Categories
Berita

Bedah Buku Islam di Kanada, PP Darul Hikam dan IKMASS Jember Ajak Santri Perkuat Persaudaraan

JEMBER — Pondok Pesantren Darul Hikam Mangli, Kaliwates, Jember, berkolaborasi dengan Rayon Istimewa IKMASS Jember menggelar bedah buku Islam di Negara Multikulturalisme Kanada karya Prof. Dr. KH. M. Noor Harisudin, S.Ag., S.H., M.Fil.I., CLA., CWC. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional dengan mengangkat pengalaman Muslim di Kanada sebagai bahan refleksi dalam merawat keberagaman di Indonesia.

Bedah buku tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni M. Irwan Zamroni Ali, S.H., M.H., pengajar PP Darul Hikam sekaligus dosen UIN KHAS Jember, serta Ahmad Fauzan Bakri, peneliti PAR Alternatif dan demisioner IKMASS. Keduanya mengulas pengalaman kehidupan Muslim di Kanada dari perspektif sosial, keagamaan, dan multikulturalisme.

Prof. Dr. KH. M. Noor Harisudin menjelaskan bahwa bedah buku Islam di Negara Multikulturalisme Kanada diselenggarakan untuk memperingati Hari Santri Nasional. Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang bagi para santri untuk memperluas wawasan dan menumbuhkan semangat belajar.

“Peringatan Hari Santri harus menjadi momentum bagi kita untuk terus belajar, memperluas wawasan, dan meningkatkan kualitas diri,” ujar Prof Haris yang juga Pembina Rayon Istimewa IKMASS Jember.

Guru Besar UIN KHAS Jember, Prof. Haris turut mendorong para mahasantri PP Darul Hikam dan anggota IKMASS Jember agar terus belajar dan berani meraih kesempatan menempuh pendidikan hingga ke luar negeri.

“Saya berharap para mahasantri dan teman-teman IKMASS terus semangat belajar, sehingga kelak bisa melanjutkan pendidikan dan menimba pengalaman sampai ke luar negeri,” pesannya.

Di samping itu, Ketua Umum IKMASS Jember, Adelia Thabita Fariyanti, menyampaikan bahwa kegiatan bedah buku ini diselenggarakan untuk meningkatkan literasi dan menumbuhkan minat baca di kalangan mahasantri.

“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya menambah pengetahuan peserta, tetapi juga mendorong mereka untuk lebih gemar membaca, berpikir kritis, dan menjadikan literasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, M. Irwan Zamroni Ali menjelaskan bahwa buku karya Prof. Haris mengajak pembaca memahami bagaimana umat Islam menjalankan kehidupan beragama di tengah masyarakat dengan latar belakang agama, budaya, dan etnis yang beragam.

“Ketika membahas Islam, kita biasanya lebih banyak melihat pengalaman umat Islam di negara mayoritas Muslim seperti Indonesia. Namun, bagaimana jika umat Islam hidup sebagai minoritas di negara seperti Kanada? Tentu ada pengalaman dan tantangan yang berbeda, mulai dari menjaga identitas keislaman, mendidik anak, melaksanakan ibadah, hingga membangun hubungan baik dengan masyarakat yang berbeda agama,” jelas Irwan yang juga Dosen UIN KHAS Jember.

Ia mencontohkan, Muslim di Kanada terkadang harus menempuh perjalanan cukup jauh untuk mencapai masjid. Kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah wilayah di Indonesia yang memiliki masjid relatif mudah dijumpai. Perbedaan lingkungan ini menunjukkan bahwa kehidupan beragama juga dipengaruhi oleh kondisi sosial dan fasilitas yang tersedia.

Sementara itu, Ahmad Fauzan Bakri mengangkat pengalaman pelaksanaan kurban dan tantangan Islamofobia di Kanada. Ia menjelaskan bahwa penyembelihan hewan kurban di Kanada umumnya dilakukan di rumah pemotongan hewan yang memiliki fasilitas dan sertifikasi halal, berbeda dengan tradisi di Indonesia yang banyak melibatkan masjid dan masyarakat sekitar.

Fauzan juga menyoroti Islamofobia sebagai tantangan bagi masyarakat multikultural. Menurutnya, kebencian terhadap Muslim berpotensi merusak semangat keberagaman yang menjadi salah satu karakter masyarakat Kanada. Di sisi lain, ia mencontohkan respons pemerintah Kanada terhadap komunitas Muslim, termasuk tradisi Perdana Menteri Justin Trudeau menyampaikan ucapan Ramadan dan Idul Fitri.

“Keberagaman tidak cukup hanya diakui, tetapi juga perlu dirawat melalui sikap saling menghormati. Pengalaman Kanada ini dapat menjadi bahan refleksi bagi kita di Indonesia dalam menjaga toleransi dan persaudaraan di tengah perbedaan,” pungkasnya.

Kegiatan ini diikuti puluhan peserta yang terdiri atas mahasantri PP Darul Hikam serta alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, yang saat ini menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi di Jember. Antusiasme peserta dalam mengikuti diskusi diharapkan dapat memperkuat budaya literasi dan memperluas wawasan tentang kehidupan Muslim di berbagai negara.

Reporter : Iklil Naufal Umar
Editor : Wildan Rofikil Anwar