Jember – Lembaga Zakat dan Wakaf Darul Hikam kembali menghadirkan program sosial dan pendidikan melalui santunan dhuafa serta pemberian beasiswa santri dalam kegiatan Majelis Taklim Padang Ati yang digelar pada Sabtu, 2 Mei 2026 di aula Pondok Pesantren Darul Hikam Putra.
Kegiatan berlangsung khidmat dengan diawali pembacaan tahlil dan doa khataman Al-Qur’an yang dipimpin langsung Ibu Nyai Hj. Robiatul Adawiyah, S.H.I., M.H yang juga Pengasuh PP. Darul Hikam Putri. Sehari sebelumnya, para mahasantri Darul Hikam telah menyelesaikan khataman Al-Qur’an 30 juz sebagai rangkaian spiritual menjelang acara utama.
Dalam kesempatan tersebut, Nazhir Lazawa Darul Hikam Ustad M. Irwan Zamroni Ali, S.H., M.H, CWC. menyampaikan bahwa tahun ini menjadi momen istimewa karena untuk pertama kalinya Lazawa Darul Hikam mampu memberikan beasiswa kepada empat santri.
“Alhamdulillah, tahun ini menjadi sejarah baru bagi Lazawa Darul Hikam karena untuk pertama kalinya kami bisa memberikan beasiswa kepada empat santri. Ini adalah amanah besar dari para donatur yang harus kami jaga dengan baik,” ujarnya.
Ia berharap program beasiswa tersebut dapat terus berkembang dan menjangkau lebih banyak penerima manfaat di masa mendatang.
“Kami berharap ke depan Lazawa Darul Hikam bisa terus tumbuh dan menghadirkan lebih banyak manfaat, baik melalui beasiswa pendidikan maupun program sosial lainnya untuk umat,” tambah Ustad Irwan yang juga Dosen Fakultas Syariah UIN KHAS Jember.
Selain pemberian beasiswa, Lazawa Darul Hikam juga menyalurkan santunan kepada delapan warga dhuafa yang hadir dalam kegiatan tersebut. Ustadz Irwan turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh pengurus dan donatur yang selama ini terus berjuang menjalankan amanah sosial.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pengurus dan donatur yang terus istiqamah berjuang bersama untuk umat. Semoga langkah kecil ini menjadi amal jariyah bagi kita semua,” katanya.
Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hikam sekaligus Ketua Majelis Taklim Padang Ati, Prof. Dr. KH. M. Noor Harisudin, S.Ag., S.H., M.Fil.I., CLA., CWC. menyampaikan tausiyah tentang pentingnya keikhlasan dalam beramal.
“Tiada amal yang paling diharapkan diterima Allah selain amal yang lenyap dari pandangan kita dan yang kita anggap sepele,” tutur Prof. Haris yang juga Wakil Sekretaris PW NU Jawa Timur.
Prof. Haris mencontohkan kisah ulama besar Imam Al-Ghazali yang dikenal memiliki karya monumental seperti Ihya Ulum al-Din. Menurutnya, secara logika manusia, karya besar yang dipelajari selama ratusan tahun itu tampak menjadi amal terbesar yang mengantarkan Imam Al-Ghazali menuju surga.
Lebih lanjut, Prof. Haris menceritakan sebuah kisah hikmah bahwa setelah Imam Al-Ghazali wafat, seseorang bermimpi bertemu beliau dan bertanya tentang amal yang membawanya mendapatkan kenikmatan di alam akhirat.
“Dalam mimpi itu, Imam Al-Ghazali justru mengatakan bahwa beliau mendapatkan kenikmatan bukan karena karya besarnya, tetapi karena amal kecil yang tampak sepele, yakni membiarkan seekor lalat meminum tintanya. Dari kisah ini kita belajar bahwa jangan pernah meremehkan amal kecil yang dilakukan dengan tulus,” jelas Prof Haris yang juga Guru Besar UIN KHAS Jember.
Acara ini dihadiri oleh puluhan peserta, yang terdiri dari para pengurus yayasan, pengurus Lazawa Darul Hikam, tokoh masyarakat, dosen, dan mahasantri PP. Darul Hikam.
Reporter : Iklil Naufal Umar Editor : Wildan Rofikil Anwar
Jember – Lembaga Zakat dan Wakaf Darul Hikam kembali menghadirkan program sosial penuh manfaat selama Ramadan 1447 H dengan menggelar buka bersama bagi mahasantri Pondok Pesantren Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember. Kegiatan ini berlangsung sejak 1 hingga 20 Ramadan 1447 H dengan jumlah peserta sekitar puluhan mahasantri setiap harinya yang terdari dari santri putra dan putri.
Selama 20 hari pelaksanaan, program tersebut telah memberikan manfaat kepada sekitar 900 penerima manfaat dari kalangan mahasantri yang sedang menempuh pendidikan sambil mondok di Darul Hikam. Kegiatan buka bersama ini menjadi bentuk kepedulian Lazawa Darul Hikam dalam mendukung kebutuhan santri dan mahasiswa selama menjalani ibadah puasa.
Pengasuh PP. Darul Hikam Putri, Ibu Nyai Hj. Robiatul Adawiyah, MHI menyampaikan bahwa program ini merupakan ikhtiar menghadirkan kebahagiaan sekaligus membantu para mahasantri agar lebih fokus belajar dan beribadah selama Ramadan.
“Alhamdulillah, program buka bersama ini dapat berjalan dengan baik. Kami ingin para mahasantri merasakan kebersamaan, keberkahan Ramadan, dan terbantu kebutuhan berbukanya sehingga bisa lebih semangat belajar serta beribadah,” ujarnya.
Ia juga berharap program serupa dapat terus berlanjut dengan dukungan para donatur dan masyarakat.
“Semoga semakin banyak pihak yang ikut berkontribusi dalam program-program kebaikan seperti ini, karena manfaatnya benar-benar dirasakan para santri,” tambahnya.
Sementara itu, Nazhir Lazawa Darul Hikam, M. Irwan Zamroni Ali, menjelaskan bahwa program buka bersama menjadi bagian dari komitmen Lazawa dalam menyalurkan amanah donatur kepada sektor pendidikan dan pemberdayaan umat.
“Ramadan adalah momentum terbaik untuk berbagi. Karena itu, Lazawa Darul Hikam berusaha menghadirkan program yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat, salah satunya buka bersama mahasantri ini,” jelas Ustadz Irwan.
Menurutnya, keberadaan mahasantri sebagai generasi penerus bangsa perlu mendapatkan perhatian dan dukungan agar terus berkembang secara akademik maupun spiritual.
Salah satu mahasantri Darul Hikam, Leigar Al Faris, mengaku bersyukur atas adanya program tersebut.
“Program ini sangat membantu kami, terutama mahasiswa rantau. Selain bisa berbuka bersama, suasananya juga menambah semangat dan kebersamaan antar mahasantri,” katanya.
Program buka bersama ini diharapkan menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk terus menebar manfaat, terutama di bulan suci Ramadan yang penuh berkah.
Reporter: Iklil Naufal Umar Editor : Wildan Rofikil Anwar
Pembawaannya tenang. Berpaiakan sederhana: baju koko, peci putih, dan sarung. Ketika disapa, raut mukanya ceriah dihiasi senyum tipis. Penampilannya merepresentasikan—dalam istilah Gus Dur—eksistensi ‘kiai kampung’. Aura kebersahajaan begitu terasa sekali oleh kita yang duduk bersamanya. Tapi sorot matanya tak bisa menyembunyikan identitas kealimannya; tajam dan awas. Sehingga—setidaknya pengalaman saya pribadi—tidak sanggup menatap sorot matanya yang tajam laksana sorot mata burung elang.
Semakin terkuak kealimannya di saat berbicara dan menjelaskan persoalan. Tak berlebihan, kalau kemudian kita menjumpai seorang yang ilmu agamanya bagaikan lautan, mutabahhir fi al-‘ulum al-diniyah. Seorang yang banyak menguasai khazanah klasik Islam dengan baik, dan melakukan upaya jadaliyah bayna al-ashalah/al-turats wa al-mu’asharah (dialektika khazanah klasik dan problematika kontemporer/kekinian dan kedisinian) sekaligus mampu mendialogkan keduanya dalam merumuskan pemikiran yang jernih dan kontekstual.
Di kalangan Nahdhiyyin umumnya, khususnya di kalangan para santri Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo, KH. Afifuddin Muhajir (selanjutnya disebut Kiai Afif) dikenal dengan julukan ‘kitab kuning berjalan’. Berbagai persoalan dijawabnya berdasarkan penjelasan dan pendapat ulama yang ada di kitab kuning. Bahkan, seringkali menjawab persoalan berdasarkan hapalan di luar kepala baik ‘ibarat (penjelasan kitab), judul kitab, dan halamannya. Tidak sekedar mengambil pendapat ulama yang ada di dalam kitab dengan apa adanya, qauly, akan tetapi Kiai Afif juga memaparkan secara metodologis, manhajiy, dengan ciamik. Di situlah Kiai Afif terlihat menguasai berbagai perangkat manhajiy dalam diskursus fikih Islam, seperti ushul fikih dan maqashid al-syariah.
Pertemuan secara langsung saya dengan Kiai Afif pertama kali pada 20 Desember 2018 dalam acara peluncuran dan bedah buku saya, “Jalinan Keumatan, Keislaman, dan Kebangsaan: Ulama Bertutur tentang Jokowi” yang diselenggarakan oleh Penerbit Republika di JS. Luwansa Hotel & Convention Center, Setiabudi-Kuningan Jakarta Selatan. Saya merasa senang dan bangga peluncuran buku saya dihadiri oleh Kiai Afif. Beliau datang bersama santrinya, Didit Sholeh, salah satu staf KSP (Kantor Staf Presiden).
Secara kebetulan, salah satu santri Kiai Afif juga ada yang menjadi salah satu narasumber dalam peluncuran buku saya tersebut yang memberikan testimoni, yaitu Kiai Mudhakir. Sebab, Kiai Mudhakir adalah salah satu kiai alumni Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo yang memiliki pengalaman pada tahun 2000-2001 menjadi guru ngaji privat membaca Al-Quran Jokowi dan anak-anaknya. Tentu saja sebagai santri, Kiai Mudhakir cium tangan Kiai Afif. Adegan cium tangan itu tepat di hadapan saya dan sahabat Didit Sholeh. Saya pun cium tangan Kiai Afif sambil mengatakan, “terimakasih Pak Kiai sudah berkenan hadir di acara peluncuran buku saya”.
Di forum peluncuran buku—dan bahkan kepada media massa—Kiai Afif menyatakan bahwa, “Pak Jokowi memang tidak mondok di Pesantren Situbondo. Akan tetapi Pak Jokowi pernah belajar ngaji kepada santri alumni Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Jadi Pak Jokowi adalah santrinya santri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, yaitu Ustadz Mudhakir yang ada di samping saya ini”. Kiai Afif sambil melirik ke arah Ustadz Mudhakir. Diiringi tepuk tangan para peserta yang hadir.
Kiai Afif juga naik ke atas panggung bersama Gus Karim, Kiai Enha, Teten Masduki (KSP), Jazil Fawaid, dan Slamet Rahardjo untuk menerima kenang-kenangan berupa buku hardcover “Jalinan Keumatan, Keislaman, dan Kebangsaan: Ulama Bertutur tentang Jokowi” yang diserahkan oleh Ariys Hilman (direktur Republika) dan saya sebagai penulis.
Kiai Afif juga memberi dukungan pada pasangan Joko Widodo-KH. Ma’ruf Amin secara lugas dan jelas. Dukungannya bukan untuk mengejar jabatan atau meminta bagian kue kekuasaan. Bukan berorientasi jabatan. Lebih penting dari itu, yaitu agar negara tidak salah arah, dan Jokowi rajin shalat.
Dengan nalar ushul fikihnya yang tajam, Kiai Afif menyatakan bahwa pesantren dijadikan sarana politisasi agama itu hukumnya haram. Tapi pesantren mengawal politik dengan agama itu hukumnya wajib. Menjadikan kiai untuk kepentingan tertentu itu haram. Tapi kiai wajib mengawal politik. Agar negara tak salah langkah.
Kenapa barometernya shalat? Kiai Afif menjelaskan bahwa, jika seorang hubungan dengan Tuhannya baik, maka hubungan dengan sesama baik. Sebaliknya jika tidak baik hubungan dengan Tuhannya, tidak bisa diharapkan lagi.
Tipologi menusia menurut Kiai Afif ada tiga, yaitu; orang yang diketahui baiknya, orang yang diketahui buruknya, dan orang yang tidak diketahui baik buruknya. Secara kebetulan, Kiai Afif mempunyai pengalaman shalat berjamaah bersama Jokowi yang diimami oleh Almarhum KH. Hasyim Muzadi.
Di situlah letak kiai kampung dari sosok Kiai Afif. Dengan ijtihadnya, beliau bersikap untuk memilih. Setelah selesai siapa yang terpilih sebagai pemenang pemilu, Kiai Afif kembali lagi mengajar, mengaji, mengurus santri dan umat serta NU. Tidak ikut cakar-cakaran berebut jabatan. Sebagai sebuah istilah, kiai kampung dalam perspektif Gus Dur, bukan sekedar tampak pada kesederhanaan dalam berpakaian dan gaya hidup an sich, akan tetapi juga representasi ulama yang berjuang dengan ikhlas, tanpa pamrih materi ataupun jabatan, tanpa ada modus. Kiai kampung adalah mereka yang tulus, mukhlishin.
Sebagaimana dulu ketika revolusi fisik, zaman pergerakan nasional, para kiai pesantren ikut berjuang atur strategi dan berperang melawan dan mengusir penjajah Belanda, Jepang, dan sekutu Inggris. Setelah merdeka, para kiai tidak ikut berebut jabatan, melainkan kembali lagi ke pondok, mengurus ngaji, santri, dan umat.
Pada 24 Juli 2019, ketika saya memenuhi undangan BEM Fakultas Tarbiyah Ibrahimy sebagai pembicara seminar dengan tema “Membangun Budaya Literasi melalui Inovasi Pendidikan di Era 4.0”. Ditemani Ustadz Wedi Samsudin, sekpri KHR. Ach. Azaim Ibrahimy, saya berkesempatan sowan ke rumah Kiai Afif dekat dengan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Rumahnya terlihat baru saja selesai dibangun. Syahdan, selama mengabdi puluhan tahun di Pesantren, Kiai Afif bertempat tinggal di dalam komplek Pesantren. Tahun 2019, Kiyai Afif baru memiliki rumah sendiri yang berada di luar komplek Pesantren.
Setelah ngobrol ngalor-ngidul, dan basah basih ala santri secukupnya. Saya memulai mengajak Kiai Afif pada obrolan yang lebih serius. Seingat saya, saya menanyakan tentang rumusan BM (Bahtsul Masail) PBNU yang menjadi kontroversial tentang wacana kafir dan non-muslim. Sebab, setahu saya, Kiai Afif adalah salah satu kiai yang ikut merumuskan pemikiran tentang status warga negara non-muslim itu.
Sebelum memasuki paparan yang lebih serius, Kiai Afif menyatakan heran kok bisa ramai dan kontroversial. Padahal, menurutnya, jika membaca kitab-kitab kuning tentang kafir dalam konteks berbangsa dan bernegara serta menyimak istinbath al-ahkam (penggalian hukum), maka kesimpulan rumusan LBM PBNU itu bisa diterima.
Rupanya para ‘pembenci NU’ merasa mendapatkan amunisi untuk menyerang NU dengan melalui rumusan Bahtsul Masail itu. Bahkan ada yang ‘membuly’ bernada tuduhan bahwa NU akan mengubah kata ‘kafir’ yang ada di dalam Al-Quran dan hadits dengan kata ‘non-muslim’. Di medsos, mereka menyebar meme kalau NU akan mengganti kalimat ‘ya ayyuha-l-kafaru’ dengan ‘ya ayyuha-l-non-muslim’. Di medsos ada yang bilang, misalkan, “Istilah kafir ada di Al-Quran kok mau dihapus? Enggak takut dihapus sama yang punya Al-Quran?” Ada lagi yang bilang, “Surah al-Kafirun diganti dong sama surat Al-non muslim!” Dan masih banyak nada sumbang, nyinyir, dan bully serta fitnah yang lain.
Ada dua kiai yang menjadi sasaran para pembenci NU, yaitu KH. Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, MA., Ketum Tanfidziyah PBNU yang membacakan rumusan dan dishooting TV, seperti Kompas TV dan tvOne, dan KH. Dr. Abdul Moqsith, salah satu pengurus LBM PBNU, yang menjadi bulan-bulanan para buzzer yang tidak suka dengan NU dan menjadi sasaran bulliying sebagaimana saya melihat di portal-portal webstie dan komentar mereka di youtube Kompas TV dan tvOne. KH. Said Aqil Siradj sudah kebal dengan nyinyir mereka. Rupanya Kiai Moqsith juga sudah siap sebagai tameng para kiai dan sudah biasa menghadapi kritik dan bulliyying dalam mempertahankan sebuah pemikiran dalam perbedaan. Mentalnya tangguh dan sabar.
Kiai Moqsith sendiri adalah salah satu murid Kiai Afif. Melihat kepakaran Kiai Afif dan kelihaian Kiai Moqsith dalam mendemonstrasikan kitab kuning, seperti dalam pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
Lalu, singatnya, Kiai Afif menjelaskan bahwa ada beberapa tipologi kafir yang ada di dalam khazanah klasik Islam dalam perspektif al-fiqh al-siyasiy, yaitu; kafir mu’ahad (kafir yang terikat oleh perjanjian damai atau perjanjian dagang dengan muslim), kafir harbiy (kafir yang memerangi dan memusuhi Islam), kafir musta’min (kafir yang mendapatkan jaminan keamanan dari penguasa muslim), dan kafir dzimmy (kafir yang berdamai dengan muslim atau tidak memusuhi Islam). Semua tipologi kafir ini tidak sesuai dengan femona non-muslim yang ada di Indonesia. Boleh dibilang, non-muslim yang ada di Indonesia dalam konteks negara bangsa tidak ada yang masuk ke dalam kriteria semua tipologi kafir yang ada tersebut. Sebab, konsep semua tipologi kafir yang ada dalam khazanah klasik Islam itu muncul dalam konteks sebuah peperangan antara umat Muslim dan umat kafir serta adanya diferensiasi dar al-Islam (wilayah Islam) dan wilayah kafir atau dar al-harb (wilayah perang).
Sedangkan berbeda dengan Indonesia, di mana peperangan tidak dilakukan antara umat Muslim dan umat kafir, melainkan peperangan semua rakyat dari semua agama, suku, dan ras dalam melawan penjajahan. Penjajahan dirasakan oleh semua umat beragama yang ada di Indonesia, Islam, Hindu, Budha, Kristen, dan bahkan agama kepercayaan yang pada saat itu masih banyak hidup dan tumbuh. Semua umat beragama dari berbagai macam agama itu bersatupadu melawan penjajah. Para kiai dan santri bersama anak bangsa yang beragama Kristen, Budha, Hindu, dan yang lainnya dengan gagah berani bersatu berperang melawan sekutu di Surabaya. Diponegoro, Tjut Nyak Dien, Teuku Umar, Raja Sisingamangaraja, Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahid Hasyim. KH. As’ad Samsul Arifin, dan masih banyak lain pahlawan yang berjuang melawan penjajah. Umat Hindu di Bali dengan gagah berperang melawan penjajah, yang terkenal dengan perang puputan. Sehingga semua anak bangsa dari semua agama memiliki saham atas kemerdekaan bangsa ini, Indonesia. Kekuatan yang dimiliki bangsa Indonesia adalah persatuan antar anak bangsa dari beragam agama, suku, dan ras.
NU merekomendasikan dalam konteks berbangsa dan bernegara tidak ada istilah kafir, dan dengan tegas menyatakan tidak boleh mengundang non-muslim dengan panggilan kafir. Ini sebuah pemikiran konsisten dan kontinuitas dari prinsip yang telah lama dipegang NU dengan setia, yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan antar umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa-setanahair), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan antar manusia). Sehingga, non-muslim kedudukannya sama dengan muslim, yaitu sama-sama sebagai warga negara (muwathin).[]
–(Tulisan ini selesai saya tulis pada 7/11/2020 dan dimuat dalam buku “KH. Afifuddin Muhajir, Faqih-Ushuli dari Timur” yang disunting KH. Dr. Abdul Moqsith Ghazali, MA., Penerbit: Inteligensia Media, Malang, 2021).
*Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq, Jember; wakil ketua Komisi Pesantren MUI Pusat; dan wakil sekretaris PWNU Jawa Timur.
Presiden Prabowo telah menandatangani Perpres Nomor 18 Tahun 2026 tentang Perubahan Perpres Nomor 152 Tahun 2024 tentang Kementerian Agama RI. Salah satu poin menarik dalam perpres itu adalah penambahan Direktorat Jenderal Pesantren dalam susunan Kementerian Agama RI. Kini Direktorat Jenderal Pesantren setara dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam.
Selain langsung berada di bawah koordinasi menteri agama, Direktorat Jenderal Pesantren bertugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pesantren sesuai ketentuan undang-undang (pasal 19 B).
Dengan perpres itu, presiden memberikan harapan baru akan akselerasi fungsi-fungsi pesantren dalam pendidikan, dakwah dan pemberdayaan masyarakat. Tentu hal tersebut sejalan dengan UU Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren.
Kalangan pesantren khususnya dan masyarakat pada umumnya akan sangat bersukacita dengan ”kado” direktorat jenderal yang sudah lama mereka tunggu-tunggu.
Apalagi, pesantren telah lahir jauh sebelum Indonesia merdeka. Tidak hanya itu, pesantren memiliki andil yang besar dalam memperjuangkan kemerdekaan negara ini di masa dulu.
Sebelum UU Nmor 18 Tahun 2019, negara juga telah memberikan kado istimewa kepada kalangan pesantren dengan penetapan Hari Santri pada 22 Oktober 2015 di era Presiden Joko Widodo.
Meski demikian, apakah secara otomatis kelahiran ”bayi” bernama Direktorat Jenderal Pesantren akan membawa berkah terhadap pesantren ? Ataukah, itu justru menjerumuskan pesantren yang kini berjumlah 42.391 unit di masa mendatang?
Pesantren adalah lembaga berbasis masyarakat yang didirikan perseorangan, yayasan, organisasi masyarakat Islam, dan/atau masyarakat yang menanamkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, menyemaikan akhlak mulia serta memegang teguh ajaran Islam rahmatan lil’alamin yang tecermin dari sikap rendah hati, toleran, keseimbangan, moderat, dan nilai luhur bangsa Indonesia lainnya melalui pendidikan, dakwah Islam, keteladanan, dan pemberdayaan masyarakat dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (Pasal 1 UU Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren).
UU Nomor 18 tahun 2019 tentang Pesantren telah menunjukkan kehadiran negara secara maksimal. Negara, at least, hadir dalam tiga bentuk.
Pertama, afirmasi. Afirmasi adalah tindakan keberpihakan negara untuk memberikan perlakukan khusus pada pesantren agar dapat berkembang setara dengan pendidikan lainnya.
Bentuk afirmasi pesantren dalam bantuan finansial dan operasional, beasiswa untuk santri, serta peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan. Kebijakan kuota khusus untuk santri dalam penerimaan mahasiswa baru atau prioritas bantuan bagi pesantren di daerah tertinggal.
Kedua, rekognisi. Rekognisi adalah pengakuan negara atas keberadaan, tradisi, dan kekhasan pendidikan pesantren. Rekognisi itu, misalnya, pengakuan ijazah pesantren yang setara dengan ijazah pendidikan formal sehingga lulusan pesantren dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi atau bekerja di sektor publik.
Dengan demikian, lulusan pesantren tidak lagi didiskriminasi oleh negara, tetapi mendapat perlakuan yang sama.
Ketiga, fasilitasi. Fasilitasi adalah bantuan konkret pemerintah dalam bentuk sarana, prasarana, pemberdayaan, dan pendanaan untuk meningkatkan kualitas pesantren. Dalam UU itu, negara hadir dalam bentuk pemberian berbagai pendanaan untuk peningkatan mutu di pesantren.
Dana hibah, inkubasi pesantren, bantuan pembangunan asrama, peningkatan kualitas ustaz, dan lain-lain adalah program yang dirancang untuk memfasilitasi pesantren sehingga sama dengan lembaga pendidikan lain.
Namun, implementasinya masih jauh panggang dari api. Kita masih mendengar perguruan tinggi negeri (PTN) yang menolak ijazah pesantren sehingga alumni pesantren tidak dapat meneruskan S-2 maupun S-3.
Demikian juga, meski sudah diterima sebagai PNS atau ASN, jumlah lulusan pesantren belum setara dengan nonalumni pesantren yang berjumlah jutaan orang. Pendanaan pembangunan pesantren juga masih belum sebanding dengan sebarannya di seantero pelosok negeri.
PENGUATAN TIGA FUNGSI PESANTREN
Salah satu hal penting dalam Perpres Nomor 18 Tahun 2026 adalah penguatan tiga fungsi pesantren sebagai lembaga pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan pesantren.
Penguatan tiga fungsi itu dijabarkan dalam Pasal 19c, yaitu fungsi perumusan, pelaksanaan, dan pembinaan penyelenggaraan pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
Di samping itu, dalam jabaran pemberian bimbingan teknis dan supervisi serta pemantauan analisis dan evaluasi di bidang pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
Selama ini pesantren sudah eksis dengan kemajuan dalam ranah pendidikannya. Dengan demikian, kita melihat geliat mutu pendidikan pesantren pasca lahirnya UU Pesantren Tahun 2019 yang makin melaju pesat.
Apalagi, ditopang dengan kehadiran majelis masyayikh yang menjadi pengawal penjaminan mutu pendidikan pesantren baik di lingkungan ma’had aly, mua’adalah, PDF, dan lain sebagainya.
Kata ”kemajuan” pesantren tersebut tentu dengan tanpa meninggalkan kemandirian dan ciri khas pesantren. Majelis masyayikh sendiri merupakan lembaga mandiri dan independen sebagai perwakilan dewan masyayikh dalam merumuskan dan menetapkan sistem penjaminan mutu pendidikan pesantren.
Beda dengan pendidikan, selama ini fungsi dakwah relatif baru. Negara belum hadir menguatkan pesantren untuk mangawal dakwah Islam washatiyah melalui pesantren di negeri ini.
Meski para kiai pesantren sudah menjadi ”sokoguru” dakwah melalui pesantren masing-masing, kehadiran negara –di bidang dakwah– masih nol. Padahal, dakwah pesantren membuat integrasi masyarakat Indonesia yang kuat dengan ukhuwahnya.
Oleh karena itu, tepat sekali jika negara juga hadir mem-back up fungsi dakwah pesantren. Di sini, perlu inovasi yang cepat dan mantap dalam kehadirannya di tengah-tengah masyarakat.
Demikian halnya dengan fungsi pemberdayaan masyarakat. Dulu pesantren terkenal dengan para kiai yang menjadi inisiator pemberdayaan masyarakat. Pesantren sering terlihat membantu masyarakat sekelilingnya bagaimana dapat survive dengan ekonominya.
Namun, itu bersifat mandiri dan kini mulai pudar. Oleh karena itu, kehadiran negara di bidang pemberdayaan masyarakat akan sangat penting untuk mempercepat kemajuan pesantren secara merata di seluruh Indonesia.
Penguatan tiga fungsi tersebut oleh Direktorat Jenderal Pesantren sangat dibutuhkan sehingga manfaat pesantren akan terasa oleh umatnya. Lebih dari itu, jauh lebih penting lagi adalah eksekusi untuk akselerasi tiga fungsi tersebut di masyarakat.
Negara, dalam hal ini Kemenag RI, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Al-Irsyad, dan ormas lain serta kalangan pesantren dapat bersama-sama mewujudkan mimpi tersebut. Wallahu’alam. (*)
Jember – Lembaga Zakat dan Wakaf Darul Hikam kembali menyalurkan santunan kepada masyarakat dhuafa pada Kamis, 16 April 2026 di Masjid Al Baitul Amin. Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 10 penerima manfaat menerima bantuan sebagai bentuk kepedulian sosial dan pemberdayaan umat.
Hadir dalam kesempatan itu Bendahara Lazawa Darul Hikam Ibu Nyai Hj. Robiatul Adawiyah, S.HI., M.H. Nazhir Ustadz M. Irwan Zamroni Ali, S.H., M.H, CWC. serta pengurus lainnya yakni Achmad Muthiurrahman, S.H dan Arif Rahman. Kegiatan berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan dengan dihadiri para penerima manfaat serta jamaah sekitar.
Acara diawali dengan pembacaan Surah Yasin dan Al-Waqi’ah, dilanjutkan doa bersama untuk para donatur yang telah menitipkan sebagian rezekinya melalui Lazawa Darul Hikam, serta doa untuk keselamatan bangsa dan masyarakat Indonesia.
Dalam sambutannya, Ustadz Irwan menyampaikan bahwa Lazawa Darul Hikam terus berkomitmen menghadirkan program-program sosial yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya kalangan yang membutuhkan.
“Lazawa Darul Hikam berusaha istiqamah menjalankan amanah para donatur melalui berbagai kegiatan sosial, pendidikan, dan dakwah. Kami ingin kehadiran lembaga ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujar Ustadz Irwan yang juga dosen UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.
Ia menjelaskan, kegiatan santunan kali ini merupakan lanjutan dari program santunan dhuafa yang telah dilaksanakan pada bulan Ramadan lalu dengan penerima manfaat sebanyak 30 orang.
“Pada Ramadan kemarin kami telah menyalurkan santunan kepada 30 dhuafa di beberapa wilayah Jember. Hari ini kami melanjutkan ikhtiar tersebut agar semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaat dari amanah para donatur,” jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Ibu Nyai Hj. Robiatul Adawiyah, S.HI., M.H. menyampaikan bahwa kegiatan berbagi harus terus dijaga sebagai budaya kebaikan di tengah masyarakat.
“Berbagi kepada sesama bukan akan mengurangi rezeki, justru menjadi jalan datangnya keberkahan. Kami berharap bantuan ini membawa manfaat dan menghadirkan kebahagiaan bagi bapak ibu semua,” tutur Ibu Nyai Robi yang juga Pengasuh PP. Darul Hikam Putri Mangli Kaliwates Jember.
Ia juga mendoakan para donatur yang telah mendukung kegiatan sosial Lazawa Darul Hikam.
“Semoga para donatur senantiasa diberikan kesehatan, keluasan rezeki, dan dibalas Allah SWT dengan pahala yang berlipat ganda,” ujarnya.
Kegiatan kemudian ditutup dengan penyerahan santunan kepada 10 dhuafa secara langsung. Para penerima manfaat tampak bersyukur dan mendoakan agar seluruh pengurus serta donatur Lazawa Darul Hikam senantiasa diberi kemudahan dalam menjalankan amanah sosial.
Reporter : Iklil Naufal Umar Editor : Wildan Rofikil Anwar
Jember – Direktur World Moslem Studies Center (Womester), Prof. Dr. KH. M. Noor Harisudin, mengecam keras pembunuhan terhadap tiga personel TNI yang tergabung dalam pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Ia menilai insiden tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional sekaligus bentuk pengabaian terhadap otoritas lembaga global.
“Pembunuhan pasukan perdamaian PBB, khususnya tiga anggota TNI, adalah tindakan yang sangat keterlaluan. Jika pasukan PBB saja diserang, itu berarti ada pihak yang mengabaikan PBB dan juga mengabaikan masyarakat dunia,” tegas Prof. Haris yang juga Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur.
Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember itu mendesak PBB untuk segera bersikap tegas dengan mengungkap pihak yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut. Menurutnya, transparansi sangat penting untuk menjaga kredibilitas lembaga internasional.
“PBB tidak boleh diam. Harus ada ketegasan untuk menyebut siapa dalang di balik pembunuhan ini agar dunia tidak kehilangan kepercayaan,” ujar Prof Haris yang juga Wakil Ketua PP. APHTN-HAN.
Lebih lanjut, Prof. Haris juga mendorong agar PBB menjatuhkan sanksi tegas terhadap pihak yang terbukti terlibat, termasuk jika berkaitan dengan negara tertentu.
“Jika terbukti ada keterlibatan negara, maka PBB harus berani menjatuhkan sanksi. Tidak boleh ada impunitas dalam kasus sebesar ini,” kata Prof Haris yang Direktur Lazawa Darul Hikam.
Ia juga mendesak agar kasus tersebut dibawa ke Mahkamah Internasional guna memastikan proses hukum yang adil dan transparan.
“Kita harus mendorong agar kasus ini diproses di Mahkamah Internasional agar keadilan benar-benar ditegakkan,” jelasnya.
Selain itu, Prof. Haris mengajak masyarakat dunia untuk memberikan tekanan moral dan diplomatik terhadap pihak-pihak yang dinilai melanggar hukum internasional.
“Masyarakat dunia perlu bersatu untuk memberi tekanan dan sikap tegas secara politik dan diplomatik terhadap negara-negara yang bertindak sewenang-wenang dalam geopolitik global,” pungkasnya.
Reporter : Iklil Naufal Umar Editor Wildan Rofikil Anwar
Jakarta, NU Online Ayatullah Sayyid Mojtaba Hossein Khamenei resmi terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran pada Ahad (8/3/2026). Keputusan tersebut disepakati dalam rapat Dewan Ahli Kepemimpinan yang dihadiri mayoritas anggotanya secara tatap muka di Qom, Iran.
“Setelah pembahasan dan diskusi yang lengkap, Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei diumumkan, dengan dukungan dan suara mayoritas yang tegas, sebagai Pemimpin Ketiga Revolusi Islam Iran,” demikian dikutip dari Tasnim News pada Senin (9/3/2026).
Selepas wafatnya Ayatullah Agung Ali Khamenei, pimpinan dan sekretariat Dewan Ahli Kepemimpinan sempat beberapa kali merencanakan penyelenggaraan sidang untuk menentukan pengganti. Namun, karena pertimbangan keamanan, sidang-sidang tersebut sebelumnya dibatalkan.
“Akhirnya pada malam ini (17 Esfand 1404 kalender Iran), dengan tetap menjaga seluruh aspek hukum dan keamanan, sidang tatap muka berhasil diselenggarakan. Setelah pembahasan serius terakhir, dilakukan pemungutan suara,” demikian dilaporkan Tasnim News.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pesan khusus kepada pemimpin tertinggi yang baru terpilih tersebut. Ia menilai terpilihnya putra mendiang Ayatullah Ali Khamenei itu merupakan perwujudan kehendak rakyat Iran untuk memperkokoh persatuan nasional.
Menurutnya, persatuan tersebut telah menjadi benteng kokoh yang membuat bangsa Iran tetap teguh menghadapi berbagai tekanan dan konspirasi dari pihak luar.
“Pencapaian ayah syahid Anda yang agung dalam menjaga sistem negara dan mengangkat derajat revolusi telah menyediakan fondasi yang kuat bagi masa depan Iran,” katanya.
Dengan kepemimpinan Ayatullah Mojtaba, ia meyakini fondasi tersebut akan mengantarkan Iran menuju masa depan yang lebih cerah, ditandai dengan kemerdekaan yang berkelanjutan, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pembangunan yang menyeluruh.
Ia menyebut visi tersebut diharapkan melahirkan kemajuan, keadilan sosial, serta kehormatan Iran di tingkat global melalui persatuan dan kebijaksanaan bangsa.
Menurut Pezeshkian, sepanjang sejarahnya Iran telah berulang kali menunjukkan kemampuan untuk bertahan menghadapi berbagai kesulitan. Dengan bersandar pada kebijaksanaan kolektif, iman, dan kerja keras, Iran mampu melewati berbagai fase sulit.
“Hari ini pun, dengan memanfaatkan kemampuan para intelektual dari berbagai pandangan, para pemuda yang berani, serta para pengelola negara yang tulus, Iran akan terus melangkah menuju kemajuan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa Iran tetap berupaya menghadapi berbagai tekanan eksternal, termasuk konflik dan ketegangan geopolitik, dengan keteguhan rakyat serta kesiapan aparat negara.
Saat pengumuman berlangsung, sorak-sorai warga Iran terdengar menyambut pemimpin barunya.
Sebagaimana diketahui, Ayatullah Mojtaba merupakan putra Ayatullah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi kedua Iran setelah Ayatullah Sayyid Ruhollah Khomeini. Ia lahir di Mashhad, Iran, sekitar 56 tahun lalu.
Jember – Lembaga Zakat dan Wakaf Darul Hikam menggelar kegiatan santunan dhuafa pada Minggu, 15 Maret 2026 di kantor Lazawa Darul Hikam yang berlokasi di Perum Pesona Surya Milenia C7 No. 6 Mangli, Kaliwates, Jember. Kegiatan ini dihadiri 30 warga dhuafa dari berbagai wilayah di Kabupaten Jember, di antaranya dari Kecamatan Ajung, Mangli, Sukorambi, dan daerah sekitarnya.
Acara tersebut turut dihadiri Direktur Lazawa Darul Hikam Prof. Dr. KH. M. Noor Harisudin, S.Ag., S.H., M.Fil.I., CLA., CWC. Bendahara Bu Hj. Nyai Robiatul Adawiyah, S.H.I., M.H, Nazhir Ustad M. Irwan Zamroni Ali, S.H., M.H., CWC., serta sejumlah pengurus lainnya seperti Ustadz Wildan Rofikil Anwar, S.H., M.H, Iklil Naufal, dan Arif Rahman. Hadir pula perwakilan donatur, Hj. Ratna Wahyuni, istri dari dr. H. M. Arief Heriawan.
Kegiatan diawali dengan doa bersama, tahlil, serta pembacaan Sholawat Nariyah yang diikuti seluruh jamaah. Suasana berlangsung khidmat sekaligus penuh kehangatan sebagai bagian dari syiar Ramadan dan kepedulian sosial kepada masyarakat yang membutuhkan.
Nazhir Lazawa Darul Hikam, Ustad M. Irwan Zamroni Ali, S.H., M.H., CWC menyampaikan bahwa selama bulan Ramadan 1447 H, Lazawa Darul Hikam telah melaksanakan berbagai program sosial dan dakwah yang melibatkan masyarakat luas.
“Selama Ramadan ini, Lazawa Darul Hikam berusaha menghadirkan berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi umat, mulai dari dakwah Islam di Kanada, buka bersama mahasantri dari tanggal 1 hingga 20 Ramadan, santunan baju lebaran bagi anak yatim, hingga santunan dhuafa seperti hari ini,” ujar ustad Irwan yang juga Dosen UIN KHAS Jember.
Ustad Irwan juga berharap kegiatan tersebut dapat memberikan kebahagiaan dan semangat baru bagi masyarakat yang membutuhkan.
“Harapan kami, di bulan suci Ramadan ini Lazawa Darul Hikam dapat terus berbagi kebahagiaan dengan saudara-saudara kita yang membutuhkan serta menjadi jembatan kebaikan antara para donatur dan masyarakat,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Hj. Ratna Wahyuni donatur Lazawa Darul Hikam juga turut membagikan zakat secara langsung kepada para dhuafa yang hadir sebesar Rp150 ribu untuk masing-masing penerima. Ia berpesan agar masyarakat tetap sabar dan kuat menghadapi berbagai kesulitan hidup.
“Saya senang dan bahagia bertemu dengan panjenengan semua. Semoga bantuan kecil ini bisa sedikit meringankan. Kita semua harus tetap sabar menghadapi segala situasi yang sulit. Mudah-mudahan Allah SWT selalu memberi kita kekuatan dan keberkahan dalam hidup,” pesannya.
Pada kesempatan yang sama, Guru Besar UIN KHAS Jember yang juga Ketua YPI Darul Hikam, Prof. Dr. KH. M. Noor Harisudin mengingatkan pentingnya rasa syukur dalam menjalani kehidupan, khususnya bagi mereka yang bekerja keras di lapangan.
“Kita harus selalu bersyukur kepada Allah SWT. Banyak saudara kita yang bekerja di luar ruangan, di bawah terik matahari, di jalanan atau di lapangan, namun tetap sabar dan ikhlas menjalani kehidupan. Namun, dalam keadaan apapun kita harus berusaha dan bersegera melakukan kebaikan,” tuturnya menyampaikan pernyataan ibnu Athoillah al Iskandari dalam kitab hikam.
Selanjutnya, Prof Haris juga mengajak masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi untuk turut berpartisipasi dalam meningkatkan kesejahteraan umat melalui berbagai instrumen filantropi Islam.
“Bagi masyarakat yang diberi kelapangan rezeki, mari bersama-sama menghidupkan kesejahteraan umat melalui zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Dari situlah keberkahan akan terus mengalir bagi kita semua. Kami berterima kasih pada Bu Hj. Ratna Wahyuni (ibu dr. Arif) yang telah hadir dan memberi sedikit uang kebahagiaan kepada bapak ibu sekalian. Juga donatur lain seperti Bapak H. Agus Lutfi,” pungkas Prof Haris yang juga Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur.
Kegiatan santunan kemudian ditutup dengan penyerahan bantuan kepada para dhuafa yang hadir, sebagai wujud kepedulian sosial Lazawa Darul Hikam kepada masyarakat di bulan suci Ramadan.
Reporter : Iklil Naufal Umar Editor : Wildan Rofikil Anwar
Jember – Lembaga Zakat dan Wakaf Darul Hikam bergabung bersama Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jember dan sejumlah lembaga zakat lainnya dalam program Selaras Hangat Lintas Agama — Joyful Ramadan Indonesia Berdaya melalui kegiatan Tebar Harapan Ramadan (THR) yang digelar pada Kamis (12/3/2026).
Dalam program ini, Lembaga Zakat dan Wakaf Darul Hikam turut berpartisipasi dengan mengutus M. Irwan Zamroni Ali, S.H., M.H., CWC selaku Nazhir, bersama Wildan Rofikil Anwar, S.H. Keduanya hadir bersama perwakilan lembaga lain seperti BAZNAS Kabupaten Jember, UPZ UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, Nurul Hayat, LAZISNU, LAZISMU, Persada Jatim, AZKA Al Baitul Amin, YDSF, RIZKI, serta sejumlah lembaga amil zakat lainnya di Kabupaten Jember.
Kasi Penyelenggaraan Zakat dan Wakaf Kemenag Jember, Dr. Abdul Basid, menjelaskan bahwa program Tebar Harapan Ramadan dirancang sebagai gerakan sosial yang melibatkan berbagai lembaga zakat agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
“Kegiatan ini tidak sekadar seremoni Ramadan, tetapi merupakan gerakan nyata untuk meningkatkan kualitas ibadah, kepedulian sosial, serta penguatan nilai kebangsaan di tengah masyarakat,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut dilakukan penyaluran bantuan berupa 356 paket bingkisan kepada para penerima manfaat. Paket tersebut terdiri dari 310 bantuan dari Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Kemenag Jember dan 46 paket dari berbagai Lembaga Amil Zakat, termasuk Lazawa Darul Hikam. Selain itu, zakat fitrah dari ASN Kemenag Jember juga disalurkan kepada para mustahiq sebanyak 746 paket.
Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Jember, Dr. Santoso, menyampaikan bahwa kolaborasi berbagai lembaga zakat seperti Lazawa Darul Hikam merupakan langkah penting dalam memperkuat solidaritas sosial selama Ramadan.
“Momentum Ramadan harus dimanfaatkan untuk mendorong umat Islam semakin dekat dengan ajaran agamanya, sehingga nilai-nilai spiritual tidak hanya menjadi rutinitas ibadah, tetapi juga tercermin dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa konsep Joyful Ramadan diharapkan mampu menghadirkan suasana ibadah yang penuh kebahagiaan sekaligus memperkuat kepedulian terhadap sesama.
“Ramadan harus menjadi ruang untuk memperkuat solidaritas sosial, menumbuhkan kepedulian terhadap sesama, serta menghadirkan kegiatan yang edukatif dan solutif bagi masyarakat,” tuturnya.
Nazhir Lembaga Zakat dan Wakaf Darul Hikam, Ustad M. Irwan Zamroni Ali, S.H., M.H., CWC. mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai bentuk sinergi yang baik antara lembaga zakat dan pemerintah dalam memperluas manfaat zakat kepada masyarakat.
“Kami sangat mengapresiasi inisiatif Kemenag Jember yang telah mengajak berbagai lembaga zakat untuk berkolaborasi dalam program Tebar Harapan Ramadan ini. Kegiatan seperti ini sangat penting untuk memperkuat sinergi dan memperluas manfaat zakat, infak, dan sedekah agar dapat dirasakan oleh lebih banyak masyarakat yang membutuhkan,” ujar Ustad Irwan yang juga Dosen UIN KHAS Jember.
Keikutsertaan Lazawa Darul Hikam dalam program ini menunjukkan komitmen lembaga tersebut untuk terus bersinergi dengan berbagai pihak dalam memperluas manfaat zakat, infak, dan sedekah bagi masyarakat yang membutuhkan, khususnya di bulan suci Ramadan.
Reporter : Iklil Naufal Umar Editor : Wildan Rofikil Anwar
Lailatul Qadar pada Ramadhan 1447 H ini, menurut Imam Ghazali, akan terjadi pada malam ke-25, yakni Sabtu (14/3/2026) malam Ahad. Hal ini mengingat awal Ramadhan 1447 H dimulai pada Kamis (19/2/2026).
Mengutip kitab I’anatut Thalibin, Ustadz Yusuf Suharto menjelaskan bahwa Imam Ghazali memiliki kaidah khusus peristiwa malam lailatul qadar bergantung hari pada awal Ramadhan. Hal demikian sebagaimana diuraikan dalam artikelnya berjudul Kaidah Menandai Lailatul Qadar Menurut Al-Ghazali yang dikutip NU Online pada Selasa (10/3/2026).
Berikut rincian kedatangan lailatul qadar berdasarkan hari awal Ramadhan menurut Imam Ghazali.
Jika awal Ramadhan jatuh pada hari Ahad atau Rabu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-29;
Jika awal Ramadhan hari Senin maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-21;
Jika awal Ramadhan hari Selasa atau Jum’at maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27;
Jika awal Ramadhan hari Kamis maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-25; dan
Jika awal Ramadhan hari Sabtu maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-23.
Imam Abul Hasan asy-Syadzili mengikuti panduan yang disampaikan Imam Ghazali ini. Karenanya, kaidah tersebut dinilai cukup representatif.
“Semenjak saya menginjak usia dewasa Lailatul Qadar tidak pernah meleset dari jadwal atau kaidah tersebut,” demikian komentar Imam asy-Syadzili.
Sebagaimana diketahui, baik Pemerintah melalui Kementerian Agama ataupun Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Lembaga Falakiyah PBNU mengikhbarkan bahwa awal Ramadhan 1447 H jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026.
Artinya, jika mengacu panduan Imam Ghazali di atas, maka malam Lailatul Qadar Ramadhan tahun 1447 H ini akan jatuh pada malam ke-25, yakni tepatnya pada Sabtu malam Ahad, tanggal 14 Maret 2026 M.
Meski demikian, hal tersebut tidak bisa dijadikan sebagai sebuah kepastian. Pasalnya, Lailatul Qadar bisa terjadi pada tanggal berapa saja sesuai kehendak Allah swt. Pun pandangan ulama juga beragam mengenai peristiwa tersebut.
Oleh karena itu, Ustadz Yusuf Suharto menyarankan agar senantiasa mencari lailatul qadar di malam-malam Ramadhan, khususnya di tanggal ganjil pada 10 hari terakhir Ramadhan.
Sebagaimana diketahui, Lailatul Qadar merupakan malam istimewa yang paling dinanti seluruh umat Muslim. Pasalnya, pada malam tersebut, Allah menjanjikan ampunan dan keberkahan yang sangat besar bagi hamba-hamba yang menemuinya. Namun, kedatangan malam yang disebut lebih baik dari seribu bulan itu tidak bisa diprediksi ketepatannya seratus persen.