Categories
Opini

The Tiring Trip: Perjalanan Dakwah dari Ujung Selatan Menuju Ujung Utara Dunia

Oleh: M. Noor Harisudin
Direktur Womester dan Guru Besar UIN KHAS Jember

Malam Senin (15/2/2026), saya berangkat dari Bandara Soetta Jakarta. Tepatnya jam 23.00. Saya harus transit ke Hongkong via Pesawat Garuda Indonesia. Dari Hongkong, saya naik pesawat Cathay menuju Tokyo, Jepang. Kurang lebih lima jam juga sampai Jepang. Dari Jepang, saya menuju Kanada melalui maskapi Canada Airlines yang ditempuh hampir 12 jam. Perjalanan pesawat kalau ditotal kurang lebih 22 jam. Saya sampai di Kanada jam 6 sore padahal berangkat dari Tokyo Jepang juga jam 6 sore di hari yang sama (Senin). Mungkin anda bertanya. Jam 6 ke jam 6. Mengapa? Karena selisih waktunya adalah 12 jam. Antara Jepang dan Kanada.

Kanada adalah negara paling ujung utara dengan kutub utara. Sementara, Indonesia ada di ujung Selatan. Sehingga ini merupakan perjalanan panjang dari ujung selatan ke ujung utara dunia. Namun, perjalanan serasa mengasyikkan. Kanada adalah negara paling utara di Amerika Utara. Kanada dengan ibukota Ottawa itu memiliki 10 propinsi dan 3 teritori dengan populasi penduduk kurang lebih 41 juta. Kota-kota besar yang terkenal di Kanada adalah Toronto, Montreal, dan Vancouver. Bahasa resmi yang digunakan di negara ini adalah Bahasa Inggris dan Perancis. Khususnya propinsi Quebec, Bahasa Perancis lebih mendominasi karena daerah ini dulu pernah dijajah Perancis.

Ketika sampai di Montreal Airport, saya langsung dijemput Kiai Sigit Afrianto, Wakil Rois Syuriyah Pengurus Cabang Istemewa Nahdlatul Ulama AS-Kanada. Kiai Sigit adalah seorang tokoh NU Kanada yang saat ini bekerja di perusahaan Airbus Kanada. Dia bersama istri menjemput dengan Mobil Sedan Marcedesnya. Dari Bandara, kami membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai ke rumahnya. Rumah mewah eksotik lantai tiga yang bersih dan menawan.

Apalagi saat musim dingin di Kanada. Halaman rumah Kiai Sigit saljunya satu meter. Jalan-jalan dengan dipenuhi salju. Suhu 0,2 derajat hari itu.
“Masih untung Kiai. Di sini sudah 0. Kemarin sampai minus 32”, kata Kiai Sigit.
Saya masuk kamar dan melihat peta dunia. “Dari ujung selatan ke ujung utara dunia. Makanya, saya sebut the tiring trip. Perjalanan yang asyik, meski melelahkan. Selisih waktu dengan Indonesia 12 jam”, gumam hati saya.

Sepanjang jalan tadi, saya lihat rumah dan halamannya dipenuhi hamparan salju yang menggunung. Maklum, musim dingin (winter). Musim dingin di Kanada terjadi pada Desember hingga Maret. Suhu udara bisa turun hingga -30°C di beberapa daerah. Pada musim ini, orang Kanada mengadakan festival musim dingin yang meriah seperti Winterlude di Ottawa dan Carnaval de Québec di Quebec City. Salju adalah fase saat masih berupa serpihan atau pasrahan es, yang lembut dan kalau di injak ambles. Salju akan mengeras jadi es jika terkena matahari dengan temperature dibawah 0 derajat celcius.

Sementara, musim semi (spring) dimulai bulan Maret dan diakhir Mei. Musim semi adalah musim transisi di mana salju mulai mencair, suhu mulai menghangat, dan alam mulai tumbuh kembali. Pada musim semi, suhu udara yang mulai naik, berkisar antara 0°C hingga 15°C. Hari-hari juga menjadi lebih panjang. Salju mulai mencair, bunga-bunga mulai bermekaran, dan alam kembali hidup. Tak hanya bunga-bunga yang kembali bermekaran, musim ini juga menjadi waktu bagi burung-burung untuk bermigrasi.

Musim panas (summer) terjadi pada bulan Maret hingga Mei. Musim panas sangat menyengat. Suhu udara pada musim ini rata-rata berkisar antara 20°C hingga 30°C. Pada musim panas umumnya digunakan untuk menjelajah Kanada. Pada musim ini pula, Kanada mengadakan berbagai festival musik, budaya, hingga makanan. Beberapa diantaranya adalah Festival Jazz Montreal, Festival Fringe Toronto, dan Celebration of Light di Vancouver.

Terakhir, musim gugur (autumn) terjadi pada bulan September hingga Nopember. Pada musim ini pemandangan terlihat indah. Daun-daun yang hijau berubah menjadi warna-warni (oranye, kuning, dan merah) sebelum berguguran. Daun-daun pohon maple, oak, dan birch berubah menjadi kuning, oranye, dan merah, menciptakan pemandangan yang memukau. Daun ini semakin terlihat indah ketika mengunjungi Algonquin Provincial Park di Ontario dan Cape Breton Highlands National Park di Nova Scotia. Pada ghalibnya, orang Kanada pada musim ini mengadakan festival musim gugur seperti Festival Oktoberfest di Kitchener-Waterloo dan Festival Celtic Colours di Cape Breton.

Orang Kanada sudah terbiasa dengan empat musim tersebut. Ketika musim dingin misalnya. Hamparan salju setinggi satu hingga dua meter tetap dapat diatasi dengan baik. Jalanan tetap dapat digunakan untuk lalu Lalang transportasi karena salju sudah dibersihkan dengan baik. Namun salju yang ada di genteng rumah dan halaman rumah tetap dibiarkan. “Kalau di Jerman, salju tidak setinggi ini Kiai”, kata Kiai Sigit Afrianto pada saya.

Bagaimana hewan tetap hidup dan pohon tetap tumbuh? Nah ini menariknya. Air yang membeku di sungai dan danau membeku menjadi es setebal lebih dari 30 cm sehingga bisa dilalui orang atau kendaraan. Namun anehnya, ikan-ikan tidak mati. Ikan-ikan terhibernasi sampai pada waktunya nanti akan “hidup kembali”. Demikian juga tanaman dan pohon-pohon akan ‘hidup kembali’ setelah musim semi. Siklus kehidupan –laiknya manusia—ciptaan Tuhan yang menarik bukan?
Wallahu’alam. *

Categories
Opini

Juara Gen-ZINU Festival PWNU Jatim, Pemenang Dapat Uang Pembinaan dan Beasiswa Puluhan Juta Rupiah

Blitar – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur resmi mengumumkan para peraih juara dalam ajang Festival Generasi Z Islami Nahdlatul Ulama (Gen-ZINU) . Sebagaimana diketahui, festival ini digelar dalam rangka menyemarakkan Hari Lahir (Harlah) 1 Abad NU versi Masehi.  Festival yang dikhususkan bagi generasi muda NU ini berlangsung meriah dan kompetitif.

Gen-ZINU Festival diisi dengan beragam perlombaan yang memadukan khazanah keilmuan Islam klasik dengan inovasi kekinian. Cabang lomba yang dipertandingkan meliputi Lalaran Alfiyah, Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) Putra dan Putri, Pidato Bahasa Arab, Pidato Bahasa Inggris, dan AI Booth Camp Competition.

Para finalis sebelumnya telah berlaga dalam babak final masing-masing cabang lomba yang digelar di Kampung Coklat, Kabupaten Blitar, mulai Kamis (05/02/2026) pukul 13.00 WIB hingga Jumat (06/02/2026).

Berikut daftar lengkap peraih juara seluruh cabang lomba Gen-ZINU Festival 1 Abad NU yang diselenggarakan oleh PWNU Jawa Timur:

Pidato Bahasa Inggris

Juara 1: Muhammad Ridwan Yasin (MA Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng)

Juara 2: Moch. Galih Akbar Al Majid (MAN 2 Jember)

Juara 3: Desmilana Tenri Zhafeera (MINU KH Mukmin Sidoarjo)

Harapan 1: Qurrota A’yun (PP Al-Machfudzoh)

Harapan 2: Muhammad Hafizzal Ritonga (Ponpes Terpadu Al Yasini Pasuruan)

Harapan 3: Hawa Tri Buanan Larasati (MTs Ma’arif NU Kota Blitar)

Pidato Bahasa Arab

Juara 1: Elsa Paramita (MTsN 4 Blitar)

Juara 2: Fahrul Fajar Firmansyah (MTs Ma’arif NU Blitar)

Juara 3: Arya Fadlurrahman Assyauqy (PP Yahtadi Islamic Education Center)

Harapan 1: Muhammad Usamah Muadz Aljabal (SMA Alberr Pandaan)

Harapan 2: Fahri Hafidz Ubaidillah (MA Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng)

Harapan 3: Athik Likaitanjuha (MA Ma’arif NU Blitar)

AI Booth Camp Competition

Juara 1: Ishaq, S.Pd (PC LKKNU Lamongan)

Juara 2: Sultan Ahmad Dava Alfarabi Fiqhassalam, C.Ps (PR IPNU Masanganwetan, Sukodono, Sidoarjo)

Juara 3: Susilo Hadi Wijoyo (IAI Tarbiyatut Tholabah Kranji)

Harapan 1: Albiee Mutmainnatul Haq (PC Fatayat NU Bangkalan)

Harapan 2: Mohammad Ainun Najib (PPK Alif Laam Miim Surabaya)

Harapan 3: Fathur Rohim, S.Pd.I (RMI Jombang)

MQK Putri

Juara 1: Shinta Azizah (PP Hidayatul Mubtadi’in)

Juara 2: Anjani Dini Nabila (PP Miftahul Ulum Putri RU IV)

Juara 3: Wirda Hauro Faradisy (Ma’had Aly Denanyar Jombang)

Harapan 1: Thalita Fulayfil Aurelia (PP Yahtadi Lumajang)

Harapan 2: Nailud Darojatul Ulya (PP Salafiyah Keboncandi)

Harapan 3: Ata Annida Ahmad (PP Nurul Iman Banat Blitar)

MQK Putra

Juara 1: Ahmad Husnul Khuluq (PP Nurul Iman Blitar)

Juara 2: Ahmad Bahaudin Al Mujib (PP Al Bidayah Jember)

Juara 3: Fauzan Bayu Wahid (PP Nurul Iman)

Harapan 1: Ahmad Romdan (PP Queen Ainul Yaqin)

Harapan 2: Ahmad Afiq Alhamidy (PP Mahasiswa Al Jihady Surabaya)

Harapan 3: M. Syafiq Rifa’i (PP Roudhotul Muta’alimin)

Lalaran Alfiyah

Juara 1: PP An-Nashriyah, Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang

Juara 2: PP Progresif Bumi Shalawat Putri

Juara 3: PP Manba’ul Hikam Sidoarjo

Harapan 1: PP Nurul Ikhlas Sepande, Candi, Sidoarjo

Harapan 2: PP Roudlotul Muta’allimin Minggirsari

Harapan 3: PP Nurus Salam Lodoyo, Blitar

Koordinator Pokka Gen-ZINU Festival, H. M. Noor Harisudin, menyampaikan bahwa para pemenang memperoleh uang pembinaan dengan total Rp13,5 juta untuk lomba Lalaran Alfiyah dan Rp8,25 juta untuk kategori empat lomba lainnya.

Selain uang pembinaan, pemenang juga mendapat golden tiket berupa beasiswa senilai puluhan juta rupiah. Juara pertama misalnya mendapatkan golden tiket beasiswa penuh di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan gratis biaya ma’had.  Juara kedua memperoleh golden tiket beasiswa tanpa biaya ma’had, sementara juara ketiga mendapatkan fasilitas gratis biaya ma’had. Adapun pemenang kategori Harapan 1, 2 dan 3 memperoleh hak masuk UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tanpa tes dengan skema UKT grade 2. (Hanya banyar satu juta dari yang seharusnya delapan juta tiap semesternya).

“Gen-ZINU Festival diharapkan menjadi wadah lahirnya generasi muda NU yang unggul dalam keilmuan, berkarakter Aswaja, serta adaptif terhadap perkembangan zaman dan teknologi,” pungkas guru besar UIN KHAS Jember yang juga Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur.

Kontributor : Wildan Rofikil Anwar

Editor: M. Irwan Zamroni Ali

Categories
Opini

IKA PMII dan Kemajuan Bangsa

Penulis: Prof. Dr. Komarudin, M.Si*
*Rektor Universitas Negeri Jakarta dan Ketua Umum HISPISI 

Pengurus Besar Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB IKA PMII) yang dinakhodai Fathan Subchi, Anggota 6 BPK RI, baru-baru ini dikukuhkan, tepatnya pada tanggal 13 juli 2025 di Hotel Bidakara Jakarta. Momentum ini tentu saja bukan sekadar seremonial belaka. Lebih dari itu, ia menjadi penanda penting: sebuah momentum konsolidasi kekuatan strategis kaum intelektual muda Nahdliyyin dalam mengarahkan ulang arah perjalanan bangsa. Momentum ini juga menjadi penting dalam situasi bangsa yang menghadapi kompleksitas multidimensi — dari tantangan demokrasi elektoral termasuk sistem kepartaian di dalamnya, krisis etika kepemimpinan, hingga transformasi ekonomi global. Ringkasnya, pengukuhan PB IKA PMII bukan hanya sebagai simpul silaturahmi alumni, melainkan sebagai episentrum perubahan sosial-politik berbasis nilai untuk kemajuan bangsa.

Jika dilihat secara historis, PMII lahir 17 April 1960 di tengah dinamika perjuangan mahasiswa dan kekuatan Islam progresif yang berusaha menyeimbangkan antara nilai keislaman, keindonesiaan, dan kemodernan. Sebagai organisasi kader, PMII mengedepankan trilogi nilai: Independen, Intelektual, dan Moderat, yang sejak awal menjadi pembeda dibanding organisasi mahasiswa lainnya. Selanjutnya, IKA PMII kemudian dibentuk untuk merajut kembali jaringan alumni lintas generasi, memperkuat sinergi antar angkatan, serta memfasilitasi kontribusi nyata alumni PMII di berbagai sektor kehidupan berbangsa dan bernegara.

Harus diakui, IKA PMII hari ini bertransformasi laksana jaringan raksasa. Pengurus dan anggotanya tersebar di berbagai posisi strategis: dari pemerintahan pusat hingga daerah, parlemen, kampus, ormas, media, hingga dunia usaha. Di tengah krisis integritas dan defisit kepemimpinan transformatif, keberadaan figur-figur alumni PMII dengan integritas, wawasan kebangsaan, serta militansi sosial-politik menjadi sangat relevan. Tidak sedikit tokoh nasional yang berasal dari rahim PMII: menteri, kepala daerah, birokrat, akademisi, hingga tokoh lintas agama dan profesi. Hal ini menunjukkan bahwa IKA PMII bukan sekadar organisasi alumni, tetapi simpul intelektual-kultural yang memiliki kapasitas besar untuk memengaruhi arah pembangunan nasional.

Peran Strategis

Dalam konteks Indonesia saat ini yang sedang memasuki fase krusial menuju Indonesia Emas 2045, peran PB IKA PMII menjadi penting. Visi Indonesia Emas 2045 ini mengandung empat pilar utama, yaitu pembangunan manusia dan penguasaan IPTEK, pembangunan ekonomi berkelanjutan, pemerataan pembangunan, dan ketahanan nasional serta tata kelola pemerintahan yang baik (Bappenas, 2019). Dalam konteks ini, organisasi seperti PB IKA PMII tidak bisa hanya menjadi penonton. Peran historis dan ideologis yang dimilikinya memberi dasar kuat bagi IKA PMII sebagai kelanjutan dari PMII untuk berkontribusi strategis dalam mengawal serta mewujudkan visi tersebut.

Beberapa peran strategis IKA PMII dan tentunya PMII guna mengawal pencapaian visi Indonesia Emas 2045 di antaranya: Pertama, menjadi kawah candradimuka kepemimpinan progresif-transformatif. PMII berperan penting dalam mencetak kader-kader bangsa yang memiliki tiga karakter utama: intelektual, religius, dan nasionalis. Sebagai kawah candradimuka, PMII mengembangkan nalar kritis dan kepekaan sosial kadernya melalui tradisi diskursus, advokasi, dan kaderisasi berjenjang. Hal ini sangat relevan untuk menyiapkan pemimpin transformatif yang dibutuhkan Indonesia masa depan (Azra, 2021). Banyak alumni PMII kini menduduki posisi penting di pemerintahan, akademisi, hingga dunia usaha. Jaringan ini — yang terintegrasi dalam IKA PMII — merupakan modal sosial dan politik yang besar jika dikelola dengan semangat kolaboratif dan integritas kebangsaan.

Kedua, menjadi penjaga nilai moderasi, etika publik dan keberagaman. Dalam konteks kebangsaan yang kerap terancam polarisasi dan radikalisme, IKA PMII berperan sebagai penjaga nilai Islam moderat dan pluralis. IKA PMII konsisten dengan garis pemikiran ahlussunnah wal jama’ah yang mendukung sistem negara Pancasila dan demokrasi konstitusional (Hefner, 2000). Hal ini sangat penting mengingat keberhasilan Indonesia Emas tak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi, tetapi juga oleh kohesi sosial dan stabilitas politik. IKA PMII dapat berperan sebagai pengawal etika publik dan pendorong akuntabilitas kekuasaan. Di tengah krisis kepercayaan terhadap institusi negara, suara mahasiswa dan alumni PMII yang kritis namun konstruktif menjadi kebutuhan demokrasi.

Ketiga, agen transformasi sosial dan literasi kritis. PMII memiliki basis kuat di kampus, tempat lahirnya gagasan-gagasan perubahan. Dengan memanfaatkan potensi digital, PMII dapat menjadi agen literasi politik, ekonomi, dan teknologi untuk generasi muda. Sebagaimana ditegaskan oleh Castells (2009), kekuatan sosial baru lahir dari aktor-aktor yang mampu mengartikulasikan pengetahuan dan jaringan — dan PMII berada dalam posisi strategis untuk hal itu. Melalui gerakan advokasi dan pemberdayaan, PMII juga bisa mengawal pembangunan dari bawah, menyuarakan kepentingan kelompok marginal, dan mendorong kebijakan yang inklusif. Tentu peran-peran tersebut terus berlanjut dilakukan oleh IKA PMII baik yang berbasis di kampus maupun luar kampus.

Keempat, sinergi strategis dengan IKA PMII. Sebagai simpul alumni, IKA PMII memiliki potensi besar untuk menjembatani dunia aktivisme dan pengambilan kebijakan publik. Dengan mengintegrasikan energi kader muda dan pengalaman alumni di berbagai sektor, IKA PMII dapat mengembangkan ekosistem kolaboratif untuk mendorong good governance, reformasi birokrasi, penguatan ekonomi rakyat, hingga pengembangan pendidikan berbasis karakter. IKA PMII dapat bertransformasi menjadi mitra strategis pemerintah, baik di pusat maupun daerah, guna memastikan bahwa pembangunan nasional sejalan dengan cita-cita keadilan sosial dan kemandirian bangsa.

Energi Kolektif

Visi Indonesia Emas 2045 bukan hanya cita-cita teknokratis, tapi merupakan amanat peradaban. Ia membutuhkan energi kolektif dari semua elemen bangsa — terutama kelompok intelektual muda yang progresif, religius, dan nasionalis. Dalam konteks ini, PMII dan IKA PMII memiliki posisi yang tidak tergantikan. Dengan seluruh daya dan potensi tersebut, PMII dan IKA PMII tidak boleh hanya menjadi pelengkap dalam narasi besar bangsa. Mereka harus tampil sebagai aktor sejarah — penentu arah dan pengawal moral perjalanan bangsa menuju masa depan. Bukan semata mewarisi sejarah panjang gerakan mahasiswa, tetapi juga mewujudkan legacy baru untuk Indonesia yang lebih beradab, berkeadilan, dan berkemajuan. Dengan memperkuat kaderisasi, menghidupkan tradisi intelektual, membangun etika kepemimpinan, dan memperluas jaringan kolaborasi lintas sektor, peran strategis PMII dan IKA PMII dapat direalisasikan. Inilah waktunya. Semoga.

sumber: https://timesindonesia.co.id/kopi-times/546918/ika-pmii-dan-kemajuan-bangsa

Categories
Opini

Budaya Mundur Menteri Tak Becus di Jepang

Oleh: M.  Noor Harisudin*

*Direktur Womester, Guru Besar UIN KHAS Jember dan Dai Internasional Jepang Tahun 2025

Masih ingat Menteri Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Jepang yang mundur dua bulan yang silam? Ya. Menteri Pertanian Kehutanan dan Perikanan  Jepang Taku Eto. Ia mengundurkan diri dari jabatannya pada 21 Mei 2025 tahun ini.

Menteri Taku Eto telah mendapatkan reaksi keras atas pengakuan kontroversialnya di depan publik . Ia hanya mengatakan bahwa dia tidak membeli makan beras di pasar. Lalu, sebelum diberhentikan Perdana Menteri Ishiba, Taku Eto memilih mundur.  

Berapa banyak pejabat di Jepang yang mundur karena mereka punya budaya ‘malu’. “Malu adalah salah satu budaya yang mendarah daging pada masyarakat Jepang”, kata mas Jimmy yang tinggal di Nagano Jepang. Mas Jimmy –nama akrabnya Jimmy Ibrahim Ramadan–adalah Ketua MWCI NU Nagano Jepang. Dalam kehidupan sehari-hari, orang-orang  Jepang merasa malu kalau mereka melanggar norma di sana.

Mereka malu jika buang sampah sembarang. Orang Jepang malu kalau tidak disiplin. Orang Jepang malu kalau tidak mau antrian. Orang Jepang malu kalau berbohong. Orang Jepang malu kalau melakukan hal yang merugikan orang lain. 

Pada level elitnya, para pimpinan Jepang juga memiliki budaya malu. Mereka malu jika tidak amanah dalam jabatannya. Mereka malu kalau tidak becus menjadi menteri. Mereka malu dan akan mundur kalau jadi menteri yang korup. Walhasil, mereka malu kalau melakukanjn moral hazard dalam sehari-hari mereka. 

Dalam tradisi Jepang, budaya ini disebut dengan 文化 atau haji no bunka. Budaya malu ini menjadikan orang Jepang selalu menjaga perilaku mereka dalam sehari-hari mereka. Mereka juga sebisa mungkin menghindari kesalahan. Budaya malu menggurita dalam hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat Jepang.  

Sejatinya, budaya malu di Jepang berakar dari ajaran Bushido (kode etik samurai). Nilai-nilai kesamuraian seperti kesetiaan, kehormatan dan keberanian terkait erat konsep malu. Kegagalan dan tindakan yang tidak sesuai etik, dalam tradisi Bushido, dapat menyebabkan rasa malu yang mendalam.

Selain ajaran Bushido, budaya malu juga berasal filsafat Konfusianisme. Dalam ajaran ini, budaya malu menekankan pentingnya hubungan harmonis dalam masyarakat dan juga hirarki. Ajaran ini berkontribusi dalam pembentukan budaya malu di Jepang.  

Orang Jepang memiliki dua konsep malu, yaitu kouchi (malu umum) dan sichi (malu khusus). Kouchi muncul pada situasi dimana seseorang merasa merasa malu saat mendapatkan perhatian khusus baik berupa sindiran, teguran atau ejekan orang lain. Kouchi ini terjadi pada lingkungan masyarakat luas. Sementara sichi  merasa malu yang hadir dalam diri sendiri akibat membandingkan dirinya dengan orang lain.  

Orang Jepang akan berusaha keras menjaga reputasinya. Caranya, secara aktif mereka hidup penuh disiplin, pantang menyerah, mandiri dan berhati-hati dalam bicara. Sementara, cara menjaga reputasi (yang pasif) adalah dengan menjadikan budaya malu sebagai pegangan dan pedoman hidup bagi masyarakat Jepang.

Bagaimana dengan kita di Indonesia? Apa kata orang Indonesia pada menteri Jepang yang mundur tersebut?.

Bagi sebagian besar orang Indonesia, apa yang dilakukan Menteri Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Jepang masih tak seberapa. Ia hanya ngomong asbun soal beras. Lihat para menteri dan pejabat di negeri kita. Jelas-jelas koruptor pun, masih terus bersikukuh dengan jabatannya. Aneh bin  ajaib memang negeri ini. Mereka pejabat jalan-jalan keluar negeri habiskan uang negara juga tanpa malu.

Hakimnya juga tidak malu menerima suap atau gratifikasi. Para birokrat PNS tidak punya malu. Datang terlambat, bolos dan kegiatan lain yang mestinya bagi orang Jepang, membuat mereka merasa malu. Rakyat biasa tidak malu membuang sampah sembarangan di jalan. Tidak ada malu lagi nyerobot antrian di Bandara Udara Juanda. Tak malu berbuat onar di tengah jalan.   

Islam mengajarkan kita untuk memiliki rasa malu. Rasulullah bersabda: al-hayau minal iman. (HR. Bukhari dan Muslim). Rasa malu adalah sebagian dari iman. Hadits Nabi Saw. ini benar-benar menjadi penjaga moral agar muslim tidak berbuat yang semau gue. Lalu, kalau masih banyak menteri tak becus di negeri ini yang tak mau mundur, lalu dimana letak salahnya? Ajaran Islamnya atau orangnya?.     

Wallahu’alam. ***

Categories
Opini

Kesadaran Meiwaku di Jepang

Oleh : M. Noor Harisudin*

*Direktur Womester, Guru Besar UIN KHAS Jember dan Dai Internasional Jepang Tahun 2025

Salah satu nikmat terbesar dalam Safari Ramadlan Tahun 2025 adalah naik kereta api cepat di Jepang. Jepang memiliki Sinkansen. Negara Sakura dengan 47 prefaktur (propinsi) dihubungkan dengan trasnportasi publik yang keren abis. Karena itu, kalau anda jalan-jalan ke Jepang, jangan lewatkan naik Sinkansen.

Alhamdulillah, saya berkali-kali naik Sinkansen. Dari Koga ke Hiroshima, Hiroshima ke Tokyo, Nigata ke Tokyo dan juga rute Koga ke Nagano dan terakhir Nagano ke Tokyo. Umumnya, suasana dalam kereta hening. Tenang. Tidak ada orang yang bicara. Tidak ada keramaian sedikitpun. Semua khusuk menikmati Sinkansen.

Dalam sebuah perjalanan dari Hiroshima ke Tokyo, saya tak lama kemudian menghubungi keluarga di Indonesia. Maklum, saya meninggalkan rumah 15 hari cukup kangen juga. I miss you, my wife. Akhirnya dalam suasana hening kereta api, saya bincang-bincang istri hanya lima menit, Sementara di sebelah kanan depan dan di samping saya ada penumpang lain.

Tak lama kemudian, saya didatangi polisi. Dengan bahasa Jepang halus, ia menegur saya. Ya, karena saya berbicara dalam kereta. Padahal, menurut orang Jepang, itu mengganggu sekali. Meski tidak utuh memahami bahasa polisi di kereta api, saya mengerti bahwa polisi ini menyuruh saya untuk berhenti.

Apa yang menjadi catatan disini adalah prinsip jangan merugikan orang lain. Bahasa Jepangnya, hito ni meiwaku o kakenai. 人に迷惑をかけない. Artinya jangan merugikan orang lain.

Sejak kecil, anak-anak di Jepang diajari untuk tidak boleh merugikan. Apalagi mendzalimi orang lain. Ini adalah bagian dari pendidikan etika dan sopan santun. Pada level luas, prinsip ini digunakan dalam interaksi sosial sehari-hari, hubungan bisnis dan juga professional.

Saya juga punya pengalaman dengan Cak Yuanas, petani sukses asal Indonesia di Jepang. Ketika diajak menggunakan mobilnya, saya berencana mengambil foto di depan rumah orang Jepang. Namun, saya dilarang. Saking hati-hatinya, cak Yuanas melarang mengambil foto depan rumah orang atau Gedung.

Bandingkan dengan kita di Indonesia yang sedikit-sedikit selfie. Semua tempat adalah wahana selfie, meski kadang tidak peduli dengan perasaan orang lain.

Tidak hanya bicara dan selfie. Di Indonesia lebih ruwet. Orang sengaja menaruh sepeda motor seenaknya di tengah jalan tempat orang lewat. Mobil juga diparkir di pertigaan, padahal demikian itu sangat mengganggu orang lain. Demikian juga, orang mengendarai sepeda motor dari arah depan mobil kita dengan seenaknya. Bahkan, masih sempat marah-marah. Sudah salah, kok malah marah.

Jika kita jalan-jalan ke desa di Indonesia, kita juga sering mendengar suara musik yang berlebihan. Astagfirullah. Dug dug dug dengan suara yang bising dan bahkan bisa merusak kesehatan manusia. Aneh, hal-hal seperti ini dianggap biasa dan orang yang melakukannya juga merasa tidak bersalah.

Padahal, Islam mengajarkan pada kita untuk tidak merugikan orang lain. La dlarara wala dlirara, jangan sampai merugikan diri sendiri dan orang lain. Demikian juga, jangan berbuat dzalim pada orang lain. La tadzlimun wa la tudzlamun.

Apa yang dalam Islam, sejatinya sejalan dengan ajaran hukum alam. Hukum alam yang dianggap sebagai peraturan hidup berdasarkan kaidah old maxim juris praecepta suntan haec, honesta vivere, alterum non laedere suum cuique tribuere. Artinya, peraturan hukum adalah hidup dengan hormat, jangan merugikan orang lain, laksanakanlah kewajiban masing-masing.

Nah, semua hal yang merugikan orang lain di Jepang tidak ada. Tak heran, Ketua PCI NU Jepang yang juga alumni PhD. UGSAS Gifu University, Gus Gazali mengatakan kalau di Jepang sulit ada kejahatan. Karena semua peraturan termasuk budaya dibuat agar orang berbuat Kebajikan dan menjauhi kejahatan. Keren kan ?

Wallahu’alam***

Categories
Opini

Sang Penjaga Nurani Umat, Telah Pulang: Kesaksianku atas Mas Imam Azis

Oleh: Imam Baehaqi

Jum’at malam hingga Sabtu dini hari 11/12 Juli 2025 lalu menjadi malam yang menegangkan. Sejak pukul 21.45, kabar terkirim di WAG Jamaah LKiS bahwa Mas Imam Azis atau Mas Imam (begitu saya biasa memanggil KH. M. Imam bin KH. Abdul Azis) masuk RS Sardjito dalam kondisi kritis karena sesak nafas. Kontan menimbulkan rasa panik dan saya benar-benar cemas. Berbagai doa kita lafalkan agar Mas Imam bisa melewati masa kritis itu, tapi taqdir berkata lain, pada jam 01.02 tersiar kabar bahwa Mas Imam Azis telah meninggal, Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Tak kuasa menahan tangis kesedihan oleh duka yang amat dalam.  Duka karena telah ditinggalkan oleh orang yang saya merasa begitu dekat, yang selalu memberi motivasi dan arahan dalam langkah pergerakan dan pergaulan.

Duka ini adalah duka yang menyelimuti kaum aktivis di negeri ini. KH. Muhammad Imam Azis, Sang Pengasuh, Sang Pejuang, Sang Bapak bagi Kaum Tertindas, telah berpulang ke Rahmatullah pada usia 63 tahun. Kepergiannya, setelah berjuang melawan sakitnya, bukan sekadar kehilangan seorang tokoh, tapi padamnya mercusuar kemanusiaan yang cahayanya telah menerangi sudut-sudut gelap ketidakadilan selama puluhan tahun di bumi pertiwi.

Saya yang berada jauh dari Yogjakarta, karena satu hal tidak bisa ke Yogjakarta, dengan hati sedih yang mendalam, hanya bisa berdoa dan menyampaikan duka bela sungkawa dari jauh. Saya serasa kehilangan yang amat sangat, karena Mas Imam Azis bagiku adalah sahabat, guru, saudara dan apa saja sebutan yang bisa mewakili betapa saya sangat mengagumi almarhum dan menjadikannya panutan dalam menyikapi keadaan social kemasyarakatan dan juga dalam hal ke-NU-an.

Dari Pesantren ke Panggung Keadilan: Sebuah Laku Spiritualisme Praksis

Kedekatan saya dengan Mas Imam, sejak saya masuk kuliah di IAIN Sunan Kalijaga Yogjakarta 1990an lalu. Setelah beberapa kali mengikuti forum diskusinya Mas Imam, saya mulai merasakan kekaguman. Gaya bicara yang tenang namun menusuk di hati, sehingga mampu menggerakkan hati saya untuk terus mengikuti kegiatannya. Sejak di PMII, di masjid IAIN Sunan Kalijaga, di LKiS, hingga akhiy hayatnya. Dalam satu bulan terakhir, pertemuan saya ketika beliau berkunjung sekelarga ke rumah di Sarang Rembang, lalu kemudian saya juga ke Yogjakarta untuk menyelenggarakan Reuni Jamaah LKiS, yang diinisiasi olehnya dan memerintahkan saya untuk mengurus pelaksanaannya. Alhamdulillah Reuni yang berkesan, tampak Mas Imam bahagia dan begitu lepas menyampaikan apa yang ada pikirannya. Malam itu beliau menikmati setiap obrolan candaan dan sebagainya. Seperti hendak pamit.

Mas Imam Azis, bukanlah tokoh yang hanya berbicara dari mimbar. Darah pesantren yang mengalir deras dalam dirinya (almarhum adalah amuni Matholek Kajen) tidak menjadikannya terkungkung dalam menara gading. Justru, tradisi pesantren yang kaya akan nilai keadilan (_al-‘adl_), kasih sayang (_ar-rahmah_), dan pembelaan terhadap kaum lemah (_mustadh’afin_) menjadi fondasi kokoh bagi seluruh langkah hidupnya. Ia meyakini bahwa Islam rahmatan lil ‘alamin harus dibumikan dalam aksi nyata’.

Keprihatinannya yang mendalam terhadap penderitaan manusia, terutama mereka yang terpinggirkan, teraniaya, dan terlupakan oleh sistem, mendorongnya untuk melakukan advokasi dan membantu menjadikannya  manusia seutuhnya. Beliau mendirikan LKIS pada tahun 1993, yang menjadi “rumah” bagi pemikiran kritis dan sekaligus tangan yang terjulur untuk menyentuh luka-luka kemanusiaan.  Di sinilah karakter Imam Azis sebagai “intelektual organik” sejati terpancar. Ia tak hanya menerbitkan buku-buku tajam tentang Islam, negara, kekerasan, perempuan, anak jalanan dan kaum rentan lain, tetapi juga turun langsung ke kubangan lumpur ketidakadilan itu.

LKiS (Lembaga Kajian Islam dan Sosial) bukanlah sekedar lembaga kajian, tetapi menjadi laboratorium gerakan pemikiran Islam yang selalu disertai rumusan tentang implementasinya di masyrakat.  Tentang bagaimana menggerakkan tradisi dan pemikiran pesantren yang mampu menjawab tantangan social, tentang pemikiran gender yang diimplementasikan ke dalam pengorganisasian gerakan perempuan dan advokasi terhadap perempuan-perempuan yang terpinggirkan, baik di jalanan, di ruang public seperti parlemen dan lain-lain, maupun di ruang-ruang domestic. LKiS juga konsern pada advokasi kebudayaan local, tradisi local dan agama local, yang sering mengalami eliminasi dari arus utama kebudayaan. Inilah visi LKiS yang sangat kuat, sehingga dalam sejumlah penelitian, LKiS disebut sebagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang menjelma menjadi madzhab pemikiran Islam tersendiri dan gerakan social.

Menyentuh Luka yang Terlupakan: Suara bagi yang Dibungkam

Mungkin, tak banyak tokoh yang memiliki keberanian dan kelembutan hati seperti Mas Imam Azis untuk menyelami luka sejarah paling kelam bangsa: tragedi 1965 dan penderitaan panjang keluarga korban serta eks-tapol. Di saat kebanyakan orang memilih diam atau takut, Imam Azis justru mendekati mereka yang terstigmatisasi, terdiskriminasi, dan hidup dalam bayang-bayang ketakutan puluhan tahun.

Selain LKiS, Mas Imam juga mendirikan Syarikat, sebuah lembaga yang konsern pada advokasi keluarga eks tapol 1965 (PKI), terutama sebagai respon atas pencabutan TAP MPR No. II tahun 2001. Lembaga ini memiliki visi besar yakni melakukan rekonsiliasi kemanusiaan secara nasional terhadap semua elemen bangsa, terutama eks tapol 1965/PKI yang berpuluh-puluh tahun mengalami diskriminasi yang parah karena stigma PKI tersebut. Syarikat juga berusaha melakukan rehabilitasi terhadap stigmatisasi tersebut, sehingga mereka bisa hidup berbaur secara wajar di masyarakat dan mendapatkan hak-haknya secara konstitusional sebagai warga Negara. Ia tak hanya melakukan riset mendalam yang membongkar mekanisme diskriminasi, atau menulis jurnal dan buku yang menjadi saksi bisu penderitaan mereka. “Syarikat” adalah paguyuban, ruang aman tempat para korban dan keluarganya yang tercerai-berai oleh rasa malu dan takut, bisa berkumpul, bercerita, saling menguatkan, dan menemukan kembali martabat mereka yang terampas. Ia membuktikan, membela kaum yang paling terstigma sekalipun adalah bagian tak terpisahkan dari laku keislaman dan ke-NU-an.

Menggerakkan NU dengan Semangat Kemanusiaan dan Keberpihakan

Pada tahun 2010, Mas Imam mulai memperluas kiprahnya dengan menjadi salah satu Ketua PBNU pada periode Th 2010-2015. Pada keterlibatan periode pertama Mas Imam di PBNU ini tidaklah mulus. Beliau mengalami “tudingan” oleh sebagian tokoh pimpinan PBNU lain sebagai tokoh “Kiri” yang dianggap pro-PKI. Tetapi dengan kesabarannya, Mas Imam mampu membuktikan dirinya tetap “NU” yang justru sedang menerjemahkan karakter egaliter dan membela mustadh’afin dari ajaran Ahlussunnah Waljamaah dengan menjadi tokoh rekonsiliasi (_ishlah_) antara keluarga NU-PKI. Kiprahnya membawa NU menjadi kekuatan rahmatan lil ‘alamin yang nyata dan berpihak pada keadilan. Di tangan Mas Imam, NU semakin menunjukkan kepedulian pada isu-isu HAM, isu lingkungan, keadilan sosial, pluralisme, dan pembelaan kelompok marginal. Ia mengukuhkan NU sebagai rumah bagi semua, termasuk mereka yang sering dipinggirkan. Sebagai ketua PBNU, Mas Imam melakukan advokasi terhadap masyarakat yang menolak Pabrik Semen di Rembang yang dianggap melanggar aturan dan merusak lingkungan. Lalu juga kasus Wadas di Purworejo, dimana Mas Imam aktif menjadi tokoh utama yang melakukan advokasi korban proyek PSN tersebut, dan lain-lain.

Lalu kepiawaiannya sebagai organisatoris dan pemersatu diuji dalam tugas besarnya sebagai Ketua Panitia Muktamar NU ke-33 di Jombang (2015) dan Muktamar ke-34 di Lampung (2022). Pada Muktamar Lampung inilah Mas Imam mengalami tekanan politik dalam dinamika kontestasi kepemimpinan NU untuk periode 2021-2026. Walapun begitu, dengan tenang, cermat, dan penuh dedikasi, ia memimpin penyelenggaraan muktamar akbar di tengah tantangan kompleksitas dan dinamika internal yang tinggi, memastikan hajatan penting bagi warga NU itu berjalan sukses dan lancar.

Bumi Cendikia: Laboratorium Kader Bangsa Berkualitas

Terakhir kiprahnya, dia tumpahkan pada pondok pesantren yang dia dirikan bersama sejumlah aktivis NU Yogjakarta lain, bernama Pondok Pesantren Bumi Cendikia. Pondok Pesantren Bumi Cendikia (BC), yang didirikannya pada 2005 inilah “anak rohaninya” yang  berharga. Bumi Cendikia bukan sekadar tempat mengaji dan mewariskan sanad keilmuan pesantren. Ia adalah laboratorium tempat Mas Imam Azis mencetak kader-kader santri yang berkualitas sekaligus berkarakter. Di sini, integrasi ilmu agama dan ilmu sosial-humaniora diajarkan secara kritis, sekaligus mampun beradaptasi dengan kamajuan teknologi informasi mutakhir. Santri juga dididik untuk tidak hanya pandai membaca kitab kuning, tetapi juga membaca realitas sosial, mengenali ketidakadilan, dan memiliki keberanian moral untuk membela kebenaran. Nilai-nilai HAM, kesetaraan gender, pluralisme, perdamaian, dan keberpihakan pada kaum mustadh’afin menjadi napas pendidikan di Bumi Cendikia. Ia mewariskan bukan hanya pengetahuan, tapi semangat juang yang tak kenal lelah untuk menegakkan keadilan.

Ruang Sunyi Mas Imam Azis

Akhirnya, di masa-masa akhir hayatnya aku bersyukur sedang dekat-dekatnya dengan almarhum. Aku melihat jalan hidup mas Imam yang sebenarnya banyak melahirkan perubahan yang berarti dimanapun kiprahnya, tetapi ia adalah tokoh yang tidak pernah silau dengan sanjungan, juga cenderung menghindari publikasi atas apa yang dia perankan. Ia memilih sembunyi di ruang sunyi dari gempitanya hiruk pikuk kehidupan social politik yang melingkupinya. Sepertinya, itulah laku sufi almarhum, sebagaimana kata Ibnu Athoillah dalam Kitab Hikam;

Kata Ibnu Athoillah:

ادفن وجودك في أرض الخمول، فما نبت مما لم يدفن لا يتم نتاجه

“Pendam eksistensi mu dari kemasyhuran, karena sesuatu yang tidak tumbuh dari sesuatu yang dipendam tidak akan sempurna hasilnya”

Dan dalam syarahnya Hikam diberi penjelasan:

لا شيء أضر علي المريد من الشهرة وانتشار الصيت

“Tidak ada sesuatu yang berbahaya bagi seorang murid (berharap ridlo Allah), daripada suatu kemasyhuran dan popularitas”

Demikian kesaksian saya atas Mas Imam Azis, beliau adalah orang baik dan Surga adalah tempat yang sangat layak baginya. Al Fatihah.

Sarang, 18 Juli 2025

Categories
Opini

Tokyo, ‘Kota Terbersih’ di Dunia

Oleh: M.  Noor Harisudin

Direktur Womester, Guru Besar UIN KHAS Jember dan Dai Internasional Jepang Tahun 2025

Salah satu destinasi wisata menarik di Jepang adalah Tokyo. “Tokyo keren dan bersih banget, Prof”, kata Gus Ghozali, panggilan akrab Ketua Pengurus Cabang Istimewa (PCI ) NU Jepang pada saya dalam perjalanan safari Ramadlan di Jepang tahun 2025 ini.  Ketika awal Maret mendarat di Bandara Internasional Narita Jepang, saya dijemput langsung Gus Ghozali, Ketua PCI NU Jepang dan Cak Yuanas, petani sukses di Jepang.  

Benar juga. Saya beberapa kali mondar-mandir ke Tokyo. Ibu kota Jepang dengan jumlah empat belas juta lebih itu memang sangat menawan. Stasiun Tokyo yang sangat megah dan besar. Kuil yang indah sepertu Kuil Sensoji, Kuil Meiji, Kuil Zojoji, Kuil Hie dan Kuil Kanda Myojin.

Namun, yang tak kalah menarik adalah Tokyo sangat bersih, bahkan termasuk tujuh kota paling bersih dunia selain Zurich (Jerman), Dubai (Uni Emirat Arab), Singapura, Calgary (Canada), Minsk (Belarus) dan Vienna (Austria).

Kalau anda keliling Tokyo, anda tidak akan menemukan sampah sedikitpun. Bunga Sakura yang mekar menambah asri dan indah kota terbesar di Asia tersebut.  Selain bertugas dakwah ke Tokyo, saya juga dakwah di kota-kota lain di Jepang seperti Hiroshima, Nigata, Nagano, Koga, Ibaraki, dan semuanya serba bersih.

Kita bisa membandingkan dengan negara-negara muslim. Bangladesh adalah kebalikan Jepang. Bangladesh adalah negara ‘paling kotor’ di dunia. Selain polusi udara, pencemaran lingkungan dan sampah yang menumpuk menjadi alasan utama mengapa disebut sebagai negara paling kotor dunia.

Tentu ironis sekali karena Islam mengajarkan ummatnya tentang kebersihan: an-nadlafatu minal iman. (HR Bukhori Muslim). Kita hanya lihat hadits ini dipampang sepanjang jalan kota-kota Indonesia, tapi anehnya sampah juga berserakan dimana-mana.   

Tentu ini berkebalikan dengan negara Jepang yang lifestyle penduduknya adalah bersih, bersih dan bersih. Meminjam bahasa Nicole Fridman, legal culture (budaya hukum). Jepang tidak membutuhan regulasi khusus tentang kebersihan, namun menekankan pada apa yang disebut dengan budaya hukum.

“Hidup bersih itu budaya kami. Gaya hidup kami, orang-orang Jepang”, kata Mr. Ishi, Wakil Konjen Jepang di Surabaya. Mr Ishi, istri dan anaknya saat mengundang saya untuk makan siang di Hotel Tunjungan Plasa.

Mr. Ishi menceritakan bahwa lima puluh tahun yang silam, ketika dia masih kecil, ada tradisi menarik di rumahnya.”Kalau kami bersih-bersih, bukan hanya halaman rumah kami yang dibersihkan. Namun juga halaman tetangga kanan kiri dan depan juga dibersihan”, kata Mr. Ishi pada saya.

Di masa sekarang, Jepang malah lebih ekstrem. Programnya keren abis: ‘zero waste’. Bahkan, bersih tanpa ada tempat sampah. “Akhirnya, kami harus sediakan tas. Sampah kami harus kami bawa ke rumah”, kata istri Mr. Ishi yang asli Indonesia.

Tidak berhenti disini. Sampah di rumah juga ada aturannya. Misalnya saat membuang sampah dibatasi hingga jam delapan pagi dan di-pilah mana yang organic dan non organik. Demikian juga, mana yang bisa dibakar, mana yang tidak bisa dibakar dan mana yang berbahaya.

“Capai juga sebetulnya. Kalau terlambat dua menit, kita sudah ditinggal. Tapi ya. Itu untuk kebaikan bersama”, kata istri Wakil Konjen Surabaya.

Sesungguhnya, Jepang tidak hanya membangun gaya hidup bersih, namun mereka juga mengupayakan  daur ulang kemasan makanan dan minuman. Demikian ini dikenal dengan 3R, yaitu reduce (menguangi), reuse (menggunakan Kembali) dan recycle (mendaur ulang). Tiga inilah kunci kesuksesan pengelolaan sampah di Jepang. Meski masing-masing pemerintah prefaktur di Jepang memiliki otonomi sendiri untuk pengelolaan sampah dan daur ulang tersebut.

Tentu, saya sangat iri dengan orang-orang Jepang yang sudah jauh mempraktikkan Islam soal ihwal kebersihan. Sementara kita ?

Wallahu’alam.  ***

Categories
Opini

Kolaborasi PCINU Rusia dan Lazawa Darul Hikam Indonesia Wujudkan Kurban di Negeri Beruang Merah

Moskow – Semangat berkurban tahun ini kembali digaungkan oleh Lazisnu PCI NU Rusia namun dengan sentuhan berbeda. Untuk pertama kalinya, pelaksanaan penyembelihan hewan kurban di Rusia pada Jumat, 6 Juni 2025, dilakukan melalui kerja sama strategis dengan Lazawa Darul Hikam Indonesia, yaf dikenal aktif menjalin dengan mitra strategis dunia.

Kolaborasi ini menjadi langkah penting dalam memperluas jangkauan program sosial keagamaan sekaligus memperkuat jaringan antar-lembaga Islam di kancah global. Ketua Tanfidziyah PCINU Rusia, Amy Maulana mengungkapkan alasan utama menggandeng Lazawa Darul Hikam Indonesia dalam pelaksanaan program kurban tahun ini.

“Kami memilih berkolaborasi dengan Lazawa Darul Hikam Indonesia karena mereka aktif menjalin hubungan dengan diaspora, termasuk PCNU luar negeri. Kolaborasi ini memperkuat gerakan sosial Islam lintas batas negara, dan kami berharap kerja sama seperti ini bisa terus dilakukan setiap tahun,” ujar Amy sapaan akrabnya.

Menurut Amy, kegiatan penyembelihan kurban di Rusia bukanlah hal baru. Sejak tahun 2020, LAZISNU PCINU Rusia rutin menyelenggarakan program ini setiap Idul Adha. Namun tahun ini menjadi spesial karena hadirnya mitra strategis dari Indonesia yang memberikan dukungan tidak hanya secara finansial, tetapi juga secara kelembagaan.

Dukungan dari Lazawa Darul Hikam juga memungkinkan pelibatan lebih luas para donatur dari Indonesia yang ingin berkurban di Rusia. Mereka difasilitasi untuk menyalurkan kurban melalui kanal resmi, yang hasilnya langsung dirasakan oleh masyarakat muslim setempat dan diaspora Indonesia di Moskow dan Kazan.

Amy menekankan bahwa kerja sama ini tidak hanya soal teknis penyaluran kurban, tetapi juga sebagai bentuk diplomasi umat Islam Indonesia yang membawa wajah Islam moderat dan peduli ke panggung internasional.

“Dengan adanya kegiatan seperti ini, kami bisa menunjukkan bahwa muslim Indonesia adalah bagian dari komunitas muslim global yang aktif membantu sesama. Ini juga menjadi sarana diplomasi, mengenalkan nilai-nilai Islam ala Indonesia yang ramah dan inklusif,” tutur Amy.

Program ini turut mendapat sambutan hangat dari komunitas muslim di Rusia. Mereka menilai inisiatif tersebut sebagai jembatan persaudaraan antara dua negara dengan populasi muslim yang besar. Amy menambahkan,

“Apresiasi sangat besar dari komunitas muslim Rusia karena ini bukan hanya soal daging kurban, tapi soal solidaritas antarumat.”

Kerja sama antara LAZISNU PCINU Rusia dan Lazawa Darul Hikam juga melibatkan banyak pihak lainnya, termasuk mahasiswa dan organisasi masyarakat Indonesia yang berdomisili di Rusia, seperti Permira, HPII, Muhammadiyah, dan ICMI wilayah Rusia.

Direktur Lazawa Darul Hikam, Prof. Dr. HM. Noor Harisudin, menyampaikan bahwa pelaksanaan kurban di luar negeri merupakan inovasi baru di tahun 2025. Langkah ini menjadi titik awal bagi lembaga yang berbasis di Jawa Timur itu dalam memperluas cakupan distribusi zakat, infak, sedekah, dan kurban ke kancah global.

“Ini adalah inovasi program kurban tahun 2025. Pertama kalinya Lazawa Darul Hikam melakukan penyembelihan dan penyaluran kurban di luar negeri,” ujar Prof. Haris.

Menurutnya, meskipun volume kurban yang disalurkan kali ini belum besar, kegiatan ini menjadi fondasi penting bagi agenda internasionalisasi program-program sosial keagamaan Lazawa ke depannya.

“Meskipun masih belum banyak, tapi ini adalah langkah awal untuk melakukan internasionalisasi program. Jadi program-program kita tidak hanya lokal, tidak hanya nasional, tapi juga internasional,” ungkap Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember itu.

Ia juga menegaskan bahwa ekspansi ini akan terus diperluas ke berbagai belahan dunia agar manfaat dari kurban dan zakat semakin dirasakan oleh umat Islam global.

“Ke depan kita akan lebih masif lagi ke Rusia dan beberapa negara lain di seluruh dunia. Dan kami berharap para donatur juga semakin banyak dan semakin bisa memberikan manfaat pada umat Islam di seluruh dunia,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, Prof. Haris juga menyampaikan apresiasi kepada para mitra di Rusia yang telah mendukung program ini, serta ucapan terima kasih kepada para donatur yang telah mempercayakan kurban mereka melalui Lazawa Darul Hikam.

“Terima kasih Ustadz Amy Maulana (Ketua Tanfidziyah PCINU Rusia) bisa berkolaborasi untuk pemberian manfaat yang lebih luas ke masyarakat dunia. Terima kasih kepada tim dari Lazawa Darul Hikam, terima kasih pada orang yang berkurban, para donatur yang selama ini telah mensupport Lembaga Zakat dan Wakaf Darul Hikam sehingga semakin hari semakin tambah besar dan menjadi luar biasa,” tutupnya.

Langkah ekspansif ini menandai arah baru Lazawa Darul Hikam dalam menjadikan kurban tidak hanya sebagai ibadah individu, tetapi juga sebagai instrumen diplomasi kemanusiaan lintas negara.

Reporter : Ravi Maulana

Editor : Wildan Rofikil Anwar

Categories
Opini

Menengok Kegiatan Ramadhan Masjid NU at Taqwa Jepang

Oleh: M. Noor Harisudin

Direktur World Moslem Studies Center dan Dai Internasional Jepang Tahun 2025

Ya Hannan ya mannan ya qadimal ihsan Bahru judik malyaan jud lana bil ghufron. Demikian bacaan yang kita dengar dari bilal sholat tarawih di Masjid NU at Taqwa Koga Prefektur Ibaraki Jepang.

Bacaan lainnya sama dengan di Indonesia. Sahut-sahutan keramaian tarawih juga menambah suasana gayeng Indonesia banget. Sholat tarawih dilaksanakan jam 19.30 atau setengah jam setelah waktu Isya tiba dengan jumlah 20 rokaat dan 3 witir. Ada sekitar puluhan orang yang ikut berjamaah sholat tarawih. Jumlahnya bisa dua atau tiga kali lipat pada hari Sabtu dan Minggu.

Sejak berdirinya tahun 2021 yang lalu, masjid NU at Taqwa sudah menjadi pusat gerakan NU di Jepang. Sebelumnya, pusat gerakan NU Jepang berada di Tokyo dengan fasilitas terbatas. Dari Tokyo ke masjid ini membutuhkan waktu 1 jam (kereta api) atau 2 jam (mobil). Dengan adanya masjid ini, gerakan NU semakin masif dan kokoh.

“PCI NU Jepang memiliki 15 Majlis Wakil Cabang Istimewa NU yang tersebar di 15 prefektur Jepang. PCI NU Jepang juga meliputi banom seperti Muslimat, Fatayat, Pagar Nusa dan ISNU. Selain lembaga seperti Lakpesdam, Lembaga Perekonomian, Lesbumi, dan lain sebagainya”, kata Kiai Achmad Ghozali, Ketua PCI NU Jepang yang juga lulusan Ph.D di Jepang.

Kegiatan setelah tarawih di Masjid NU at-Taqwa adalah tadarus bersama. Sebagian jamaah banyak juga yang fasih membaca al-Qur’an karena dulu pernah mengaji di pesantren atau surau rumah. Tadarus al-Qur’an dilakukan mulai jam 20.30 hingga 21.30 waktu Jepang. Jamaah tidak takut bersuara keras karena masjid memiliki peredam suara.

Setelah sahur jam 4 pagi, sholat subuh dilaksanakan di Masjid NU at-Taqwa ini. Bakda sholat subuh, ustadz memberikan ceramah agama 15 menit membahas fikih, tauhid, tasawuf dan sebagainya. Membaca Surat Waqiah adalah kegiatan akhir setelah ceramah subuh di Masjid NU at Taqwa.

Sebagai suasana masjid yang lain di Jepang, waktu dluhur dan Ashar di masjid nyaris mati. Masjid NU at Taqwa masih lumayan jamaahnya. Umumnya para jamaah adalah orang yang bekerja di sekitar masjid.

Masjid NU at-Taqwa akan kembali ramai menjelang buka puasa. Beberapa ibu menyiapkan makanan Nusantara yang nikmat dan lezat. Mulai soto ayam, opor, rames, bakso dan sebagainya. Pokoknya maknyus. Tapi tunggu dulu. Para jamaah harus melewati rangkaian takjil, sholat maghrib dan baru makan besar. Tempat makan di ruang makan sebelah dapur yang muat 20 hingga 30 orang.

Masjid yang beralamat di Highasiyama 933 Koga Ibaraki ini sering dikunjungi tokoh-tokoh Indonesia.

“Dubes RI untuk Jepang, Heri Akhmadi juga sering datang ke sini. Bahkan beliau yang meresmikan masjid ini pada 20 Juli 2021 yang silam”, kata Pak Rohibun, Ketua Dewan Kemakmuran Masjid NU at-Taqwa.

Masjid seluas 389 meter persegi ini termasuk masjid yang luas dan komplit. Acara Pendidikan Dasar Pendidikan Kader Penggerak NU tahun 2024 yang lalu, kata Pak Rohibun, juga diselenggarakan di masjid ini.

Di lantai 2 masjid NU at Taqwa, terdapat Kantor dan aula PCI NU Jepang, meski koordinasi melalui zoom juga dilakukan karena pengurus yang tersebar di seluruh prefektur Jepang yang sangat luas. Bahkan beberapa harus naik pesawat karena jarak yang jauh dengan masjid NU At-taqwa Koga Ibaraki***

Categories
Opini

Tragedi Los Angeles, Hoaks Dan Islam

Oleh: M. Noor Harisudin*

Kebakaran yang melanda Los Angeles mulai 7 Januari 2025 adalah tragedi lingkungan terbesar tahun ini. Kebakaran dipicu oleh Badai Santa Ana, yang baru mereda tanggal 9 Januari 2025. Kebakaran mencakup tiga distrik utama, yaitu Hollywood Hills, Pacivic Palisades dan bagian Barat Antelope Valley. Luas wilayah yang terbakar mencapai 8700 hektar. Lebih dari 10.000 bangunan yang hangus dimakan si jago merah termasuk rumah milik beberapa selibriti Hollywood. Sebanyak 179.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka dan dilaporkan 11 orang yang meninggal dunia. Kerugiaan ekonomi diperkirakan mencapai 2400 triliun atau dua pertiga lebih  APBN negara Indonesia (Rp. 3.300 trilun).

Di tengah pemerintah Amerika Serikat melakukan pemulihan kebakaran, berita hoaks merebak di berbagai media massa  dan media online. Hoaks dalam bentuk dramatisasi kebakaran hebat tersebut, apalagi dengan teknologi AI (Artificial Intelegence) yang menjadikan hoaks semakin mendapatkan tempatnya. Hoaks semakin menjadi-jadi dengan pembenaran agama-agama, salah satunya Islam. Donald Trump juga semakin tertuduh sebagai biang kerok bencana ini karena mengaitkan ucapan Presiden terpilih Amerika Serikat tersebut dengan Gaza yang akan menjadi ‘neraka’.

Sebagaimana dilansir Jawa Pos (7/1/2025), Donald Trump sempat mengancam Hamas bahwa neraka akan hadir di Gaza Palestina jika kelompok bersenjata Palestina Hamas tidak membebaskan tawanan (orang Israel) di Jalur Gaza. Hal tersebut disampaikan Trump saat membahas kebijakan luar negeri Amerika Serikat di negara bagian Florida. Satu hari setelah ucapannya, kebakaran hebat terjadi di Los Angeles. Fakta ini menjadikan persepsi orang yang menghubungkan (sebab akibat) antara pernyataan neraka Gaza Donald Trump dengan Los Angeles yang dilanda bencana kebakaran hebat tersebut.

Antara Fakta dan Hoaks

Adalah mensimple-kan masalah ketika mengaitkan pernyataan Donald Trump tentang neraka Gaza dengan kebakaran di Los Angeles, California. Karena negara bagian (state) California memang dikenal dengan kebakaran yang hampir setiap tahun. Demikian ini karena wilayah ini merupakan wilayah tropis, kering dan berangin kencang. Beberapa tahun lau, California –dimana Los Angeles adalah bagiannya—pernah mengalami kebakaran yang lebih luas dan lama serta menyebabkan lebih banyak rumah warga yang terbakar. Hanya ini tidak terekspos karena hanya perkampungan penduduk biasa yang miskin dari kalangan Hispanic.

Sebagaimana maklum, kebakaran di Los Angeles California kali ini mencakup tiga lokasi. Sebagian lokasi dihuni oleh bintang Hollywood. Wajar jika diekspos masif dan bahkan didramatisir sedemikian rupa. Korban kebakaran ini adalah kalangan high class dan mayoritas warga kulit putih. Tentu ini adalah bentuk racism system yang hanya ‘menyuruh’ kita untuk memedulikan orang kaya dan berkelas daripada warga Los Angeles pada umumnya. Padahal, empati sesungguhnya harus diberikan pada semua korban manusia tanpa membeda-bedakan kelas manusia. 

Los Angeles sendiri adalah kota besar yang berada di tenggara California. Ada 25 kota lain yang berada di Los Angeles seperti San Fransico, Manhatan Beach, San Diego, Santa Ana, Santa Clara, dan lain sebagainya. Los Angeles terkenal dengan industri televisi dan  film nasional dengan penduduk 9.663.345 pada tahun 2023. Kini kota yang indah di bawah state California ini sudah hangus terbakar oleh Badai Santa Ana yang meluluhlantakkan bangunan gedung dan rumah penduduknya.  Badai Santa Ana mempercepat penyebaran api hingga melahap ribuan hektar dalam hitungan jam.            

Sikap Empati Islam

Saya tidak setuju dengan viral media massa yang menyebut tragedi Los Angeles dengan azab Tuhan. Ini adalah bentuk penghakiman yang tidak boleh terjadi. Apalagi yang digunakan adalah QS. Al-Baqarah ayat 266 sebagai berikut:

“Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya”.

Kalimat  “ fa ashabaha  i’sharun fihi narun fahtaraqat” (Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah)  tidak bisa diartikan azab kebakaran di sebuah tempat (Los Angeles). Sesungguhnya ayat ini hanya berbicara tentang perumpamaan orang yang beramal, namun tidak disertai keikhlasan (riya), maka itu seperti ibarat kebun yang di dalamnya terdapat pohon kurma dan pohon anggur serta berbagai macam buah-buahan. Namun di masa tuanya, kebun ini ditiup angin yang keras dan lalu terbakar. Sehingga, amal seorang yang riya ini ludes di akhirat nanti. Oleh karena itu, sangat naif jika mengaitkan ayat ini dengan tragedi kebakaran di Los Angeles.

Bencana adalah hal yang wajar dalam kehidupan. Allah Swt berfirman: “Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar” (QS. Al-Baqarah: 155). Bencana ini juga terjadi juga atas izin Allah Swt. sebagaimana firman-Nya : “Dan tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah.” (QS. At-Taghabun: 11). Penghakiman terhadap suatu musibah merupakan hal yang tidak etis dan justru dapat menciptakan kesalahpahaman.

Ketika menghadapi berbagai bencana, umat Islam diperintahkan untuk bersabar sebagaimana sabda Rasulullah Saw: Idza ashabathu dlarraa, shabara. Sebaliknya, ketika melihat teman yang terkena bencana, kita harus ikut berempati dan bersedih atas bencana tersebut. Kita tidak boleh bertepuk dada atas kesedihan manusia yang lain. Bahkan, sebagai umat Islam, kiat harus membantu mereka. Rasulullah Saw bersabda: “Allah Swt, senantisaa akan membantu hambanya selama hamba tersebut membantu saudaranya” (HARI. Bukhori).  

Walhasil, soal hubungan tragedi kebakaran Los Angeles dan Gaza Palestina, biarlah tetap menjadi rahasia Tuhan. Demikian juga, tentang AS dan Donald Trump yang membela Israel, biarlah Tuhan yang kelak menghukumnya. Karena Gaza Palestina dan Los Angeles adalah dua hal yang berbeda.

Wallahu’alam. ***   

*M. Noor Harisudin adalah Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur  dan Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

*Artikel ini telah dimuat di Jawa Pos, 15 Januari 2025.