Categories
Dunia Islam

Menyiapkan Generasi Qur’ani

Jember, NU Online

Katib Syuriyah NU Jember, Dr. Kiai MN. Harisudin, M.Fil.I, menyatakan pentingnya generasi qur’ani di tengah-tengah masyarakat. Demikian disampaikan oleh Kiai M.N. Harisudin di hadapan peserta Haflatul Imtihan, TPQ al-Hamid Tanggul Wetan Jember, Sabtu, 28 Mei 2016 tepatnya malam ahad jam 21.00 Wib. Hadir dalam kesempatan itu, Habib Hadi (Wakil Rois Syuriyah MWC NU Tanggul), Ust. Muhammad Maki (Wakil Ketua Tanfidziyah MWCNU Tanggul), jajaran Muspika, dan pengasuh TPQ al-Hamid, Ustadz H. Muhammad Saturi.  Tak kurang 300 orang hadir dalam pengajian akbar tersebut. Sementara, peserta didik TPQ ini mencapai 200 anak.

Menurut kiai muda yang juga Dosen Pasca Sarjana IAIN Jember tersebut, umat Islam perlu menyiapkan generasi qur’ani, yaitu generasi anak-anak yang mencintai al-Qur’an. “ Kita ini diperintahkan untuk mendidik anak-anak kita dengan membaca al-Qur’an (tilawatul qur’an). Membaca al-Qur’an ini akan lebih cepat dilakukan jika anak-anak sudah mencintai al-Qur’an. Karena kita dukung syiar Islam dalam bentuk apapun agar anak-anak kita menjadi senang dan cinta pada kitab suci al-Qur’an ini”.

Kiai MN Harisudin juga menekankan bahwa anak-anak yang bisa membaca al-Qur’an ini akan menjadi aset seorang muslim. “ Anak-anak ini adalah aset kita. Nanti kelak di hari kiamat, anak-anak ini akan menyelamatkan orang tuanya jika orangtuanya berada di neraka. Maka, kita sebagai orang tua, jangan pernah berhitung dengan pengeluaran untuk mendidik agama anak-anak tersebut. Jangan sampai modal untuk sekolah umum lebih mahal daripada modal untuk pendidikan agama anak”, tukas Kiai MN Harisudin yang juga Wakil Ketua PW LTN NU Jawa Timur tersebut.

Lebih lanjut, Kiai MN Harisudin juga memotivasi anak-anak TPQ al-Hamid untuk terus belajar agama.”Anak-anak kita harus dididik lebih tinggi. Jangan kalau sudah selesai belajar al-Qur’an terus berhenti, tapi harus ditindak lanjuti dengan belajar agama Islam yang lain. Membaca al-Qur’an harus diteruskan belajar ilmu tafsir, ilmu asbabun nuzul, ilmu balaghah, ilmu bayan, dan sebagainya. Karena itu, aak-anak kita ini harus terus belajar. Syukur-syukur diteruskan ke pondok pesantren ”, kata Pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli Jember ini mengakhiri ceramahnya.

(Kontributor NU Online/Anwari) 

Categories
Dunia Islam

Katib Syuriyah NU Minta Aparat Tidak Anarkis

Jember, NU Online

Katib Syuriyah NU Jember, Dr. Kiai MN Harisudin, M.Fil. I menyayangkan sikap aparat yang anarkis dan represif dalam menghadapi demo-demo yang dilakukan mahasiswa. Demikian disampaikan Kiai M.N Harisudin di kediamannya, Ponpes Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember, menanggapi tindakan anarkis Satpol PP Jember yang menghalau demonstrasi mahasiswa di Pendopo Kabupaten Jember kemarin (23/5/2016).

Menurut Dosen Pasca Sarjana IAIN Jember ini, demonstrasi mahasiswa sebagai media kritik sosial harus ditanggapi dengan ramah, bukan dengan amarah. “Mereka kan datang menyuarakan suara rakyat Jember yang menolak tambang di Jember karena diduga kuat mengandung madlarat yang besar. Mestinya ini ditanggapi dengan cara-cara yang ramah oleh aparat. Insya’allah, masalah akan selesai”, tukas Kiai MN Harisudin yang juga sekretaris YPNU Jember tersebut.

Dalam konteks tambang di Jember, menurut Kiai MN Harisudin yang juga Wakil Ketua Lembaga Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur tersebut, PCNU Jember sudah melakukan serangkaian kajian serius tentang hal tersebut, baik melalui FGD, seminar dan acara yang lain. Hasilnya, bahwa tambang ini –jika dilakukan di Jember—akan berdampak negatif terhadap masa depan masyarakat Jember.

“ Dalam konsep fiqh al-bi’ah (fiqh lingkungan), alam ini dibuat bukan hanya untuk orang yang hidup di masa sekarang, namun juga untuk anak cucu kita di masa yang akan datang. Bisa jadi orang Jember yang sekarang sejahtera, namun nanti anak cucu kita yang akan mengalami penderitaan jika tambang ini dilakukan. Ini cara pandang yang harus kita pegangi”, tukas Kiai M.N Harisudin yang juga pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli Jember.

Oleh karena itu, Kiai MN Harisudin yang juga menginginkan agar soal tambang di Jember bisa diselesaikan dengan cara-cara yang ma’ruf. Misalnya Bupati Jember, DPRD Jember, Ormas Islam, LSM dan para stake holders yang lain untuk duduk bersama menyelesaikan kasus tersebut.

“Saya haqqul yakin, Bupati Jember yang sekarang punya i’tikad yang sama dengan adik-adik PMII dan ormas Islam dalam hal menolak tambang. Jangan sampai ini merusak visi bersama kita untuk membangun masa depan Jember yang lebih baik ”, tukas kiai muda yang juga aktif sebagai penceramah di Jember 1 TV dan TV9 Surabaya tersebut.    

(Humas NU Online/Anwari)

Categories
Sains

Adam Smith Vis A Vis Ibnu Khaldun

Oleh: Halimatus Sa’diyah

Jika kita mendengar kata-kata Ekonomi, tentunya yang ada dalam pikiran kita adalah seputar kegiatan produksi, konsumen, distribusi, dan tentunya yang berhubungan dengan uang. Memang betul ekonomi merupakan salah satu disiplin ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana setiap rumah tangga atau masyarakat mengelola sumber daya  yang mereka miliki untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Sejarah tentang pemikiran ekonomi menceritakan bahwasanya bapak ekonomi adalah Adam Smith. Adam Smith merupakan salah satu tokoh pemikir ekonomi klasik yang lahir sekitar abad ke-17 M, setelah runtuhnya masa ekonomi skolastik. Adam Smith terkenal dengan sistem ekonomi kapitalisnya, dengan sebuah karyanya yang berjudul The Wealth of Nation yang menjelaskan tentang kebebasan ekonomi.

Namun perlu diketahui juga, sebelum masa ekonomi klasik Adam Smith, pada abad ke-7 M sejarah mencatat bahwasanya pada masa itu ekonomi Islam mendapatkan masa kejayaannya. Rasulullah SAW merupakan pencetus dari ekonomi Islam. Ini artinya bapak Ekonomi Islam bukan Adam Smith, melainkan Rasulullah Saw. Jauh sebelumnya, Rasulullah sudah mengajukan bulir-bulir prinsip ekonomi Islam yang dikembangkan selanjutnya oleh sahabat, tabi’in, dan seterusnya.  

Tak banyak perbedaan antara ekonomi konvensional dengan ekonomi Islam, hanya saja yang membedakan dalam ekonomi Islam adalah perilaku manusia yang ditentukan berdasarkan aturan Islam. Selain itu jika didalam ekonomi konvensional hanya menitik beratkan pada profit oriented, maka ini berbeda dengan ekonomi Islam yang disamping memikirkan  profit oriented  tetapi juga mementingkan falah oriented. Profit oriented bersifat duniawi dan falah oriented bersifat ukhrawi.

Di dalam ekonomi klasik dijelaskan tentang adanya kebebasan ekonomi, yang mana pada sistem ini manusia dibebaskan untuk mencari kepuasan individu sesuai dengan cara yang mereka inginkan, begitu pula di dalam ekonomi Islam sistem kebebasan juga diterapkan sebagimana dalam ekonomi klasik, namun yang membedakan hanya jika didalam ekonomi Islam kebebasan individu untuk mencari kepuasan dirinya asalkan tidak menyalahi aturan yang diajarkan dalam Islam.

Pada masa itu  juga lahir beberapa tokoh pemikir ekonomi Islam, serta kontribusi karyanya terhadap perkembanga ekonomi Islam. Karya-karya mereka memiliki dasar argumentasi religius dan intelektual yang kuat. Banyak diantara tokoh pemikir ekonomi Islam ini yang futuristik dimana pemikir-pemikir Barat baru mengkajinya beberapa abad kemudian. Pemikiran ekonomi Islam di kalangan pemikir ekonomi muslim banyak mengisi khazanah pemikiran ekonomi dunia pada masa dimana barat masih dalam masa kegelapan. Pada masa itu, dunia Islam justru mengalami puncak kejayaan dalam berbagai bidang. Ada dua tokoh pemiikir ekonomi Islam yang sering disebut sebagai bapak ekonomi Islam, yaitu Ibnu Khaldun dan Ibnu Taimiyah.

Namun saat ini, teori ekonomi yang berkembang adalah pemikiran ekonomi dari pemikir-pemikir ekonomi Barat. Padahal, banyak pemikiran ekonomi mereka sesungguhnya telah dikaji terlebih dahulu oleh para pemikir ekonomi Islam sebelumnya. Hanya saja karena ekonomi Islam yang kembali jaya pada tahun 1970 an, membuat ekonomi Islam seolah-olah merupakan suatu ilmu pengetahun yang baru muncul. Padahal ekonomi Islam, merupakan peradaban ilmu yang sempat hilang.

Untuk itu, kita sebagai penerus intelektual muslim harus menjaga jangan sampai eksistensi khazanah keilmuan Islam seperti ekonomi Islam ini hilang.  Atau bahkan sampai diadopsi oleh orang-orang kafir yang membuat runtuhnya peradaban keilmuan Islam.

Wallahu’alam. **

Categories
Uncategorised

Menggugat Moral Mahasiswa Islam

Oleh: Umi Mu’arifah

 “Mahasiswa Islam yang tidak tau Ber-Etika Islam”.  Istilah inilah yang saat ini mungkin ada pada diri seorang mahasiswa Islam pada zaman sekarang ini. Ironis, para mahasiswa Islam yang belajar pada suatu lembaga  pendidikan Islam, tetapi para mereka tak memiliki etika dan moral layaknya mahasiswa Islam.  Di dalam dunia perguruan tinggi Islam pada zaman sekarang ini, banyak mahasiswa Islam yang kurang baik etikanya. Lebih – lebih mereka yang telah merasa dirinya telah memasuki dunia perkuliahan yang bukan lagi dunia anak – anak atau  tidak dipantau orang tua lagi.

Umumnya, para mahasiswa seperti ini mengatakan “Kita ini mahasiswa, bukan orang Jadul (Jaman Dulu), jadi kita tiu sebagai mahasiswa, kita harus menjadi mahasiswa yang modern, tidak kolot”. Itulah bantahan para mahasiswa pada zaman sekarang ini, yang terpengaruh pada era- globalisasi, kususnya, pada mahasiswi putri pada perguruan tinggi Islam. Sebagai contoh, mereka tampak memakai jilbab rapi pada saat mengikuti semua kegiatan akademik, tetapi saat mereka telah selesai perkuliahan, tidak sedikit pula diluar sana para mahasiswi tidak berjilbab. Selain itu, mereka juga suka berbicara yang tidak sopan, yang tentunya tidak sesuai ajaran Islam.

Rasulullah Saw. melarang percakapan tidak sopan demikian, sebagaimana sabdanya:

“Abdullah bin Munir bercerita kepadaku Beliau mendengar Abu an-Nadhar, telah bercerita kepada kami  Abdur Rahman bin Abdillah yaitu Ibn Dhinar dari Ayahnya dari Abu Sholih dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW. Bersabda : “ Sesungguhnya seseorang yang berbicara dengan perkataan yang diridhai Allah dia tidak akan mendapatkan apa-apa akan tetapi allah akan mengangkat derajatnya. Dan barang siapa yang berbicara dengan perkataan yang dimurkai allah dia tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali akan jatuh ke neraka jahannam”  

Merujuk pada hadist diatas, bahwa perkataan atau ucapan pun semestinya juga harus diperhatikan oleh kita. Apalagi sebagai mahasiswa Islam, yang seharusnya semua tingkah laku dan etikanya dijadikan acuan oleh masyarakat pada umumnya.

Memang, di Institut Agama Islam Negeri Jember, ilmu agama Islam telah diajarkan dan dikembangkan. Tetapi tetap ada mahasiswa yang tidak mengikuti ajaran – ajaran tersebut. Mereka lebih suka mengikuti pada perkembangan zaman sekarang ini, yang lebih mengajarkan pada budaya barat daripada etika dan moral yang telah diajarkan agama Islam.

Tidak bermoralnya mahasiswa juga kita bisa lihat di area kampus contohnya. Terkadang terjadi suatu aksi demonstrasi mahasiswa, namun mereka melakukan aksinya dengan anarkis, dan terkadang berbicara sangat tidak sopan kepada dosennya. Nah, disinilah keterangan hadist diatas tadi berlaku, tentang kesopanan dalam berbicara. Apalagi seorang mahasiswa yang berbicara langsung kepada dosennya, yang otomatis lebih tua daripada mahasiswa itu. Dan dosen tersebut seharusnya dihormati dan disegani, karena dosen merupakan seseorang yang memberi ilmu dan menuntun kita mengajak ke hal yang lebih baik. Serta sekali lagi, orang yang lebih tua daripada kita yang semestinya kita hormati.   

Dalam hal ini, nabi Muhammad Sw bersabda:

 “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti hak ulama” (HR. Ahmad dan dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami).

Diatas merupakan hadist anjuran menghormati seseorang yang lebih tua dari kita. Termasuk guru atau dosen. Bukan malah dibentak – bentak seperti pada saat ada aksi demonstrasi seperti itu. Perilaku yang seperti itu mencerminkan seperti tidak adanya moral dan etika mahasiswa Islam. Rendahnya moral dan etika seorang mahasiswa Islam pada tingkat perguruan tinggi diakibatkan karena telah adanya perkembangan zaman modern pada saat seperti ini. Banyaknya media sosial yang banyak mempertontonkan tayangan yang tidak baik, dan banyak mempengaruhi kehidupan para mahasiswa yang mudah dipengaruhi oleh dunia maya tersebut. Karena seorang mahasiswa yang pada zaman sekarang ingin terlihat lebih modern, mereka mengikuti model kehidupan pada budaya barat.

Sebagai seorang mahasiswa Islam yang beretika, seharusnya pula mereka mampu memahami betul arti dari kebebasan dan tanggung jawab, karena pada saat demonstrasi banyak mahasiswa yang melakukan hal – hal yang dapat merusak fasilitas kampus, aksi demonstrasi memang dibebaskan dari pihak kampus, tetapi seharusnya mahasiswa tersebut harus dapat bertanggung jawab dengan aksinya. Jika seorang mahasiswa Islam tersebut memiliki sebuah etika dan moral yang baik, maka ia dapat mempergunakan etika dan moralnya sebagai alat kontrol emosi bagi dirinya, agar mahasiswa tersebut tidak bertindak anarkis.

Mungkin dari semua ini, bagi penulis sendiri, mewawarkan suatu jalan keluar yang bisa digunakan, agar mahasiswa memiliki etika dan moral yang baik. Pertama, mengadakan sosialisasi etika langsung kepada mahasiswa. Kedua, jika aksi tersebut dikarenakan karena adanya salah paham antara pihak kampus dengan mahasiswanya, maka dari pihak kampus harus memberi suatu pemberitahuan dan pemahaman agar para mahasiswa tidak salah paham kepada pihak kampus karena suatu masalah tersebut. Karena tidak semua mahasiswa akan mengerti apa masalah yang terjadi, dan apa yang telah terjadi didalam dunia perkuliahan. Itu yang terkadang dapat memicu kesalah pahaman antara mahasiswa dan para pihak kampus.

Wallahu’alam. **

Categories
Opini

Pluralitas Yes, Pluralisme No!

Oleh: Happy Hafidzoh Widyana

Pluralisme agama, kalimat yang saat ini sangat trend di kalangan umat Islam, terutama di kalangan mahasiswa-mahasiswa Islam. Mereka beranggapan bahwa pluralisme sebagai toleransi keragaman pemikiran, agama, dan juga budaya. Lebih jauh, pluralisme ini dipahami bukan hanya mentoleransi adanya keragaman pemahaman tersebut, tetapi juga bahkan mengakui kebenaran masing-masing pemahaman.

Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif. Sehingga siapapun termasuk Nabi dan Rasul sekalipun, tidak berhak mengklaim ajaran agamanya yang paling benar. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga. Semua dianggap sama dan tidak ada yang lebih baik antara satu sama lain.

Ironisnya, kaum Islam liberal yang sangat menyetujui akan adanya pluralisme agama. Islam liberal sendiri merupakan aliran pemikiran atau pemahaman yang mempercayai dan meyakini serta mengimani bahwasanya nash Al-Qur’an  dan as-Sunnah harus tunduk kepada akal. Mereka juga meyakini bahwa manusia memiliki kebebasan mutlak. Islam liberal sangat menyetujui dengan adanya pluralisme agama, karena seperti yang sudah di jelaskan diatas bahwasanya mereka mengatakan semua pemeluk agama masuk dan hidup berdampingan di surga. Dan mereka juga meggunakan surat Albaqoroh ayat 62 dan 256 sebagai landasan pemikiran mereka.

Ini berbeda jauh dengan fatwa Majlis Ulama Indonesia tentang pluralisme agama.  MUI mengharamkan mengikuti paham pluralisme agama karena sangat bertentangan dengan ajaran Islam. MUI menolak pluralisme agama akan tetapi mengakui pluralitas agama. Antara pluralisme dan pluralitas memiliki perbedaan, dimana kalau pluralisme adalah pengakuan terhadap keberagaman dan kebenaran agama lain, sedangkan pluralitas adalah sebuah kenyataan bahwa di negara atau di daerah tertentu terdapat pemeluk agama yang hidup secara berdampingan.

Islam menerima pluralitas karena merupakan Sunatullah sebagai suatu kehidupan yang menghargai suatu keberagaman. Karenanya umat Islam bisa hidup berdampingan dengan umat beragama lain secara damai dan penuh toleran, saling menghormati dan saling menghargai. Tiap umat beragama bebas meyakini kebenaranya masing-masing dan bebas untuk tidak menerima agama lain, namun tidak boleh mendzaliminya. Mereka tidak boleh memaksa untuk membenarkan agama lain sebagaimana yang dilakukan kaum liberal. Intinya Islam sangat menghargai kebebasan beragama tetapi menolak mencampur adukkan agama dan penodaan agama.

Alasan lainnya MUI menolak pluralisme  karena mereka meyakini hanya orang Islam yang bakal masuk surga, sedangkan yang lain masuk ke dalam neraka. Meskipun begitu MUI tetap adanya mengakui pluralitas agama . Karena dengan pluralitas agama, kita bisa hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain dan kita juga tidak mendzalimi mereka. Dalam hal ini, MUI menggunakan dalil QS. Surat Al-Imran ayat 85 dan 19 :

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian diantara mereka. Barang siapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. Ali Imron: 85).

Pada ayat yang lain, Allah Swt. juga berfirman:

“Dan barang siapa mencari agama selain islam, dia tidak akan diterima, dan diakhirat ia termasuk orang yang rugi.” (QS. Ali Imron: 19)

Kedua ayat ini menegaskan bahwa agama yang paling benar adalah Islam. Inilah yang harus kita pegangi sebagai umat Islam. Setiap muslim mesti meyakini agamanya yang paling benar. Tidak mungkin ada banyak kebenaran dalam agama. Karena itu, Islam yang benar dan yang lain tidak benar. Kira-kira, demikian logika yang dibangun oleh Majlis Ulama Indonesia.    

Sikap toleransi boleh saja, akan tetapi sikap toleransi harus memiliki rambu-rambu tersendiri dalam Islam. Islam sudah mengatur sedemikian rupa kerukunan antar umat manusia dengan tidak mengabaikan kemurnian aqidah yang dianut oleh umat muslim. Sehingga tidak hanya esensi dari toleransi, yaitu  terciptanya kehidupan masyarakat yang damai dan sejahtera, tetapi juga keutuhan dan kemurnian aqidah tetap terjaga.

Walhasil, toleransi tetap dapat dilakukan dengan baik  sembari mengakui perbedaan dan identitas agama masing-masing seperti yang sudah di jelaskan dalam Alqur’an surat Al-kafirun ayat 6: Lakum dinukum waliyaddin (untukmu agamamu dan untukku agamaku). Inilah yang penulis maksud: “Pluralitas Yes, Pluralisme No”.

Wallahu a’lam bis shawab.**

Categories
Opini

Muslimah dan Pasir di Pesisir Pantai

Oleh: Mar’atus Sholehah

“Dan katakanlah pada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, janganlah mereka menampakkan perhiasan (aurat), kecuali yang biasa tampak.dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung kedadanya, dan janganlah menampakkan auratnya………”(QS. An-Nur:31).

Wahai nabi!, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, “hendaknya mereka menutupkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka.“ yang demikian itu agar mereka lebih dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (al-Ahzab: 59)

Ukhti, kita sebagai muslimah yang mukmin tentunya sudah mengerti tentang diwajibkannya jilbab pada kita semua sesuai dengan ayat diatas. Begitu sempurnanya Islam menjaga kita, menjaga kehormatan kita agar kita tetap menjadi muslimah yang beriman. namun, bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menjaga diri kita dengan sempurna? Sesempurna Islam menjaga kehormatan kita. 

Berbicara masalah menutup aurat, kita tahu sekarang kita hidup dizaman akhir, yang mana menurut ulama’ zaman yang tidak sebaik zaman-zaman terdahulu, juga bisa diartikan wanita terdahulu tentunya lebih baik dari wanita zaman sekarang dari menutup auratnya sampai  memelihara kehormatannya serta akhlaqnya yang mulia.

Ukhti, sebelum globalisasi dunia barat masuk pada agama Islam,  muslimah yang menutup auratnya sangat anggun sekali, mereka menutup auratnya dari atas kepala hingga ujung kakinya tanpa ada lekuk tubuhnya yang terlihat sedikitpun. Mereka sangat menjaga kehormatan mereka sebagaimana Islam menjaga kehormatan mereka, mereka taat pada perintah Allah, menjauhi apa yang telah dilarang oleh Allah, dan mereka juga mempunyai akhlaq yang amat sangat mulia, seakan mereka adalah mawar yang ada didalam kaca, indah dipandang namun sukar untuk dipegang.

Ukhti, mari kita lihat wanita-wanita muslimah zaman sekarang!. Amat sangat jauh sekali bukan? Apabila kita mencari kriteria wanita yang sebanding dengan yang sudah dikatakan diatas, mungkin kita hanya menemukan satu diantara seribu. Wanita zaman sekarang memang sudah menutup anggota tubuhnya, tapi mereka tidak dikatakan menutup aurat. Mengapa demikian? Bukankah mereka sudah berjilbab? Mereka sudah memakai pakaian yang sudah menutup dari ujung kaki sampai ujung kepala bukan?.

Memang, mereka telah menutup auratnya,  tapi mereka menampakkan seluruh lekuk tubuhnya sehingga terlihat sesak untuk bernafas. Mereka tidak bisa dikatakan menutup aurat dengan sempurna, mereka juga tidak bisa dikatakan menjaga kehormataannya, karena yang mereka kenakan menimbulkan syahwat kaum adam. Mereka bagaikan pasir di pesisir pantai, yang boleh dipijak dan dimiliki siapa saja.

Ukhti, jauh pada saat sang Baginda Besar Nabi Muhammad SAW. Masih hidup, beliau pernah bersabda yang artinya “Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya, mereka ialah: 1)Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip dengan ekor sapi untuk memukuli orang lain, 2) Wanita yang berpakaian tapi telanjang dan berlenggak-lenggok, kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta, mereka itu tidak masuk syurga, dan tidak pula mencium baunya, padahal sesungguhnya bau syurga itu bisa tercium dari jarak sekian-sekian (HR. Muslim).

Hadits diatas sudah terbukti di zaman sekarang. Dan bahasa saat ini terkenal dengan nama “Jilbob”. Yang mana jilbob ini tertuju pada wanita yang menutup auratnya tidak sesuai dengan syari’at Islam yang telah disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW. di atas. Demikian ini merupakan suatu hinaan bagi Jilbobers, sedangkan mereka tidak sadar dengan itu semua. Mereka hanya tahu bahwa yang mereka lakukan itu merupakan suatu hal yang lumrah dalam perkembangan zaman. Namun ada juga yang sadar tapi tetap tidak ingin melakukan jilbob, karena lebih mengedepankan nafsunya untuk bergaya di depan para pria.

Ukhti, menjadi wanita yang dijaga kehormatannya oleh Tuhannya merupakan suatu hal yang sangat  istimewa. Mari kita berusaha untuk menjaga kehormatan kita sebagaimana Allah telah menjaga kita dengan firmannya. Kita berusaha menjadi wanita yang dirindukan oleh syurga beserta isinya.

Ingatlah pesan dari Sayyidah A’isya RA. “Sebaik-baik wanita adalah yang tidak memandang, dan tidak dipandang. Jangan kau merasa bangga dengan kecantikanmu, sehingga kamu dikejar sejuta laki-laki, itu bukan suatu kemuliaan bagimu. Jika kau merasa bangga, kau menyamakan dirimu dengan pepasir dipesisir pantai, yang boleh dipijak dan dimiliki siapa saja. Muliakanlah dirimu dengan taqwa, setanding mutiara zabarjad yang hanya mampu dimiliki penghuni syurga.” Wallahu’alam.**

Categories
Dunia Islam

Katib Syuriyah NU Jember: Orang Awam Silahkan Taqlid  

Jember, NU Online.

Katib Syuriyah NU Jember, Dr. Kiai MN Harisudin, M. Fil.I menyatakan bahwa cara beragama Islam itu ada tiga. Yaitu, ijtihad, ittiba’ dan taqlid. Jika ijtihad adalah cara beragama dengan mengetahui dalil dan bisa mengolah dalil tersebut, maka ittiba’ adalah cara beragama dengan mengetahui dalil namun tidak tahu cara mengolahnya. Sementara taqlid adalah beragama tanpa mengetahui dalilnya. Demikian disampaikan Dr Kiai MN Harisudin dalam pengajian Subuh di Masjid Muhajirin, Perumahan Gunung Batu Sumbersari Jember. Hadir tidak kurang 200 jama’ah yang aktif menyimak pengajian menarik tersebut.

Menurut Dr. Kiai M.N. Harisudin M. Fil.I, ijtihad adalah level tertinggi dalam beragama. Sementara, taqlid adalah level terendah dalam beragama. “Di level tertinggi, ijtihad wajib hukumnya bagi yang mampu berijtihad. Misalnya Imam Syafi’i, Imam Hanafi, Imam Malik, dan Imam Ahmad bin Hambal yang menghafal ribuan hadits, mengetahui tafsir al-Qur’an, mengetahui bahasa Arab, mengetahui ijma’ ulama, mengetahui fiqh dan ushul fiqh, dan sebagainya. Orang-orang yang memiliki kompetensi ini wajib hukumnya berijtihad”, tukas kiai muda yang juga Pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember tersebut.

Sementara, orang yang awam cukup bertaqlid pada kiai dan ustadz. Dengan kata lain, orang awam tidak perlu repot-repot mencari dalil. Orang awam beragama di level terendah dengan cukup mengikuti apa kata kiai atau ustadz. “Bayangkan kalau orang awam itu tukang becak, penjual sayur di pasar, petani di sawah. Mereka disuruh ribet mencari dalil dengan bolak-balik al-Qur’an dan as-Sunah. Tentu mereka akan kesulitan dan berat menerima perintah ijtihad. Selain itu, hasil ijtihadnya tidak dapat dipertanggungjawabkan karena mereka misalnya tidak tahu bahasa Arab, al-Qur’an dan al-Hadits“, tukas Dosen Pasca Sarjana IAIN Jember yang juga Ketua Bidang Intelektualitas dan Publikasi Ilmiah IKA-PMII Jember. 

Setidaknya, menurut Kiai M.N. Harisudin, ada tiga alasan mengapa ada pilihan-pilihan tersebut. Pertama, menurut Kiai MN Harisudin yang juga Wakil Ketua PW Lajnah Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur tersebut,  manusia memang diciptakan dengan kelas-kelas berbeda. Secara sosiologis, memang manusia tidaklah satu, melainkan berbeda-beda karena itu kita tidak bisa menggeneralisasikan bahwa orang lain sama dengan kita.

“Kedua, adanya perintah untuk bertakwa semampu orang Islam. Ittaqullaha mas tatha’tum. Makanya, yang mampu ijtihad silahkan Ijtihad.Dan yang tidak mampu ijtihad silahkan ittiba’. Jika tidak mampu ittiba’, silahkan taqlid.  Ketiga, tidak ada pembebanan (taklif) di luar kemampuan manusia. Seorang anak kecil umur dua tahun tidak bisa dibebani membawa beras satu karung. Itu taklifu ma la yuthaqu. (Membebani di luar kemampuan manusia).  Dengan model beragama ini, agama Islam terasa mudah diterima oleh umat. Inilah dimensi rahmatan lil alaminnya agama Islam”, tukas Kiai MN Harisudin yang juga Pengurus Majlis Ulama Indonesia Kabupaten Jember tersebut.

(Anwari/Kontributor NU Online)      

Categories
Dunia Islam

Katib Syuriyah NU Tegaskan Pancasila = Negara Islam

Jember, NU Online

Di hadapan kurang lebih 500 orang jama’ah pengajian muslimin dan muslimat di Masjid Baiturahim Kebonsari Jember, Katib Syuriyah NU Jember, Kiai M.N. Harisudin menegaskan bahwa Pancasila sama dengan  Negara Islam. Acara Isra’ Mi’raj yang digelar Ahad, 1 Mei 2016 mulai jam 19.00 sampai dengan 22.00 WIB. oleh Ikatan Ta’mir Masjid dan Musholla se-Kabupaten Jember ini dan warga Kebonsari ini berlangsung dengan meriah diiringi dengan sholat remaja Masjid Baiturrahim Kebonsari.

Kiai M.N. Harisudin tegas mengatakan bahwa Pancasila itu semua dalilnya adalah al-Qur’an dan al-Hadits. “Jadi, kalau sudah Negara Pancasila itu juga berarti negara Islam. Tidak perlu khilafah segala, itu tahsilul hasil. Makanya, pemerintah harus tegas terhadap ormas yang anti Pancasila dan anti-NKRI”, tutur Kaprodi Hukum Pidana Islam dan Hukum Tata Negara Fakultas Syari’ah IAIN Jember tersebut seraya menyebut satu persatu ayat-ayat yang terkandung dalam Pancasila.

Dalam ceramah selanjutnya, Kiai M.N. Harisudin juga  menjelaskan hikmah Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw. “ Intisari dari Isra’ Mi’raj itu adalah sholat. Kalau sholatnya benar, insyaallah akan menjadi orang baik. Orang baik inilah orang-orang Islam nusantara. Kita orang-orang Indonesia sudah dikenal baik di seluruh dunia. Kita, orang Indonesia, terkenal dengan Negara Islam demokratis terbesar dunia”, tukas kiai muda yang juga penceramah rutin di sejumlah televisi tersebut.

Kiai Harisudin lebih lanjut mengatakan bahwa Islam produk sholat di nusantara ini merupakan berkah yang sangat berharga. “Islam Nusantara ini sangat baik. Lebih baik daripada Islam di Saudi Arabia, Iran, Irak, Mesir, Afganistan. Makanya, Wapres Jusuf Kalla minta untuk tahun ini –seperti disampaikan Sekretaris Jenderal Kementrian Agama, Prof. Nur Syam, M.Si, tidak boleh ada pelajar Indonesia yang belajar ke Timur Tengah. Nanti mereka belajar kekerasan. Mereka yang mestinya belajar ke Indonesia”, kutip Kiai M.N. Harisudin yang juga pengurus Majlis Ulama Indonesia Kabupaten Jember.

Oleh karena itu, lanjut Kiai Harisudin, kita perlu bangga dengan Islam Nusantara. Islam yang damai dan toleran serta dapat berjalan seiring dengan kearifan lokal di semua tempat. Inilah nilai-nilai Islam nusantara yang dapat “dijual” ke dunia.

(Anwari/Kontributor NU Online).          

Categories
Dunia Islam

Katib Syuriyah NU Serukan Orang Tua Dukung Gerakan Ayo Mondok

Jember, NU Online.

Katib Syuriyah NU Jember, Dr. Kiai M.N. Harisudin, M.Fil. I, mendukung Gerakan Ayo Mondok Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Dalam  siaran persnya di Kantor PCNU Jember, Selasa, 19 April 2016, jam 10.00 Wib sd 10.30 WIB, Dr Kiai MN Harisudin mendorong semua elemen orang tua untuk memperhatikan pendidikan anaknya. Salah satunya dengan cara menempatkan anak-anak mereka di pondok pesantren.

“Gerakan Ayo Mondok, hemat saya, sangat bagus. Ini ide brilliant untuk mendidik anak-anak bangsa ini bisa menjadi lebih baik. Jangan biarkan anak-anak didik kita dididik secara sekuler. Kalau sudah sekuler, jangan salahkan anaknya”, kata Kiai MN Harisudin yang juga penceramah rutin di Jember 1TV dan TV9 Surabaya tersebut.

Di tengah-tengah tantangan moralitas anak-anak di masa sekarang, maka Pondok Pesantren adalah sekolah prioritas untuk mendidik anak-anak sholeh yang berkarakter.”Di pondok pesantren, anak kita dididik untuk menjadi anak-anak yang berakhlakul karimah.  Anak-anak yang dijauhkan dari pergaulan bebas, dijauhkan dari narkoba, dijauhkan dari radikalisme-terorisme, dan sebagainya. Karena itu, kita harus bangga dengan pondok pesantren kita”, tukas Kiai MN Harisudin yang juga Pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember tersebut.

Dalam konteks  Jember, Kiai MN Harisudin mendorong para pelajar dan mahasiswa untuk tidak sungkan-sungkan di pondok. “ Ya ini karena Jember dikenal sebagai kota pelajar. Banyak mahasiswa dan pelajar dari kabupaten lain di sini. Mereka kuliah di Universitas Jember, Politeknik Negeri Jember, Institut Agama Islam Negeri Jember, Universitas Islam Jember dan lain-lain. Mereka juga pelajar di MAN1 Jember, MAN 2 Jember, SMA 1 Negeri Jember, SMA 2 Negeri Jember dan lain-lain.  Jangan gengsi di pondok. Justru, di pondok diajari banyak hal. Misalnya, kemandirian, kesederhanaan, kejujuran dan juga kebersamaan”.

“Makanya, para orang tua harus memilih tegas pondok. Jangan membiarkan anak perempuannya bebas tinggal di kontrakan dan kos tanpa kendali karena akibatnya kita sudah bisa tebak. Mereka yang di luar pondok lebih mudah terpengaruh tradisi ‘kumpul kebo’ dan perzinahan”, jelas Kiai M.N. Harisudin yang juga Wakil Ketua Lembaga Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur tersebut.

Tapi, Kiai MN. Harisudin mengingatkan untuk mondok yang benar-benar di pesantren. “Pesantren yang benar ya ada bangunan pondoknya, ada kiainya, ada ngajinya, dan ada musholla atau masjidnya. Karena sekarang ada namanya pesantren, tapi tidak ada ngajinya. Itu bukan pondok pesantren, tapi kos-kosan berlabel pesantren ”, lanjut Kiai M.N Harisudin yang juga Pengurus MUI Kabupaten Jember tersebut mengakhiri siaran persnya.

(Kontributor NU Online/Anwari)

Categories
Sains

LTN NU Jatim Luncurkan Program Indonesia Menulis

Surabaya, NU Online

Semakin kompetitifnya masyarakat dunia dalam persaingan global, mendorong seluruh pihak untuk meningkatkan sumber daya manusia. Terutama daya saing dalam bidang karya tulis ilmiah, yang hingga kini, Indonesia masih jauh dari Negara-negara seperti Malaysia, Singapura, Thailand dan sebagainya. Catatan merah ini menginisiasi PW Lembaga Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur meluncurkan Program Indonesia Menulis.

Dr. Kiai MN Harisudin, M. Fil. I, Wakil Ketua Lembaga Ta’lif wa an-Nasyr NU Jatim mengatakan pentingnya Program Indonesia Menulis untuk memacu kualitas karya guru, dosen dan mahasiswa di Indonesia. “ Kita masih kalah jauh dengan Negara tetangga. Maka, solusinya adalah melakukan percepatan-percepatan. Dalam rangka percepatan itu, PW LTN NU Jatim meluncurkan Program Indonesia Menulis”, tukas Dosen Pasca Sarjana IAIN Jember, pada hari Jum’at, 18 Maret 2016 di kantor TV 9, Jl. Raya Darmo No. 96 Surabaya tersebut.

Menurut Kiai MN. Harisudin, untuk menghadapi tantangan yang berat ini, LTN NU Jatim memfasilitasi para stake holder di Indonesia, terutama di kalngan guru dan dosen, untuk mengikuti training penulisan karya ilmiah, menulis buku, pelatihan PTK dan sebagainya. “Intinya, kami ingin membantu masyarakat dengan memotivasi mereka dengan menulis dan menulis. Kami kampanyekan bahwa menulis itu mudah, mudah dan mudah. Ini juga membantu para guru untuk mendapat point publikasi ilmiah sebagaimana amanat undang-undang”, kata Wakil Ketua Lembaga Ta’lif wa an-Nasyr NU Jatim yang juga Katib Suriyah PCNU Jember.

“Dan alhamdulillah, sudah banyak yang merespon. Lumajang, Cirebon, Kota Baru, Semarang, Demak, Jember dan banyak kota di seluruh Indonesia yang indent ingin menyelenggarakan kegiatan tersebut. Insyaallah yang dalam waktu dekat, diadakan di Lumajang pada tanggal 2 April 2016”, tukas Kiai Muda yang juga Pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember tersebut.

Oleh karena itu, Kiai M.N. Harisudin mengajak lebih luas lagi pada masyarakat dengan menulis buku yang banyak. Di sini, akan Nampak dinamika intelektual yang luar biasa dan menjadikan Indonesia kelak menjadi magnet peradaban dunia.

Sementara itu, Ketua PW Lembaga Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur, Kiai Ahmad Najib AR, mendukung sepenuhnya Program Indonesia Menulis. “Kemarin kita sudah melaksanakan program unggulan seperti Madrasah Jurnalistik. Juga membentuk Asosiasi Penerbit NU. Dan sekarang ada Program Indonesia Menulis. Ini semua gagasan progresif kami di Lembaga Ta’lif wa an-Nayr NU Jawa Timur untuk memperkuat tradisi menulis di negeri ini” Kata Kiai Najib yang juga Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya tersebut. 

Wallahu’alam.**  

(Anwari/Kontributor NU Online)