sholat dluhur, apakah dilakukan dalam keadaan normal atau dilakukan dalam keadaan khusus. “Dalam keadaan normal berlaku hukum asal, misalnya jumlah sholat dluhur dan ashar 4 rokaat dan dilakukan pada waktunya. Dalam keadaan khusus –misalnya bepergian dan orangnya disebut musafir—maka dia mendapat keringanan dari Allah Swt. Dia boleh sholat jama dan qashar dari 4 rakaat menjadi hanya 2 rakaat. Ini yang disebut dengan rukhsah”, ujar Prof. Haris yang juga Wakil Ketua Komisi Pesantren MUI Pusat.

Para jamaah sangat atunsias mengikuti pengajian yang berlangsung dua jam mulai 12.30 hingga 14.30 Waktu Kanada Ada banyak pertanyaan. Salah satunya tentang puasa Ramadan di daerah yang Maghribnya jam 10 malam. “Tapi kami ikut puasa sampai jam 6 sore, ustadz. Padahal keadaan musim panas (summer). Bagaimana puasa kami, Ustadz”, tanya ibu Laila ketika dia dan suaminya tinggal di Yellowknife Kanada. Prof Haris menjelaskan bahwa itu merupakan khilafiah (perbedaan pendapat). Ada ulama yang mengatakan buka puasa jam 10 malam dan ada ulama cukup jam 6.

“Silahkan ikut pendapat yang ibu yakini. Dan puasa ibu juga sah”, tukas Prof. Haris yang sudah berdakwah keliling 23 Negara dan lima benua tersebut. Wallahu’alam***

Categories
Opini

Awal Ramadan yang ‘Mendebarkan’ di Kanada

Oleh: M. Noor Harisudin
Direktur Womester dan Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Di Kanada, kami sudah mendengar hasil Keputusan sidang itsbat di Indonesia bahwa hilal tidak terlihat hilal dari Sabang sampai Merauke. Sehingga umat Islam menyempurnakan 30 hari Sya’ban. Pemerintah Indonesia melalui Menteri Agama RI juga telah memutuskan bahwa 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Pebruari 2026. Meski demikian, beberapa ormas Islam melalui hisab — seperti Muhammadiyah  sudah mengumumkan jika awal Ramadan jatuh pada Rabu, 18 Pebruari 2026. Warga Muhammadiyah mulai puasa hari Rabu 18 Pebruari,

Bagaimana awal Ramadan di Kanada?

Awal Ramadan sangat penting bagi Muslim di Kanada yang populasinya sudah mencapai 2 juta jiwa atau sekitar 5 % dari total populasi warga Kanada. Islam adalah agama terbesar kedua di Kanada. Populasinya juga tumbuh pesat terutama di berbagai wilayah seperti Toronto, Quebec, Montreal dan juga Ottawa.

Malam itu, saya bersama Kiai Sigit berangkat menuju Masjid Makah al Mukaromah di Montreal Kanada. Jarak temph rumah Kiai Sigit ke masjid adalah 1 menit. Saya dan seratus lebih orang yang sholat Isya berjamaah di sini. Jamaah sholat penuh. Mereka dari berbagai negara,

Isya di Montrel, sekitar jam 07.00 waktu malam Kanada. Setelah selesai sholat Isya, Imam memegang mikropon dan menyampaikan bahwa malam ini jam 09.00 malam ini akan diumumkan kapan awal Ramadan. Masjid Mekah Al Mukaromah biasanya mengikuti rukyah yang dilakukan oleh Forum Komunikasi Imam Masjid se- Montreal dan Amerika Serikat.

“Ada dua jenis kelompok yang menentukan awal Ramadan. Pertama, dengan hisab yang digawangi oleh ISNA (Islamic Society of North America) dan ICNA (Islamic Circle North America). Kedua, dengan rukyah yang digawangi Forum Komunikasi Masjid *Quebec & Canada* dan AS”, kata Kiai Sigit menjelaskan pada kami.

Umat Islam Kanada yang mendasarkan awal Ramadan berdasarkan hisab telah menetapkan awal Ramadan jatuh pada Rabu, 18 Pebruari 2026. Sementara, umat Islam yang mendasarkan awal Ramadan berdasarkan rukyah berpuasa mulai Hari Kamis 19 Pebruari 2026.

“Bagi kami yang menggunakan rukyah, awal ramadan insyaallah pada Hari Kamis, 19 Pebruari 2026 karena kami –secara informasi– tidak melihat hilal baik di Quebec maupun Vancouver dan juga California”, kata Kiai Sigit pada saya.

Benar saja ini Kiai Sigit. Jam 09.30 malam waktu Quebec, takmir Masjid Makah Al-Mukarromah mengumumkan bahwa awal Ramadan jatuh pada Kamis, 19 Pebruari 2026. Alhamdulillah, gumam hati saya. Ini berarti saya masih ada waktu satu hari lagi untuk adaptasi dengan Kanada yang dingin sekali.  

Walhasil, umat Islam di Kanada berbeda dalam memasuki awal Ramadlan. Mereka yang memulai puasa pada hari Rabu karena berdasarkan hisab. Sebagian memulai Ramadlan hari Kamis karena berdasarkan rukyah di Montreal dan propinsi Quebec semata.

Namun demikian, yang menarik adalah semua umat Islam Kanada kompak. Mereka tidak mempersoalkan perbedaan awal Ramadan. Semua memasuki bulan Ramadan di tahun 2026 ini dengan penuh suka cita. Mereka berbondong ke masjid untuk sholat lima waktu, sholat tarawih, tadarus Qur’an dan kegiatan lainnya.

Wallahu’alam. ***

Categories
Berita

Dubes RI Muhsin Syihab Terima Kasih atas Kehadiran Dai Internasional Womester di Kanada

Ottawa Kanada, 22 Pebruari 2026

Dubes RI di Kanada, Muhsin Syihab mengucapkan terima kasih atas kedatangan Prof. M Noor Harisudin, Direktur World Moslem Studies Center (Womester) di Ottawa Kanada dalam rangka Safari Ramadan mulai 6 Pebruari hingga 3 Maret 2026. Demikian disampaikan oleh Muhsin Syihab dalam acara Pengajian dan Buka Bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Ottawa pada Minggu, 22 Pebruari 2026.

“Selaku Dubes RI Kanada, kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran semuanya di Auditorium KBRI Ottawa ini. Dan juga, kami terima kasih atas kedatangan tamu khusus kita, Prof M. Noor Harisudin ke Kanada. Beliau datang dalam rangka Safari Ramadlan. Prof Haris adalah seorang yang ahli dalam ilmu hukum Islam. Kemarin beliau ke Montreal, sekarang di Ottawa dan nanti akan ke Toronto’, kata Muhsin Syihab yang menjadi Dubes Kanada bukan Juli 2025.

Muhsin Syihab berharap agar digunakan untuk berkonsultasi tentang agama pada Prof. Haris yang juga Guru Besar Ilmu Fikih di UIN Kiai Haji Achmas Siddiq Jember. “Karena Prof Haris selama lima hari ke depan, Prof Haris akan mengisi di KBRI Ottawa”, ujar Muhsin Syihab, Dubes muda yang lahir pada 5 Juni 1970.

Sementara, Prof Haris berterima kasih pada Dubes Kanada yang sesungguhnya adalah seorang ulama juga. Dalam paparannya, Prof Haris menjelaskan tiga unsur Islam yaitu tauhid, fikih dan tasawuf. “Ketiga-tiganya harus dipelajari dan diamalkan secara seimbang. ”, kata Prof Haris, Dai Internasional yang sudah keliling 23 negara dunia tersebut.

Secara spesifik, Prof Haris menjelaskan tentang Fikih Luar Negeri yang dalam bahasa lain Fikih Aqaliyat. “ Fikih Luar Negeri itu yang Fikih Aqaliyat. Ini fikih untuk muslim yang hidup di negara dengan minoritas muslim seperti Kanada, Amerika, Australia, Taiwan, Belanda, Jerman, Hongkong, Rusia, Jepang dan sebagai”, ujar Prof Haris yang juga Wakil Ketua Komisi Pesantren MUI Pusat.

Terkait dengan Fikih Luar Negeri, Prof Haris memberikan catatan bahwa muslim luar negeri secara khusus mendapatkan rukhsah dari agama. Sebagaiman dikatahui, rukhsah adalah lawan dari azimah. Jika azimah adalah hukum asal, maka rukhash adalah hukum keringanan yang ditetapkan oleh Allah dalam keadaan tertentu (fi haalatin khassah).

“Karena ada kesulitan tertentu, maka muslim mendapatkan keringanan. Misalnya kesulitan mensucikan najis babi atau sering disebut dengan Najis Mugholadzah. Menurut jumhur ulama, cara mensucikannya dengan tujuh kali basuhan dan salah satunya dengan debu. Nah sucikan dengan debu ini sulit di beberapa negara, maka diganti dengan sabun”, ujar Prof. Haris yang juga Pengasuh PP Darul Hikam Mangli Jember.

Mashul Khufain (mengusap mauzah atau sepatu) adalah rukhsah lain yang diberikan pada muslim di negara minoritas. “Karena kesulitan kaki dicopot, maka kita tidak usah copot. Dan tidak da tempat wudlu, kecuali westafel yang menutut orang luar negeri dinggap kumuh dan tidak sopan meletakkan kaki di westafel untuk wudlu. Maka kita bolej mengikuti pendapat ulama yang membolehkan mashul khufain di negara yang tadi saya sebut. Saya sendiri juga praktik mashul khufain di berbagai negara tersebut”, ujar Prof. M Noor Harisudin yang juga Guru Besar Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmas Siddiq Jember.

Namun demikian, meski ada kelonggaran dalam Fikih Luar Negeri, Prof Haris tetap mendorong muslim Kanada untuk terus berdakwah. Demikian ini agar umat Islam tidak menjadi minoritas selamanya, namun suatu saat nanti bisa mayoritas. “Saya dengar di Montreal dulu hanya ada satu masjid tahun 1956. Kini Montreal sudah memiliki 30 masjid. Demikian juga masjid di Ottawa yang dulu hanya satu masjid, kini punya sepuluh masjid. Demikian kota-kota besar lain di Kanada”, kata Prof M Noor Harisudin yang juga Wakil Ketua PP Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara-Hukum Administrasi Negara 2025-2030.

Acara dihadiri seratus lebih jamaah diaspora Indonesia di Ottawa. Selain Muhsin Syihab (Dubes RI), juga hadir Rezal Akbar Nasrun (Minister Counsellor) dan Keluarga Besar KBRI Ottawa juga hadir semua. Jamaah juga hadir seperti Ust Bani (Ketua Pengajian Masyarakat Muslim Indonesia Ottawa), Ust. Amin (Sesepuh PM2IO) Sigit Afrianto (Wakil Rois Syuriyah PCI NU As-Kanada) Sebelum tausiyah Ramadan, diawali dengan doa khataman al-Qur’an oleh Ust Amin. Acara selanjutnya buka puasa bersama dan sholat tarawih secara berjamaah. ***

Categories
Opini

Mengenal Para Ahli Pesawat Diaspora Indonesia di Kanada

Oleh: M. Noor Harisudin
Direktur Womester dan Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Sore itu, Selasa, 17 Februari 2026.  Saya bersama Kiai Sigit ke Bombardier Aerospace  perusahaan produsen pesawat terkemuka asal Kanada yang berbasis di Montréal. Bombardier fokus pada pembuatan jet bisnis mewah berkinerja tinggi. Produk utamanya mencakup seri Global (5500, 6500, 7500, 8000) dan Challanger (3500, 6500).

Pesawat produk perusahaan ini dikenal atas kenyamanan, kecepatan, dan teknologi canggih, melayani pelanggan korporat dan pemerintahan. Bombardier sendiri berpusat di Quebec. Bombardier telah beroperasi selama 80 tahun lebih, dengan perakitan di kota Toronto Raya dan penyelesaian interior di Montreal Kanada.

“Saya dulu bekerja di sini. Sekarang pindah ke perusahaan Airbus”, jelas Kiai Sigit pada saya. Airbus SE perusahaan pesawat multinasional asal Eropa. Sejak tahun 2019, Airbus telah menjadi produsen pesawat terbang terbesar dan juga produsen helikopter terkemuka di dunia.Ada tujuh negara yang berkolaborasi dalam pembuatan pesawat air bus yaitu Kanada, Perancis, Jerman, Spanyol, Inggris, Tiongkok dan AS.

Kiai Sigit adalag alumni PT Dirgantara Indonesia. PT Dirgantara Indonesia—selanjutnya disingkat PTDI– adalah BUMN dirgantara terkemuka dan didirikan tahun 1976 oleh B.J. Habibie. PTDI terkenal sebagai satu-satunya produsen pesawat CN235 di dunia. Produk unggulan PTDI meliputi pesawat CN235-220, dan N219, yang tangguh untuk militer, sipil, dan misi khusus.

Ketika BJ Habibie dulu, para ahli pesawat Indonesia berkumpul di PTDI. Mereka berhasil membuat pesawat sendiri. Sayang, setelah ini, mega proyek ini habis. Kebijakan negara tak lagi mendukung pembuatan pesawat.

Mereka akhirnya tersebar ke berbagai negara. Belanda, Jerman, Brazil, dan Kanada. Ada kurang lebih 100 ahli pesawat alumni PTDI yang ke berbagai negara. Ketrampilan mereka dibutuhkan di negara tersebut pasca bubarnya  PTDI di Indonesia.

Pada bulan Maret 2024, saya bertemu Pak Gery, diaspora Indonesia ahli pesawat ‘alumni PTDI’ yang tinggal di Bremen Jerman. Saya juga sempat memberi pengajian di Musholla beliau di Bremen Jerman. 

“Pak Gery itu teman saya”, kata Kiai Sigit pada saya. Bedanya, Pak Gery di Jerman, Kiai Sigit dari Jerman, ke Brazil dan lalu terakhir Kanada.

Pada tahun 1995, Indonesia cukup keren. Para ahli pesawat didikan BJ Habibie sudah piawai membuat pesawat ditandai dengan terbangnya pesawat N250 hasil karya putra putri Indonesia, menandai 50 tahun Indonesia Merdeka. Sayang, karena krisis moneter tahun 1998 membuat tidak dilanjutkannya kebijakan pemerintah dalam mendukung program pesawat N250. Padahal, itu aset yang luar biasa.         

“Kita sulit berkembang, karena tidak didukung negara. Selain itu, sengaja produsen pesawat Indonesia dimatikan. Sehingga Indonesia akan selalu tergantung pada mereka”, kata Kiai Sigit pada saya. Padahal, kebutuhan pesawat sejenis N250 di Indonesia adalah sekitar 75 pesawat. Saat ini, kebutuhan ini dipenuhi oleh pesawat ATR buatan Perancis. Lumayan juga. Kalau beli ke perusahaan dalam negeri, tentu, betapa luar biasanya.

Tahun 2018 program pesawat Bombardier C-Series yang didesain oleh kiai Sigit, diakuisisi oleh perusahaan AIRBUS, dan berubah nama menjadi Airbus A220, sehingga sekarang  kiai Sigit menjadi satu satunya Principal Engineering Specialist dibidang pneumatic systems di AIRBUS Kanada. Putri pertama Kiai Sigit yang bernama Chyntia dulu juga bekerja di Bombardier, seperti ayahnya.

Selain Kiai Sigit, ada beberapa ahli pesawat di Montreal Kanada, yang dulu juga didikan BJ Habibie, misalnya Rangsang W.  yang kini bekerja di Kementrian  Pertahanan Kanada dan pak Endro Haryono yang kini bekerja di Bombardier. Ada juga Pak Lilik yang bekerja di Airbus. Semuanya aktif di masjid Montreal Kanada.

“Apa harapan Kiai Sigit pada pemerintah Indonesia”, tanya saya padanya suatu saat. Ternyata, dia ingin anak-anak Indonesa dan santri seperti dia. Indonesia tidak boleh kalah dengan negara lain khususnya dibidang teknologi, seperti pembuatan pesawat atau mobil.

Mengapa? Karena tidak ada negara maju yang tanpa industri. Salah satunya pesawat terbang. Selain tentu saja perusahaan ini akan menyerap tenaga kerja Indonesia yang lumayan banyak. Pertanyaannya, apakah pemerintah Indonesia siap untuk kembali mendukung kebangkitan industri   pesawat dan mobil Imdonesia?

Semoga. *