Categories
Artikel Kegiatan Berita

Kegiatan Semester Ganjil Berakhir, Pesantren Darul Hikam Gelar Lomba Baca Kitab Kuning

Media Center Darul Hikam – Kegiatan pembelajaran semester ganjil Pondok Pesantren Darul Hikam Mangli Jember kini telah berakhir. Pembelajaran ditutup dengan menggelar lomba akhir semester dengan ‘Membaca Kitab Gundulan’ yang dilaksanakan pada Jumat – Sabtu (15-16 Desember 2023) di masing-masing pondok, meliputi; Pondok Pusat Putri, Pondok Cabang Putri, dan Pondok Cabang Putra  Darul Hikam Mangli Jember.

Kegiatan lomba tersebut diikuti oleh seluruh mahasantri Pondok Pesantren Darul Hikam, yang terbagi ke dalam dua tingkat yang berbeda, yaitu tingkat pertama, kelas Madrasah Diniyah Awaliyah yang terdiri dari lomba membaca Kitab Fathul Qarib (Thaharah, Tayamum, Muamalah) dan Kitab Ibanah Wal Ifadhah.

Kemudian, tingkat kedua, kelas Madrasah Diniyah Wustha yang terdiri dari lomba membaca Kitab Fathul Mu’in (Bab Puasa), Kitab Bulughul Maram (Hadis 1-25), dan Kitab Ibanah Wal Ifadhah.

Pengasuh PP Darul Hikam, Prof. Dr. K.H. M. Noor Harisudin, S.Ag., S.H., M.Fil.I., CLA., mengungkapkan lebih lanjut tentang fokus pembelajaran yang ada di Pondok Pesantren Darul Hikam.

“Pendidikan di sini berlangsung selama tiga tahun, dan setiap tahun mahasantri mempelajari kitab yang berbeda. Ini termasuk dalam level Diniyah Wustha dan Awaliyah. Mereka banyak belajar kitab kuning, seperti Fathul Mu’in, Alfiah, Fathul Qorib, dan Jurmiyah,” ungkap Prof Kiai Haris yang juga Guru Besar UIN KHAS Jember.

Prof Kiai Haris juga mengatakan, pembelajaran di pondok pesantren ini tidak hanya terbatas pada kitab kuning, melainkan juga fokus pada program lainnya, seperti program pengembangan bahasan asing (Arabic dan English), jurnalistik, dan literasi.

“Namun, fokus utama kami tetap pada pembacaan kitab kuning. Bukan seperti lembaga pendidikan lain yang orientasinya kurang jelas. Kami berkomitmen untuk memberikan pembelajaran kitab kuning dan melakukan evaluasi melalui lomba dan ujian akhir semester,” tambah Prof Kiai Haris yang juga Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian, dan Pelatihan MUI Jawa Timur.

Terakhir, Prof Kiai Haris mengatakan, pegelaran lomba tersebut nantinya akan menjadi bahan evaluasi bagi para pengurus dan tenaga pengajar Darul Hikam, sehingga tingkat pengetahuan dan potensi yang dimiliki oleh para mahasantri dapat terukur.

“Lomba ini bukan hanya ujian, tetapi juga ajang untuk melihat aktivitas dan partisipasi para mahasantri. Diadakannya lomba ini juga bertujuan untuk menciptakan suasana pembelajaran di Pondok yang tidak tegang dan membosankan,” tutur Prof Kiai Haris yang juga Ketua PP Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara – Hukum Administrasi Negara.

Pada kesempatan yang sama Nyai Robiatul Adawiyah, S.H.I., M.H., yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hikam (Putri) turut menjelaskan, pentingnya pengembangan keilmuan melalui berbagai kegiatan, termasuk lomba dan ujian.

“Di pesantren Darul Hikam, kami menetapkan minimal satu tahun untuk para santri. Tujuannya tidak sekadar agar mereka menghuni tempat ini, melainkan agar mereka memahami dan mengetahui perkembangan ilmiah mereka. Ketika mereka masuk hingga keluar, kami ingin melihat perubahan signifikan dari ilmu yang mereka miliki,” ungkap Nyai Robiatul yang juga Dosen Fakultas Syariah UIN KHAS Jember.

Selain itu, Nyai Robi mengatakan, kegiatan tersebut juga dapat memberikan porsi penting pada evaluasi perkembangan belajar para mahasantri. Namun, pendekatan mereka tidak hanya sebatas itu. Yakni dengan mengadakan lomba di akhir tahun. Lomba ini tidak semata-mata menjadi ujian, tetapi juga bentuk evaluasi yang lebih dinamis.

“Salah satu lomba yang kami lakukan saat ini adalah Lomba Membaca Kitab Gundulan, yang merupakan bagian dari upaya kami untuk terus meningkatkan kemampuan membaca kitab kuning para mahasantri,” tambah Nyai Robi.

Keilmuan di Pondok Pesantren Darul Hikam tidak hanya berhenti pada kegiatan di pesantren itu sendiri. Nyai Robiatul menjelaskan bahwa ada program-program lain seperti pengajian dan Sekolah Diniyah.

“Untuk itu, kami menyelenggarakan pengajian dan sekolah diniyah agar mereka terlibat aktif dalam kegiatan keagamaan dan terus berkembang dalam ilmu agama Islam,” tuturnya.

Terakhir, Nyai Robi mengatakan manfaat bagi santri yang berpartisipasi dalam lomba akhir semester ini.

“Manfaatnya sangat banyak. Pertama, santri dapat mengetahui di mana letak kekurangan mereka, terutama dalam membaca kitab kuning. Kedua, lomba ini memberikan semangat baru kepada mahasantri untuk mengikuti kegiatan lainnya yang ada di pesantren Darul Hikam,” pungkasnya.

Reporter : Akhmal Duta Bagaskara

Editor : M. Irwan Zamroni Ali

Categories
Keislaman

Shalat Tahajud Berjamaah, Bolehkah?

Shalat sunnah selain rawatib mengisyaratkan akan pentingnya mengisi waktu dengan ibadah shalat sunah, misalnya shalat dhuha untuk pagi hingga jelang siang, shalat tahajud untuk malam hingga jelang sahur. Kesunahan tersebut tentu dalam rangka meningkatkan kualitas ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah. 

Seperti yang telah diketahui bersama bahwa shalat malam identik dengan shalat tahajud. Hal ini  dianjurkan bagi mereka yang tidur terlebih dahulu untuk mempersiapkan diri memburu waktu mustajab dan mengisi waktu malam dengan dzikir dan shalat sunnah di malam hari.

Shalat tahajud artinya melakukan shalat sunat di malam hari, yang dikerjakan setelah bangun tidur. Konsekuensinya, jika belum tidur terlebih dahulu maka shalat itu tidak disebut shalat tahajud, namun disebut shalat “qiyamullail” (shalat malam). Oleh karena itu kalau shalat dilakukan sebelum tidur bisa diniati shalat witir, tasbih, sunnah mutlak, hajat dst.

Berikut ini keterangan dari kitab Nihayatuz Zain: 

Artinya: Termasuk shalat sunnah mutlak adalah shalat sunnah di malam hari, apabila shalat ini dilakukan setelah tidur meskipun tidurnya di waktu maghrib namun sesudah melaksanakan shalat isya secara jamak taqdim, maka dinamakan tahajud. 

Lantas bagaimana hukumnya shalat tahajud berjamaah? Merujuk pada keterangan kitab Bughyatul Mustarsyidin 1/136 disebutkan: 

Artinya: Diperbolehkan melaksanakan shalat sunnah berjamaah seperti witir, tasbih, Hal ini tidak makruh juga tidak mendapatkan pahala berjamaah. Akan tetapi apabila berjamaah ini dalam rangka mengajarkan dan mendorong masyarakat agar terbiasa shalat sunnah, maka mendapatkan pahala sebab niat baik. 

Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa shalat sunnah tasbih, tahajud, dhuha, hajat yang dilaksanakan secara berjamaah itu hukumnya boleh, dalam rangka mengajarkan kebiasaan shalat sunnah untuk masyarakat dan juga tidak menimbulkan pemahaman bahwa shalat sunnah tahajud berjamaah itu disyariatkan.  

Sumber: https://jatim.nu.or.id/keislaman/shalat-tahajud-berjamaah-bolehkah-vWeEP#:~:text=Dengan%20demikian%20dapat%20ditarik%20kesimpulan,sunnah%20tahajud%20berjamaah%20itu%20disyariatkan.

Categories
Artikel Kegiatan Berita

Studi Banding, TPA-KB dan TK Al Baitul Amien Jember Jadi Inspirasi Pendirian Pendidikan Formal Darul Hikam Mangli Jember

Media Center Darul Hikam – Hajat besar Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Darul Hikam Mangli Jember untuk mendirikan pendidikan formal, seperti Taman Kanak-Kanak (TK), bukanlah hanya sebatas angan saja. Sejumlah pengurus yayasan Darul Hikam langsung ‘Tancap Gas’ dengan melakukan studi banding ke TPA-KB dan TK Al Baitul Amien Jember, pada Selasa pagi (5 Desember 2023).

Rombongan dari Darul Hikam terdiri dari Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hikam Mangli Jember, Prof. Dr. KH. M. Noor Harisudin, S.Ag, S.H, M.Fil.I, CLA dan Ibu Nyai Robiatul Adawiyah, S.H.I., M.H, Ust M. Irwan Zamroni Ali, Ust Wildan Rofikil Anwar, Ust M Syafiq Abdurraziq, Ustadzah Alifah Rahma Putri Anabilla, Ustadzah Lum’atul Muniroh, dan Ustadzah Siska Dwi Santika.

Hadir pada kesempatan yang sama, Direktur Lembaga Pendidikan Al Baitul Amien Jember, Ir. H. Akhmad Hafid, Kepala Sekolah Kelompok Bermain (KB) Al Baitul Amien Jember, Maratul Afifah, S. Pd., Kepala Sekolah TK Al Baitul Amien Jember, Endang Suprihatin, S.Pd., M.M., dan sejumlah civitas Al Baitul Amien Jember.

Prof Haris yang juga Ketua YPI Darul Hikam tersebut menuturkan, pihaknya melakukan kunjungan ke Al Baitul Amien Jember sebagai langkah pengembangan pendidikan yang ada di Darul Hikam.

“Kami ingin belajar untuk memulai pengembangan pendidikan yang ada di Darul Hikam. Saat ini kami sudah ada madrasah diniyah awwaliyah dan madrasah diniyah wustha. Kami ingin bermanfaat banyak ke masyarakat, salah satunya dengan menambah pendidikan formal di lembaga kami,” ujar Prof Haris yang juga Guru Besar UIN KHAS Jember.

Ia pun berharap, agar studi banding yang dilakukan saat ini bisa memberikan kesempatan kepada Darul Hikam untuk dapat magang di Al Baitul Amien Jember sebagai proses pembelajaran.

“Kami mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya karena telah diterima di sini untuk belajar banyak hal tentang pendidikan yang ada di Al Baitul Amien Jember. Harapannya, pihak kami dapat belajar/magang di sini, sebagai tindak lanjut dari studi banding ini,” tambah Prof Haris yang juga Ketua Pengurus Pusat Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara Se-Indonesia.

Di waktu yang sama, Direktur Lembaga Pendidikan Al Baitul Amien Jember, Ir. H. Akhmad Hafid, mengaku siap untuk berbagi pengalaman dengan pengurus YPI Darul Hikam Mangli Jember.

“Harapan saya pertemuan ini berkah. Insyaallah untuk seterusnya kita selalu siap untuk berbagi pengalaman dengan Darul Hikam. Pertemuan ini juga diharapkan terus berlanjut untuk pertemuan berikutnya. Saya juga menunggu kabar baik atas pendirian lembaga formal yang ada di Darul Hikam,” tuturnya.

Selain itu, Kepala Sekolah TK Al Baitul Amien Jember, Endang Suprihatin, S.Pd., M.M., mengungkapkan, strategi yang bisa dilakukan di awal pada saat merintis, misalnya dengan pemberian seragam secara gratis bagi para siswanya.

“Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengisi rombongan belajar, seperti gratis biaya pendaftaran hingga pemberian seragam secara cuma-cuma. Untuk awal-awal, boleh seperti itu, selanjutnya tinggal dimusyawarahkan dengan wali murid,” jelasnya.

“Tentu kami siap untuk menerima pihak Darul Hikam untuk magang di sini, semoga pilihan magang di Al Baitul Amien Jember, adalah pilihan yang tepat,” tambahnya lagi.

Kepala Sekolah Kelompok Bermain (KB) Al Baitul Amien Jember, Maratul Afifah, S. Pd., turut membeberkan sejumlah program rutin yang ada di Kelompok Bermain (KB) Al Baitul Amien Jember, seperti jam masuk, jam istirahat dan lainnya.

“Kami jam 07.30 WIB sudah masuk, namun biasanya para wali murid sudah menghantarkan mulai dari 07.00 WIB. Sebelum KBM Jam 08.00 WIB, kami melakukan morning circle, atau Peraturan Baris Berbaris (PBB), serta baca solawat. Jam 08.00-09.00 WIB Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), jam 09.00-09.30 WIB kelas kami istirahat, kemudian dilanjutkan jam 09.30-10.30 WIB kegiatan religi dan setelah itu para murid bisa pulang,” ucapnya.

Reporter : M. Irwan Zamroni Ali

Editor : Siti Junita

Categories
Artikel Kegiatan Berita

Forum BPHN, Prof Haris Jadi Narasumber Kegiatan Dengar Pendapat (Hearing) RUU Pembinaan Hukum Nasional

Media Center Darul Hikam – Badan Pembinaan Hukum Nasional tengah menyusun Rancangan Undang-Undang tentang Pembinaan Hukum Nasional (RUU PHN). Dalam proses penyusunannya, dibutuhkan partisipasi masyarakat sebagai elemen kunci untuk menciptakan sistem hukum yang lebih adil dan efektif.

Sejumlah tokoh dan pakar hukum hadir untuk memberikan pandangan terhadap perumusan RUU tersebut, dalam sebuah kegiatan Dengar Pendapat (Hearing) yang digelar pada Jumat, (24/11/2023) di Lantai III Auditorium Rektor Universitas Jember.

Di antaranya Kepala Pusat Perencanaan Hukum Nasional BPHN, Arfan Faiz Muhlizi , Ketua PP Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara – Hukum Administrasi Negara, Prof. Dr. H M. Noor Harisudin, S.Ag., S.H., M.Fil.I., CLA., Ketua LKBH IKADIN, Jani Takarianto, S.H., M.H, Dekan Fakultas Hukum Universitas Jember, Prof. Dr. Bayu Dwi Anggono, S.H., M.H. dan Dosen Fakultas Hukum Universitas Jember, Dr. Fendi Setyawan, S.H., M.H.

Kepala Pusat Perencanaan Hukum Nasional BPHN, Arfan Faiz Muhlizi, menyampaikan, penyusunan RUU PHN memerlukan partisipasi masyarakat dalam prosesnya. Sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No 13 Tahun 2022 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.

“Partisipasi masyarakat perlu dilakukan secara bermakna (meaningful participation), dalam arti bahwa masyarakat berhak untuk didengarkan pendapatnya (right to be heard), berhak untuk dipertimbangkan pendapatnya (right to be considered), dan berhak untuk mendapatkan penjelasan atau jawaban atas pendapat yang diberikan (right to be explained),” jelas Arfan

Pada kesempatan yang sama Prof. Haris menyoroti perihal pembinaan hukum agama. Dirinya menekankan agar fokus utama salah satunya adalah memperkuat posisi hukum Islam agar dapat terintegrasi dalam ranah hukum nasional dan sejajar dengan hukum lainnya seperti Hukum Eropa dan Hukum Adat.

“Oleh karena itu, perlu diarahkan agar hukum Islam dapat menjadi entitas mandiri dan nilai-nilainya dapat diakomodasi untuk berlaku secara universal,” tutur Prof Haris yang juga Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian, dan Pelatihan MUI Jawa Timur.

Dalam sistem hukum nasional, pembinaan hukum agama perlu dilakukan dari awal hingga evaluasi. Prof Haris menyoroti peran penting Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) dalam membimbing hukum agama.

“Pembinaan sebaiknya mempertimbangkan konteks pembentukan, seperti melibatkan kajian living law oleh organisasi masyarakat untuk membuat hukum Islam yang inklusif,” jelas Prof Haris yang juga seorang Guru Besar UIN KHAS Jember.

Prof Haris juga menyoroti pentingnya melibatkan partisipasi masyarakat dalam pembinaan hukum Islam, sejalan dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.

“Peraturan perundang-undangan menekankan perlunya peran aktif dari berbagai pihak, tokoh, atau organisasi masyarakat untuk memberikan masukan dalam pembinaan hukum agama,” ungkap Prof Haris yang juga Direktur World Moslem Studies Center (WOMESTER)

“Perlunya pengkaji hukum Islam terus memperkaya pengembangan hukum Islam dengan memasukkan kajian perspektif Maqashid Syariah, menjadikan hukum Islam modern dan sesuai dengan tuntutan zaman,” tambahnya.

Turut hadir pula dalam kegiatan ini Analis Hukum Ahli Madya Bambang Iriana Djajaatmadja, Penyuluh Hukum Ahli Utama Kartiko Nurintias, Penyuluh Hukum Ahli Utama Djoko Pudjiraharjo, Kepala Pusat Penyuluhan dan Bantuan Hukum Sofyan.

Reporter : Akhmal Duta Bagaskara
Editor : M. Irwan Zamroni Ali

Categories
Artikel Kegiatan Berita

Hadirkan Profesor Muda Amerika, Pesantren Darul Hikam Ingin Santrinya Dapat Beasiswa Luar Negeri

Media  Center Darul Hikam – Pondok Pesantren Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember semakin mengukuhkan dirinya sebagai Pondok Literasi. Setelah sebelumnya sejumlah tokoh nasional hingga internasional berkunjung ke pesantren tersebut, kini Profesor Muda Amerika, Lailatul Fitriyah, Ph.D hadir sebagai narasumber dalam acara ‘Tadarus Ilmiah’ dengan tema Pengalaman Studi di Amerika.

Pengasuh Pesantren Darul Hikam, Prof. Dr. KH, M. Noor Harisudin, S.Ag, SH, M. Fil., C.LA, mengungkapkan, sejumlah tokoh penting seperti Rais Aam PBNU, Kiai Afifudin Muhajir, Prof Nadirsyah Hosen (Australia), Ustad Malik (Australia) dan lainnya sudah berkunjung ke Darul Hikam untuk berdiskusi dan sharing keilmuan bersama para mahasantri.

“Sudah ada tokoh dari dua benua yang berkunjung langsung ke Darul Hikam, bukan secara online, melainkan offline. Saya sangat senang atas kehadiran beliau-beliau untuk memberikan motivasi kepada para mahasantri kami,” ungkap Prof Haris dalam sambutannya di Aula Pondok Pesantren Putra Ajung Jember pada Rabu malam (22/11/2023).

Semangat darul hikam, lanjut Prof Haris, adalah semangat al-Quran. Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Menurut Prof Haris, Ilmu adalah nomor satu, sisanya bisa jabatan/kedudukan dan kekayaan.

“Karena itu di Darul Hikam yang ditekankan adalah keilmuan, seperti adanya madin awwaliyah, madin wustha, kegiatan ngaji kitab kuning, bahasa inggris, media center/pelatihan jurnalistik, tahfidz/sema`an al-Quran dan banyak lainnya. Semua itu untuk meningkatkan kecintaan para mahasantri terhadap ilmu,” tutur Prof Haris yang juga Ketua PP APHTN-HAN.

Di samping itu, Visiting Professor University of Toronto, Canada, Prof Lailatul Fitriyah, Ph.D yang merupakan narasumber, memberikan sejumlah motivasi dan kisah perjuannya selama belajar di Amerika. Prof Laili mengungkapkan, sejak 2010 – 2013 sembari bekerja ia juga melamar beasiswa di universitas luar negeri kurang lebih dari 100 aplikasi atau para donor, namun masih gagal.

“Baru di akhir tahun 2013 saya melamar beasiswa ke universitasnya langsung di empat universitas berbeda, meski semuanya lulus, saya hanya memilih University of Notre Dame karena bersedia untuk menanggung beasiswa saya 100%,” ungkapnya.

Perjalanan dirinya selama studi di luar negeri tidaklah mudah, ia perlu untuk belajar lebih maksimal karena keterbatasan bahasa inggris. “Saya belajar bahasa inggris secara otodidak, misalnya dengan mendengarkan lagu bahasa inggris kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia,” tutur Prof Laili.

“Di University of Notre Dame saya kelimpungan, karena semuanya berbahasa inggris, diskusi, dosen yang menjelaskan, bahan bacaan dan semuanya. Saya harus melakukan strategi khusus untuk mengejar ketinggalan di kelas, salah satunya dengan tidur maksimal 3 jam dalam sehari, untuk saya gunakan belajar,” tambahnya.

Di kesempatan yang sama, Ibu Nyai Robiatul Adawiyah, S.HI, M.H yang juga pengasuh Pondok Putri Darul Hikam menambahkan, para mahasantri terlebih mahasantri baru diharuskan untuk mengikuti kegiatan semaan al-quran yang akan dilaksanakan pada Minggu mendatang.

“Mari para mahasantri semangat untuk mengikuti kegiatan pondok, salah satunya semaan al-quran yang insyaallah akan kita laksanakan pada minggu depan ini. Selain penting untuk memperkuat hafalan para mahasantri, juga untuk mempersiapkan ujian BTQ di kampus UIN KHAS Jember,” pungkasnya.

Reporter : M. Irwan Zamroni Ali

Editor : Siti Junita

Categories
Artikel Kegiatan Berita

Menemukan Makna Islam dan Hijab di Negara Paman Sam

(Wawancara Eklusif dengan Prof. Lailatul Fitriyah, Ph. D. Profesor Muda di Claremont School of Theology, Los Angeles, USA, dan Visiting Professor, University of Toronto, Canada)

Media Center Darul Hikam – Melanjutkan pendidikan ke luar negeri merupakan impian setiap orang. Terlebih kuliah di negara yang memiliki sistem pendidikan yang sangat maju dan telah melahirkan banyak cendekiawan di seluruh dunia.

Prof. Lailatul Fitriyah, Ph.D. ialah sosok muslimah dari Kota Jember Jawa Timur yang berhasil menempuh pendidikan S2 dan S3 di luar negeri, tepatnya di Universitas Notre Dame, yaitu salah satu perguruan tinggi katolik roma terkemuka yang terletak di Indiana Amerika Serikat. Saat ini, Prof Laili menjadi Asistant Profesor Claremont School of Theology, Los Angeles, USA, dan Visiting Profesor, Universitas of Toronto Canada. Selain itu, ia ingin berusaha mengubah pandangan masyarakat luas bahwa muslimah juga mampu menjadi sosok perempuan yang berprestasi dan berdaya setara dengan laki-laki untuk membangun peradaban.

Apa ketertarikan Prof Laili memilih negara Amerika sebagai negara tujuan untuk studi S2 ?

Tentu ada banyak pertimbangan, saya mengambil keputusan untuk kuliah di Amerika karena menurut saya, Amerika adalah negara yang konsisten mengamalkan teori politik dengan baik, lain halnya dengan Paris atau Perancis yang hanya bergulat menciptakan teori politik saja. Jadi, ke Amerika karena memang di sana terdapat kampus yang memiliki prodi hubungan internasional yang bagus.

Bagaimana bisa menemukan makna dan nilai Islam di Amerika?

Dalam menemukan makna dan nilai keislaman, saya berusaha menguak pertanyaan yang selama ini ada di dalam diri saya terkait alasan perlunya berhijab. Karena selama ini, ia merasa berhijab adalah perintah dari orang tua dan dilarang oleh Allah. Saya belum menemukan makna atau hakikat dari hijab itu sendiri.

Saya temukan jawabannya itu ketika di Amerika. Karena Amerika adalah negara yang cukup rasis. Mereka menilai seseorang dari luar/fisiknya, misalnya kulit hitam dan kulit putih, termasuk muslimah yang berhijab.  

Menurut saya, setiap orang memiliki pertanyaan sendiri, dimana ia harus berjuang untuk mendapatkan jawabannya menurut pengalaman dan ilmu yang didapatkan. In sya Allah, ihdinash shirotol Mustaqim. Allah akan memberikan petunjuk dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan hamba-hambanya dengan sebaik-baiknya petunjuk. Keimanan dalam diri setiap orang perlu diuji. Bahkan dalam Alquran terdapat perintah pertama adalah iqra. Perintah disini bukan hanya membaca teks, namun juga merenungi fenomena yang terjadi sebagai bahan belajar dan pembelajaran.

Mengapa di Pesantren yang kental dengan ajaran Islam, Prof Laili merasa bahwa hijab itu masih dipaksakan. Justru di negara yang minoritas Muslim ingin selalu memakai hijab?

Ini adalah kritik bagi kita para pengajar islam seperti misalnya kiai, bu nyai, ustadz dan ustadzah bahwa mengajar agama itu tidak bisa dipaksakan. Disiplin itu salah satu bagian dari agama seperti sholat 5 waktu tapi ada hal hal yang memang tidak bisa dipaksakan. Seperti, mengapa aku harus sholat? mengapa harus berhijab? dan mengapa harus berpuasa? Orang itu harus mencari tahu sendiri mengapa dia harus melakukan itu. Saya sejak kecil sudah didisiplinkan oleh abah saya untuk memakai hijab sejak 5 tahun. Sampai saya di pondok pun masih belum ketemu jawabannya.

Akhirnya, saya melahirkan asumsi bahwa jangan menyalahkan pertanyaannya karena itu adalah tantangan kita untuk menemukan jawabannya. Bukankah dalam wahyu pertama, Allah memerintahkan kita untuk membaca, bukan hanya teks tetapi juga fenomena dan renungan alam semesta yang holistik.

Maka, justru saya menemukan jawaban itu ketika berada di Amerika, tempat dimana saya menjadi mahasiswi Muslim satu satunya di semua jurusan, karena universitas saya kan katolik. Waktu S3, saya itu merupakan mahasiswi Muslim pertama yang menjadi mahasiswa di Departemen Teologi, mereka tidak pernah menerima mahasiswa muslim seperti saya.

Jadi saya menemukan jawabannya, yaitu saya harus menggunakan hijab, karena di lingkungan masyarakat yang rasis itu, mereka harus melihat keimaman saya secara umum. Kalau saya tidak berhijab, orang Amerika tidak akan pernah tahu saya Muslim. Tapi kalau saya berhijab, identitas kemusliman saya itu terpampang secara umum. Orang bisa melihat bahwa saya harus memakai ini karena saya harus merepresentasikan nilai Islam dalam kehidupan saya, membuat orang itu bisa melihat bahwa ada perempuan Muslim yang bisa S3, bisa bahasa Perancis dan Italia. Perempuan Muslim yang bisa menjadi ilmuwan selevel dengan ilmuwan lainnya di Amerika

Apakah Prof Laili pernah merasakan takut dengan adagium yang mengatakan bahwa wanita yang berpendidikan dan berkarir tinggi akan sulit didekati oleh laki laki?

Kalau menurut saya, ada laki-laki yang takut dengan wanita yang berpendidikan tinggi berarti laki-laki itu tidak berhak untuk menikahi perempuan itu. Jodoh saya adalah laki-laki yang tidak takut dengan saya, cara berpikir saya, dengan apa yang harus saya lakukan dan alhamdulillah sekarang suami saya seperti itu. Dia orang Pakistan Canada, dan dia secara level pendidikan lebih rendah, dia S2 saya S3, tapi dia sama sekali tidak takut dan dia mendukung karir saya.

Maka bagi wanita, jangan takut untuk melanjutkan pendidikan dan berjuang pada karir yang diimpikan. Sebab kita berhak menjadi yang terbaik dan tentu memilih yang terbaik.

Reporter: Siti Junita & Erni Fitriani

Editor: M. Irwan Zamroni Ali

Categories
Keislaman

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW PW LTNU, Kiai Haris Sampaikan Kisah Teladan Rasulullah

Media Center Darul Hikam – Pimpinan Wilayah Lembaga Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur (PW LTN NU Jatim) menggelar acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada hari Senin, (16/10/2023) bertempat di Aula KH. Bisri Syansuri.

Peringatan Maulid Nabi ialah untuk memperkenalkan nabi Muhammad SAW kepada setiap generasi. Kenal adalah pintu untuk mencintai,sehingga umat Muslim dapat mencintai. Maulid Nabi Muhammad SAWini juga merupakan bentuk kecintaan atas anugerah datangnya manusia paling sempurna di muka bumi ini yang membawa risalah dari Allah SWT bagi manusia.

Dalam kesempatan tersebut, Guru Besar UIN KHAS Jember Prof. Dr. M. Noor Harisudin, S.Ag., S.H., M.Fil.I, menuturkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini sebagai bentuk evaluasi dalam diri seorang manusia.

“Seberapa banyak ayat suci Al-Qur’an dan Hadist yang sudah kita praktekkan, hal ini sangat penting bagi diri kita masing-masing, hal ini juga sama Sahabat Nabi bertanya perihal amal Rasulullah SAW,” Ungkap Kiai Haris yang juga Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian dan Pelatihan MUI Jatim tersebut.

Sementara itu, Kiai Haris menyampaikan ada beberapa perilaku Rasullah SAW yang memang disyariatkan dan ada beberapa yang tidak disyariatkan.

“Kita harus melihat dulu apa memang dimaksudkan untuk disyariatkan atau tidak, seperti cara menghadap dan berjalan Rasulullah SA, karena itu sebagai bentuk karakter manusia Rasulullah dalam bentuk personal,” Tuturnya

Lebih lanjut Kiai Haris (Sapaan akrabnya) menjelaskan bahwa banyak terdapat hadist-hadist yang menerangkan kisah teladan Nabi Muhammad SAW tentang keharmonisan dengan Sayyidah Aisyah

“Salah satunya ialah Rasulullah SAW pernah meminum di bekas tempat minum dari Sayyidah Aisyah, dan masih banyak riwayat-riwayat tentang kisah keteladanan dari Rasulullah SAW,” Ujar Kiai Haris yang juga Pengasuh Pondok Darul Hikam Mangli Jember tersebut.

Terakhir, Kiai Haris menegaskan dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini umat muslim sebaiknya banyak meneladani Sunnah-sunnah Rasulullah SAW, serta bisa mengimplementasikan terhadap keluarga, lingkungan, dan dalam lingkup yang lebih luas.

“Petanyaannya, apakah kita sudah meneladani dan mempraktekannya dari keteledananan Rasulullah tersebut,” Pungkasnya

Reporter: Lutvi Hendrawan

Editor: Erni Fitriani

Categories
Artikel Kegiatan

Kiai Haris: Santri Harus Punya Ruh Hubbul Ilmu Wal Ma’rifah

Media Center Darul Hikam – Menuntut Ilmu hukumnya wajib bagi setiap Muslim baik laki-laki maupun perempuan. Hal ini disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember, Prof. Dr. M. Noor Harisudin S.Ag., S. H.,M. Fil. I. dalam kajian subuh di Pondok Pesantren Darul Hikam Cabang Putra Pada Jumat (13/10).

Menuntut ilmu memiliki arti ikhtiar atau sebuah usaha dalam mempelajari sebuah ilmu, baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat dengan tujuan agar ilmu tersebut dapat bermanfaat untuk dirinya dan juga orang lain.

Ilmu dan amal adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Kedua hal ini merupakan perbuatan yang menjadi keseharian Nabi Muhammad SAW.

“Sebelum mencari ilmu, para santri hendaknya kita mencintai ilmu terlebih dahulu, Hubbul Ilmu Wal Ma’rifah (mencintai ilmu dan pengetahuan), dengan senang mengunjungi tempat- tempat yang banyak ilmu, seperti di perpustakaan kampus, kemudian menyiapkan buku atau kitab yang diperlukan untuk belajar,” tutur Kiai Haris yang juga Dekan Fakultas Syariah UIN KHAS Jember.

Ketika berproses dalam mencari ilmu, maka insyaallah seseotang akan mendapatkan derajat kemuliaan yang sudah dijamin dalam firman Allah SWT QS. Al- Mujadilah ayat 11:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا قِيْلَ لَـكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَا فْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَـكُمْ ۚ وَاِ ذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَا نْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ ۙ وَا لَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ ۗ وَا للّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah 58: Ayat 11).

Lanjut Kiai Haris menyampaikan bahwa ketika sudah mendapatkan suatu ilmu, maka harus berusaha untuk mengamalkannya.

“Setelah belajar dan mendapatkan ilmu hendaknya ilmu yang didapatkan agar segera diamalkan. Amal dari ilmu ini selain memberikan manfaat kepada orang lain juga memberikan manfaat bagi diri sendiri terutama supaya tidak mudah lupa,” ungkap Kiai Haris dalam kultumnya.

Dalam penutupnya, Kiai Haris menuturkan bahwa mengamalkan ilmu yang didapatkan akan memberikan banyak manfaat.

“Amal dari ilmu yang dikerjakan secara istiqomah, maka akan menghasilkan ilmu-ilmu baru yang menakjubkan,” pungkas Kiai Haris dalam yang juga Ketua Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara (APHTN-HAN).

Penulis: Ekik Filang Pradana

Editor: Erni Fitriani

Categories
Artikel Kegiatan

Prof Haris Ajak Masyarakat Internasional Serukan Perdamaian Palestina

Media Center Darul Hikam – Situasi di kawasan Timur Tengah semakin memanas seiring dengan eskalasi besar-besaran yang dilakukan oleh kelompok Hamas Palestina ke Israel pada Sabtu (07/10/2023).

Sementara itu, merespon serangan Hamas, Israel meluncurkan Operation Swords of Iron dan membombardir jalur Gaza. Warga yang meninggal akibat gempuran Israel mencapai  687 jiwa, termasuk 140 anak-anak dj dalamnya. Sementara yang luka-luka mencapai 2900 orang.

Kondisi tersebut memicu reaksi beragam dari berbagai pihak terhadap konflik yang semakin memanas hingga saat ini. Salah satunya Direktur World Moslem Studies Center (Womester), Prof. Dr. H M. Noor Harisudin, S.Ag., S.H., M.Fil.I., yang turut menunjukkan keprihatinannya atas konflik yang terjadi antara Palestina dan Israel.

“Dalam situasi seperti ini, kepedulian kita sebagai masyarakat dunia sangatlah penting,” tegas Prof Kiai Haris saat dihubungi oleh reporter di kediamannya pada Jumat (13/10/2023).

Prof Haris yang juga Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian, dan Pelatihan MUI Jawa Timur mendorong, agar kedua belah pihak dapat menahan diri demi menghindari bertambahnya korban jiwa. “Kemanusiaan haruslah menjadi pertimbangan utama di atas segalanya,” tambahnya.

“Kita ingin dunia ini dibangun di atas perdamaian dan kemanusiaan. Saya berharap agar kedua belah pihak, Palestina dan Israel dapat menahan diri demi mencegah bertambahnya korban jiwa,” lanjutnya.

Selain itu, Prof Haris juga berharap kepada PBB agar dapat berlaku secara adil dalam rangka menyelesaikan perang di Palestina dan Israel.

“Tidak memihak dan juga tidak menggunakan hartanya untuk mendukung salah satunya, melainkan untuk mendukung perdamaian dunia yang abadi untuk selama-lamanya,” tutur Prof Kiai Haris yang juga sebagai Ketua PP Asosiasi Dosen Pergerakan.

Ketua PP Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara – Hukum Administrasi Negara (APHTN-HAN), Prof Kiai Haris, turut mendorong masyarakat dunia agar menyerukan gencatan senjata atau perang dapat segera diakhiri.

“Dalam situasi ini, kolaborasi global dan komitmen bersama untuk mencari jalan keluar damai adalah kunci untuk mengakhiri konflik yang telah merenggut banyak nyawa dan menimbulkan kerusakan besar,” tegasnya.

“Masyarakat dapat ikut serta mencari solusi, menemukan alternatif-alternatif yang lebih elegan, dan menghindari dampak peningkatan korban yang lebih besar,” tambah Prof Haris.

Tak hanya itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Yahya Cholil Tsaquf juga ikut menyerukan aksi perdamaian agar perang dapat dihentikan.

Gus Yahya menekankan perlunya tindakan konkret dan bijaksana dari seluruh masyarakat internasional. Dia mendesak agar langkah-langkah yang diambil dapat mengarah pada penyelesaian yang adil antara Palestina dan Israel, sesuai dengan ketentuan hukum internasional yang berlaku. 

“Masyarakat internasional harus mengambil langkah yang tegas dan berdaya menuju penyelesaian yang adil terkait isu Israel dan Palestina, dengan merujuk pada landasan hukum dan kesepakatan internasional yang telah ada,” ungkap Gus Yahya.

Penulis: Akhmal Duta Basgakara

Editor: M. Irwan Zamroni Ali

Categories
Opini

Bagaimana Kedudukan Suami Istri Dalam Keluarga?

Oleh: Ekik Filang Pradana*

Setiap manusia pada umumnya akan melaksanakan pernikahan. Usia minimal dapat menikah adalah 19 tahun baik untuk pria dan wanita.  Sebelum melaksanakan pernikahan baik pria dan wanita diharapkan terlebih dahulu belajar tentang bagiamana ilmu berumah tangga, hal ini menjadi sebuah pondasi untuk menciptakan keluarga yang damai dan penuh ketenagan. Tujuan pernikahan dalam Islam adalah untuk menjaga kehormatan diri dan terhindar dari fitnah.

Pernikahan adalah ikatan antara suami dan istri dengan akad ijab qabul, jadi dengan ikatan pernikahan antara suami istri sah untuk melakukan hubungan apapun termasuk hubungan intim. Dalam surat ar-Rum ayat 21 di jelaskan “Dan diantara tanda-tanda (kebesaran)- Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya. dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.

Kedudukan suami dalam keluarga sering kali dianggap paling tinggi mengalahkan kedudukan istri, dengan memaknai lafadz ar-rijaalu qawwaamuuna alan-nisaa dalam surat an-Nisa ayat 34. Bahwasanya artinya adalah suami adalah pelindung bagi istrinya. Kedudukan suami yang lebih tinggi, dianggap suami berkuasa kepada istrinya dari segala hal apapun.

Budaya patriarki di Indonesia yang menganggap laki-laki sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam kelurga yang berperan utama didalamnya. Budaya ini menempatkan perempuan sebagai mahluk kelas dua yang diposisikan secara  subordinat dengan batasan dimana mereka tidak dapat melampaui standart kedudukan peran utama laki-laki.

Pada konteks patriarki  menyebabkan ketidak seimbangnya kesetaraan gender laki-laki dengan perempuan. Laki-laki disematkan dalam status  kepala rumah tangga setelah menikah yang bertanggung jawab penuh atas kebutuhan rumah tangga, sementara perempuan terbatasi oleh lingkup domestik seperti mengasuh, melayani dan merawat rumah tangga. Dari pandangan tersebut, laki-laki akan dipandang negatif jika tidak memenuhi tuntutan ekonomi begitu juga perempuan yang tidak memiliki cukup ruang gerak untuk berpartisipasi dalam ranah kehidupan lainnya.

Budaya patriarki  yang mendarah daging di Indonesia, menyebabkan terjadinya kasus pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, penindasan, ketidakadilan  sampai pembunuhan, memperlihatkan tidak adanya kesetaraan gender antara laki-laki dengan perempuan. Pola pikir yang terbangun atas budaya patriarki mengobjektifikasi perempuan sebagai makhluk yang tidak punya kontrol kuasa atas tubuhnya.

Memaknai arti Qawwam sebagai pemimpin, kuat, dan lain-lain.  Seperti yang dikatakan Gus Rifqil Muslim, bahwa lafadz qawwam tidak menunjukkan laki-laki atau suami menjadi superior kepada istrinya, namun yang benar adalah bahwa laki-laki haruslah mencukupi seluruh kebutuhan istrinya, bertanggung jawab baik secara lahiriyah maupun batiniyah.  Oleh karena itu kata pemimpin itu hanya menjadi sebuah sebutan, akan tetapi dalam pelaksanaannya atau pengamalan dari arti pemimpin itu sendiri, bisa dilakukan oleh suami ataupun istri dengan saling berkomunikasi.

Bisa kita teladani bagaimana keharmonisan rumah tanggah Rasulullah Saw dengan Aisyah, dalam berbagai kesempatan, Aisyah menjelaskan dengan gamblang tingginya posisi kaum wanita di sisi beliau. Mereka kaum hawa memiliki kedudukan yang agung dan derajat yang tinggi  Rasulullah Saw menjawab pertanyaan  Amr bin Al-Ash R.A seputar masalah ini, beliau menjelaskan kepadanya bahwa mencintai  istri bukanlah suatu hal yang tabu bagi seseorang lelaki yang normal.

Keharmonisan Rasulullah Saw dengan Aisyah yang bisa diteladani dalam menjalani keluarga, antara lain; tidur satu selimut, makan dan minum bersama, sering mencium istri, menyuapi istri, membantu pekerjaan rumah tangga, mengajak istri melihat hiburan, tidur di pangkuan istri.

Al-Quran sangat bijaksana dengan menyebutkan bahwa hubungan suami istri harus dibangun dengan cara mu`asyarah bi al-ma`ruf. Suami yang baik adalah suami yang dapat menyenangkan, menjaga dan membantu seorang istrinya. Dengan hal ini, tidak lah elok ketika kedudukan suami dalam keluarga disebut pemimpin tetapi memperlakukan istrinya dengan rendah. Sikap tanggung jawab dan mampu memenuhi kebutuhan lahir batin istri sebenarnya yang menjadi tugas dari seorang suami.

*Mahasantri Putra Pondok Pesantren Darul Hikam Mangli Jember dan juga Mahasiswa Semester 6 Hukum Keluarga Fakultas Syariah UIN KHAS Jember.