Categories
Berita Lembaga Wakaf Tunai

Jelang Perayaan 17 Agustus, Lazawa Darul Hikam Dukung FOZ Gelar Turnamen Badminton dan Lomba Video Konten Kreatif

Jember – Lembaga Zakat dan Wakaf (LAZAWA) Darul Hikam menghadiri kegiatan Silaturahmi dan Rapat Program Forum Zakat (FOZ) Jember yang diselenggarakan pada Kamis, 30 Juli 2026 di kantor LAZNAS Yatim Mandiri Jember. Pada kegiatan tersebut, LAZAWA Darul Hikam diwakili oleh Nazhir LAZAWA Darul Hikam, M. Irwan Zamroni Ali, S.H., M.H., CWC., bersama Iklil Naufal Umar.

Kegiatan yang diikuti seluruh Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) di Kabupaten Jember ini menjadi forum untuk mempererat silaturahmi sekaligus menyusun langkah bersama dalam memperkuat pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF). Selain menjadi ajang koordinasi, forum juga membahas tantangan serta peluang pengembangan lembaga zakat di masa depan.

Salah satu agenda utama adalah pemaparan materi The Future of Zakat Institution yang mengulas arah perkembangan gerakan zakat dan filantropi Indonesia pada periode 2025–2030 hingga proyeksi 25 tahun mendatang. Dalam pemaparan tersebut disampaikan bahwa lembaga zakat perlu bersiap menghadapi berbagai tantangan, seperti meningkatnya jumlah masyarakat rentan miskin, perubahan karakter donatur, tuntutan transparansi, serta percepatan transformasi digital. Di sisi lain, tingginya budaya kedermawanan masyarakat Indonesia dan perkembangan teknologi menjadi peluang besar untuk memperkuat penghimpunan serta pendayagunaan dana ZISWAF.

Forum juga menyepakati pelaksanaan FOZ Cup 2026 yang akan digelar pada 15 Agustus 2026. Kegiatan tersebut akan menghadirkan turnamen badminton dan lomba video konten kreatif sebagai media mempererat ukhuwah, membangun kebersamaan, serta meningkatkan kolaborasi antar anggota Forum Zakat Jember.

Ketua Forum Zakat (FOZ) Jember periode 2025–2028, M. Arifin Abdullah, S.E., CAC., menyampaikan bahwa saat ini FOZ Jember telah menghimpun 18 Organisasi Pengelola Zakat, menjadikannya forum dengan jumlah anggota terbanyak di wilayah Tapal Kuda.

“Alhamdulillah, FOZ Jember saat ini telah beranggotakan 18 OPZ. Ini menunjukkan semangat kolaborasi lembaga zakat di Jember sangat baik. Kami berharap seluruh anggota terus bersinergi, saling menguatkan kapasitas kelembagaan, dan menghadirkan program-program yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Nazhir LAZAWA Darul Hikam, M. Irwan Zamroni Ali, S.H., M.H., CWC., menilai forum tersebut memberikan banyak wawasan baru mengenai arah pengembangan lembaga zakat di masa depan.

“Forum ini menjadi ruang belajar sekaligus memperkuat kolaborasi antar-OPZ. Banyak gagasan yang dapat kami terapkan di LAZAWA Darul Hikam, terutama terkait transformasi digital, penguatan tata kelola, dan pengembangan program yang lebih berdampak. Kami siap mendukung berbagai program bersama FOZ Jember demi meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Dan kita mendukung acara FOZ seperti turnamen badminon dan lomba content creative dalam rangka 17 Agustus,” kata Irwan yang juga Dosen Fakultas Syariah UIN KHAS Jember.

Melalui keikutsertaannya dalam forum tersebut, LAZAWA Darul Hikam berharap sinergi antar Organisasi Pengelola Zakat di Kabupaten Jember semakin kuat sehingga mampu menghadirkan layanan ZISWAF yang profesional, transparan, inovatif, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi kesejahteraan umat.

Reporter : Arif Rahman
Editor : Wildan Rofikil Anwar

Categories
Opini

Indahnya Centennial Park Montreal

Oleh: M. Noor Harisudin

Hari Kamis, dua hari setelah sampai di Montreal Kanada, saya langsung gaspol, karena diajak Kiai Sigit mengunjungi Centennial Park Montreal. Lokasi Centennial Park tidak jauh dari rumah Kiai Sigit. Kurang lebih lima menitan dari rumah Kiai Sigit. Centennial Park adalah salah satu taman hutan kota yang menjadi kebanggaan warga Montreal selain Mont Royal Park dan Agrignon Park.

Taman hutan kota ini luasnya sekitar 48 hektare. Di tengah Centennial Park terdapat danau buatan yang menjadi tempat berkembang biak satwa air, seperti berbagai jenis ikan besar, angsa putih dan bebek Kanada. Tentang bebek Kanada, jangan tanya bagaimana indah warna bulunya.

Danau ini juga berfungsi untuk menampung air hujan guna mengurangi resiko banjir saat hujan lebat. Ketika proses pembuatan danau buatan, tanah hasil pengerukan untuk pembuatan danau ditimbun menjadi sebuah bukit buatan yang asri, yang digunakan untuk permainan snow tobogan (papan seluncur) saat musim salju. Saat Sabtu dan Minggu, Centennial Park Montreal ramai dikunjungi pengunjung. Apalagi semuanya serba gratis. Termasuk penggunaan lapangan volley, BBQ, seluncur salju dan cross country ski.

“Centennial park ini dilengkapi Chalet untuk berteduh saat hujan yang dilengkapi dengan fasilitas toilet yang bersih dan tempat duduk yang nyaman”, kata Kiai Sigit sembari jalan-jalan kecil bersama saya.

Waktu kami ke sana, Centennial Park penuh dengan salju. Danau buatan airnya membeku, tertutup oleh salju. Juga masih belum banyak yang datang karena masih pagi sekitar jam 10 Kanada. Udaranya sungguh segar sekali.

Selain toilet dan tempat duduk nyaman, fasilitas lain Centennial park adalah lapangan volley, Outdoor fitness, play ground, meja piknik dan juga tempat berbeqeu (BBQ). Di Centennial Park juga ada jalan setapak menembus hutan kota yangg rimbun dan teduh, untuk jalan sehat mengelilingi danau atau untuk cross country ski di saat musim salju. Pokoknya lengkap dan keren sekali.

“Pada musim gugur (fall season), daun-daun di hutan kota Centennial Park ini yang tadinya berwarna hijau berubah menjadi warna warni yang indah sekali, lukisan alam ciptaan Allah yang maha kuasa”, kata Kiai Sigit menceritakan Centennial Park di musim gugur yang indah.

Di musim gugur, daun-daun ini berguguran. Kemudian akan diganti daun baru di musim semi. Demikian ini merupakan pertanda dari Allah, bahwa hidup di bumi ini harus bergantian. Juga hidup itu ada masanya.

Kiai Sigit mengatakan bahwa diaspora Indonesia seringkali mengadakan pengajian di taman kota seperti ini. Jumlah yang hadir banyak, –tapi jangan dibandingkan dengan Indonesia. Bahkan paling banyak jika dibandingkan dengan tempat yang lain.

“ Kalau pengunjung pengajian, paling banyak kalau diadakan di taman kota. Kurang lebih 150 an orang. Selanjutnya terbanyak kedua kalau pengajian di rumah yang berkisar 100 an orang. Dan paling sedikit pengunjungnya kalau diadakan di masjid-masjid sekitar 40 an”, kata Kiai Sigit menceritakan lika-liku dan tantangan dakwah di Kanada.

Saat kita mengadakan pengajian dan berbeqeu (BBQ) di taman ini, banyak jamaah yang atunsias untuk datang dengan keluarganya. Pengajian plus rekreasi keluarga. Keren sekali. Pengajian diadakan mulai siang hingga sore.

“Ada rasa haru, saat waktu sholat ashar tiba dan kita mendirikan jamaah sholat ashar, banyak pengunjung dari komunitas negara lain di taman ini yang beragama muslim ikut menyusul menjadi makmum’, kata Kiai Sigit menceritakan bagaimana serunya pengajian itu dilaksanakan di Centennial Park Montreal.

Pada momen seperti itulah ikutan persaudaraan antar sesama diaspora Indonesia dan sesama muslim dari berbagai penjuru dunia semakin kuat. Indahnya syiar Islam yang menjadikan kita sesama muslim sebagai saudara.

Wallahu’alam. *

Categories
Berita

MUSEMMA di Masjid Baitul Iman BMP Jember, LAZAWA Darul Hikam Hadirkan Empat Layanan Kesehatan Gratis

Jember – Lembaga Zakat dan Wakaf (LAZAWA) Darul Hikam kembali menggelar Program MUSEMMA (Muslim Sehat, Masjid Makmur) di Masjid Baitul Iman, Perum Bumi Mangli Permai, Jember, pada Minggu (19/7/2026). Program ini merupakan upaya mengoptimalkan peran masjid sebagai pusat pembinaan umat melalui layanan keagamaan, kesehatan, dan sosial.

Kegiatan diawali dengan salat Subuh berjamaah, dilanjutkan tausiah keislaman, edukasi kesehatan, konsultasi ZISWAF, pemeriksaan kesehatan gratis meliputi cek tekanan darah, cek gula darah, cek asam urat, dan cek kolesterol, serta ditutup dengan sarapan bersama jamaah.

Ketua Yayasan Masjid Baitul Iman, Drs. H. Diyono, mengapresiasi pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, MUSEMMA dari Lazawa Darul Hikam memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus menghidupkan fungsi masjid sebagai pusat pelayanan umat.

“Program ini sangat bermanfaat bagi jamaah. Semoga semakin banyak masjid dan masyarakat yang dapat merasakan manfaatnya,” ujarnya.

Direktur LAZAWA Darul Hikam, Prof. Dr. KH. M. Noor Harisudin, S.Ag., S.H., M.Fil.I., CLA., CWC., hadir sebagai narasumber utama bersama tenaga kesehatan dari RSD dr. Soebandi, Ns. Yoyok Prasetyo Santoso, S.Kep.

Dalam pemaparannya, Prof. Haris menjelaskan bahwa MUSEMMA telah dilaksanakan di sejumlah masjid, di antaranya Masjid Raudhatul Muchlisin, Masjid Al-Muhajirin, dan Masjid As-Salam.

Ia menambahkan, LAZAWA Darul Hikam juga terus mengembangkan berbagai program pemberdayaan umat, seperti Program Kursi Lansia dan Difabel yang telah menjangkau Jember, Bondowoso, Lumajang, Kediri, Bangkalan, hingga Masjidil Haram di Arab Saudi.

Selain itu, terdapat pula Program Green Mosque sebagai upaya memperkuat peran masjid dalam pemberdayaan jamaah dan kepedulian terhadap lingkungan.

“Kami ingin masjid menjadi pusat pelayanan umat, sehingga manfaat zakat, infak, sedekah, dan wakaf dapat dirasakan lebih luas,” kata Prof. Haris yang juga Guru Besar UIN KHAS Jember.

Sementara itu, dalam sesi edukasi kesehatan, Ns. Yoyok Prasetyo Santoso, S.Kep. menyampaikan bahwa gastritis atau maag masih menjadi salah satu penyakit yang banyak dialami masyarakat. Kondisi tersebut umumnya dipicu oleh pola makan yang tidak teratur, konsumsi obat antiinflamasi nonsteroid, kafein berlebihan, serta stres.

“Pola makan teratur dan gaya hidup sehat merupakan langkah sederhana untuk mencegah gastritis,” jelasnya yang juga Perawat Bedah Dr Subandi Jember.

Ia mengimbau masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi dan bersih, makan secara teratur, serta menjaga kesehatan mental melalui istirahat yang cukup dan pengelolaan stres.

“Kalau makanan kita dijaga dan pikiran kita lebih tenang, insyaallah risiko berbagai penyakit juga dapat diminimalkan,” tambahnya.

Turut mendampingi pelaksanaan kegiatan tersebut tim LAZAWA Darul Hikam, yakni Ibu Nyai Hj. Robiatul Adawiyah (Pengasuh PP Darul Hikam), Ibu Iriana Kunto (Nakes Puskesmas Sumbersari), Ust M. Irwan Zamroni Ali (Nadzir Lazawa Darul Hikam), Wildan Rofikil Anwar, Iklil Naufal Umar, dan Arif Rahman, yang bersama-sama memastikan seluruh rangkaian Program MUSEMMA berjalan dengan lancar.

Reporter : Iklil Naufal Umar
Editor : Wildan Rofikil Anwar

Categories
Opini

Berapa Gaji Orang Bekerja di Kanada?

Oleh M. Noor Harisudin
Wakil Ketua Komisi Pesantren MUI Pusat, Direktur World Moslem Studies Center, Dewan Pakar PB IKA PMII dan Wakil Ketua PP APHTN – HAN.

Di sela-sela kegiatan Safari Ramadhan 15 hari di Kanada, hari itu, kami berdiskusi tentang pekerjaan dan gaji orang yang di Kanada. Bagaimanapun, Kanada adalah salah satu pilihan negara tujuan untuk tempat bekerja. Negara besar dengan penduduk di atas 40 juta ini dikenal dengan negara welfare state yang menekankan pada kemakmuran warganya. Bahkan, karena ini, pembangunan Gedung tinggi pencakar langit sudah dilakukan tahun 1970 -an yang silam.
CN Tower yg didirikan thn 1976 adalah salah satu bangunan tertinggi di dunia di jamannya.
“Pembangunan negara di Kanada cenderung melambat, Prof. Karena negara ini berfokus pada ke makmuran rakyatnya, Bandingkan dengan Indonesia saat ini pembangunannya sangat pesat dan melesat”, kata Kiai Sigit pada saya.

Lalu bagaimana dengan gaji para pekerja di sini?

Kiai Sigit pun bercerita tentang gaji orang bekerja di Kanada. Gaji minimum per jam di provinsi Quebec Kanada adalah 16.5 Dollar Kanada atau 200 ribu rupiah. Gaji minimum 31 juta rupiah per bulan. Kalau bekerja normal satu tahun maka akan dapat gaji minimum 372 juta rupiah.
Yang sudah cukup untuk hidup layak di Kanada.
Sedangkan gaji awal sarjana yg baru lulus mulai 4000 CAD atau atau 48 juta per bulan.
Semua orang dewasa wajib lapor pajak tahunan, dimana pendapatan yg bebas pajak adalah 132 juta per tahun. Selebihnya akan dikenai pajak progressive mulai 28% sd 53%.

“Negara Kanada benar-benar membantu rakyatnya supaya bisa bekerja, sehingga bisa menjadi pembayar pajak. Sebab jika orang itu tidak bekerja, maka dia akan menjadi beban negara, karena negara harus memberikan tunjangan sosial (wellfare)”, kata Kiai Sigit pada saya dalam perjalanan santai dari rumanhya ke kota. Salah satu tujuan kita hari itu adalah Kampus McGill Montreal Kanada.

Gaji rata rata orang kanada adalah 45000 CAD atau 540 juta rupiah per tahun.

“Kalau gaji cukupan yang 45 juta, Prof. Ini untuk jenis pekerjaan secara umum”, kata Kiai Sigit sembari naik kereta api dari rumah ke McGill University di Montreal.

Orang akan disebut kaya jika gajinya dua kalau lipat gaji cukup ini. Misalnya 45 juta kali dua. Atau 90 juta keatas. “Di sini, orang dianggap kaya kalau gajinya diatas gaji pada umumnya tersebut. Alhamdulillah. Anak-anak saya sudah bekerja dengan gaji lumayan. Doakan biar dapat cepat menikah, Prof”, kata Kiai Sigit pada saya.

Kalau gajinya Kiai Sigit yang buat pesawat berapa, tanya saya sambil cengar-cengir karena sungkan. Maklum, tanya gaji adalah hal tabu di luar negeri. Tidak seperti di Indonesia. “ Kalau gaji kami atau sarjana yang sudah berkerja selama 30 thn ya sekitar 150 juta sebelum dipotong pajak. Apalagi saya sudah di posisi Principal Engineer Specialist yg merupakan puncak kompetensi”, jawab Kiai Sigit.

Kanada termasuk sepuluh negara dengan haji tertinggi dunia selain Swiss, Luksemburg, Amerika Serikat, Serikat, Islandia, Norwegia, Denmark, Greenland, Irlandia, dan Belanda. Hanya bedanya dengan Amerika Serikat, biaya hidup di Kanada lebih terjangkau. Selain itu, kebijakan imigrasinya juga lebih ramah terhadap pekerja internasional.

Secara umum, gaji di Kanada bervariasi tergantung pada industri, lokasi, dan tingkat pengalaman. Menurut data Statistics Kanada dan Job Bank Kanada, rata-rata gaji tahunan untuk pekerja penuh waktu di Kanada adalah sekitar $55.000 hingga $60.000 CAD per tahun. Atau jika dirupiahkan berkisar Rp. 617.815.933 hingga Rp. 673.734.000. Namun, angka ini dapat berubah sesuai dengan kota tempat bekerja dan bidang industri tertentu. Jika dihitung per bulan, rata-rata 50 juta rupiah an atau di atasnya.

Beberapa kota besar seperti Toronto, Vancouver, Calgary, dan Ottawa cenderung menawarkan gaji yang lebih tinggi karena biaya hidup yang tentunya juga lebih besar dibandingkan daerah pedesaan. Selain itu, sektor-sektor tertentu seperti teknologi, kesehatan, dan energi biasanya menawarkan gaji yang lebih tinggi dibandingkan pekerjaan di bidang jasa atau administrasi.

Anda berminat bekerja di Kanada?

Wallahua’lam. ***

Categories
Opini

Animal Welfare dalam Penyembelihan Hewan Kurban di Kanada

Oleh: M. Noor Harisudin

Salah satu yang menarik dalam pelaksanaan beragama muslim adalah ketika melakukan ibadah kurban pada hari raya Idul Adha. Sebagiman akita ketahui, kurban adalah persembahan pada Allah Swt. berupa penyembelihan hewan ternak pada Hari Raya Idul Adha dan hari-hari tasyrik sebagai wujud ketaatan pada Allah Swt.  

Bagaimana lalu keseruan penyembelihan kurban di Kanada? Simak cerita ringan berikut ini.

Muslim Kanada juga seru dan ramai ketika merayakan Idul Adha. Tentu dengan segala situasi yang disesuaikan dengan keadaan mereka. Misalnya mereka berkurban dengan cara mengambil cuti kerja jika hari raya Qurban tidak jatuh di hari Sabtu-Ahad. Tidak semudah di Indonesia yang bisa kapan saja karena hari raya Qurban adalah hari libur Nasional.

Muslim Kanada umumnya memilih untuk berkurban di negara asalnya atau di negara Kanada tempat ia tinggal sekarang. Sebagian Muslim Kanada melihat urgensi berkurban di negara asalnya atau berqurban di negara lain seperti Palestina dan negara Afrika karena rakyatnya yang lebih membutuhkan. Caranya. mereka akan menitipkan uang di negara tersebut untuk membeli hewan kurban pada kiai atau organisasi Islam yang mereka percayai.

“Kami iuran sejumlah uang Rp 5 jutaan per orang. Dana yg terkumpul 70 juta dari 14 orang kami kirim ke Indonesia untuk di belikan sapi dan disembelih di sana”, kata Kiai Sigit pada saya. Sebelum berkurban, foto hewan dikirim dari negara asal. Demikian juga pada saat kurban, mereka akan menerima dokumentasi proses kurban. Termasuk penyebutan nama-nama orang yang berkurban. 

Namun, sebagian muslim Kanada juga berkurban di negara Kanada, tempat mereka menghabiskan waktu sehari-harinya, sebagai syiar Islam.

Bagaimana lalu orang berkurban di Kanada?. Tentu beda dengan kurban di Indonesia yang ramai-ramai diselenggarakan di masjid, musholla atau kampung halamannya. Di Indonesia, selain berdimensi ritual dan syiar Islam, penyembelihan juga mengandung hiburan. Kita lihat serunya kurban di Indonesia; mulai orang tua, hingga anak kecil ikut serta melihat kurban tersebut.  

Berbeda dengan kurban di Indonesia, hewan kurban di Kanada tidak boleh di sembelih di masjid atau tempat lain, selain menyembelih kurban di Rumah Pemotongan Hewan di Kanada. Jadi, mereka beli hewan kurban di peternakan yang juga sekaligus mempunyai fasilitas sebagai Rumah Pemotongan Hewan (Abbatoirs bhs Perancisnya) yg mempunyai sertifikasi Halal. –selanjutnya disingkat RPH–. Salah satunya RPH Abattoirs M S International Inc yang terletak di pinggiran kota Montreal.

“Kami beli hewan di RPH sambil menyerahkan nama yang berkurban. Hewan kurban akan di sembelih pada hari tasriq sesuai dengan kesepakatan dan dagingnya kami ambil. Hewan kurban yang sudah dibeli diberi tag identitas dan dipelihara dalam kandang yg bersih”, kata Kiai Sigit pada saya.

Walhasil, muslim memasrahkan kurbannya untuk dipeliharan dan disembelih di RPH. Harga hewan kurban sendiri kalau domba antara hingga 600 sd 800 dolar Kanada sesuai beratnya. Kalau sapi, harganya kisaran 5000 dolar Kanada. 

Di RPH, penyembelihan dan pengolahan daging dilakukan secara profesional dan higienis dengan standard operasional yang ketat. Juru sembelih halal di sana adalah orang-orang Islam yang telah memiliki lisensi dan ijin menyembelih. Hewan kurbannya juga memiliki sertifikat sehingga diketahui berapa tahun umurnya. Demikian juga pemtongan hewan juga berdasarkan prinsip animal welfare yang menjadi pedoman bagi para juru sembelih halal di Kanada. 

Soal animal welfare, hukum Kanada mewajibkan semua pemegang izin yang mengoperasikan tempat penyembelihan di bawah peraturan federal untuk memastikan bahwa semua spesies hewan ternak ditangani dan disembelih secara baik sesuai prosedur standard kesehatan. Ini dimulai dari kedatangan mereka di tempat tersebut, hingga penyembelihan di fasilitas tersebut.

Setelah dipotong-potong dagingnya, gaging mereka ambil. Biasanya mereka serahkan pada Sister Sabria. Sister Sabria terkenal sebagai Bunda Teresa di Kanada. Ingatkan dengan Bunda Teresa  yang sudah masyhur itu? Bunda Teresa adalah tokoh Katolik yang terkenal dengan berbagai kegiatan kemanusiaannya. Namanya masyhur dimana-mana.

Nah, Kanada memiliki sosok Perempuan seperti Bunda Teresa. Hanya ia beragama Islam. Namanya Sister Sabria. Sister Sabria adalah orang Malaysia yang tinggal di Kanada. Ia terkenal dengan kegiatan kemanusiannya memberikan makanan pada fakir miskin. Kalau Jum’at dan bulan ramadhan, ia juga memasakkan nasi untuk muslim di berbagai masjid.

Dalam konteks kurban, banyak muslim yang menitipkan daging pada Sister Sabria. Lalu dimasak oleh Sister Sabria dan dibagikan pada orang-orang yang membutuhkan.  Tentang Sister Sabria, anda bisa menunjungi websitenya di https://www.sistersabriafoundation.org.

Ini kalau penyembelihan dilakukan secara individu. Sebagian muslim yang lain juga ada yang berkurban dengan cara menyerahkan uang ke masjid-masjid yang mereka percayai. Mereka tinggal membayarkan sejumlah yang ke masjid di kota-kota Kanada.

Lalu, masjid-masjid ini nanti mendistrubusikan dengan bekerja sama dengan beberapa lembaga lokal di berbagai negara dunia yang membutuhkan.

Ada juga sebagian yangg berkurban melalui lembaga Islam seperti ISNA,  Qurbani Foundation Canada, IDRF, Lazawa Darul Hikam atau Dompet Duafa, yang akan mendistribusikan dagingk urban kepada pihak yang berhak menerima daqing Qurban di berbagai negara sesuai pilihan kita.

Sebagai syiar Islam merayakan hari raya Idul Adha, biasanya jamaah pengajian Syiar Montreal membeli dua ekor kambing dan beberapa kilo daging sapi untuk rame rame dibikin sate, gule dan BBQ buat dinikmati bersama. Maknyus banget.

Wallahu’alam***

Categories
Berita

Kasus Dugaan Kekerasan Seksual di Malang, Prof Haris: Masyarakat Jangan Main Hakim Sendiri

Malang – Wakil Ketua Komisi Pesantren MUI Pusat, Prof. Dr. KH. M. Noor Harisudin, S.Ag., S.H., M.Fil.I., CLA., CWC. menyayangkan aksi penyegelan terhadap tiga pondok pesantren di Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, menyusul kasus dugaan kekerasan seksual yang menjerat pengasuh pesantren setempat.

Menurutnya, dugaan tindak pidana kekerasan seksual harus diproses secara serius dan tidak boleh ditoleransi. Namun, masyarakat tidak dibenarkan mengambil alih peran aparat penegak hukum dengan melakukan tindakan yang melampaui kewenangannya.

“Kalau hanya sekadar melaporkan ke polisi atau mendampingi proses hukum, silakan. Tetapi kalau kemudian berposisi sebagai penegak hukum, itu tidak benar dan tidak boleh, karena kita ini negara hukum,” ujar Prof. Haris yang juga Guru Besar UIN KHAS Jember.

Prof Haris yang juga Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur menegaskan bahwa proses penegakan hukum merupakan kewenangan aparat kepolisian. Karena itu, semua pihak diminta memberikan ruang kepada Polri untuk bekerja secara profesional, cepat, dan adil dalam mengusut kasus tersebut.

“Yang berposisi sebagai penegak hukum adalah aparat kepolisian. Jadi, biarlah proses hukum diserahkan kepada pihak yang mempunyai wewenang, yaitu aparat kepolisian, untuk memproses dengan secepatnya dan seadil-adilnya,” tegasnya.

Pernyataan tersebut disampaikan menanggapi aksi penyegelan tiga pondok pesantren di Dusun Krajan, Desa Bululawang, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang. Sejak Sabtu (13/6/2026) malam, gerbang ketiga pesantren tersebut tertutup rapat dan dipasangi spanduk bertuliskan, “PONDOK PESANTREN INI DISEGEL/DITUTUP YAKUZA MANEGES (atas dukungan warga).”

Penyegelan dilakukan setelah pengasuh ketiga pesantren dilaporkan ke Polres Malang atas dugaan tindak pidana kekerasan seksual terhadap santriwati. Akibat peristiwa tersebut, aktivitas belajar mengajar di lingkungan pesantren terhenti.

Data sementara menyebutkan, salah satu pondok putri menampung sekitar 27 santriwati. Dengan adanya tiga pesantren yang berada dalam satu kawasan desa, jumlah santri yang terdampak diperkirakan lebih dari 27 orang.

Prof. Haris yang juga Pengasuh PP. Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember berharap aparat kepolisian dapat mengusut kasus ini secara tuntas dengan tetap mengedepankan perlindungan terhadap korban serta menjunjung asas praduga tak bersalah.

“Kita semua tentu mendukung penegakan hukum dan perlindungan terhadap korban. Namun, semuanya harus dilakukan sesuai mekanisme hukum yang berlaku agar keadilan benar-benar dapat ditegakkan,” pungkasnya.

Reporter : Iklil Naufal Umar
Editor : Wildan Rofikil Anwar

Categories
Berita Lembaga Wakaf Tunai

Tebar Manfaat Lebih Luas, Lazawa Darul Hikam Laksanakan Kurban Idul Adha 1447 H

Jember — Suasana kebersamaan dan semangat berbagi mewarnai pelaksanaan penyembelihan hewan kurban yang digelar Lembaga Zakat dan Wakaf (LAZAWA) Darul Hikam bersama Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Darul Hikam pada Kamis, 28 Mei 2026. Kegiatan rutin tahunan tersebut dilaksanakan di Pondok Pesantren Darul Hikam Cabang Putra Ajung sebagai bagian dari syiar Idul Adha sekaligus bentuk kepedulian sosial kepada masyarakat sekitar.

Pada Idul Adha tahun ini, Lazawa Darul Hikam dan YPI Darul Hikam menyembelih 1 ekor sapi dan 3 ekor kambing. Daging kurban kemudian didistribusikan kepada masyarakat sekitar, kaum dhuafa, dan pihak-pihak yang berhak menerima agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata.

Direktur Lazawa Darul Hikam, Prof. Dr. KH. M. Noor Harisudin, S.Ag., S.H., M. Fil.I., CLA., CWC, menyampaikan, ibadah kurban merupakan bentuk pengorbanan dan keikhlasan seorang hamba kepada Allah Swt.

“Bagi shohibul kurban, ini adalah bentuk pengorbanan dan keikhlasan kepada Allah Swt. Bukti bahwa cinta tertinggi adalah kepada Allah, bukan kepada harta benda. Maka berkurbanlah dengan hewan dan hartanya sebagai bukti lebih cinta kepada Allah, tunduk dan patuh kepada Allah, serta ikhlas karena Allah,” ujar Prof Haris yang juga Guru Besar UIN KHAS Jember.

Menurutnya, ibadah kurban juga memiliki nilai sosial yang besar karena mampu memperkuat solidaritas dan kepedulian antar sesama.

“Bagi penerima kurban, kegiatan ini dapat meningkatkan solidaritas dan kebersamaan di tengah masyarakat,” tambah Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur tersebut.

Prof. Haris berharap program kurban Lazawa Darul Hikam terus berkembang dan menjangkau wilayah yang lebih luas pada masa mendatang.

“Kami berharap ke depan lebih banyak lagi yang berkurban dan distribusinya dapat menjangkau Jember, Jawa Timur hingga luar Jawa, bahkan ke luar negeri seperti tahun-tahun lalu,” ungkap Prof Haris yang juga Wakil Ketua Komisi Pesantren MUI Pusat.

Sementara itu, Nazhir Lazawa Darul Hikam, M. Irwan Zamroni Ali, menyampaikan terima kasih kepada seluruh shohibul kurban yang telah mempercayakan penyaluran kurbannya melalui Lazawa Darul Hikam.

“Semoga kurban yang ditunaikan diterima Allah Swt., membawa keberkahan, kesehatan, dan kelapangan rezeki bagi para shohibul kurban,” tuturnya.

Kegiatan penyembelihan berlangsung tertib dan penuh gotong royong. Panitia, santri, pengurus yayasan, dan masyarakat sekitar tampak antusias membantu proses penyembelihan hingga pendistribusian daging kurban. Momentum Idul Adha ini juga menjadi sarana mempererat ukhuwah Islamiyah dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Reporter : Iklil Naufal Umar
Editor : Wildan Rofikil Anwar

Categories
Berita

Komisi Pesantren MUI Dorong Digitalisasi Perpustakaan dan Manuskrip Pesantren

Jakarta, MUI Digital — Komisi Pesantren Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendorong pesantren di Indonesia untuk mulai mengembangkan sistem digitalisasi perpustakaan hingga manuskrip karya ulama Nusantara sebagai bagian dari penguatan tradisi keilmuan pesantren di era modern.

Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Komisi Pesantren MUI Pusat, Prof M Noor Harisudin, dalam pemaparannya bertajuk “Dari Perpustakaan Digital Hingga Digitalisasi Manuskrip Pesantren” pada kegiatan Short Course Kurikulum Pesantren di Aula Buya Hamka, Jakarta, Sabtu (23/5/2026).

Menurut Prof Haris, pesantren perlu mulai melakukan transformasi digital agar mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar tradisi keilmuan Islam.

“Pesantren-pesantren yang sudah berkembang perlu mulai meng-upgrade inovasi pembelajarannya melalui digitalisasi, baik dalam sistem pembelajaran maupun pengelolaan perpustakaan,” ujarnya.

Dia menjelaskan digitalisasi pesantren tidak hanya berkaitan dengan administrasi dan manajemen pendidikan, tetapi juga pengembangan perpustakaan digital berbasis kitab kuning dan literatur pesantren.

“Pesantren perlu memiliki e-library berbasis pesantren, sehingga karya-karya ulama dapat diakses melalui e-book maupun jurnal digital,” katanya.

Selain itu, Prof Haris juga menyoroti pentingnya digitalisasi manuskrip ulama Nusantara yang selama ini tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

“Ada manuskrip ulama Nusantara yang tersebar dari Aceh sampai Papua. Karya-karya itu perlu dilestarikan melalui digitalisasi agar tetap menjadi sumber belajar generasi mendatang,” ungkapnya.

Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan sanad keilmuan pesantren dari para ulama terdahulu hingga generasi masa depan.

Dia  berharap pesantren di Indonesia mampu terus berkembang dan sejajar dengan lembaga pendidikan lain di tingkat global, tanpa kehilangan identitas dan tradisi khas pesantren.

Sumber : https://mui.or.id/public/baca/berita/komisi-pesantren-mui-dorong-digitalisasi-perpustakaan-dan-manuskrip-pesantren

Categories
Berita Lembaga Wakaf Tunai

Kolaborasi Lazawa Darul Hikam, Polije, dan Masjid Al Muhajirin Latih Juru Sembelih Kurban

Jember – Lembaga Zakat dan Wakaf Darul Hikam bersama Yayasan Masjid Al Muhajirin dan Politeknik Negeri Jember menggelar pelatihan penyembelihan hewan kurban secara syar’i pada Rabu, 20 Mei 2026. Menariknya, kegiatan tersebut tidak hanya berisi teori, tetapi juga praktik langsung dengan mendatangkan satu ekor sapi sebagai media pelatihan bagi para peserta.

Peserta kegiatan merupakan para takmir masjid dan juru sembelih dari sejumlah wilayah di Kabupaten Jember yang dipersiapkan untuk menghadapi pelaksanaan Idul Adha mendatang. Puluhan pengurus takmir dan panitia kurban mendengar dengan atunsias.

Ketua Yayasan Masjid Al Muhajirin, Prof. Dr. Hadi Prayitno, M.Kes., menyampaikan bahwa pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan wawasan sekaligus keterampilan peserta dalam penyembelihan hewan kurban sesuai syariat Islam.

“Pelatihan ini kami selenggarakan agar para takmir dan juru sembelih memiliki pemahaman yang benar tentang tata cara penyembelihan hewan kurban. Jadi tidak hanya teori, tetapi juga ada praktik langsung agar peserta benar-benar siap diterapkan di masjid masing-masing,” ujarnya.

Prof. Hadi juga menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan kolaborasi kedua bersama Lazawa Darul Hikam. Sebelumnya, kedua pihak juga telah menggelar program Musemma (Muslim Sehat Masjid Makmur).

“Kami melihat Lazawa Darul Hikam memiliki perhatian besar terhadap pemberdayaan umat melalui masjid. Karena itu kami senang bisa kembali berkolaborasi dalam kegiatan yang bermanfaat seperti ini,” tambah Prof Hadi yang juga Guru Besar Universitas Jember.

Sementara, perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Jember, Dr. Abdul Badid, S.Pd.I., M.Pd.I selaku penyelenggara zakat dan wakaf Kemenag Jember, menegaskan bahwa Kemenag hadir untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat, seperti konsultasi terkait akta wakaf masjid dan yayasan.

“Kami siap membantu masyarakat secara gratis. Jika ada masjid atau yayasan yang membutuhkan konsultasi akta wakaf, silakan datang ke Kemenag atau KUA terdekat,” jelasnya.

Ia juga mengapresiasi pelatihan penyembelihan kurban tersebut karena dinilai sangat membantu meningkatkan pemahaman masyarakat.

“Kegiatan seperti ini sangat positif karena memberikan edukasi langsung kepada masyarakat agar pelaksanaan kurban benar-benar sesuai syariat dan memperhatikan aspek kesejahteraan hewan,” ujarnya.

Nazhir Lazawa Darul Hikam, Ustad M. Irwan Zamroni Ali, S.H., M.H., CWC menjelaskan bahwa tahun ini Lazawa Darul Hikam tidak hanya fokus pada penyembelihan hewan kurban, tetapi juga peningkatan kapasitas para takmir dan juru sembelih.

“Kami ingin para takmir masjid tidak hanya mampu menyembelih, tetapi juga memahami fiqih kurban dan tata cara penyembelihan yang benar sesuai syariat,” kata Irwan yang juga Dosen UIN KHAS Jember.

Ia menambahkan, Lazawa Darul Hikam juga memiliki berbagai program pemberdayaan masjid lainnya, seperti Musemma (Muslim Sehat Masjid Makmur berupa cek kesehatan gratis dan konsultasi kesehatan bagi jamaah yang telah dilaksanakan di beberapa masjid di Jember seperti di Masjid Al Muhajirin, Masjid Roudhotul  Muchlisin dan Masjid As- Salam.

Selain itu, terdapat program wakaf kursi sholat yang telah berjalan di Jember, Bondowoso, Kediri, Lumajang, hingga Bangkalan, serta program umrah gratis bagi marbot masjid.

“Melalui kegiatan seperti ini kami juga mengajak masyarakat dan para donatur untuk bersama-sama berpartisipasi dalam program-program pemberdayaan umat yang dijalankan Lazawa Darul Hikam,” pungkasnya.

Reporter : Iklil Naufal Umar
Editor : Wildan Rofikil Anwar

Categories
Berita Lembaga Wakaf Tunai

Dari Teori ke Praktik, Lazawa Darul Hikam Hadirkan Sapi untuk Simulasi Penyembelihan Syar’i

Jember – Lembaga Zakat dan Wakaf Darul Hikam bekerja sama dengan Politeknik Negeri Jember dan Yayasan Masjid Al Muhajirin Perum Gunung Batu Jember menggelar Pelatihan Penyembelihan Hewan Kurban Secara Syar’i pada Rabu, 20 Mei 2026 di Masjid Al Muhajirin Jember. Kegiatan ini diikuti para takmir masjid dan juru sembelih dari berbagai daerah di Kabupaten Jember.

Direktur Lazawa Darul Hikam, Prof. Dr. KH. M. Noor Harisudin, S.Ag., S.H., M.Fil.I., CLA., CWC. yang menjadi narasumber utama menjelaskan pentingnya memahami fiqih kurban agar ibadah kurban berjalan sesuai aturan syariat.

“Berkurban bukan hanya menyembelih hewan, tetapi juga menjalankan syariat secara benar. Mulai dari kriteria hewan kurban, waktu penyembelihan, distribusi daging, hingga larangan memperjualbelikan bagian dari hewan kurban harus dipahami dengan baik,” jelas Prof. Haris yang juga Guru Besar UIN KHAS Jember.

Ia juga mengingatkan kembali tentang empat jenis hewan yang tidak sah dijadikan hewan kurban, yakni hewan yang jelas-jelas buta, sakit, pincang, serta kurus dan tidak memiliki lemak.

“Islam mengajarkan agar hewan kurban yang dipersembahkan adalah hewan terbaik dan layak. Karena itu, kondisi fisik hewan harus benar-benar diperhatikan,” tambah Prof Haris yang juga Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur.

Sementara itu, Guru Besar Politeknik Negeri Jember, Prof. Dr. Ir. Ujang Suryadi, M.P., IPM, mengingatkan pentingnya memperlakukan hewan kurban secara ihsan atau penuh kasih sayang.

“Jangan sampai kita beribadah kurban tetapi justru melakukan dosa dengan menyiksa hewan. Hewan harus diperlakukan dengan baik, tidak dipukul, tidak ditakut-takuti, dan tidak disakiti sebelum disembelih,” tegasnya.

Ia juga menjelaskan beberapa hal penting dalam penanganan sapi sebelum penyembelihan.

“Penanganan harus cepat dan tepat, tetapi tetap tenang. Jangan membuat kesalahan yang menyakiti ternak dan jangan menuntun sapi ke lorong yang sempit karena itu bisa membuat hewan stres,” ujarnya.

Selain itu, dokter hewan sekaligus juru sembelih halal, Dr. drh. Aan Awaludin, menjelaskan bahwa Indonesia memiliki standar ketat terkait penyembelih halal.

“Penyembelih harus benar-benar seorang Muslim yang menjalankan syariat Islam dengan baik, termasuk menjaga sholat dan akhlaknya,” jelas Dr. drh. Aan yang juga Dosen Politeknik Negeri Jember.

Ia juga menekankan pentingnya kebersihan dan ketajaman alat sembelih. Dr Aan mengaku, bahwa ia justru dapat ilmu ini dari Belanda, bukan dari Indonesia. Meski Dr Aan adalah juru sembelih halal yang bersertifikat.

“Pisau yang digunakan harus tajam dan suci. Salah satu caranya dengan merendam pisau ke air panas sebelum digunakan kembali agar kebersihan dan kesuciannya tetap terjaga,” pungkasnya.

Kegiatan ditutup dengan sesi praktik penyembelihan hewan kurban secara syar’i yang disambut antusias oleh seluruh peserta di halaman belakang Masjid al-Muhajiri yang luas.

Reporter : Iklil Naufal Umar
Editor : Wildan Rofikil Anwar