Categories
Dunia Islam

Kiprah M Noor Harisudin yang Berdakwah Hingga ke Taiwan

Jawa Pos, Jember (7 Pebruari 2018 )

15 hari berada di Taiwan menjadi waktu yang sangat berarti bagi Muhammad Noor Harisudin. Di sini dia mendapatkan pengalaman luar biasa, melihat perjuangan para TKI dalam bekerja dan semangat meningkatkan keimanan.

Pria yang akrab disapa Ustaz Haris ini biasanya mengajar di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember. Seperti biasa, kopiah hitam selalu melekat di kepalanya, baju muslim selalu dipakai kemana-mana. Setiap bertemu orang selalu tampak ramah dan tersenyum.

Beberapa waktu lalu, dia baru saja datang dari Taiwan untuk memenuhi undangan para buruh migran. Dia ditugaskan oleh KH Imam Mawardi, Surabaya, untuk  berdakwah di Taiwan sejak 13 Desember 2017 hingga 7 Januari 2018. “Syarat berangkat ke sana, berdakwah tidak berorientasi finansial,” katanya. 

Karena niat melayani umat yang ada di Taiwan, pria kelahiran Demak, 25 September 1978 tersebut akhirnya berangkat. Dia diundang oleh Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU Taiwan. “Sebelum berangkat, saya melihat dulu gambaran warga Taiwan,” jelasnya. 

Sehingga, ketika hendak berdakwah dia sudah memahami kondisi warganya. Diketahuinya, jumlah TKI di Taiwan cukup banyak, yakni mencapai 258 ribu orang. Namun, jumlah total orang Indonesia di sana sekitar 300 ribu penduduk. Sebagian dari mereka tidak mau kembali ke Indonesia, karena sudah merasa nyaman dengan sarana transportasi memadai, kesejahteraan tinggi, disiplin, jujur, serta dapat beribadah dengan bebas. 

Taiwan, kata dia, merupakan negara  “setengah merdeka”. Sebab, China tidak mau melepas Taiwan begitu saja. Sehingga bagi China, negeri ini ibarat tetap bagian dari China. “Taiwan  kalau di Indonesia setingkat provinsi, bahkan masih kalah besar dengan provinsi Jawa Timur. 

Di Taiwan, Indonesia tidak memiliki kedutaan, tetapi hanya  Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI). Namun, fungsinya hampir sama dengan kedutaan, karena semua hal diurus oleh KDEI, seperti pernikahan para TKI. 

Di sana, CCTV bertebaran di setiap ruas jalan, bahkan hampir semua untuk ketertiban lalu lintas. Tak heran, jika nyaris tidak ada pelanggaran lalu lintas. Sebab, jika melanggar lalu lintas, biayanya sangat mahal, yakni Rp 6 juta atau 12 ribu NT. “Di sana juga bebas macet,” jelasnya. 

Selama 15 hari di Taiwan, alumni IAI Ibrahimy Situbondo tersebut merasa berada di lingkungan dengan toleransi yang tinggi. Mereka memberikan kebebasan bagi orang Indonesia untuk beribadah. Bahkan, Pemerintah Taiwan menyediakan prayer room atau musalla di stasiun dan fasilitas publik yang lain. PCI NU Taiwan juga bebas menyelenggarakan pengajian. ”Hampir setiap bulan ada pengajian akbar,” jelasnya.

Kendati demikian, mereka harus berhati-hati dalam memilih makanan. Sebab, soal makan ini gampang-gampang susah. Dikhawatirkan makan daging babi yang bagi warga muslim dilarang. Sehingga, mereka harus ke pasar dan memasak sendiri masakannya. 

Gaji mereka cukup tinggi. Mulai dari perawat orang tua sampai buruh pabrik, dan pelayaran, gaji mereka paling rendah Rp 7,5 juta atau 15 ribu NT, gaji maksimal Rp 20 juta atau 40 ribu NT per bulan. “Mayoritas pekerjaan mereka adalah perawat orang tua,” tuturnya. 

Tak heran, para buruh migran di Taiwan kerap mengundang penceramah asal Indonesia untuk meningkatkan keimanan mereka. Selama 15 hari itulah, Ustaz Haris mengisi pengajian pada TKI dan kerap menerima curhat tentang masalah yang dialami. “Pengajian juga dilakukan via online melalui aplikasi Line,” terangnya. 

Kendati mereka memiliki pekerjaan dengan honor yang tinggi, namun pilihan merantau menjadi TKI merupakan pilihan terakhir. Sebab, mayoritas dari mereka memiliki masalah yang cukup rumit. Tak hanya karena persoalan ekonomi, tapi juga masalah keluarga. 

Ustaz Haris menyebutkan, pernah menerima konsultasi dari TKI, karena dia enggan pulang akibat masalah keluarga yang dialaminya. Yakni, jadi korban kekerasan seksual oleh saudaranya sendiri. “Dia curhat tidak bisa menghilangkan kebencian pada saudara yang melakukan kekerasan itu,” paparnya.

Tak hanya itu, ada juga seorang TKI yang bekerja sebagai peternak babi. Sementara, dia beragama Islam, tinggal di pemukiman non Islam di atas gunung. “Dia bertanya, apakah bisa salat Jumat sendirian karena tidak ada muslim lainnya,” ucapnya menirukan pertanyaan TKI tersebut. 

Kondisi yang dialami oleh TKI itu memang berat, karena harus bekerja di peternakan babi. Namun, dari sana dia bisa memperoleh rezeki. “Saya jawab, salatnya bisa menggunakan madzhab yang lain, bisa salat semampunya,” ujar Kaprodi Hukum Tata Negara Fakultas Syariah IAIN Jember ini.

Perbedaan hukum di daerah mayoritas dan minoritas muslim ini menjadi wajar. Karena, dalam kaidah fiqih disebutkan bahwa perubahan hukum bergantung pada perubahan waktu, tempat, dan keadaan. “Kalau ada hukum-hukum yang berbeda, itu adalah karena adanya perubahan waktu, tempat, dan keadaan,” jelas wakil ketua Lembaga Ta’lif wa an-Nasyr PWNU Jawa Timur tersebut. 

Di Taiwan, dia juga dipercaya untuk memandu warga Taiwan yang masuk Islam. Rupanya, warga TKI yang tinggal di sana mampu menunjukkan Islam rahmatan lil alamien. “Para TKI memiliki semangat tinggi untuk meningkatkan keimanan mereka,” pungkasnya.

(jr/gus/hdi/das/JPR)

Categories
Sains

Belajar pada Perguruan Tinggi di Taiwan

Taipe, NU Online

Di sela-sela kesibukan berdakwah di negeri Formosa, sebutan negeri yang indah untuk Taiwan, Kiai MN. Harisudin, utusan Pondok Pesantren Kota Alif Lam Mim Surabaya, menyempatkan diri berkunjung ke National Taiwan University of Science and Technology di Taipe.

Taipe sendiri merupakan ibu kota Taiwan yang indah dan menawan. Setelah berdiskusi tentang Sistem Bermadzhab dalam Islam dengan puluhan mahasiswa S2 dan S3 di universitas ini (29/12) Wakil Sekjen Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta se-Indonesia (ABPTSI) menyampaikan bahwa perguruan tinggi di Indonesia harus banyak belajar ke Taiwan. 

Kiai MN Harisudin didampingi Ustadz Didik Purwanto, Sekretaris Tanfidziyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama  (PCI NU) Taiwan. Ustadz Didik Purwanto adalah salah satu mahasiswa S3 di National Taiwan University of Science and Technology. Sebelumnya, alumni Institut Teknologi Surabaya (ITS) ini juga menyelesaikan pendidikan S2 di perguruan tinggi ini. Dalam hitungan Ustad Didik Purwanto, ada kurang lebih 250 mahasiswa Indonesia, baik Muslim atau non-Muslim di kampus ini. Semunya kuliah S2 ataupun S3. 

Menurut Kiai MN Harisudin, pendidikan di Taiwan perlu ditiru.

“Kata Ustadz Didik tadi, bahwa perbandingan kuliah S1 dengan Pascasarjana (S2 dan S3) hampir sama. Jumlah mahasiswa S1 di National Taiwan University of Science and Technology tercatat 5.645 dan pasca sarjana berjumlah 4.744 (total yang S2 dan S3). Ini menarik karena ternyata pemerintah Taiwan memberi batas minimal kuliah adalah S2. Bandingkan dengan kita (Indonesia) yang S1-nya jumlahnya bisa 6-10 kali lipat pendidikan Pascasarjana. Juga pendidikan di negeri kita baru 9 tahun atau setara SMA”, tukas Sekretaris Yayasan Pendidikan Nahdlatul Ulama Jember tersebut.

Selain itu, yang menarik adalah jumlah profesor yang banyaknya sebanyak jumlah laboratorium yang ada. Ada lebih dari 100 laboratorium, itu artinya ada 100 profesor lebih di kampus ini.

“Luar biasa. Satu profesor untuk satu laboratorium. Setiap hari, mereka bergumul dalam laboratorium dan mahasiswa S2 dan S3 waktunya banyak habis di laboratorium  untuk penelitian. Yang meluluskan mahasiswa uniknya bukan Fakultas atau Universitas, namun profesor itu tadi,” tukas Dosen Pascasarjana IAIN Jember tersebut.    

Karenanya ada banyak lagi hal yang perguruan tinggi di Indonesia perlu belajar di sini.

“Misalnya, mereka yang S2 sejak semester satu, sudah dibimbing profesor. Jadi betul-betul diarahkan. Mereka kuliahnya langsung ke laboratorium dalam bimbingan seorang profesor. Kuliah di kelas-kelas besar seperti laiknya di Indonesia, kalau di Taiwan tidak laku. Selain itu, laboratorium Profesor tadi langsung bekerjasama dengan perusahaan atau industri sehingga berkembang dengan pesat,” papar Kiai Harisudin. ABPTSI sendiri merupakan organisasi atau badan penyelenggara perguruan tinggi. ABPTSI adalah asosiasi tempat perhimpunan para owner seluruh perguruan tinggi swasta di Indonesia. Perhimpunan ini sudah berdiri sejak tahun 2003 dan telah berhasil mengusulkan beberapa hal penting dalam dunia perguruan tinggi, misalnya pencabutan UU Badan Hukum Pendidikan tahun 2009 melalui judicial review di MK, umur dosen yang ber-NIDN minimal 58 tahun dari yang sebelumnya hanya 50 tahun, dan kebijakan lain yang memihak perguruan tinggi swasta. ABPTSI saat ini dipimpin oleh Thomas Suyatno, seorang profesor di Universitas Atmajaya Jakarta. (Shohibul Ulum/Kendi Setiawan)

Categories
Dunia Islam

Pengasuh Darul Hikam Jember Berikan Bingkisan bagi Jamaah Pengajian

Jember, NU Online

Puluhan jamaah pengajian rutin di Masjid Agung al-Baitul Amien, Jember, Jawa Timur terlihat sumringah. Di samping menerima materi dari kitab Irsyadul Ibad yang diasuh Kiai MN Harisuddin, sebagian mereka menerima bingkisan.

“Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian. Alhamdulillah, kami mendapat amanah untuk memberikan bingkisan. Mohon maaf, baru bisa memberi 30 orang. Doakan semoga di masa-masa yang akan datang akan lebih banyak memberi bingkisan,” kata Kiai Harisudin kepada ratusan hadirin yang hadir. 

Katib Syuriyah Pengurus Cabang NU Jember tersebut menjelaskan bahwa bingkisan diperoleh dari Unit Pengumpul Zakat (UPZ) AZKA Al-Baitul Amien Pondok Pesantren Darul Hikam, Mangli, Kaliwates, Jember. 

Menurut Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Lembaga Ta’lif wan Nasyr NU Jatim ini, bingkisan yang ada diharapkan bisa menjadi penyemangat untuk senantiasa mengikuti majlis taklim di masjid tersebut. 

“Ini tidak banyak. Tapi cukup ekslusif. Dan semoga menjadi pelecut untuk tambah semangat di majlis taklim ini,” kata dosen pascasarjana IAIN Jember tersebut. 

Menurutnya, jika mau membandingkan, apa yang diterima sebenarnya tidak ada apa-apanya dibandingkan pahala para jamaah ketika ikut aktif dalam pengajian ini, lanjutnya. 

Sementara itu, Bapak Jarot sebagai salah seorang penerima bingkisan menyampaikan terima kasih. “Saya atas nama jamaah sangat berterima kasih. Terutama atas pemberian bingkisan ini. Insyaallah berkah dan manfaat,” katanya dengan muka berbinar. 

Ia juga mendoakan Pondok Darul Hikam semakin besar dan hajat pengasuh terkabul. “Kami mohon selalu bimbingan dan arahan Kiai Harisudin untuk menjadi muslim dan muslimah sejati,” pintanya. Hal tersebut agar jamaah dapat menjadi orang yang bersyukur, sabar dan bertakwa, lanjut pria yang bertugas sebagai muadzin di masjid setempat.  

UPZ AZKA Al-Baitul Amien Pondok Pesantren Darul Hikam Mangli Jember dipimpin Kiai MN Harisudin. Beralamat di Perum Pesona Surya Milenia C.7 No.6 Mangli Kaliwates Jember. (Shohibul Ulum/Ibnu Nawawi)      

Categories
Opini

Ketika Al-Quran Melekat Di dalam Jiwa

Indonesia memiliki umat beragama Islam terbanyak di dunia. Umat yang menteladani figur agung Nabi Muhammad Saw yang menjalani pahit manisnya kehidupan dengan tanpa gundah gulana. Cacian dan makian beliau terima dengan lapang dada. Akhlak yang mulia, ilmu yang tinggi menjadikan beliau di cap sebagai manusia satu-satunya yang paling sempurna di muka bumi.

Indonesia memiliki puluhan bahkan ribuan kyai dan ulama atau biasa disebut dalam bahasa Jawa sebagai wong ngalim artinya orang yang berilmu. Kyai dan ulama berusaha dalam mengupayakan tersebarnya syariat Islam bagi orang awam agar masyarakat mengerti dan mengetahui seluk beluk yang terkandung didalam agama Islam, karena agama Islam adalah sebaik-baiknya agama.

Sebelum Islam masuk, negara Arab disebut-sebut sebagai negara yang kacau balau. Arab menjadi sorotan utama dengan tradisi yang terkenal pada saat itu tradisi dimana setiap ibu yang melahirkan anak berjenis kelamin perempuan harus memilih salah satu dari 2 pilihan.Pilihan pertama anak perempuan harus dibunuh atau kedua diperbolehkan hidup namun orang tua harus siap menanggung aib karena mempunyai anak perempuan.

Umat Islam di dalam maupun di luar Indonesia pasti tidak asing mendengar dua pedoman yang dimiliki agama Islam yakni Al-Quran dan Al-Hadis.Keduanya mempunyai peranan sangat penting bagi umat Islam dalam menjalani hidup, dimulai dari dilahirkanya manusia ke dunia hingga kembali lagi ke tanah. Tidak dapat dielak isi dari Al-Quran yang dimiliki agama Islam adalah pedoman yang jelas, sudah pasti  kebenaranya dan tidak ada yang lebih baik darinya.

Allah berfirman dalam QS. Al-Baqoroh ayat 23 yang artinya : “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”

Firman Allah pada ayat (23) dijawab di dalam ayat selanjutnya (24) yang memastikan bahwa tidak akan ada yang mampu membuat serupa dengan isi Al-Quran, karena memang Al-Quran diciptakan sebagai kitab yang tidak ada duanya bahkan tidak ada kesepuluhnya. Dibaan atau yang biasa disebut tiba’an dalam bahasa Jawa,sering dilakukan pada Kamis malam Jumat dimana didalamnya berkumpulnya muslimin dan muslimat bersama-sama melantunkan shalawat NabiMuhammad SAW.

Melantunkan shalawat-shalawat nabi tanpa membaca niat untuk meneladani Rasul tidak mendapatkan pahala, lain ketika kita membaca Al-Quran dengan atau tanpa niat kita sudah mendapatkan pahala dari Allah.

Berbicara tentang pengalaman menghafal kitab suci Al-Quran butuh waktu berjam-jam untuk bercerita dan butuh waktu behari-hari untuk menorehkan tinta diatas kertas putih ini.Kitab suci Al-Quran memiliki 114 surat dan 6666 ayat. Sempat terbesit satu pertanyaan di kepala penulis apa mungkin? Apakah mungkin penulis bisa khatam menghafal dengan jumlah sebanyak itu?

Penulis adalah salah satu mahasiswi di Institus Agama Islam Negeri di salah satu kota yang dikenal dengan kota administrasi yang diapit oleh tiga kabupaten di Jawa Timur.Penulis termasuk salah satu mahasiswi baru yang masuk dalam daftar nama-nama mahasiswa kupu-kupu. Mahasiswa kupu-kupu adalah mahasiswa yang kerjanya hanya kuliah pulang kuliah pulang. Masyarakat di sekitar kampus menyediakan beberapa pilihan tempat menetap untuk mahasiswa luar kota diantaranya rumah kost, rumah kontrak dan pondok. Penulis memilih rumah kost untuk menetap bersama dengan 2 teman dekatnya Luluk dan Elma. Teman yang selalu menasehati jika salah satu dari kita ada yang sedikit melewati garis batas, salah satu contohnya keluar sampai malam dengan pacar.

Delapan bulan berada di kost, Luluk memutuskan untuk pindah tempat tinggal. Pondok yang jaraknya tidak terlalu jauh sekitar 100 meter dari mantan kost yang dulu.Keputusan tesebut didasarkan ada campur tangan keinginan dari keluarga, selain itu dia juga merasa bosan karena tidak ada kegiatan lain sekaligus tidak ada peraturan yang menekan dirinya untuk melakukan sesuatu. Setengah tahun telah berlalu, pertambahan semesterpun juga sudah di depan mata.

Penulis merasakan adanya kekosongan hati, kosong dari pengetahuan-pengetahuan agama. Hati yang kosong sangat penting adanya pemasukan pengetahuan tentang agama, pondok insya Allah tempat yang cocok untuk itu semua. Singkat cerita, tanpa berfikir lama penulis langsung memutuskan untuk mengikuti jejak temannya untuk menetap di pondok. Orang tua sempat tidak menyetujui dengan keputusan yang ditetapkan karena menurut mereka kasihan dengan otak yang harus dibagi-bagi, urusan pondok dengan urusan kuliah. Dengan beribu penjelasan yang diutarakan penulis, akhirnya orang tua menyetujui masuk ke pondok.

Tujuan masuk ke pondok hanya satu, selain mencari ilmu di bangku kuliah tidak lain dan tidak bukan hanyalah ingin lebih dekat dengan Allah. Karena lingkungan yang menentukan, jika lingkungan yang kita tinggali buruk kemungkinan terbesar kita juga akan ikut-ikutan untuk berperilaku buruk dan sebaliknya jika lingkungan disekitar kita baik maka kitapun akan menjadi orang yang baik. Jika lingkungan kita adalah lingkungan yang selalu dekat dengan Allah, kita juga akan ikut lebih dekat dengan Allah. Pertama kali masuk pondok penulis bertemu dengan dua santri baru pindahan dari pondok sebelah Elis dan Riza. Merekalah yang mengajak penulis untuk menghafal Al-Quran dengan memberikan terjemah hadis yang isinya “Barang siapa yang menghafal Al-Quran, maka nanti di akhirat dia akan memasangkan mahkota kepada orang tuanya”.

Doa anak semoga selalu bisa membahagiakan orang tua di dunia dan akhirat. Proses menghafal Al-Quran tidak semudah membalikan telapak tangan. Niat dan tujuan yang besar adalah modal awal yang harus kita miliki untuk memulai suatu pekerjaan. Karena dengan adanya dua hal tersebut dapat mempengaruhi psikologis kita untuk selalu semangat. Bekal sabar dan tekun juga dianjurkan untuk dimiliki siapa saja yang ingin menghafal al-Quran. Di saat sudah mengulang-ulang bacaan namun tak kunjung hafal sempat membuat penulis tak lagi optimis. Air mata menetes dan pertanyaan itu kembali datang “Apa aku bisa?”.Teringat dengan firman Allah yang berbunyi: “….. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.”

Kerisauan penulis sudah terjawab lewat potongan terjemahan dalam QS. Yusuf ayat 87.Orang yang berputus asa dialah orang kafir. Proses tidak akan menghianati hasil, besar prosesnya besar pula hasilnya. Semenjak dekat dengan Al-Quran, rasa aman, nyaman, tenang dan tentram telah dirasakan oleh penulis. Bukti nyata yang terjadi, dengan kita menghafal, memahami dan mengamalkan Al-Quran membuat kita semakin dekat dengan Allah. Semakin kita dekat dengan, maka Allah akan lebih dekat lagi pada kita. Nabi Muhammad bersabda: “Allah ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku, jika ia mengingat-Ku saat sendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.”(HR. Bukhori no 6970 dan Muslim no. 2675).

Nabi Muhammad yang sejatinya sudah terjamin manusia terjaga atau yang disebut ma’sum masih menyempatkan waktu untuk selalu dekat dengan Allah, lalu bagaimana dengan kita?Manusia biasa tanpa memiliki jaminan namun tetap sombong diatas bumi.Apa yang bisa kita banggakan selain mencari ridho Allah?
Wallahu’alam. []

Penulis: Asti Faradina. Mahasiswi Prodi Tadris Matematika FTIK IAIN Jember dan Maha Santri PP Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember

Categories
Dunia Islam

Amal Jariyah Buku untuk PCI NU Taiwan

Taipe, 7 Januari 2018.

Kehadiran utusan Pondok Pesantren Kota Alif Lam Mim membawa “suasana kekeluargaan” sendiri di PCI NU Taiwan. Selama lima belas hari kunjungan dakwah (23 Desember 2017 hingga 7 Januari 2018), Kiai MN. Harisudin merasa bagaikan keluarga. Suasana akrab dengan pengurus PCI NU Taiwan, Fatayat NU, Banser dan Ansor serta NU Care Lazisnu membawa kesan yang mendalam bagi kiai muda asal Jember. Apalagi, makanannya khas bagaikan di warung Indonesia.

“Kiai Haris, kalau di PCI NU Taiwan yang begini ini. Makanannya seperti di Jawa. Cara makannya juga rame-rame seperti di Indonesia. Jadi, suasananya betul-betul  “Indonesia”. Mohon maaf, kalau ada yang kurang berkenan ”, tegas ustadz Agus Susanto, Rois Syuriyah PCI NU Taiwan 2016-2018. PCI NU Taiwan tidak berlangsung lama. Karena umumnya kontrak kerja tiga tahun dan setelah itu akan diganti lagi. Demikian juga, masa bakti Ketua Tanfidziyah PCI NU Taiwan, Ust. Arif Wahyudi, yang dua tahun, masa bakti 2014-2016 dan 2016-2018.    

Selain kunjungan dakwah, Kiai Harisudin juga diajak keliling ke beberapa ranting PCI NU Taiwan. Terdapat beberapa ranting PCI NU Taiwan seperti Taichung, Yilan, Dolio, Penghu, Nankan dan Pintung. Umumnya satu ranting adalah untuk kota sebesar Taichung. Taichung sendiri kota sebesar Surabaya yang maju. Sementara, Taipe adalah ibu kota Taiwan yang indah dan menawan. Last but not least, hampir semua kota-kota di Taiwan, terdapat ranting NU –nya sehingga memungkinkan dakwah Aswaja –ahlussunah wal jama’ah—berlangsung syiarnya dengan baik.  

Kiai Harisudin juga diminta menjadi Wali Nikah pernikahan Ketua Tanfidziyah PCI NU Taiwan. Ust, Arif Wahyudi dan Dewi Ningsih, pada Ahad, 31 Desember 2017. Pernikahan yang luar biasa itu didatangi kurang lebih 300 orang dari warga NU Taiwan dari segala penjuru. Karena Ust Arif Wayudi sendiri adalah “bapaknya” orang NU di Taiwan. Selain itu, datang juga tamu undangan dari Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia, Rumah Jenazah, pengusaha, dan kolega yang lain. Sebuah babak baru untuk Ust. Arif Wahyudi dan ibu Dewi Ningsih dalam mengarungi bahtera keluarga untuk mencapai keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah.

Kiai MN. Harisudin sangat mengappresiasi PCI NU Taiwan yang patut menjadi percontohan PCI NU dan PCNU se dunia, karena kegiatannya kompak dan memberikan pemberdayaan yang sungguh-sungguh pada pekerja Migran Indonesia. “Pertama, saya ada salamnya Dr. KH Imam Mawardi, MA, pengasuh Ponpes Kota Alif Lam Mim Surabaya untuk pengurus PCI NU Taiwan yang mengirim saya untuk safari dakwah ke Taiwan. Kedua, saya terus terang terharu. Meskipun teman-teman PCI NU Taiwan ada keterbatasan karena waktu libur kerja hanya Sabtu dan Minggu, tapi masya’allah. Kegiatannya jangan ditanya. Setiap bulan mereka mengadakan tabligh akbar. Belum dakwah melalui yasinan, majlis taklim-majlis taklim baik on air atau darat. Belum program yang lain sepertu perawatan jenazah, dan lain-lain”, tukas kiai yang juga MN. Harisudin yang juga Dosen Pasaca Sarjana IAIN Jember tersebut.

Di akhir acara, Kiai MN. Harisudin menyerahkan titipan buku-buku NU untuk PCI NU Taiwan. Buku ini adalah titipan Pengurus LTN PWNU Jawa Timur. “Buku ini titipan dari PW Lembaga Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur, untuk dihibahkan kepada PCI NU Taiwan. Ketua LTN PWNU Jawa Timur, Gus Najib menitipkan ke saya. Jadi, saya hanya menyampaikan amanat”, kata Kiai MN. Harisudin yang juga Wakil Ketua Lembaga Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur.

Kemudian buku diserahkan pada Ibu Jarmi, seorang tokoh fatayat yang juga pendiri PCI NU Taiwan. Ada kurang lebih 30 judul buku yang diberikan untuk PCI NU Taiwan.  “Terima kasih pada ustadz atau Kiai Harisudin. Buku-buku ini saya terima untuk dijadikan amal jariyah Lembaga Ta’lif wa an-Nasyr PWNU Jawa Timur. Semoga bermanfaat bagi kami”, ujar Bu Jarmi mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya atas program amal jariyah buku LTN PWNU Jawa Timur tersebut.    

Wallahu’alam. ** Sohibul Ulum/Kontributor NU.

Categories
Ulama Nusantara

Persiapkan Lailatul Qadar Lebih Dini, Dr. Kiai Harisudin Ajak Sucikan Hati

Jember, NU Online

Katib Syuriyah PCNU Jember Kiai MN. Harisudin mengajak warga Jember untuk mensucikan hati dalam rangka menyambut Lailatul Qadar. Karena, menurut Kiai Harisudin hanya mereka yang berhati bening dan suci yang mampu mendapatkannya. 

Demikian disampaikan Kiai MN Harisudin yang juga dosen pascasarjana IAIN Jember di hadapan kurang lebih 600 jama’ah Masjid Raudlatul Mukhlisin Kaliwates Jember. Pengajian menjelang buka puasa, Senin (29/5) yang dimulai jam 16.30 WIB sampai menjelang berbuka puasa.  

Masjid Raudaltul Mukhlisin yang diresmikan oleh Rais ‘Aam PBNU, KH Ma’ruf Amin pada Senin, 15 Mei 2017 ini sendiri menjadi destinasi wisata religi yang menjadi ikon kota Jember. Banyak pengunjung dari berbagai luar kota yang menyempatkan diri untuk datang ke masjid dengan desain mirip Masjid Nabawi kota Madinah tersebut. 

Di masjid ini, Kiai Harisudin mengajak jama’ah untuk biasa-biasa saja puasa, yaitu agar tidak seperti yang dikritik Nabi Muhammad Saw. “Rubba shaimin laisa lahu minshiyamihi illal ju’a wal athas. Banyak sekali orang yang berpuasa, tapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga”.  

Menurut Kiai Pengasuh Program Bengkel Kalbu Ponpes Darul Hikam Jember ini, puasa yang tidak biasa-biasa adalah dengan puasa hati. 

Setidaknya ada dua puasa hati yang dilakukan. Pertama, puasa hati dari membenci. Dengan puasa ini, Kiai Harisudin menganjurkan jama’ah agar tidak membenci orang lain. “Orang yang baik adalah orang yang cepat melupakan kesalahan orang lain. Demikian juga, orang yang baik adalah orang yang selalu ingat kesalahan dirinya. Dengan cara ini, kita meminimalisir kebencian sesama. Karena tidak ada satupun orang yang sempurna dan tidak ada seorang pun yang tidak memiliki kesalahan,” tukas Wakil Ketua PW Lembaga Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur tersebut seraya mencontohkan Abu Bakar yang menghilangkan kebencian terhadap Mitstah bin Utsatsah (saudaranya) karena ikut memprovokasi warga Madinah menuduh Siti Aisyah berzina dengan Shofwan bin Mu’atthal. 

Kedua, puasa dengan mengendalikan amarah. Kiai Harisudin menyebut hadits yang menceritakan teguran keras Rasulullah Saw. pada seorang sahabat yang marah-marah pada seorang budaknya. “Batalkan puasa kamu,” pinta Rasulullah Saw. Bagi Kiai yang juga pengurus Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Jember ini, hadits ini menjadi inspirasi untuk mengendalikan emosi di saat puasa Ramadhan. Apalah artinya puasa kalau emosi tetap membelenggunya.  

Categories
Dunia Islam

Para Teroris Itu Bukan Syuhada

Para teroris itu bukan syuhada. Pernyataan ini disampaikan Katib Syuriyah PCNU Jember, Kiai MN Harisudin dalam pengajian kitab Irsyadul Ibad di Masjid Agung Al-Baitul Amien Jember pada Ahad, 16 April 2017.  Hadir tidak kurang 200 jama’ah muslimin dan muslimat se Kabupaten Jember. Pernyataan Kiai Harisudin yang juga dosen pascasarjana IAIN Jember ini berbeda secara frontal dengan umat Islam garis keras yang memandang bahwa para teroris itu mati syahid. 

“Qala Rasulullah Saw.: Umirtu an uqatilan nas hatta yashadu an la ilaha illah wa anni rasulullah. Faiddza qaluha ashamu minni dima’ahum wa amwalahum illa bihaqqiha. Wa hisabuhum alat taqwa. Hadits ini merupakan perintah untuk memerangi manusia sampai mereka bersyahadat bahwa Allah Swt. adalah Tuhan mereka dan Muhammad Saw. adalah utusan Allah Swt,” tutur Kiai MN Harisudin yang juga Pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember mengawali pengajian Subuh di setiap Hari Ahad.

Namun, Kiai MN Harisudin juga mewanti-wanti agar tidak memahami secara leterlek. Karena pemahaman leterlek hadits hanya akan memunculkan sikap radikal dalam beragama. Misalnya karena ingin menerapkan hadist ini, maka setiap orang yang ditemui di jalan-jalan kemudian ditanya apakah sudah bersyahadat pada Allah dan Rasul-Nya. Kalau tidak bersyahadat, maka orang ini akan dipenggal lehernya. Demikian ini, kata Kiai MN Harsiudin, adalah pemahaman yang keliru dalam memaknai jihad. 

Lebih lanjut, Kiai MN Harisudin mengoreksi pendapat-pendapat yang mengatakan para teroris itu seorang yang berjihad dan kalau mati disebut syahid. 
“Haditsnya dalam kitab Irsyadul Ibad ini kan bunyinya, man qaatala litakuna kalimatullahi hiyal ulya fahuwa fi sabilillahi. Artinya ukuran jihad fi sabilillah adalah tujuan menegakkan kalimat Allah Swt. agar tinggi dan mulia. Kalau para teroris, justru membuat agama seperti direndahkan dan tidak mulia. Bagaimana dikatakan mulia agama, karena menyuruh membunuh orang-orang yang tidak berdosa. Makanya mereka tidak bisa disebut syahid,” tukas Kiai MN Harisudin yang juga Pengurus Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Jember. 

Oleh karena itu, contoh orang yang disebut syahid, menurut Kiai MN Harisudin adalah para syuhada yang gugur melawan penjajah Portugis, Belanda dan Jepang di Indonesia. 

“Kalau di masa sekarang, mereka yang syahid adalah para pejuang yang melawan orang-orang Yahudi di Palestina. Jadi merekalah yang disebut syahid, kalau meninggal tidak perlu dimandikan, tidak dikafani dan tidak dishalati karena bajunya yang berlumuran darah karena perang menjadi saksi di akhirat kelak,” tukas Kiai MN Harisudin yang juga Wakil Ketua Lembaga Ta’lif wan-Nasyr NU Jawa Timur tersebut.

(Dari NU Online.Anwari/Mukafi Niam)

Categories
Dunia Islam

Harlah IKA-PMII, Tiga Lembaga Kolaborasi Bedah Buku “Fiqh Nusantara”

Dalam rangka Harlah IKA-PMII dan Pelantikan HMPS Hukum Tata Negara Fakultas Syari’ah IAIN Jember adakan Seminar dan Bedah Buku “Fiqh Nusantara dan Sistem Hukum Nasional”, Kamis, 20 April 2017.  Acara yang dihadiri tak kurang dari 300 orang itu diadakan di auditorium IAIN Jember. Kegiatan ini diselenggarakan atas kerja sama PC IKA-PMII Jember, Ponpes Darul Hikam Mangli Jember dan Himpunan Mahasiswa Program Studi Hukum Tata Negara Fakultas Syari’ah IAIN Jember. 

Dalam sambutannya, Ketua Jurusan Hukum Islam, Muhaimin MHI, mengatakan sangat senang akan kegiatan ini. “Saya berterima kasih atas semua yang telah berkonstribusi dalam acara ini. Ini membuktikan bahwa Prodi Hukum Tata Negara sangat bagus dan hebat. Saya harap akan banyak acara-acara serius tentang Islam Nusantara ini. Apalagi, sebentar lagi, Fakultas Syari’ah akan punya Guru Besar baru”, tukas Muhaimin memotivasi.   

Pengasuh Putri Ponpes Darul Hikam, Nyai Robiatul Adawiyah menyebut pentingnya pesantren dalam mendukung kegiatan IAIN Jember dengan visinya Pusat Pengembangan Pesantren dan Islam Nusantara. “Kami, selaku pengasuh PP Darul Hikam mendukung Visi IAIN Jember dengan Islam Nusantaranya, temasuk kegiatan bedah buku ini. Jadi, kalau ada acara yang berskala nasional bahkan internasional di masa-masa mendatang, kami siap berkonstribusi”, papar ibu Nyai muda yang masih menyelesaikan S2 Hukum Keluarga Pasca Sarjana IAIN Jember tersebut.

Sementara itu, Ketua IKA-PMII Jember, Dr. Akhmad Taufik, M.Si, mengatakan bahwa bedah buku ini adalah rangkaian Harlah IKA-PMII yang ke-57. “ Kita tanggal 17 April 2017 kemarin ada santunan anak yatim. Dan hari ini, 20 April, ada bedah buku Fiqh Nusantara. Selanjutnya, nanti tanggal 24 April ada Tahlil dan Halaqah Kebangsaan untuk alm. Dr. KH. Hasyim Muzadi di Masjid Sunan Kalijaga Jember. Selanjutnya, kerja sama tiga lembaga ini yaitu PC IKA PMII Jember, Ponpes Darul Hikam dan HMPS Hukum Tata Negara Fakultas Syari’ah berarti menunjukkan adanya kegiatan yang bisa diusung bersama”, kata Mas Taufik, panggilan akrabnya,  yang juga Dosen FKIP Universitas Jember.

Seminar dan bedah buku ini juga berlangsung gayeng sehingga berakhir hingga pukul 13.00 Wib. Zaini Rahman, penulis buku ini menyebut bahwa pondasi hukum Nasional di Indonesia ada dua, hukum Islam dan hukum Adat. “Jadi, hukum Barat tidak menjadi pondasi Hukum nasional di Negara kita. Di sinilah, makanya para sarjana Hukum Islam di negeri ini menjadi sangat penting. Terutama, untuk penalaran hukum, itu kalau kita kembali ke Hukum Islam. Saya sudah belajar bermacam-macam hukum, tapi akhirnya tetap kembali pada hukum Islam. Dan belajar hukum Islam ya di pesantren”, tukas Ketua PB IKA-PMII dan anggota DPR RI 2009-2014 ini.

Dr. Kiai MN Harisudin, M.Fil.I memberi catatan buku ini sebagai buku yang lengkap untuk referensi buku pengetahuan hukum dan penalaran hukum. “Buku ini buku yang komprehensip membahas pengetahuan hukum dan penalaran huku, dua hal yang dijadikan kompetensi hukum. Hanya, ada tiga catatan yang saya ajukan dalam buku ini. Pertama, buku ini kurang up date dalam hukum positif seperti UU Perbankan Syari’ah 2009, UU Produk Halal 2014, UU Haji 2014 dan sebagainya. Kedua, buku ini tidak menjelaskan Metodologi Fiqh Nusantara. Ketiga, buku ini sangat sedikit mengupas tentang Fiqh Nusantara”, tukas Kiai MN Harisudin yang juga Katib Syuriyah PCNU Jember.

Al Khanif, LLM, Ph.D menambahkan tentang pentingnya Hukum Islam. “Saya sering bertanya pada mahasiswa saya, kenapa Hukum Islam dipelajari ? Apakah karena mayoritas ? Mahasiswa saya tidak bisa menjawab. Saya katakan, hukum Islam dipelajari karena sudah menjadi bagian dari Sistem Hukum di dunia.  Selanjutnya, saya bertanya maslahah pada Saudara Zaini Rahman. Karena seringkali maslahah untuk mayoritas, dan tidak untuk minoritas. Seperti kasus Syi’ah di Sampang”, tukas al-Khanif yang juga Dosen Fakultas Hukum Universitas Jember.

Wallahu’alam. **

(Anwari/Kontributor NU)

Categories
Dunia Islam

Silatnas II Keluarga Alumni Ma’had Aly Tekankan Dana Zakat dan Dana Abadi Umat

Tepat pada tangga12 Februari 2017, jam 09.30 WIB-11.00 WIB, acara Silaturrahim Nasional II Keluarga Alumni Ma’had Aly (KAMALY) digelar. Acara yang merupakan reuni alumni dalam rangka Haul Majemuk Pendiri dan Pengasuh PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo ini dihadiri alumni Ma’had Aly dari berbagai Angkatan dan penjuru daerah di Nusantara. Sekitar 300-an alumni yang hadir. Silatnas II Kamaly ini mengangkat tema besar “Revitalisasi Peran Alumni Ma’had Aly dalam Merespon Soal-Soal Kebangsaan, Ekonomi dan Keumatan”. Sebelumnya, Kiai Salim dari Kalimantan yang didapuk untuk membuka acara Kamaly II ini dengan pembacaan tawasul.  

Dalam sambutan pembukaan, Sekjen Pengurus Pusat Kamaly, Dr Kiai M.N. Harisudin, mengucapkan terima kasih pada segenap Panitia. “Terutama pada Ketua Panitia, Kiai Khoiruddin Habsis dan segenap panitia. Semoga ini jadi amal jariyah semuanya. Juga para kiai yang hadir dari seluruh penjuru nusantara”, tutur Kiai MN Harisudin yang juga Dosen Pasca Sarjana IAIN Jember tersebut.    

Selanjutnya, Dr Kiai M.N. Harisudin menegaskan bahwa Kamaly adalah gerakan pemikiran dan IKSASS adalah gerakan sosial. Kedua gerakan ini, lanjutnya,  bisa disenergikan untuk kepentingan syiar PP Salafiyah Syafi’iyah Situbondo. Wakil Ketua Lembaga Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur ini juga menyampaikan  laporan perkembangan Kamaly. “Alhamdulillah, berkat usaha Ketua Umum PP Kamaly, KH. Ach. Muhyiddin Khotib dan teman-teman pengurus, badan hukum Kamaly mulai diurus di kemenkumham. Ini apalagi di depan Kasi Haji dan Umroh Kanwil Kemenag Jawa Timur (Bapak Drs Abd Haris Hasan) dan Jawa Timur serta Ketua Baznas Jawa Timur, (Dr Kusno). Agar para kiai alumni Ma’had Aly ini bisa diajak kerja sama dengan Kemenag Jatim dan Baznas Jawa Timur”, para Kiai MN Harisudin yang juga Pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember.

Sementara itu, KH. Ach. Muhyiddin Khotib, MHI yang membuka acara silaturahim Nasional II ini. Mudir Ma’had Aly PP. Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, KH. Hariri Abd Adzim sendiri tidak bisa hadir karena ada acara ke Banyuwangi. Selanjutnya Kiai Muhyiddin juga menyampaikan laporan sosialisasi Ma’had Aly Formal yang menjadi pro kontra diantara Alumni Ma’had Aly, yang ternyata hasilnya lebih maksimal dan efektif. 

Dalam pembukaan ini, Kiai Muhyiddin Khotib menyoroti dua hal terkait potensi dana untuk pemberdayaan umat ” Fokus yang pertama  adalah zakat. Saya kira, ini ada wakil Ketua Baznas Jawa Timur, Dr Kusno, nanti kita akan diskusi tentang perkembangan zakat, baik level Jawa Timur maupun nasional. Apalagi, ini data-data orang miskin yang punya Kementrian Sosial, ini juga tidak nyambung”, tutur Kiai Ach. Muhyiddin Khotib yang juga kandidat Doktor UIN Sunan Ampel Surabaya.   

Kiai Ach. Muhyiddin Khotib juga mengancang pembahasan Dana Abadi Umat yang menjadi potensi sumber keuangan umat Islam.”Sejak tahun 2005, infonya Dana Abadi Umat tidak bisa digunakan untuk umta Islam. Sekarang, mulai ada pemikiran untuk memaksimalkan kembali Dana haji secara maksimal. Kami minta Drs. Abd Haris Hasan, Kasi Haji dan Umroh untuk menjelaskan. Nanti para peserta Silatnas dapat memberi masukan yang berharga untuk Dana Abadi Umat tersebut ”, ujar Kiai Ach. Muhyiddin Khotib yang juga Katib Ma’had Aly PP Salafiyah Syafi’iyah Situbondo. 

Acara pembukaan ini ditutup dengan do’a oleh KH. Lutfi Asy’ari Situbondo. (Tim Tanwirul Afkar/Anwari/Media NU)

Categories
Dunia Islam

Peserta Silatnas II Kamaly, Bonus Ijazah Kitab Fathul Mujib dari Penulis Langsung

Situbondo, suara NU.

Berbagai persiapan acara silaturrahim Nasional II yang digelar di Kampus Ma’had Aly Ponpes Salafiyah Salafiyah Syafi’iyyah Situbondo, Ahad, 12 Pebruari 2017 sudah disiapkan. Ketua Panitia, Ust. Khoiruddin Habsis, M.H.I, mengatakan bahwa 100 persen persiapan acara sudah dilakukan. “Panitia telah berupaya maksimal menyambut peserta Silatnas II ini. Insya’allah, semua sudah fit. Semoga semua berjalan lancar”, tutur Ust Khoirudin yang juga Staf Pengajar di Ma’had Aly PP Salafiyah Syafi’iyyah Situbondo tersebut.

Menurut Ust Khoirudin, Silatnas ini insya’allah dihadiri 90 persen undangan dari berbagai penjuru kota di Indonesia. “Ini yang sudah menyatakan kesediaan hadir banyak. Hampir 90 persen dari total 300-an alumni. Nara sumber juga sudah siap hadir. Saya sungguh terima kasih atas partsipasinya sebelum dan sesudahnya”, kata Ustadz Khoirudin Habsis yang asal Banjarmasin.

Selain itu, ada yang unik dalam Silatnas Kamaly II kali ini. Para peserta diminta kontribusi untuk konsumsi dan akomodasi acara tersebut. “Ya, minimal uang Rp. 100.000, – Nanti dapat bonus Ijasah kitab Fathul Mujib karya Kiai Afifudin Muhajir”. Nyatanya, para alumni Ma’had Aly ini berbondong-bondong menjadi donator acara ini dengan membayar iuaran mulai 100 ribu sampai dengan dua juta rupiah.

Sebagaimaa diketahui, Fathul Mujib al-Qarib adalah kitab karya KH. Afifudin Muhajir, Katib Syuriyah PBNU, 2010-2015. Kitab ini menjadi salah satu rujukan penting yang diajarkan di pesantren di Indonesia, salah satu diantaranya PP. Darul Hikam Mangli Jember. Kitab ini rencananya akan diijasahkan secara massal oleh KH. Afifudin Muhajir dalam acara Silaturrahim Nasional Keluarga Alumni Ma’had Aly yang kedua tersebut.   

(Anwari/Kontributor media NU)