Categories
Madrasah Diniyah Awwaliyah

Tangkap Peluang Beasiswa Luar  Negeri, Ponpes Darul Hikam Undang Mahasiswa Ph. D Sidney Australia

Media Center Darul Hikam – Bagi tipe orang yang menyukai tantangan dan hal baru, belajar di luar negeri adalah pilihan yang tepat. Pasalnya, belajar di luar negeri merupakan kesempatan untuk mendapatkan wawasan global sehingga nantinya akan bermanfaat bagi bangsa dan negaranya. Mendukung dari hal itu, Pondok Pesantren Darul Hikam Jember mengadakan Bincang Santai bersama Imam Abdul Malik, Mahasiswa S3 Sydney Australia “Beasiswa, Sistem Pendidikan & Peluang Belajar di Australia” pada Senin (22/11).

Acara yang digelar di PP Darul Hikam Putra Ajung menghadirkan Imam Malik Riduan, Ph.D. sebagai Mahasiswa S3 Program Doktor di School Of Sciences Western Sydney University Australia. Pengasuh PP Darul Hikam, Prof. Dr. Kiai M. Noor Harisudin, M.Fil.I. berharap para santriwan dan santriwati mengambil ibrah bahkan bisa mendapatkan beasiswa di luar negeri.

“Belajar di luar negeri adalah sarana kita untuk mendapatkan ilmu dan pengalaman yang lebih luas. Semoga para santri Darul Hikam berkesempatan menuntut ilmu di berbagai negara di dunia, seperti Australia, Taiwan dan sebagainya, ”terangnya yang juga Dekan Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri KH. Achmad Siddiq Jember itu.

Pada acara itu, Imam Malik berkesempatan membagikan cerita seputar perjuangannya untuk meraih beasiswa di luar negeri di tahun 2018 itu. Menurutnya, kuatnya keinginan dan doa saat di Pesantren yang kini membuatnya sukses meraih beasiswa di Australia.

“Cita-cita untuk kuliah di luar negeri telah ada semenjak saya di Pesantren. Kala itu ada mahasiswa Salafiyah yang dikirim ke Pakistan dan diiringi dengan meriah, saat itulah muncul keinginan saya untuk bisa kuliah di luar negeri, ”ujar Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

Selain itu, Imam Malik juga membagikan strategi agar bisa meraih beasiswa di luar negeri. Salah satunya adalah mengembangkan keuletan diri dan pantang menyerah.

“Jangan takut untuk bercita-cita tinggi, namun juga harus disertai dengan kerja keras dan berani mencoba. Jangan sampai tergoda dengan suatu hal yang tidak berdampak pada target kita, ”ujar Co-Founder Peace Media Lab Mahasiswa Ph.D.

Kemampuan mengembangkan relasi dan teknik pemecahan masalah adalah keterampilan yang harus disiapkan oleh calon penerima beassiwa luar negeri.

“Pastinya kita akan bertemu dengan orang dengan etnis, latar belakang serta kemampuan yang berbeda. Jadi jalinlah relaisi dengan baik serta ceritakanlah dengan argument yang indah dan menarik, ”lanjutnya.

Persyaratan lain yang juga harus dipenuhi adalah nilai akademik harus di atas rata-rata, aktif di kegiatan sosial, kemampuan linguistik serta kesehatan jiwa.

Di sesi akhir, Imam Malik mengatakan bahwa belajar di luar negeri adalah surga bagi para pencari ilmu. Sebab budaya akademik yang dibangun adalah saling menghargai gagasan namun tetap kritis dalam membangun sumber teori yang digunakan.

“Buatlah manajemen waktu dengan baik, manfaatkan sumber belajar yang saat ini sangat mudah diakses. Bacalah dengan teliti persyaratan beasiswa dan jangan lupa berdoa kepada Yang Maha Kuasa, ”pungkas Alumni S2 Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu.

Reporter: Siti Junita

Categories
Keislaman

Pengasuh Darul Hikam Jember: Berdakwah Tidak Harus di Atas Panggung

Jember, NU Online Jatim

KH Ilhamullah Sumarkan, Ketua Pengurus Wilayah Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (PW LDNU) Jawa Timur, menjelaskan bahwa keberlangsungan dakwah harus terus dilakukan meski di tengah pandemi. Karena itu, hal yang memungkinkan untuk digalakkan saat ini ialah berdakwa melalui media sosial.

“Dakwah itu mengajak untuk keimanan, berilmu dan menjadi terbaik. Hikmah itu bisa dilaksanakan di semua lini terutama media sosial. Tetaplah berdakwah dengan media yang ada dengan cara yang terbaik,” kata Kiai Sumarkan dalam webinar bertema Problematika Dakwah bagi Kalangan Milenial di Era Pandemi, Selasa (28/09/2021).

Sementara itu, M Noor Harisudin, Dekan Fakultas Syariah UIN KHAS Jember menuturkan, dakwah kebangsaan memiliki peran penting dalam rangka menguatkan tujuan bersama, yaitu hidup rukun dan damai di bawah Pancasila dan UUD 1945. 

“Dakwah kebangsaan penting dilakukan mengingat masih banyak yang meragukan NKRI, adanya pendangkalan pemahaman keagamaan, dugaan eksklusifisme dan ekstremisme beragama, pudarnya nilai kebangsaan serta percepatan visi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” ujarnya.

Menurut Harisudin, berdakwah tidak harus dilakukan di atas panggung dan perguruan tinggi, tetapi dakwah yang sesungguhnya berada di semua lini kehidupan. Oleh karenanya dakwah perlu dilakukan dengan berbagai sarana dan media.

Akhmad Muzakki, Sekretaris PWNU Jatim, memaparkan tentang pentingnya rumusan dakwah yang tepat di era yang didominasi generasi milenial seperti sekarang.

“Karakter generasi milenial yang lebih menyukai visual dibandingkan tekstual, membuat pentingnya ke depan harus ada proyek visualisasi dari ceramah para dai yang di-convert di media sosial. Atau bisa dengan membentuk dai milenial yang bekerja sama dengan Lakpesdam NU, IPNU, dan IPPNU,” katanya.

Sumber : https://jatim.nu.or.id/read/ketua-ldnu-jatim-minta-dakwah-di-medsos-harus-digalakkan

Categories
Madrasah Diniyah Wusto

Pondok Pesantren Darul Hikam Mangli Jember Cabang Putra Resmi Dibuka

Media Center Darul Hikam – Di penghujung bulan Agustus 2021, Pondok Pesantren Darul Hikam Mangli Jember akhirnya menerima pendaftaran santri baru untuk putra. Sebelumnya Pondok Pesantren yang berdiri pada tahun 2015 ini, telah menerima santri putri yang berada di dua tempat, yaitu pondok pusat dan pondok cabang.

Diketahui pondok pusat bertempat di Perumahan Pesona Surya Milenia C.7 No.6 Mangli Kaliwates Jember. Sedangkan pondok cabang bertempat di Jl. Jumat Karangmluwo Kaliwates Jember. Adapun pondok cabang putra berada di Desa Klanceng, Ajung, Jember.

Pengasuh PP Darul Hikam Mangli Jember, Prof. Dr. Kiai M. Noor Harisudin, M.Fil.I menuturkan, inisiatif lahirnya pondok putra telah muncul sejak tahun 2020 dan baru terealisasi di tahun 2021.

“Darul Hikam putri sudah lama berdiri dan terbukti memberikan tafaqquh fiddin kepada maha santri perempuan. Mengingat banyaknya desakan masyarakat dan kampus untuk mendirikan santri putra, alhamdulillah akhirnya di tahun 2021 ini keinginan tercapai,” ujar Prof. Kiai Harisudin kepada Media Center, Minggu (22/8).

Menurut Prof. Kiai Harisudin yang juga Dekan Fakultas Syariah UIN KHAS Jember ini, upaya pendalaman ilmu agama perlu untuk terus digalakkan, dalam rangka membentuk karakter religius para remaja, bukan hanya untuk kalangan putri, melainkan juga kalangan putra.

Dengan itu, dalam rangka menghadapi tantangan generasi muda di masa depan, Pondok Pesantren Darul Hikam Mangli Jember telah menyusun kurikulum yang terstruktur melalui program-program unggulannya.

“Ada program baca kitab kuning, tahfidz Al-qur’an dan life skill. Selain pintar dalam ilmu agama tapi juga dibutuhkan kemampuan untuk survive di tengah-tengah masyarakat, seperti jurnalistik, entrepreneur dan teknologi,” jelas Prof Kiai Harisudin Guru Besar UIN KHAS Jember itu.

Mekanisme pendaftaran yang harus dipenuhi oleh calon mahasantri baru pun sangat mudah, yaitu dengan hanya mengisi formulir, membayar biaya pendaftaran dan SPP.  Setelah itu, mahasantri diperbolehkan untuk menempati dan belajar di Pondok Pesantren Darul Hikam.

Dalam rangka pengembangan Pondok Pesantren Darul Hikam Mangli Jember, Prof Kiai Harisudin saat ini tengah berupaya untuk meluaskan lahan pesantren untuk meningkatkan fasilitas dan kualitas pesantren.

“Masih terbatasnya lahan di pondok pesantren sekitar kampus, kami merencanakan tanah sebesar 20 Hektar lebih untuk pengembangan pesantren yang lebih luas. Kita harapkan agar Darul Hikam bisa lebih luas lagi dan lebih bermanfaat untuk masyarakat, Indonesia dan dunia,” jelas Prof Kiai Harisudin yang juga Wakil Ketua Pengurus Wilayah Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (PW LDNU) Jatim.

Di samping itu, salah satu pengurus pondok putra, Ustadz M. Irwan Zamroni Ali menjelaskan, adanya pandemi Covid-19 tidak akan menghalangi proses pembelajaran dan kegiatan di pesantren. Menurutnya, fasilitas yang disediakan telah disiapkan untuk proses pembelajaran online.

“Para santri yang sedang kuliah atau pembelajaran secara online, termasuk juga pengajian online, pesantren telah menyediakan fasilitas seperti zoom meeting, Wi-Fi, dan fasilitas pendukung lainnya,” jelas Ustadz Irwan.

Mengingat penerimaan santri bukan hanya diperuntukkan untuk mahasiswa, melainkan non-mahasiswa, saat ini telah terhitung cukup banyak calon mahasantri putra yang mendaftar.

Selain itu, para pengajar yang mumpuni dan berkualitas, jarak yang dekat dengan kampus UIN KHAS Jember ditambah biaya yang terjangkau, cukup menjadi alasan tersendiri bagai calon santri untuk masuk di Pesantren Darul Hikam Mangli Jember.

Reporter: Siti Junita

Editor : Wildan Rofikil Anwar

Categories
Keislaman

Dekan Syariah Jember Apresiasi Sikap BPIP yang Legawa Terima Kritik Masyarakat 

Media Center Darul Hikam – Dekan Fakultas Syariah UIN KHAS Jember yang juga Ketua Umum Asosiasi Penulis dan Peneliti Islam Nusantara Seluruh Indonesia (Aspirasi), Prof M. Noor Harisudin, M.Fil.I  turut mengapresiasi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang telah legawa menerima masukan dari masyarakat luas untuk meninjau ulang tema penulisan artikel dalam lomba oleh lembaga yang diketuai Prof. KH. Yudian W. Asmin, Ph.D.

Tema yang sebelumnya, yakni, ‘Hormat Bendera Menurut Hukum Islam’ dan ‘Menyanyikan Lagu Kebangsaan Menurut Hukum Islam’, telah diganti menjadi, ‘Pandangan Agama dalam Menguatkan awasan  Kebangsaan’ dan ‘Pera Masyarakat Dalam Penanggulangan Pandemi Covid-19 Menuju Indonesia Tangguh dam Indonesia Tumbuh’. 

 “Apa yang dilakukan BPIP ini sudah bagus, setelah diberikan masukan oleh banyak orang akhirnya BPIP merubah tema tersebut. Tidak hanya itu, lembaga ini justru mengapresiasi masukan dari masyarakat,” kata Prof. M. Noor Harisudin kepada Media Center, Senin (17/8).

Lebih dari itu, Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember tersebut menilai lomba menulis artikel yang digelar oleh BPIP tersebut telah sesuai dengan kebutuhan masyarakat, khususnya bagi kaum milenial.

“Ini sangat bagus, terlebih bagi kaum milenial dalam rangka menumbuhkan kembali sikap cinta terhadap Indonesia, Pancasila dan nilai-nilai kebangsaan kita,” kata Prof Haris yang juga Sekretaris  Forum Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia tersebut.

Prof. Harisudin yang juga Wakil Ketua Pengurus Wilayah Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (PW LDNU) Jawa Timur ini, menjelaskan tiga alasan utama mendukung kegiatan tersebut.

Pertama, generasi bangsa khususnya kaum milenial masih banyak yang belum mengetahui hubungan negara dan agama terkait dengan visi kebangsaan.

“Apalagi semenjak Pancasila dihilangkan dalam kurikulum nasional pada tahun 2003, sehingga menjadikan generasi milenial tidak banyak tahu atau juga abai terhadap nilai-nilai kebangsaan kita,” jelas Prof Harisudin.

Kedua, menurutnya lomba tersebut dapat generasi milenial untuk punya sikap respect dalam  kehidupan. “Misalnya, dalam pandemi, generasi milenial dapat menyumbang dan berkontribusi apa untuk masyarakat, tidak diam saja dengan kondisi saja”, ujar  Prof Haris yang juga Ketua PP Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara (APHTN-HAN) tersebut.

Ketiga, yang tidak kalah penting, bahwa lomba semacam ini merupakan latihan kemampuan ketajaman analisis generasi milenial, yang selama ini dipandang cenderung hedonis dan bahkan apatis terhadap masyarakat dan bangsa.

“Dengan ini bisa menjadi semangat bagi mereka untuk menguatkan kebangsaan dan pengabdian mereka pada NKRI kita,” tambahnya Guru Besar yang produktif menulis tersebut.

 “BPIP, meski situasi pandemi masih menyajikan kepada masyarakat untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, sehingga ini perlu untuk kita dukung bersama,” ujar Prof. Harisudin yang juga Pengasuh Pesantren Darul Hikam Mangli Jember.

Reporter : Siti Junita

Editor:  M. Irwan Zamroni Ali 

Categories
Madrasah Diniyah Wusto

Pesantren Darul Hikam Mangli Jember Salurkan Daging Kurban untuk Warga Terdampak PPKM Darurat Masa Pandemi

Media Center Darul Hikam – Hari Raya Idul Adha menjadi momentum bagi umat Islam untuk mengambil keteladanan dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Dari peristiwa tersebut, kini menjadi bagian dari ibadah umat Islam yang dikenal dengan ibadah kurban.

Meski di tengah merosotnya ekonomi karena pandemi yang tidak kunjung usai, Pondok Pesantren Darul Hikam Mangli Jember terus menunjukkan komitmennya untuk tetap membantu masyarakat melalui ibadah kurban. 

Pondok Pesantren Darul Hikam Mangli Jember menyalurkan hewan kurban berupa satu ekor sapi pada perayaan Idul Adha 1442 Hijriah. Kemudian daging tersebut diolah menjadi ratusan bingkisan yang disebarkan ke empat titik kecamatan di Kabupaten Jember, seperti di Kecamatan Ajung, Kaliwates, Rambipuji dan Silo, pada Kamis (22/7).

Proses penyembelihan hewan kurban berlangsung di lingkungan pondok cabang putra yang bertempat di Desa Klanceng, Ajung, dengan hanya diikuti oleh panitia.

Ketua Panitia Kurban, Ustadz Shohibul Ulum, S.E., M,E menyebutkan, pembagian daging kurban juga akan dilakukan secara door to door (pintu ke pintu), sehingga penerima daging kurban tidak perlu pergi ke tempat pendistribusian.

“Kami bersama beberapa panitia, mulai dari penyembelihan kurban hingga pendistribusian, kita kerjakan dengan cepat. Hal ini untuk menghindari penyebaran virus Covid-19,” ujar Shohibul Ulum, S.E., M.E.

Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hikam Mangli Jember, Prof. Dr. Kiai M. Noor Harisudin, M. Fil.I menuturkan, tujuan utama dari adanya penyembelihan hewan kurban tersebut yaitu untuk melaksanakan perintah Allah Swt.

“Kami sadar betul untuk selalu mengikuti perintah Allah. Intinya adalah ittiba`, yaitu mengikuti atau melaksanakan ajaran Islam berupa perintah Allah melalui Nabi Muhammad Saw,” ujar Kiai Harisudin kepada Media Center.

Selain itu, lanjut Kiai Harisudin menambahkan, melalui ibadah kurban pihaknya juga ingin berbagi kepada kaum duafa, terlebih mereka yang terdampak pandemi Covid-19.

“Kita ketahui, saat ini banyak masyarakat yang terdampak dengan adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat ini. Oleh karenanya kami ingin menjadi bagian dari mereka dengan membantu semampunya,” tutur Dekan Fakultas Syariah UIN KHAS Jember ini.  

Di samping itu, Muhammad Hosi`in, warga Desa Gumuk Kerang, Kecamatan Ajung, mengaku senang karena mendapatkan bagian daging kurban tersebut.

“Terima kasih kepada Pondok Pesantren Darul Hikam, semoga berkah dan ibadah kurbannya diterima di sisi Allah Swt,” ujar Hosi`in.

Reporter : M. Irwan Zamroni Ali

Categories
Tokoh Ulama Nusantara

Innalillahi Pakar Fikih Perempuan Hj Huzaemah T Yanggo Tutup Usia

Jakarta, NU Online

Pakar fikih perempuan perbandingan mazhab asal Indonesia Prof Hj Huzaemah Tahido Yanggo berpulang ke rahmatullah pada Jumat (23/7) pukul 06.10 WIB di RSUD Banten. Pakar perempuan yang juga Dewan Pakar Pimpinan Pusat Muslimat NU itu meninggal dunia pada usia 75 tahun.

Prof Hj Huzaemah merupakan sosok perempuan yang aktif di pelbagai macam organisasi dan aktif menulis tentang fikih perempuan kontemporer.

Semasa hidupnya, Prof Hj Huzaemah juga menjabat sebagai rektor Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta, guru besar di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta atau UIN Jakarta pada jurusan Magister Pengkajian Islam, Ia juga tercatat sebagai anggota Komisi Fatwa MUI sejak tahun 1987, Dewan Syariah Nasional MUI sejak tahun 2000, dewan pakar Muslimat NU, dan A’wan PBNU.

Prof Hj Huzaemah juga tercatat sebagai perempuan pertama yang berhasil meraih gelar doktor dengan predikat cumlaude dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir tahun 1981.

Tidak hanya itu, Prof Hj Huzaemah kerap menyikapi soal perempuan yang dipandangnya harus kuat terhadap dua hal, yakni modern dan tradisional. Ia mengartikan bahwa perempuan dalam llingkup modernitas harus mampu merespons perkembangan zaman, namun tetap berpijak pada tradisi. 

Kabar duka wafatnya Prof Hj Huzaemah ini juga disampaikan oleh tokoh NU Nadirsyah Hosen atau Gus Nadir melalui akun Twitter pribadinya.

“Kabar duka: Prof Dr Hj Huzaemah Tahido Yanggo wafat dalam usia 74 th karena Covid. Rektor Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta,” tulis Gus Nadir.

Kepala Asrama Pesantren IIQ Ustadz Abdur Rosyid menyampaikan, jenazah sedang diurus di rumah sakit. Jenazah akan dishalatkan terlebih dahulu di masjid, asrama Pesantren IIQ, Pamulang, Tangerang Selatan.

“Insya Allah nanti dishalatkan dulu di masjid IIQ sini. Sekarang jenazah sedang diurus,” kata Ustadz Rosyid.

Kontributor: Anty Husnawati

Editor: Alhafiz Kurniawan

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/130308/innalillahi-pakar-fikih-perempuan-hj-huzaemah-t-yanggo-tutup-usia

Categories
Tokoh Ulama Nusantara Uncategorised

Arahan Wakil Presiden RI pada Acara Penguatan Peran Ulama/Habaib/Kyai dalam Penanggulangan COVID-19

Categories
Keislaman

PMII Komisariat Wahid Hasyim Semarang Gelar Mujahadah dan Doa bersama Keselamatan Bangsa dari Pandemi COVID-19

Media Center Darul Hikam – Di tengah kondisi Pandemi Covid-19 yang semakin hari terus bertambah kasusnya dan adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat. Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Wahid Hasyim Semarang, Gelar mujahadah dan doa untuk keselamatan bangsa dari pandemi Covid-19.

Kegiatan yang dimulai pukul 19.30 WIB ini dilaksanakan secara virtual via zoom meeting ini, dan ikuti oleh seluruh kader PMII dan Alumni Wahid Hasyim pada Minggu (11/07/21) Malam.

Ketua Umum PMII Komisariat Wahid Hasyim Semarang, Sahabati Roshifah Jauhari dalam sambutannya mengungkapkan, adanya kegiatan ini merupakan wujud implementasi Nilai Dasar Pergerakan (NDP) kaitannya dalam meningkatkan kepedulian melalui hubungan antara manusia dengan manusia.

“Bersama pengurus bidang keagamaan, kami mengadakan kegiatan ini untuk memberikan mujahadah dan doa bagi keselamatan bangsa dari Wabah, mudah-mudahan lewat mujahadah ini senantiasa mendapat keberkahan serta bisa menambah spirit keyakinan dalam menghadapi wabah, lebih berhati-hati agar bisa selamat dan sehat,” tutur Roshifah.

Hadir dalam kegiatan di antaranya, Rektor Universitas Wahid Hasyim sekaligus Mabinkom PMII Komisariat Wahid Hasyim Prof. Dr. KH. Mudzakir Ali MA, Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Wahid Hasyim Dr. KH. Muh Syaifudin M.A, Pembina majelis khidmah Asma Ul Husna Pusat Drs. KH. Amjdjad AlHafidz B.Sc. M.Pd. , Ketua IKA PMII Wahid Hasyim Adi Joko Purwanto S.IP. M.A., Ketua Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Pergerakan Prof. Dr. M. Noor Harisuddin M.Fil.I dan Sekretaris Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Pergerakan Nur Rois, M.Pd.I .

Adapun rangkaian kegiatan dimulai dengan pembukaan dan mujahadah asmaul husna yang dipimpin oleh bapak Nur Rois, dilanjut dengan pembacaan doa oleh Bapak KH. syaifudin serta Bapak KH. Amdjad dan diakhiri dengan tausyiah oleh Rektor dan Ketua Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Pergerakan.

Dalam tausyiahnya, Prof Mudzakir Ali menyampaikan  bahwa Aswaja di kampus Universitas Wahid Hasyim merupakan aswaja an-nahdliyah, bahwa nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak terlepas dari prinsip dasar yang menjadi ciri khas paham Aswaja an-nahdliyah yaitu tawâsuth, tawâzun, ta’adul, dan tasâmuh.

“Kader-kader PMII dan alumni jangan sampai lepas dari prinsip ini, PMII harus bisa memegang teguh nilai pergerakan, baik struktural ataupun non struktural. NU tidak akan bisa eksis tanpa keterlibat PMII di dalamnya,” jelasnya.

Sedangkan dalam tausyiah penutup, Prof Noor Harisudin menjelaskan, PMII harus mampu mengambil kesempatan dalam berbagai peran, salah satunya dengan meningkatkan nasionalisme yang du bangun sebagai solidaritas dalam memberi empati dan solusi di tengah kondisi pandemi yang ada saat ini.

“Solidaritas ditengah pandemi harus senantiasa dibangun untuk menumbuhkan empati dan solusi, bukan dengan mengeluarkan caci maki,” paparnya.

Dirinya juga berpesan bahwa Kader PMII Universitas Wahid Hasyim khususnya, harus mampu memiliki standar yang lebih tinggi agar bisa berperan dan bernilai baik di ranah sosial maupun intelektual. (Sfa)

Categories
Keislaman

Baidlawie : Harus Ada Punishment Bagi Orang Yang Enggan Berzakat

Media Center – Sabtu, 24/04 Fakultas Syariah IAIN Jember bekerja sama dengan Amil Zakat (Azka) Al Baitul Amien Jember mengadakan Webinar Nasional Zakat Generasi Milenial yang bertajuk “Zakat Is a Lifestyle!” yang dimulai pada pukul 08.00-11.00 WIB secara daring (dalam jaringan) melalui aplikasi Zoom Meeting dan live Youtube. 

Adapun Keynote Speaker pada acara tersebut yaitu Prof. Dr. KH. Noor Achmad, MA selaku Ketua Umum Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Republik Indonesia (RI), Opening Speech oleh Ach. Fathor Rosyid, M.Si., selaku Direktur Azka Al Baitul Amien Jember. Speaker oleh Prof. Dr. M. Noor Harisudin, M.Fil.I. selaku Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian dan Pelatihan MUI Jawa Timur serta Guru Besar IAIN Jember dan Ust Baidlawie, MHI selaku Dosen Fakultas Syariah IAIN Jember. Master of Ceremony oleh Anjar Aprilia Kristanti, M.Pd dan Moderator oleh Dr. Zainal Anshari, M.Pd.I., selaku Ketua Yayasan AZKA Al Baitul Amien Jember.

Baidlawie yang menjadi salah satu pembicara dalam acara tersebut menyampaikan bahwa banyak sekali pendapat dari pakar atau ahli zakat yang mana pendapat dari mereka memiliki titik kesamaan, baik dari kalangan Syafi’iyah, Malikiyah, Hanafiyah, Hanabilah maupun dari pakar ekonomi di Indonesia.

“Definisi yang disampaikan oleh beberapa pakar, itu rata-rata sama bahwa zakat itu adalah nama dari suatu harta yang dikeluarkan dari harta tertentu, kepada orang tertentu, untuk golongan orang tertentu, dan dengan cara tertentu pula. Untuk lembaga BAZNAS akhirnya ketertentuan ini nanti supaya bisa diatur, terutama bagi kaum milenial yang mungkin masih kekurangan literasi tentang apa itu zakat dan semacamnya,” tuturnya.

Macam-macam zakat dibagi menjadi dua bagian diantaranya ada zakat mal dan zakat fitrah. Namun utamanya seperti di bulan Ramadhan ini adalah zakat fitrah.

Profesor Dr. KH Noor Achmad, MA., menuturkan bahwa potensi zakat di Indonesia sebesar 320 triliun, hanya saja yang bisa terkumpul hanya sedikit sekali dari itu semua. Apa yang menjadi masalahnya? Menurut Baidlawie hal itu dapat terjadi karena kurangnya peran pemerintah. 

Seperti dulu yang dilakukan oleh khalifah Abu Bakar di dalam menegakkan perintah zakat, yakni dengan memberi sanksi kepada pelaku zakat dengan cara diperangi. Hal ini menurutnya bisa dijadikan solusi yang mana Undang-Undang Zakat yang sudah untuk lebih ditekankan kepada aspek punisment atau sanksinya. 

“Jadi harus ada sanksi, Saya mengutip pernyataan Khalifah Usman bin Affan dikutip oleh Jamaluddin dalam Kitab Nahwu Wat Tamwil Maqashid Syariah, beliau menyatakan  bahwa pentingnya pemerintah di dalam menekan para orang–orang muslim yang tidak tunduk kepada aturan-aturan agamanya agar kemudian bisa tunduk dengan cara diberi sanksi,” ujarnya.

Jadi pemerintah tidak hanya menyediakan tempat mengeloa zakat, menghimpun zakat, tetapi juga bagaimana pemerintah memberikan hukuman atau sanksi bagi mereka yang tidak membayar zakat. Sehingga perlu ada undang-undang yang mengatur sanksi-saksi bagi mereka yang tidak mau melaksanakan kewajiban zakat. Karena jelas kewajiban zakat ini ancaman nyata sekali dalam Alquran seperti yang tertera di dalam surat  At-Taubah ayat 34. Allah berfirman bahwa orang yang menyimpan emas dan perak, dan tidak mau menafkankan hartanya di jalan Allah maka akan diberikan siksa yang pedih.

“Artinya harus diberikan pemahaman kepada masyarakat khususnya kaum milenial tentang bahaya orang yang kemudian tidak melaksanakan zakat ini, supaya ada rasa takut yang arahnya takut kepada Allah. Bagaimana supaya mereka mau berzakat, mungkin diberi pemahaman, bahwa zakat bukan hanya sebagai kewajiban tetapi sebagai kebutuhan. Kalau kita tidak zakat, nanti badan dan harta tidak tersucikan. Zakat harus dijadikan gaya hidup atau lifestyle sehingga optimalisasi zakat akan bisa tercapai,” ucapnya.

Ia juga mengungkapkan urgensi mengeluarkan zakat, mengutip dari rangkuman salah satu ulama. Ada beberapa hikmah dalam berzakat diantaranya adalah sebagai bentuk penghambaan kita sebagai manusia kepada Allah Swt., artinya dengan berzakat, kita melaksanakan salah satu satu rukun Islam, yang apabila zakat ini tidak dilaksanakan berarti keislaman kita tidak sempurna, juga sebagai bukti syukur kita kepada nikmat Allah. Kemudian yakni menyucikan muzakki dari dosa-dosa, membersihkan harta. Kemudian yang paling penting juga membersihkan hati mustahik dari hasad dan iri hati.

Baidlawie menuturkan bahwa potensi perolehan zakat para milenial masih jauh dari yang diharapkan, sehingga kedepan akan diberikan himbauan terutama oleh BAZNAS dan lembaga pemerintah yang menjaga dan mengelola zakat supaya lebih optimal dalam mengelola penghimpunan zakat. Menumbuhkan perekonomian Islam, dan dakwah kepada orang untuk dapat cinta kepada syariat Islam. 

“Solusinya tadi itu, harus lebih tegas kepada para muzakki ini agar kemudian bisa melaksanakan zakatnya dengan lebih optimal. Saya mengharapkan bahwa bagaimana milenial ini menjadi motor penggerak, agar perolehan zakat yang awalnya tadi 10 juta orang yang membayar, setidaknya bisa mencapai 50% dari 320 juta orang yang ada di Indonesia,”pungkasnya.

Di akhir materi, Baidlawie menyampaikan bahwa hikmah berzakat tidak akan mengurangi harta, justru akan menambah dan memberikan keberkahan pada harta. Acara berlangsung menarik, diikuti oleh kurang lebih 200 orang dari berbagai kalangan akademisi baik dari dalam maupun luar IAIN Jember.

Reporter : Imaniar Isfaraini

Editor : Erni Fitriani

Categories
Keislaman

Tadarus Ilmiah, Dekan: Bekali Mahasiswa Bermental Antiradikalisme dan Terorisme

Media Center Darul Hikam – Rabu, (14/04) Dekan Fakultas Syariah IAIN Jember, Prof. Dr. Kiai. M. Noor Harisudin, M.Fil.I menjadi salah satu pembicara tamu dalam webinar Tadarus Ilmiah yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Pengembangan Keilmuan (UKPK) IAIN Jember. Tidak sendiri, Prof Haris juga ditemani oleh A. Badrus Solihin, MA. selaku Sekretaris Rumah Moderasi Beragama IAIN Jember yang juga berkesempatan menjadi narasumber kedua dalam kegiatan tersebut. Acara ini mengangkat tema tentang “Islam, Radikalisme, dan Intoleransi di Era Milenial.”

Aksi terorisme di Indonesia belakangan ini cukup mengkhawatirkan. Apalagi sasarannya adalah para pelajar/mahasiswa. Hal ini berdasarkan temuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme pada tahun 2016. Tidak hanya perguruan tinggi umum (sekuler) yang menjadi target penyebaran paham radikalisme dan terorisme, perguruan tinggi Islam pun menjadi sasaran.

“Beberapa kasus terorisme yang dilakukan oleh mahasiswa di antaranya, terjadi pada tiga orang mahasiswa UIN Jakarta (2009), tahun 2010 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Solo (UMS), seorang alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB), bahkan di awal tahun 2011 ada seorang pelajar yang ditangkap karena dugaan terorisme. Hal ini juga yang mengawali steorotipe kepada khalayak bahwa Islam adalah agama teroris,” ungkap Prof. Haris yang juga menjabat sebagai Ketua Umum ASPIRASI.

Prof. Haris juga berpesan kepada mahasiswa saat ini agar jangan hanya diam saat mengetahui ciri-ciri radikalisme. Apalagi di era seperti ini, penyebaran informasi tidak terbendung lagi. Sehingga, semakin mudah paham-paham radikalisme dapat ditanamkan kepada masyarakat. Tidak hanya itu, pendekatan secara personal dan forum diskusi juga menjadi pintu masuk bagi paham radikalisme.

Radikalisme dan terorisme memiliki hubungan yang erat, dikarenakan radikalisme merupakan cikal bakal dari aksi terorisme. Ciri-ciri yang biasanya ditampakkan oleh paham radikalisme biasanya mereka mengklaim kebenaran secara tunggal, menggunakan cara kekerasan, mudah menyesatkan orang lain, intoleran, dan berambisi untuk membangun Negera Khilafah.

“Ini beberapa kelompok yang harus kita waspadai. Dari kelompok radikal seperti Front Pembela Islam (FPI), FPIS Surakarta. Sementara kelompok teroris seperti Jamaah Islamiyah (JI), Jamaah Anshar Tauhid (JAT), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI),” pungkasnya.

Di akhir penyampaiannya, Prof. Haris memaparkan langkah yang dapat kita lakukan untuk membentengi diri dari radikalisme dan terorisme. Tindakan ini dapat bersifat preventif (pencegahan) seperti ; memupuk jiwa nasionalisme, selalu berpikiran terbuka, waspada terhadap provokasi, dan bergabung dengan komunitas yang bermanfaat. Sedangkan tindakan kuratif yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan pemahaman ilmu agama yang benar, menguatkan nilai-nilai nasionalisme, mencintai toleransi dan perdamaian.

Suasana diskusi berlangsung hangat meski dilaksanakan secara virtual melalui zoom meeting. Acara dimulai pukul 15.00-16.30 WIB. Diskusi ini diikuti oleh 43 peserta dari anggota UKPK IAIN Jember sendiri dan peserta umum.

Reporter: Arinal Haq

Editor: Izzah Qotrun Nada