Categories
Madrasah Diniyah Awwaliyah

Maha Santri Darul Hikam Kembali Ukir Prestasi pada Intermediate Journalism Class

Jember, (16/03/2020) Dua maha santri PP Darul Hikam kembali mengukir prestasi di acara Workshop Intermediate Journalism Class. Acara yang bertema Be Smart Journalist with Sharia Faculty ini berlangsung di Aula VIP lantai II Fakultas Syariah. Acara tersebut diikuti oleh kurang lebih 60 peserta dari semua Fakultas di  IAIN Jember dan Universitas lainnya seperti Universitas Negeri Jember.

Para maha santri tersebut yakni Siti Junita dari Prodi Manajemen Pendidikan Islam dan Erni Fitriani Prodi Tadris Biologi yang kesemuanya merupakan mahasiswi semester IV IAIN Jember. Keduanya mampu menyingkirkan para peserta lainnya untuk menjadi peserta terbaik dalam acara wokshop jurnalistik tersebut.

Perlu diketahui acara workshop tersebut diadakan oleh Media Center Fakultas Syariah IAIN Jember selama dua hari, yaitu pada tanggal 14-15 Maret 2020. Peserta terbaik dipilih berdasarkan hasil dari karya tulisannya selama mengikuti acara tersebut.

Prof. Dr. Kiai M Noor Harisudin, M. Fil. I, yang merupakan Dekan Fakultas Syariah IAIN Jember menutup acara workshop tersebut. Dalam sambutannya, ia memotivasi semua peserta untuk tidak berhenti menulis.

“Jangan sampai berhenti menulis karena dengan menulis kita bisa pergi keluar kota hingga keluar negeri, bisa populer, dapat honor dan yang menarik bertemu tokoh besar”, ujar Prof Kiai Haris yang juga Wakil Ketua Lembaga Dakwah NU Jawa Timur tersebut.

Salah satu maha santri tersebut yang ditemui oleh media misalnya. Erni, demikian akrab dipanggil yang merupakan maha santri asuhan Prof Kiai Haris ini merasa sangat bahagia.

“Saya sangat berterima kasih terutama kepada Allah karena lewat acara ini saya bisa mengembangkan apa yang saya miliki.  Lewat acara ini saya lebih belajar percaya diri akan kemampuan yang saya miliki. Semoga ini menjadi langkah untuk menjadi lebih baik kedepannya”,  ujar maha santri asal Nganjuk tersebut.

Reporter: Media Center PP Darul Hikam/M Irwan Zamroni Ali.

Categories
Keislaman

Demonstrasi Mahasiswa Harus Keren dan Sesuai SDGs

Jember, 28 Pebruari 2020
Guru Besar IAIN Jember, Prof. Dr. Kiai M. Noor Harisudin, M.Fil.I mengusulkan agar demonstrasi mahasiswa harus keren dan sesuai SDGs. Demikian disampaikan dalam acara Dialog Kebangsaan “Kedudukan Empat Pilar Kebangsaan Ekonomi dalam Mewujudkan SDGs 2045”, di auditorium GKT Lantai 3 IAIN Jember, pada  Jum’at, 28 Pebruari 2020.

Hadir pada Dialog Kebangsaan Forum Lembaga Legislatif Mahasiswa Indonesia (FL2MI) se-Jawa Timur itu sejumlah nara sumber: Prof. Kiai Haris (Ketua Umum ASPIRASI dan Dekan Fakultas Syariah IAIN Jember), Aminudin Ma’ruf (Staf Khusus Presiden RI), Kusnadi, SH, MH (Ketua DPRD Jatim), Kompol Agus (Polda Jatim) dan ibu Hari (Anggota DPRD Jatim). Selain itu, ratusan mahasiswa dan perwakilan Sema se-Jatim hadir memenuhi aula Auditorium tersebut.

Kusnadi, Ketua DPRD Jawa Timur, menyampaikan bahwa tantangan sekarang lebih berat. “Kita dihadapkan pada Neo-Liberalisme di mana-mana”, ujar Ketua DPRD Jawa Timur tersebut.

Sementara, Aminudin Ma’ruf menyampaikan bahwa membaca anak muda sama dengan membaca masa depan Indonesia.  “Generasi milenial seharusnya ada di garda depan perubahan menjadi Indonesia emas 2045”, tukas mantan Ketua Umum PB Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia tersebut.

Prof Kiai Haris menyebut pentingnya generasi milenial untuk melakukan percepatan SDGs di Indonesia. Empat pilar yang menjadi nilai-nilai keindonesiaan (Indonesian Values) harus dibumikan dalam kehidupan millenial. Harapannya Indonesia menjadi maju seperti ketetapan WTO Pebruari 2020 yang mengeluarkan Indonesia dari negara berkembang dan menjadi negara maju. “Kalau positif thinking, seharusnya ini menjadi start Indonesia emas 2045, bukan malah menolaknya”, ujar Prof. Kiai Haris yang juga Wakil Ketua PW Lembaga Dakwah NU Jawa Timur tersebut.

” Karena itu, adik-adik mahasiswa harus bergeser. Kalau demonstrasi ya harus keren dan berkaitan SDGs. Misalnya tentang peace (perdamaian) di New Delhi India, sarana difabel di kampus yang belum ada, lapangan kerja yang minim dan tema SDGs yang lain. Karena SDGs itu kalau dalam Islam sama dengan Maqashidus Syariah “, ujar Prof Kiai Haris yang juga Sekretaris Forum Dekan Fakultas Syariah dan Hukum PTKIN se-Indonesia.
(Irwan/Media Center Darul Hikam).

Categories
Opini

SDGs, Maqashidus Syariah dan Generasi Milenial 4.0

Meski agak terlambat, gema SDGs masih kita rasakan di Jember. Apalagi ketika Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Jember dan sejumlah perguruan tinggi di Jember seperti IAIN Jember dan Universitas Jember ikut mendiskusikan, (mungkin) mengkritik bahkan malah mengimplementasikan SDGs di sejumlah kabupaten Jember. Kita melihat dengan seksama, gencarnya kampanye SDGs oleh Baznas dengan membangun kampung-kampungnya bahkan di pelosok tertinggal Jember. Tidak penting, apakah orang kampung di pelosok itu paham tentang SDGs atau tidak. Dalam amatan saya, kampanye ini relatif berhasil.

Lalu, pertanyaannya: ‘makhluk’ apa SDGs itu? SDGs adalah singkatan dari Sustainable Development Goals. Sustainable Development Goals adalah tujuan pembangunan berkelanjutan yang disahkan 25 September 2015 di Markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York. Tak kurang dari 193 kepala negara di dunia hadir. Dari Indonesia diwakili oleh Wakil Presiden saat itu, Yusuf Kalla.

Berbeda dari pendahulunya Millennium Development Goals (MDGs), SDGs dirancang dengan melibatkan seluruh aktor pembangunan, baik itu pemerintah, civil society organization (CSO), sektor swasta, maupun akademisi, dan sebagainya. Kurang lebih 8,5 juta suara warga di seluruh dunia juga berkontribusi terhadap tujuan dan target SDGs.

Tema pertemuan saat itu adalah “Mengubah Dunia Kita: Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan”. SDGs sendiri berisi 17 tujuan dengan menerapkan 169 target yang merupakan aksi global sejak tahun 2016 sampai dengan 2030. Tujuan akhirnya agar tidak ada kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan. SDGs berlaku bagi seluruh negara (universal), sehingga seluruh negara tanpa kecuali negara maju memiliki kewajiban moral untuk mencapai tujuan dan target SDGs.

Secara ringkas, 17 tujuan SDGs sebagaimana berikut: (1) Menghapus kemiskinan (2) Mengakhiri kelaparan; (3) Kesehatan yang baik dan kesejahteraan; (4) Pendidikan bermutu; (5) Kesetaraan gender; (6) Akses air bersih dan sanitasi; (7) Energi bersih dan terjangkau; (8) Pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi; (9) Infrastruktur industri dan inovasi; (10) Mengurangi ketimpangan; (11) Kota dan komunitas yang berkelanjutan; (12) Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab; (13) Penanganan perubahan iklim; (14) Menjaga ekosistem laut; (15) Menjaga ekosistem darat; (16) Perdamaian, keadilan dan kelembagaan yang kuat; dan (17) Kemitraan untuk mencapai tujuan.

Dalam pandangan saya, SDGs adalah konsensus bersama tentang kemaslahatan universal yang sesuai dengan Islam. Dalam kajian keislaman, demikian ini disebut dengan “Maqahidus syari’ah “ yang bersifat ammah.

Tentang Maqashidus Syariah ini, Ibnu al-Qayyim, I’lam al-Muwaqqiin an Rabb al-Alamin (1973: 333), mengatakan: “Sesungguhnya syariat itu bangunan dan fondasinya didasarkan pada kebijaksanaan (hikmah) dan kemaslahatan para hambanya di dunia dan akhirat. Syariat secara keseluruhannya adalah keadilan, rahmat, kebijaksanaan dan kemaslahatan. Maka dari itu, segala perkara yang mengabaikan keadilan demi tirani, kasih sayang pada sebaliknya, kemaslahatan pada ke-mafsadat-an, kebijaksanaan pada kesia-siaan, maka itu bukan syariat, meskipun semua itu dimasukkan ke dalamnya melalui interpretasi.”

Selanjutnya, Imam Al-Ghazali (Abu Zahra: 1994) menjelaskan detail Maqashid yang kembali pada maslahat yang di-breakdown dengan“…Akan tetapi, yang kita maksud dengan maslahah adalah maqshud as-syar’i. Sementara tujuan syar’i dari makhluk adalah memelihara agama, jiwa, akal, harta, dan keturunan. Setiap sesuatu yang mengandung lima hal ini adalah maslahah. Sementara, yang tidak mengandung lima ini adalah mafsadah dan menolaknya termasuk maslahah…”

Para pemikir dan tokoh Maqashid Syariah yang lain seperti Ramadlan al-Buthi, Jamaludin Athiyah, Jaser Auda, Ar-Raisuni, Bin Bayah, dan sebagainya lebih detail lagi menyebut dalam domain keluarga (Maqashid al-Usrah), ekonomi (Maqashid al-Iqtishad), lingkungan hidup (Maqashid al-bi’ah), dan maqashid-maqashid lainnya. Oleh karena itu, hemat saya, SDGs adalah “Maqashid Syariah” yang menjadi konsensus umat dunia yang tidak dapat diingkari keberadaannya dan bersifat universal.

Pertanyaan selanjutnya: lalu, apa yang bisa dilakukan terutama generasi milenial untuk program SDGs tersebut? Pertama, generasi milenial harus sadar bahwa problem radikalisme ekonomi menjadi ancaman serius ‘daripada radikalisme agama’. Problem kemiskinan akut harus diselesaikan dengan segera. Kesadaran ini menjadi penting sebagai starting point generasi milenial di masa sekarang.

Kedua, generasi milenial tidak perlu lagi melakukan provokasi ala komunisme terhadap publik luas. Namun, mereka harus melakukan upaya-upaya yang membangun Indonesia dengan memperkuat ekonomi. Dengan kata lain, generasi milenial harus muncul menjadi pengusaha-pengusaha hebat yang menguatkan ekonomi Indonesia dan turut serta menyejahterakan masyarakat Indonesia.

Ketiga, generasi milenial harus sinergi dan bekerja sama dengan bukan hanya jejaring di negeri sendiri, namun juga luar negeri untuk membangun dan mempercepat tercapainya tujuan dan target SDGs di Indonesia di 2030 nanti. Mereka harus bergerak bersama komunitas lain di dunia untuk mencapai cita-cita kemaslahatan yang bersifat universal tersebut.

Keempat, menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi paling mutakhir, generasi milenial harus hadir di garda terdepan, dari mengampanyekan hingga mengimplementasikan tujuan SDGs tersebut dalam kehidupan. Artinya, era revolusi industri 4.0 di masa sekarang harus menjadi ‘teman’ dan ‘alat’ generasi milenial untuk mencapai tujuan dan target SDGs pada tahun 2030 nanti. Semoga. Wallahu’alam!

(Prof. Dr. HM. Noor Harisudin, M.Fil.I., Guru Besar dan Dosen Pascasarjana IAIN Jember, Dekan Fakultas Syariah IAIN Jember, Ketua Umum ASPIRASI).

Categories
Keislaman

Puluhan Peserta Mengikuti FGD Rekonstruksi Fikih Zakat

Fakultas Syari’ah IAIN Jember bekerjasama dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Jember kembali melaksanakan event akademis yang dikemas dalam  Focus Group Discussion dengan tema “Rekonstruksi Fikih Zakat dari Dimensi Ibadah menuju Mu’amalah” yang menghadirkan narasumber  K.H. Afifuddin Muhajir, M.Ag,  Ro’is Syuri’ah PBNU dan Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Kali ini sosok yang akrab disapa Kyai Afif itu menjadi narasumber pada acara FGD yang diselenggarakan oleh Fakultas Syari’ah IAIN Jember bersama BAZNAS Kabupaten Jember, Rabu (08/01/2019) dengan tema “ Rekonstruksi Fikih Zakat dari Dimensi Ibadah menuju Mu’amalah”.

Dalam acara FGD ini dihadiri oleh akademisi/ dosen serta praktisi, adapun peserta antara lain dosen di lingkungan IAIN Jember yakni dari Fakultas Syari’ah, Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Lembaga Amil Zakat,  Keluarga Alumni Ma’had Aly (Kamali), pengurus Baznas dan para mahasiswa.

K.H. Misbahus Salam,  Ketua BAZNAS Jember dalam sambutannya menyampaikan sangat senang dan antusias dengan adanya Focus Group Discussion  ini dan berharap  pelaksanaan FGD ini dapat menjadi masukan dalam pengelolaan zakat, infaq dan shodaqoh di Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten Jember.

“Kami pengelola zakat maal dan zakat fitrah sangat penting untuk menerima masukan, karena makna zakat tidak hanya bermakna Ibadah. Sehingga zakat itu juga bisa bermanfaat dalam pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, memberikan beasiswa Jember Cerdas. Hal tersebut  mungkin konteks makna fisabilillah. Maka dari itu agar kami pengelola zakat, infaq dan shodaqoh itu sesuai dengan fikih, dan sesuai dengan aturan syari’ah, maka sangat penting adanya FGD ini. Apalagi dengan adanya Rois Syuri’ah PBNU (K.H. Afifuddin Muhajir, M.Ag, red) sehingga kami mempunyai pijakan yang jelas bagaimana pengelolaan zakat infaq dan shodaqoh itu sesuai dengan syari’ah.” Begitu sambutan dari K.H. Misbahus Salam, M.Pd.I.

Sedangkan Dekan Fakultas Syari’ah IAIN Jember Prof. Dr. M. Noor Harisudin, M.Fil.I mengapresiasi acara Focus Group Discussion  yang dilaksanakan  di Gedung Baru Fakultas Syari’ah IAIN Jember. Prof Haris menyampaikan bahwa kegiatan FGD ini merupakan bentuk realisasi adanya MoU yang sudah ditanda tangani antara BAZNAS Kabupaten Jember dengan Fakultas Syari’ah IAIN Jember. “Alhamdulillah Kyai Misbah ini merupakan sosok yang inspirasional dan saya doakan jadi pengurus BAZNAS pusat, dan sudah pantas untuk pindah dari Jember ke Jakarta”, sambutan pembuka Prof Haris disambut tepuk tangan oleh peserta FGD.

“Terima kasih ini kelanjutan dari kegiatan kerjasama antara Fakultas Syari’ah IAIN Jember dengan BAZNAS Kabupaten Jember, kami di Fakultas Syari’ah ingin menjadikan Fakultas Syari’ah di IAIN Jember menjadi pusat kajian Ilmu. Jadi, Kyai Afif hadir di Fakultas Syari’ah untuk yang kedua kalinya, Beliau sebelumnya hadir di gedung yang lama pada tahun 2019, sekarang Beliau hadir di Fakultas Syari’ah dengan gedung yang baru. InsyaAllah Kyai, di tahun 2020 IAIN Jember berubah menjadi UIN K.H. Ahmad Shiddiq mohon do’anya Kyai. Jadi disini ada akademisi zakat, ada ilmuwan, banyak yang hadir untuk diskusi pada pagi ini, dan yang cocok adalah Focus Group Discussion karena pertanyaan-pertanyaan yang kritis akan muncul di Focus Group Discussion. Tokoh yang ahli ilmu fiqh di Indonesia tidak banyak setelah meninggalnya K.H. Maimun Zubair, yang ahli ushul fiqh adalah K.H. Afifuddin Muhajir, kita doakan Beliau selalu diberikan kesehatan dan memberikan pencerahan pada umat dan masyarakat,  karena Beliau sangat dibutuhkan”, begitu penyampain Prof. Haris yang juga Sekretaris Forum Dekan Fakultas Syari’ah dan Hukum Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) Seluruh Indonesia.

Acara FGD ini kemudian dilanjutkan materi inti FGD yang disampaikan oleh K.H. Afifuddin Muhajir,M.Ag,  Rois Syuriah PBNU dan Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyyah Sukorejo Situbondo. Beliau banyak sekali menjelaskan perbedaan antara Fikih Ibadah dan Fikih Mu’amalah terlebih lagi judul materi FGD adalah judul dari disertasi dari A. Muhyiddin Khotib dengan judul  “Rekonstruksi Fikih Zakat dari Dimensi Ibadah Menuju Mu’amalah dalam Perspektif Maqasid al-Syari’ah  yang sudah diuji disidang terbuka program pascasarja UINSA Surabaya.

“Fikih ibadah adalah fikih yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan-nya, sedangkan fikih Mu’amalah merupakan fikih yang mengatur hubungan antar sesama manusia. Fikih Ibadah dan fikih Mu’amalah memiliki prinsip-prinsip yang berbeda.  Salah satu prinsipnya, Fikih Ibadah mengatur hubungan hamba dengan Tuhannya dalam beribadah sesuai dengan perintah Al-Qur’an dan Al-Hadits.  Sedangkan fikih Mu’amalah yang dilihat dari mu’amalah itu bukan bungkus melainkan substansi. Selanjutnya bahwa fikih Mu’amalah itu prinsip dibangun atas dasar kemaslahatan, dan meletakkan zakat bagian dari mu’amalah memberikan tempat bagi kita dan  para fuqoha’ untuk bisa berfikir mengenai persoalan-persoalan zakat”,  begitu penjelasan dari Kyai Afifuddin Muhajir dalam pembukaan Focus Group Discussion Dimensi Fikih Zakat dari Dimensi Ibadah menuju Mu’amalah.

Tanya jawab dalam FGD ini cukup menarik sehingga menarik banyak  audiens untuk bertukar pikiran mengenai pengelolaan zakat, hingga perbedaan antara pajak dan zakat. Focus Grup Discussin dengan tema Rekonstruksi Fikih Zakat dari dimensi Ibadah munuju Mu’amalah merupakan rangkaian kegiatan Fakultas Syari’ah di awal tahun 2020. Dengan ada nya kegiatan FGD ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat dan akademisi mengenai pentingnya pengelolaan zakat. Dan bagi Fakultas Syari’ah IAIN Jember FGD Rekonstruksi Fikih Zakat dan dapat menjadi milestone Fakultas Syari’ah IAIN Jember menjadi pusat kajian keilmuan di Indonesia, sehingga pada tahun 2030 menjadi Perguruan Tinggi yang bereputasi di Asia Tenggara sesuai dengan visi misi Fakultas Syari’ah IAIN Jember. (Basuki/ Media Center)

Categories
Madrasah Diniyah Awwaliyah

Malam Penutupan Haflah Imtihan PP Darul Hikam Jember Berlangsung Meriah

Kamis, 19 Desember 2019. Haflatul Imtihan Pondok Pesantren Darul Hikam Jember berakhir sudah.  Acara penutupan Haflatul Imtihan tersebut dilaksanakan di Pondok Cabang Darul Hikam Mangli, Jember. Dan dihadiri langsung oleh pengasuh Pondok Pesantren Darul Hikam yang sekaligus Dekan Fakultas Syariah IAIN Jember Prof Dr Kiai M Noor Harisudin beserta Istrinya Nyai Robiatul Adawiyah dan Para Ustadz Ustadzah Ponpes Darul Hikam.

Tepat Pukul 18:30 Waktu Indonesia Barat (WIB) acara tersebut dibuka dengan pembacaan Surat Al-Fatihah oleh Ustad Muhyidin serta pembacaan Sholawat Nariyah yang dipimpin langsung oleh Pengasuh PP Darul Hikam, Prof Dr Kiai Harisudin secara bersama-sama yang diikuti oleh puluhan santri putri PP Darul Hikam.

“Adik- adik santri Darul Hikam saya berharap dengan adanya acara ini menjadikan kalian mempunyai sifat Competition Spirit. Karena IPK yang tinggi dikampus itu tidak cukup, kalian harus juga mempunyai kelebihan yang lain dalam spirit kompetisi tersebut. Termasuk juga kelebihan ilmu agama dan akhlak yang diperoleh di Pondok Darul Hikam ini”, ungkap Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hikam, Prof Dr Kiai Harisudin, yang juga Ketua Asosiasi Penulis dan Peneliti Islam Nusantara Seluruh Indonesia tersebut.

Dan pada puncak kegiatan diselingi dengan pembagian hadiah lomba baca kitab kuning, lomba cerdas cermat serta lomba tahfidz. Pembagian hadiah tersebut diiringi sorak sorai para santri PP darul Hikam acara pembagian hadiah tersebut dipimpin oleh Nyai Robiatul Adawiyah dan dilanjutkan dengan sesi foto bersama.

Acara tersebut diakhiri dengan pembacaan doa yang dipimpin langsung oleh pengasuh Pondok Pesantren Darul Hikam, Prof. Dr. Kiai M Noor Harisudin. (Media Center PP Darul Hikam/Irwan)

Categories
Sains

Guru Besar IAIN Jember Dorong Pemerintah Jokowi Aktif Back Up Perbankan Syariah

Jember, 12 Desember 2019.

Bekerja sama dengan Bank Syariah Mandiri, Fakultas Syariah IAIN Jember menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema “Menuju Sistem Ekonomi dan Perbankan Yang Berorientasi Kemaslahatan”, pada Kamis, 12 Desember 2019 di Auditorium Gedung Kuliah Terpadu IAIN Jember. Hadir sebagai Narasumber pada kesempatan itu, Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE, MM (Rektor IAIN Jember), Ust Saptono, Lc, M.Si (Head of Complaince BSM Kantor Pusat Jakarta), dan Prof. Dr. Kiai M Noor Harisudin, M. Fil.I (Dekan Fakultas Syariah IAIN Jember). Acara yang dihadiri kurang lebih 600 mahasiswa Prodi Hukum Ekonomi Syariah dan Fakultas Syariah ini berlangsung gayeng dengan moderator Bapak Ali Saifudin Zuhri, MEI.

Ust. Saptono menjelaskan tentang Perbankan Syariah yang berorientasi maslahah. “Kalau Bank Syariah insyaallah jelas maslahah. Beda dengan Bank Konvensional”, jelas kandidat doktor Universitas Brawijaya yang juga Head of Complaince Bank Syariah Mandiri Kantor Pusat Jakarta tersebut.

Sementara, Prof Kiai Haris melakukan testimoni teknologi BSM yang canggih. “Ketika di Sydney Australia, saya ambil uang dolar melalui ATM Prioritas BSM. Ini kan luar biasa”, pungkas Wakil Ketua PW Lembaga Dakwah NU Jawa Timur tersebut.

Hanya saja, Bank Syariah harus melakukan terobosan agar bisa naik dari 6 persen.”Ini kan aneh. Umat Islam mayoritas, pengguna bank Syariah minoritas. “Selain dukungan pemerintah Jokowi yang aktif back up Bank Syariah, terobosan harus dilakukan untuk mencapai penetrasi Bank Syariah hingga 30 persen”, lanjut Prof Kiai Haris yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hikam Mangli Jember tersebut.

Sebelumnya, acara yang dibuka Rektor IAIN Jember, Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE, MM ini juga diteruskan dengan MoU antara Fakultas Syariah IAIN Jember dan Bank Syariah Mandiri Jember. (Media Center/Faris).

Categories
Uncategorised

Kuliah Umum Bersama Hakim Konstitusi Republik Indonesia

Program Studi Hukum Tata Negara Fakultas Syariah IAIN Jember bekerjasama dengan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia dalam menyelenggarakan Kuliah Umum yang bertajuk “Problematika Penyelesaian Sengketa Hasil Pemilu di Mahkamah Konstitusi”. Kuliah Umum tersebut menghadirkan Dr. Wahiduddin Adams, S.H., M.A (Hakim Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia) dan Dr. Wiryanto, SHI, MH. ( Kabiro Hukum dan Administrasi Kepaniteraan MK).

Kegiatan yang diwajibkan bagi seluruh mahasiswa Hukum Tata Negara dan terbuka untuk umum itu diselenggarakan pada Kamis (21/11) di Gedung Kuliah Terpadu IAIN Jember. Acara tersebut dihadiri kurang lebih delapan ratus peserta terdiri dari Pimpinan, Dosen, Mahasiswa dan Tamu undangan.

Kuliah umum ini berlangsung dengan khidmat diawali dengan pembacaan laporan yang dibacakan langsung oleh Dr. Wiryanto, SHI, MH. selaku Kabiro Hukum dan Administrasi Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi.

Rektor IAIN Jember Prof. Dr. Babun Soeharto S.E.,M.M. dalam sambutannya mengatakan, kuliah umum seperti ini cukup penting karena selain menambah wawasan mahasiswa, kegiatan ini juga dapat membuktikan pada universitas lain bahwa kampus IAIN Jember memang kampus yang berada di kota kecil namun wawasannya tidak kalah dengan kampus ternama lainnya.

Pada kesempatan tersebut, Dr. Wahiduddin Adams mengenalkan kepada seluruh peserta yang hadir bahwa Indonesia menganut sistem demokrasi sejak 1945, ciri-ciri demokrasi yaitu adanya pemilu. Pemilu adalah sebagai sarana bagi masyarakat untuk memilih pemimpin nasional yang diadakan 5 tahun sekali yang diatur dalam UU no 7 tahun 2017 tentang UU Pemilu. Potensi masalah pemilu  meliputi pelanggaran administratif, pelanggaran tindak pidana, masalah sengketa hasil perhitungan suara. Selain itu, beliau menyebutkan tugas-tugas dan wewenang MK, sengketa pemilihan kepala daerah dan pemilu serentak.

“Tempat itu dapat dikatakan berkah dilihat dari siapa saja yang pernah singgah dan fakultas syariah adalah salah satu tempat yang berkah karena disinggahi oleh hakim konstitusi RI. Dan perlu diingat bahwa hal apapun mengenai masyarakat kita harus tetap optimis”. Ujar  Dr. Wahiduddin Adams diakhir acara sembari memberikan kesempatan mahasiswa IAIN Jember untuk PPL di Mahkamah Konstitusi Jakarta. Sebelumnya ditanda tangani nota kesepahaman antara IAIN Jember dan Mahkamah Konstitusi dalam bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dalam beberapa tahun yang akan datang.

Sementara itu, Dekan Fakultas Syariah Prof. Dr. M. Noor Harisuddin M.Fil.I yang turut hadir dalam acara tersebut menyampaikan bahwa kuliah umum ini adalah salah satu bentuk kerja sama yang dijalin Fakultas Syariah IAIN Jember dengan MK RI dalam mengembangkan intelektual hukum mahasiswa Fakultas Syariah khususnya mahasiswa Hukum Tata Negara. (media center/ nadawildan).

Categories
Sains

Sabbatical Leave 2019 Ladang Ilmu dan Percepatan Transformasi IAIN jadi UIN

RAKYATCIREBNON.CO.ID – IAIN Syekh Nurjati Cirebon Sabbatical Leave 2019. Kegiatan ini bakal digelar selama dua pekan. Pembukaanya dilakukan Senin (4/11) di Gedung Rektorat.  Dua guru besar, Prof Dr Azis Farurrozi MA  dari UIN Jakarta dan Prof Dr M Noor Harisuddin MFilI  dari IAIN Jember didapuk sebagai pembicara.

Rektor IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Dr H Sumanta Hasyim MAg menjelaskan, pihaknya telah instruksikan kepada  LPPM, LPM, fakultas,  jurusan dan pascasarjana untuk bisa memanfaatkan kehadiran dua guru besar tersebut. Menurutnya, ada banyak manfaat yang bisa diambil.

Manfaat yang dapat diserap dari kegiatan ini, lanjut dia, ialah terkait inovasi program pembelajaran, penelitian, pengelolaan lembaga, kajian keilmiahan, pendirian jurusan, pendirian fakultas, dan pendirian lembaga.  Pasalnya, ungkap Sumanta, kedua narasumber tersebut kaya akan pengalaman dan memiliki terobosan.

“Prof Haris itu profesor muda, beliau mempunyai inovasi yang dapat kita serap. Sedangkan Prof Azis ini lebih senior, beliau mempunyai banyak pengalaman dan seorang asesor,” ungkapnya kepada Rakyat Cirebon.

Bahkan pendirian program doktoral  di IAIN Cirebon salah satunya dibidani oleh guru besar Prof Azis.  “Jadi dia juga punya kontribusi dalam pendirian S3 kita. Sehingga strata kita lengkap, tidak hanya strata 1 dan 2 saja, tapi juga sampai strata 3. Yaitu, program sarjana, magister, dan doktor,” ungkapnya.

Secara teknis, Sabbatical Leave  juga sebagai salahsatu persiapan untuk transformasi IAIN menjadi UIN. Pasalnya, selain luas lahan dan jumlah mahasiswa, pengembangan jurusan  dan fakultas juga merupakan salah satu persyaratan yang harus dipenuhi.

“Karena secara otomatis transformasi menjadi UIN kan ada pengembangan prodi, pengembangan fakultas, penunjang infrastruktur, peningkatan akses, jumlah mahasiswa. Itu semua kan jadi syarat-syarat semua,” ucapnya.  (wan)

Categories
Uncategorised

Sabbatical Leave 2019 di IAIN Cirebon Tingkatkan Kualitas Akademik dan Persiapan Transformasi Menjadi UIN

CIREBON, SC- Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon melaksanakan kegiatan Sabbatical Leave 2019 dengan narasumber guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Dr Azis Farurrozi MA dan guru besar IAIN Jember, Prof Dr M Noor Harisuddin MFilI di lantai 3 gedung rektorat kampus setempat, Senin (4/11/2019).

Rektor IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Dr H Sumanta Hasyim MAg menjelaskan, dengan adanya kegiatan yang akan dilaksanakan selama 2 pekan ini, pihaknya telah menginstruksikan semua lembaga di IAIN Cirebon, seperti LPPM, LPM, fakultas, dan pascasarjana untuk bisa memanfaatkan kehadiran dua profesor yang menjadi narasumber tersebut untuk kemajuan kampus ini.

“Saya minta untuk diambil ilmu dan pelajarannya demi pengembangan lembaga dan peningkatan kualitas akademik kampus ini. Dari lembaga tentu kami akan mengambil manfaat dan pelajaran dari keduanya,” kata Sumanta di ruang kerjanya usai membuka kegiatan tersebut.

Manfaat yang dapat diserap dari kegiatan ini, lanjut dia, ialah terkait inovasi untuk program pembelajaran, penelitian, pengelolaan lembaga, kajian keilmiahan, pendirian prodi, pendirian fakultas, dan pendirian lembaga. Pasalnya, ungkap Sumanta, kedua narasumber tersebut kaya akan pengalaman dan memiliki terobosan yang bisa diserap dan diimplementasikan demi kemajuan IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

“Prof Haris itu profesor muda, beliau mempunyai inovasi yang dapat kita serap. Sedangkan Prof Azis ini lebih senior, beliau mempunyai banyak pengalaman dan seorang asesor. Bahkan pendirian S3 di IAIN Cirebon ini juga asesornya beliau. Jadi dia juga punya kontribusi dalam pendirian S3 kita. Sehingga strata kita lengkap, tidak hanya strata 1 dan 2 saja, tapi juga sampai strata 3. Yaitu, program sarjana, magister, dan doktor,” ungkapnya.

Selain itu, kata Sumanta, kegiatan ini juga sebagai salahsatu persiapan untuk transformasi kampus tersebut dari IAIN menjadi UIN. Pasalnya, selain luas lahan dan jumlah mahasiswa, pengembangan prodi dan fakultas juga merupakan salahsatu persyaratan yang harus dipenuhi.

“Oh betul (salahsatu persiapan untuk bertransformasi dari IAIN menjadi UIN). Semua perangkat yang ada itu kan memang arahnya ke sana. Karena secara otomatis transformasi menjadi UIN kan ada pengembangan prodi, pengembangan fakultas, penunjang infrastruktur, peningkatan akses, jumlah mahasiswa. Itu semua kan jadi syarat-syarat semua,” ucapnya.

Untuk itu, kata Sumanta, titik tekan dari kegiatan ini adalah bagaimana narasumber ini bisa memberikan sentuhan akademik demi kemajuan pengembangan lembaga di perguruan tinggi, khususnya di IAIN Syekh Nurjati Cirebon ini. Karena fokus dari kegiatan ini yang sudah dihadirkan oleh Direktorat Jendral Pendidikan Islam (Pendis) dan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kementerian Agama ke kampus ini dalam rangka peningkatan mutu akademik dan pengembangan lembaga.

“Karena dari kedua tokoh ini banyak pengalaman-pengalaman, keilmuan-keilmuan, keahlian yang kita dapatkan. Harapannya setelah kegiatan ini, atau outputnya pembelajaran, peningkatan akademik di lingkungan IAIN Syekh Nurjati Cirebon semakin bergairah. Dosen-dosennya semakin terpacu untuk melakukan kegiatan akademik yang inovatif yang dapat berkompetisi. Sehingga apa yang menjadi garapan kita dapat terangkat,” pungkasnya. (Arif)

Categories
Dunia Islam

Maulid, Momentum Hadirkan Nabi di Tengah Kehidupan

Cirebon, NU Online 

Guru Besar IAIN Jember, KH M Noor Harisudin mengatakan Maulid Nabi adalah momentum bagi umat Islam untuk terus menghadirkan Nabi. Dengan selalu menghadirkan Nabi Saw, umat Islam akan dijauhkan dari azab.   

“Seperti disebutkan dalam Al-Qur’an QS  Al Anfal ayat 33, ada dua hal yang menjadikan diurungkannya azab; yaitu karena  kehadiran Nabi Saw dan orang- orang yang meminta ampun pada Allah Swt. Keduanya menjadikan azab menjadi jauh dari umat,” kata kiai yang juga Wakil Ketua LDNU Jawa Timur ini.

Dalam Khutbah Jumat di Masjid IAIN Shekh Nurjati Cirebon, Jawa Barat, Jumat (8/11), selain menghadirkan Nabi Saw, Maulid juga hendaknya dapat dijadikan inspirasi meneladani Nabi.

“Ketika Nabi Saw wafat, Abu Bakar langsung datang ke Aisyah. Abu Bakar bertanya, ‘Apa ada sunah Nabi yang belum saya lakukan?” ia mengisahkan.

Akhirnya, Siti Aisyah bercerita tentang kebiasaan Nabi Muhammad yang setiap hari memberi makan orang Yahudi yang buta di pasar Madinah. Abu Bakar lalu mempraktikkannya, memberi makan Yahudi miskin dan buta seperti disebutkan dalam Sirah Nabawiyah.

“Pertanyaan Sahabat Abu Bakar ini yang mesti kita tanyakan pada diri kita: Apakah ada sunah Nabi yang belum kita praktikkan di bulan maulid Nabi ini,” ujar Director of World Moslem Studies Center yang berkedudukan di Bekasi tersebut.

Pada sisi lain, Maulid Nabi Saw juga menjadi momentum untuk mencapai keberislaman yang mendarah daging (being) seperti penggambaran Aisyah tentang akhlak Nabi yang seperti Al-Qur’an.

“Seperti kita tahu, Islam baru diajarkan sebatas knowing (pengetahuan). Islam  belum diteruskan pada doing bahkan being. Karena itu, maulid Nabi adalah momentum untuk men-carger Islam kita agar menjadi being,” tegas Ketua Umum Asosiasi Penulis dan Peneliti Islam Nusantara Seluruh Indonesia.

Ia mencontohkan, misalnya umat Islam membaca hadits yang menyatakan bahwa kebersihan sebagian dari iman. Banyak dari umat Islam yang belum mempraktikkan, apalagi sampai mendarah daging dalam kehidupan.   

Kontributor: Sohibul Ulum 
Editor: Kendi Setiawan