*Direktur Womester, Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember dan Dai Internasional Jepang Tahun 2025
Hari itu, saya tiba kembali di Tokyo. Sehari sebelumnya, saya menghadiri acara tabligh akbar di Masjid Mihara Hiroshima. Kereta api cepat Shinkansen tiba tepat waktu di stasiun Tokyo. Saya sebut ‘Stasiun Jumbo’. Karena stasiun kereta api Tokyo ini sangat besar sekali. Tujuh lantai bawah tanah yang besar. Dan lima lantai atas. Setiap lantai terlihat besar, luas dan juga mewah.
Ratusan ribu orang masuk ke stasiun ini. Manusia seperti semut. Semua asyik dengan dunianya. Di Tokyo, ada dua stasiun utama, yaitu Stasiun Tokyo dan Stasiun Sinjoku. Kedua stasiun ini besar sekali. Tentu juga mewah sekali. Jangan coba-coba keliling. Bisa kesasar, kalau tidak paham.
Pengalaman kedua kali masuk stasiun Tokyo, saya mendapat musibah. Saya kehilangan tiket kereta api cepat. Jangan sampai hilang tiket kereta api jika di Jepang. Itulah pelajaran berharga ketika setengah bulan di bumi Sakura.
Tiket kereta api di Jepang dan Indonesia tidak sama. Justru di Indonesia, kita bisa membawa tiket sampai ke rumah. Karena kita keluar stasiun tidak diminta tiketnya. Tapi, jangan coba-coba di Jepang. Tiket kereta api jangan sampai hilang. Setiap masuk dan keluar stasiun, kita harus mengeluarkan tiket kereta api. Dan tiketnya ‘dimakan’ mesin.
Saya dicegat polisi laki-laki di pintu keluar. Karena saya tidak membawa tiket, saya minta ijin keluar. Polisi tidak membolehkan saya keluar. Padahal, mas Kristian menunggu saya di luar. Tapi, tetap tidak bisa keluar. Kristian, pengurus PCI NU Jepang yang menjemput saya menghampiri agar saya mencari solusi lain.
Saya menuju ruang rehat stasiun. Di sana ramai orang. Masyaallah. Saya langsung tawasul ke Kiai As’ad. Saya duduk istirahat. Satu jam saya di rest room stasiun. Saya lemas duduk di ruang istirahat. Saya merenung. Apa saya bisa keluar stasiun?
Lalu, saya kembali lagi ke pintu keluar. Saya ketemu polisi lain. Saya menyampaikan kalau saya seorang mahasiswa (berbohong).
“I lost my train ticket”, kata saya pada polisi perempuan tersebut dalam bahasa Inggris. Kelihatannya polisi perempuan ini perhatian pada saya. Ia pun memberi solusi agar saya ke tempat tersebut.
Tak ambil lama, saya ke ruang tersebut. Saya sampaikan, kalau tiket saya hilang. Petugas langsung mengeluarkan tiket saya. Alhamdulillah. Ternyata tiket saya ketemu disini. Saya akhirnya tidak jadi beli tiket yang seharga tiga juta rupiah.
Saya lalu merapat kembali ke polisi perempuan. Tiket saya masukkan dalam mesin. Lalu mesin memakan tiket. Dan pintu terbuka untuk saya.
“Alhamdulillah, Prof. Jenengan bisa keluar. Memang begini kalau kehilangan tiket di Jepang. Bisa seharian tidak keluar stasiun”, kata Kristian yang juga guide wisatawan Jepang.
Saya kagum dengan stasiun di Jepang. Hampir semua besar dan mewah. Stasiun kereta api terbesar ada di Tokyo. Namanya: Stasiun Sinjoku dan Stasiun Tokyo.
Sore itu, saya diajak ke Kuil Asakusa di Tokyo. Kuil ini berjarak lima menit daru Stasiun Tokyo. Ramai sekali kuil ini. Bukan hanya orang bersembahyang, namun juga orang yang berwisata. Sebelah kuil asakusa, ada kuil Sinto. Kedua kuil ini bersebelahan menunjukkan posisi keduanya yang berdampingan dan saling menguatkan.
Bagi masyarakat Jepang, kuil asakusa dan kuil Sinto adalah sama-sama perlu dihormati. Karena dua hal penting yang menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Jepang.
Direktur Womester, Guru Besar UIN Kiai Haji Achamd Siddiq Jember dan Dai Internasional Jepang Tahun 2025
Innalillahi wainnai ilaihi rajiun. Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada Nya kita akan kembali. Dengan ini kami menginformasikan bahwa Masjid al Ikhlas Kabukicho akan ditutup resmi pada tanggal 30 September 2025.
Demikian bunyi media sosial Masjid al Ikhlas Kabukicho Tokyo Jepang. Tentu menyedihkan. Namun, saya tidak kaget karena ketika berada di Jepang, saya sudah mendengar informasi ini dari beberapa pengurus PCI NU Jepang. Penutupan masjid ini juga logis; karena kontrak atau sewa masjid ini akan berakhir tanggal 30 September 2025 dan tidak dapat diperpanjang lagi.
Masjid Kabukicho adalah masjid legendaris yang berada di tengah tempat hiburan malam Tokyo. Masjid ini didirikan oleh alm Bapak Idrisno Majid. Selanjutnya, masjid ini dikembangkan komunitas Indonesia yang tinggal di Jepang.
Secara historis, masjid ini telah berdiri sejak tahun 2002 yang silam. Masjid ini lalu direnovasi pada tahun 2017. Masjid ini berukuran kecil. Sekitar 4 x 4 meter. Namun masjid ini memiliki bangunan tiga lantai dengan CCTV di setiap lantainya. Di lantai bawah tersedia kamar mandi, tempat wudlu dan juga dapur masjid.
Jumlah jama’ah masjid Kabukicho –total semua lantai– maksimal 40 orang. Jangan bandingkan masjid ini dengan masjid Indonesia karena mendirikan masjid di Tokyo khususnya dan Jepang pada umumnya adalah perjuangan yang tidak mudah.
Masjid Kabukicho memiliki banyak program. Diantaranya program pengajian malam Jumat dengan yasin dan tahlil. Masjid ini juga rutin menyelenggarakan sholat Jumat berjamaah. Satu hal lagi, masjid ini aktif mengadakan pengajian malam Sabtu dan hadrah bersama. Masjid Kabukicho semakin ramai ketika bulan suci Ramadlan. Sholat Hari Raya juga dilakukan di masjid ini.
“Dulu Masjid Kabukicho terbuka 24 jam. Sejak ada orang mabuk masuk masjid, masjid Kabukicho kami kunci kiai”, kata Mas Putra, mahasiswa Indonesia yang ditugasi menjaga masjid ini. Saya berkesempatan ke masjid ini 12 Maret 2025 ini menjelang akhir kepulangan ke Indonesia.
Uniknya, sebagaimana dikatakan sebelumnya, masjid ini terletak di kompleks hiburan malam Tokyo. Orang Jepang tidak menyebutnya ‘lokalisasi Pekerja Seks Komersil’, namun tempat hiburan malam. Biasanya, transaksi esek-esek dilakukan di luar Kabukicho ini. Mereka akan mencari hotel atau tempat apa saja yang dapat dijadikan tempat transaksi.
Ketika malam hari saya berjalan menuju masjid, saya dag dig dug juga. Takut ada yang menarik tangan saya (terlalu GR). Ternyata ada laki-laki dan ada perempuan. Artinya perempuan dan laki-laki penghibur. Mereka ada untuk menghibur laki-laki atau perempuan lain.
Penampilan pakaian perempuan dan laki-laki di Kabukicho tidak mencolok. Tidak seperti pekerja seks komersil di Red Light Amsterdam yang vulgar. Atau Gang Dolli Surabaya dulu sebelum ditutup. Walhasil, ini berbeda dengan lokalisasi pada umumnya,
Informasi akan ditutupnya Masjid Kabukicho tentu sangat menyedihkan. Karena Masjid Kabukicho adalah potret dakwah Islam dan perjuangan muslim di kota Tokyo Jepang. Jauh sebelum adanya ratusan masjid baru, masjid ini sudah hadir lebih dulu menyapa dengan ramah umat Islam di bumi Sakura.
Apakah ini akhir adanya masjid di kompleks Kabukicho ataukah masih ada harapan lagi suatu saat akan adanya masjid kembali di kompleks hiburan malam Tokyo tersebut? Sejarah yang akan menjawabnya.
Direktur Womester, Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember dan Dai Internasional Jepang Tahun 2025
Meski sudah beberapa kali ke luar negeri, saya masih perlu berpayah-payah untuk beradaptasi dengan cuaca Jepang yang ekstrem. Itulah yang saya alami ketika masuk di Kota Koga Prefektur Ibaraki Jepang pada tanggal 1 Maret 2025. Di kamar, kami harus mendapatkan jaket dan selimut tebal. Di ruang tamu juga dingin masih terasa. Padahal, AC sudah pakai yang panas. Hater juga sudah dihidupkan. Namun, hawa dingin masih menusuk tulang.
Untuk makan, saya tidak perlu melakukan adaptasi karena ada nasi pecel dan nasi lodeh. Makanan utama di Indonesia. Demikian juga, bakwan, bakso, ikan pepes, telur dan sebagainya, kita mendapati dalam beberapa kali berbuka bersama di Masjid NU at-Taqwa Koga Ibaraki. Makanan khas Indonesia ini yang menjadi obat kangen selama disana.
Saya juga sudah minum vitamin C. Selain saya bawa “kopi rollas” dari Jember Jawa Timur. Rasa kopinya khas. Sehingga membuat saya terasa nyaman tinggal di Jepang. Namun, semua persiapan itu serasa masih kurang. Setiap pagi, saya masih menggigil kedinginan. Tapi, saya tetap bersyukur. Tetap sehat wal afiat sampai akhir.
“Alhamdulillah, prof. Jenengan selama disini tidak sakit. Padahal, banyak yang sakit kalau ke Jepang”, kata Ustadz Riza. Ustadz Riza diminta PCI NU Jepang untuk menjadi Imam masjid Koga Ibraki Jepang selama setahun (2025).
Negara Jepang terkenal dengan empat musim, Yaitu musim dingin, musim semi, musim panas dan musim gugur .
Musim dingin terjadi pada Desember hingga Pebruari. Musim dingin terasa banget dinginnya. Salju turun di berbagai kota. Suhu udara antara -6 derajat C hingga 20 derajat C. Ketika musim dingin, olahraga yang ramai adalah ski.
Sementara itu, musim semi terjadi pada bulan Maret hingga bulan Mei. Musim ini ditandai dengan mekarnya bunga Sakura. Suhu musim semi antar 2 derajat C hingga 24 derajat C. (Selebihnya, baca tulisan “Indahnya Bunga Sakura”).
Musim panas terjadi pada bulan Juni hingga bulan Agustus. Suhu udara pada musim ini mencapai 16°C hingga 30°C. Pada musim panas, orang Jepang menyelenggarakn Festival musim panas dan kembang api. Acara ini sangat populer pada musim ini.
Dan terakhir, musim gugur. Musim gugur ditandai dengan perubahan warna daun-daun menjadi merah dan kuning yang indah. Suhu udara di musim gugur berkisar antara 7°C hingga 27°C.
Empat musim ini menginspirasi orang Jepang untuk melakukan berbagai aktivitas kebudayaan berupa tradisi maupun festival.
Pada musim dingin misalnya, ada juga festival salju. Festival Salju Sapporo dan Festival Salju Otaru. Tidak hanya festival, pada musim dingin orang Jepang juga sering bermain ski maupun snowboarding. Terdapat banyak sekali resor ski yang menawarkan pengalaman bermain ski dan snowboarding yang menyenangkan, terutama di daerah-daerah pegunungan.
Pada musim semi, kita menemukan tradisi Hanami. Hanami merupakan salah satu tradisi Jepang untuk menikmati keindahan bunga sakura. Untuk bisa merasakan secara langsung keindahan bunga sakura, kita bisa datang ke beberapa taman di Jepang. Shinjuku Gyoen di Tokyo, Maruyama Park di Kyoto, atau Ueno Park di Tokyo adalah taman dengan bunga sakura yang indah.
Sementara, pada musim panas, kita bisa menghadiri festival musim panas. Misalnya Festival Gion Matsuri di Kyoto, Festival Tanabata di Sendai, dan Festival Obon di seluruh Jepang. Pada musim ini, kita juga akan dapat menikmati pemandangan kembang api yang spektakuler di berbagai tempat di Jepang.
Dan yang menarik adalan musim gugur. Pada musim gugur, kita bisa menikmati Momijigari. Momijigari adalah tradisi Jepang untuk menikmati keindahan daun musim gugur. Kita dapat mengunjungi taman-taman seperti Arashiyama Bamboo Grove di Kyoto, Rikugien Garden di Tokyo, atau Nikko National Park untuk melihat daun-daun yang berubah warna.
Tidak hanya menggelar festival kebudayaan. Masyarakat Jepang juga telah menyiapkan berbagai peralatan dan teknologi untuk menghadapi empat musim tadi. Misalnya peralatan musim dingin yang lengkap; pasir penghangat, AC penghangat, jaket, topi penutup kepala, sarung tangan dan lain sebagaianya. Demikian juga pada musim panas dan dua musim lainnya. Luar biasa kan ?
Oleh : M. Noor Harisudin Direktur Womester, Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember dan Dai Internasional Jepang Tahun 2025
Salju di musim dingin adalah destinasi menarik yang tak boleh dilewatkan di Jepang. Meski akhir musim dingin, saya mendapati salju sepanjang perjalanan menuju prefektur Nigata. Hujan salju di Nigata juga lumayan besar sehingga kita juga ‘main-main’ dengan salju tersebut. Perjalanan dari lokasi pengajian ke stasiun menggunakan mobil juga sering terhambat salju. Di Koga, saya juga sempat mendapati hujan salju yang dingin kendati tidak sedingin di Nigata.
Selain salju, destinasi menarik lainnya adalah bunga sakura. Dalam bahasa Inggris, bunga sakura juga sering disebut cherry blossoms. Warna bunga sakura bermacam-macam; ada yang putih dengan sedikit warna merah jambu, kuning muda dan merah jambu. Warna lainnya adalah hijau muda dan merah menyala.
Ketika ke Kota Mito Prefektur Ibaraki Jepang, Cak Anas –petani sukses asal Indonesia di Jepang– mencoba mengajak kami ke destinasi wisata bunga sakura. Namun, nihil. Bunga sakura belum muncul. Baru ketika di Tokyo, kami mendapati bunga sakura yang baru mekar. Kita bisa mendapati Sakura di beberapa tempat. Mulai dari Okinawa, pulau Hunshu, Tokyo, Osaka dan Kyoto. Demikian juga bisa melihat bunga Sakura di Prefektur Hokkaido Jepang.
Bagi orang Jepang, sakura merupakan simbol penting. Sakura sering diasosiasikan dengan perempuan, kehidupan dan kematian. Sakura juga sering diekspresikan dalam ikatan antar manusia, keberanian, kesedihan, dan kegembiraan. Lebih dari itu, Sakura adalah simbol kehidupan yang tidak kekal.
Sebagaimana maklum, pohon sakura menghasilkan buah Cheri –atau bahasa Jepangnya sakuranbo. Meskipun bunga ceri sama dengan buah kemasan kalenf, buah ceri pohon sakura berukuran kecil. Selain itu, rasanya tidak enak sehingga tidak dikonsumsi. Ada pohon sakura khusus yang diambil buah cerinya. Hanya jenis ini tidak dapat dimanfaatkan bunga sakuranya. Buah ceri seperti ini dikembangkan di prefektur Yamagata dengan harga mahal. Pada umumnya, orang Jepang makan buah ceri impor dari negara lain misalnya Amerika Serikat.
Munculya bunga sakura juga menandai mulainya tahun pelajaran baru untuk sekolah. Demikian juga menjadi penanda berakhirnya tahun fiskal yang lama dan mulainya tahun fiskal yang baru. Khususnya bagi dunia keuangan dan dunia usaha. Tanggal 31 Maret adalah tutup buku fiskal. Mulai lagi tanggal 1 April setiap tahunnya. Bagi orang jepang, mekarnya bunga sakura membawa semangat baru untuk menggapai harapan yang lebih baik di masa depan.
Ketika muncul Sakura, orang Jepang merayakannya dengan hanami. Hanami adalah moment membahagiakan orang-orang tersayang untuk menikmati indahnya bunga sakura yang mekar. Hanami berarti piknik menggelar tikar untuk pesta makan di bawah pohon sakura. Mereka duduk duduk di bawah pohon sakura bergembira sembari makan makanan khas Jepang. Tak lupa, mereka juga minum sake.
Dulu Hanami hanya dilakukan di acara jamuan kerajaan. Kebiasaan ini lalu meluas dari kalangan istana ke kalangan samurai dan rakyat biasa, Selanjutnya, hanami tersebar di kota kerajaan ke berbagai daerah di Jepang.
Tempat paling baik di Jepang untuk menikmati Hanami adalah Nagoya Castle, Kumamoto Castle, taman Shinjuku Gyoen, Hirosaki Castle,Osaka Castle, taman Ueno, taman Inogashira, Kamagatani, Pinggir sungai Shinsakai, Pegunungan Yoshino dan masih banyak lainnya.
Selain Hanami, orang Jepang juga mengadakan berbagai festival perayaan besar-besaran menyambut bunga sakura. Misalnya festival bunga Sakura di Benteng Himeji. Demikian juga festival Bunga Sakura di Kitakami Tenshochi Prefektur Iwate, utara Pulau Honshu Jepang. Kita juga bisa mendapati festival Bunga Sakura di Matsumae Koen Festival bunga sakura ini diadakan di Kota Matsumae, Prefektur Hokkaido, Jepang.
*Direktur Womester, Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember dan Dai Internasional Jepang Tahun 2025
Setelah Jepang melakukan restorasi Meiji (1867), Jepang menjadi sangat terbuka terhadap negara-negara maju lainnya. Atas usaha ini, Jepang berdiri sejajar dengan negara maju di Eropa dan Amerika Serikat. Perkembangan negeri Sakura ini melonjak dahsyat. Mulai aspel pemerintahan, pendidikan, militer, industri, dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sekarang, posisinya tidak bergeser. Selain China, Jepang adalah macan Asia yang diperhitungkan dalam hubungan negara maju di dunia. Dia hanya membutuhkan 100 tahun untuk mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju dunia. Tentu kemajuan Jepang tak lepas dari sistem hukum tata negara yang dikembangkan di negaranya.
Bagaimana sistem tata negara di Jepang? Tulisan ini sedikit membahas sistem hukum tata negara di Jepang. Saya kebetulan menulis buku “Pengantar Hukum Tata Negara di Indonesia”, meski guru besar saya adalah Fiqh dan Ushul Fiqh. Buku ini saya ajarkan di UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember. Saya juga menjadi Wakil Ketua PP Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara-Hukum Adminsitrasi Negara masa bakti 2021-2025 dan masa bakti 2025-2030. Ketua Umumnya adalah Prof. Guntur Hamzah yang juga Hakim Ketua Mahkamah Konstitusi.
Jepang adalah sebuah negara dengan model monarki yang konstitusional. Pemerintahannya dipimpin oleh Perdana Menteri. Sementara, kepala negara dipegang oleh Kaisar. Kaisar Jepang –disebut dalam Konstitusi—merupakan lambang negara dan kesatuan negara. Kaisar bukan sebagai penguasa dengan kekuasaan politik.
Oleh karenanya, kekuasaan di Jepang merujuk pada tiga cabang kekuasaan Montisquieu. Sama dengan negara maju yang lain, Pemerintah Jepang sendiri dalam sistem tata negara menggunakan executive branch, legislative branch dan yudicative branch.
Dalam executive branch, para menteri diangkat oleh perdana menteri untuk membantu pelaksanaan pemerintahanan. Sementara legislative branch namanya diet didalamnya terdapat house of reprsentatives dan house of councillors. Dan terakhir, yudicative branch ada supreme court (mahkamah konstitusi) dan hight court (mahkamah agung).
Perdana menteri, dalam sistem tata negara di Jepang, menjadi bagian penting. Ia memilih para menteri untuk melaksanakan pemerintahan secara efektif. Menteri pertahanan, menteri pertanian, menteri perdagangan, menteri pendidikan dan sebagainya menjadi bagian inheren dalam cabinet yang dibentuk oleh perdana menteri.
Sebagai kepala negara, kaisar Jepang memiliki gelar resmi tenno. Tenno berarti penguasa surgawi. Gelar ini khusus untuk kaisar Jepang baik laki-laki maupun perempuan. Dalam sejarah, tercatat terdapat delapan perempuan yang menjadi kaisar dengan gelar tenno tersebut.
Sementara itu, istana kekaisaran disebut Kyujo (宮城). Sebelumnya, kaisar tinggal di prefektur Kyoto selama hampir sebelas abad. Sejak pertengahan abad kesembilan belas, kyujo pindah ke Istana Edo di Ibu Kota Tokyo.
Negara Jepang didirikan oleh Kaisar Jimmu pada tahun 660 SM. Kaisar Jepang sekarang bernama Naruhito. Narohito menggantikan ayahnya Akihito yang turun tahta pada tanggal 30 April 2019. Naruhito adalah Kaisar Jepang yang ke-126. Ia berkuasa sejak 1 April 2019.
Kaisar Jepang juga pemegang kewenangan tertinggi agama Shinto. Kaisar dianggap keturunan Dewa Matahari Ametaresu. Dengan demikian, wilayah kaisar juga adalah menangani urusan keagamaan termasuk ritual agama Shinto.
Setelah restorasi Meiji tahun 1867, Kaisar adalah perwujudan semua kekuasaan yang berdaulat di Dunia. Ini disebut dalam Konstitusi Meiji tahun 1889.
“Waktu itu, kalau kaisar Jepang sudah turun tangan, ya semua harus tunduk. Termasuk parlemen yang kebijakannya tidak sesuai aspirasi rakyat”, kata Mas Kristian, Diaspora Indonesia di Tokyo. Diskusi hangat beberapa kali dengan saya.
Hanya saja, sejak konstitusi tahun 1947, kaisar Jepang sekarang hanya merupakan simbol negara tanpa kewenangan politik. Kaisar Jepang menjadi berkurang kewenangannya. Meski keberadaan kaisar tetap dihormati sebagai kepala negara sekarang.
Direktur Womester, Guru Besar UIN Jember dan Dai Internasional Jepang Tahun 2025
Ketika di Jepang, saya merasakan benar bagaimana keamanan dan ketertiban menjadi harga mati disini. Rumah yang tidak dikunci, sepeda motor yang diparkir di luar meskipun malam hari, dan keamanan lain yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari mereka. Jangan bandingkan dengan negeri konoha yang barang-barangnya mudah raib di tempat umum. Di negeri konoha juga, rumah harus dikunci rapat agar tidak kemalingan.
Ini yang menjadi bahan diskusi saya dengan Wakil Konjen Jepang di Surabaya, Mr. Ishi. Yaitu tentang eksistensi mafia Jepang bernama Yakuza. Sementara, kita tahu kalau Jepang negaranya sangat aman.
“Yakuza sudah ditaklukan oleh polisi negara. Dulu mereka pernah kuat, namun lalu ditaklukkan oleh negara,” jawab Mr. Ishi ketika makan siang bersama di Tunjungan Plasa Surabaya.
Ya. Anda yang suka film Jepang, pasti Anda tidak melewatkan film seperti Samurai dan Mafia Yakuza. Mafia Yakuza memang dikenal luas oleh masyarakat dunia.
Istilah Yakuza (やくざ atau ヤクザ) berasal dari angka 8-9-3. Tiga angka sial ini dalam bahasa Jepang disebut Yakuza. Yakuza merupakan organisasi kriminal terorganisir dari Jepang. Mereka juga dikenal sebagai gokudō atau “jalan ekstrem”. Yakuza memiliki sejarah panjang Jepang.
Secara historis, Yakuza sendiri muncul pad abad ke-17. Mereka muncul dari kelompok marginal sepeti bakuto (penjudi), tekiya (pedagang keliling) dan samurai yang tidak memiliki majikan (ronin). Dengan demikian, Yakuza identik juga dengan bakuto dan tekiya.
Pemerintah Jepang pernah menggunakan Yakuza untuk menggerakkan nasionalisme di masa lalu. Bahkan, Yakuza juga dilibatkan pemerintah Jepang dalam pendudukan Manchuria dan Tiongkok di tahun 1930-an. Mereka berhasil merebut Manchuri dan Tiongkok dan sebagai imbalan mereka mendapat hak monopoli.
Setelah berhasil menyerang Pearl Harbor, militer Jepang lalu mengambil alih kendali kekuasaan Yakuza. Para anggota Yakuza diberi pilihan; bergabung menjadi tentara atau masuk penjara. Pamor Yakuza tenggelam saat itu.
Setelah Jepang menyerah, para anggota Yakuza kembali ke masyarakat. Lalu muncul Yoshio Kodame yang mempersatukan para anggota dalam satu organisasi Yakuza. Yosho Kodame sendiri merupakan seorang eks militer dengan pangkat terakhir admiral muda. Usianya saat itu baru 34 tahun.
Singkat kata, Yoshio Kodame berhasil mempersatukan dua fraksi besar Yakuza, yaitu Yamaguchi-gumi dan Tosei-kai. Yakuza semakin bertambah besar keanggotaannya terutama di periode 1958-1963. Saat itu, Yakuza diperkirakan memiliki anggota 184.000 orang atau lebih banyak daripada anggota tentara angkatan darat Jepang saat itu. Pun bahwa Yoshio Kodame dinobatkan sebagai godfather-nya Yakuza.
Namun, yang menarik, Yakuza kini berada di bawah kendali pemerintah Jepang, meski keberadaan mafia ini legal (resmi). Tidak sama dengan mafia Italia yang rahasia, keberadaan dilindungi konstitusi Jepang. Selain itu, mafia ini ini juga memiliki etika. Aneh, mafia melakukan kejahatan tapi masih ‘beretika’.
Satu hal lagi. Seperti dikatakan Mr Ishi, mafia yang ditakuti ini tidak bisa berbuat sembarangan berada di Jepang. Tajinya sudah tidak ada. Mereka di bawah kendali Kaisar Jepang. Toh demikian, beberapa kasus korupsi di kalangan pejabat Jepang di masa kini disinyalir terkait dengan Yakuza. Termasuk beberapa kejatahan dalam perjudian, minuman keras, pembunuhan dan yang lainnya.
Oleh: M. Noor Harisudin* *Direktur Womester, Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember dan Dai Internasional Jepang Tahun 2025
Bagi muslim Jepang, keberadaan Gunung Fujiyama adalah sebuah keniscayaan. Kendati mitos tentang Gunung Fuji—sebutan umum Gunung Fujiyama–, oleh mereka dianggap sebagai ‘angin lalu’ saja. Hanya saja sebagai kearifan lokal, seorang muslim sudah selayaknya menghormati local wisdom yang berlaku pada masyarakat Jepang tersebut.
Masyarakat Jepang memandang Gunung Fuji bukan hanya sebagai sekedar ikon alam, namun juga simbol spritual dan budaya yang dihormati masyarakat Jepang. Sebagai ikon alam, Gunung Fuji adalah gunung yang tertinggi di Jepang. Letaknya di pulau utama Honshu, antara prefektur (propinsi) Yamanashi dan prefektur Shizuoka. Ketinggian Gunung Fuji mencapai 3.776 meter. Sehingga Gunung Fuji disebut salah satu gunung berapi tertinggi yang ikonik di dunia.
Ketinggian ini tidak hanya menjadikan Gunung Fuji sebagai tantangan bagi para pendaki, tetapi juga sebagai latar belakang yang menakjubkan dengan keindahan alam Jepang. Puncak Gunung Fuji yang bersalju sering kali terlihat jelas dari berbagai titik di sekitar Tokyo dan Yokohama. Subhanallah. Gunung Fuji ini selalu nampak indah dan mengagumkan. Namun, jangan silau dengan keindahan dan ketenangan ini. Karena bahaya Gunung Fuji yang masih aktif hingga sekarang.
Sebagai simbol spritual, bagi masyarakat Jepang, pendakian menuju Gunung Fuji merupakan perjalanan spritual menuju kedamaian batin dan pencerahan. Tidak mengherankan jika mendaki Gunung Fuji telah menjadi kebiasaan bagi banyak orang. Setiap tahun, ribuan orang baik dari Jepang maupun luar Jepang mendatangi gunung ini untuk mendaki. Khususnya, pada musim panas ketika cuaca di sekitar Gunung Fuji mendukung.
Ada banyak mitos di sekitar Gunung Fuji. Misalnya mitos tentang Putri Kaguya yang menjadi inspirasi nama Gunung Fujiyama. Dalam kisah masyarakat Jepang, Putri Kaguya ditemukan dalam batang bambu. Dalam cerita tersebut, Putri Kaguya memberikan obat keabadian (fushi no kusuri) kepada suaminya, namun obat itu justru dibakar di puncak Gunung Fuji. Bagi mereka, kebersamaan suami dan istri jauh lebih berharga daripada hidup kekal. Dari sinilah nama Fujiyama atau Gunung Abadi berasal.
Mitos lainnya adalah soal Hutan Aokigahara. Ya. Di kaki Gunung Fuji terdapat Hutan Aokigahara yang terkenal ‘angker’. Hutan ini juga menjadi tempat bunuh diri kedua terbanyak di dunia. Hutan ini menyimpan berbagai mitos, termasuk cerita tentang roh penasaran dan praktik “ubasute” (meninggalkan orang tua di tempat terpencil). Keangkeran hutan ini menjadi bagian dari cerita mistis Gunung Fuji.
Terakhir, tentang legenda makhluk gaib bernama Sokou. Sokou adalah gabungan ayam jantan dan ular yang sangat besar dan berbahaya. Konon, letusan Gunung Fuji disebabkan oleh dengkuran Sokou ketika ia sedang tidur. Makhluk ini dipercaya dikurung di dasar gunung oleh seorang ahli ilmu gaib. Keberadaan Sokou masih dihormati oleh masyarakat Jepang.
Bagi seorang muslim, seperti telah disebutkan di depan, mitos-mitos ini tak berlaku karena hanya menjadikan mereka menyekutukan Allah Swt. Utamanya soal bunuh diri yang dilarang dalam Islam. “Meski dalam hidup kesehariannya, mereka tetap toleran dan menghargai kearifan lokal masyarakat Jepang terkait Gunung Fuji”, kata Alfian yang juga Diapsora muslim di Prefektur Nigata Jepang.
Direktur Womester, Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember dan Dai Internasional Jepang Tahun 2025
Pernah naik Whoosh?, Kereta api cepat dari Jakarta ke Bandung atau sebaliknya Bandung ke Jakarta? Tepatnya dari Stasiun Halim Jakarta ke Stasiun Tegalluar Bandung. Kereta Api Whoosh resmi beroperasi sejak tanggal 2 Oktober 2023 yang silam.
Perjalanan menggunakan Whoosh hanya 40 menit. Biasanya perjalanan Jakarta ke Bandung, membutuhkan waktu 4 jam. Kereta api cepat kebanggasan Indonesia itu kecepatannya mencapai 334 km/jam. Luar biasa.
Dalam sepuluh tahun terakhir, perkembangan kereta api di tanah air memang dahsyat. Transportasi yang keren dan paling banyak peminatnya di negeri ini adalah kereta api. Jumlah penumpangnya selalu membludak baik kereta api ekonomi, bisnis maupun luxury. Apalagi dengan adanya kereta api cepat Whoosh yang lagi viral sekarang ini, meski baru ada di rute Jakarta-Bandung.
Kalau Anda ke Jepang, Anda akan takjub dengan kereta api cepat Jepang sejenis Whoosh. Ya. Kereta api cepat yang bernama Shinkansen. Shinkansen lebih modern daripada Whoosh. Kereta api Shinkansen menghubungkan seluruh kota besar dan prefektur di Jepang. Kereta api Shinkansen semuanya serba digital.
Selama setengah bulan di Jepang, saya merasakan Shinkansen yang memang keren itu. Dalam perjalanan ke Tokyo, Nigata, Nagano, Hiroshoma, Ibaraki, Kyoto dan sejumlah prefektur lain, saya menikmati betul kereta api Shinkansen.
Di Jepang, kereta api Cepat Shinkansen dibuka pertama kali tahun 1964 ketika Olimpiade Tokyo. Ini sekaligus juga menandai kebangkitan Jepang sebagai negara modern. Hingga sekarang, kereta api Shinkansen ini mencatat telah mengangkut 6,4 milyar lebih total penumpangnya.
Fasilitas kereta api cepat Shinkansen lumayan mewah. Kereta Shinkansen menawarkan fasilitas memadai seperti kursi yang nyaman, ruang kaki yang luas, colokan listrik, dan Wi-Fi gratis.
Kereta Api Shinkansen membawa 16 gerbong dengan kapasitas 1.323 kursi. Sebagian kursi dijual tanpa nomor untuk memudahkan orang mengakses seat mana saja dalam gerbong tersebut. Dengan kata lain, selain tiket dengan nomor seat, ada juga tiket tanpa seat dalam beberapa gerbongnya.
“Berapa kecepatannya,” tanya saya pada beberapa teman di Jepang.
Kecepatan maksimum generasi Shinkansen mencapai 350 km/jam. Atau 16 km lebih cepat dari Kereta Api Woosh di Jakarta. Beberapa Kereta Api Shinkansen ada yang lebih cepat lagi, meski jumlahnya tidak banyak.
Dibandingkan dengan pesawat di Jepang, Shinkansen membutuhkan yang sama jika dihitung dengan keseluruhan waktu yang digunakan. Bahkan, kadang lebih cepat karena Shinkansen tidak butuh boarding yang lebih lama di stasiun kereta. Ini berbeda dengan pesawat yang membutuhkan waktu tunggu dan boarding lebih lama.
Selain nyaman, kereta api Shinkansen juga sangat aman. Tidak pernah ada kecelakaan menggunakan kereta api Shinkansen selama bertahun-tahun. Tentu keren banget. Tidak hanya itu. Shinkansen selalu datang tepat waktu alias tidak pernah telat sedikitpun.
“Beberapa waktu yang lalu, Shinkansen pernah terlambat 34 detik, membuat masinisnya jigiri. Artinya minta maaf sambil menundukkan kepala serta mengembalikan ongkosnya”, kata H. Tirmidzi, Direktur Masjid Mihara Prefaktur Hiroshima Jepang.
Kereta api Shinkansen juga sangat bersih. Pembersihan gerbong dilakukan dengan cepat di stasiun karena untuk menjaga jadwal yang ketat. Kita pun bisa merasakan nuansa kebersihannya di samping kereta api yang tenang tanpa keramaian.
Dan seperti di Indonesia, ketika naik kereta api Shinkansen, kita juga bisa melihat pemandangan Jepang yang indah. Gunung-gunung, salju, hotel, dan rumah penduduk adalah pemandangan indah yang kita dapati sepanjang perjalanan menggunakan Shinkansen.
Kalau Anda ke Jepang, jangan melewatkan untuk menjadi penumpang kereta api cepat Shinkansen yang keren abis. Jalan-jalan ke Jepang tanpa Shinkansen adalah jalan-jalan yang ‘kurang sempurna’. He he he. Sekalian saya promosikan Shinkansen pada pembaca.
*Direktur Womester, Guru Besar UIN Jember dan Dai Internasional Jepang Tahun 2025
Salah satu penopang kegiatan PCI NU dunia adalah usaha bisnis. Beruntung PCI NU yang sudah berjihad mandiri secara ekonomi melalui usaha bisnis. Misalnya PCI NU Malaysia yang memliki restoran makan di Kuala Lumpur. Dan PCI NU Jepang yang memiliki Nine Stars, sebuah badan usaha milik NU yang bertujuan untuk membangun kemandirian warga NU.
Nine Stars cukup keren. Meski baru didirikan awal tahun 2024, badan usaha ini meningkat pesat. Diantaranya adalah produksi bakso yang disebar di seluruh prefektur Jepang.
Adalah Ismail, CEO Nine Stars. Laki-laki asal Makasar pagi itu mengajak saya ke tempat produksi bakso Nine Stars. Hanya berjarak lima puluh meter dari masjid NU at Taqwa Koga. Saya langsung masuk ke ruang produksi bakso tersebut.
“Ini baksonya Prof. Kami distribusikan ke seluruh Jepang melalui jaringan NU kita”, kata Ismail pada saya.
Ketika saya tanya, apa bedanya dengan bakso Indonesia. ” Di sini nyaman dan lezat baksonya. Sama dengan Indonesia. Hanya bedanya ingredient disebut jelas dalam bungkus’, kata Ismail yang rajin ke masjid NU Koga.
Ada dua karyawan bakso Nine Stars yang tiap hari bekerja memproduksi. ” Sementara kami pekerjakan dua karyawan ini. Insyaallah akan tambah lagi ke depan “, kata Ismail.
Selain produksi bakso, Nine Stars juga menambah bisnis lain. Misalnya rental mobil karena banyak orang Indonesia yang berkunjung ke Jepang.
“Eman kalau tidak dimanfaatkan. Doanya semoga lancar “, kata Ismail pada saya.
Ada lagi bagian dari Nine Stars. Urusan bisnis vanding machine yang berisi makanan dan minuman instan yang diletakkan di depan masjid NU Koga.
“Ini pemberian Bank Indonesia. Lalu kita taruh disini sambil menjadi bisnis Nine Stars yang seluruh keuntungannya untuk mensupport kegiatan Masjid NU At Taqwa”, kata Ismail pada saya.
Ketua PCI NU Jepang, Gus Gazali berharap kemandirian NU menjadi fokus dari Nine Stars.
“Diharapkan selain mensejahterakan warga NU, juga menopang kegiatan NU di seluruh MWCI NU yang kini menyebar di 16 prefektur”, ujar Gus Gazali pada saya.
Saya lihat potensi Nine Stars akan menjadi besar di masa mendatang. Asal dikelola dengan manajemen yang transparan, amanah dan profesional. Semoga.
*Direktur Womester, Guru Besar UIN Jember dan Dai Internasional Jepang Tahun 2025
Salah satu hal yang menarik Diaspora Indonesia di Jepang adalah cepatnya Muslim beradaptasi dengan kebudayaan dan sistem sosial di Jepang. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk berdaptasi dengan lingkungan di Jepang. Makanan, pakaian, cara kerja, nilai yang dianut, dan lain sebagai. Inilah yang saya jadikan fokus pembahasan ketika saya berceramah agama di DKM Masjid Al Ikhlas Kanditsu Ibaraki Jepang.
Dalam fikih, kita mengenal urf. Urf adalah tradisi yang berlaku di masyarakat baik berupa perkataan, perbuatan maupun meninggalkan perbuatan. Dalam madzhab empat, Imam Malik yang masyhur getol dengan madzhab urf. Tepatnya Urf Madinah. Meski madzhab lain juga menggunakan urf, tapi tidak masif seperti Imam Malik.
Pengakuan keberadaan urf dalam agama Islam menunjukkan wajah rahmatan lil alaminnya agama Nabi Muhammad tersebut. Islam tidak serta merta menghapus tradisi yang ada di sebuah daerah. Islam malah justru merawat dan menjaganya agar urf ini tetap eksis berdiri kokoh di tengah umat.
Dalam fikih, kita mengenal urf. Misalnya Wahab Khalaf menyebut kaidah urf “Ats Tsabitu bil urfi kas tsabiti bin nashi ma lam yukahlif syar’an”. Bahwa sesuatu yang ditetapkan berdasarkan urf sama dengan yang ditetapkan berdasar al Quran dan al Hadits. Demikian juga al ‘adatu muhakkamah bahwa adat itu dapat dijadikan sandaran hukum.
Namun kebolehan di sana ada catatan khusus, yaitu “ma lam yukhalif syar’an”. Selama tidak bertentangan dengan syariah. Kalau bertentangan syariah, maka tunggu dulu. Hukumnya dilarang (makruh dan bahkan haram).
Sebagaimana dijelaskan dalam beberapa tulisan saya sebelumnya, budaya Jepang (legal culture) luar biasa dalam hal disiplin, kejujuran, loyalitas, dan menjaga kehormatan. Menurut saya, demikian ini adalah urf Jepang yang shahih dalam kacamata Islam.
Sebaliknya, dalam Islam kita juga mengenal urf fasid. Urf fasid adalah kebiasaan yang bertentangan dengan syariat. Misalnya tradisi minum sake yang juga dikenal sebagai minuman keras. Juga film porno yang terkenal di Jepang. Ini semua jelas hukumnya. Allah Swt. mengharamkannya.
Adalah keharusan bagi Muslim Jepang berintegasi dengan masyarakat Jepang pada umumnya. Budaya Jepang harus mendarah daging, meski budaya yang tidak baik tidak menjadi bagian kepribadian Muslim. Setiap Muslim harus menolak budaya yang bertentangan syariah.
Lalu, apa untungnya dengan integrasi Diaspora Muslim ini?
Dengan integrasi ini, maka sesungguhnya demikian ini menguntungkan bukan hanya masyarakat Muslim di Jepang, namun pemerintah Jepang sendiri juga mudah menjalankan berbagai program pembangunannya. Diaspora Muslim tidak menjadi ganjalan bagi negara Jepang, bahkan mereka malah mensupportnya dengan berbagai kegiatan pembangunan di bumi Sakura.
Walhasil, dengan integrasi ini, masyarakat Muslim Jepang akan terus menjadi yang utama dan pertama, bahkan di garda terdepan dalam pembangunan Nasional di Jepang.
Direktur World Moslem Studies Center, Guru Besar UIN KHAS Jember, dan Dai Internasional Jepang Tahun 2025
Salah satu hal krusial di Jepang adalah soal area pemakaman Muslim. Bagi diaspora Muslim, mereka yang meninggal di Jepang, akan dimakamkan di mana? Dipulangkan ke Indonesia atau dikebumikan di Jepang?
Memang, soal menguburkan mayat bukan hal yang mudah bagi Muslim di Jepang.
“Apalagi bagi orang Jepang yang memiliki pandangan bahwa menguburkan mayat di tanah hanya akan mencemari lingkungan, tanah dan air,” kata H Tarmizi, Direktur Masjid Mihara Prefektur Hiroshima Jepang pada saya dalam diskusi ringan. Saya berkesempatan ke Masjid Mihara pada minggu kedua Ramadlan 1446 H memberikan Tabligh Akbar tentang Fikih Aqaliyyat.
Orang Jepang sendiri memiliki pandangan bahwa orang mati harus dibakar. Proses pembakaran mayat di negeri Sakura ini kini sudah canggih. Tinggal menunggu beberapa jam sudah menjadi abu. Abunya yang kemudian diambil dan dibawa ke rumah, satu makam untuk satu keluarga.
“Nisan mereka ambil dan lalu ditaruh abu di bawahnya,” kata Pak Dani, salah seorang pendiri Masjid NU at Taqwa Koga Prefektur Ibaraki.
Sama dengan negara minoritas lain, pemakaman Muslim di Jepang mengalami kesulitan. Namun demikian, banyak juga masjid berdiri di sini. Aneh, tapi nyata.
Setidaknya ada enam makam Muslim di negara Jepang. Yaitu makam Mihara Shi – Hiroshima Ken, Ibaraki Ken, Wakayama Ken, Shizuoka Ken, Yamanashi Ken, Kyoto Fu dan sebagainya. Sebagian makam adalah milik Indonesia-Pakistan.
Keberadaan makam Muslim akan menghilangkan satu poin Fikih Minoritas. Kalau sudah ada makam Muslim, berarti seorang Muslim harus dikubur di makam ini. Dengan kata lain, jika telah ada pemakaman Muslim, maka tidak ada lagi rukhsah (dispensasi) untuk makam muslim yang bercampur dengan mayat non-Muslim. Ke depan, ini menjadi bagian penting Fikih Aqaliyat Edisi Revisi.
Berapa biaya pemakaman muslim di Jepang?
Meski dimakamkan di kuburan Muslim, mereka harus mengeluarkan biaya makam yang besar.
“Karena dikubur 2 meter, harus pakai terpal, maka harus pakai beko. Biayanya bisa 150.000 yen atau 15 juta rupiah,” kata H. Tarmizi. Sementara itu, pemakaman Muslim Indonesia di Ibarakiken –Propinsi lain di Jepang—mencapai 17 juta rupiah. Galian kuburnya sama, dua meter dalamnya.
“Ini hanya biaya ganti tanah. Kalau proses perawatan jenazah gratis, ” kata Pak Dani yang sudah puluhan tahun berada di Jepang. Bagi yang dikembalikan ke Indonesia, juga memakan biaya tidak sedikit. Sekitar satu juta yen hingga 1,2 juta yen atau setara dengan 100 – 120 juta rupiah. Tentu biaya yang tidak murah.
Lalu berapa lama pengirimannya mayat ke Indonesia?
“Pengiriman paling cepat satu minggu dengan biaya segitu. Bagi yang tidak punya, biasanya menunggu iuran,” kata H. Tarmizi yang juga bekerja di perusahaan kapal di Mihara Jepang.
Tak heran jika urusan mati di negeri Sakura harus dipersiapkan jauh hari. Masjid Mihara misalnya membuat STM, Sarekat Tolong Menolong dan menarik iuran 1.000 yen/ keluarga tiap bulan untuk keperluan membantu yang meninggal. Kini terkumpul uang 2 juta yen. Bagi anggota yang meninggal akan mendapat santunan 150.000 yen untuk membantu kematian tersebut sehingga tidak memberatkan jamaah jika ada yang meninggal dunia.
*Direktur Womester, Guru Besar UIN kHAS Jember dan Dai Internasional Jepang 2025.
Cari makanan halal di Jepang gampang-gampang sulit. Tentu tidak sama dengan cari makanan halal di Indonesia. Dimana-mana, kita temukan makanan halal di Indonesia.
Bedanya lagi, kalau se- ramai-ramai restoran halal di Jepang tidak seramai makanan halal di Indonesia. Selain kita harus cari kendaraan untuk menuju ke sana. Tidak cukup jalan kaki seperti di Indonesia.
Namun ada satu hal unik yang membedakan? Restoran halal di Jepang, menjual makanan bersamaan dengan makanan atau minuman yang haram. Tapi eit jangan cepat divonis haram karena ini termasuk aqalliyat restoran halal di Jepang. Bercampurnya makanan halal dan haram –dinegara minoritas muslim–di-tolerir dan atau di-ma’fu.
“Prof Haris jangan kaget. Yang jual makanan halal di Jepang di sebelahnya ada minuman kerasnya”, kata Gus Gazali pada saya. Lucu ya. Tapi, itu biasa kalau di Jepang. Itulah pentingnya aqalliyat halal food di negeri minoritas Muslim.
Termasuk fiqh aqalliyat adalah makanan yang samar keharamannya. Artinya selama tidak jelas haramnya, maka makanan tersebut halal. Ini terjadi ketika saya ke Jepang. Begitu sampai di Tokyo, saya diajak makan sushi yang paling enak. Saya anggap halal saja sushi ini.
“Ini sushinya. Dan ini jangan lupa washabinya”, kata Kristian, seorang pengurus PCI NU Jepang yang tinggal di Tokyo. Lokasi restorannya juga di pinggir jalan Tokyo.
Kami pun dengan lahap makan sushi asli Jepang. Padahal, saya sendiri tidak pernah makan sushi di Indonesia. Malah diajak makan asli shusi ala Jepang. Washabinya begitu terasa di hidung. Sesak dan pedas. Dan hemm. Lezat banget.
Selain makanan khas sushi, ada juga makanan halal lain di Jepang. Misalnya mie soba, tempura, shojin ryori, nasu dengaku (terong bakar), dango (jajanan manis), konnyaku ksusu vegetarian, onigiri (nasi dan isian), ramen, dan wagyu yakiniku (daging sapi yang dipanggang).
Ketika bicara makanan halal di publik, maka yang kita dapati adalah kesulitan 100 persen menerapkan seperti di Indonesia. Makanan yang umum dijual di publik pasti mengkhawatirkan, meski kita sudah mendapatkan rukhsah (keringanan) aqalliyat halal food. Karena bagaimanapun berbagai bahan di Jepang juga banyak yang mengandung daging babi dan minuman keras seperti sake.
Namun demikian, kita bisa mencari halal food di restoran Muslim. Jelas-jelas halal makanannya. Dewasa ini, restoran halal food ramai sekali seiring dengan banyaknya wisatawan Muslim yang datang dari berbagai negara di negeri Sakura.
Justru, sebagaimana informasi yang saya terima, bahwa kalau yang membuat restoran halal adalah orang Jepang, maka serius sekali. Yang dijual di sana hanyalah makanan halal saja.
“Kalau Prof Haris datang ke Gunung Fuji, ini yang jual makanan adalah orang Jepang. Dan anehnya malah dijamin halal semua”, kata Gus Gazali dalam kesempatan diskusi dengan saya.
Tentu akan berbeda kalau makanan halal adalah konsumsi domestik rumah tangga muslim. Makanan rumahan ini bahannya diperoleh dari mini market atau tokoh-toko yang menjual makanan halal.
“Ya kami belanja ke super market atau toko-toko di Jepang. Enaknya disitu ingredient disebut sangat lengkap dan transparan. Kami tidak pernah ragu”, kata Pak Bubun pada kami saat belanja di Kota Koga Prefaktur Ibaraki Jepang.
Bahan-bahan itu lalu diolah sendiri di dapur rumah atau masjid. Tentu, cita rasa Indonesia akan lebih ‘nendang’ dibanding cita rasa Jepang. Keren kan?
Direktur Womester, Guru Besar UIN KHAS Jember dan Dai Internasional Jepang Tahun 2025
Perkembangan Islam di Jepang cukup menggembirakan. Selain banyaknya jumlah penduduk muslim—sekitar 350.000 an orang, jumlah masjid juga terus bertambah pesat. Ratusan masjid baru berdiri di berbagai prefaktur Jepang. Pada ghalibnya, masjid berupa bangunan lama yang sudah ada, namun juga ada yang dibangun dari nol.
Minggu kedua Ramadlan 1446 H, saya sudah dijemput panitia Safari Ramadlan di Jepang. Saya bersama Ust. Bambang Hari Yunanto. Nama akrabnya Pak Bambang. Katib Syuriyah MWC NU Nagano ini menggunakan mobil. Rutenya Koga ke Nagano dengan perjalanan kami tempuh sekitar lima jam. Sepanjang jalan di Jepang, terlihat asri dan indah. Semuanya serba tol. Hingga sampailah kami di Nagano.
Tepatnya di Masjid Indonesia Ueda Nagano.
“Ini Masjid Indonesia Ueda Nagano. Tiga tingkat. Kami baru beli. Harganya kurang lebih 1,2 Milyar uang rupiah. Namun, harus kami perbaiki. Insyaallah akan diresmikan Dubes, Bapak Heri Akhmadi”, kata Pak Bambang bercerita pada kami.
Nama Heri Akhmadi begitu familiar dalam masyarakat Indonesia di Jepang. Karena jasa-jasanya meresmikan banyak masjid di bumi Sakura tersebut. Di Masjid Indonesia Ueda Nagano, terdapat lantai satu, dua dan tiga yang masih dalam proses perbaikan. Harapannya, pada 1 Idul Fitri 1446 dapat digunakan sebagai tempat sholat Idul Fitri.
Tak terasa, waktu hampir maghrib. Saya lalu diajak ke hotel. Untuk meletakkan koper dan sekedar mandi dam bersih-bersih. Lalu, satu jam kemudian, saya diajak meluncur ke masjid itu lagi.
Jangan dibayangkan, masjid di Jepang sama dengan Indonesia. Tentu sangat berbeda, baik dari jumlah jamaah maupun bentuk bangunannya. Kalau kita lihat bangunan masjid lantai tiga di Jepang, tentu sudah sangat luar biasa. Sebagian masjid masih kontrak—seperti Masjid Kabukico di Tokyo. Kami langsung berbuka puasa ketika jam menunjukkan pukul 6 Jepang.
Kami ramai-ramai buka puasa. Seru sekali. Dua ratus lebih orang datang menjadi jamaah masjid malam minggu tersebut. Antrian memanjang mengambil buka puasa. Namun untuk sholat maghrib, kami harus menunggu jamaah. “Insyaallah satu jam lagi mereka sampai. Mereka dalam perjalanan dua jam ke sini”, kata Mas Jimmy, Ketua MWCI NU Nagano Jepang.
Akhirnya datang juga. Belasan orang Perempuan datang ramai-ramai ke masjid. Barulah kami sholat berjamaah Maghrib dan dilanjutkan dengan sholat Isya dan tarawih. Beberapa kali mengimami sholat, saya diminta menunggu jamaah yang umumnya satu hingga dua jam satu kali jalan. Berdirinya masjid-masjid baru di Jepang menambah jumlah masjid-masjid yang selama ini telah memberikan warna tersendiri dalam keanekaragaman masyarakat Jepang. Bagi muslim Jepang, masjid bukan hanya tempat ibadah, namun juga oase spritual yang mengisi kegersangan batin muslim diaspora di Jepang.
Kalau Anda ke Jepang, sempatkan untuk ‘beritikaf’ atau sekedar sujud syukur di masjid-masjid Jepang seperti Masjid Ueno Okachimachi (Tokyo), Masjid Camii (Tokyo), Kobe Muslim Mosque (Masjid Kobe), Masjid Ibaraki Osaka (Osaka), Masjid Nagoya (Nagoya), Masjid Hira Gyotoku (Gyotoku), Masjid Fujikawaguchiko (Gunung Fuji) dan masjid lain.
Selain masjid, kita juga mudah menemukan musholla (praying room) yang di fasilitas publik seperti bandara, stasiun, dan lain sebagainya. Termasuk di restoran-restoran khususnya yang berbasis halal food juga disediakan musholla.
Direktur Womester, Guru Besar UIN KHAS Jember dan Dai Internasional Jepang Tahun 2025
Masih jengkel dengan orang-orang yang juga menjajah Indonesia ya? Jepang, Belanda dan Portugis adalah para penjajah. Sejak kecil kita diajarkan untuk ‘membenci’ para penjajah ini. Saya bisa memahami bagaimana kita umumnya jengkel pada penjajah. Hanya, kita harus belajar bagaimana Jepang menjadi negara besar.
Mereka yang hidup dan bekerja di Jepang harus terbiasa hidup displin. Tak ada korupsi waktu di negeri sakura. Inilah satu alasan mengapa Jepang maju pesat dalam berbagai bidang. Mereka membangun negerinya dengan etos kerja yang baik.
“Mereka kerja on time. Bahkan, pulang lebih lama dari jam yang ditentukan”, kata Cak Anas pada saya menceritakan bagaimana orang Jepang tidak pernah korupsi waktu. Bahkan, yang ada malah menambah waktu.
Setidaknya, ada lima etos kerja yang digunakan orang Jepang. Lima prinsip ini adalah kaizen, bushido, meishi kokan, keishan, dan ganbatte.
Pertama, kaizen berarti pengembangan dan perbaikan yang terus menerus. Orang Jepang menggunakan Kaizen dalam pekerjaan maupun kepribadian. Kaizen digunakan melalui beberapa tahap antara lain: membuat standar (standardize), ukuran (measure), membandingkan dengan ukuran (compare), melakukan inovasi (innovate), menciptakan standar baru (standardize) dan mengulang-ulang (repeat).
Kedua, bushido. Bushido adalah prinsip dan etos kerja seorang ksatria. Meski identik dalam perang, prinisp dalam Bushido ini dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya kegigihan (kennin), keyakinan diri sendiri (shinnen), kebijaksanaan (shinco), keadilan dan kebenaran (seigi), perbuatan baik (jizen) dan optimisme (kibo).
Ketiga, kaishan. Hampir mirip dengan keizen, Keishan adalah prinsip yang menekankan pentingnya perubahan dan peningkatan yang konsisten dalam bekerja. Namun, fokus dari keishan adalah pada kreativitas daya inovasi, dan juga produktivitas. Dari sini, makanya inovasi di negeri Sakura ini menjadi harga mati.
Keempat, ganbatte. Ganbatte berarti tetap semangat atau melakukan yang terbaik. Orang-orang di Jepang sudah terbiasa dengan berbagai kegiatan yang menantang dalam hidupnya. Sejak berada bangku sekolah, mereka terbiasa dengan tugas, tes dan juga kompetisi. Mereka akan ‘habis-habisan’ menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan.
Dan kelima, meishi kokan. Ketika bertemu dengan orang lain, orang Jepang akan memulai dengan bertukar kartu nama. Dengan kartu nama ini, mereka akan mendapat banyak informasi. Selanjutnya, dengan informasi ini, mereka akan melanjutkan dengan bisnis. Artinya, dengan kartu nama tersebut, hubungan dengan manusia lain dibangun.
Kelima prinsip ini yang membuat orang Jepang pada umumnya menjadi pekerja keras yang tangguh. Mereka juga disiplin dalam hidupnya. Selain itu, prinsip-prinsip ini yang membuat mereka berintegritas. Inilah yang saya lihat langsung dari keseharian orang jepang yang beretos kerja tinggi, displin dan berintegritas.
Kalau anda melihat negara Jepang modern dengan teknologi yang super canggih, gedung tinggi pencakar langit, produser mobil terbesar dunia, dan sebagainya maka lihatlah lima spirit yang melatarinya. Tanpa ini, nonse Jepang bisa cepat maju seperti yang kita lihat sekarang.
Apalagi sejak Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom atom oleh Amerika dan para sekutunya pada tahun 1945 yang silam.
Namun, mereka bangkit dengan cepatnya. Prinsip hidup ini yang mereka pegangi. Prinsip ini juga yang mempercepat mereka mengejar ketertinggalan dengan bangsa-bangsa di dunia. Sehingga, kita bisa melihat sekarang tentang kemajuan negara Jepang di dunia.
*Direktur Womester, Guru Besar UIN KHAS Jember dan Dai Internasional Jepang Tahun 2025
“Saya ini orang nakal kiai. Bapak saya menghilang waktu saya kecil”, kata Cak Anas –demikian orang biasa memanggilnya–dalam perjalanan Kota Tokyo ke Koga, 1 Maret 2025. Di masa modern ini, masih ada cerita tentang orang menghilang. Cak Anas menggunakan bahasa Jawa halus, meski asli orang Madura. Saya bertiga bersama Gus Gazali dan Cak Anas—demikian orang-orang memanggilnya. Orang di jagad medsos pasti kenal dengan Cak Anas. Seorang petani sukses asal Indonesia di Jepang.
Nama lengkapnya Yuanas. Usianya 44 tahun. Asalnya Lumajang. Kini, ia menjadi orang Jepang dengan 35 hektar sawahnya. Sebelum menikah, Yuanas adalah sorang surfing instruktur di Denpasar Bali. Mujur, ia bertemu orang Jepang bernama Ichisawa Chikako. Yuanas lalu menikah dengan gadis Jepang pujaan hatinya tersebut. Hasil pernikahannya, Yuanas memiliki empat anak; Sakura Asmaul Husna (13 tahun), Dewa Amar Makruf Nahi Mungkar (11 tahun), Musashi Pranaja Fathul Muslim (9 tahun) dan Kharen Sekar Arum Janatul Balqis (5 tahun).
“Saya sebetulnya ngefans dengan orang Rusia yang cantik-cantik, tapi ndak apa-apa. Dapatnya orang Jepang”, katanya sambil tertawa.
Selama lima belas hari di Jepang, saya mondar-mandir diantar Cak Anas. Karena diantara pengurus PCI NU Jepang yang mobile, adalah beliau. “Pokoknya untuk para kiai NU, saya insyaallah berangkat”, katanya. Dua hari menjelang pulang ke Indonesia, saya diajak ke rumah Cak Anas. Kebetulan ada KH. Ulil Abshar Abdalla (Ketua PBNU) dan Ning Ienas, putria Gus Mus. Kami berangkat ke lokasi sawah Cak Anas berempat.
“Dulu saya hanya punya berapa hektar. Alhamdulillah, kini sudah memiliki 35 hektar”, kata Cak Anas pada kami. Dia menunjukkan lokasi persawahannya. Seperti maklum, di Jepang, sawah hanya digunakan satu kali dalam setahun. Namun, hasilnya jangan tanya: mengalahkan panen di Indonesia yang dua atau tiga kali dalam setahun. Keren, kan.
“Ini tempat pembibitannya”, kata Cak Anas pada kami bertiga. Tempat pembibitan ditutup rapat dalam pastik seperti layaknya pembibitan di Indonesia. Kami bertiga juga diajak ke gudang Cak Anas. Lokasinya tidak jauh dari persawahannya. Di sana, kami semua takjub. Semua teknologi modern pertanian ada disini.
“ Kalau musim panen, hasil panen kami dalam satu hari sudah menjadi beras. Semua diproses di sini”, kata pria yang tinggal di Shibuicou 236 Kota Mito prefekter Ibaraki Jepang. Bandingkan dengan Indonesia. Dari hasil panen hingga jadi beras, kita membutuhkan waktu berminggu-minggu bahkan satu bulan lebih.
Teknologi pertanian Jepang sangat canggih. Sedemikian canggihnya, anak kecil dapat menggunakan mesin pertanian dengan baik. “Anak saya yang berumur 9 tahun saja, dapat menggunakan mesin. Silahkan cek di you tube saya,” kata Cak Anas.
Saya tidak melewatkan momen bersama Cak Anas dengan baik. Saya dan Gus Ulil serta Ning Ienas bersama-sama mengambil video kisah sukses Cak Anas langsung di lokasi gudangnya. Dialog itu hampir setengah jam dan di-upload di akun you tube Gus Ulil.
Lalu bagaimana Cak Anas bisa sukses secepat itu ? Cak Anas juga bercerita pada kami bagaimana meraih sukses. “Kami pakai teknologi modern. Saya kira, orang Indonesia bisa belajar ke sini. Saya siap. Mereka bisa belajar enam bulan atau satu musim”, kata Cak Anas pada kami. Rumah Yuanas siap menjadi tempat domisili orang Indonesia yang belajar pertanian di Jepang.
Tapi tidak hanya teknologi pertanian modern Jepang, namun juga karena kegemaran sedekah Cak Anas. “Saya juga sering bersedekah. Satu hektar sawah hasilnya saya sedekahkan untuk panti jompo. Orang Jepang heran”, akunya. Orang Jepang terheran-heran. Karena ada orang Indonesia bersedekah sebanyak itu ke panti jompo. Cak Anas membuat gempar seantero Jepang. Tak butuh waktu lama Cak Anas menjadi terkenal. Ia terkenal bukan hanya ia petani sukses namun karena ia mensedekahkan hasil panennya begitu banyak untuk orang-orang Jompo.
Sesungguhnya, terdapat banyak variabel sebagai petani sukses. Misalnya yang tak terlihat adalah hubungan Cak Anas yang harmonis dengan alam. “Ketika menanam, saya bilang ke burung yang terbang dan tikus yang hidup di sawah. Wahai burung dan tikus; Jika ini rezeki saya, jangan kau makan. Tapi jika ingin makan, maka makanlah secukupnya”, tuturnya.
Justru inilah menariknya. Di tengah pertanian modern ala Jepang, Cak Anas masih menggunakan kearifan lokal yang diajarkan Islam. Kearifan untuk menselaraskan manusia (mikro kosmos) dengan alam (makro kosmos). Sehingga ia menjadi sukses menaklukkan negeri Jepang.
*Direktur Womester, Guru Besar UIN KHAS Jember dan Dai Internasional Jepang Tahun 2025
Koga di prefektur Ibaraki Jepang bukan hanya menarik karena masjid NU-nya, namun juga menarik karena Pesantren NU at-Taqwa. Ya. Namanya Pesantren NU at-Taqwa. Saya lebih senang menyebutnya dengan ‘Pesantren Internasional NU at-Taqwa’. Mengapa? Karena ini pesantren secara di bawah PCI NU Jepang. Ownernya adalah PCI NU Jepang. Satu hal lagi, pesantren ini berada di luar negeri Jepang sehingga kita layak menyebutnya pesantren internasional.
Seminggu setelah sampai di Koga, saya diajak ke Pesantren NU at-Taqwa. Saya dua kali diajak beberapa pengurus NU ke pesantren ini. Lokasinya berada di tengah sawah. Lumayan agak jauh dari pemukiman penduduk. Bangunan pesantren NU at-Taqwa disesuaikan dengan gaya arsitektur Jepang pada umumnya.
Pesantren ini berjarak hampir 7 km atau 10 menit dari Masjid NU at-Taqwa Koga. Pesantren ini dibangun di atas tanah seluas 911 meter persegi. Bangunan dan lahan pesantren menghabiskan dana 7,822,060 yen. Pada tanggal 4 Mei 2024, Dubes RI di Jepang, Heri Akhmadi meresmikan pesantren pertama di Jepang ini. KH. Masyhuri Malik, KH. Miftah Faqih, dan Dr. KH. Moh. Faisal serta lima orang rombongan lainnya dari PBNU ikut menyaksikan peresmian ini di Koga Jepang.
Selain memiliki halaman luas, bangunan pesantren megah berdiri kokoh. Ada ruang pertemuan ber AC, 1 kamar tidur, 1 dapur, 2 toilet dan 1 kamar mandi serta beberapa kran wudlu. Selain itu, ada panggung pementasan, gudang, halaman yang luas. Juga parkirnya luas sekali. Dalam kamar mandi terdapat air panas. Jika Anda ke Jepang khususnya saat musim dingin, pastikan menggunakan air panas.
Dulu banyak orang Jepang masih tidak suka dengan pesantren. Ketika awal membangun pesantren misalnya, orang Jepang banyak juga yang usil. “Kaca pesantren pecah. Beberapa orang merusak perkakas seperti kipas angin, meja, kursi, atap, dan dapur. Lalu kami lapor pada kepolisian. Akhirnya, berhenti dan aman hingga sekarang”, kata Gus Gazali, pengasuh Pesantren NU at-Taqwa yang juga Ketua PCI NU Jepang.
Lalu apa saja kegiatan pesantren NU at-Taqwa? “Kita sering sholawatan di sini, “ kata Gus Gazali pada saya, Dalam setahun, sudah tiga kali diadakan kegiatan besar di sini. “Festival hadrah dan sholawatan di sini”, lanjutnya. Dalam festival hadrah, MWCI NU se Jepang ikut berpartisipasi. Sehingga orang tumpek brek di sini. Keren ya. Di negeri Sakura ada festival hadrah. Tentu bukan hal yang mudah.
Untuk meramaikan acara festival, maka dibuka bazar dengan stand-stand, Stand ini membayar konstribusi pada panitia. “Ada 10 stand yang berbayar dan hasilnya dapat digunakan untuk mensupport penyelenggaraan acara” , kata Kang Dayat, Ketua MWCI NU Ibaraki Jepang. Walhasil, semua berjalan semarak. Apalagi acara berlangsung hari minggu dimana orang NU Jepang libur. Ramai dan seru.
Bagaimana di negeri ‘tidak beragama’ dibolehkan acara keagamaan di pesantren ini? Tentu, ijin pada pihak yang berwenang adalah sebuah kewajiban. “di Jepang kita tidak boleh gaduh. Maka acara seperti kita ini harus ijin pada pihak kepolisian”, kata Gus Gazali pada kami.
Kini, pesantren NU at-Taqwa telah rutin mengadakan TPQ untuk anak-anak. Ada 17 anak yang resmi menjadi santri TPQ NU at-Taqwa. Setiap akhir pekan, mereka mengaji al-Qur’an di Pesantren NU at-Taqwa. Para pengajar berasal dari PCI NU Jepang. Misalnya Alnus Meinata, Ibu ade dan lain sebagainya.
“Mereka bukan hanya mengaji al-Qur’an, namun juga diajari aswaja sejak kecil”, lanjut Gus Gazali pada kami. Di tengah Pendidikan Jepang yang mengabaikan agama, pesantren NU at-Taqwa hadir menjadi oase pendidikan keagamaan berbasis nilai-nilai keaswajaan. Kelak, anak-anak ini yang akan meneruskan perjuangan menancapkan bendera aswaja di bumi Sakura.
Pengurus PCI NU Jepang berharap pesantren ke depan lebih maju. Misalnya ada pendidikan formal kerja sama dengan KBRI Tokyo. Sehingga terasa benar manfaat pesantren ini pada masyarakat NU di Jepang. Meski hal demikian tidak mudah, karena umumnya anak-anak orang NU di Jepang sudah berada di sekolah formal Jepang.
Salah satu tema yang dibahas dalam acara Konfercabis III PCI NU Jepang pada 13-15 September 2025 ini adalah keberlanjutan pesantren. Bagaimana legacy yang luar biasa ini dapat diteruskan oleh para pengurus selanjutnya. Bahkan menjadi legacy yang lebih maju di masa-masa yang akan datang. Semoga.
*Direktur Womester, Guru Besar UIN KHAS Jember dan Dai Internasional Jepang Tahun 2025
Jika anda aktivis NU, jangan lewatkan mengunjungi Kota Koga. Koga adalah kota yang berada di bawah prefektur (propinsi) Ibaraki. Jarak Tokyo ke Koga sekitar 80 km atau kurang lebih satu jam setengah perjalanan. Ketika datang ke Jepang, dari Tokyo, saya langsung disambut Gus Gazali dan Cak Yuanas menuju Koga. Malam pertama di Jepang, saya menginap di Koga.
Koga adalah “Jombang-nya Jepang”, kata Kiai Zahrul yang juga mustasyar PCI NU Jepang. Kiai Zahrul –yang nama lengkapnya Muhammad Zahrul Muttaqien — bekerja sebagai Atase Kehutanan di KBRI Tokyo mulai 2022 hingga 2025. Di Koga-lah, pusat kegiatan NU di Jepang bertumpu. Oleh karenanya, Kiai Zahrul menganalogikan Koga dengan Kota Jombang.
Seperti kita tahu, Jombang menjadi ‘kota legendaris NU’ karena Rois Akbar PBNU, Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari tinggal di kota tersebut. Di Jombang, banyak lahir tokoh-tokoh nasional berlatar belakang NU seperti KH. Wahid Hasyim, Gus Dur, Cak Nun, dan sebagainya. NU di Jombang, jangan ditanya.
Masjid NU at-Taqwa berdiri megah di Koga. Masjid luas nan menawan tidak kelihatan kalau dilihat dari luar. Masjid ini dapat menampung kurang lebih 1000 jamaah. Di samping depan masjid tertulis “Masjid NU at-Taqwa Koga Ibaraki”. Halaman masjid ini juga lumayan luas.
Masjid ini dibeli secara gotong royong oleh warga NU. Penyematan masjid dengan kata “NU” membutuhkan keberanian dan effort sendiri yang tidak mudah. Pak Bubun, –orang masjid biasa memanggilnya– sesepuh yang juga pendiri masjid ini bercerita panjang tentang history masjid. “Meski banyak tantangan, akhirnya pada tahun 2021 masjid ini resmi dibuka oleh Dubes RI di Tokyo, Heri Akhmadi”, kata Pak Bubun yang nama aslinya adalah Rohibun dalam bincang santai menjelang buka puasa di Masjid NU at-Taqwa. Selain pendiri, Pak Bubun juga menjabat sebagai Ketua DKM Masjid NU at-Taqwa (2021-2023). Ketua DKM selanjutnya adalah mas Eko untuk masa bakti 2023-2025.
Saya menginjakkan kaki pertama di masjid keren ini jam 12.00 malam waktu Jepang. Ya, saya sampai di Jepang 1 Maret 2025, satu hari menjelang Ramadlan 1446 H. Di sinilah berbagai aktivitas NU digerakkan. Dari sini pula, aktivitas NU di seantoro Jepang dikoordinasikan.
Dalam masjid, selain ada tempat jamaah laki dan perempuan, juga tersedia ruang dapur yang memadai. Makanan buka dan sahur selama Ramadlan berada di tempat ini. Ruangan masjid yang semuanya ber-AC. Di ujung ruangan terdapat kamar mandi dan toilet yang semuanya pakai digital. Toilet serba digital berbahasa Kanji Jepang. Di luar masjid, terdapat kran wudlu dua macam; air panas dan air dingin. Masjid ini memiliki lantai dua yang berisi kamar-kamar. Di depan kamar-kamar, terdapat ruang tamu dan ruang meeting PCI NU Jepang. Semua ruangan dan halaman masjid bersih dan tertata rapi.
Berbagai pelatihan –misalnya PDPKP NU—yang diselenggarakan PCI NU Jepang ditempatkan di Masjid NU at-Taqwa. Pengurus PBNU yang juga nara sumber seperti KH. Masyhuri Malik, KH. Dr Faishal, dan sebagainya hadir di tengah-tengah para pengurus NU yang tersebar di seluruh Jepang. “Mereka semua menginap di sini, Prof”, lanjut Gus Gazali sembari menunjukkan lantai dua pada saya.
Saya mengacungi jempol segenap pengurus PCI NU Jepang yang dikomaandani Gus Gazali. Tidak tanggung-tanggung. Di masanya, PCI NU Jepang memiliki 16 MWCI NU Jepang. Ini berarti sepertiga prefektur Negara Jepang.
“Semua MWCI NU-nya hidup. Para pengurus juga aktif berkegiatan, Prof. ”, kata Gus Gazali dalam diskusi ringan dengan saya.
Jika kita menengok data statistik, orang Indonesia di Jepang berjumlah 200.000 ribu lebih. Dari sini jumlah total muslimnya diperkirakan 151.095. Sementara, asumsi warga NU di Jepang berdasarkan survei LSI berjumlah 74.792 orang. Jumlah total orang Jepang sendiri pada tahun 2023 mencapai kurang lebih 125 juta orang.
Ketika keliling ke beberapa kota dan prefektur di Jepang, saya benar-benar melihat langsung kegiatan NU yang semarak dan tak pernah henti. Misalnya Hiroshima, Nagano, Nigata, Tokyo, Ibaraki, Bendo, Mihara, dan lain sebagainya. Jika NU di Indonesia bergerak itu biasa, tapi kalau NU di Jepang bergerak masif tentu luar biasa. Karena di negara Jepang, orang NU dituntut bekerja keras dan disiplin layaknya orang Jepang. Bayangkan, di sela-sela itu, mereka masih sempat mengurus NU. Kata mereka, ngalap berkah NU. Masya’allah.
Saat ini, PCI NU Jepang sedang merencanakan Konfercabis III pada 13-15 September 2025 tahun ini. Semoga berkah dan tambah jaya NU di Negeri Sakura. “Doanya Prof. Haris agar Konfercabis III PCI NU Jepang berjalan lancar”, kata Gus Gazali dalam sms-nya ke saya. Amin ya rabbal alamin.
Mengapa pesantren Internasional Indonesia? Gagasan pesantren sebagai lembaga pendidikan indigenous di Indonesia, dalam hemat saya, sudah lama ada. Dalam catatan resmi Kementerian Agama RI, terdapat kurang lebih 40.000 pesantren yang telah terdaftar di Indonesia. Dengan keluarnya Undang-Undang No. 18 tahun 2019 tentang pesantren, eksistensi pesantren semakin kokoh dengan tiga fungsi utamanya, sebagai lembaga pendidikan, dakwah dan juga pemberdayaan.
Merujuk pada UU No. 18 tahun 2019 tentang Pesantren, pesantren adalah lembaga berbasis masyarakat yang didirikan oleh perorangan atau organisasi untuk menanamkan keimanan dan ketakwaan pada Allah Swt., menyampaikan akhlakul karimah, serta memegang teguh ajaran Islam rahmatan lil alamin yang tercermin dari sikap rendah hati, toleran, keseimbangan, moderat dan nilai luhur bangsa Indonesia lainnya (Pasal 1).
Terma ‘Pesantren Internasional Indonesia’ sendiri tidak disebut secara eksplisit dalam Undang-Undang No. 18 tahun 2019 tentang Pesantren. Sebagian ahli mengatakan bahwa Pesantren Internasional yang dimaksud adalah pesantren yang berstandar internasional dan bertempat di Indonesia. Jika di Indonesia terdapat Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), maka harus ada Pesantren Internasional Indonesia. Begitulah logika yang dibangun para ahli tersebut.
Kita bisa melihat beberapa nama Pesantren Internasional Indonesia di Indonesia. Misalnya, Pesantren Internasional Thursina, Pesantren Internasional Abdul Malik Fajar, Pesantren Internasional Dea Malela, dan pesantren internasional lainnya. Pesantren-pesantren model ini di-design untuk menampung santri dalam dan luar negeri dengan menggunakan kurikulum dan juga bahasa internasional.
Di samping Pesantren Internasional Indonesia di dalam negeri, sesungguhnya menarik membincang Pesantren Internasional Indonesia di luar negeri. Apa peran dan kiprah Pesantren Internasional Indonesia di Luar Negeri nanti?
Pesantren model ini juga sangat relevan, mengingat jumlah diaspora Indonesia sekitar sembilan juta jiwa Menurut data Kementerian Luar Negeri dan Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, (BP2MI) setidaknya tiga sampai empat juta enam ratus ribu jiwa berkewarganegaraan Indonesia. Sedangkan sisanya berkewarganegaraan asing atau berkewarganegaraan ganda terbatas hingga berusia 21 tahun. Jumlah diaspora Indonesia terbanyak diperkirakan berada di benua Asia (1.567.207 jiwa), diikuti dengan benua Eropa (88.533 jiwa) dan Amerika (66.868 jiwa).
Definisi
Pesantren Internasional Indonesia di Luar Negeri adalah pesantren yang didirikan di luar negeri oleh masyarakat Indonesia untuk misi pendidikan, pemberdayaan dan dakwah Islam rahmatan lil alamin dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Terma kerangka NKRI menjadi penting sebagai stressing bahwa pesantren ini tidak terlepas dari akarnya, yaitu Republik Indonesia. Ini sesuai dengan Pasal 5 UU No. 18 tahun 2019 tentang Pesantren. Pun, owner-nya tetap “Indonesia”, meskipun keberadaan dan kegiatan pesantren ada di luar negeri. Di samping itu, pesantren ini menjadi corong ‘Indonesia’ di luar negeri. Multi track diplomasi dapat menggunakan pesantren ini sebagai salah satu pionirnya.
Terma lain yang tak kalah penting adalah ‘misi pendidikan, pemberdayaan dan dakwah Islam rahmatan lil alamin’. Tiga misi ini juga tidak jauh dari Undang-Undang No. 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Namun, ada penekanan misalnya dakwah Islam rahmatan lil alamin yang menjadi tantangan di luar negeri, mengingat jumlah orang tidak beragama (ateis) yang mencapai 20 hingga 50 persen di luar negeri. Karena itu, program mualaf center menjadi salah satu prioritas dalam dakwah Islam di pesantren tersebut. Demikian juga, pesantren ini bisa menebarkan Islam Washatiyah yang menjadi penangkal ekstremisme Islam di luar negeri.
Demikian juga misi pendidikan. Jika di luar negeri negara dapat menyelenggarakan sekolah atau pendidikan di bawah Kementerian Luar Negeri RI, maka seyogyanya pesantren juga bisa bernaung di kementerian ini. Dalam pandangan saya, pesantren ini kelak bisa menjadi lembaga pendidikan dalam binaan Kemlu RI dan Kemenag RI. Namun, bukan hanya untuk Diaspora Indonesia sebagai masyarakat Indonesia yang berada di luar negeri, pesantren internasional ini juga terbuka untuk masyarakat lokal luar negeri.
Peluang dan Tantangan
Dalam hemat saya, keberadaan Pesantren Internasional Indonesia di luar negeri memiliki peluang besar. Setidaknya terdapat empat peluang berikut. Pertama, banyaknya komunitas Diaspora Indonesia di luar negeri. Kedua, sedikitnya jumlah lembaga pendidikan agama di luar negeri. Ketiga, banyaknya anak Indonesia yang lahir dan tumbuh berkembang di luar negeri. Keempat, pesatnya perkembangan dakwah di luar negeri seperti Jepang, Inggris, AS, Rusia, Belanda dan sebagainya. Kelima, banyak negara dunia yang mulai dan semakin welcome dengan kehadiran Islam di negara mereka.
Selain peluang, terdapat juga tantangan Pesantren Internasional Indonesia di luar negeri. Pertama, belum ada role model Pesantren Internasional Indonesia di luar negeri baik standar kurikulum, tenaga pengajar, sarana prasarana, penjaminan mutu dan sebagainya. Ini dimaklumi karena memang keberadaannya yang relatif baru. Kedua, pesantren model ini belum dikenal dan juga belum diakui sebagai pendidikan formal. Ketiga, minimnya fasilitas dan infrastruktur pesantren tersebut. Keempat, minimnya pendanaan khususnya untuk pengembangan pesantren. Dan kelima, jumlah tenaga pengajar yang minim dan terbatas dalam pesantren model ini.
Hal lain yang menjadi tantangan adalah regulasi lokal di tiap-tiap negara yang berbeda satu dengan lainnya. Misalnya, beberapa negara mensyaratkan kepemilikan warga negara lokal terhadap tanah pesantren sehingga mau tidak mau pengelola pesantren harus berkolaborasi dengan penduduk lokal setempat. Demikian juga, sebagian negara mensyaratkan perijinan yang rumit dan ribet pada pendirian pesantren sehingga proses izinnya lama atau bahkan tidak keluar. Akan beda misalnya jika pesantren ini di bawah naungan Kemlu RI, sebagaimana lembaga pendidikan formal di luar negeri.
Kerja sama dengan para pihak di negara setempat, oleh karenanya, menjadi niscaya. Pun, ini akan membuat aman secara regulasi dan juga memberikan rasa nyaman bagi berbagai pihak di negara setempat
Saya yakin dan optimis dengan masa depan Pesantren Internasional Indonesia di luar negeri yang sedemikian cerah. Ke depan, pesantren-pesantren Internasional Indonesia di luar negeri tidak hanya fungsi pendidikan dan dakwah Islan, namun juga bisa mempromosikan budaya Indonesia di luar Negeri. Jika Turki terkenal dengan masjid, Maroko dengan sekolahnya, maka Indonesia terkenal di luar negeri dengan Pesantren Internasional-nya. Semoga.
Ketika Raja Arab Saudi, Salman bin Abdul Azis mengumumkan undangan haji gratis untuk seribu keluarga Syuhada Palestina (CNN/28/5/2024), maka situasi Palestina masih belum baik-baik saja. Gaza masih terus dibombardir Israel. Genosida manusia masih terus berlangsung di negara yang penduduknya mencapai 5 juta lebih tersebut. Bahkan, Rafah sebagai kota yang menghubungkan ke jalur luar Palestina, juga masih dikepung Israel, meski mereka harus mendapat perlawanan sengit dari pejuang Palestina.
Bagaimana lalu hak beragama rakyat Palestina untuk berhaji di tengah porak-poranda negeri mereka? Jangan samakan mereka dengan penduduk negara Muslim yang damai dan di-support oleh pemerintahnya. Di tengah berkecamuknya perang, tentu tantangan berhaji di Palestina akan sangat berbeda dengan negara yang damai. Sebut misalnya masalah administrasi haji, hingga tantangan hambatan dicegah pasukan Israel menuju baitullah di Makkah.
Tahun 2024 ini, sebanyak 1,650 jemaah haji Palestina berangkat dengan 33 bus pada 2 Juni 2024 melalui jalur darat dari Tepi Barat menuju Makkah Arab Saudi. Gelombang kedua sejumlah 3.350 jemaah haji Palestina akan berangkat dengan 67 bus. Sementara itu, 2.600 jemaah haji asal Gaza tahun 2024 ini tidak dapat melaksanakan kewajiban rukun Islam akibat agresi hebat penjajahan Israel yang terus menerus dilakukan sejak 7 Oktober 2023 yang silam.
Haji tahun ini, jemaah Palestina melalui penyeberangan Karma, sebelah timur Kota Jericho menuju Kerajaan Hashemite Yordania. Dari sini, para jemaah haji Palestina berangkat ke Arab Saudi untuk melaksanakan haji dan umrah. Peraturan perjalanan ini dibuat bersama antara Presiden Palestina (Mahmoud Abas), Raja Jordania dan Raja Arab Saudi dengan tujuan untuk memudahkan jemaah haji Palestina.
Kendatipun keadaan sulit, ghirah berhaji Rakyat Palestina tak pernah padam. Oleh karenanya, undangan haji gratis sebanyak seribu jemaah untuk keluarga Syuhada Palestina bagaikan oase di tengah padang pasir. Undangan ini disambut suka cita Rakyat Palestina di tengah keadaan duka cita mendalam yang tak berkesudahan. Seluruh pembiayaan haji mulai transportasi, konsumsi dan akomodasi diberikan gratis tanpa kecuali. Sebagai tamu undangan, seribu tamu kehormatan ini juga akan menikmati semua fasilitas secara gratis.
Pada tahun-tahun sebelumnya, perjalanan haji rakyat Palestina ditempuh lama sekali, yaitu satu hari satu malam atau 24 jam lebih. Kesulitan ini semakin masyaqqat lagi karena sebagian jemaah haji adalah lanjut usia. Perjalanan haji dari Gaza ke Kairo di tempuh 20 jam perjalanan. Dari Kairo-Jedah-Makkah, perjalanan kurang lebih 4 jam. Tentu perjalanan yang sangat melelahkan bagi jemaah haji Palestina. Apalagi sebagian jemaah Palestina adalah jamaah haji lanjut usia dan penderita penyakit kronis.
Namun, dengan perubahan rute baru yang diajukan oleh Palestina, Kerajaan Yordania dan Kerajaan Arab Saudi, haji rakyat Palestina menjadi lebih mudah dan cepat. Apalagi ditambah transportasi yang lebih baik disediakan oleh Arab Saudi. Raja Arab Saudi sendiri pada tahun 2024 ini —sebagaimana tahun-tahun sebelumnya–menambah jatah haji dengan undangan haji gratis sebanyak seribu orang untuk keluarga korban syuhada Palestina.
Setidaknya, terdapat tiga pesan diplomasi undangan seribu haji gratis pada keluarga Syuhada Palestina, sebagaimana berikut:
Pertama, pesan dukungan Arab Saudi pada kemerdekaan Palestina yang tak pernah henti. Dukungan ini konsisten dilakukan Arab Saudi sejak 22-25 September 1969 ketika Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) berdiri. OKI yang berkedudukan di Jedah didirikan oleh keprihatian untuk mendukung Palestina dan kepentingan Islam dunia khususnya ketika pembakaran sebagian Masjid al-Aqsha pada 21 Agustus 1969. Tidak mungkin, Arab Saudi bertolak belakang dengan cita-cita OKI.
Betapapun kelihatan ‘mendukung’ Israel dan sekutunya (Amerika Serikat), namun secara de facto, Arab Saudi tetap berkomitmen untuk kemerdekaan Palestina sebagaimana ditunjukkan dengan menjadi bagian 144 negara yang mendukung kemerdekaan Palestina dalam sidang PBB pada tahun 2024 ini.
Kedua, pesan bantuan yang bersifat ma la yudraku kulluhu. Dalam sebuah kaidah fiqih dikatakan: ma la yudraku kulluhu, la yutraku kulluhu. Kalau tidak dapat membantu seluruhnya, maka jangan tinggalkan semuanya. Kalau tidak bisa mencegah upaya genoside tantara Israel pada warga Palestina, maka at least Arab Saudi telah memberikan bantuan kemanusiaan yang lain yang sangat berarti: undangan seribu haji. Bantuan yang tidak bisa memberikan kecuali hanya oleh Kerajaan Arab Saudi. Bantuan yang sangat berarti di tengah antrian tahunan berhaji dan biaya yang tak terjangkau oleh umumnya rakyat Palestina.
Bantuan seribu haji gratis ini tidak kalah berartinya dengan bantuan kemanusiaan lain yang lain seperti makanan, obat-obatan, dan pembangunan infrastruktur yang hancur lebur. Juga tidak kalah dengan demonstrasi seluruh dunia melawan genosida oleh Israel. Bantuan haji gratis ini tidak kalah dengan bantuan-bantuan lain yang ‘menenangkan’ dan ‘membuat damai’ hati rakyat Palestina. Memang rakyat Palestina butuh bantuan dalam kehidupan tenang dan damai, sebagaimana warga negara lain di dunia.
Ketiga, pesan agar Israel tidak menghalangi haji rakyat Palestina. Demikian ini karena haji adalah soal hak beragama warga Palestina yang harus dijunjung tinggi Israel. Bukan hanya 1000 hajinya keluarga syuhada haji, namun juga haji reguler lain –yang kurang lebih berjumlah 5000 jemaah haji –pada tahun ini dari Palestina. Dan Kota Rafah yang menjadi pintu Palestina ke negara lain, jangan coba-coba Israel menguasainya dan apalagi jika kota ini digunakan Israel untuk menghambat haji rakyat Palestina. Semoga.
* M. Noor Harisudin adalah Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Sidiq Jember, Direktur World Moslem Studies Center dan Dai Internasional Ramadlan 1445 H di Belanda dan Jerman.
Setelah dikabarkan sakit, Raja Salman tiba-tiba muncul. Bahkan, Raja Salman muncul membawa kabar gembira untuk para keluarga syuhada Palestina. Tepatnya, Raja Salman memberikan undangan seribu 1000 pada keluarga Syuhada Palestina. Selain undangan haji keluarga Syuhada Palestina, Raja Salman juga memberikan 1300 undangan haji ada 88 negara dunia. (Jawa Pos/29/5/2024)
Pemberian undangan haji keluarga Syuhada Palestina tentu menggembirakan meski apakah benar undangan tersebut dibutuhkan oleh para keluarga Syuhada Palestina? Bukankah rakyat Palestina lebih membutuhkan bantuan kemanusian lainnya seperti makanan, obat-obatan, air bersih, rumah pengungsi, dan kebutuhan mendesak yang lain ?. Bukankah mereka juga lebih membutuhkan ketenangan dan kedamaian, layaknya warga dunia yang lain?.
Pandangan minor ini bisa dipahami karena selama ini, Arab Saudi –di mata publik—dipandang terlalu berpihak pada Israel. Selain pernah membuka hubungan diplomati dengan Israel (2018), serangan Iran ke Israel membuktikan positioning Arab Saudi tersebut. Umat Islam berharap Arab Saudi seperti Iran yang akan menyerang Israel. Nyatanya, Arab Saudi bukan Iran dan tidak sama dengan Iran.
Apalagi pada 16 Oktober tahun 2023 yang silam, ketika pertemuan KTT Oganisasi Kerja Sama Islam (OKI), Iran, Lebanon dan Algeria mengusulkan embargo pada Israel, maka sebagian negara anggota justru menolaknya. Penolakan ini dilakukan khususnya oleh negara yang menormalisasi hubungan dengan Israel seperti Mauritania, Maroko, Sudan, Bahran, Uni Emrat Arab, Yordania dan Mesir, termasuk Arab Saudi. Dengan kata lain, Arab Saudi termasuk yang menolak usulan embargo pada negara Israel.
Oleh karenanya, undangan 1000 haji pada keluarga Syuhada Palestina apakah hanya lip service belaka atau keseriusan Arab Saudi mendukung rakyat Palestina ? Saya menduga, ini cara Arab Saudi mendukung Palestina, tentu dengan caranya sendiri. Hemat saya, undangan haji ini bukan semata-mata mencari simpati publik dan berharap ‘citra positif’ dari dunia Islam.
Ada beberapa alasan mengapa Arab Saudi, saya anggap, serius dengan mendukung kemerdekaan Palestina, sebagaimana berikut:
Pertama, ini adalah undangan haji 1000 keluarga syuhada Palestina yang kesekian kalinya. Undangan ini bersifat gratis dan semua biaya; konsumsi, akomodasai dan transportasi ditanggung Arab Saudi. Undangan haji ini merupakan hal istimewa, karena selain rukun Islam yang kelima, biaya melaksanakannya tergolong mahal dan tidak semua orang dapat menjangkaunya.
Kedua, Arab Saudi menjadi tempat kantor Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). OKI adalah organisasi Islam internasional yang didirikan pada pada 22-25 September 1969 yang silam. OKI didirikan oleh keprihatian untuk mendukung Palestina dan kepentingan Islam dunia khususnya ketika pembakaran sebagian Masjid al-Aqsha pada 21 Agustus 1969. Tidak mungkin, Arab Saudi bertolak belakang dengan cita-cita OKI.
Ketiga, dalam satu dekade terakhir, Arab Saudi mulai menjalin hubungan diplomatik dengan China. Bahkan, Arab Saudi terlihat mulai meninggalkan Amerika Serikat dan sebaliknya mulai menggandeng Cina. Arab Saudi terlihat dekat juga dengan Iran yang bersekutu dengan Cina. Tentu, ini juga mengubah peta dan posisi politik internasional Arab Saudi di dunia.
Keempat, sikap Arab Saudi terhadap Palestina telah dibuktikan sejak dahulu kala. Sikap tradisionalnya yang terakhir ditunjukkan Arab Saudi menjadi bagian 144 negara yang mendukung kemerdekaan Palestina. Sebagaimana diketahui, Majlis Umum PBB pada Jum’at (10/5/2024) telah menggelar voting untuk mengadopsi resolusi yang mendukung Palestina menjadi anggota penuh PBB. Sembilan negara menolak dan dua puluh lima negara memilih abstain.
Kelima, bantuan Arab Saudi ke Palestina sesungguhnya banyak, hanya tidak sering dipublis ke media sehingga terkesan Arab Saudi tidak pernah memberikan bantuan kemanusiaan ke Palestina. Andaikan publikasi media berjalan masif, publik akan lebih mudah mengetahui ke mana arah dukungan Arab Saudi dalam peta politik global.
Berdasarkan beberapa fakta ini, maka kita dapat menyimpulkan bahwa Arab Saudi serius membantu kemerdekaan Palestina. Tidak sekedar membangun citra belaka seperti dibayangkan oleh banyak orang. Meskipun suara Arab Saudi umumnya tidak bisa “satu komando” membela Palestina, namun –dalam pengamatan saya—tahun ini Arab Saudi dan negara Arab lain akan bersatu untuk Palestina.Ini karena genosida di Palestina telah memakan kurban 35 ribu lebih warga meninggal di Palestina.
Oleh karenanya, undangan 1000 haji ini menjadi penting kendatipun di lapangan, boleh jadi tidak seperti yang diharapkan. Rakyat Palestina memang membutuh bantuan pangan, obat-obatan, dan sebagainya. Rakyat Palestina juga membutuhkan ketentangan dan kedamaian hidup ,sebagaimana rakyat lainnya di dunia.
Dalam hemat saya, undangan haji Raja Saudi adalah solusi bagi rakyat Palestina. Betapapun ada yang sinis, undangan haji ini at least memberi dua pesan penting. Pertama, adalah bantuan yang bersifat ma la yudraku kulluhu. Dalam sebuah kaidah fikih dikatakan: ma la yudraku kulluhu, la yutraku kulluhu. Kalau tidak dapat membantu seluruhnya, maka jangan tinggalkan semuanya. Begitu kira-kira. Kalau tidak bisa mencegah perang genoside Israel pada warga Palestina, maka Arab Saudi telah memberikan bantuan kemanusiaan yang lain yang sangat berarti: undangan haji.
Kedua, pesan agar Israel tidak menghalangi haji rakyat Palestina. Ini soal hak beragama warga Palestina yang harus dijunjung tinggi Israel. Bukan hanya 1000 keluarga syuhada haji, namun juga haji reguler lain –kurang lebih 4500 jamaah haji –yang tahun ini melakukan ibadah haji dari Palestina. Dan Rafah yang menjadi pintu Palestina ke negara lain, jangan coba-coba Israel menguasainya dan apalagi digunakan untuk menghambat haji rakyat Gaza dan Palestina. Semoga. ***
* M. Noor Harisudin adalah Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Sidiq Jember, Direktur World Moslem Studies Center dan Dai Internasional Ramadlan 1445 H di Belanda dan Jerman.
*Artikel ini telah dimuat di Jawa Pos, 4 Juni 2024.
Hari itu (24/8/2024), saya melakukan perjalanan dari Amsterdam ke Kota Den Haag. Ini saya lakukan setelah berkeliling kota Bremen dan Hamburg keduanya di Jermankarena tugas menjalankan safari dakwah di sana. Beberapa kolega menyampaikan informasi pada saya tentang ratusan ahli pesawat terbang Indonesia didikan BJ. Habibie yang tinggal di Bremen dan Humberg. Mereka bekerja di perusahaan pesawat terbang di Jerman.
Akhirnya, sampai juga saya ke dua kota di Jerman tersebut, bahkan berdakwah di sana. Setelah berdakwah dua hari di Musholla Breman dan KJRI Humberg Jerman, saya kembali ke Den Haag.
Mengapa harus ke Den Haag? Ya. Saya diundang untuk ikut serta kegiatan Pengurus Cabang Istimewa NU Belanda yang hari itu mengadakan acara rapat kerja dan berbuka bersama di Masjid Al Hikmah Den Haag.
Soal transportasi yang nyaman di Eropa. Beberapa hari sebelumnya, dalam safari dakwah ke Jerman, saya menggunakan bus dari Amsterdam-Bremen. Bremen ke Humberg, saya diantar menggunakan mobil Pak Gery bersama anak dan istrinya. Dari Humberg-Amsterdam-Den Haag, saya kembali menggunakan bus. Saya menikmati perjalanan dengan bus ini karena meski jarak tempuh yang lumayan jauh, saya merasakan suasana bus yang mewah dan nyaman. Saking nyamannya, perjalanan 8,5 jam dari Humberg ke Amsterdam, juga tidak terasa.
Dari sekian perjalanan saya dari Belanda ke Jerman dan pulang dari Jerman ke Belanda, yang menarik adalah sopir bus-nya. Sekian bus disopiri langsung oleh orang Belanda. Sebagai driver, merangkap kondektur dan juga kernet. Ketiganya dirangkap dalam satu orang. Orang Belanda itu kerjanya cak cek, Prof. dan efesien kerja”, kara dokter Ikhwan pada saya. Dokter Ikhwan adalah putra pertama Mahfud MD yang sedang menempuh program Ph.D di Amsterdam bersama istrinya. Jika melihat sopir bus Belanda, maka apa yang dikatakan dokter Ikhwan tidak keliru. Bayangkan: ngerneti, menjadi kondektur dan sekaligus nyopiri. Pemandangan yang tidak kita peroleh di Indonesia. Di Indonesia sopir ya hanya sopir. Kondektur ya kondektur. Kernet ya kernet.
Mereka terbiasa dengan motto kerja; kalau bisa dilakukan oleh satu orang, mengapa pakai dua atau tiga orang. Tak heran jika di banyak sektor kerja orang Belanda, mereka hanya menggunakan sedikit orang atau minimal sesuai kebutuhan kerja.
Meski sedikit orang, namun tidak mempengaruhi kerja cepat orang Belanda. Satu orang Belanda sama dengan tiga orang Indonesia, Prof, kata dokter Ikhwan pada saya. Apalagi mereka memiliki pola kerja yang disebut dengan work-life balance.
Work-life balance adalah keadaan seseorang yang bisa mengatur dan membagi waktu dan energi untuk kehidupan pekerjaan dan pribadi yang baik. Artinya, ia bisa mengatur dan membagi waktu dengan seimbang untuk urusan pekerjaan dan kehidupan pribadi seperti rekreasi, hobi keluarga, dan urusan lainnya.
Dalam work-life balance, orang Belanda menyelesaikan pekerjaan di tempat alias sisa pekerjaan tidak boleh dibawa pulang. Ketika pulang, mereka sudah hanya fokus bercengkerama dengan keluarga atau teman-temannya.
Praktis, orang Belanda menggunakan berbagai cara bagaimana pekerjaan selesai. Mereka selalu all out dalam bekerja. Oleh karena itu, tidak ada HP ketika mereka bekerja. Tidak sama dengan sebagian kita yang bekerja sambil bermain HP, di Belanda bermain HP ketika sedang bekerja dilarang keras. Tidak hanya HP, aktivitas lain juga dilarang dalam cara kerja mereka. Mereka hanya akan focus on the work. Sehingga pekerjaan orang Belanda selalu selesai pada waktunya.
Selain itu, mereka selalu bekerja on time. Misalnya ketika janjian sama Isha, seorang Belanda yang menjadi master Tapak Suci di Amsterdam, jam 9 pagi waktu Belanda untuk diantar ke Rijk Museum Amsterdam, 10 menit sebelumnya saya sudah menunggu di depan housing Habib. Jangan pernah terlambat menepati janji di Belanda kareana ini merupakan kesalahan fatal.
Dus, karakter lain orang Belanda adalah disiplin kerja. Disiplin kerja adalah suatu sikap menghargai, menghormati, taat dan patuh terhadap peraturan yang berlaku dalam perusahaan baik yang tertulis maupun tidak tertulis. Dan tidak mengelak dengan sangsi-sangsi yang berlaku apabila melanggara tugas yang diberikan. Selain datang dan pulang tepat waktu, orang Belanda dikenal mengerjakan semua pekerjaan dengan baik. Mereka juga mematuhi semua peraturan perusahaan dan kantor sesuai, dengan norma-norma sosial yang berlaku.
Kita juga bisa belajar cara kerja smart orang Belanda. Mereka akan menggunakan cara smart untuk menyelesaikan kerjanya. Bagaimana kerjaan cepat selesai dengan hasil yang maksimal. Sehingga, mereka akan menggunakan teknologi untuk membantu berbagai pekerjaan mereka sehingga cepat selesai sesuai dengan yang diharapkan.
Sebetulnya, orang Indonesia bisa meniru cara kerja orang Belanda. Tinggal mau memulai apa tidak. Mau coba? Wallahualam. ***
M. Noor Harisudin adalah Direktur World Moslem Studies Center (Womester), Pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember, Wakil Ketua PW Lembaga Dakwah NU Jawa Timur, Dewan Pakar PW Lembaga Talif wa an-Nasyr NU Jawa Timur, Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian dan Pelatihan MUI Jawa Timur, Ketua PP APHTN-HAN dan Guru Besar UIN KHAS Jember.
Salah satu hal menarik di Belanda adalah banyaknya penjara yang terpaksa ditutup. Tahun 2009 misalnya, Belanda menutup delapan penjara. Demikian juga, tahun 2014 Belanda kembali menutup penjara. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung; 19 penjara. Alasan penutupan karena menurunnya kejahatan di Belanda.
Menurut laporan DutchNews.nl pada 1 Maret 2022, tingkat pencurian dan perampokan di Belanda menurun drastis dalam sepuluh tahun terakhir. Misalnya perampokan yang turun 71 %, perampokan rumah turun 74 % dan pencopetan turun 85 persen.
Menurunnya kejahatan berdampak pada minimnya jumlah tahanan. Jika dihitung mulai tahun 2005 hingga tahun 2022, jumlah tahanan di Belanda menurun drastis dari 50.650 menjadi hanya 30.380. Tentu saja, menurunnya angka kejahatan ini mengakibatkan penjara di Belanda banyak yang ditutup, bahkan sebagian disulap menjadi sekolah, pusat pengungsi, museum atau bahkan kantor.
Sekedar contoh, British School of Amsterdam yang menampung banyak permintaan pendidikan internasional hingga tahun 2021 menata ulang tempat yang sebelumnya merupakan penjara menjadi teater sekolah.
Demikian juga Penjara Nasional Veenhuizen di Propinsi Drenthe Belanda telah beralih fungsi sebagai museum sebagai upaya pemerintah Belanda membuka diskusi tentang kejahatan dan hukum serta ragam sejarah yang mengerikan yang mengitarinya. Sekarang namanya berubah menjadi Museum Penjara Nasional Veenhuizen.
Minimnya jumlah kejahatan dan tahanan di Belanda berkorelasi dengan jaminan sosial yang diberikan oleh negara pada rakyatnya.
Banyak penjara tutup. Karena sistem sosial sudah bagus. Jaminan sosial juga lancar. Kesenjangan orang kaya miskin tidak ada, kata dokter Ikhwan, putra Mahfud MD Habib pada saya. Ikhwan adalah mahasiswa S3 kedokteran di Amsterdam.
Seperti telah dijelaskan pada bagian terdahulu, bahwa pajak tinggi pada orang kaya membantu negara meratakan jaminan sosial pada seluruh warganya. Dengan cara ini, nyaris tidak ada orang yang miskin dan kekurangan karena semua telah difasilitasi negara.
Dengan kata lain, implementasi keadilan sosial telah menjadikan jumlah kejahatan nyaris tidak ada. Kalaupun ada, kejahatan dilakukan oleh sebagian kecil imigran dari luar Belanda. Karena mereka sudah sejahtera dan makmur semua, maka tidak ada kejahatan, tukas dokter Ikhwan kembali pada saya.
Pada sisi lain, kita perlu mendalami aspek humanisme soal penjara di Belanda. Pemerintah Belanda memang jarang atau tepatnya meminimalisir memasukkan orang ke dalam penjara.
Kiai Nur Ahmad, mahasiswa Ph.D Leiden University, kembali bercerita tentang seorang pencuri handphone temannya. Temannya lapor pada polisi Belanda. Tapi, polisi Belanda mengatakan untuk menunggu orang yang mencuri sadar dan mengembalikannya beberapa bulan lagi. Jadi, diminta bersabar, kata Kiai Nur Ahmad dalam diskusi sahur pada bulan Ramadlan 1445 H ini.
Bagaimana dengan hak orang yang kehilangan? Bukankah Hp nya juga hal yang penting bagi dia? Bagaimana jika ternyata tidak dikembalikannya.
Ketika teman yang kehilangan kembali ke kantor polisi menanyakan Hp-nya, maka Polisi kembali menghimbaunya untuk bersabar. Karena, lanjut polisi, jika dia dipaksa untuk mengembalikan, maka besar kemungkinan dia akan melakukan kejahatan yang lebih besar lagi.
Walhasil, hingga artikel ini Hp masih belum kembali. Entah, sampai kapan. Namun, itulah model penanganan kejahatan di Belanda yang superhumanis.
Tidak hanya ketika penanganan kejahatan, namun ketika ada dalam penjara, Belanda juga memperlakukan narapidana secara humanis. Lihat misalnya bentuk penjara yang luas dan tidak sempit, seperti penjara-penjara di Indonesia.
Penjara Belanda ini bahkan memberikan layanan dua jam setiap enam minggu agar para tahanan bisa melepas rindu dengan keluarga atau pasangannya di kamar khusus yang telah disediakan. Luar biasa bukan.
Selain tentu saja, penjara bekerja sama dengan instansi lain memberikan ketrampilan agar narapidana bisa kembali bekerja saat bermasyarakat. Berbagai ketrampilan diajarkan dan tentu saja agar mereka tidak asing lagi di tenga-tengah masyarakat Belanda. Tegasnya, mereka dapat kembali bersosialisasi dengan masyarakat.
Penjara-penjara di Belanda, oleh karenanya, menyiapkan program reintegrasi para narapidana agar bisa diterima kembali dengan baik saat kembali dan selanjutnya narapidana diharapkan dapat berguna bagi dirinya sendiri serta masyarakat.
Gambaran ini semua menujukkan sikap humanisnya pemerintah Belanda pada para nara pidana baik sebelum, pada saat dan paska penjara di negeri kincir angin tersebut.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia yang terus overload kapasitas penjaranya? Nampaknya, Indonesia masih perlu banyak belajar lagi ke Belanda. *** (Bersambung)*
M. Noor Harisudin adalah Direktur World Moslem Studies Center (Womester), Pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember, Wakil Ketua PW Lembaga Dakwah NU Jawa Timur, Dewan Pakar PW Lembaga Talif wa an-Nasyr NU Jawa Timur, Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian dan Pelatihan MUI Jawa Timur, Ketua PP APHTN-HAN dan Guru Besar UIN KHAS Jember.
Di sela-sela gemerlap intelektual Leiden University yang melegenda, saya berkesempatan berkunjung ke rumah Snouck Hourgronye. Siapa yang tidak kenal dengan Snouck Hourgronye? Seorang orientalis Belanda yang masyhur dan memiliki reputasi dunia. Pahlawan bagi Belanda, namun tokoh munafik yang dibenci oleh rakyat Indonesia. Oleh Belanda, Snouck Hourgronye diminta untuk menaklukkan perlawanan rakyat Indonesia. Studinya tentang Islam luar biasa. Dikagumi, namun juga dibenci. Itulah sosok Snouck Hourgronye.
Hari Rabu itu (20/3/2024), Hengki, Ketua Lembaga Talif wan Nasyr Pengurus Cabang Istimewa NU Belanda yang juga seorang alumni magister Universitas Islam Negeri Sahida Jakarta mengajak saya keliling ke Universitas Leiden. Setelah berkeliling kesana-sini, saya lalu diajak ke rumah Snouck Hourgronye. Ini rumah Snouck Hourgronye, Prof. Rumahnya ada di pinggir kanal yang lain. Rumah Snouk Hourgronye tampak kecil, namun asri. Di atas pintu tertulis namanya, meski tidak kelihatan jelas.
Nama lengkapnya Christian Snouck Hourgronye. Dilahirkan 8 Pebruari 1857dan meninggal 26 Juni 1936. Snouck Hourgronye menjadi mahasiswa teologi Kristen di Unversitas Leiden tahun 1874. Gelar doktornya diperoleh tahun 1880 dengan disertasinya Het Mekkaansche feest (Perayaan Mekah). Tahun 1881, Snouck Hourgronye diangkat menjadi professor di Sekolah Pegawai Sipil Leiden.
Snouck Hourgronye dikenal sebagai sarjana Belanda bidang budaya Oriental dan Bahasa. Snouck Hourgronye yang fasih Bahasa Arab ini masuk ke kota suci Mekkah tahun 1885, setelah berhasil menyelesaikan pemeriksaan untuk diizinkan ziarah ke kota Mekah. Untuk masuk ke kota Mekah, Snouck Hourgronye melalui Kerajaan Ottoman yang masih berkuasa di dunia Islam saat itu. Selain itu, Snouck Hourgronye harus menjadi mualaf. Nama mualafnya Haji Abdul Ghafar.
Tahun 1889, Snouck Hourgronye menjadi profesor Melayu di Universitas Leiden. Selain itu, ia juga menjadi penasehat resmi pemerintah Belanda urusan Kolonial. Ia mengambil peran aktif dalam bagian akhir Perang Aceh (1873-1913). Dengan pengetahuannya tentang Islam, Snouck Hourgronye merancang strategi untuk menghancurkan perlawanan rakyat Aceh dan mengakhiri perang 40 tahun dengan korban kurang lebih 100.000 dan satu juta terluka. Tahun 1906, Snouck Hourgronye kembali ke Belanda dan melanjutkan karir akademisnya.
Selain ke rumah Snouck, saya juga diajak ke patung para tokoh Universitas Leiden. Sejumlah guru besar dan tokoh penting. Salah satunya, orang Indonesia yang pertama kali kuliah disana, yaitu Prof Hussein Djayadiningrat yang asal Serang Banten. Tertulis pada prasasti di bawah arca Prof Hussein: The first scholar to receive a Ph.D converred on 3 may 1913 by Le Converred Leiden University. Orang yang pertama kali lulus kuliah di Leiden University.
Tak terasa, hari sudah sore, dan kami harus pulang ke housing Kiai Nur Ahmad. Tadi belum ke makam Snouck Hourgronye, Prof. Besok saya akan antar ke sana, kata Kiai Nur Ahmad ketika buka bersama saya dan Hengki di housingnya. Buka puasa hari itu spesial banget. Ada sop buntut yang disiapkan untuk kita semua dengan sambal terasi jeruknya. Maknyus. Belum dengan gorengan bakwan, tahu isi dan lain sebagainya serasa buka bersama di Indonesia.
Hari Kamis, (21/3/2024), sesuai janjinya, saya diajak Kiai Nur Ahmad ke makam Snouck Hourgronye. Kurang lebih setengah jam, kami sudah sampai di lokasi yang dituju. Sebelumnya, kami harus naik sepeda lima kilometer dari housing Kiai Nur Achmad. Sepanjang jalan, kami juga berhenti di spot-spot kota Leiden yang indah dan menawan. Tentu sambil foto-foto selfi bersama kiai muda asal UIN Walisongo Semarang tersebut.
Makamnya, lanjut Kiai Nur Ahmad, indah sekali. Tak heran jika menjadi tempat pelarian muda-mudi yang pacaran. Atau sekedar menjadi tempat baca-baca. Sama sekali tidak ada kesan seram seperti makam-makam di Indonesia. Sama dengan pemakaman yang lain di Belanda, gerbang pemakaman Snouck Hourgronye tampak indah dari depan. Ada parkir sepeda pancal yang disiapkan.
Kiai Nur Ahmad yang menunjukkan dimana makam Snouck Hourgronye. Ini makamnya Snouck Hourgronye. Dia bersama tiga orang keluarganya yang lain, kata Kiai Nur Achmad pada saya.
Saya langsung jujug ke makam Snouck Hourgronye. Ada kotak persegi empat yang cor-coran. Di sana tertulis nama-nama orang yang dikuburkan, meski tulisan juga terlihat samar-samar. Dalam makam ini, ada empat keluarga Snouck yang dikubur. Saya berdiri di sebelah makam saja, Kiai Nur Ahmad, pinta saya pada Kiai Nur Ahmad. Jepret-jepret, foto di sebelah kuburan Snouck Hourgronye.
Sekitar setengah jam kemudian, saya berdiri di pusara Snouck Hourgronye. Entah, apa yang saya pikirkan. Namun, saya reminder pada masa kejayaan saat Snouck Hourgronye diangkat oleh penjajah Belanda. Bagaimana orientalis jenius ini bisa menjadi penasehat Belanda dan sangat berpengaruh di bumi Indonesia. Memori saya pun kembali pada teori Knowledge and Power. Hubungan antara pengetahuan dan kekuasaannya, Michael Foucault. *** (Bersambung)
M. Noor Harisudin adalah Direktur World Moslem Studies Center (Womester), Pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember, Wakil Ketua PW Lembaga Dakwah NU Jawa Timur, Dewan Pakar PW Lembaga Talif wa an-Nasyr NU Jawa Timur, Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian dan Pelatihan MUI Jawa Timur, Ketua PP APHTN-HAN dan Guru Besar UIN KHAS Jember
Ra aitul al-islaama ‘amalan laa iimaanan fil gharbi. Wa raitul al-Islaama iimaanan laa ‘amalan fis syarq.
Saya melihat Islam yang diamalkan bukan Islam yang diimani di Barat.
Sementara, saya melihat Islam yang diimani dan bukan Islam yang diamalkan di Timur.
Demikian perkataan Muhammad Abduh ketika berkunjung ke Paris pada tahun 1884 M.
Muhammad Abduh takjub dengan amaliyah Islam di Paris (Eropa) yang tampak dalam berbagai sendi kehidupan.
Itulah yang saya rasakan ketika mendapat tugas berdakwah di Belanda mulai tangagl 12 hingga 26 Maret 2024.
Saya diundang Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU Belanda untuk berdakwah keliling di sejumlah kota di Belanda dan juga Jerman, mulai Amsterdam, Den Haag, Wageningen, Leiden, Bremen dan Hamburg.
Keempat kota pertama adalah kota-kota di Negeri Belanda dan dua yang terakhir adalah dua kota di Jerman.
Sembari berdakwah selama lima belas hari di negeri kincir angin, secara kasat mata, saya melihat Islam yang diamalkan, bukan Islam yang diimani di sana.
Penduduknya non-muslim, namun amaliyahnya justru Islam.
Bagaimana itu bisa terjadi?
Setidaknya, ada sejumlah amaliyah Islam yang kita lihat dan rasakan ke Negara Kincir Angin tersebut, sebagaimana berikut:
Pertama, kota-kota di Belanda bersih.Ruas-ruas jalan yang rapi dan bersih kita lihat di hampir semua sudut jalan.Kita sulit mendapati sampah di jalanan, kafe, housing, airport, stasiun, dan sebagainya. Hadits an-nadlaftu minal iman (kebersihan sebagian dari iman) benar-benar mewujud dalam semua bidang kehidupan.
Kedua, Negeri Belanda sangat mempedulikan lingkungan. Udara yang segar benar-benar dijaga. Jalanan rapi, tertib dan bersih. Sebisa mungkin, orang menggunakan transportasi publik. Bahkan sepeda pancal adalah transportasi utama orang Belanda.
Dengan demikian, selain antimacet, juga tidak membuat polusi udara yang menyesakkan dada. Belanda melarang menggunakan aqua gelasan, namun menggunakan air isi ulang. Ini sejalan dengan pesan Alquran untuk menjaga kelestarian lingkungan dan sebaliknya melarang berbuat kerusakan di muka bumi. (QS. Al-Araf: 85).
Ketiga, jalanan di Belanda nyaris tanpa macet. Kecuali Amsterdam kota besar di Belanda, semua jalanan berlangsung tertib. Semua juga tertib berlalu lintas.
Demikian juga, parkir mobil dan kendaraan teratur. Ini sejalan dengan hadits Nabi Muhammad SAW: la dlarara wa la dlirara. Artinya: Tidak boleh ada madlarat pada diri sendiri dan juga pada orang lain.
Keempat, penegakan hukum di Belanda sangat memanusiakan manusia. Tak heran jika sejumlah penjara di Belanda, ada yang tutup.
Dengan kata lain, kejahatan tidak ada atau bahkan zero. Juga tidak ada korupsi. Penegakan hukum tidak serta merta langsung babibu hantam kromo, namun dicari dulu akar masalahnya. Sejauh bisa tidak dihukum, maka jangan dihukum.
Apalagi jika dihukum malah justru berdampak negatif dan semakin meluas kejahatannya di masa itu dan masa yang akan datang.
Ini selaras dengan maqasidus syariah yang berorientasi pada kemaslahatan manusia baik di dunia maupun di akhirat (mashaalihul ‘ibaad fil ma’asyi wal ma’aad).
Kelima, pendidikan yang mencerahkan. Sejak kecil, anak-anak dididik dengan model critical thinking yang mencerahkan.
Mereka tidak dicekoki sederet hafalan apalagi pekerjaan rumah (PR) yang membosankan, namun mereka dicerahkan dengan cara berpikir kritis sejak sekolah dasar (basic school).
Demikian ini selaras dengan pesan Alquran, afala ya’qiluun (apakah kalian tidak berakal), afalaa yafatakkaruun (apakah kalian tidak berpikir) dan afala yatadabbarun (apakah kalian tidak berpikir).
Keenam, Belanda adalah welfare state (negara kesejahteraan). Oleh karenanya, di Belanda tidak ada orang kaya dan juga orang miskin. Orang kaya takut dengan pajak yang tinggi hingga 52 persen dari penghasilannya.
Orang miskin akan mendapat jaminan sosial dari selisih pajak orang kaya, meski ia tetap berkewajiban membayar pajak minimal 33 persen.
Negeri Belanda memang menggantungkan penghasilan dari pajak warganya.
Apa yang dilakukan di negeri Belanda sejalan dengan QS. Al-Hasyr ayat 7: kay la yakunan dulatan bainal aghniya minkum. Artinya, agar harta itu tidak berputar di antara orang kaya kalian.
Ada banyak hal amaliyah Islam lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu di negara bekas penjajah tersebut.
Semuanya juga menjadikan Negara Belanda sebagai 10 negara dengan tingkat kebahagian tertinggi dunia.
Seperti kata Muhammad Abduh, saya menduga, demikian ini karena Belanda mengamalkan ajaran Islam.
Momentum Ramadan 1445 H ini seyogyanya menjadi refleksi kritis atas keberislaman kita.
Benarkah kita sebagai muslim sudah mengamalkan ajaran Islam?
Berapa ayat Alquran yang sudah kita praktikkan dalam hari-hari kita?
Berapa hadits Nabi yang sudah juga kita praktikkan dalam hari-hari kita?
Ataukah justru kita semakin jauh dari amalan Islam?
Dalam Hikam, Ibnu Athailah al-Iskandari mengatakan ‘khairul ‘ilmi ma kaanat al khasyah ma’ahu’.
Sebaik-baik ilmu, adalah ilmu yang dibarengi al-khasyah (rasa takut pada Tuhan).
Tidak hanya itu, sebaik-baik ilmu, adalah juga ilmu yang diamalkan dalam berbagai aspek kehidupan.
Islam bukanlah ajaran teoritis yang melangit, namun Islam adalah agama yang harus membumi dalam praksis kehidupan.
Kekuatan Islam bukan kata-kata indah, namun praksis kehidupan yang dirasakan manfaatnya dalam berbagai sektor kehidupan.
Itulah makanya, para ulama yang mengamalkan ilmunya mendapat tempat terhormat dalam Islam, seperti doa-doa yang kita lantunkan dan selalu ditujukan pada mereka al-ulamaa al-‘aamilin’. Alfatihah.
(*)Prof. Dr. HM. Noor Harisudin, S.Ag., S.H., M.Fil.I., CLA., CWC. Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian dan Pelatihan MUI Jatim. Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember. Ketua PP Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara-Hukum Administrasi Negara.
Hari itu (19/3/2024), saya bertemu teman-teman penerima beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) di Wageningen University and Research, kota Wageningen, Belanda. Ada 300 lebih awardee LPDP di kampus ini. Jumlah yang lumayan banyak. “Satu angkatan magister saja 130 orang, Prof”, kata Syahril Imron pada saya dalam perbincangan ringan di kampus siang itu.
Beasiswa LPDP sendiri merupakan beasiswa untuk warga Indonesia baik untuk kuliah S2 (magister) maupun S3 (doktor) di dalam maupun luar negeri. Beasiswa ini dikelola Kementerian Keuangan RI. Pada kementerian lain, kita mengenal Beasiswa Indonesia Bangkit yang juga disingkat BIB. Beasiswa ini dikeluarkan oleh Kemenag RI. Sementara itu, Kemendikbud RI juga mengeluarkan beasiswa yang disebut dengan Beasiswa Unggulan. Penerima beasiswa LPDP –dan juga yang lain–harus memenuhi syarat tertentu misalnya maksimal 35 tahun.
Beberapa tahun terakhir, problem beasiswa LPDP juga muncul. Misalnya awardee LPDP yang tidak mau kembali ke Indonesia dengan cara memperlama tinggal di negara penerima beasiswa. Demikian juga, problem klasik minimnya dana beasiswa mahasiswa sehingga menyebabkan mereka harus mencari kerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Namun demikian, beasiswa LPDP masih jauh lebih tinggi daripada yang lain.
Di Belanda, penerima beasiswa LPDP Kementrian Keuangan, Kemenag RI, Kemendikbud dan sebagainya menyebar ke berbagai kota pilihan. Misalnya Amsterdam, Leiden, Wageningen, Utrecth, Den Haag, Harlem, dan sebagainya. Jumlahnya mencapai ribuan dan lebih banyak dari jumlah penduduk yang lain.
Sore ini, saya memang berencana mengisi ceramah di Pengajian Wageningen. Pengajian ini diketuai seorang anak muda, Rio yang juga penerima beasiswa LPDP. Saya bersama Syahril Imron merapat ke kampus terbaik dunia bidang pertanian tersebut. Malam sebelumnya, saya juga menjadi imam sholat tarawih di salah satu housing mahasiswa.
Pengajian sore itu berlangsung gayeng. Acara pengajian dimulai jam 17.30 waktu Belanda. Sembari menunggu buka puasa jam 19.00, saya menyampaikan urgensi Fikih Aqalliyat untuk mahasiswa yang tinggal di Belanda dan juga Eropa. “Hukum-hukum yang berkaitan dengan muslim di negara non-muslim”, saya kutip pernyataan Bin Bayah terkait definisi Fikih Aqalliyat.
Umat Muslim di Belanda dan Eropa cukup menggunakan Fikih Aqalliyat untuk beribadah sehari-hari. “Dalam Fikih Aqalliyat, karena kondisi darurat dan hajat, maka umat Islam mendapat rukhsah (dispensasi) dalam beragama. Misalnya bolehnya mengusap dua kaos kaki ketika berwudlu tanpa harus membuka dan membasuhnya yang disebut dengan mashul khuffain. Demikian juga kondisi sulitnya mensucikan Najis Mughaladlah boleh mensucikannya dengan sabun, tidak menggunakan campuran debu dan air dari tujuh kali basuhan karena sulitnya keadaaan”, demikian saya sampaikan dalam forum yang dihadiri ratusan mahasiswa tersebut.
Peserta acara ini rata-rata adalah awardee beasiswa LPDP. “Di sini, banyak yang mendapat beasiswa, Prof. Rata-rata beasiswa LPDP. Dari Sabang sampai Merauke “, kata Syahril Imron pada saya setelah selesai acara. Saya dengan Syahril Imron adalah satu almamater di Pondok Salafiyah Kajen Pati Jawa Tengah.
Sistem penerimaan beasiswa LPDP di kampus Wageningen University berbeda dengan kampus lain. Pembayaran LPDP ditransfer ke kampus dan baru didistribusikan pada awardee LPDP. “Belanda sangat senang dengan beasiswa LPDP. Termasuk Wageningen University ini sangat peduli dengan LPDP karena dianggap menguntungkan Belanda”, kata Syahril Imron dalam perjalanan pulang ke housingnya malam itu.
Keberadaan LPDP, bagi Syahril Imron, sangat berarti bagi Belanda. Dan ini sesungguhnya dapat menjadi bargaining position Indonesia di mata Belanda. Karena Belanda tidak pernah bersalah meski 300 tahun menjajah Indonesia. Pelajaran untuk anak-anak Belanda sejak kecil juga tidak dianggap bermasalah bagi Belanda. Sehingga, Belanda merasa tidak perlu memberi privilege pada Indonesia. Belanda memperlakukan sama Indonesia dengan negara lain. Padahal, sesungguhnya bisa dilakukan Belanda untuk memberi kemudahan pada orang Indonesia sebagai bentuk balas jasa pada Indonesia yang dijajahnya.
Dalam konteks inilah, maka beasiswa LPDP dapat menjadi salah satu kekuatan Indonesia untuk melakukan tekanan pada pemerintah Belanda. Apalagi mereka sangat membutuhkan LPDP yang jumlahnya ribuan di negara kincir angin tersebut. Kita bisa membayangkan bagaimana jika Belanda tanpa mahasiswa beasiswa LPDP dari Indonesia. *** (Bersambung)
* M. Noor Harisudin adalah Direktur World Moslem Studies Center (Womester), Pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember, Wakil Ketua PW Lembaga Dakwah NU Jawa Timur, Dewan Pakar PW Lembaga Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur, Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian dan Pelatihan MUI Jawa Timur, Ketua PP APHTN-HAN dan Guru Besar UIN KHAS Jember.
Menjelang pulang ke Indonesia, tepatnya Senin, 25 Maret 2024, saya diajak seorang teman Belanda yang juga aktivis pencak silat Tapak Suci. Namanya Isha Sward. Dia mengajak bertemu saya di Sentral Amsterdam. “Bapak harus ketemu saya, “ katanya pada saya dalam handphone. Isha Sward teman Abah Sukarno, dosen UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.
Akhirnya saya ketemu Mr Isha setelah berkeliling ke sana kemari. Mr. Isha juga muter berkeliling di sekitar sentral karena mobilnya tidak dapat berhenti. Saya bersama Habib, Pengurus Cabang Istimewa NU Belanda. Memang, hari itu, saya minta ditemani Habib untuk beli oleh-oleh Belanda. Ahmad Eidward Said, anak kecil saya di Jember berkali-kali telpon minta dibawakan oleh-oleh dari Belanda. Saya pun merogeh kocek uang euro untuk membeli beberapa kaos dan souvenir Belanda. Harganya memang lumayan murah.
Jadi, ketika bertemu Mr. Isha, saya menenteng tas oleh-oleh. “Ayo kita kemana”, kata Isha. Saya dan Habib minta tolong diantar Isha ke housing. Isha pun membawa mobil mewahnya mengantar kita ke housing. Dan Isha menawarkan saya dan Habib untuk berkunjung ke Rijk Museum Amsterdam esok hari Selasa. Malamnya, Mr. Isha mengirim saya tiket Museum. Harganya 22,5 euro. Untuk dua orang, jadi bayar 45 euro. Super banget, piker saya.
“Besok pagi jam 9, saya antar ke Rijk Museum Amsterdam. Tapi setelah itu, saya tinggal. Karena saya ada acara”, kata Mr. Isha dalam Bahasa Indonesia. Mr. Isha pandai Bahasa Indonesia karena ia lama tinggal di Indonesia. Mr. Isha juga belajar Tapak Suci di Indonesia. Di Belanda, Mr. Isha sudah jadi Master Tapak Suci di Belanda.
“Jangan lupa, kalau sudah keliling Rijk Museum, agar keliling naik kapal di kanal”, kata Isha pada saya dan Habib. Naik kapal di kanal depan Rijk Museum memang indah dan mengasyikkan.
Selasa, 26 Maret 2024, tepatnya Jam 9.30, saya dan Habib masuk Rijk Museum. Mr Isha yang mengantar kami ke Rijk Museum menggunakan mobil mewahnya jam 09.00 pagi on time. Begitulah orang Belanda, selalu on time. Tradisi yang harus kita tiru.
Sampai di museum, saya benar-benar kaget. Antrean museum begitu banyak. Padahal, Museum baru buka. Ketika saya pulang, jumlah yang masuk juga bertambah banyak. Ratusan orang antrian di luar. Petugas museum menjaga antrian Panjang agar para pengunjung masuk dengan tertib.
Saya dan Habib masuk ke museum jam 9.45 pagi. Terlihat bangunan museum yang tinggi, mewah dan megah. Tingginya mencapai 15 meteran. Tembok kanan kiri juga indah dilihat. Para penjaga di dalam museum juga terlihat full menjaga Rijk Museum. Ada lift di setiap lantai, selain disediakan juga tangga manual yang cukup melelahkan bagi kita yang tidak terbiasa berjalan kaki.
Di dalam museum, para pengujung juga membludak. Orang dewasa dan anak muda. Bahkan anak kecil juga masuk ke dalam museum. Anak-anak basic school bersama guru dan juga guide nya. Jika kita memesan guide di Rijk Museum, maka kita harus membayar 7,5 euro.
Rijk Museum terdiri empat lantai yang dimulai dari angka nol. Masing-masing lantai menunjukkan tahun peradaban Belanda. Apa saja diperoleh informasinya di sini. Misalnya lantai 3 memuat peradaban Belanda 1900-1950 M dan 1950-2000 M. Di sini, segala bentuk peradaban abad ke – 20 dan 21 ada di sini.
Jika masuk ke lantai 2, kita juga akan bertemu dengan peradaban Belanda pada 1600-1650 M dan 1650-1700 M. Di sini, banyak lukisan yang menggambarkan peradaban pada saat itu. Di samping produk peradaban saat itu.
Masuk ke lantai 1, kita akan bertemu peradaban Belanda periode 1700 M-1800 Mdan 1800 M-1900 M. Pernik-pernik peradaban saat itu terlihat di sepajang ruang lantai 1. Semua pengunjung asyik membawa imaginasi-nya ke abad masa lampau. Museum di Belanda benar-benar tempat rekreasi yang mengasyikkan dan tidak membosankan.
Menuju ke lantai 0 yang paling bawah, kita akan bertemu peradaban Belanda periode 1100 M- 1600 M. Di lantai 0 ini, selain periode awal Belanda, kita juga akan menjumpai special collections.
Rijk Museum dilengkapi dengan WIFI, restoran dan café yang membuat pengunjung semakin nyaman. Ada juga perpustakaan yang hanya bisa diakses sedikit orang. Selain itu, ada juga tempat pembelian souvenir dan juga buku-buku terutama yang berkaitan dengan Rijk Museum. Ada juga buku-buku berisi lukisan para pelukis ternama di Belanda dan juga dunia. Seperti halnya negara eropa yang lain, dalam museum kita juga melihat lukisan vulgar gambar orang yang bertelanjang.
Jam 12.00 siang, saya dan Habib lalu keluar museum. Berkunjung ke Rijk Museum Amsterdam serasa berkunjung ke peradaban Belanda 900 an tahun lamanya (1100-2000 M). Museum ini seolah ingin menunjukkan, bahwa ‘kami orang-orang berperadaban tinggi dunia. Anda bisa melihat wajah bangsa kami melalui museum ini’. Kira-kira, ini yang tergambar dalam pikiran saya dua jam berkeliling museum yang keren ini.
Di belakang Rijk Museum, ada kebun indah yang bisa dinikmati semua orang. Saya benar-benar menikmati akhir di Belanda dengan bersantai ria di kebun Rijk Museum sembari melihat bunga tulip dan Sakura yang mulai bermekaran indah. ***
* M. Noor Harisudin adalah Direktur World Moslem Studies Center (Womester), Pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember, Wakil Ketua PW Lembaga Dakwah NU Jawa Timur, Dewan Pakar PW Lembaga Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur, Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian dan Pelatihan MUI Jawa Timur, Ketua PP APHTN-HAN dan Guru Besar UIN KHAS Jember
“Belanda dikenal sebagai negara rawan banjir”, kata Syahril Imron, mahasiswa Wageningen University and Research, Belanda pada saya suatu ketika dalam perjalanan mengelilingi kampus terbaik dunia bidang pertanian tersebut.
Mengapa? Saya mengejar penjelasan Syaril Imron. Karena, lanjut Syahril Imron, Belanda adalah negeri yang sepertiga wilayahnya di bawah permukaan laut dan dua pertiganya rentan banjir. Jika satu kota banjir, maka bisa dipastikan kota-kota yang lain akan banjir. Tentu ini lebih riskan daripada Indonesia yang beberapa kota bisa saja banjir, namun tidak dengan kota-kota lainnya.
Ketika saya di Belanda dalam acara safari dakwah Ramadlan 1445 H pada 12-26 Maret 2024, beberapa kota di Indonesia sedang dilanda banjir seperti Demak, Kudus dan Pati. Rumah-rumah terendam karena banjir mencapai satu hingga satu setengah meter lebih. Saya ikut check keadaan keluarga saya di Demak Jawa Tengah yang juga terkena banjir. Masyaallah. Banjir meluber bukan hanya di kota, namun juga ke desa-desa. Tahun 1993 yang silam, Demak pernah banjir. Tapi tidak separah tahun 2024 ini.
Ini tentu tidak terjadi di Belanda. Karena Belanda telah membangun proyek Delta Works, rantai besar struktur penahan banjir Sungai Rhine. Proyek Delta Works terdiri dari 13 bendungan, termasuk penghalang, pintu air, pengunci, dan tanggul untuk melindungi daerah di dalam dan sekitar delta sungai Rhine, Meuse, serta Scheldt dari banjir Laut Utara. Proyek yang dikerjakan Dinas Perairan dan Pekerjaan Umum ini akhirnya selesai pada 1997 dengan biaya 5 miliar dollar AS.
Selain melindungi dari banjir, Delta Works juga berfungsi menyediakan air minum segar dan irigasi. Dan yang keren, risiko banjir negeri ini berkurang menjadi satu dalam 4.000 tahun.
Sebelum memiliki Delta Works, Belanda mengatasi banjir dengan aliran air kincir angin yang menjadi ikon negara tersebut. Kincir angin memompa air dari rawa dan menciptakan petak lahan kering (polder). Ada sekitar 3 ribu polder yang dikelilingi tanggul saat itu. Pada tahun 1953, datang banjir besar akibat terjangan Laut Utara yang menerobos dinding penahan banjir. Akibatnya, 8.361 korban jiwa dan menggenangi 9 persen lahan pertanian di Belanda. Belajar dari ini, Belanda lalu membangun Delta Works. Delta Works ini masuk dalam tujuh keajaiban dunia versi American Society of Civil Engineers.
Tentu penjelasan saya tentang Delta Works hanya garis besarnya saja. Sesungguhnya Delta Works lebih rumit dan lebih detail. Dan satu hal, pembangunannya tidak satu dua tiga kali, melainkan berkali-kali selama berpuluh tahun dengan biaya yang tidak murah. Artinya, Belanda mengeluarkan investasi besar untuk proyek Delta Works yang hasilnya bisa dirasakan seluruh warga Belanda.
Delta Works pun kini memiliki banyak kegunaan. Misalnya Delta Works memberikan pengairan pada seluruh pertanian di negeri Belanda. Nyaris, tidak ada lahan pertanian yang kekurangan air. Pertanian menjadi simbol kemakmuran di Belanda. “Ini rumah pada petani bagus-bagus, Prof”, kata Parjo ketika dalam perjalanan Masjid al-Ikhlas Amsterdam menuju ke tempat tinggal kami di Amsterdam. Petani di Belanda merasakan kemakmuran dan kesejahteraan.
Bukan hanya pertanian, kanal-kanal di Belanda juga mendapat suplai air yang memadai. Jika air surut, maka Delta Works menambahkan air. Sebaliknya, jika air terlalu banyak, maka Delwa Works mengambil air agar genangan air di kanal menjadi normal. Itulah makanya kanal-kanal di Belanda terlihat indah dan bersih. Kanal ini juga ‘menjadi hidup’ karena dilewati perahu, kapal dan speed boot yang lalu lalang menjadi destinasi wisata kanal yang menawan di negeri kincir angin tersebut.
Bahkan, sebagian kanal diisi rumah-rumah penduduk. “Di Amsterdam, prof bisa lihat kapal yang di pinggir kanal, itu rumah penduduk”, kata Kiai Nur Ahmad, Ketua PCI NU Belanda, dalam perjalanan keliling kota Leiden saat itu. Mereka, lanjut Kiai Nur Ahmad, ijin pada pemerintah untuk bisa menempati rumah tersebut. Rumah ini layaknya rumah di daratan yang dilengkapi berbagai alat-alat rumah tangga. Bedanya, rumah ini berada di pinggi kanal-kanal Belanda.
Dus, air minum penduduk juga berasal dari Delta Works. Kita mendapatkan minum air segar di seluruh kota di Belanda tanpa harus membeli. Beli air botolan justru sulit di negeri ini. Sebaliknya, minuman segar gratis kita dapatkan dimana-mana. Di semua kota yang dikunjungi, saya minum dari kran hotel atau rumah-rumah warga Belanda. Airnya pun segar, bersih dan jernih. Mak nyus.
Lebih dari itu, kesadaran untuk bersama-sama membangun sistem air yang nyaman untuk warga Belanda benar-benar. Selain infrastruktur yang memadai, kesadaran ini menjadi penting dalam mewujudkan negeri Belanda yang tidak banjir. Misalnya dengan kesadaran tidak membuang sampah di kanal-kanal Belanda. Tanpa kesadaran ini, saya kira, jauh sekali kiranya mewujudkan negeri kincir angin tersebut menjadi ramah lingkungan dan tidak banjir. Wallahu’alam***
* M. Noor Harisudin adalah Direktur World Moslem Studies Center (Womester), Pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember, Wakil Ketua PW Lembaga Dakwah NU Jawa Timur, Dewan Pakar PW Lembaga Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur, Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian dan Pelatihan MUI Jawa Timur, Ketua PP APHTN-HAN dan Guru Besar UIN KHAS Jember.
Jum’at 22 Maret 2023 jam 10.00 pagi, saya berangkat dari Amsterdam ke Bremen Jerman. Saya mendapat dua tugas dari KH. Hasyim Subadi yang juga Rois Syuriyah PCI NU Belanda: pengajian di KMI Bremen dan juga Konsulat Jenderal RI Hamburg Jerman.
Dari Amsterdam, saya ditemani Habib, seorang pengurus PCI NU Belanda. Namun, entah mengapa jadwal bis hari itu molor satu jam. Jam 11.00 waktu Belanda, bis baru berangkat. Saya sampai ke Bremen jam 16.00 sore. Gery Vidjaja, yang juga Ketua Keluarga Muslim Indonesia Bremen –KMI Bremen–yang sedianya menjemput saya. Hanya saja, karena ada kegiatan, Fadlan, putra Gery yang menjemput saya.
Saya dijemput di terminal Bremen. Fadlan langsung mengajak saya ke mobil menuju tempat kegiatan sore itu. Sayapun tiba di Musholla ar-Raudhah. Musholla milik Gery dan digunakan sebagai pusat kegiatan muslim Bremen. Tak lama kemudian, Gery Vidjaja datang. Ia memperkenalkan dirinya pada saya. “Saya dulu yang membawa ke sini BJ Habibie. Saya dan 100 orang Indonesia ke sini membuat pesawat disini. Dulu eks IPTN Indonesia”, Gery Vidjaja mengenalkan diri.
Sedikit demi sedikit orang berdatangan di Musholla berkururan 8×8 meter tersebut. Tak lama kemudian, terkumpul kurang lebih 50 orang jamaah Keluarga Muslim Indonesia Bremen.
Setelah dimulai yasin dan tahlil jam 17.30, saya mulai berceramah tentang pentingnya meningkatkan kualitas muslim Eropa. Muslim Eropa mesti meningkatkan kualitasnya dengan tiga hal pokok, yaitu Knowing,Doing dan Being.
Pada level awal, seorang harus mengetahui Islam (knowing). Amal seorang muslim yang tanpa Islamic knowledge akan ditolak oleh Allah Swt. Tentang sholat, bersuci, puasa, haji, zakat, jual beli, munakahat, dan sebagainya harus dimulai dengan knowing.
Level selanjutnya (kedua) adalah doing. Bahwa apa yang diterima tentang Islam harus ditindaklanjuti dengan perbuatan. Tak ada gunanya ilmu jika tidak diamalkan dalam kehidupan. Para ulama yang hebat-hebat, karena ilmu yang diamalkan. Mereka disebut al-ulama al-amilin. Ulama yang mengamalkan ilmu.
Ketiga, level menjadi (being). Ilmu yang diamalkan berulang-ulang akan menjadikan ilmu tersebut mandarah daging dalam diri seseorang. Dia disebut ahli shodaqah karena berulang-ulang memberikan shodaqah. Dia disebut ahli ibadah karena berulang-ulang melaksanakan ibadah. Dia disebut ahli puasa karena melakukan puasa. Demikian seterusnya.
Setelah ceramah, cara berbuka puasa bersama para jamaah yang berdatangan dari berbagai tempat. Saya menemukan orang Indonesia, Belanda, Turki, dan sebagainya datang ramai-ramai untuk berbuka puasa disini. Ada berbagai makanan Indonesia seperti bakwan, pisang goreng, dan sebagainya. Juga ada bakso khas Bremen yang dibawa ibu-ibu pengajian. Malam harinya, dilanjut dengan sholat tarawih bersama para jama’ah.
Esok paginya, saya diajak Gery Vidjaja untuk jalan-jalan ke alun-alun Bremen. “Di sini ada makam seorang muslim. Namanya Muhammad. Ayo kita lihat”, kata Gery pada saya. Tak lama, kami masuk di pemakaman Bremen. Ternyata, nisan Muhammad tidak ada di sana. Kami keliling ke semua sudut pemakaman, ternyata tidak ketemu. Makam Muhammad berdiri bersama makam warga Bremen yang non-muslim. Sama dengan Belanda, pemakaman di Jerman didesign indah dengan taman-taman dan pohon-pohon rindangnya.
Gery lalu menceritakan tentang Schura Bremen, nama organisasi kumpulan komunitas muslim di Bremen. “Schura Bremen berisi beberapa organisasi muslim di Bremen: Indonesia, Maroko, Turki, dan sebagainya. Schura Bremen mengusulkan agar ada pemakaman khusus muslim. Demikian juga, Schura Bremen mengusulkan agar di beberapa tempat publik, ada mushollanya. Alhamdulillah, suara kami didengar dan Bandara Bremen memiliki musholla. Demikian juga, di Bremen ada pemakaman muslim”, ujar Gery yang asal Surabaya Jawa Timur.
Musholla ini sangat penting. Karena, berlakunya rukhsah untuk muslim di negara Eropa karena tiadanya tempat sholat di tempat-tempat publik. Rukhsah dalam bentuk sholat jama’ qashar dan wudlu menggunakan mashul khuffain (mengusap dua kaos kaki). Demikian juga, tentang adanya pemakaman muslim. Muslim Eropa yang meninggal hukumnya boleh dikubur bersama makam non-muslim karena tiadanya pemakaman muslim. Ini namanya ‘Fikih Aqalliyat’. Dengan adanya pemakaman muslim ini, maka hukum pemakaman bersama non muslim dalam Fikih Aqalliyat bisa berubah.
Setelah naik bis, saya dan Gery sampai di alun-alun Bremen. Ada gereja St. Petri-Dom yang telah berdiri pada tahun 789 Masehi. Ada restoran yang berdiri sejak 1405 M. Demikian juga, banyak bangunan kuno yang masih mewah berdiri mentereng di sekitar alun-alun ini.
“Di sini orang bebas demonstrasi. Yang penting tidak ada kekerasan.”, kata Gery pada saya. Apa yang dikatakan Gery benar. Hari itu, saya melihat lima orang berdemonstrasi mendukung Israel di depan gereja. Sementara, di samping gereja, ada belasan orang membawa bendera Palestina mendukung Palestina. ***(Bersambung)
* M. Noor Harisudin adalah Direktur World Moslem Studies Center (Womester), Pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember, Wakil Ketua PW Lembaga Dakwah NU Jawa Timur, Dewan Pakar PW Lembaga Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur, Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian dan Pelatihan MUI Jawa Timur, Ketua PP APHTN-HAN dan Guru Besar UIN KHAS Jember.
Setelah dari Waginengin, saya ditemani Syahril Imron bergeser ke Kota Leiden. Perjalanan dari Waginengin ke Leiden kurang lebih tiga jam naik kereta api dan bis. Di sini, Kiai Nur Ahmad, Ketua Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU Belanda tinggal. Kiai Nur Ahmad adalah mahasiswa Ph.D Universitas Leiden. Ia bersama istri dan dua putranya. Satunya baru tujuh bulan, satunya baru kelas 1 basic school di Leiden. Ithaf nama putra pertama Kiai Nur Ahmad. Nama putra keduanya Mishka Sirri Ahmad.
Hari Rabu (20 Maret 2024), saya dan Hengki berkeliling kota Leiden. Hengki adalah Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr PCI NU Belanda. Betapa senang saya. Sudah sejak lama, saya hanya mendengar legenda Universitas Leiden. Kini, saya berkeliling ke kota Leiden dan bahkan berkeliling ke Universitas Leiden yang melegenda, meski hanya dua hari di sini.
Universitas Leiden didirikan tahun 1575 oleh Pangeran Willem van Oranje. Universitas ini adalah universitas tertua di Belanda. Banyak tokoh Indonesia yang mengenyam pendidikan di Universitas Leiden. “Kampus di sini terpencar dan berdempetan dengan rumah penduduk, Prof”, kata Hengki yang alumni S2 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Memang, kompleks Universitas Leiden berpencar.
Kampus Leiden antar fakultasnya terpisah satu dengan lainnya. Dan itu disekat dengan rumah penduduk dan sungai yang bersih nan indah. Namun, demikian ini tidak membuat Universitas Leiden tidak mentereng. Beberapa bangunan yang bertuliskan Universitas Leiden, itulah yang punya kampus. Sementara bangunan yang tidak ada tulisan, maka ya milik orang kampung. Selain di kota Leiden, Universitas Leiden juga berada di kota Den Haag.
Universitas Leiden masyhur dengan perpustakaan yang nyaman dan modern. Dus, perpustakaan Leiden terkenal paling lengkap koleksi manuskrip dan arsipnya di dunia. Mahasiswa, akademisi, peneliti, sejarawan dan budayawan dari berbagai negara silih berganti ke perpustakaan ini. Tentu kondisinya berbeda dengan perpustakaan Indonesia.
Dengan menggunakan sepeda pancal, siang itu saya bersama Hengki menuju Perpustakaan Leiden. Disini, banyak manusrkrip karya para ulama Indonesia. Demikian juga arsip-arsip kenegaraan Indonesia, semua ada disini. Semua dapat diakses baik oleh mahasiswa atau non-mahasiswa. Untuk yang non-mahasiswa, mereka harus memiliki library card dulu dengan membayar 40 euro per tahun atau 680 ribu rupiah. Dengan memiliki library card, maka semua akses dibuka layaknya mahasiswa Leiden.
Artinya, dengan memiliki library card, kita bisa membawa buku-buku ke housing kita. Kita juga bisa masuk berjam-jam di perpustakaan yang melegenda tersebut. “Biasanya saya malam, Prof. Karena sepi dan bisa sampai jam setengah 12 malam”, kata mas Hengki pada saya. Perpustakaan Leiden buka jam 09.00 pagi hingga jam 11.30 malam. Perpustakaan ini selalu ramai. Perpustakaan ini cukup menggunakan digital. Kita tinggal memesan buku, manuskrip atau arsip yang kita. Nanti kita ambil di rak. Dan jika mengembalikan, kita menggunakan mesin pengembalian buku.
Sebagian buku sudah tertera dalam kotalog computer. Cara mencari buku, kita tinggal memesan buku yang hendak dilihat, kemudian paling cepat satu ham buku tersebut sudah ada. Buka diambil sendiri dalam loker. Komputer memberi tahun berapa buku yang sedang kita pesan. Untuk membuka loker, kita harus menggunakan anggota. Bagi yang berlama-lama di perpustakaan, disediakan loker.
Sayangnya, ketika saya dan Hengki ke sana, perpustakaan Leiden tutup untuk umum. Karena sedang ada exam mahasiswa. Perpustakaan hanya digunakan untuk para mahasiswa Leiden yang sedang fokus dengan ujian mereka. Saya hanya bisa melihat dan mengamati dari luar.
Di sekitar Universitas Leiden, kita akan menemukan rumah Snouk Hourgronye. Rumahnya ada di pinggir sungai. Terlihat, rumah yang masih terawat dengan baik. Snouk Hourgronye dikenal sebagai seorang orientalis yang pertama kali mencetuskan hukum adat. Snouk Hourgronye dianggap sebagai pemecah belas umat Islam dan menjadi mualaf di Mekah. Kuburan Snouk Hourgronye juga ada di kota Leiden. Konsep kuburan di Leiden tidak sama dengan Indonesia. Di sini, pemakanan dibuat indah dan asri dengan berbagai pohon yang rindang serta taman-taman yang indah. Beruntung sekali saya bersama Kiai Nur Ahmad yang menunjukkan pada saya makam Snouk Hourgronye.
Di Universitas Leiden, kita juga akan menemukan patung mahasiswa pertama Indonesia di Belanda. Namanya Husein Jayanegara. Patungnya spesial karena berdiri dengan sejumlah guru besar dan akademisi kenamaan di Universitas Leiden. *(Bersambung)
* M. Noor Harisudin adalah Direktur World Moslem Studies Center (Womester), Pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember, Wakil Ketua PW Lembaga Dakwah NU Jawa Timur, Dewan Pakar PW Lembaga Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur, Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian dan Pelatihan MUI Jawa Timur, Ketua PP APHTN-HAN dan Guru Besar UIN KHAS Jember.
Setelah Amsterdam dan Den Haag, saya tiba di kota tempat safari dakwah selanjutnya, yaitu Waginengin (18/3/2024). Kota kecil yang indah dan penuh pesona di negeri Belanda. Kota ini dikenal dengan Wagenengin University and Research, kampus terbaik dunia bidang pertanian. Di sini, riset-riset bidang pertanian dunia dilakukan. Beberapa perusahaan dunia juga menempatkan kantor risetnya di kampus ini.
Hari Selasa (19/3/2024), saya diajak Syahril Imron, mahasiswa Masgiter Universitas Waginengin, berkeliling kota Wageningin. Dan yang seru, kami menggunakan sepeda. Syahril Imron meminjami sepedanya pada saya. Sementara, Syahril Imron sendiri menggunakan sepeda punya teman. Jangan membayangkan sepedanya seperti di Indonesia. Sepeda bermerk polygon, dan lain sebagainya. Sepeda disini asal sepeda.
Berdasarkan data Dutch Cycling Vision (2018), negara Belanda memiliki dua puluh dua juta jumlah sepeda. Ini berarti lebih banyak dari total populasi penduduknya yang berjumlah kurang lebih tujuh belas juta (2018). Negara Belanda sendiri memiliki luas wilayah 41.543 km2 atau sekitar tujuh kali luas pulau Bali. Menurut data dari laman Dutch Review, Belanda memiliki 32.000 km jalur sepeda. Tidak hanya itu, secara keseluruhan, Belanda memiliki parkir sepeda terluas dunia.
Sepeda adalah transportasi utama warga Belanda. Selain menyehatkan, sepeda juga ekonomis dan tentu saja lebih ramah lingkungan. Di student housing Imron, ada banyak sepeda yang diparkir disini. Di Belanda, jika bersepeda, kita harus menggunakan lajur kanan, berbeda dengan Indonesia yang menggunakan lajur kiri. Karena itu, untuk bersepeda di Wagenengin, saya harus menyesuaikan jalanan di Belanda.
Pagi jam 10.00, saya dan Imron mulai keliling. “Jalan warna merah ini untuk sepeda, Prof”, kata Imron pada saya. Sepanjang jalan, kita bisa melihat jalan-jalan Waginengin yang dipenuhi para pesepeda. Saya juga melihat lalu lalang orang pakai sepeda. Jumlah orang yang menggunakan mobil dan sepeda motor bisa dihitung jari terpaut jauh dengan jumlah yang menggunakan sepeda.
“Kalau mau belok kiri, pakai tanda tangan kiri Prof”, tukas Imron pada saya. Kami lalu melanjutkan ke berbagai sudut kota Waginengin.
Jalanan tampak rapi dan indah. Sepanjang jalan, kami juga lewat jalan yang berwarna merah khusus untuk sepeda. Meski tidak ramai seperti Amsterdam, kota ini termasuk jujugan banyak mahasiswa Indonesia khususnya mereka yang belajar ilmu pertanian. Ada sekitar tiga ratusan lebih mahasiswa yang kuliah di Universitas Waginengin, mulai bachelor, magister hingga doktor.
Kami mampir di beberapa spot kota Waginengin misalnya di gereja Waginengin, bar-bar, cafe dan tempat eksotik lain yang menawan. Demikian juga, sungai panjang yang kami lalui, membuat saya berdecak kagum. Saya sampai di persawahan desa Waginengin yang indah dan sejuk. Domba-domba dipinggir jalan sepanjang desa menunjukkan animal welfare (kesejahteraan hewan) sangat diperhatikan oleh pemerintah Belanda.
Bersepeda merupakan keseharian orang Belanda, Anehnya, orang Belanda yang sudan lanjut usia yang misalnya berumur enam puluh bahkan tujuh puluh pun masih juga bersepeda. Mereka seperti tak mau kalah dengan yang muda. Orang kaya dan orang miskin juga bersepeda. Orang Belanda tidak membeda-bedakan kelas ekonomi dalam semua hal, termasuk bersepeda. Semua enjoyable dengan sepeda masing-masing. Ketika saya tanya berapa harga sepeda, mas Syahri Imron menjawab “ Paling murah, 70 euro atau sekitar 1,2 juta rupiah”, katanya. Toko-toko yang menjual sepeda juga mudah didapati di Belanda.
Di negeri Belanda, sepeda juga boleh dibawa ke kereta api. Hanya, kalau membawa sepeda harus menambah biaya. Meski membayar, mereka tetap menggunakan sepeda sebagai sarana transportasinya. Karena bersepeda dianggap lebih praktis dan ekonomi alias cepat sampai ke tujuan. “Kalau dari housing saya ke Masjid Al Ikhlas Amsterdam menggunakan sepeda 20 menit, menggunakan mobil atau transportasi publik bisa lebih lama”, kata Habibus Salam, warga Indonesia yang tinggal di Amsterdam.
Malam hari (19/3/2024), ketika mengisi ceramah di Universitas Waginengin, saya bersama Syahril Imron juga juga menggunakan sepeda. Dari Housing Imron ke kampus Wagenengin, jika kita berjalan kaki harus menempuh waktu 15 menit, sementara jika menggunakan sepeda, hanya membutuhkan waktu 3 menit.
Tentang sepeda, Indonesia harus banyak belajar pada Belanda. Para pesepada yang dimanjakan dengan jalan yang available adalah tugas negara yang memfasilitasinya. Sebetulnya, demikian ini tidak sulit. Hanya, maukah negara kita? ***(Bersambung)
* M. Noor Harisudin adalah Direktur World Moslem Studies Center (Womester), Pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember, Wakil Ketua PW Lembaga Dakwah NU Jawa Timur, Dewan Pakar PW Lembaga Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur, Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian dan Pelatihan MUI Jawa Timur, Ketua PP APHTN-HAN dan Guru Besar UIN KHAS Jember.
Ketika perjalanan ke Belanda, saya sempat ditanya penumpang Kereta Api Pandalungan Jember-Jakarta. “Mas, untuk apa ke Belanda? Kulakan Ganja ?”. Katanya sedikit bergurau pada saya. Saya jawab sambil gurau juga: ya. Saya pikir, tidak perlu serius menjawabnya. Penumpang kereta sebelah saya kebetulan adalah seorang pengusaha ekspor ke luar negeri.
Begitu sampai Belanda karena undangan dakwah Ramadlan oleh Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU Belanda 10-26 Maret 2024, saya memang menjumpai hal unik di negeri kincir angin ini. Ganja sini dibolehkan. Dengan kata lain, jual beli ganja halal dan legal. Catatannya, hanya ganja. Kalau narkotika, narkoba, dan yang sejenis —sama dengan di Indonesia, hukumnya illegal. Hanya saja, kalau ganja, boleh dan legal. Itulah mengapa di beberapa tempat tercium rasa ganja. Bahkan di beberapa tempat, misalnya Central Station Amsterdam, kita juga bisa menjumpai museum ganja.
Dus, minuman wiski dan minuman keras yang lain juga dilegalkan di negeri ini. Orang boleh minum wiski, arak dan yang sejenis baik di rumah atau bar-bar berisi minuman keras. Karena bagi mereka, minuman wiski adalah bagian dari privasi manusia. Bar-bar minuman wiski banyak kita jumpai di Belanda. Hanya saja, minuman wiski dilarang ketika orang sedang melakukan pekerjaan apakah di perusahaan, kantor dan atau lain sebagainya. Pertimbangannya, adalah efektivitas ketika bekerja.
Selain ganja dan minuman keras, Belanda juga dikenal sebagai negara yang membolehkan prostitusi. Kalau kita jalan-jalan, utamanya malam hari, kita akan mendapati aquarium berisi perempuan nonik-nonik Belanda yang cantik dan menjadi pekerja seks komersil. Prostitusi di Belanda termasuk yang terbesar di dunia. Di Amsterdam, nuansa prostitusi berkelas dunia bisa didapati di Red Light District. Kawasan prostitusi lain adalah De Wallen, kawasan di sebuah kota tua Amsterdam dengan lokasi prostitusi terbesar dan tertua di dunia, Di Belanda, prostitusi sudah legal sejak tahun 1811.
Prostitusi memang dilegalkan di negeri ini. Hanya saja, prostitusi dikawal ketat keamanannya sehingga minim terjadi kriminalitas. Jika ada ‘pelanggan yang macam-macam’, mereka langsung ditangkap polisi. Demikian juga, mereka diberi perlindungan kesehatan yang memadai. Posisi pekerja seks ini legal di bawah pemerintah Amsterdam. Mereka membayar pajak, sehingga privasi pekerja seks tetap terjaga dengan baik.
Pornografi adalah hal lain yang dilegalkan di negeri kincir angin. Kalau kita jalan-jalan ke Central Stasiun Amsterdam, kita akan menjumpai gambar-gambar vulgar laki dan perempuan telanjang. Tertulis disana museum sex dan pornografi. Beberapa museum berjejer dengan rapi di tempat ini. Ini karena Belanda melegalkan pornografi.
Tidak hanya pornografi. Belanda juga melegalkan aborsi (pengguguran anak). Artinya, negeri ini membolehkan aborsi dilakukan secara resmi oleh warganya. Tidak perlu sembunyi-sembunyi seperti Indonesia, aktivitas aborsi legal dan diperbolehkan di negeri kincir angin tersebut.
Dan satu hal yang paling kontroversi. Belanda juga melegalisasi pernikahan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender). “Di sini, teman saya ada yang nikah sesama laki-lakinya, prof. Itu terjadi saat ospek di kampus”, kata seorang mahasiswa di Waginengin University, Belanda. Belanda dikenal sebagai negara pertama yang melegalkan pernikahan sejenis di dunia. Jika Anda menjumpai logo pelangi, maka itu adalah petanda mereka yang pro LGBT. Di koridor student housing, meski tidak semua, mereka bebas melakukan ‘hubungan’ suka sama suka diantara mereka.
Sebagai muslim, tentu ini tantangan baru. Muslim di negeri Belanda pasti akan menjumpai hal-hal demikian ini. Bagaimana sikap seorang muslim? Minimal, seorang muslim harus ingkar dengan qalbu mereka sebagai bentuk tindakan amar ma’ruf nahi mungkar. Sembari ajak-ajak melakukan kebaikan dengan dakwah Islam juga dapat terus dilakukan agar orang menjauhi hal-hal dilarang agama ini dalam kehidupan mereka. *** (Bersambung)
* M. Noor Harisudin adalah Direktur World Moslem Studies Center (Womester), Pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember, Wakil Ketua PW Lembaga Dakwah NU Jawa Timur, Dewan Pakar PW Lembaga Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur, Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian dan Pelatihan MUI Jawa Timur, Ketua PP APHTN-HAN dan Guru Besar UIN KHAS Jember.
Sembari berdakwah lima belas hari di negeri kincir angin, saya juga takjub dengan model Pendidikan di Belanda. Pendidikan di Belanda termasuk maju. Menurut World Economic Forum, Belanda disebut sebagai negara terdidik ketiga di dunia. Untuk mengurus Pendidikan, Belanda memiliki kementerian Ministerie van Onderwijs, Cultuur en Wetenschappen; OCW. Selain membidangi pendidikan, kementerian ini juga membidangi kebudayaan, ilmu pengetahuan, penelitian, kesetaraan gender dan juga komunikasi.
Sistem pendidikan di Belanda sangat berbeda dengan sistem pendidikan yang dikenal di Asia, Amerika, bahkan di sebagian besar wilayah Eropa. Di Eropa sendiri, sistem pendidikan ala Belanda hanya dikenal oleh beberapa negara, antara lain Jerman dan Swedia. Salah satu perbedaan sistem pendidikan di Belanda adalah penjurusan yang sudah dimulai sejak pendidikandi tingkat dasar. Penjurusan ini tentu saja mempertimbangkan minat dan kemampuan akademis dari siswa.
Secara umum, sistem penjurusan di Belanda dapat dikategorikan sebagai berikut:
Pertama, pendidikan tingkat dasar dan lanjutan (primary en secondary education). Kedua, pendidikan tingkat menengah kejuruan (senior secondary vocational education and training) Ketiga, pendidikan tingkat tinggi (higher education).
Sebelum kuliah di perguruan tinggi, terdapat beberapa jenis kelas yang dapat diambil siswa Belanda. Misalnya siswa dapat mengambil HAVO (pendidikan menengah umum senior) atau VWO (pendidikan pra-universitas) sebelum mereka melanjutkan ke perguruan tinggi. Atau juga mereka juga dapat mengambil VMBO (pendidikan kejuruan menengah persiapan) jika dia tidakingin langsung masuk perguruan tinggi. Dengan sistem ini, siswa dapat bekerja dengan program yang akan mengakomodasi kebutuhan mereka.
Sementara itu, hari sekolah di sekolah dasar Belanda biasanya berlangsung muai jam 8.30 pagi hingga jam 15.00 sore pada hari kerja. Namun, siswa pulang untuk makan siang daripada makan di kafetaria sekolah. Bagi Warga Negara Indonesia yang ingin langsung anaknya diterima di Indonesia ketika kembali, mereka tidak mencukupkan sekolah di Belanda, mereka masih mensekolahkan anaknya lagi di KBRI Den Haag secara online. Jadi ketika kembali ke tanah air, mereka langsung dapat menggunakan ijasahnya ke jenjang sekolah yang lebih tinggi.
Namanya Sekolah Indonesia Den Haag yang disingkat SIDH. Sekolah SIDH diselenggarakan baik offline maupun online mulai tingkat SD sampai SMA. Menurut dokter Ikhwan, seorang mahasiswa Ph.D kedokteran di Amsterdam, ia menyekolahkan buah hatinya di SIDH agar setelah kembaki ke Indonesia tidak perlu melakukan penyesuaian jenjang pendidikan. SIDH memiliki kurikulum yang sama dengan di Indonesia.
Apa yang membedakan sekolah Belanda dengan Indonesia? Sekolah di Belanda memberikan pekerjaan rumah (PR) dengan jumlah sedikit bagi anak-anak. Bagi Belanda, bermain dan olahraga sangat penting untuk pertumbuhan dan kinerja anak-anak di sekolah. Oleh karena itu, pelajar Belanda di bawah usia 10 tahun menerima sangat sedikit pekerjaan rumah –untuk dibilang tidak ada. Orang tua siswa merasa senang karena pekerjaan rumah tidak dibawa ke rumah masing-masing. Tentu ini berbeda dengan Pendidikan di Indonesia yang senang memberi PR pada siswa.
Mereka juga diajari critical thinking sejak kecil. Dengan critical thinking, mereka terbiasa memiliki pendapat sendiri. Mereka juga biasa berpendapat berbeda dengan orang lain. Bukan orang Belanda, kalau dia tidak memiliki pendapat. Kalau Indonesia hanya menghafal Pelajaran saja sehingga siswa tidak kritis dan cenderung tidak punya pendapat. Hal yang mestinya diubah untuk Pendidikan Indonesia di masa-masa yang akan datang. Apalagi di era 4.0 seperti sekarang. Seorang mahasiswa S3 Kedokteran di Amsterdam, dokter Ikhwan, mengatakan bahwa critical thinking ini membuat anaknya punya pendapat yang berbeda.
Perbedaan lainnya adalah bahwa biaya pendidikan di Belanda cukup terjangkau. Di Belanda, kita menemukan pendidikan gratis untuk sekolah dasar dan menengah bagi orang yang tinggal di Belanda. Orang tua baru disuruh membayar uang sekolah tahunan ketika anak mereka mencapai usia 16 tahun. Sementara itu, keluarga dengan penghasilan rendah dapat mengajukan hibah dan pinjaman. Untuk mahasiswa, biaya kuliah rata-rata sekitar 2000 euro per tahun. Padahal, biaya pendidikan aslinya mencapai 19.000 euro per tahun.
Namun demikian, Habibus Salam, seorang warga Indonesia di Amsterdam khawatir dengan anak-anaknya jika nanti sekolah di Belanda. Ada kekhawatiran sebagian warga Indonesia bahwa nanti anak-anak akan berubah setelah masuk ke sekolah Belanda. Pendidikan di Belanda dipandang akan memberangus ‘tradisi Islam’ dari orang tua mereka. Kekhawatiran ini tentu berlebihan, namun begitulah faktanya.
Dalam konteks inilah, saya bisa memahami, mengapa PPME Al Ikhlas Amsterdam mendirikan ‘madrasah’ di saat weekend dengan para pengajar yang berkompeten. Di madrasah inilah, anak-anak Indonesia ditempa secara agama dengan baik. Mereka dikenalkan agama, meskipun tidak banyak karena hanya memanfaatkan momentum weekend. PPME Al- Ikhlas juga mengadakan Pendidikan agama, bukan hanya anak kecil namun juga untuk orang-orang lansia.
Hasilnya, luar biasa. Muncul generasi baru muslim yang pada satu sisi aware dengan Pendidikan Belanda, namun pada sisi lain tetap teguh dengan ajaran agama mereka. Ini yang saya dapati dari anak-anak milenial seperti Hamzah, Nabila, Mizar, dan lain sebagainya. Mereka adalah generasi Z muslim Belanda yang luas dalam pergaulan, namun tetap teguh dengan pendirian (Islam-nya). *** (Bersambung)
* M. Noor Harisudin adalah Direktur World Moslem Studies Center (Womester), Pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember, Wakil Ketua PW Lembaga Dakwah NU Jawa Timur, Dewan Pakar PW Lembaga Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur, Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian dan Pelatihan MUI Jawa Timur, Ketua PP APHTN-HAN dan Guru Besar UIN KHAS Jember.
Namanya Parjo. Orangnya hitam. Perawakannya tinggi. Matanya tajam. Orangnya ramah. Begitu kenal pertama kali dengan saya di Masjid al-Ikhlas Amsterdam. Aku wong suriname. Kata Parjo ramah pada saya. Ya, Parjo adalah orang Jawa Suriname.
Suriname adalah nama sebuah negara di di Amerika Selatan bagian utara. Suriname berbatasan demgan Samudera Atlantik di utara, Guyana Perancis di Timur, Guyana di Barat dan Barsil di Selatan. Suriname adalah negara terkecil di Amerika Selatan dengan jumlah penduduk 612.985 jiwa dengan wilayah seluas 163.820 kilometer persegi. Ibu kota Suriname adalah Paramibo.
Suriname telah dihuni berbagai masyarakat adat termasuk Arawak, Karibia dan Wayana sejak milenium keempat sebelum masehi. Belanda menguasai sebagian besar wilayah tersebut pada akhir abad ke-17. Tahun 1954, Suriname menjadi konstituen Kerjaan Belanda dan pada tanggal 25 Nopember 1975, Suriname merdeka dari Belanda. Kebanyakan orang Suriname adalah keturunan budak dan buruh yang dibawa Afrika dan Asia oleh Belanda. Tidak ada etnis yang mendominasi. Salah satunya adalah etnis Jawa yang berjumlah 14 persen di Suriname.
Selain menguasai bahasa Inggris, dan Belanda, orang Jawa Suriname Jawa juga fasih Bahasa Jawa. Jawa Ngoko tepatnya. “Aku isin Bahasa Jowo Ngoko. Ora iso alus”, kata Parjo ketika menjemput saya dari Hotel Hyatt ke Masjid al-Ikhlas Amsterdam.
Parjo sendiri adalah jaksa purna bakti yang mendarmakan dirinya di Masjid al-Ikhlas. Kemampuannya di bidang penegakan hukum sebagai jaksa menjadikan masjid al-Ikhlas seperti punya ‘benteng hukum’ yang kuat. Sebagai Wakil Ketua PPME yang menaungi Masjid Al Ikhlas, Parjo –kata bapak Kiai Budi—menjadikan pengurus PPME Masjid Al-Ikhlas tidak perlu takut-takut melaksanakan kegiatan senyampang tidak bertentangan regulasi di Belanda. Parjo sendiri menjadi jaksa di Amsterdam selama 16 tahun.
Parjo bercerita saat bekerja menjadi jaksa dan merasa yang under presser karena bekerja mulai jam 7 pagi dan pulang jam 11 malam. Itu ia jalani selama 16 tahun. Belum suka duka di ruangan sidang dalam menjalani penegakan hukum di negeri kincir angin.
Sebelumnya, Parjo kerja sebagai jurnalis selama 15 tahun di Amerika Serikat. Ia menguasai tiga Bahasa: Inggris, Perancis dan Belanda. Tentu, penguasaan ini baik orasi maupun literasi (tulisan) dalam membuat pemberitaan di media tersebut.
Parjo memiliki tujuh anak dan satu istri. Istri Parjo adalah pebisnis yang tinggal di Amerika. Sementara, Parjo tinggal sendiri di Amsterdam. Jadi keluarga tersebut memiliki rumah di Amsterdam dan Amerika. Kecuali anak keenam dan ketujuh, anak Parjo sudah mentas. Yang terakhir, masih kuliah.
Kini, di usia yang sudah 63 tahun, Parjo mendarmakan dirinya sebagai aktivis majlis al Ikhlas Amsterdam. Ia bersama pengurus yang lain menggerakkan Masjid al Ikhlas sehingga lebih Makmur dan bergeliat di tengah kota Amsterdam. Seperti tugas pada hari jum’at itu (15/3/2024). Dia menyiapkan khutbah versi Belanda dari naskah yang saya susun dalam Bahasa Indonesia. Setelah saya membacakan berkhutbah dalam Indonesia, Parjo menyampaikan khutbah ulang dalam Bahasa Belanda. Ini penting agar pesan keagamaan dalam khutbah Jumat sampai pada para Jama’ah.
Memang, Jumat hari itu, 15 Maret 2024, saya mendapat tugas dari Kiai Budi untuk berkhutbah di Masjid al-Ikhlas Amsterdam. Saya diminta membuat pokok-pokok pikiran versi Bahasa Indonesia dan Parjo yang mentranslate -nya ke dalam Bahasa Belanda.
Saya menyampaikan khutbah tentang Filantropi Islam di Bulan Ramadlan. Filantropi mesti lebih dimaksimalkan lagi di bulan Ramadlan. Saya memberi perhatian khususnya sedekah dan wakaf –selain tentu saja zakat—untuk menggerakkan dakwah Islam di negara Belanda. Saya khutbah kurang lebih tiga puluh menit karena disambung dengan khutbah versi Belanda-nya Parjo.
Kembali ke Parjo. Ketika saya tanya, sebagai apa di masjid, Parjo menjawab dengan bahasa Jawa ngoko. “Aku dadi wakil ketua PPME Al Ikhlash Amsterdam periode 2022 – 2025. Kaping pisanan, aku dijaluk dadi ketua nalika Rapat Anggota Umum, nanging aku nolak amarga sibuk kerja lan uga lelungan menyang luar negeri akeh”. (Artinya: Saya menjadi Wakil Ketua PPME Al-Ikhlas Amsterdam Periode 2022-2025. Pertama, aku diminta jadi ketua dalam Rapat Anggota Umum, namun saya menolak karena sibuk kerja dan sering bepergian keluar).
Lebih lanjut, tentang kontribusi ke Masjid al-Ikhlas, Parjo menuturkan: “Kula minangka tiyang Jawi Suriname sampun dipun paringi ide gotong royong pramila kula ngrewangi ngrembakaken masjid PPME Al Ikhlash Amsterdam kanthi dhuwur. Aku seneng nuduhake kawruh lan pengalaman ing organisasi”. (Artinya: Sebagai orang Jawa Suriname, sayi diberi ide gotong royong untuk musyawarah masjid PPME Al Ikhlas Amterdam agar maju. Saya senang menunjukkan pengetahuan dan pengalaman di organisasi). *** (Bersambung) *
M. Noor Harisudin adalah Direktur World Moslem Studies Center (Womester), Pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember, Wakil Ketua PW Lembaga Dakwah NU Jawa Timur, Dewan Pakar PW Lembaga Ta`lif wa an Nasyr NU Jawa Timur, Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian dan Pelatihan MUI Jawa Timur, Ketua PP APHTN-HAN dan Guru Besar UIN KHAS Jember.
Meski masih terasa letih karena baru tiba di Amsterdam (12/3/2024), sore itu saya mengiyakan diajak seorang aktivis Pengurus Cabang Istimewa NU Belanda, mas Habibus Salam untuk ke Masjid al-Ikhlas Amsterdam. Mas Habib, begitu saya memanggilnya, menjemput saya di Hotel Hyatt jam 17.30 sore. Sebagaimana diketahui, waktu berbuka puasa di Amsterdam pukul 18.45 waktu setempat. Sementara, kita sahur sebelum waktu subuh jam 5.20. Dibanding Indonesia, puasa di Belanda hari-hari ini hampir sama dengan Indonesia yang hanya 14 jam. Tapi di akhir bulan Ramadlan 1445 H ini, waktu buka puasa jam 20.30 waktu Belanda (sekitar 15,5 jam).
Jarak rumah Mas Habib juga jauh. Sekitar satu jam dari Hotel Hyatt. Dari Hotel, kami lalu naik mobil taxi ke Masjid al-Ikhlas. Masjid al-Ikhlas sendiri adalah pusat kebudayaan atau Indonesian Cultuur Centrum yang digunakan sebagai masjid umat Islam di Amsterdam. Masjid ini di bawah PPME. PPME sendiri singkatan dari Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa. Pada tahun 1971 silam, Gus Dur bersama Kiai Hambali dan kawan-kawannya yang mendirikan PPME di Den Haag. Sebagian besar anggota perkumpulan ini adalah kader Nahdliyyin. Tokoh-tokohnya membeli bangunan masjid ini sejak tahun 2015 yang silam. Lokasi Masjid al-Ikhlas di Jan van Gentstraat 140, 1171 GN Badhoevedorp.
Sebelum memiliki masjid, PPME Amsterdam menyewa tempat untuk berbagai kegiatan ibadah umat Islam. Suka duka mewarnai jamaah. Mulai harus pulang lebih awal, tidak tenang sholat berjamaah dan sebagainya. Kini, setelah memiliki masjid, jamaah Masjis al Ikhlas bebas melakukan apa saja. Apakah mereka melakukan itikaf, sholat, membaca al-Qur’an atau pendidikan, tidak tidak akan ada yang melarang aktivitas masjid ini. Setiap weekend, Masjid al- Ikhlas juga mengadakan madrasah untuk anak-anak muslim hingga jama’ah lansia.
Selama bulan Ramadlan 1445 H, Masjid al-Ikhlas mengadakan berbagai kegiatan. Misalnya buka bersama yang dilanjutkan dengan ceramah agama dan diakhiri sholat tarawih. Aktivitas dimulai jam 18.00 hingga 21.30 waktu Belanda. Kegiatan buka bersama merupakan kegiatan yang ditunggu-tunggu. Jika buka puasa Indonesia banyak di hotel dan restoran, kalau buka puasa di Belanda diselenggarakan di masjid. Salah satunya Masjid al-Ikhlas Amsterdam.
Dug dug dug. Tabuhan bedug Masjid al-Ikhlas menandakan kita sudah masuk Maghrib alias buka puasa. Ternyata bedug tidak hanya kita jumpai di Indonesia, namun juga di Belanda. Lalu panitia Ramadlan menggelar tikar masjid agar makanan tidak mengotori masjid. Para jama’ah pun makan dengan lahap. Apalagi makanannya khas Indonesia banget. Ada takjil kurma, salad, kolak dan sebagainya. Sementara, makan besarnya nasi, sayur, daging, sambal dan juga krupuk. Kurang lebih setengah jam kita makan dan dilanjutkan dengan sholat Maghrib berjamaah dan kajian keagamaan hingga waktu Isya.
Tim emak-emak Masjid memang menyiapkan logistik ini dengan baik. Di sebelah sudut ruangan masjid, disediakan ruangan khusus dapur. Emak-emak biasanya menyiapkan makanan disini. Bukan hanya makanan pada saat buka puasa, mereka juga menyiapkan untuk setelah buka puasa dan tarawih. Tim logistik yang cukup keren dan membanggakan.
Yang menarik, adalah kegiatan sholat tarawih berjama’ah. Seorang pendiri PPME Masjid al-khlas, Kiai Budi, menyampaikan bahwa orang disini mensyaratkan imam tarawih tiga hal: NU, penghafal al-Qur’an dan memiliki suara merdu. Tahun sebelumnya, jamaah Masjid al-Ikhlas komplain karena imam tarawih tidak seperti yang diinginkan jamaah. Tarawih di sini sebelas rakaat dengan witirnya. Tapi, jangan tanya lama sholatnya. Lumayan.
Hanya saja, selama tarawih, kita mendengarkan lantunan suara merdu imam yang didatangkan dari Indonesia. Tarawih Amsterdam Rasa Mekah. Begitu saya menyebutnya. Karena imamnya bukan hanya menghafal dan fasih al-Qur’an, namun juga memiliki suara merdu. Ustadz Dr. Nasih yang juga imam Masjid al-Akbar Surabaya tahun ini yang didatangkan dari Indonesia. Selama satu bulan, ia mengajari ngaji emak-emak sekaligus mengisi tarawih di Masjid al-Ikhlas Amsterdam. Imam Isya’-nya adalah Ust Dr. Mistar yang juga alumni Mesir dengan suara emasnya.
Tal heran, jika jamaah tarawih Masjid al-Ikhlas membludak. Mereka krasan. Suara imam menjadi hipnotis tersendiri. Selain jamaah Indonesia, saya banyak menemukan jamaah dari Maroko, Pakistan, Lebanon dan tentu muslim asli Belanda. Masjid full dengan jamaah sholat kurang lebih 200-an jamaah lebih. Selain faktor lain, kata Kiai Budi, yang jamaah merasa nyaman memarkir mobilnya di sekitar masjid.
Saya sendiri kebagian mengisi majlis taklim dan khutbah Jum’at di Masjid al-Ikhlas ini selama beberapa hari di Amsterdam. *** (Bersambung)
* M. Noor Harisudin adalah Direktur World Moslem Studies Center (Womester), Pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember, Wakil Ketua PW Lembaga Dakwah NU Jawa Timur, Dewan Pakar PW Lembaga Ta`lif wa an Nasyr NU Jawa Timur, Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian dan Pelatihan MUI Jawa Timur, Ketua PP APHTN-HAN dan Guru Besar UIN KHAS Jember.
Jika KH. Moh. Romli dan KH. Lukman Hakim mendapat tugas dakwah Islam dari World Moslem Studies Center (Womester) ke Hong Kong, saya yang mendapat tugas ke Belanda. Jika keduanya berangkat jam 8 dan 9 Maret 2024 (Jum’at dan Sabtu), saya berangkat Minggu, jam 03.00 tepatnya 10 Maret 2024 dengan naik Kereta Api Pandalungan langsung rute Jember – Stasiun Gambir Jakarta.
Sebelumnya, saya sendiri khawatir tidak mendapatkan visa sehingga tidak bisa ke negeri kincir angin tersebut. Infonya, banyak juga yang tidak lolos visa ke Belanda. Karena itu, begitu visa dan pasport sampai rumah jam 10 pagi hari Ahad pagi (10 Maret 2024), saya langsung bergegas cari tiket PP Jakarta – Belanda. Sementara, seperti telah saya katakan tadi, untuk Jember ke Jakarta, saya memesan tiket kereta api Pandalungan.
Saya sampai di Stasiun Gambir, jam Senin, 11 Maret jam 04.45 WIB. Setelah ke hotel transit untuk mandi dan sholat subuh di Stasiun Gambir, saya menemui Kamil, sekretaris Womester yang lagi kuliah S3 di UIN Syarih Hidayatullah Jakarta. Saya langung ke Kopi Kenanga, berdiskusi kecil dengan Mas Kamil dan lalu bersiap naik GrabCar ke Belanda.
Dari Stasiun Gambir ke Bandara Soetta, kami tempuh setengah jam. Alhamdulillah, saya lalu check in di terminal 3 Bandara Internasional Soetta dan lalu bergabung masuk ke ruang imigrasi. Tidak lama, saya langsung menuju tempat boarding pass. Kebetulan, saya naik pesawat Turkish Airlines. Di Bandara Soetta, tepat jam 9. 50 WIB, saya berangkat ke Belanda melalui Turkish Airlines dan transit di Istanbul. Perjalanan Jakarta Turki mencapai 12 jam. Ketika tiba di Bandara Istanbul Turki, saya lihat jam Jakarta sudah menunjukan jam 10 malam atau jam 18.25 waktu Turki. Saya transit ke Bandara Istanbul Turki 14 jam 25 menit. Kesempatan ini saya gunakan untuk melihat kemegahan Bandara Internasional ini.
Bandara Instanbul Turki sangat keren. Saya takjub melihat kemegahan dan kemewahannya, serasa menikmati Turki di masa kejayaannya. Meski Bandara Internasional Istanbul Turki bukan termasuk tujuh terbaik Bandara Internasional dunia, Bandara Turki ini tidak kalah bahkan bisa lebih baik. Di bandara ini, lantai paling bawah di-design hanya menjadi lantai boarding pass penumpang. Sementara, lantai dua dan tiga Bandara desain berisi berbagai hal mulai restoran halal, took fasion, money changer, kafe copi, oleh-oleh Bandara dan semuanya berada di dua lantai tersebut.
Bandara Internasional Istanbul sangat luas. Bandara ini berdiri di area seluas 76,5 juta meter persegi. Bandara ini bahkan lebih besar dari kota Leicester di Inggris. Ada lima concourse di bandara, antara lain A, B, C, D dan F untuk penerbangan internasional dan G untuk penerbanganan domestik. Saya ‘mutar-mutar’ ke bandara ini merasa ‘tidak kuat’ karena sangat luasnya Bandara ini. Saya sempatkan sahur puasa pertama di bandara ini dengan nasi dan mie. Harganya lumayan, hanya 450 lira Turki atau setara 12,80 Euro.
Seperti kita tahu, bahwa Bandara Internasional Istanbul juga memiliki banyak fasilitas yang modern. Misalnya saja area dalamnya yang mewah dan membuat kita serasa berjalan di dalam hotel bintang lima. Terdapat pula lounge, duty free, dan masih banyak lagi. Demikian juga, masjid, family room, toilet, termasuk toilet difabel disediakan banyak jumlahnya. Semua fasilitasnya menarik, megah dan mewah.
Tidak hanya itu. Bandara Internasional Istanbul Turki juga dilengkapi dengan hotel kapsul untuk para penumpang yang harus transit lama dan ingin beristirahat terlebih dahulu. Bandara ini juga menyediakan banyak tempat duduk dan stop kontak untuk men-charge gadget kita.
Senin 11 Maret 2024 pagi jam 08.40, saya melanjutkan keberangkatan dari Bandara Istanbul, dengan menaiki Turkish Airlines bersama para penumpang dengan tujuan Belanda. Perjalanan sampai ke Belanda 10. 50, atau dua jam meski sejatinya empat jam perjalanan. Saya sempat dihentikan di Imigrasi oleh petugas. Kemudian, saya telpon mas Nur Ahmad, akhirnya diclearkan bahwa saya undangan PCI NU Belanda dan disini lima belas hari lamanya.
Setelah lolos imigrasi, saya keluar dan mencari bagasi. Tak lama, saya keluar disambut meriah Mbak Aprilia dan Mas Kiai Nur Ahmad. Betapa senangnya kami. Mas Nur Ahmad adalah Ketua Pengurus Cabang Istimewa NU Belanda yang saat ini sedang kuliah doktor di Leidan. Sementara, Mbak Aprilia adalah pegawai Hotel Hyat yang tinggal lama di Belanda dan aktif di Masjid al-Ikhlas Amsterdam.
Setelah foto sejenak, kami langsung diajak Mbak Aprilia dan Mas Nur Ahmad ke Hotel Hyat Amsterdam. Sepanjang perjalanan, saya menikmati kincir angin yang berada tengah-tengah persawahan Amsterdam. Tak terasa, 10 menit perjalanan kami sudah sampau di Hotel. Saya pun mulai istirahat jam 11. 00 waktu Belanda. *** (Bersambung) *
M. Noor Harisudin adalah Direktur World Moslem Studies Center (Womester), Pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember, Wakil Ketua PW Lembaga Dakwah NU Jawa Timur, Dewan Pakar PW Lembaga Ta`lif wa an Nasyr NU Jawa Timur, Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian dan Pelatihan MUI Jawa Timur, dan Guru Besar UIN KHAS Jember.
Meski kecelakaan Kereta Api Pandalungan Minggu, 14 Januari 2024, jam 07.57 pagi di Tanggulangin Sidoarjo tidak memakan korban jiwa, tetap saja banyak pihak yang dirugikan. Para penumpang yang tidak bisa on time ke tempat tujuan, hingga perjalanan KA yang dicancel atau ditunda. Karena praktis, sehari penuh kereta api yang melewati jalur tersebut tidak bisa berangkat. Jadwal keberangkatan KA yang berlanjut ke penerbangan bisa juga dicancel. (Republika, 14 Januari 2024)
Di berbagai media, anjloknya gerbong Pandalungan pagi itu sudah ramai. Media online sudah banyak memberitakan terkait anjloknya gerbong Kereta Api tersebut. Beberapa Televisi juga mensyiarkan musibah kereta api dengan rute Stasiun Gambir Jakarta – Stasiun Jember tersebut.
Biaya Kereta Api Pandalungan Jakarta-Jember sendiri cukup mahal 680 ribu. Hanya saja, PT Kereta Api Indonesia harus membarengi dengan sarana prasarana yang memadai. Betapa kecewa para penumpang ketika subuh pagi hari itu masuk ke beberapa toilet Kereta Api, air di toilet benar-benar habis. Bagaimana mungkin, Kereta Pandalungan yang eksekutif dalam toilet tidak ada air sama sekali. Naif, bukan.
KA Pandalungan Belum Siap
Nampaknya, Kereta Api Pandalungan belum siap melakukan perjalanan jauh; Jember-Jakarta atau Jakarta-Jember. Buktinya, masih sering terjadi kecelakaan. Salah satunya karena akibat mesin-mesin yang tidak dicek and re-cek. Perjalanan jarak jauh yang ditempuh 14 jam memang seharusnya dipersiapkan sedini mungkin segala perlengkapan perjalanan, khususnya mesin-mesin. Semua dipastikan ‘sehat’ dan siap berangkat.
Perjalanan panjang tersebut, dalam pandangan saya, selayaknya dipotong alias diberhentikan dalam sepertiga perjalanan. Misalnya berhenti 15 menit untuk cek mesin-mesin selama perjalanan selama dua tahap sembari –menurut hemat saya–memberikan kesempatan untuk ibadah sholat lima waktu bagi para muslim. Perjalanan Jember-Jakarta mulai jam 14.55 sd 04.45 WIB pagi misalnya, bagi seorang muslim, ia harus meninggalkan tiga sholat; Maghrib, Isya dan Subuh. Atau perjalanan Jakarta-Jember 20.05 sd 10.45 WIB ia harus meninggalkan Sholat Subuh.
Pun, bahwa PT Kereta Api Indonesia selayaknya menyediakan fasilitas ibadah yang memadai di gerbong atau stasiun. Ini sebagai kewajiban PT KAI memberikan kesempatan pada warga negara menjalankan agama sesuai denganUUD 1945 Pasal 29 ayat 2:” Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk meneluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya”.
Dalam hemat saya, pelayanan tersebut belum diberikan oleh PT KAI baik di stasiun maupun dalam gerbong-gerbong kereta yang dijalankannya. Apalagi bahwa Indonesia adalah negara Pancasila dengan Sila Ketuhanan yang Maha Esa yang semestinya dijunjung tinggi. Sekali lagi, sudah semestinya PT KAI menyediakan fasilitas yang memadai bagi para penumpang kereta api di semua jalur perjalanan yang ada.
Penangangan yang Lamban
Dalam konteks anjloknya Kereta Api Pandalungan pada Minggu tersebut, tampak sekali penanganan Kereta Api yang lamban. Ketika kereta anjlok jam 07.57 pagi, tidak ada informasi terkait pada para penumpang dan juga stasiun terdekat (Sidoarjo). Para penumpang semestinya memiliki hak untuk mendengar apa yang terjadi. Padahal, di luar gerbong kereta api sepanjang rel Tanggulangin, masyarakat Sidoarjo sudah ramai menyaksikan apa yang terjadi di kereta api Pandalungan.
Baru jam 10-an, para penumpang diberi tahu apa yang terjad terkait KA Pandalungan. Jam 10.30, kereta api ditarik dari Tanggulangin menuju Stasiun Sidoarjo. Evakuasi juga mulai dipikirkan, meski tidak semudah yang dibayangkan. Para petugas KA juga baru menyampaikan opsi-opsi terkait keberangkatan para penumpang kereta api selanjutnya. Terdapat dua opsi: Pertama, melanjutkan naik kereta api jika dimungkinkan. Kedua, naik bis menuju Jember.
Solusi dua opsi tersebut dibayangkan para penumpang sudah disiapkan di Stasiun Sidoarjo. Nyatanya, sampai sana, bus belum ada. Para penumpang harus menunggu di pojok dekat warung di sekitar Stasiun Sidoarjo. Hanya ada air minum, tidak ada snack apalagi makan berat yang disediakan, sebagaimana diberitakan. Baru satu jam, ada informasi tentang refund 100 persen dan keberangkatan bis. Antrean ratusan orang untuk refund juga menjadi masalah tersendiri. Karena selain antrean refund KA Pandalungan, juga ada antrian refund kereta api lokal yang tidak jadi berangkat karena kecelakaan Kereta Api Pandalungan.
Ah, beginikah Kereta Api yang kita banggakan? Tragedi Pandalungan semoga tidak dijadikan hal biasa-biasa saja, namun menjadi pelajaran berharga untuk perbaikan Kereta Api di masa yang akan datang. Bukan hanya untuk perbaikan Kereta Api Pandalungan namun juga untuk kereta apa lainnya di negeri ini. Wallahu’alam.***
*Ketua Yayasan Pendidikan Islam Darul Hikam Mangli Jember dan Guru Besar UIN itu KHAS Jember
Bolehkah kita mengirim ucapan selamat tahun baru? Bagaimana juga hukum merayakan Tahun Baru? Lalu, apa makna tahun baru 1 Januari 2024 bagi seorang Muslim? Bukankah ini bukan tradisi Islam? Inilah yang menjadi pertanyaan bagi Muslim, baik menjelang maupun sesudah tahun baru masehi.
Dalam beberapa forum dan pengajian, saya selalu mengatakan bahwa tahun baru itu bersifat netral. Hukumnya boleh, senyampang tidak ada kegiatan kemaksiatan. Dengan demikian, hukum asal merayakan tahun baru adalah boleh (mubah). Hukum mengirim ucapan tahun baru juga boleh. Tidak berpahala, tapi sekaligus juga tidak berdosa.
Hukum merayakan tahun baru berubah haram, ketika tahun baru diisi dengan melakukan kemaksiatan. Misalnya, tahun baru dengan meninggalkan shalat Isya, minum-minuman keras, ikhtilat laki-laki dan perempuan serta kemaksiatan yang lain.
Sebaliknya, tahun baru yang diisi dengan ketaatan seperti sholawatan, santunan anak yatim, dan khataman al-Qur’an sangat dianjurkan. Dalam bahasa agama, hukumnya sunah. Apalagi jika tahun baru ini dijadikan momentum tafakur bagi seorang muslim.
Dalam hemat saya, setidaknya ada lima makna tahun baru masehi, sebagai berikut:
Pertama, momentum mensyukuri. Memasuki tahun baru dalam keadaan sehat dan bisa bercengkerama dalam keluarga adalah kebahagiaan yang tiada tara. Bayangkan jika kita tidak sehat, semua menjadi tidak nikmat. Ibnu Atailah al-Iskandari dalam Master Piece-nya mengatakan. “Man lam yaskurin niam, faqad ta’aradla lizawaliha. Waman syakaraha, faqad yaddayah bi’iqaliha.” Barang siapa tidak mensyukuri nikmat, maka ia ingin hilangnya nikmat. Barang siapa mensyukuri, maka ia ingin nikmat tersebut lengket.
Kedua, momentum introspeksi atau muhasabah. Umar bin Khatab mengatakan: “Melakukan hisablah kalian sebelum kalian dihisab besok di hari kiamat. Sesungguhnya hisab itu menjadi ringan di hari kiamat bagi orang yang biasa melakukan hisab di dunia”. Tahun baru 2024 adalah momentum kita introspeksi dan melihat ke belakang, yakni tahun 2023. Muhasabah ini sebagai pijakan untuk melakukan berbagai agenda tahun ini.
Ketiga, momentum mempertanyakan legacy. Allah Swt berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, seyogyanya seseorang melihat apa yang dilakukan di masa dulu untuk masa depannya. (QS.al-Hasyr: 18). Pertanyaannya, tahun kemarin, kita sudah meninggalkan legacy apa pada keluarga atau masyarakat. Tahun 2024, legacy apa yang akan kita siapkan.
Keempat, momentum mawas diri. Tahun ini harusnya kita lebih hati-hati supaya tidak terjerumus dalam kesalahan seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Allah Swt. Berfirman: “Taatlah kalian pada Allah Swt dan taatlah kalian pada Rasul serta berhati-hatilah”. (QS. Al-Maidah: 92).
Kelima, momentum reparasi diri. Rasulullah Saw. bersabda: “Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari yang kemarin, maka dia beruntung. Barang siapa hari ini sama dengan hari kemarin, maka dia merugi. Dan barang siapa hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka dia dilaknat”. Hadits ini memerintahkan pada kita untuk selalu mereparasi diri.
Tahun 2024 adalah momentum kita melakukan; mensyukuri, introspeksi, legacy, mawas diri dan juga reparasi diri. Semuanya merujuk pada terma insan kamil, manusia sempurna yang menjadi Impian orang-orang saleh. Dan ini bisa kita upayakan dengan melakukan reparasi diri sepanjang hayat kita. Wallahu’alam. **
*M. Noor Harisudin adalah Ketua Yayasan Pendidikan Islam Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember dan Guru Besar UIN KHAS Jember.
Sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Darul Hikam—selanjutnya disingkat YPI Darul Hikam, di tanggal 24 Desember 2023 ini saya sungguh bahagia. Kenapa? Karena Darul Hikam punya dua Nazhir wakaf yang kompeten dan telah lulus oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI) serta berhak mendapatkan gelar CWC (Certified Waqf Competence).
Sebelumnya, pada tanggal 20-21 Desember, dua Nazhir YPI Darul Hikam telah mengikuti pelatihan kompetensi nazhir wakaf secara online. Dan di hari Minggu, satu hari menjelang natal Tahun 2023, dua Nazhir wakaf ini dinyatakan lulus asesmen di Hotel Balairung Jakarta Timur. Tidak main-main, asesmen berlangsung sejak pagi jam 07.30 hingga jam 16.00 WIB. Beruntung, dua Nazhir Darul Hikam lulus asesmen. Dua Nazhir itu adalah saya dan ustadz M. Irwan Zamroni Ali.
Dua Nazhir ini jelas merupakan ‘energi baru’ untuk Lembaga Wakaf Darul Hikam yang berada di bawah naungan YPI Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember. Apalagi, Lembaga Wakaf ini sedang proses pengajuan SK ke Badan Wakaf Indonesia (BWI). Hal ini akan semakin menyempurnakan Lembaga Wakaf Darul Hikam dari aspek Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Dan tentunya, di 2024, performance Lembaga Wakaf Darul Hikam akan lebih baik dan juga akan berlari GASPOL untuk mencapai tujuan bersama yang dicitakan.
Sejatinya, bukan hanya soal administrasi lembaga wakaf yang diuntungkan, secara kualitas sumber daya manusia, adanya nazhir ini sungguh sangat membantu kemajuan wakaf. Semua nazhir—dalam skema satu di antara 10 skema yang dijadikan objek pelatihan Badan Wakaf Indonesia—akan memahami pengetahuan seluk beluk wakaf mulai A hingga Z. Hal-hal mendasar dalam wakaf seperti pengertian, hukum wakaf, macam-macam wakaf, macam-macam nazhir, dan tata cara pendaftaran wakaf, menjadi pengetahuan wajib bagi para nazhir. Belum lagi tentang akuntasi wakaf, strategi fundrising wakaf, manajemen risiko dan cara pengembangan wakaf yang menjadi diskusi utama para nazhir yang lulus asesmen wakaf pada Minggu lalu.
Para nazhir juga ditekankan fungsinya sebagai pengelola mauquf ‘alaih sesuai dengan UU Wakaf Tahun 2004 dan Peraturan Badan Wakaf Indonesia No. 1 tahun 2020. Nazhir harus kuat dengan berbagai keilmuan yang dibutuhkan. Dalam Pasal 2 Ayat 1 Peraturan Badan Wakaf Indonesia, disebutkan bahwa nazhir wajib mengelola dan mengembangkan harta benda sesuai dengan tujuan, fungsi dan peruntukan wakaf. Oleh nazhir, pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf dilakukan secara produktif sesuai prinsip syariah dan perundang-undangan.
Dalam fikih Islam, nazhir memang tidak menjadi rukun, namun dalam Undang-Undang Nomor. 41 Tahun 2004, nazhir adalah ‘rukun wakaf’ yang sangat urgen kehadirannya. Tentu demikian ini menjadi sebuah gerakan yang luar biasa. Dalam Pasal 6 UU Wakaf Tahun 2021, disebutkan bahwa unsur wakaf meliputi ; wakif, nazhir, harta benda wakaf, ikrar wakaf, peruntukan harta benda wakaf dan juga jangka waktu wakaf.
Sebelumnya, dalam Undang-undang Wakaf tahun 2004 ini, ditegaskan bahwa nazhir memiliki tugas pokok sebagai berikut; a). Melakukan pengadministrasian harta benda wakaf; b). Mengelola dan mengembangkan harta benda wakaf sesuai tujuan, fungsi dan peruntukannya; c). Mengawasi dan melindungi harta benda wakaf; dan d) Melaporkan pelaksanaan tugas pada Badan Wakaf Indonesia (Lihat, Pasal 11 UU No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf).
Begitu urgennya nazhir dalam memajukan perwakafan di Indonesia. Maju tidaknya wakaf tergantung pada nazhir- nazhir yang profesional di negeri ini. Tak heran, jika untuk memperkuat ini, para nazhir wakaf Indonesia bergabung dalam asosiasi nazhir yang disingkat ANI atau Asosiasi Nazhir Indonesia. Di sini, ada seribu lebih nazhir yang tergabung untuk sharing dan berkolaborasi memajukan wakaf di Indonesia.
Oleh karena itu, mari bergandengan tangan memajukan wakaf Indonesia dengan terlibat menjadi nazhir profesional. Mari kita majukan wakaf untuk menyejahterakan umat Islam Indonesia. Kapan lagi kalau bukan sekarang. Siapa lagi, kalau bukan kita, umat Islam.
Wallahu’lam. *
*M. Noor Harisudin adalah Ketua Yayasan Pendidikan Islam Darul Hikam Mangli Jember dan Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.
Inilah sesungguhnya jihad haji ramah lansia. Berbeda dengan tahun sebelumnya, tagline Haji Ramah Lansia benar-benar tantangan tersendiri. Kementerian Agama telah berupaya keras bagaimana layanan haji tahun ini benar-benar support ramah lansia yang berusia 65 tahun ke atas dengan tidak mengurangi mutu layanan pada jemaah haji lain (non-lansia). Apalagi jumlah lansia yang mencapai 30 persen (67.000 orang) dari total jama’ah haji Indonesia yang berjumlah 229.000.
Kemenag RI juga telah memberikan SOP (standard operational procedure) bagaimana penanganan jemaah haji lansia mulai dari embarkasi, bandara, pesawat, Makkah-Madinah, dan terminal debarkasi. Di tempat-tempat ini, jemaah haji lansia mendapatkan perhatian khusus yang berbeda dengan umumnya jemaah haji Indonesia.
Tentu, memberikan perhatian lebih pada lansia tidak harus dengan mengorbankan jemaah haji yang lain. Sebaliknya, jemaah haji yang lain (non-lansia) tetap mendapatkan hak-haknya, sebagaimana mestinya. Hak sebagai jemaah haji Indonesia, yang pada tahun 2022 yang silam menjadikan indeks layanan haji Indonesia naik drastis dan menjadi tertinggi sepanjang sejarah haji di negeri ini.
Inovasi Layanan Jemaah Haji Lansia Sebelumnya, Kemenag RI telah melakukan berbagai langkah dengan berbagai inovasi layanan pada Haji Lansia pada tahun 2023 ini, sebagaimana berikut:
Pertama, Kementerian Agama telah melibatkan ahli geriatri dari Universitas Indonesia untuk merumuskan konsep layanan, prosedur operasional, melakukan pemantauan sekaligus pengawasan kesehatan jemaah haji lansia saat operasional.
Kedua, Kemenag telah meluncurkan buku manasik haji ramah lansia, yang berisi panduan manasik untuk kaum risiko tinggi ini jauh-jauh hari sebelumnya. Buku ini memberikan penekanan hukum rukhsah bagi lansia dalam menjalankan ibadah haji.
Ketiga, Kemenag juga menyiapkan SDM khusus yang membidangi layanan jemaah haji lansia. Meski jumlahnya terbatas, namun penanganan pada jemaah lansia ditunjukkan dengan adanya bidang ramah lansia.
Keempat, Kemenag juga menyediakan sarana transportasi bus shalawat untuk jemaah haji lansia. Ada 422 bus shalawat yang menjadi armada layanan haji lansia dengan tiga terminal haji di Mekkah.
Kelima, Kemenag telah menyediakan ruang tunggu khusus bagi lansia di lobi-lobi hotel Mekkah, yang dikhususkan pada jemaah haji lansia. Demikian juga, Kemenag menyediakan lift khusus untuk prioritas jemaah haji ramah lansia.
Keenam, Kemenag juga berusaha memberikan makanan yang ramah lansia, misalnya bubur, dan sebagainya, meski yang terakhir ini dengan menyediakan saranan pembuatan bubur untuk ramah lansia.
Ketujuh, Kemenag dan Kementerian Kesehatan telah menyiapkan enam layanan, baik tenaga kesehatan haji, tim promosi kesehatan, gawat darurat sektor, KKHI, tim sanitasi maupun tim obat. Keenam layanan ini disipakan untuk melakukan pada jemaah secara umum dan ramah lansia.
Puncak Haji Armina dan Terobosan Pemerintah Saudi Selain berbagai layanan inovasi jemaah haji lansia, Kemenag juga telah berupaya memberikan kemudahan untuk jemaah haji lansia. Dalam konteks ini, Kemenag minimal memetakan Jemaah Haji Lansia, khususnya dalam puncak haji Armina mulai 9 Zulhijah ke depan, sebagaimana berikut:
Pertama, skema ibadah haji lansia. Skema ini disiapkan untuk jemaah haji lansia yang meninggal dunia setelah di embarkasi, saat di pesawat dan tanah suci. Disamping itu, skema ini juga diperuntukkan pada jamah lansia yang memiliki ketergantungan pada alat dan obat sehingga tidak bisa dimobilisasi.
Kedua, skema safari wukuf lansia. Skema ini disiapkan bagi jemaah haji yang sakit dan dirawat, baik di Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) maupun RS Arab Suadi dan masih bisa dimobilisasi. Jemaah ini akan disafari-wukufkan dengan diangkut bus yang sudah dimodifikasi sehingga bisa duduk atau berbaring. Mereka satu dua jam di Arafah dan kembali ke KKHI atau RS Arab Saudi.
Ketiga, jemaah lansia yang menggunakan kursi roda dengan fisik sehat. Jemaah ini akan tetap dibawa ke Arafah untuk menjalani wukuf di Arafah bersama jemaah haji yang lain. Hanya saja, mereka tidak mampir ke Muzdalifah karena Muzdalifah merupakan hamparan pasir dan kursi roda akan terasa berat jika akan mendorongnya.
Kemenag telah melakukan terobosan dengan skema ketiga menginisiasi dimana lansia kursi roda diberangkatkan dari Arafah langsung ke Mina menjelang tengah malam dan jemaah lansia lewat di Muzdalifa pada tengah malam. Mereka lalu mabit lahdzatan, sementara balang jumrahnya mereka wakilkan pada jemaah yang sehat.
Langkah ketiga ini baik, namun perlu sinergi berbagai pihak untuk mobilitas lansia yang menggunakan kursi roda. Kepedulian jemaah menjadi faktor penentu kelancaran dan kemudahan lansia menjalankan ibadah haji.
Namun demikian, kita perlu beri catatan, bahwa inovasi Kemenag — termasuk inovasi layanan lansia ini–terkadang terbentur dengan kebijakan pemerintah Arab Saudi. Misalnya tenda kemah Arafah dan toilet yang terbatas. Ke depan, Pemerintah Saudi perlu melakukan langkah-langkah jitu untuk mengatasi masalah tersebut.
Bagaimanapun, kita sadar bahwa pemerintah saudi telah berupaya membuat fasilitas haji yang baik. Sebagai misal layanan mobil golf di jamarat bagi jama’ah yang jauh dari lokasi jamarat di Mina. Namun, tidak terobosan pemerintah saudi tidak boleh dianggap titik, namun harus dianggap ‘koma’ sehingga penyempurnaan demi penyempurnaan tidak akan berhenti.
Wallahu’alam.
Prof. Dr. M. Noor Harisudin, S.Ag, S.H, M. Fil. I (Dekan Fakultas Syariah UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, Guru Besar UIN KHAS Jember dan PPIH Kloter SUB 55 Tahun 2023)
Proyeksi Fakultas Syariah di ‘Tahun Internasionalisasi’ 2023
Bagaimana dengan rencana Fakultas Syariah pada tahun 2023 ini?
Pada tahun 2023 nanti, Fakultas Syariah UIN KHAS Jember mengambil Tagline sebagai ‘Tahun Internasionalisasi’ dengan berbagai program inovatif yang bertaraf internasional. Tagline Tahun Internasionalisasi adalah kelanjutan Tahun penataan kelembagaan (2020), Tahun Publikasi dan Prestasi (2021), dan Tahun Mutu dan Akreditasi Unggul (2021).
Adapun program-program Fakultas Syariah di Tahun Internasionalisasi, sebagaimana berikut:
Pertama, program sekolah hakim, sekolah penghulu, sekolah notaris, sekolah advokat, sekolah jaksa, sekolah pengkaderan ulama, sekolah legislative drafting, sekolah contract drafting dan lain sebagainya sebagai program unggulan untuk para mahasiswa Fakultas Syariah UIN KHAS Jember. Pasca lulus kuliah, mereka juga didorong untuk melanjutkan kuliah S2 yang mengasah kompetensi hukum mereka di berbagai profesi penegak hukum tersebut.
Ke dua, mendorong akses beasiswa dalam dan luar negeri untuk para alumni Syariah melalui LPDP Kemenkeu, LPDP Kemenag dan program beasiswa yang lain.Kegiatan webinar dengan berbagai kalangan penerima beasiswa luar negeri, oleh karenanya, juga banyak dilakukan selain kerjasama dengan penyelenggara kursus bahasa Inggris (Toefl ITP, IELTS, dan sebagainya).
Ke tiga, peningkatan kapasitas dan kompetensi dosen Fakultas Syariah baik melalui Fakultas atau mengutus ke berbagai lembaga lain termasuk lembaga dari luar negeri.
Ke empat, penerbitan tiga jurnal Prodi (Hukum Keluarga, Hukum Ekonomi Syariah dan Hukum Pidana Islam) dan pengajuan jurnal terindeks scopus untuk jurnal-jurnal yang telah terakreditasi di Fakultas Syariah UIN KHAS Jember. Beberapa jurnal di Fakultas Syariah yang telah terakreditasi rencananya akan diajukan menuju jurnal internasional terindeks scopus pada tahun 2023 ini.
Ke lima, memperbanyak publikasi (artikel) dosen-dosen Fakultas Syariah di beberapa jurnal internasional terindeks scopus baik yang diterbitkan oleh pengelola jurnal di dalam maupun di luar negeri.
Ke enam, kegiatan yang mendorong pencapaian prestasi nasional dan internasional mahasiswa baik yang bersifat akademik maupun non-akademik yang sangat dibutuhkan dalam penguatan akreditasi Fakultas Syariah UIN KHAS Jember.
Ke tujuh, persiapan akreditasi internasional dengan menyiapkan beberapa dokumen yang berkaitan dengan kegiatan internasionalisasi. Misalnya penyiapan kurikulum berbasis OBE. Selain itu, Fakultas juga harus mulai menyiapkan kelas internasional (program double degree) yang diselenggarakan Universitas bekerjasama dengan perguruan tinggi di luar negeri.
Ke delapan, penguatan distribusi alumni ke berbagai lembaga kementerian dan lembaga swasta di berbagai sektor kehidupan baik di level nasional maupun internasional.
Ke sembilan, tindaklanjut kegiatan MoU internasional antara UIN KHAS dan Perguruan Tinggi luar negeri. Strateginya adalah dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan bertaraf internasional bidang tri dharma pendidikan seperti international conference, penelitian kolaboratif, dan pengabdian masyarakat di tingkat internasional.
Ke sepuluh, student mobility untuk para mahasiswa melakukan rekognisi ke berbagai negara di luar negeri. Program ini sangat penting untuk mendukung kegiatan internasionalisasi di lingkungan Fakultas Syariah UIN KHAS Jember.
Ke sebelas, memperbanyak rekognisi para dosen Fakultas Syariah di tingkat nasional dan juga internasional dengan berbagai bidang kepakaran masing-masing. Para dosen didorong untuk menjadi narasumber yang bereputasi di dalam maupun luar negeri.
Ke dua belas, meningkatkan kuantitas penelitian para dosen Fakultas Syariah –bersama dosen UIN yang lain– ke berbagai negara dunia baik Asia, Eropa, Afrika, Amerika maupun Australia.
Ke tiga belas, meningkatkan kuantitas pengabdian masyarakat pada dosen Fakultas Syariah –bersama dosen UIN yang lain– ke berbagai negara-negara Asia Tenggara, Asia, Eropa atau juga Australia.
Bagaimana dengan kegiatan-kegiatan di tahun sebelumnya? Kegiatan-kegiatan lain sebelumnya yang menyokong Tri Darma Perguruan Tinggi tetap terus dilakukan dengan peneguhan dan penguatan sebelumnya. Karena sejatinya program-program di Fakultas Syariah adalah kelanjutan dari program-program sebelumnya.
Dengan kerja semua pihak, insyaallah Fakultas Syariah akan terus maju bahkan melampaui fakultas dan juga perguruan tinggi lain di masa-masa yang akan datang dengan tagline -nya “Tahun Internasionalisasi”.
Semoga tahun 2023 akan sesuai harapan kita. Amin ya rabbal alamin. ***
* Dekan Fakultas Syariah UIN KHAS Jember, Sekretaris Forum Dekan Fakultas Syariah dan Hukum PTKIN se-Indonesia (2019-2023), Ketua Pengurus Pusat Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara-Hukum Administrasi Negara (2021-2025), Ketua PP Asosiasi Dosen Pergerakan (2021-2025), Dewan Pakar Asosiasi BPTSI (2022-2026), Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian dan Pelatihan MUI Jawa Timur (2021-2026), Wakil Ketua Pengurus Wilayah Lembaga Dakwah NU Jawa Timur (2018-2023), Pembina PW Lajnah Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur (2018-2023) dan Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hikam (2015-sekarang).
Tak terasa, kita sudah memasuki hari kedua tahun 2023. Padahal, masih terbayang dalam ingatan, awal tahun baru 2022 dengan gegap gempita perayaannya saat itu. Tahun 2022, adalah tahun memulai aktivitas normal pasca dua tahun lamanya (2020 dan 2021), kita semua menghadapi wadah pandemi dengan suasana cemas, serba khawatir dan rasa takut. Kita masih ingat, beberapa keluarga besar Fakultas Syariah dan UIN KHAS juga ada yang meninggal rentang waktu dua tahun pandemi covid-19.
Pada tahun 2022, Fakultas Syariah men-declare sebagai “Tahun Mutu dan Akreditasi Unggul” dimana fokus dan garapan utamanya adalah membangun dan memperkuat budaya mutu selain memperkuat akreditasi program studi. Oleh karena itu, Gugus Mutu Fakultas (GMF) yang merupakan kepanjangan tangan Lembaga Penjaminan Mutu tingkat Universitas dan juga Tim Akreditasi Center menjadi sangat urgen keberadaannya.
Kilas Balik Capaian dan Kegiatan Fakultas Syariah Tahun 2022
Meski masih banyak yang belum dilakukan, namun ada banyak pencapaian Fakultas Syariah selama tahun 2022 ini. Pencapaian ini merupakan kerja bareng dan kolektif semua pimpinan, dosen, karyawan dan mitra Fakultas Syariah UIN KHAS Jember. Capaian tersebut, sebagaimana catatan berikut:
Pertama, pencapaian jurnal berkala ilmiah IJLIL Fakultas Syariah yang mendapatkan akreditasi Sinta 5. Jurnal IJLIL adalah berkala ilmiah yang diterbitkan secara OJS sejak tahun 2020 yang silam. Selain IJLIL, Fakultas Syariah juga memiliki Rechtenstudent Journal (2020) dan Jurnal Constitution (2022) yang terus bertumbuh di lingkungan Fakultas Syariah. Pengelola Rectenstudent Journal—jurnal kedua Fakultas Syariah sejak tahun 2019– pada bulan Desember 2022 juga telah mengajukan akreditasi sinta 3 ke Garuda.
Ke dua, pencapaian prestasi mahasiswa dalam even bergengsi SNMFCC (Lomba Peradilan Semu) yang menjadi kebanggaan Fakultas Syariah. Delegasi Fakultas Syariah berhasil menyabet juara tiga yang diselenggarakan di IAIN Metro Lampung. Prestasi membanggakan ini merupakan kelanjutan dari prestasi Fakultas Syariah sebelumnya di IAIN Ponorogo yang berhasil menyabet juara kedua SNMFCC (2021).
Ke tiga, sejumlah dosen Syariah dipilih menjadi reviewer beasiswa LPDP Kemenkeu RI seperti Prof. Dr. M. Noor Harisudin, M.Fil.I dan Dr. Wildani Hefni, MA yang bertugas hingga 2024. Selain reviewer LPDP Kementerian Keuangan RI, dua dosen ini juga dipilih menjadi reviewer LPDP Kemenag RI tahun 2022.
Ke empat, capaian lain adalah dua orang dosen Fakultas Syariah yaitu Prof. Dr. M. Noor Harisudin dan Dr. Wildani Hefni menjadi reviewer penelitian di Litapdimas Kemenag RI hingga tahun 2024. Dengan capaian ini, tentu akan sangat memperkuat kualitas penelitian dosen dan mahasiswa di lingkungan Fakultas Syariah UIN KHAS Jember.
Ke lima, pencapaian publikasi ilmiah dosen dalam bentuk buku sejumlah 15 buku dan 35 artikel ilmiah sejumlah. Di samping itu, Fakultas Syariah juga mencatat dua artikel terpublikasi di jurnal internasional terindeks scopus pada tahun 2022 atas nama M. Noor Harisudin dengan judul Multi-Track Diplomacy Fiqh of Nahdlatul Ulama in Countering Islamophobia in Netherland di Jurnal Ahkam Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Vol. 22 No. 2 Tahun 2022 dan Wildani Hefni dengan judul Brands of Piety? Islamic Commodification of Polygamous Community in Indonesia di Journal of Indonesian Islam (JIIS) UIN Sunan Ampel Surabaya, Vol. 16 No. 1 Tahun 2022.
Ke enam, pencapaian publikasi ilmiah mahasiswa dalam bentuk 5 buku ber-ISBN dan 25 artikel ilmiah mahasiswa baik di jurnal yang terakreditasi sinta maupun masih nasional.
Ke tujuh, pencapaian Hak Karya Intelektual baik dosen dan mahasiswa dengan jumlah 6 orang pada tahun 2022 ini. Ke depan jumlah HAKI ini akan terus ditingkatkan lagi di Fakultas Syariah UIN KHAS Jember baik dibiayai lembaga ataupun biaya mandiri.
Ke delapan, pencapaian penelitian dan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh para dosen Fakultas Syariah UIN KHAS Jember dengan 14 penelitian dan pengabdian pada masyarakat di litapdimas Kemenag RI. Dua penelitian diantaranya adalah penelitian kolaboratif internasional dengan judul “Contesting Identity, Confronting Policy: Citizenship Transnational Belonging and Cultural Nationalism of The Diaspora Networks in The Middle East” (Dr. Qurratul Uyun, MH) dan Muslim Word Countries Making Indonesia Home: State, Religion, and Political Dissonance of Indonesian Islam As Model of Religious Moderation For Malaysia and Turkey (Dr. Wildani Hefni, MA).
Ke sembilan, program International Conference yang diselenggarakan ketiga kalinya oleh Fakultas Syariah UIN KHAS Jember dengan tema “Islam, Law and Human Right in Global Context: Challenges and Oppurtunities” pada 19- 20 Oktober 2022 yang silam. Hadir pada saat itu, Nyi Nyi Kyaw (Jerman) dan Maria Bhatti, Ph.D (Western Sidney University, Australia). Fakultas Syariah selanjutnya juga mengadakan Webinar Internasioal dengan tema “Labour Law in Asia and Australia Opportunitues and Challanges”, 28 Nopember 2022. Webinar internasional yang lain: “Halal Industry in The Wordl: Opportunities and Challenges”, yang terlaksana pada tanggal 24 Desember 2022.
Ke sepuluh, Gugus Mutu Fakultas Syariah UIN KHAS Jember ikut aktif dalam rangkaian kegiatan Universitas, dalam bentuk audit eksternal bersama dengan tim auditor dalam rangka sertifikasi ISO (International Standardization Organization), yakni ISO 9001: 2015 dan ISO 21001: 2018. Sebelumnya, pelatihan ISO diikuti Gugus Mutu Fakultas sejak awal tahun 2022.
Ke sebelas, kerja sama dengan KPU RI yang ditindaklanjuti dengan seminar mengundang Ketua KPU RI, Hasyim Asy’ari, Ph.D di Lantai Tiga Auditorium Gedung Kuliah Terpadu UIN KHAS Jember. Fakultas Syariah juga MoU dengan Kominfo RI untuk Webinar Literasi Digital juga diselenggarakan selama tiga bulan (Agustus-Oktober). Selain KPU RI, kerja sama juga dilakukan juga Kabiro hukum Pemprov Jatim, Ombusman Jawa Timur, MUI Jawa Timur, Baznas Jawa Timur, Kemenag Jember, Bawaslu Bondowoso, dan sebagainya.
Ke dua belas, berbagai kegiatan Fakultas Syariah yang relevan dengan kompetensi mahasiswa Fakultas Syariah UIN KHAS Jember. Misalnya sekolah kepenghuluan untuk mahasiswa, pelatihan contract drafting, pelatihan notaris, pelatihan paralegal dan adokat, pelatihan legislatif drafting, dan pelatihan inovatif lain yang dibutuhkan mahasiswa. Pada tahun 2021, Fakultas Syariah telah mengadakan Pelatihan Kader Ulama untuk Mahasiswa dan Pelatihan Legislative Drafting.
Ke tiga belas, keterlibatan Fakultas Syariah dalam jaringan MBKM di lingkungan Fakultas Syariah dan Hukum Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia. Jaringan MBKM dikoordinir Pimpinan Forum Dekan FSH PTKIN se-Indonesia dan Dirjen Pendis Kemenag RI melalui Aplikasi Permata dengan serangkaian pertemua di UIN Raden Mas Said Surakarta dan IAIN Kendari.
Ke empat belas, Fakultas Syariah menetapkan tahun 2022 sebagai “Tahun Mutu dan Akreditasi Unggul”. Oleh karenanya, Fakultas Syariah mengajukan borang akreditasi Hukum Keluarga dengan borang ISK dari A menuju Unggul. Selain upload borang HES dalam rangka reakreditasi diagendakan akhir tahun 2022, dan AL rencananya dilaksanakan tahun 2023 nanti. Selain itu, Fakultas Syariah juga mulai mendiskusikan dan menyiapkan akreditasi internasional dalam kegiatan Focus Group Discussion.
Ke lima belas, penambahan sarara prasarana seperti Layanan Self-Turnitin untuk mahasiswa dengan penambahan komputernya di Lantai 2 Fakultas Syariah. Demikian juga ruang baca digital yang terus dilengkapi serta pembangunan gedung kelas D bertingkat yang sedang tahap finishing sekarang.
Ke enam belas, Pendidikan Profesi Advokat angkatan III kerja sama Fakultas Syariah dan DPC APSI Jember untuk para lulusan baik di dalam Fakultas Syariah, UINKHAS Jember maupun luar Universitas dengan jumlah peserta yang cukup banyak.
Ke tujuh belas, penguatan Kafsya dengan cara memfasilitasi tempat ekonomi creatif untuk para alumni Syariah yang disebut dengan “Kafsya Corner”. Kafsya Corner berisi kaos, topi, ID Card, dan asesoris lain untuk oleh-oleh dari Fakultas Syariah UIN KHAS Jember.
Ke delapan belas, kegiatan inovatif Kafsya untuk pelatihan test CPNS, webinar sukses alumni, seminar advokat dan kegiatan lain yang mendukung karir alumni Syariah UIN KHAS Jember.
Ke sembilan belas, webinar yang diselenggarakan Fakultas Syariah melalui Pushpasi, Media Center, Kompres, LRDC, dan komunitas yang lain untuk menguatkan budaya akademik di lingkungan Fakultas Syariah UIN KHAS Jember dengan teman-tema yang up to date, kontekstual dan dibutuhkan mahasiswa dan alumni.
Ke dua puluh, pelatihan jurnalistik untuk mahasiswa Syariah. Demikian juga, pelatihan menulis artikel di jurnal ilmiah terakreditasi dan jurnal internasional oleh Media Center Fakultas Syariah UIN KHAS Jember. Pelatihan yang terakhir untuk mahasiswa semester awal fakultas Syariah yang sudah klik dengan Rumah Literasi.
Ke dua puluh satu, kegiatan akademik seperti PKL ke berbagai instansi diantarnya DPRD, KPU, Bawaslu, Biro Hukum Pemprov, Pengadilan Negeri, Pengadilan Agama, PTUN Surabaya, KPPU, Ombusman, MUI Jatim, Baznas Jatim, BPN, Imigrasi, dan sebagainya.
Ke duapuluh dua, pencapaian rekognisi nasional dan internasional dimana dosen Fakultas Syariah telah menjadi narasumber baik kegiatan berskala nasional maupun internasional. Pencapaian rekognisinya mencapai 40 lebih.
…Bersambung
* Dekan Fakultas Syariah UIN KHAS Jember, Sekretaris Forum Dekan Fakultas Syariah dan Hukum PTKIN se-Indonesia (2019-2023), Ketua Pengurus Pusat Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara-Hukum Administrasi Negara (2021-2025), Ketua PP Asosiasi Dosen Pergerakan (2021-2025), Dewan Pakar Asosiasi BPTSI (2022-2026), Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian dan Pelatihan MUI Jawa Timur (2020-2025), Wakil Ketua Pengurus Wilayah Lembaga Dakwah NU Jawa Timur (2018-2023), Pembina PW Lajnah Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur (2018-2023) dan Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hikam (2015-sekarang).
Media Center Darul Hikam – Ketua PP Asosiasi Dosen Pergerakan, Prof. Kiai Harisudin, mengartikan radikalisme agama sebagai gerakan keagamaan yang berusaha merombak secara total tatanan sosial dan politik yang ada dengan jalan menggunakan kekerasan.
Hal tersebut ia sampaikan dalam acara Orientasi Pengenalan Jati Diri Universitas Jember Bagi CPNS Formasi Tahun 2021 di Hotel Ketapang Indah Banyuwangi, yang digelar selama tiga hari, 16-18 Desember 2022.
Menurutnya, radikalisme disebabkan setidaknya oleh 4 (empat) hal, diantaranya: Pertama, pemahaman Thaghut jika pemerintah tidak berbentuk khilafah; Kedua, kekecewaan yang berlebihan pada pemerintah; Ketiga, pemahaman keagamaan yang eksklusif, sempit dan tertutup; Keempat, pengaruh dunia global yang dianggapnya sangat tidak adil.
Beberapa kekeliruan, lanjut Prof. Kiai Haris, yang sering terjadi terhadap pemahaman yang berbasis radikalisme. Mulai dari kekeliruan pemahaman kebangsaan dan kenegaraan, kekeliruan pemahaman keagamaan, kekeliruan sikap pada orang yang beda keyakinan, hingga kekeliruan cara yang digunakan.
“Adapun yang dimaksud keliru dalam pemahaman kebangsaan dan kenegaraan ini misalnya, yakin akan tegaknya khilafah di masa yang akan datang, bersikap anti Pancasila, anti kebinekaan, anti UUD 1945 dan anti NKRI, bersikap anti kebangsaan (anti-nasionalisme), dan dalam beberapa kasus membenturkan antara Pancasila dengan agama,” ujar Prof. Kiai Haris yang juga Dekan Fakultas Syariah UIN KHAS Jember.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bentuk kekeliruan pemahaman keagamaan seperti, adanya semboyan yang memerintahkan umat Islam untuk kembali pada al-Qur’an dan Hadits secara literlek, termasuk menafsirkan al-Qur’an dan Hadits sesuai kecenderungan pemahaman subyektifnya dan dijadikan kebenaran yang absolut (mutlak).
“Mereka kaum radikal cenderung bersikap eksklusif dan tertutup serta hanya menggunakan referensi dari kalangan sendiri. Tidak hanya itu, mereka juga menolak dengan keras local wisdom (kearifan lokal) di berbagai belahan dunia,” tambah Pengasuh Pesantren Darul Hikam Mangli Jember.
Dalam kesempatan itu, Prof. Kiai Haris juga menggambarkan kekeliruan cara yang digunakan oleh kaum radikal, seperti: tak segan menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan; kerapkali menebarkan hoax dan berita bohong tentang kelompok lain yang berbeda; bahkan menghalalkan mencuri harta milik kelompok lain karena kelompok lain dianggap kafir.
Karena itu, untuk menangkal paham radikalisme, perlu adanya beberapa penguatan dalam beberapa hal, misalnya; mendakwahkan Islam rahmatan lil alamin; berguru pada ulama yang luas pengetahuan dalam memahami Islam; mentaati pemerintah selama on the right track; menanamkan Pancasila tidak bertentangan dengan agama, dan hal semacamnya.
Memang, lanjutnya, perlu ada pembinaan khusus bagi mereka kaum radikal. Mulai dari pembinaan untuk menjauhi sikap saling mengkafirkan, termasuk mengajak mereka untuk memahami agama secara dialogis dan demokratis
“Jika langkah pembinaan itu gagal, maka penegakan hukum sebagai solusi akhir. Misalnya dengan implementasi Undang-Undang No. 5 Tahun 2018 tentang Tindak Pidana Terorisme dan Undang-Undang No. 16 tahun 2017 tentang Ormas,” pungkasnya.
Media Center Darul Hikam – Ciri khas Pesantren sebagai center of civilize diwujudkan dalam bentuk khazanah intelektual. Sebagai pesantren yang berbasis literasi dan scholarship, PP Darul Hikam Jember menggelar acara Tadarus Ilmiah bertajuk “NU, Santri dan Masa Depan Indonesia”. Acara ini mendatangkan narasumber internasional, Prof. KH. Nadirsyah Hosen, LLM, MA, Ph. D sebagai Rais Syuriah PCI NU Australia-New Zealand pada Kamis (22/9) di Pondok Cabang Putra Ajung Jember.
Acara tersebut dihadiri oleh Pengasuh PP Darul Hikam, Prof. Dr. Kiai M. Noor Harisudin, M.Fil.I., Ibu Nyai Robiatul Adawiyah, S.H.I., M.H., para asatidz, anggota fatayat Jember serta seluruh mahasantri PP Darul Hikam. Rangkaian acara dimulai dari buka bersama, shalat maghrib berjamaah, khataman Al-Qur’an yang dilanjutkan dengan tadarus ilmiah.
Pengasuh PP Darul Hikam, Prof. Dr. Kiai M. Noor Harisudin, M.Fil.I., menuturkan acara ini sebagai bentuk sambung sanad keilmuan dari ayah Prof Nadhirsyah Husen, yaitu Prof. KH. Ibrahim Husen, seorang ahli fiqih Mazhab Syafii kenamaan tanah air.
“Sanad keilmuan sangat penting pada kiprah NU, ini membuktikan bahwa keislaman NU adalah keislaman yg dapat dipertanggungjawabkan. Selain sanad, kita bisa nyambung jaringan sehingga mahasantri bisa mengambil peluang scholarship baik di dalam maupun luar negeri,” tutur Prof Haris yang juga Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Lembaga Dakwah Nahdhatul Ulama (PW LDNU) Jawa Timur.
Prof Nadirsyah Hosen yang akrab disapa Gus Nadir menafsirkan wahyu pertama yang Allah turunkan yaitu surah Al-Alaq tentang perintah membaca. Menurutnya, pangkal masalah terbesar yang dihadapi oleh bangsa adalah kurangnya literasi masyarakat sehingga mudah tertipu atas informasi yang tersebar.
“Visi Islam yang pertama kali turun adalah membangun masyarakat cerdas melalui membaca. Penyebutan iqra dalam Al-Qur’an memiliki dua makna, pertama dalam lafadz Iqra bismirarabbikalladzi khalq adalah membaca secara tekstual, dan makna iqra yang kedua dalam lafadz Iqra warabbukal akram adalah membaca makna tersirat dari suatu bacaan atau kejadian, inlah yang dinamakan critical reading ”jelas Dosen Fakultas Hukum Monash University Australia itu.
Menurutnya, critical reading telah diterapkan oleh para ulama terdahulu dengan menginternalisasikan makna iqra melalui pembangunan pesantren. Menurut Gus Nadir, kejayaan Islam ada karena sistem khilafah adalah anggapan yang salah, karena dari pembangunan pendidikan lah masa depan sumber daya manusia mulai maju.
“Berkaca dari sejarah, Khalifah Al-Ma’mun sebagai khalifah ke-7 dari Dinasti Abbasiyah, mampu mengantarkan dunia Islam pada puncak peradaban. Bahkan, pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid, sebuah perpustakaan besar bernama Bait Al-Hikmah dikembangkan menjadi universitas yang melahirkan para cendikiawan Islam,” jelas Gus Nadir yang juga Peraih Associate Professor Universitas Wollongong Australia.
Pada kesempatan itu pula, Gus Nadir membagikan kebiasaannya selama menuntut ilmu dari didikan langsung oleh ayahnya, Prof Ibrahim Hosen, untuk senantiasa membaca.
“Ayah saya selalu mengatakan bahwa wiridnya pelajar adalah membaca buku dan mengkaji ilmu. Setiap hari saya selalu menargetkan membaca 150 halaman dan pernah satu hari sampai khatam 4 buku ilmiah. Namun tidak sekedar membaca, tapi juga memahami makna yang tersirat, artinya setiap bacaan yang dibaca selalu dikaitkan dengan bacaan yang pernah kita baca untuk melahirkan konsep baru. Inilah esensi dari critical reading,” ujar Gus Nadir.
Acara yang dimoderatori oleh Erni Fitriani berjalan secara interaktif yang diakhiri dengan doa dan foto bersama.
Pembina PW Lembaga Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur.
Artinya: “Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya’qub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah: “(Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), Maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah Dia jika kamu orang-orang yang benar”. (QS. Ali Imron: 93)
Ayat ini turun berkaitan dengan klaim orang-orang Yahudi, bahwa Bani Israil dan juga Nabi Ibrahim haram memakan daging dan susu unta. Klaim ini ditolak al-Qur’an dengan mengatakan bahwa setiap makanan itu halal bagi bani Israil, kecuali makanan atau minuman yang Nabi Yakub mengharamkan untuk dirinya sendiri. Ketika disebut Israil dalam ayat ini, maka maksudnya adalah Nabi Ya’kub.
Oleh karena itu, para ulama menafsirkan kata Israil ‘ala nafsihi dengan Nabi Ya’kub atas dirinya sendiri. Artinya, Nabi Ya’kub mengharamkan pada dirinya sendiri atas makanan dan minuman tertentu. Dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa Nabi Ya’kub mengharamkan makanan untuk dirinya sendiri dalam rangka meraih kebajikan dan mendekatkan diri pada Allah Swt. Sebagaimana kita tahu, Nabi Ya’kub adalag putra Ishaq putra Ibrahim AS. Nabi Ya’kub ini sendiri adalah nenek moyang Bani Israil.
Dalam riwayat yang lain, Nabi Ya’kub sakit yang cukup parah. Dan dalam sakitnya, beliau bernadzar. Jika Allah menyembuhkannya, maka beliau tidak akan makan dan minum sesuatu yang paling disukai. Makanan yang disukai Nabi Ya’kub adalah daging unta, sementara minuman yang disukai adalah susu unta. Allah menerima nadzar beliau, apalagi hal itu beliau lakukan untuk mendekatkan diri pada Allah Swt. sembari memberi kesempatan yang lain untuk memakannya.
Setelah sembuh, maka Nabi Ya’kub melaksanakan nadzarnya untuk tidak memakan daging unta dan minum susu unta. Meski dua hal ini tidak diharamkan, namun beliau konsisten melaksanakan nadzarnya hingga akhir hayat beliau.
Apa yang dilakukan Nabi Ya’kub sesungguhnya juga banyak dilakukan oleh para sufi yang mengambil jalan asketis atau zuhud. Meski tidak diharamkan untuk umat Islam, mereka mengharamkan makanan tertentu untuk diri mereka sendiri. Sebagian sufi misalnya mengharamkan makan daging –apa saja—dalam keseharian mereka, padahal memakan daging tidak dilarang dalam Islam. Mereka boleh makan vegetarian; sayuran, buah-buahan, dan sebagainya.
Pesan penting Nabi Ya’kub yang lain adalah bahwa untuk menuju ketinggian derajat takwa, seseorang dapat mengurangi kenikmatan duniawi. Makanan yang enak, baju yang mahal, rumah yang mewah, mobil yang mahal dan fasilitas duniawi yang lain adalah bentuk kenikmatan duniawi yang tiada tara. Ini bisa menghalangi seseorang untuk dekat (taqqarrub) pada Allah Swt. Apalagi jika sudah menuju nikmat duniawi yang menurut Abraham Maslow –pakar psikologi– tidak ada pernah ada habisnya. Kebutuhan manusia –sepanjang hayatnya—terus akan bertambah dan yang demikian ini, hemat saya, cenderung melalaikan seorang muslim dengan Tuhannya.
Apa yang dilakukan Nabi Ya’kub sesungguhnya adalah renungan untuk seorang muslim yang masih terus ‘berburu makanan enak’, padahal hari-harinya sudah penuh dengan ibadah. Misalnya ia rajin puasa, namun juga rajin mencari buka puasa yang enak dan lezat yang cenderung melupakan orang lain dalam kehidupannya. Ia bisa juga rajin sholat namun juga rajin cari harta sehingga ia lupa sampai masuk dalam kubur. (QS. At-Takatsur)
Nabi Ya’kub mengajarkan pada kita, meski sesuatu yang mubah bukan sesuatu yang dilarang, namun kita dapat mengendalikan nafsu kita dengan menahan diri dari memakan dan mminum sesuatu yang mubah tersebut. Seorang zahid memilih makan yang sederhana,kendati makan yang mewah tidak dilarang. Meminjam bahasa Ibnu Shina: “Seorang Zahid bersedia berletih-letih dan berkorban untuk kenikmatan yang lebih besar”. Kenikmatan yang lebih besar adalah kenikmatan di akhirat nanti.
Ini berbeda dengan orang Kafir yang menghabiskan kenikmatan duniawinya sehingga tidak ada yang tersis di akhirat, sebagaimana firman Allah: “Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (seraya dikatakan kepada mereka), “Kamu telah menghabiskan (rezeki) yang baik untuk kehidupan duniamu dan kamu telah bersenang-senang (menikmati)nya; maka pada hari ini kamu dibalas dengan azab yang menghinakan karena kamu sombong di bumi tanpa mengindahkan kebenaran dan karena kamu berbuat durhaka (tidak taat kepada Allah).”. (QS. Al-Ahqaf: 20)
Wallahu’alam. ***
M. Noor Harisudin adalahPengasuh PP Darul Hikam Mangli Jember, Wakil Ketua PW Lembaga Dakwah NU Jawa Timur dan Pembina PW Lembaga Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur.
Prof. Dr. Kiai M. Noor Harisudin, M. Fil. I –selanjutnya disingkat Haris–, dilahirkan di Demak, 25 September 1978 dari keluarga yang taat beragama: alm. KH. M. Asrori dan Almh. Hj. Sudarni.
Haris memulai sekolah dasar di MI Sultan Fatah Demak (1984-1990) dan Sekolah Arab pada sore harinya. Ia kemudian melanjutkan MTs NU Demak (1990-1993). Pada saat sekolah MTs, malam harinya, Haris ngaji Diniyah di Ponpes Al Fatah Demak dengan menggeluti kitab-kitab Nahwu, Tafsir, Hadits, Fiqh, Akhlak dan sebagainya.
Tahun 1993, Harismelanjutkan sekolah di MA Salafiyah Kajen Margoyoso Pati Jawa Tengah. Selain sekolah formal, juga Haris juga mondok di Pondok Pesantren Salafiyah Kajen Pati. Di bawah asuhan KH. Muhibbi, Kiai Mad, KH. Husein, Haris banyak mendapat ilmu Nahwu, Sharaf, Fiqh, Qawaidul Fiqh, Ushul Fiqh dan Balaghah.
Tiga tahun dari Kajen, Haris melanjutkan ke Pondok Pesantren Ma’had Aly Sukorejo Situbondo. Tepatnya tahun 1996-2000. Ma’had Aly didirikan untuk memprersiapkan kelangkaan para ulama. Adalah KH. Raden As’ad Syamsul Arifin, yang pada tahun 1991, memiliki harapan akan lahirnya para ulama di Pondok Salafiyah melalui Ma’had Aly ini.
Selain ikut kuliah di Ma’had Aly, Haris juga kuliah S1 Muamalah Fakultas Syariah IAI Ibrahimy (kini Universitas Ibrahimy Situbondo). Pada waktu ini, selain kuliah S1 dan Ma’had aly, Haris aktif dengan berbagai kegiatan mahasiswa, Haris tercatat menjadu Ketua Senat Fakultas Syariah (1997-1998) dan Ketua I PMII Situbondo (1998-1999). Tahun 2000, Haris tamat dan mengadu nasib ke Jember Jawa Timur.
Tahun 2002, Haris memilih kuliah S2 di IAIN Sunan Ampel Surabaya (Kini bernama UIN Sunan Ampel Surabaya) konsentrasi Pemikiran Islam. Dua tahun belajar S2, tahun 2004 Haris selesai kuliah. Ketika semua sibuk mendapat jabatan, Haris memilih kuliah S3 dengan konsentrasi Hukum Islam. Kuliah S3 diselesaikan tahun 2012 (2017-2012).
Belajar di beberapa pesantren seperti Pesantren Al-Fatah Demak di bawah asuhan KH. Umar, Pesantren al-Amanah oleh KH. Hamdan Rifai Weding Demak, Pesantren Salafiyah Kajen Margoyoso Pati di bawah asuhan KH. Muhibbin, KH. Faqihudin, KH. Asmui dan KH. Najib Baidlawie, Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo di bawah asuhan alm. KH. Fawaid As’ad, KH. Afifudin Muhajir, dan KH. Hariri Abd. Adzim dan belajar di Ponpes Darul Hikmah Surabaya di bawah asuhan Prof. Dr. KH. Sjeichul Hadi Permono SH, MA. Belajar agama dan kemasyarakatan pada ke beberapa kiai seperti K.H. Abd. Muchith Muzadi (Jember), KH. Maimun Zubeir (Rembang), KH. Yusuf Muhammad (Jember) dan juga KH. Muhyidin Abdusshomad (Jember).
Tahun 2002, Haris menikah dengan gadis yang dicintainya, Robiatul Adawiyah. Dari pernikahan ini keduanya telah dikarunia empat orang putra dan satu orang putri, yaitu M. Syafiq Abdurraziq, Iklil Naufal Umar, Ibris Abdul Karim, Sarah Hida Abidah dan Ahmad Eidward Said.
KARIR
Haris memulai karir di perguruan tinggi sejak tahun 2005, yakni ketika diangkat menjadi CPNS sebagai dosen di STAIN Jember (kini UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember) pada tahun tersebut. Sejak itu, Haris aktif mengajar di UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, Fakultas Agama Islam Universitas Islam Jember dan Sekolah Tinggi Al-Falah As-Sunniyah Kencong Jember. Mulai tahun 2012, Haris mengajar di Pasca Sarjana UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, Pasca Sarjana IAI Ibrahimy (kini Universitas Ibrahimy) Situbondo serta Pasca Sarjana di sejumlah Perguruan Tinggi di Jawa Timur.
Pada tanggal 1 September 2018, Haris dikukuhkan sebagai Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember bidang Ilmu Ushul Fiqh. (Guru Besar termuda di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri Tahun 2018). Pada tahun 2019, Haris dipilih menjadi Ketua Timsel KPU Jawa Timur Wilayah VII Periode 2019-2023, Dekan Fakultas Syariah IAIN Jember Periode 2019-2021, Dekan Fakultas Syariah UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember Periode 2021-2023 dan Sekretaris Forum Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri Seluruh Indonesia (2019-2023).
Kini, sebagai guru besar UIN KHAS Jember, Haris aktif mengisi berbagai seminar, workshop, pelatihan dan ceramah agama di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Mataram, Ternate, Cirebon, Aceh, Kalimantan, Makasar, Palembang, Pekanbaru, Papua, Mataram, Pasuruan, Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, Lumajang, Malang, Madura, Semarang, Taiwan, Australia, Mesir, Belanda, Jerman, Amerika Serikat, Rusia, Saudi Arabia, New Zealand dan lain-lain.
KIPRAH ORGANISASI
Di masyarakat, Haris aktif di berbagai organisasi. Misalnya, Haris aktif sebagai Pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember, Dewan Pengawas AZKA al-Baitul Amien Jember dan Pengurus Yayasan Masjid Jami’ al-Baitul Amien Jember. Sebelumnya, Haris aktif sebagai wakil sekretaris PCNU Jember (2009-2014), Sekretaris Yayasan Pendidikan Nahdlatul Ulama Jember (2014-2019), Wakil Ketua PW Lembaga Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur (2013-2018) dan Katib Syuriyah PCNU Jember (2014-2019).
Haris juga tercatat aktif sebagai Pengurus Majlis Ulama Indonesia Kabupaten Jember (2015-2020), Ketua Bidang Intelektual dan Publikasi Ilmiah IKA-PMII Jember (2015-2020), Dewan Pakar Dewan Masjid Indonesia Kabupaten Jember (2015-2020), Wakil Ketua PW Lembaga Dakwah NU Jawa Timur (2018-2023) dan Ketua Umum Asosiasi Penulis dan Peneliti Islam Nusantara Seluruh Indonesia (2018-2022).
Selain itu, Haris juga aktif sebagai Wasekjen Pusat Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Indonesia (ABPTSI) Pusat (2017-2022) dan Dewan Pakar ABP PTSI Jawa Timur (2018-2022), Director of World Moslem Studies Center (2019-sekarang), dan Dewan Penasehat Dewan Pengurus Daerah Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia Kabupaten Jember (2018-2022).
Tidak hanya itu, kiprahnya di tingkat nasional juga terlihat dari keaktifannya sebagai Ketua PP Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrsi Negara (2021-2021), Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian dan Pelatihan MUI Jatim (2021-2026), dan Ketua Asosiasi Dosen Pergerakan (2021-2026) .
MENGASUH PESANTREN
Tahun 2015, Haris mendirikan pesantren Darul Hikam di Perumahan Milenia Jember. Pesantren ini terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman dengan dibukanya Pesatren Darul Hikam 2 di Karangmluwo Mangli Jember. Tahun 2021, Pesantren Darul Hikam 3 resmi membuka pesantren laki-laki di Ajung Jember.
Pada tahun 2022, Pesantren Darul Hikam resmi membuka Diniyah Awaliyah dan Diniyah Wustho. Haris masih punya mimpi untuk mendirikan sekolah mulai dasar hingga perguruan tinggi yang bereputasi internasional.
KUNJUNGAN LUAR NEGERI
Pada tahun 2015, Haris melakukan kunjungan ke Arab Saudi dalam rangka umroh bersama istri. Pada tahun 2018, Haris kembali kunjungan sebagai tour leader PT Kanomas.
Selanjutnya, Haris juga melakukan kunjungan ke Taiwan pada 23 Desember 2017- sampai 7 Januari 2018 dalam rangka pengabdian pada masyarakat. Haris melakukan serangkaiam kunjungan ke Taipe, Taichung, dan kota-kota lain.
Tidak berhenti disitu. Haris juga melakukan kunjungan ke Asutralia, pada 6-20 Agustus 2022 diundang PCI NU Australia New Zealand, Haris ke Adelaide, Canberra, Sidney dan Melbourne.
KARYA
Beberapa buku yang telah ditulis M. Noor Harisudin diantaranya:
1. Fiqh Rakyat, Pertautan Fiqh dengan Kekuasaan (LKiS Yogyakarta: 2000)
2. Agama Sesat, Agama Resmi (Pena Salsabila Jember tahun 2008)
3. Edward Said Di Mata Seorang (Pena Salsabila: Surabaya, 2009).
4. NU, Dinamika Ideologi Politik dan Politik Kenegaraan (Penerbit Kompas: Jakarta, 2010).
5. Pengantar Ilmu Fiqh (Pena Salsabila: Surabaya, 2013)
6. Kiai Nyentrik Menggugat Feminisme, Pemikiran Peran Domestik Perempuan Menurut KH. Abd. Muchith Muzadi (STAIN Jember Press, 2013)
7. Ilmu Ushul Fiqh I (STAIN Jember Press, Jember, 2014)
8. Fiqh Mu’amalah I (IAIN Jember Press, Jember, 2015)
9. Munajat Cinta: 1001 Cara Meraih Cinta Sang Pencipta (Pena Salsabila: Surabaya, 2014)
10. Tafsir Ahkam I (Pustaka Radja, Surabaya, 2015)
Media Center Darul Hikam – Literasi merupakan istilah umum yang merujuk pada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, serta memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Mengingat perkembangan dunia digital yang semakin pesat, Sub Rayon Ikatan Santri & Alumni Salafiyah Syafi’iyah (IKSASS) Tamanan yang bekerja sama dengan Rayon IKSASS Putri Bondowoso telah mengadakan ‘Serasehan Literasi’ dengan tema, “Eksistensi Literasi Di Era Multikultural” pada Minggu, (27/03), bertempat di MI Nurur Rahman Tamanan, pukul 08.00 WIB-selesai.
Prof. Dr. KH. M. Noor Harisudin, M.Fil.I (Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hikam, Guru Besar UIN KHAS Jember, & Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo) sebagai narasumber dalam acara tersebut menyampaikan, penting bagi santri memiliki kemampuan literasi yang baik.
“Santri yang bisa menyempatkan menulis dan menghasilkan sebuah karya adalah orang yang luar biasa. Bisa berupa artikel, novel, opini, berita, buku, dan lainnya sesuai minat dan kemampuan masing-masing,” ungkap Prof. Harisudin yang juga Director of World Moslem Studies Center Bekasi.
Prof. Harisudin (sapaan akrabnya) menyampaikan, seorang santri harus punya semangat belajar tinggi. Selain mengetahui ilmu-ilmu keagamaan, seorang santri juga harus selalu update terhadap isu-isu pengetahuan kemasyarakatan, salah satunya dengan melalui Santri Kerja Nyata (SKN).
“Jangan pernah merasa puas dengan ilmu yang dimiliki. Karena ketika seseorang menyangka dirinya ‘alim, maka sesungguhnya orang itu bodoh,” ujar Prof. Harisudin yang juga Ketua PP Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara (APHTN-HAN)
Tak hanya soal membaca dan menulis, cerdas berliterasi juga berarti cerdas memfilter informasi yang masuk, serta menghindarkan diri dari informasi-informasi HOAX.
“IKSASS harus terdepan melawan berita HOAX”, ucap Prof. Haris yang juga Pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli-Jember.
Terakhir sebelum menutup materinya, Prof Haris berpesan tiga hal. Pertama, jika ingin menjadi penulis hebat dan luar biasa, maka harus memiliki motivasi dalam hidup untuk menulis, jika sudah memiliki motivasi itu, niscaya tidak akan ada alasan untuk menghalangi. Kedua, bagaimana mungkin seorang bisa menjadi orang luar biasa, jika yang dilakukannya hanya biasa-biasa saja. Ketiga, beliau menyampaikan bahwa ‘omongan’ (perkataan) akan hilang, akan tetapi tulisan akan abadi.
“Oleh karena itu, mari terus produktif melakukan hal-hal luar biasa, agar kita bisa menjadi insan yang dapat memotivasi orang lain untuk bangkit menjadi orang-orang hebat dan luar biasa,” terang Prof Haris yang juga Dekan Fakultas Syariah UIN KHAS Jember.
Prof. Haris juga berpesan, kader-kader IKSASS yang juga masih aktif sebagai santri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, untuk tidak hanya konsumtif di media, tetapi juga harus produktif dan kritis.
“Kalau ingin lebih baik, jangan hanya konsumtif, tapi harus produktif. Jangan hanya konsumtif di Media, Tapi harus produktif di media. Jangan hanya produktif, tapi juga harus kritis. Media harus di isi dengan media informasi yang baik, bisa dengan berita, dan lainnya,” ungkap Prof. Haris dalam closing statement-nya
Pada kesempatan itu, hadir pula Ust. Abdurrahman Ilyas sebagai Ketua Yayasan Nurur Rahman, Ust. Ali Tsabit Dhafir, S.Sos.I sebagai Sekretaris Majelis Tanfidzi Rayon IKSASS Bondowoso, Ust. Ahmad Firdaus Kurniawan, S.Pd.I sebagai Ketua Sub Rayon IKSASS Tamanan, beserta jajaran pengurus IKSASS Alumni Bondowoso, Sub Rayon IKSASS Alumni Tamanan serta jajaran Pengurus Rayon IKSASS Putri Bondowoso.
Acara diikuti secara antusias oleh 60 peserta, terdiri dari santri putri aktif Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo yang tergabung dalam Ikatan Santri Alumni Salafiyah Syafi’iyah (IKSASS).
Media Center Darul Hikam – Nahdlatul Ulama telah lama memproklamirkan diri bahwa ‘NKRI Harga Mati’. Namun, slogan tersebut hanya sebatas slogan dan tidak ada yang menindaklanjutinya.
Demikian disampaikan oleh Pengasuh Pesantren Darul Hikam Mangli Jember, Prof Kiai M Noor Harisudin dalam acara Pelantikan Pengurus 15 Ranting NU Se-Kecamatan Sepaku pada Minggu (23/1).
“Kita tidak mau jika ‘NKRI Harga Mati’ hanya sebatas slogan,” tegas Prof M Noor Harisudin di hadapan hadirin yang berjumlah 600 lebih tersebut.
Menurutnya, pengurus NU wajib menindaklanjutinya dengan aktif berperan di berbagai sektor kehidupan. Khususnya bagi Nahdliyyin di Kecamatan Sepaku.
“Saya berharap agar masyarakat Kecamatan Sepaku, khususnya warga Nahdliyyin untuk segera melakukan percepatan-percepatan. Hal tersebut penting dilakukan karena Kecamatan Sepaku menjadi tempat Ibu Kota Negara Indonesia,” ujar Prof Harisudin yang juga Guru Besar UIN KHAS Jember.
Dengan dipilihnya Kecamatan Sepaku Kabupaten Penajem Paser Utara sebagai Ibu Kota Negara, maka menjadi kesempatan tersendiri bagi warga Nahdliyyin Sepaku untuk ikut berkontribusi dalam program pembangunan Nasional.
“Warga Nahdliyyin nantinya bisa meminta kepada pemerintah agar 10% dari Aparatur Sipil Negara (ASN) berasal dari warga pribumi atau warga asli Sepaku,” tutur Prof Harisudin yang juga Ketua PP Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara-Hukum Administrasi Negara.
Selain itu menurut Prof Haris, Warga Kecamatan Sepaku Kabupaten Penajem Paser Utara patut bersyukur atas dipilihnya Kecamatan Sepaku sebagai Ibu Kota Negara Indonesia.
“Mungkin orang-orang tidak akan melirik di sini (Kecamatan Sepaku), tapi alhamdulillah berkat doa warga Sepaku dan masyarakat sekitar, wilayah ini terpilih menjadi Ibu Kota Negara Indonesia,” tambah Prof Haris.
Pada kesempatan itu pula Prof Harisudin berpesan agar pengurus NU mempunyai bekal yang cukup. Salah satunya memahami pilar NU.
“Pilar NU itu harus dipahami. Yaitu fikrah nahdliyah, harakah nahdliyah, dan amaliyah hahdliyah. Pengurus NU harus memiliki tiga hal ini sebagai bekal pengetahuan dalam menjalankan organisasi NU,” ujarnya yang juga Dekan Fakultas Syariah UIN KHAS Jember.
Sementara itu, tugas jam’iyyah NU, lanjut Prof Haris. Juga tidak kalah penting untuk turut dipahami, khususnya bagi para pengurus ranting NU Se-Kecamatan Sepaku yang baru dilantik tersebut.
“Sebagai jam’iyyah, juga penting untuk memahami tugas jam’iyyah NU. Yaitu tugas diniyah, wathaniyah dan ijtimaiyah,”jelasnya.
Hadir dalam acara tersebut PC NU Penajem Paser Utara, MWC NU Kecamatan Sepaku, 15 Ranting NU Se-Kecamatan Sepaku Kabupaten Penajem Paser Utara, Muslimat, Fatayat, Ansor, Camat, Polsek dan Danramil.
Media Center Darul Hikam – Memiliki keterbatasan biaya bukanlah sebuah penghalang untuk mewujudkan mimpi sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, kini pemerintah dan berbagai lembaga swasta sangat mendukung pendidikan di Indonesia yakni dengan memberikan berbagai macam beasiswa menarik kepada seluruh pemuda di Indonesia. Meraih beasiswa adalah dambaan setiap orang. Namun, persiapannya untuk mendapatkan beasiswa tidak dengan waktu sebentar dan membutuhkan kerja keras.
Bincang mengenai beasiswa Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Jember menggelar talkshow beasiswa dan launching kelas beasiswa PMII Jember dengan tema “Prepare Yourself To Get A Scholarship” bertempat di Aula Ikatan Keluarga Alumni (IKA) PMII Jember, minggu (5/12). Tujuan diadakan acara ini ialah untuk memberikan wadah kepada kader PMII Jember untuk bisa mendapatkan beasiswa sesuai yang diminatinya.
Acara tersebut turut mengundang pemateri hebat dari IKA PMII diantaranya H. Muhammad Nur Purnamasidi, Satya Hangga Yudha W P, B.A. (Hons), Msc, Prof. Dr. M. Noor Harisuddin, M.Fil.I, dan Imam Malik Riduan.
Satya Hangga Yudha W P, B.A. (Hons), Msc, sebagai pemateri pertama yang merupakan Sekretaris Jenderal Asosiasi Penerimaan beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) menyampaikan bahwa bicara beasiswa tentu banyak sekali peluang beasiswa baik ke luar negeri maupun dalam negeri, “Kepada temen-temen tetap semangat, termotivasi dan impelementasi untuk mengeksekusi apa yang sudah disampaikan,” tuturnya pada saat closing statement materi pertama.
Prof. Dr. M. Noor Harisuddin, M.Fil.I. sangat mengapresiasi acara ini karena merupakan acara keren yang bisa membawa kader-kader PMII mendapatkan beasiswa sesuai yang dimpi-impikannya. Sebagai pemateri kedua Prof Haris menyampaikan mengenai beberapa kualifikasi atau trik-trik untuk bisa mendapatkan beasiswa diantaranya ialah: Pertama, mempunyai intelektual tinggi sebagai modal dasar. Kedua, sejak awal sudah mempersiapkan diri untuk menguasai bahasa Arab, Inggris maupun Cina. Ketiga, menyiapkan bukti bahwa memiliki kompeten dalam bidang yang ingin digeluti dengan IPK yang standar minimal 3 atau 3,5. Keempat, mencari dan membaca website-website informasi terkait beasiswa-beasiswa.
“Adapun trik secara khusus yakni persiapkan diri dan baca peluang,” tambah Ketua Harian ADP PB IKA PMII 2021-2026 tersebut.
Selanjutnya, menyambung dari materi mengenai trik atau kualifikasi dalam mendapatkan beasiswa Imam Malik Riduan sebagai pemateri ketiga pada acara talkshow kali ini menyampaikan mengenai, “Kemana beasiswa membawa anda?” Riduan mengakui bahwa pengalamannya dengan sebagai penerima beasiswa 5000 doctor membawanya menemukan banyak pengalaman baru.
“Pertama, eksposur dari internasional untuk bertemu dengan para ahli. Kedua, menyelami kebudayaan global dan menyuarakan apa yang kita miliki di Indonesia. Selanjutnya yang ketiga, beasiswa membawa kita untuk bersenang-bersenang,” jelasnya.
“Beasiswa ini sesuatu yang susah tapi bisa dijangkau, beasiswa perkara yang sangat menantang tapi bisa diselesaikan tergantung pada upaya serta kemauan keras kita untuk mengejarnya,” tambah Imam Malik Riduan Ph. D Candidat of western Sydney University, Australia.
Kemudian H. Muhammad Nur Purnamasidi sebagai pemateri terakhir menyampaikan mengenai pengelolaan anggaran pendidikan oleh Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sebesar 20%.
“Beasiswa bisa diraih bukan oleh mereka yang memiliki power tetapi oleh mereka yang sadar akan perubahan,” tutur Anggota DPR RI Komisi x tersebut.
Khotijah, S.T. selaku moderator juga menyampaikan harapannya untuk para kader PMII Jember agar serius dalam mengikuti pengawalan kelas beasiswa ini yakni dengan berlari dan berinovasi mengejar ketertinggalan dalam aspek akademik sehingga kader PMII kedepan dapat mendapatkan beasiswa sesuai apa yang sudah menjadi cita-cita dan keinginan para kader-kader PMII Jember.
Pakar fikih perempuan perbandingan mazhab asal Indonesia Prof Hj Huzaemah Tahido Yanggo berpulang ke rahmatullah pada Jumat (23/7) pukul 06.10 WIB di RSUD Banten. Pakar perempuan yang juga Dewan Pakar Pimpinan Pusat Muslimat NU itu meninggal dunia pada usia 75 tahun.
Prof Hj Huzaemah merupakan sosok perempuan yang aktif di pelbagai macam organisasi dan aktif menulis tentang fikih perempuan kontemporer.
Semasa hidupnya, Prof Hj Huzaemah juga menjabat sebagai rektor Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta, guru besar di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta atau UIN Jakarta pada jurusan Magister Pengkajian Islam, Ia juga tercatat sebagai anggota Komisi Fatwa MUI sejak tahun 1987, Dewan Syariah Nasional MUI sejak tahun 2000, dewan pakar Muslimat NU, dan A’wan PBNU.
Prof Hj Huzaemah juga tercatat sebagai perempuan pertama yang berhasil meraih gelar doktor dengan predikat cumlaude dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir tahun 1981.
Tidak hanya itu, Prof Hj Huzaemah kerap menyikapi soal perempuan yang dipandangnya harus kuat terhadap dua hal, yakni modern dan tradisional. Ia mengartikan bahwa perempuan dalam llingkup modernitas harus mampu merespons perkembangan zaman, namun tetap berpijak pada tradisi.
Kabar duka wafatnya Prof Hj Huzaemah ini juga disampaikan oleh tokoh NU Nadirsyah Hosen atau Gus Nadir melalui akun Twitter pribadinya.
“Kabar duka: Prof Dr Hj Huzaemah Tahido Yanggo wafat dalam usia 74 th karena Covid. Rektor Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta,” tulis Gus Nadir.
Kepala Asrama Pesantren IIQ Ustadz Abdur Rosyid menyampaikan, jenazah sedang diurus di rumah sakit. Jenazah akan dishalatkan terlebih dahulu di masjid, asrama Pesantren IIQ, Pamulang, Tangerang Selatan.
“Insya Allah nanti dishalatkan dulu di masjid IIQ sini. Sekarang jenazah sedang diurus,” kata Ustadz Rosyid.
Rabu 16/09 Fakultas Syariah IAIN Kudus mempersembahkan Seminar Nasional Online bertajuk “Dinamika Hukum Islam di Indonesia” yang dilaksanakan secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting. Acara berlangsung dari pukul 09.00-12.00 WIB yang diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai penjuru kota di Indonesia.
Narasumber pada acara tersebut, Prof. Dr. Muhammad Noor Harisudin, M.Fil.I. selaku Guru Besar IAIN Jember, Dr. H. Mundakir, M. Ag., selaku rektor IAIN Kudus, dan Narasumber terakhir, Dr. H. Amran Suadi, SH, M.Hum., selaku Ketua Kamar Peradilan Agama Mahkamah Agung Republik Indonesia.
Acara tersebut dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, kemudian dilanjutkan ke acara inti yakni Seminar Nasional yang dimoderatori oleh Dr. Any Ismayawati, SH, M.Hum., selaku Dekan Fakultas Syariah IAIN Kudus.
Sesuai dengan tema, jika berbicara mengenai dinamika hukum Islam di Indonesia, terdapat beberapa hal yang wajib yang perlu diperhatikan. Yang pertama adalah mengenai posisi hukum Islam itu sendiri, dalam arti syariah (fiqh). Kemudian posisi kedua adalah kita hidup di Indonesia. Di Indonesia Islam punya kekhususan tersendiri, punya khittah tersendiri yakni ”sulhu Hudaibiyah” atau biasa disebut dengan perjanjian damai Hudaibiyah antara umat Islam dengan kafir di masa Nabi Muhammad. Artinya, Indonesia bukanlah negara Islam, bukan negara khilafah, yang bukan berazazkan hukum Islam tertentu, tapi inilah negara yang disebut dengan “darul ahdi”, atau “darul mitsaq”, yaitu negara konsensus yang bersama-sama membangun bangsa, di mana Pancasila menjadi dasarnya dan yang penting adalah umat Islam bisa menjalankan syariat agamanya dengan sebaik-baiknya. Sebagaimana dijamin dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 29 ayat 1 dan 2. Jadi, tidak bisa jika semua hukum Islam dari luar negeri diambil dan diterapkan di Indonesia.
“Karena itu saya sepakat dengan Prof. Mahfud yang mengatakan bahwa negara tidak memberlakukan hukum salah satu agama,” ujar Prof. Haris yang juga Ketua Umum Asosiasi Penulis dan Peneliti Islam Nusantara Seluruh Indonesia.
Berbicara mengenai skema hukum Islam, hukum Islam ternyata dibagi menjadi dua bagian, yakni ibadah mahdlah dan Non-ibadah mahdlah. Yang termasuk dalam ibadah mahdlah adalah sholat, puasa, haji. Sedangkan Non-ibadah mahdlah adalah muamalah, ahwalus syakhsiyah, jinayah, siyasah, dan Qadla atau penyelesaian pengadilan.
Lain halnya dengan skema hukum Islam dan perubahan sosial, dimulai dari fakta-fakta, konsep, ‘illat hukum dan diktum hukum/fatwa. Jadi, jika ada fakta-fakta yang berubah maka nanti hukum di atasnya juga akan berubah. Misalnya saja Nahdlatul Ulama (NU) dulu pada tahun 30-an pernah menetapkan bahwa sunnah hukumnya menyalakan petasan di malam ramadhan sebagai juga bentuk syiar yang dianjurkan. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, pada tahun 1999 hukum itu menjadi berubah status yakni “haram” karena menimbulkan mudharat yang besar yakni dapat membuat seseorang terluka dengan petasan yang ukurannya besar. Dari sini dapat diketahui bahwa ada hukum Islam yang berubah dan ada hukum Islam yang tidak berubah.
Perubahan-perubahan dalam hukum Islam tadi, dapat diperoleh dengan cara ijtihad. Ijtihad adalah metode agar hukum Islam dapat selalu hidup dan bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Seseorang yang melakukan ijtihad disebut dengan mujtahid. Ijtihad yang sesuai untuk zaman saat ini adalah ijtihad jama’I, yakni ijtihad yang disepakati oleh mujtahid dalam satu masalah. Ijtihad ini juga berdasar pada ilmu pengetahuan dan teknologi.
Bentuk dinamika hukum Islam dapat dilihat dari beberapa faktor, diantaranya dari kelembagaan, Rechtvinding dalam putusan Hakim pengadilan agama, regulasi dan Undang-Undang, perdebatan wacana pemikiran pembaharuan Hukum Islam, penelitian dan kajian hukum Islam yang selalu update.
“Untuk menjadi tokoh penegak hukum yang baik, harus ditata dulu akidahnya. Karena jika akidahnya baik, maka ibadah dan akhlaqnya juga akan baik,” ujar Dr. H. Mundakir, M. Ag., saat ini menjabat sebagai rektor di IAIN Kudus. Karena sesungguhnya saat ini yang dibutuhkan adalah bagaimana orang-orang yang taat hukum bisa menjalani syariat dengan baik. Maka insyaalah akan lahir orang-orang islam yang teguh menjalankan hukum sesuai syariat Islam.
Dialektika hukum Islam diwujudkan dalam dua hal; living laws dan positif laws. Living laws adalah hukum Islam yang hidup di tengah-tengah masyarakat, diajarkan di perguruan tinggi, pesantren, juga madrasah dan didiskusikan oleh lembaga ijtihad masing-masing organisasi masyarakat. Sedangkan positif laws adalah hukum Islam yang telah ditetapkan menjadi hukum positif di Indonesia. Misalnya kompilasi hukum Islam, kompilasi hukum ekonomi syariah, dan lain-lain. Bentuk lain positif laws dapat dilihat dari undang-undang yang sesuai dengan Maqashidus Syariah. Misalnya undang-undang lalu lintas, undang-undang pemilu, dan sebagainya.
Jadi, bisa saja keputusan antara organisasi masyarakat satu dengan organisasi masyarakat lain bisa saling berbeda. Misalnya saja kemarin saat bulan Ramadan, untuk pelaksanaan salat Id bisa tidak bersamaan. Jadi jangan heran dengan perbedaan pendapat. Contoh lain jika ada perbedaan madzab yang dianut seseorang. Demikian tidak bersifat mengikat.
Terdapat empat faktor penyebab dinamika hukum Islam, yakni bergantungnya bandul politik hukum penguasa, pergerakan pembaharu dan pemikirannya di Indonesia, berdirinya lembaga-lembaga baru, dan perubahan sosial yang demikian cepat.
Untuk mengetahui perkembangan hukum Islam di Indonesia dapat dilihat ketika pengadilan agama mempunyai kewenangan yang lebih luas, yang semula hanya mewakili permasalahan cerai, kemudian sudah mulai meluas ke masalah wakaf, waris, bisnis syariah, dan sudah sangat luas.
“Gambaran dinamika hukum Islam di Indonesia sudah semakin membaik, tinggal bagaimana para alumni PTKIN membuat perkembangan dirinya,” pungkas Dr. H. Amran Suadi selaku Ketua Kamar Peradilan Agama Mahkamah Agung Republik Indonesia. Karena sasaran sangat banyak sekali bagi alumni Fakultas Syariah, hakim dilingkungan peradilan agama sekarang masih terbatas. ini dapat menjadi peluang emas bagi mahasiswa hukum Fakultas Syariah.
“Saya harap kita semua bisa menjadi pionir untuk membumikan hukum Islam, permasalahan hidup selalu ada dan tidak bisa kita abaikan, dan hukum yang adil itu ketika memang sesuai norma-norma kehidupan,” ungkap Dr. Any yang juga sebagai Dekan Fakultas Syariah IAIN Kudus.
“Closing statement dari saya, ingatlah bahwa tidak ada orang yang bodoh di dunia ini, yang ada orang yang tidak mau belajar. Tetap semangat untuk adik-adik Fakultas Syariah,” ujar Prof. Kiai Haris yang juga pengasuh PP. Darul Hikam Mangli Jember dan Wakil Ketua PW Lembaga Dakwah NU Jawa Timur tersebut.
Usianya masih muda, berumur 40 tahun. Namun semangat mencari ilmu dan mengabdi lebih panjang dari usianya. Sebab, Ia mampu menjadi profesor termuda di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).
Sekarang, M Noor Harisudin, pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli itu sudah menjadi guru besar di bidang ushul fiqh. Pria kelahiran Demak itu ditetapkan menjadi profesor ketika masih berumur 39 tahun. Tentu saja, butuh perjalanan panjang bagi Haris untuk mencapainya.
“Ini semua berkah mengabdi di NU dan pesantren,”katanya. Baginya, mengabdi menjadi panggilan jiwa yang tidak bisa ditinggalkan. Bahkan walau harus mengorbankan materi dan non materi. Pengabdiannya itu terinspirasi dari para kiai yang telah berhasil mendidiknya.
Prof Haris merupakan putra ketiga dari enam bersaudara pasangan HM Asrori dan Hj. Sudarni. Kedua orang tuanya mendidik Haris dengan ilmu agama. Kemudian dilanjutkan dengan mencari ilmu pada para kiai Demak. Mulai dari Kiai Hamdan, Kiai Umar, Kiai Fadlol, dan lainnya.
Saat itu, dia menempuh pendidikan di MI Sultan Fatah tahun 1984-1990. Lalu di bangku MTs NU Demak tahun 1990-1993. Semangatnya mencari ilmu terus membara, dia menjadi santri di Pondok Salafiyah Kajen Margoyoso Pati Jawa Tengah pada 1993-1996.
“Di pondok itu saya juga sekolah Madrasah Aliyah Salafiyah Kajen,” ujarnya. Disana, Haris menimba ilmu pada kiai alim, seperti Kiai Sahal Mahfudz, Mbah Dullah Salam, Kiai Muhibbi, Kiai Faqihudin, Mbah Wahab, Kiai Asmui, Kiai Masrukin.
Tak selesai disitu, haris terus merasa haus dengan ilmu. Dia melanjutkan pengembaraannya ke Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Disana, dia melanjutkan kuliah di Fakultas Syariah pada tahun 1996-2000 sekaligus kuliah di Ma’had Aly Situbondo.
Disana, dia belajar banyak hal pada para kiai sepuh seperti alm KH. Muchith Muzadi, KH. Afifudin Muhajir, alm KH. Hasan Abdulwafi, alm KH. Wahid Zaini, Prof. Sjehul Hadi Permono SH, MA, KH. Hariri Abdul Adzim, Prof. KH. Said Agil Siraj, MA, Prof. KH. Said Agil Munawar, MA, KH. Dailami, KH. Maksum, KH. Muhyidin Khotib, Ust. Imam Nakhoi, MA dan lainnya.
Haris belajar tentang keragaman ilmu dari masing-masing kiai tersohor di pesantren. Dari KH Maimun Zubair belajar Ushul Fiqh, dari alm KH Muchit Muzadi belajar cara bermasyarakat,. “Semua kiai punya spesifikasi sendiri,” ujarnya.
Setelah itu, Haris melanjutkan S2 dan S3 pada tahun UIN Sunan Ampel Surabaya. Di kampus inilah, dia dilatih menjadi akademisi yang tidak pernah berhenti menulis. Dia belajar pada Prof. Ridwan Nasir, MA, Prof. Masdar Hilmi, Ph.D, Dr. KH. Ahmad Imam Mawardi, MA, Prof Toha Hamim, Ph.D, Prof. Nur Syam, M.Si, Prof Bisri Efendi, MA, Prof. Ahmad Zahro, MA dan sebagainya.
Meskipun memiliki kesibukan yang cukup padat, suami dari Robiatul Adawiyah ini selalu mengabdikan dirinya untuk umat. Dia menjadi pengasuh di Pondok Pesantren Darul Hikam Mangli Jember. Sebagai Katib Syuriyah PCNU Jember (2014-2019), Sekretaris YPNU Jember yang menaungi Universitas Islam Jember (2015-2020).
Kemudian, Wakil Ketua Lembaga Ta’lif wa an-Nasyr PWNU Jawa Timur (2013-2018), Wakil Ketua Lembaga Dakwah NU Jawa Timur (2018-2023), dan Wasekjen Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (2017-2021).
Selain itu, dia juga merupakan penulis produktif. Sampai sekarang sudah mengarang sekitar 20 buku, dua jurnal internasional terindeks bereputasi, sepuluh jurnal terakreditasi dan tiga puluh lebih jurnal berskala nasional.
Pencapaian menjadi guru besar itu bukan titik akhir. Namun tahap awal untuk terus mengabdikan diri pada masyarakat yang lebih luas. Tak hanya di tingkat nasional, namun juga internasional.
Sebarkan Fiqh Nusantara ke Dunia Internasional
Disela mengajar mahasiswa dan para santrinya, Prof Haris juga kerap mengisi pengajian di berbagai majelis taklim hingga mengisi di luar negeri, seperti Taiwan. Materi yang disampaikan tentang fiqh nusantara.
Awal Januari 2018 lalu, dia berangkat ke Taiwan memenuhi undangan para PC Istimewa NU Taiwan. Disana, dia berdakwah pada para TKI dan menerangkan tentang fiqh nusantara. Cara mengatasi persoalan yang dialami oleh para buruh migran.
Hari ini, Haris dikukuhkan sebagai guru besar ilmu ushul fiqh di Gedung Kuliah Terpadu (GKT) IAIN Jember. Dia menyampaikan makalah berjudul fikih nusantara: metodologi dan kontribusinya pada penguatan NKRI dan pembangunan sistem hukum di Indonesia.
Haris mengatakan Fiqh nusantara itu merupakan fiqh Indonesia. Term kembali menguat dalam Muktamar Nahdlatul Ulama ke-33 di Jombang Jawa Timur. Tema yang diangkat tentang Islam Nusantara yang di dalamnya terdapat Fikih Nusantara.
“Namun secara faktual saya belum menjumpai diskusi yang serius tentang Islam Nusantara, apalagi Fikih Nusantara. Aroma politik yang demikian kuat pada saat Muktamar mengakibatkan wacana Islam dan Fikih Nusantara menjadi terpinggirkan,” paparnya.
Pasca Muktamar, terma ini menjadi perbincangan yang menarik secara akademik, di dalam dan luar negeri. Prof Haris sebagai ahli ushul fiqh juga menjadikan fiqh nusantara sebagai kajian. Dia membawanya dalam berbagai kajian di dalam hingga luar negeri.
Bahkan ketika diminta menjadi pemateri seminar nasional hingga internasional. Haris menyampaikan materi tentang Fiqih Nusantara pada para peserta. Memperkenalkan bahwa Islam Nusantara merupakan contoh Islam Rahmatan lil alamien.
(Ditulis oleh Bagus Supriyadi, Wartawan Jawa Pos Radar Jember, 18 Nopember 2018)
Katib Syuriyah PCNU Jember Kiai MN. Harisudin mengajak warga Jember untuk mensucikan hati dalam rangka menyambut Lailatul Qadar. Karena, menurut Kiai Harisudin hanya mereka yang berhati bening dan suci yang mampu mendapatkannya.
Demikian disampaikan Kiai MN Harisudin yang juga dosen pascasarjana IAIN Jember di hadapan kurang lebih 600 jama’ah Masjid Raudlatul Mukhlisin Kaliwates Jember. Pengajian menjelang buka puasa, Senin (29/5) yang dimulai jam 16.30 WIB sampai menjelang berbuka puasa.
Masjid Raudaltul Mukhlisin yang diresmikan oleh Rais ‘Aam PBNU, KH Ma’ruf Amin pada Senin, 15 Mei 2017 ini sendiri menjadi destinasi wisata religi yang menjadi ikon kota Jember. Banyak pengunjung dari berbagai luar kota yang menyempatkan diri untuk datang ke masjid dengan desain mirip Masjid Nabawi kota Madinah tersebut.
Di masjid ini, Kiai Harisudin mengajak jama’ah untuk biasa-biasa saja puasa, yaitu agar tidak seperti yang dikritik Nabi Muhammad Saw. “Rubba shaimin laisa lahu minshiyamihi illal ju’a wal athas. Banyak sekali orang yang berpuasa, tapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga”.
Menurut Kiai Pengasuh Program Bengkel Kalbu Ponpes Darul Hikam Jember ini, puasa yang tidak biasa-biasa adalah dengan puasa hati.
Setidaknya ada dua puasa hati yang dilakukan. Pertama, puasa hati dari membenci. Dengan puasa ini, Kiai Harisudin menganjurkan jama’ah agar tidak membenci orang lain. “Orang yang baik adalah orang yang cepat melupakan kesalahan orang lain. Demikian juga, orang yang baik adalah orang yang selalu ingat kesalahan dirinya. Dengan cara ini, kita meminimalisir kebencian sesama. Karena tidak ada satupun orang yang sempurna dan tidak ada seorang pun yang tidak memiliki kesalahan,” tukas Wakil Ketua PW Lembaga Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur tersebut seraya mencontohkan Abu Bakar yang menghilangkan kebencian terhadap Mitstah bin Utsatsah (saudaranya) karena ikut memprovokasi warga Madinah menuduh Siti Aisyah berzina dengan Shofwan bin Mu’atthal.
Kedua, puasa dengan mengendalikan amarah. Kiai Harisudin menyebut hadits yang menceritakan teguran keras Rasulullah Saw. pada seorang sahabat yang marah-marah pada seorang budaknya. “Batalkan puasa kamu,” pinta Rasulullah Saw. Bagi Kiai yang juga pengurus Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Jember ini, hadits ini menjadi inspirasi untuk mengendalikan emosi di saat puasa Ramadhan. Apalah artinya puasa kalau emosi tetap membelenggunya.
Wakil Ketua Lembaga Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur
Katib Syuriyah NU Jember
Ketua Bidang Intelektualitas dan Publikasi Ilmiah IKA-PMII Jember.
Pengurus Majlis Ulama Indonesia Kabupaten Jember
Setiap kali memasuki sepuluh hari kedua puasa, kita dipertontonkan dengan ironi pesta-pora puasa. Puasa yang semestinya untuk mengendalikan, justru malah meningkatkan libido nafsu konsumerisme. Lihatlah dengan seksama, pesta pora yang mewujud dalam jubel ramainya orang melakukan buka bersama di rumah makan dan restoran. Mall dan pusat perbelanjaan yang menjadi jujugan banyak umat Islam dalam menghabiskan milyaran bahkan triliunan rupiah. Antrian panjang berbagai makanan menjelang buka puasa menjadi pemandangan yang tidak luput dari pengamatan keseharian kita.
Puasa yang sejatinya menjadi media untuk mengendalikan nafsu, tiba-tiba menjadi pembiakan nafsu sehingga alih-alih terkendali, justru nafsu malah menjadi liar tak terkendali. Puasa yang semestinya berjalan dalam suasana hening menjadi hiruk pikuk konsumerisme manusia. Ritus konsumerisme ini seperti menjadi bagian yang tak terpisahkan dari puasa. Ada tontonan kemewahan, kesenangan, kepuasan diri, gengsi dan citra diri dalam ritus konsumerisme. Apalagi, demikian ini juga terkait dengan kesuksesan manusia mencapai “pangkat, jabatan dan kedudukan terhormat”, ketika pulang kampung dengan membawa oleh-oleh hasil olah konsumerisme yang sangat melimpah-ruah tersebut.
Konsumerisme sebagai gaya hidup yang boros ini secara faktualditopang oleh kehadiran materialisme dan hedonisme. Jika materialisme adalah aliran yang memuja benda dan berfokus pada benda, maka hedonisme adalah sebentuk gaya hidup yang menyandarkan kebahagiaan pada kenikmatan belaka. Lihatlah, takaran makan orang yang tiba-tiba dua kali lipat atau bisa jadi lebih daripada hari biasa di malam hari Ramadlan. Pada ghalibnya, sikap ini merupakan aksi “balas dendam” terhadap penderitaan puasa di siang hari dengan keadaan berlapar-lapar yang sangat.
Mengabaikan Subtansi Puasa
Banyak sekali orang yang berpuasa, ia tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga. Demikian bunyi hadits Nabi Saw. yang sering diceramahkan para kiai, ustdaz, dan ustadzah di bulan Ramadlan. Namun sayangnya, hadits ini malah dipakai sebagai justifikasi bahwa realitas masyarakat yang berpuasa dengan gaya hidup konsumerisme ini sebagai sunnatullah yang wajar-wajar saja. Artinya, perilaku ini dianggap bukan suatu masalah yang serius untuk dicarikan solusinya. Padahal, hadits ini sesungguhnya berbicara tentang banyak orang berpuasa, namun sesungguhnya ia meninggalkan subtansi puasa.
Subtansi puasa, adalah pengendalian diri. Me-refer pada Yusuf Qardlawi (1991 M), subtansi puasa adalah penghancuran nafsu syahwat manusia (kasru syahawt an-nas). Yusuf Qardlawi juga menyebut subtansi puasa yang lain, yaitu mengubah “nafsu amarah” menjadi “nafsu mutmainnah”. Ulama salaf menyebut subtansi puasa sebagai pensucian terhadap jiwa dan anggota tubuh manusia dari melakukan berbagai kemaksiatan serta dosa.
Ulama salaf lebih memilih berkonsentrasi pada subtansi puasa. Mereka berlomba untuk melakukan puasa yang tidak hanya sekedar tidak makan, minum dan bersenggama. Mereka melakukan ritual “puasa tarekat” dengan meninggalkan berbagai kesenangan duniawi. Orang-orang saleh ini melakukan puasa tarekat dengan menutup anggota tubuh dari berbuat dosa. Mulut, telinga, hidung, pikiran, hati dan semua anggota tubuhnya disucikan dari melakukan berbuat maksiat pada Allah Swt. Sebaliknya, semua anggota tubuhnya didedikasikan pada Allah Swt. sehingga tidak cukup waktu untuk memikirkan konsumerisme.
Kritik Imam Ghazali (t.t) dalam kitab Bidayah untuk tidak memperbanyak konsumsi makan di malam hari harus dilihat sebagai upaya untuk konsentrasi pada subtansi dalam puasa. Bagaimana mungkin, kita makan malam hari puasa dengan takaran yang sama dengan hari tidak puasa atau bahkan bisa lebih. Demikian al-Ghazali mengkritik jamaknya umat Islam yang berpuasa hanya sekedar balas dendam atas siang hari puasa. Jika kritik Ghazali ditarik pada spektrum yang lebih luas, maka muncul gugatan: bagaimana mungkin konsumerisme bisa sangat berlipat-lipat justru di bulan puasa yang mestinya gaya hidup konsumerisme dilipat di sudut pojok kehidupan? Tapi, mengapa justru konsumerisme menguat dan subtansi puasa hilang dalam peredaran kehidupan umat.
Menuju Nilai Kesederhanaan
Nabi Saw. sendiri mencontohkan dengan sempurna kesederhanaan, baik di bulan puasa ataupun luar bulan puasa. Lihatlah kehidupan Rasulullah Saw. ketika berbuka puasa hanya dengan seteguk air putih dan beberapa buah kurma. Dalam beberapa riwayat, juga diceritakan seringkali Nabi Saw. berbuka puasa dengan tidak ada makanan yang cukup. Nabi Saw. juga acapkali puasa sunah ketika Aisyah mengatakan bahwa tidak ada persediaan makanan pada hari itu. Ini semua menunjukkan betapa sederhananya cara Nabi Saw. berpuasa.
Dalam kehidupan sehari-hari, Nabi Saw. juga sangat sederhana. Beliau berpakaian sangat sederhana. Tidak ada kemewahan fashion ala Rasulullah Saw. Demikian juga dengan rumah Nabi Saw. Apalagi, tempat tidur beliau yang sangat jauh dari kemewahan alias sangat sederhana. Ketika seorang perempuan Anshor masuk ke kamar Nabi Saw. bersama Siti Aisyah, betapa kagetnya tempat tidur seorang pemimpin agung Islam tersebut. Air matanya bercucuran melihat tempat tidur Nabi Saw. seraya meminta ijin pada Aisyah untuk mengambil selimutnya yang baru dan mewah untuk diberikan pada baginda Rasul. Namun, anehnya baginda Rasulullah memilih menolak pemberian wanita Ansor ini karena beliau memang ingin hidup sederhana.
Sebagai seorang pemimpin, Nabi Saw. ingin mempertontonkan kesederhanaan dalam segala aspek kehidupan. Kesederhanaan yang bahkan beliau sebut sama dengan kemiskinan. Nabi Saw. seringkali berdoa lirih untuk selamanya menjadi orang miskin. ” Allahuma ahyina miskinan. Wa amitna miskinan. Wahsyurna fi zumratil masakin. Ya Allah, hidupkan aku dalam keadaan miskin. Matikan aku dalam keadaan miskian. Dan kumpulkan kami bersama orang-orang miskin”. Betapa sangat sederhana atau miskinnya beliau, sang pemimpin agung kita. Adakah pemimpin-pemimpin kita yang berani berdoa demikian ?
Inilah yang semestinya kita tuju sebagai umat Muhammad dalam berpuasa. Yaitu dengan menerapkan nilai-nilai kesederhanaan yang kini nyaris hilang dalam gemerlap kemewahan hotel berbintang, mobil mewah, dan hiruk pikuk kehidupan duniawi yang semakin menjauhkan kita dengan Tuhan.
Wallahu’alam. **
Dr. M.N. Harisudin, M. Fil. I
Dosen Pasca Sarjana IAIN Jember
Wakil Ketua Lembaga Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur
Katib Syuriyah NU Jember
Ketua Bidang Intelektualitas dan Publikasi Ilmiah IKA-PMII Jember.
Pengurus Majlis Ulama Indonesia Kabupaten Jember
Alamat: Ponpes Darul Hikam
Perum Pesona Surya Milenia C.7 No. 6 Mangli Kaliwates Jember Jawa Timur.
Secara derivatif, terma Fikih Nusantara yang saya ajukan adalah bagian dari gagasan besar Islam Nusantara. Islam Nusantara, meski baru digemakan dalam Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-33, pada tanggal 1-5 Agustus 2015 di Jombang Jawa Timur, namun secara subtansi sesungguhnya sudah didiskusikan sejak lama. Bahkan, sebagai praksis umat, Islam Nusantara sesungguhnya sudah sejak lama juga menjadi bagian dalam kehidupan umat Islam di Indonesia ratusan tahun yang silam. Islam Nusantara telah menjadi casing umat Islam Indonesia yang memiliki karakter khusus, yaitu Islam yang inklusif, toleran dan juga moderat. Islam Nusantara ini pula yang menjadi magnet bagi umat Islam di seluruh dunia.
Saya ingin mengajak pembaca pada dunia yang lebih kecil dalam Islam Nusantara, dengan apa yang saya sebut sebagai “Fikih Nusantara”. Fikih Nusantara adalah fikih yang dipraktekkan di nusantara, sesuai dengan keadaan realitas nusantara. Adalah Prof Hasbi as-Shidiqi, Guru Besar Hukum Islam IAIN Yogyakarta (sekarang bernama UIN Yogyakarta) yang menyebut pertama kali dengan Fikih Indonesia. Gagasan Hasbi as-Shidiqi dilatari oleh kejumudan fiqh di tahun 1940 yang dirasa tidak bisa memberikan solusi-solusi atas berbagai problematika umat. Meski tidak direspon dengan baik, namun gagasan Hasbi inilah yang dicatat sejarah sebagai tonggak permulaan tentang fikih Nusantara.
Gagasan Hasbi sendiri, dari aspek content, hemat saya, sebetulnya, tidak luar biasa karena pembaruan fiqh Indonesia yang ia tawarkan, sejatinya hanya dalam ruang lingkup mu’amalah. Hasbi tidak berani secara progresif melakukan pembaruan terhadap bidang “ibadah mahdlah” seperti haji, sholat, besaran zakat, puasa dan sebagainya. Pada tahun 1961, Hasbi kembali mengungkapkan gagasan tentang Fikih Indonesia dan baru mendapat sambutan hangat dari masyarakat Indonesia. Tentu, yang luar biasa adalah keberanian Hasbi menyodorkan gagasan Fiqh Indonesia yang dipandang tabu saat itu.
Pada etape selanjutnya, pengaruh pikiran Hasbi sungguh luar biasa. Hukum Islam yang sudah lama “dipinggirkan” mulai untuk ditempatkan ditempat yang terhormat. Semula, dalam tata hukum nasional kita, hukum Islam berada menjadi bagian dari hukum adat, namun setelah ada pikiran Hasbi dan lalu diteruskan oleh pembaharu selanjutnya, Hazairin, menjadikan hukum Islam menjadi elemen yang mandiri dalam hukum nasional. Hukum nasional menjadi terpola dengan tiga elemen penting: hukum Eropa, hukum adat dan hukum Islam. Pada masa orde reformasi, semakin banyak hukum Islam yang menajdi qanun (positif laws) di negara ini seperti Kompilasi Hukum Islam (1991), UU tentang zakat (1999 direvisi 2011), UU tentang Wakaf (2004), UU Perbankan Syari’ah (2008) dan lain sebagainya.
Saya ingin menggaris bawahi bahwa Fikih Indonesia yang ditawarkan Hasbi As-Shiddiqi berdampak sosial sangat luas. Bagaimanapun juga, gagasan Hasbi as-Shidiqi telah menjadi batu bata pertama fikih Nusantara di negeri ini. Hasbi memang membayangkan Fiqh Nusantara seperti Fikih Hijazi, Fikih Hindi dan Fikih Mishri. Dan kini, tejadi percepatan luar biasa atas fikih Nusantara di negeri ini. Fikih Nusantara setidaknya telah mewujud dalam dua bentuk penting sekaligus: living laws (hukum yang hidup) dan positif laws (hukum positif). Keduanya adalah bagian dan kekayaan dari khazanah fikih Nusantara.
Sebagai living laws, fikih Nusantara dapat kita simak bersama dalam musyawarah kitab di pesantren, halaqah Bahsul Masail NU, Majlis Tarjih Muhammadiyah, Dewan Hisbah Persis, Fatwa MUI dan sebagainya, yang kesemuanya menjadi acuan referensi fatwa bagi umat. Sementara itu, sebagai positif laws, kita melihat Fikih Nusantara yang terbakukan dalam regulasi yang ditetapkan pemerintah dan bersifat mengikat bagi seluruh umat Islam. Dalam hukum yang positif laws ini, berlaku kaidah fikih: hukmu al-hakim yulzimu wa yarfaul khilafa. Keputusan hakim bersifat mengikat dan menghilangkan perbedaan pendapat.
Fikih Nusantara ini secara metodologis dapat dipertanggungjawabkan karena ditopang minimal oleh tiga dalil utama, yaitu istihsan, maslahah mursalah dan ‘urf. Jika istihsan adalah menganggap baik apa yang dianggap baik oleh mayoritas muslim, dan maslahah mursalah merupakan maslahah yang tidak diperintah maupun dilarang langsung oleh syara’, namun mengandung dimensi kemanfaatan yang nyata dan bersifat luas, sementara ‘urf adalah tradisi yang telah berurat akar dalam masyarakat luas. Ketiga dalil ini, memperkokoh basis epistemologis Fikih Nusantara, menjadi fiqh yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Dari aspek produk, ulama Nusantara juga telah banyak memproduksi Fikih Nusantara. Misalnya, tradisi Halal bi Halal yang hanya ada di Indonesia. Ghalibnya, di berbagai Negara Timur Tengah, yang ramai adalah hari raya Idul Adha. Namun, di Indonesia, justru yang sangat ramai adalah Idul Fitri yang selanjutnya diteruskan dengan acara Hari Raya Ketupat dan juga acara Halal bi Halal. Para ulama Nusantara juga menunjukkan kreasi “ukuran aurat” dengan tidak menggunakan hijab ‘ala Timur Tengah. Ini dibuktikan dengan baju muslimah Nusantara para Ibu Nyai tokoh-tokoh besar Islam seperti istri KH. Hasyim Asy’ari, istri KH. Ahmad Dahlan, istri Buya Hamka, istri H. Agus Salim dan lain sebagainya. Baju muslimah Nusantara kini dapat kita lihat pada Ibu Shinta Nuriyah Wahid, istri alm. KH. Abdurrahman Wajid, Presiden RI yang keempat.
Produk lain Fikih Nusantara yang bahkan telah ditetapkan sebagai qanun dalam Kompilasi Hukum Islam adalah harta gono-gini. Harta gono -gini merupakan harta bersama suami-istri setelah menikah. Dalam KHI disebutkan bahwa, harta waris akan dibagi setelah harta gono-gini suami istri dibagi berdua. Jika seorang suami meninggal misalnya dengan uang 100 juta, maka dibagi untuk istri 50 juta dan suami 50 juta. Uang 50 juta suami inilah yang dibagi pada para ahli waris. Model Fikih Nusantara dalam harta gono-gini seperti ini merupakan lompatan yang luar biasa dibanding dengan Fikih Konvensional yang ada dan dipraktekkan di banyak negara Islam, terutama Timur Tengah.
Walhasil, Fikih Nusantara adalah fiqh yang telah built-in dan mengakar dalam kehidupan Muslim nusantara. Fikih ini akan terus tanpa henti melakukan “perubahan” sesuai dengan tuntutan zaman sebagaimana kaidah Fikih: Taghayyurul ahkam bi taghayuril azminati wal amkinati. Perubahan hukum bergantung pada perubahan zaman dan tempat. Jika realitas-realitas berubah, maka hukum akan menyesuaikan dengan perubahan realitas tersebut. Hanya saja, perubahan dimaksud adalah perubahan pada selain “ibadah mahdlah”. Karena pada dimensi ibadah mahdlah ini, sudah harga mati, tidak bisa diotak-atik dan bersifat sepanjang masa.
Kabar duka menyelimuti warga Nahdlatul Ulama khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. KH. Abd. Muchit Muzadi, seorang “kamus berjalan”, “laboratorium” atau bahkan “begawan” Nahdlatul Ulama meninggal dunia, pagi Ahad, 6 September 2015 di Malang. Meski meninggal di Malang, seperti wasiatnya ke keluarga, beliau ingin dimakamkan di Jember, bersebelahan dengan istri beliau, almarhumah Hj. Faridah, di pemakaman umum Jember. Kiai yang meninggal di usia hampir 90 tahun ini telah banyak memberikan andil baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di tanah air tercinta. Kiai Muchit sendiri termasuk santri terakhir Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, seorang ulama yang sangat dihormati di kalangan Nahdlatul Ulama.
Dalam tulisannya di Majalah Tempo, pada 5 April 1980, dulu Gus Dur pernah menggambarkan sosok unik kiai Muchit ini dengan sangat menarik. “Orangnya peramah, tapi lucu. Raut wajahnya sepenuhnya membayangkan ke-kiai-an yang sudah mengalami akulturasi dengan “dunia luar”. Pandangan matanya penuh selidik, tetapi kewaspadaan itu dilembutkan oleh senyum yang khas. Gaya hidupnya juga begitu. Walaupun sudah tinggal di kompleks universitas negeri, masih bernafaskan moralitas keagamaan…”. Gus Dur menyebut Kiai Muchit dengan Kiai Nyentrik karena beliau berani menyuarakan kebenaran, meskipun harus dicaci maki oleh kaumnya sendiri. Gus Dur juga menyebutnya ulama-intelektual karena selain alim agama, juga karena Kiai Muchit mengajar di beberapa perguruan tinggi umum.
Kiai Muchit memang tidak pernah tampil di muka. Kiai Muchit selalu menjadi tokoh di balik layar berbagai peristiwa penting. Misalnya ketika Nahdaltul Ulama memutuskan untuk kembali ke Khittah 1984, beliau adalah aktor yang sangat berperan menyusun rumusan naskah Khittah NU. Tanpa urun-rembug naskah tersebut, dapat dibayangkan betapa sulitnya memberikan pemahaman pada muktamirin di Situbondo tersebut. Demikian juga dengan rumusan penerimaan Pancasila, beliau juga ikut terlibat aktif di Muktamar NU 1984 yang berujung pada terpilihnya KH. Abdurrahman Wahid dan KH. Ahmad Shidiq sebagai Ketua Tanfidziyah dan Rois ‘Am Syuriyah PBNU masa bakti 1984-1989.
“Kiai”-nya Anak Muda
Kiai Muchit termasuk tokoh idola anak muda NU. Ketika arus pembaruan terjadi besar-besaran di tahun 80-an, bersama Gus Dur Kiai Muchit adalah kiai yang ada di garda terdepan membela pikiran anak-anak muda NU. Pikiran liar dan nakal anak-anak muda NU seperti tercermin dalam berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat seperti LKiS Yogyakarta, eLSAD Surabaya dan PP Lakpesdam NU di Jakarta ‘tetap diakomodasi’ oleh Kiai Muchit, meski kerapkali pikiran liberal anak-anak muda ini telah “memerahkan” telinga banyak para kiai NU. Kiai Muchit harus vis a vismenjelaskan pada para kiai bahwa anak-anak muda ini kelak juga akan “kembali baik” lagi.
Kiai Muchit juga menunjukkan perhatian yang lebih terhadap anak muda di atas rata-rata umumnya kiai. Tak heran jika di usia yang sudah 70-an lebih, beliau masih bersemangat memberi “arahan” dengan berbagai pelatihan, halaqah, workshop, sekolah atau apalah namanya terhadap anak-anak muda NU. Seperti tidak kenal lelah, kalau yang mengundang anak-anak muda NU, Kiai Muchit siap hadir kapan saja dan dimana saja. Di level paling rendah pun tingkat desa, Kiai Muchit selalu menyatakan siap hadir menemani anak-anak muda itu. Sekalipun hanya duduk sebentar, Kiai Muchit selalu menyempatkan untuk hadir sebagai bentuk support terhadap berbagai aktivitas anak muda ini.
Menjadi sebuah kewajaran jika kemudian, diantara tokoh yang sering disebut-sebut namanya oleh anak muda NU, adalah Kiai Muchit. Di berbagai pertemuan, nama Kiai Muchit masih sering menjadi main of reference anak muda. Anak-anak muda NU yang kadang hanya ingin bersilaturrahim juga sangat mudah bertemu beliau di kediamannya di Jember ataupun Malang menerima wejangan-wejangannya yang teduh dan menyejukkan. Tidak salah, jika darah anak muda terkena energi positif Kiai Muchit. Kendati sering diidolakan anak muda, Kiai Muchit juga dikenal mudah diterima oleh semua kalangan: bapak-bapak, ibu-ibu muslimat, dan sebagainya karena komunikasi Kiai Muchit yang mengalir dan mengucur deras sesuai dengan alam pikir mereka.
“Melampaui” NU-Muhammadiyah
Lebih dari itu, Kiai Muchit adalah tokoh NU yang bisa diterima oleh kalangan apapun, termasuk Muhammadiyah. Demikian ini karena beliau memiliki pemahaman yang utuh dan komprehensif tentang Muhammadiyah yang menyebabkan pemikiran beliau cenderung bersikap inklusif dan juga toleran. Dalam sebuah acara seminar dengan Prof. Amin Rais, MA di Surabaya, Kiai Muchit sembari gurau pernah berkelakar sedikit menantang Mantan Ketua MPR RI tersebut: “Pak Amien. Ayo, lebih banyak mana buku tentang Muhammadiyah yang saya miliki dengan buku tentang Nahdlatul Ulama yang bapak miliki”.
Memang, sepengetahuan penulis, kiai NU yang memiliki banyak buku Muhammadiyah adalah Kiai Muchit. Hampir semua buku tentang Muhammadiyah, beliau punya dan beliau baca. Buku-buku yang lain seperti Persis, al-Irsyad, Perti dan sebagainya juga beliau baca. Bahkan, ketika ada seorang kiai memprotes beliau karena buku Syiah yang dibacanya, dengan mudahnya beliau menjawab: “Bahkan komik Jepang pun saya baca. Anda tahu kan, kalau orang Jepang beragama Shinto yang menyembah matahari”. Walhasil, hampir semua buku, beliau baca karena bagi beliau, dengan membaca, kita akan terbuka cakrawala berpikir, serta menjadi luas, luwes dan juga memiliki kepribadian yang inklusif.
Jauh sebelum KH. Ahmad Shidiq (Rais ‘Am PBNU 1984-1991) mengusulkan Trilogi Ukhuwah: Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Wathaniyah dan Ukhuwah Basyariyah, Kiai Muchit sudah melaksanakan ‘ukhuwah Islamiyah’ itu sendiri. Tak pernah sedikit pun, Kiai Muchit secara ofensif menyerang paham keagamaan yang kebetulan berbeda aliran dengan Kiai Muchit. Bahkan, khusus tentang Muhammadiyah, Kiai Muchit lebih sangat hati-hati karena beliau juga tidak mau “menyakiti” perasaan istri beliau yang berasal dari keluarga Muhammadiyah. Meskipun pada akhirnya, Ibu Hj. Faridah Muchit sendiri memilih menjadi bagian keluarga besar Nahdlatul Ulama dan bahkan pernah menjadi Pengurus Cabang Muslimat NU Jember.
Kepergian Kiai Muchit adalah duka bagi bangsa ini. Bangsa ini kehilangan tokoh besar dan panutan yang kaya dengan keteladanan. Seorang kiai yang sangat berjasa dengan mempromosikan secara tidak langsung slogan “Menjadi NU, Menjadi Indonesia” ini. Di tengah-tengah koyakan NKRI dan Pancasila, NU hadir menjadi penguat dan juga pengokoh bagi Indonesia. Merobohkan Indonesia sama dengan menghancurkan NU. Nahdlatul Ulama, telah built in dalam diri dan kepribadian Kiai Muchit setara dengan Indonesia yang mendarah daging dalam tubuh beliau. NU dan Indonesia, tidak bisa dipisahkan dari dan dalam kepribadian beliau yang hidup penuh sederhana.
Selamat jalan orang tua, guru, kiai dan bapak bangsa kami. Kami hanya bisa berdoa. Semoga arwah kiai, diterima di sisi Allah Swt. Ya ayyatuhan nafsul muthmainnah. Irji’i ila raadliyatan mardliyatan. Fadkhuli fi ibaadi. Wadkhulii jannati. Semoga pula kami bisa meneruskan keteladanan-mu. Amien ya rabbal alamien** *) Penulis adalah Dosen Pascasarjana IAIN Jember, Katib Syuriyah PCNU Jember, dan Penulis Buku “Kiai Nyentrik Menggugat Feminisme”.
Istilah ini muncul ketika saya berdiskusi ringan dengan pemilik Taman Botani, Bapak Kahar saat ngopi bersama siang hari di restoran Botani Sukorambi beberapa hari yang lalu. Pak Kahar yang luar biasa ini menyebutnya dengan Kolam Renang Muslimah. Serambi bercanda, beliau mengatakan pada saya: ”Bahkan setanpun tidak bisa masuk ke dalam kolam renang muslimah tersebut”, katanya penuh provokatif mengomentari kolam renang muslimah miliknya yang didesign dalam ruangan sangat tertutup. Hanya saja, menurut Pak Kahar, peminatnya masih belum banyak diminati. Salah satunya sebabnya, kata saya pada beliau, adalah mungkin karena kurangnya sosialisasi.
Padahal, apa yang ditawarkan Pak Kahar, dalam pandangan saya, merupakan hal yang luar biasa. Luar biasa karena itu adalah salah satu solusi. Setidaknya, bagi muslim dan muslimah yang ingin hidupnya sesuai dengan tuntunan syari’ah. Kolam renang syari’ah adalah solusi bagi muslim dan muslimah. Pertanyaan yang muncul: apakah kolam renang yang juga sering disebut dengan pemandian ini seperti terlihat dewasa ini dikatakan tidak sesuai dengan syari’ah ? Tidak mudah menjawabnya, tapi mari kita membahas hukum mandi atau berenang di kolam renang seperti ini.
Kolam renang adalah produk masyarakat modern. Dalam hal ini, adalah produk orang-orang Barat. Karena itu, tidak mengherankan jika bangunan nilai dalam kolam renang syari’ah ini disesuaikan dengan nilai-nilai orang Barat: bebas, eksploitasi terhadap aurat, individualis, dan lain sebagainya. Pakaian renang dan bentuk kolam didesign seperti ini. Hal demikian ini menjadi kontras (bertolak belakang) ketika seorang muslim atau muslimah masuk ke dalam kolam renang jenis ini. Karena, bagi seorang muslim, hukum berenang dalam kolam renang sebagaimana tersebut adalah tidak diperkenankan alias haram.
Setidaknya, ada dua hal yang menjadikan keharaman berenang di tempat ini. Pertama, karena di kolam renang ini ada ikhtilat (percampuran) laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim, padahal ikhtilath ini dilarang dalam agama. Demikian ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw: “Ketahuillah ! Seorang laki-laki bukan muhrim tidak boleh bermalam di rumah perempuan janda, kecuali jika dia telah menikah atau ada muhrimnya “. (HR. Muslim)
Kedua, karena pada ghalibnya, orang yang berenang di kolam renang harus membuka auratnya. Membuka aurat ini, dalam sistem kolam renang seperti ini, hukumnya seperti wajib. Padahal, dalam Islam, membuka aurat adalah dilarang, sebagaimana sabda Rasulullah Saw: “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: (1) Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan (2) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian”. (HR. Muslim No. 2128).
Sebagian ulama memperbolehkan masuk dan mandi dalam kolam renang seperti ini. Hanya saja, ia harus menutup rapat matanya dari melihat hal-hal yang diharamkan dan juga tidak membuka auratnya di depan publik.
Dalam kitab Fathul Alam Juz I Halaman 351 disebutkan: “Yubahu lirrajuli dukhulul hamami wa yajibu ala dakhilihi ghaddul bashari ‘amma la yahillu an-nadlaru ilahi wa shaunu auratihi ‘anil kasyfi bihadlratiman la yahillu an-nadlaru ilahi wa ‘adamu massihil aurata ghairahu liannahu haramun. Wayajibu ‘alaihi anyanhiya man irtakaba syaian min dzalika wain ‘ulima ‘adamumtitsaalihi. Wa yukrahu dukhuluhu linnisa’ ma’al muhaafadzati ‘ala satril’aurati fain lamyakun ma’al muhafadzati ‘ala dzalika, kana haraaman”. Artinya: “Bagi laki-laki diperbolehkan masuk dalam pemandian dan baginya wajib menutup mata dari hal yang diharamkan, memelihara auratnya di hadapan orang yang haram melihatnya dan tidak menyentuh auratnya orang lain karena hal yang demikian adalah haram. Selain itu, dia wajib mencegah orang lain untuk melakukan hal yang dilarang tersebut, meski orang lain tidak melakukannya. Sementara itu, hukum memasuki pemandian bagi perempuan adalah makruh jika ia dapat menutupi auratnya. Jika ia tidak dapat menutupi auratnya, maka hukumnya adalah haram”.
Walhasil, keharaman memasuki kolam renang bagi laki-laki dikaitkan dengan: melihat barang yang haram, membuka aurat dan menyentuh aurat orang lain. Sementara keharaman bagi bagi perempuan karena ia membuka auratnya di depan umum. Dan semua ini, pastinya tidak ditemukan dalam kolam renang syari’ah. Sebuah kolam renang yang tertutup rapat, seperti kata Pak Kahar, dan tidak dijumpai hal-hal yang diharamkan tersebut. Karena itu, seperti yang saya katakan di depan tadi, bahwa Kolam Renang Syari’ah adalah sebuah solusi !.
Wakil Ketua Lajnah Ta’lif wa an-Nasyr PWNU Jawa Timur
Dosen Pasca Sarjana STAIN Jember
Hari Rabu, tanggal 9 Juli 2014 merupakan hari yang sangat bersejarah. Pemilu Presiden 2014. Pada hari ini, kita memilih pemimpin untuk bangsa dan negara ini. Karena itu, pilihlah pemimpin yang siap menderita. Jangan memilih pemimpin yang siap sejahtera. Jangan memilih pemimpin yang suka berpesta pora. Jangan memilih pemimpin yang berlumurkan kemewahan. Jangan memilih pemimpin yang menilai ukuran sukses hanya dengan gelimang materi.
Rasulullah Saw. sebagai pemimpin agung memberikan contoh pada kita. Laqad kana lakum fi rasulillah uswatun hasanah. (Qs. Al-Ahzab: 21). Rasulullah Saw. adalah teladan agung bagi kita karena itu dalam pribadi Rasulullah terdapat uswatun hasanah (keteladanan yang baik). Salah satu teladan yang baik beliau adalah kepemimpinan yang menderita.
Sebagai seorang pemimpinan, Rasulullah tidak hidup dalam gelimang materi. Tidak memiliki kendaraan, hanya berumahkan sederhana. Bahkan, hanya untuk sekedar makan sehari-hari, Rasulullah sangat kekurangan. Diriwayatkan bahwa suatu waktu, Fatimah memberi sekerat roti gandum pada Rasulullah. Setelah memakannya, Rasulullah Saw bersabda: “Ini adalah makanan pertama yang dimakan ayahmu sejak tiga hari yang lalu”. Hadits ini menunjukkan bahwa tiga hari sebelumnya Rasulullah Saw. tidak pernah makan dan tentunya beliau sangat kelaparan. (HR. Ahmad)
Dalam hadits yang lain diriwayatkan: “Rasulullah Saw. tidak pernah kenyang perutnya selama tiga hari berturut-turut, seandainya Rasulullah Saw berkenan, tentu kami akan memberi keperluan makan sehari-hari. Tetapi Rasulullah Saw tidak mau. Beliau lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya”. (HR. Baihaqi).
Kesederhanaan, keprihatinan dan tentunya penderitaan. Itulah Rasulullah Saw sang pemimpin agung kita. Dalam hadits yang lain, diriwayatkan kesederhanaan hidup beliau yang tidur beralaskan tikar di atas tanah dan berbantalkan serabut kelapa yang kasar. Kalau bangun tidur, terlihat dengan jelas bekas-bekas guratan tikar yang menempel dalam tubuh beliau. Ini berbeda dengan kebanyakan “pemimpin” kita yang lebih senang tidur diatas spring bed yang empuk dan mewah di hotel berbintang.
Ketika suatu saat, seorang wanita Anshar mendatangi rumah Rasulullah Saw dan lalu ditemui Siti Aisyah RA. Wanita Anshar inipun minta diajak masuk ke kamar tidur Rasulullah Saw. Betapa kagetnya dia, melihat kamar Rasulullah, sang pemimpin agung hanya beralaskan tikar, berbantalkan serabut kepala, dan selimut apa adanya. Betapa trenyuh dan menangis hati wanita Anshar. Iapun bergegas ke rumahnya bermaksud memberikan perlengkapan tidur yang layak pada Rasulullah Saw.
Wanita Anshor ini lalu kembali ke rumah Rasulullah Saw. dan ditemui Aisyah lagi. Ia membawa selimut yang bagus, bantal yang mewah, alas tidur yang lebih layak dan lain-lain yang bisa membuat nyaman dan nikmat tidur Rasulullah Saw. Ia tidak ingin, pemimpin agungnya hidup dalam penderitaan yang sangat. Ia ingin merombak kamar tidur Rasulullah Saw agar lebih layak dan patut untuk kekasih Allah Swt.
Ketika Rasulullah datang, betapa kagetnya beliau. Beliau melihat banyak yang berubah dari kamar tidurnya. Lebih rapi, lebih tertata dan lebih mewah tentunya. Beliau lalu bertanya kepada Aisyah: “Wahai Aisyah, siapa yang merubah kamar ini?. Aisyah menjawab: “Seorang perempuan Anshor kesini, masuk ke kamar Rasulullah Saw dan lalu membawa barang-barang ini”. Rasulullah Saw bersabda: “Kembalikan barang ini”. Aisyah beragumen bahwa barang-barang ini diberikan karena kasihan pada Rasulullah. Karena Aisyah tidak bergeming sampai tiga kali, akhirnya dengan marah Rasulullah Saw bersabda: “ Wahai Aisyah, seandainya saya mau, saya akan diberi satu gunung emas oleh Allah Swt. Tapi saya tidak mau. Jadi, kembalikan barang itu padanya”. Akhirnya Aisyah pun mengembalikan barang tersebut.
Apa yang bisa kami ambil hikmahnya dari hadits tersebut? Bahwa Rasulullah Saw sebagai pemimpin dalam hidupnya justru berlumurkan penderitaan. Tidak ada kecukupan. Tidak ada kemewahan. Tidak ada kekuasaan. Inilah yang ditiru para pemimpin kita di masa dulu.
Sebagai misalnya, Jenderal Sudirman panglima besar yang legendaris itu pernah mengatakan:” Jangan biarkan rakyat yang menderita. Cukuplah kita (para pemimpin) yang menderita”. H. Agus Salim, tokoh pejuang kemerdekaan yang bisa sembilan bahasa asing dan disegani dunia itu hingga akhir hayatnya tidak punya rumah. Tan Malaka, pejuang kemerdekaan itu harus rela hidup dari penjara ke penjara. Presiden Sukarno dan Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari harus rela juga dipenjara kala melawan orang-orang Belanda dan juga Jepang. Wakil Presiden RI pertama, Moh. Hatta, harus mengumpulkan gaji hanya untuk sekedar membeli sepatu. Karena bagi mereka, pemimpin itu harus menderita.
Betapapun Pilpres ini telah berjalan dengan damai dan sukses, namun diakui atau tidak, Pilpres yang diselenggarakan pada Rabu, 9 Juli 2014 ini telah membawa dampak yang luar biasa. Umat menjadi terbelah. Fitnah pun merebak luas. Aksi dukung mendukung capres-cawapres juga cenderung fanatis. Caci-maki menjadi tak terhindarkan. Sejumlah black campign pun digelar. Ketegangan antar pendukung menjadi “sangat liar” dan juga “vulgar”.
Dampak inipun terlihat hingga sekarang. Perbincangan masyarakat tentang capres-cawapres, masih juga “panas” terjadi. Padahal, Pilpres sudah usai. KPU juga sudah menetapkan capres-cawapres dengan suara terbanyak pada 22 Juli 2014 yang silam. Oleh karena itu, momen Idul Fitri ini seyogyanya menjadi media rekonsilasi. Yakni, rekonsiliasi antar berbagai pihak yang terbelah agar menjadi “satu” kembali. Inilah pelajaran penting yang kita peroleh dalam membangun demokrasi di negeri ini.
Dengan kata lain, kampanye Pilpres adalah “masa lalu” yang tak perlu diungkit kembali. Biarlah sesuatu yang buruk sewaktu Pilpres kita kubur dalam-dalam. Dan sekarang, mari kita bangun dan teguhkan kembali ukhuwah (persaudaraan) yang merekatkan antar sesama anak bangsa. Setidaknya, seperti yang dikatakan oleh KH. Achmad Shidiq, Ro’is Am PBNU masa khidmah (1984-1994), ada tiga macam ukhuwah yang perlu dirajut.
Pertama, ukhuwah Islamiyah. Ukhuwah Islamiyah adalah persaudaraan antar sesama orang Islam. Meski Islam sebagai agama adalah satu, namun keberislaman pemeluknya sungguh sangat beraneka ragam. Keberagamaan ini bisa dilihat dari aspek geografis berikut local wisdom misalnya: Indonesia, Malaysia, Bangladesh, Mesir, al-Jazair dan sebagainya. Demikian juga bisa diamati dari ormas yang diikuti: apakah Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Perti, al-Irsyad, dan sebagainya.
Kedua, ukhuwah Wathaniyah. Ukhuwah Wathaniyah merupakan persaudaraan yang dirajut berdasarkan satu kesamaan, yaitu sama-sama sebagai anak bangsa ini. Rifa’ah al-Tahtawi, Rektor Universitas al-Azhar di Mesir pada abad ke-19, mengatakan: Hubbul wathani minal iman. Cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Dalam konteks Indonesia, kita diikat dengan apa yang namanya “nasionalisme” sebagai bentuk pengejawentahan persaudaraan sesama sebagai anak bangsa tersebut.
Ketiga, ukhuwah Basyariyah. Ukhuwah Basyariyah adalah persaudaraan yang dirajut atas dasar kesamaan: sama-sama sebagai anak manusia di dunia. Ukhuwah basyariyah tidak lagi melihat agama, ras, warna kulit, dan letak geografis sebagai starting point. Dengan demikian, ukhuwah Basyariyah hanya melihat manusia sebagai manusia per se. Sebagai manusia, apapun kondisinya, ia haruslah dihormati sesama. Dasar inilah yang menjadi pilar atas persaudaraan universal.
Walhasil, trilogi ukhuwah harus dikuatkan dalam rangka memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dibangun atas dasar kebinekaan. Bagaimanapun, kebinekaan dan keanekaragaman adalah sunnatullah. Allah Swt. sengaja menciptakan manusia yang beraneka ragam agar mereka berlomba dalam mencari kebaikan. (QS. Al-Maidah: 48). Bahkan, justru dengan perbedaan, kita bisa melakukan tasamuh (toleransi). KH. Afifudin Muhajir, Rois Syuriyah PBNU sekarang, mengatakan: Laula mukhalafata lama musamahata. Seandainya tidak ada perbedaan, maka tidak ada toleransi. Pertanyaannya: kalau sudah sama semua, apanya yang mau ditoleransi?
Perbedaan bagi Islam, oleh karena itu, adalah rahmatan lil alamin, bukan la’natan lil alamin. Rasulullah Saw. bersabda: ikhtilafu ummati rahmatun. (Kitab Jami’ul al-Ahadits, Juz II, hal 40). Perbedaan ummatku adalah kasih sayang (rahmat). Tak heran jika ada banyak madzhab dalam fiqh. Ada beberapa aliran dalam ilmu kalam. Ada berbagai pendapat tentang nahwu (ulama nahwu Bashrah dan Kufah). Ada berbagai kelompok dalam tasawuf. Demikian seterusnya. Semua ini menunjukkan betapa perbedaan merupakan suatu yang meniscaya dalam kehidupan.
Makanya, tak perlu takut dengan perbedaan. Karena perbedaan justru akan melahirkan sikap tasamuh. Selain itu, perbedaan juga pada akhirnya akan melahirkan ukhuwwah, sebagaimana saya sebut tadi.
Di hari yang masih dalam suasana yang fitri ini, mari kita saling memaafkan antar sesama. Mari kita gandeng tangan bersama dengan bersikap toleran antara satu dengan lainnya. Dan mari kita juga perkuat ukhuwah Islamiyah, wathaniyah dan basyariyah kita, demi untuk memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia kita.
Akhiran, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H. Mohon maaf lahir dan batin. Wallahu’alam. **
* M.N. Harisudin
Dosen Pasca Sarjana STAIN Jember
Wakil Ketua Lajnah Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur
Heboh di media massa beberapa saat yang lalu tentang tarif yang tinggi dalam “ceramah agama” sejumlah dai di Jakarta, menarik untuk dicermati. Tarif tinggi ini memang luar biasa tinggi karena mencapai angka nominal 150-an juta. Sang ustadz yang menjadi mubaligh itu sejak awal juga mematok harga yang tinggi tersebut di muka. Artinya, dalam perjanjian disebutkan angka honor untuk ceramah agama tersebut. Pertanyaan fiqhnya adalah: bagaimana hukum penceramah agama mematok tarif ceramah agama dengan harga yang tinggi tersebut?
Dalam hal mematok tarif ceramah agama, para ulama sepakat untuk tidak boleh. Artinya haram hukumnya bagi penceramah agama mematok tarif dalam ceramah agama dengan harga berapapun, baik tinggi ataupun rendah. Larangan mematok harga ceramah agama adalah khusus untuk sang penceramah. Karena ceramah agama adalah sebentuk syi’ar agama yang tidak boleh “dikomersial-kan”. Dakwah Islam adalah bentuk perjuangan yang semestinya tidak ada imbalan.
Larangan ini didasarkan pada firman Allah Swt. yang berbunyi: “Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah Swt yang menciptakanku. Tidakkah kamu mengerti ? (QS. Hud: 51). Dalam ayat yang lain, Allah Swt juga berfirman: “Katakanlah aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas dakwahku dan aku bukan termasuk orang yang mengada-adakan. (QS. Shad: 86). Artinya, upah atas dakwah Islamiyah merupakan tanggungan dari Allah Swt. Karena itu, mematok harga ceramah agama adalah bertentangan dengan subtansi dua ayat ini.
Yang diperbolehkan adalah honor ceramah agama yang tidak dipatok oleh sang penceramah. Dengan demikian, berapapun honor yang diberikan, jika tidak dipatok dari penceramah, ulama fiqh –dalam hal ini Madzhab Syafi’i dan Maliki–memperbolehkannya. Dengan kata lain, jika yang mematok atau menentukan bisyaroh untuk penceramah (misalnya) adalah panitia acara, maka hukumnya tidalahk haram.
Dalam bahasa fiqh, ini disebut dengan al-ujroh ‘alat tha’ah. Seperti yang disebut Sayid Sabiq dalam Fiqh as-Sunah dan Wahbah Az-Zuhaily dalam al-Fiqh al-Islamy wa Adilaltuhu, al-ujrah ‘alat thaa’ati selama tidak ditentukan atau dipatok (lam tata’ayyan) diawal, hukumnya diperbolehkan karena merupakan hajat manusia (lijahatin nas). Bagaimanapun juga, seorang penceramah juga membutuhkan sandang, pangan, papan, dan kendaraan untuk mobilitas dakwah Islamiyahnya. Selain itu, ada hadits-hadits yang menunjukkan kebolehan mengambil upah dari mengajar al-Qur’an, dan sebagainya.
Meski diperbolehkan, dalam pandangan saya, kondisi ini merupakan kondisi yang tidak ideal. Saya menyebutnya kurang afdlol atau kurang ideal. Idealnya penceramah agama adalah para pejuang Islam yang tanpa pamrih, tanpa bisyaroh dan tanpa amplop. Para pejuang yang mengajarkan Islam dengan tanpa bisyarah. Ini adalah konsep ideal karena dengan tanpa pamrih, umat yang menjadi obyek ceramah agama akan mudah mendapatkan petunjuk. Sebagaimana disebutkan dalam QS. Yasin ayat 21 : Ittabiu man la yasalukum ajran wahum muhtadun. Artinya: Ikutlah pada mereka yang tidak memintamu upah (atas dakwah mereka) sementara mereka adalah orang yang diberi petunjuk.
Logikanya, bagaimana umat akan “terkesima” dan juga menerima ajaran kebaikan yang ditebar sang penceramah jika sejak awal sang penceramah minta upah atas ceramah agamanya? Karena itulah, Rasulullah Saw. tidak pernah meminta ujrah berapapun atas ceramah (dakwahnya) pada umatnya. Kebenaran agama Islam yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. tidak pernah diganti upah yang sebanding. Rasulullah Saw. telah mencukupkan pahala dari Allah Swt atas seluruh dakwah Islam yang beliau sampaikan pada umatnya.
Karena niat tulus dan tanpa pamrih Rasulullah Saw. dalam bertabligh (dakwah Islamiyah), maka hasilnya pun jelas: umat secara faktual menerima dakwah yang telah diberikan Rasulullah Saw. Dengan kata lain, tabligh tanpa amplop ini berbanding lurus dengan hidayah yang diterima umatnya. Jika Rasulullah Saw. menarik upah atas dakwahnya pada umat, pastilah yang terjadi akan lain dan Islam tidak berkembang dahsyat seperti sekarang.
Saya sendiri mengapresiasi para penceramah yang mendarmakan dirinya untuk hidup bertabligh tanpa bisyaroh, tanpa amplop. Sebagian beberapa kawan di kota lain, bukan hanya ia tidak mau menerima bisyaroh dan amplop, ia malah mengeluarkan koceknya untuk membeli kebutuhan jama’ah majlis taklim. Subhanallah. Di Banyuwangi, ada kawan penceramah yang selalu membelikan sarung, baju takwa dan mukena untuk dua ribu jama’ah majlis taklim setiap tahunnya. Di kota lain, ada penceramah yang menyiapkan konsumsi untuk jama’ahnya setiap kali ceramah.
Lalu, bagaimana dengan kita ?
Wallahu’alam. **
M.N. Harisudin, adalah Dosen Pasca Sarjana STAIN Jember, Katib Syuriyah PCNU Jember, Wakil Sekretaris YPNU Jember dan Wakil Ketua Lajnah Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur. Selain itu, menjabat sebagai Deputi Salsabila Group Surabaya.
Wakil Ketua PW Lajnah Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur
Secara konsep, Indonesia sudah final. Namun, secara praktek, Indonesia masih belum (dan jauh dari) final. Dalam proses pencapaian cita-cita dan tujuan negara Indonesia yang final, aral dan hambatan senantiasa melintang. Cita-cita juga tidak bisa seratus persen digapai. Last but not least, cita-cita ini memang suatu saat nanti akan terwujud, kendati yang kita lihat baru berapa persennya saja. Yang kita lakukan secara kolektif tanpa melihat ras, agama dan aliran adalah melakukan ikhtiar sekuat mungkin dan yang terbaik untuk mencapai cita-cita tersebut.
Belakangan marak gerakan yang ingin mengubah haluan negara Indonesia yang kita cintai ini. Mereka ingin mengganti Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini dengan sistem khilafah. Khilafah, dalam imaginasi mereka, adalah solusi atas semua problematika kehidupan. Sebagian yang lain mengusung perda syari’at Islam sebagai panacea atas pelbagai problematika hidup yang kian kompleks dan akut. Sebagian yang lain ingin menggantinya dengan kembali pada ideologi komunisme. Di sinilah, tulisan ini serasa menemukan momentumnya.
Memang, sebagian pemikir Islam memilih untuk tidak mengkaitkan agama (Islam) dengan negara. Agama dalam pandangan ini adalah adalah satu hal, sementara negara adalah hal lain yang berbeda. Seperti Nawal el Saadawi, seorang sastrawan besar di Mesir yang pernah melontarkan kritik keras terhadap apa yang disebut Negara Islam. Menurutnya, negara tidak punya jenis kelamin agama (baca: tidak beragama) karena yang beragama adalah manusia. Dalam hal ini, Nawal el Saadawi menyatakan: “ People who think that state is Islam have not studied Islam. The state is nothing to do with Islam”. (The Jakarta Post, November, 27, 2006).
Namun, saya tidak sepenuhnya sepakat dengan Nawal El Saadawi karena secara de facto masyarakat Islam sudah bersinggungan dengan politik Islam sejak masa Rasulullah Saw. hingga masa sekarang. Tak mengherankan jika Montgomory Watt dalam buku Muhammad Prophet and Statesman mengatakan bahwa Muhammad bukan hanya seorang nabi, namun juga seorang kepala Negara (negarawan). (W. Montgomery Watt: 1961, 94-95). Di samping itu juga, jika kita tengok ke belakang, kala Muhammad menjadi kepala negara, semua unsur negara modern sudah terpenuhi seperti wilayah, penduduk, pemerintahan dan juga kedaulatan.
Di sinilah, makanya saya lebih senang menggunakan perspektif paradigma simbiotik (symbiotic paradigm). Dalam paradigma ini, posisi agama dan negara berhubungan secara simbiotik yang bersifat timbal balik dan saling memerlukan. Agama memerlukan negara karena dengan negara (daulah), agama dapat berkembang. Demikian sebaliknya, negara juga memerlukan agama karena dengan agama, negara dapat berkembang dalam bimbingan etika dan moral spritualnya. Sehingga, dalam paradigma ini, baik agama dan negara saling menguatkan dan mengukuhkan.
Paradigma ini senada dengan pandangan Gus Dur yang menyebut agama sebagai ruh atau spirit yang harus masuk ke dalam negara. Sementara, bagi mantan Presiden RI ke-4 tersebut, negara adalah badan atau raga yang mesti membutuhkan negara. Dalam konsep Gus Dur, keberadaan negara tidak bisa dilihat semata-mata hasil kontrak sosial (yang sekuler), namun, bahwa negara dipandang sebagai jasad yang membutuhkan idealisme ketuhanan. Agama, dalam konteks ini, lebih ditempatkan sebagai subtansi untuk menuju cita-cita keadilan semesta. (Masdar F. Mas’udi: 1993, xiv-xvi).
Pilihan paradigma di atas jelas menegasikan dua paradigma lain yang berada di kutub ekstrem. Pertama, paradigma integralistik yang memandang agama dan negara menyatu. Wilayah agama meliputi politik atau negara. Negara selain lembaga politik juga lembaga keagamaan. Pandangan yang sering disebut dengan istilah al-Islam din wa daulah ini dipraktekkan oleh Syi’ah. Kedua, di ekstrem yang lain, paradigm sekuler yang mengajukan pemisahan agama dan negara. Paradigma yang dimotori oleh Ali Abd ar-Raziq ini (1887-1966 M) menolak pendasaran negara pada agama (Islam). Pemikiran paradigma ini didasarkan asumsi bahwa Muhammad murni sebagai pendakwah Islam dan sama sekali tidak pernah menjadi kepala Negara.
Bertolak dari paradigma yang saya ajukan di atas ini, maka jika ditanya: apakah cita-cita Politik Islam, saya mengatakan bahwa cita-cita politik Islam adalah sama dengan cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia. Cita-cita Indonesia merdeka adalah, seperti kata Soekarno, menjadi “jembatan emas” untuk mencapai cita-cita negara Indonesia. Adapun cita-cita negara ini, sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 1945, adalah untuk melindungi segenap bangsa dan tumpah darah, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia akan tercapai. Pada tahap selanjutnya, cita-cita tersebut diderivasikan lebih lanjut dalam batang tubuh UUD 45, seperti kesamaan di depan hukum, kebebasan berserikat dan berpolitik, serta mengenai kesejahteraan sosial seperti tanggung jawab negara terhadap rakyat miskin, serta mengenai demokrasi ekonomi.
Secara normatif, cita-cita kemerdekaan ini sejalan dengan cita-cita politik Islam. Al-Mawardi dalam Al-Ahkam as-Sulthaniyah misalnya menyebut tujuan sebuah negara adalah lihiraasatiddin wa siyasatid dunya. (Abu Hasan Al-Mawardi: tt, 6). Artinya, untuk memelihara agama dan mengatur dunia. Secara derivatif, pandangan ini dikukuhkan oleh Imam Al-Ghazali yang dikutip Abu Zahro yang menyebut ad-dlariyatul khams sebagai pilar yang mesti diacu oleh sebuah Negara. Yakni., memelihara agama (hifdz ad-din), memelihara jiwa (hifdz an-nafs), memelihara akal (hifd al-aql), memelihara keturunan (hifdz an-nasl) dan memelihara harta (hifdz al-mal). (Muhammad Abu Zahro: 1994, 548-553)
Kekuasaan negara, oleh karena itu, dikukuhkan untuk pemenuhan lima hal pokok yang dijaga dalam Islam ini. Sebut misalnya keberpihakan pada kaum miskin (mustadz’afin) dalam bentuk pelayanan kesehatan di negeri ini harus dilihat dalam perspektif hifdz an-nafs (memelihara jiwa). Demikian juga pengutamaan anak bangsa dalam urusan kesejahteraan dibanding negeri asing ketika menentukan mana yang lebih penting: perusahaan anak negeri atau perusahaan asing yang mesti mengelola, harus dilihat dalam konteks hifdz al-mal warga negara Indonesia.
Hanya saja, secara realitas, apa yang dicita-citakan masih jauh dari kenyataan. Alih-alih menuju cita-cita kemerdekaan ini, kadang kala cita ini dibelokkan ke arah yang bertolak belakang dengan cita-cita kemerdekaan. Neo-liberalisme yang menggurita, korupsi yang meraja lela, pemenuhan hak orang miskin yang terabaikan, dan segudang masalah lain, adalah bentuk anti klimaks cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia. Sudah semestinya energi bangasa ini kita fokuskan untuk menggapai cita-cita itu, bukan malah mengganti ideologi NKRI dengan sistem khilafah dan atau komunisme.
Dengan kata lain, secara konsep, Indonesia sudah final. Namun, secara praktek, Indonesia masih belum (dan jauh dari) final. Dalam proses pencapaian cita-cita dan tujuan negara Indonesia yang final, aral dan hambatan senantiasa melintang. Cita-cita juga tidak bisa seratus persen digapai. Last but not least, cita-cita ini memang suatu saat nanti akan terwujud, kendati yang kita lihat baru berapa persennya saja. Yang kita lakukan secara kolektif tanpa melihat ras, agama dan aliran adalah melakukan ikhtiar sekuat mungkin dan yang terbaik untuk mencapai cita-cita tersebut.
Di sinilah, kita bisa menengok prinsip dasar yang digunakan dalam mencapai cita-cita tersebut sebagai pedoman dalam pengelolaan pemerintah yang bersih dan berwibawa, sebagaimana berikut:
Pertama, tasharruful imam ‘alar ra’iyyah manutun bil maslahah al-ammah. Kebijakan penguasa atas rakyat didasarkan pada kemaslahatan umum. Penguasa harus mengutamakan rakyat umum, bukan segelintir orang, golongan atau kelompok kepentingan tertentu. Rakyat adalah segalanya. Fox populi fox dei. Suara rakyat adalah suara Tuhan yang harus didengar dan diwujudkan dalam kehidupan keseharian. Mewujudkan cita-cita rakyat umum adalah sama dengan mewujudkan keinginan Tuhan dalam kehidupan.
Kedua, prinsip dar’ul mafasid ‘ala jalbil mashalih. Artinya, mendahulukan menghindari bahaya daripada melaksanakan kemaslahatan. Penguasa mesti mengupayakan tindakan preventif menghindari bahaya terlebih dahulu dan baru kemudian melaksanakan program yang berbasis kemaslahatan. Prinsip ini bertalian dengan prinsip lain yang berbunyi idza ta’aradla mafsadataani ru’iya a’dlamuha dlararan birtikabi akhaffihima. Apabila terjadi dua bahaya, maka dipertimbangkan bahaya yang paling besar resikonya dengan melaksanakan yang paling ringan resikonya.
Dan Ketiga, prinsip mala yudraku kulluhu la yudraku kulluhu. Maksudnya, kewajiban yang tidak mungkin diwujudkan secara utuh tidak boleh ditinggalkan semuanya. Kita harus menyadari bahwa upaya yang kita lakukan bisa diperoleh secara bertahap dan tidak sekaligus. Apa yang sudah kita capai harus kita syukuri sembari terus melakukan evaluasi untuk senantiasa melakukan perbaikan dan perbaikan. Saya tidak sepakat dengan pernyataan politik beberapa plotisi dan pengamat di beberapa media yang selalu menyudutkan dan (selalu) menyalahkan Indonesia.
Bagaimanapun, untuk mencapai cita-cita Indonesia, tidak mudah semudah membalik telapak tangan. Memperbaiki negeri ini tidak bisa dengan cara hanya mengkritik dan apalagi mencaci maki pengelola negeri ini. Kita harus memulai agenda besar mencapai cita-cita Indonesia ini dengan “bangga menjadi Indonesia”. Indonesia laksana rumah besar bersama kita. Kalau ada yang rusak dan bocor misalnya, mesti kita perbaiki bersama. Dan tentunya, kita tidak perlu merobohkan rumah Indonesia yang kita cintai ini. Selain itu, kita harus melakukan upaya cita-cita kemerdekaan ini secara massif dan progresif di tempat dimana kita berada dan lalu bersinergi satu dengan yang lain dengan tanpa mengabaikan kemajemukan bangsa ini.
Wakil Ketua PW Lajnah Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur
Wakil Sekretaris PCNU Jember
Sedari awal, Islam menegaskan bahwa tujuan akhir sebuah negara adalah baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Sebuah cita negara yang makmur, sejahtera dan senantiasa dalam limpahan ampunan Allah Swt. Dalam konteks inilah, maka berbagai literatur fiqh siyasah –misalnya al-Mawardi dalam kitab “al-Ahkam as-Sultaniyah”—menegaskan bahwa keberadaan khilafah atau imarah (penyelenggaraan pemerintahan negara) adalah untuk mencapai dua kepentingan sekaligus: yaitu li hirasatin dini wa siyasatid dunya (memelihara agama dan mengatur dunia). Dengan menyeimbangkan dua kepentingan tersebut, maka akan dicapai cita-cita ideal Islam tersebut.
Memang tidak mudah untuk mencapai cita-cita ideal tersebut, harus ada upaya dan kerja keras untuk menuju ke sana. Kerja keras ini harus pula ditopang oleh panduan moralitas penyelenggara yang dapat dipertanggungjawabkan di hadapan publik. Dalam hal inilah, maka Islam memberikan garis berupa nilai-nilai luhur bagaimana sebuah pemerintahan itu dijalankan dengan baik. Sebuah pemerintahan yang on the right track, sesuai dengan relnya. Ibarat kereta api, pemerintah ini berjalan melalui jalur rel yang ada sehingga suatu saat sampai pada tujuan.
Salah satu nilai yang dibangun dalam Islam ini adalah bahwa pemerintah harus mendasarkan seluruh kebijakannya pada kemaslahatan umum. Dalam sebuah kaidah fiqh disebutkan: thasarruful imam ‘ala ar-raiyyah manutun bil maslahah. Artinya: kebijakan seorang imam dalam pemerintahan terhadap rakyatnya harus digantungkan pada kemaslahatan. Dengan demikian, seorang imam tidak boleh sembarangan membuat kebijakan, melainkan kebijakan ini harus memiliki dampak positif, memiliki nilai guna dan bermanfaat serta mengandung maslahah pada masyarakat pada umumnya.
Sebagai bentuk implementasi kaidah thasarruful imam ‘ala ar-raiyyah manutun bil maslahah adalah dengan transparansi anggaran. Transparansi anggaran merupakan kewajiban agama yang mulia, sama dengan mulianya imam mengaplikasikan kaidah thasarruful imam ‘ala ar-raiyyah manutun bil maslahah tadi. Dalam kaidah yang lain dikatakan: ma la yatimmu al-wajibu illa bihi fahuwa wajibun. Sesuatu yang tidak sempurna suatu kewajibankecuali dengan sesuatu ini, maka sesuatu ini juga menjadi wajib hukumnya.
Dalam bahasa ulama Ushul Fiqh, transparansi anggaran adalah sebentuk “fath adz-dzariah”, membuka pintu yang menuju pada kebaikan. Pintu kebaikan ini harus dibuka lebar-lebar. Dalam pandangan fiqh, jalan yang menuju pintu kebaikan itu hukumnya sama dengan hukum kebaikan itu sendiri. Lil wasaail hukmu al-maqaashid. Hukum perantara = hukum tujuan (maksud)-nya. Jika misalnya hukum membangun pemerintah yang makmur dan sehjahtera adalah wajib, maka hukum transparansi anggaran adalah juga wajib, sebagaimana ditegaskan dalam kaidah ma la yatimmu al-wajibu illa bihi fahuwa wajibun.
Sebaliknya, dalam pandangan ulama Ushul Fiqh, semua jalan menuju keburukan harus ditutup. Ulama Ushul Fiqh juga sering membahasakan ini dengan sad adz-dzari’ah. Sad adz-dzari’ah menegaskan bahwa hukum jalan (wasilah) kepada tujuan (ghayah) haram adalah juga haram. Jika zina adalah barang haram, maka jalan menuju zina adalah juga diharamkan. Jalan menuju zina bisa pacaran, face book, dan lain sebagainya. Karena itu, jika sebuah pemerintahan yang korup adalah haram, maka jalan menuju kesana—misalnya pemerintah yang tidak ada transparansi anggaran juga haram. Dalam sebuah kaidah dinyatakan, ma adda ilal haram fahuwa haramun. Sesuatu yang menyebabkan terjadinya keharaman, maka sesuatu tersebut hukumnya juga haram.
Dalam konteks inilah, Islam telah meletakkan dasar-dasar normatif bagi adanya transparansi anggaran di pemerintahan. Misalnya berupa sifat-sifat Nabi Muhammad S.a.w antara lain: Shiddiq, Amanah, Tabligh dan Fathonah. Sementara, dalam al-Qur’an dan Hadits juga disebutkan prinsip lain yang mensupport prinsip transparansi anggaran misalnya keadilan (al-‘adalah), pertanggung jawaban (‘mas’uliyah), akuntabilitas (hisab), istiqamah dan teguh pada kebenaran.
Wakil Ketua PW Lajnah Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur
Anggota Jember Entrepreneur Community (JECO)
Nabi Muhammad Saw. sejatinya adalah sosok entrepreneur sejati. Meski dalam beberapa doa yang dilantunkannya menghendaki beliau adalah seorang miskin, namun demikian, tidak dapat disimpulkan bahwa beliau menolak menjadi pengusaha. Bahkan, dalam riwayat hadits yang lain, justru menunjukkan komitmen beliau sebagai seorang entrepreneur sejati.
Selama ini, sosok agung Nabi Muhammad Saw. seringkali dilihat sebagai sosok religius per se. Nabi Muhammad hanya diangankan sebagai sosok religius yang tengah malam selalu tidak pernah absen sholat tahajud. Dalam sebuah hadits lain, Nabi Saw. digambarkan dahinya seringkali ada bekas karena sujud. Selain itu, Nabi Saw. juga dikenal sebagai orang yang rajin puasa dan melakukan ibadah mahdhah yang lain.
Personifikasi Nabi Saw. dengan sosok yang religius memang tidak salah. Yang tidak tepat adalah menggambarkan Nabi Saw. hanya dengan sosok religius semata dengan mengabaikan sisi atau aspek lainnya dari pribadi beliau. Misalnya, dengan sosoknya sebagai entrepreneur sejati. Diakui atau tidak, Nabi Saw. adalah seorang entrepreneur dan pekerja keras. Ketika berdagang di negeri Syam, digambarkan dalam hadits, sosok beliau yang tangan dan kakinya lecet-lecet karena mengangkut barang. Nabi Saw juga berpeluh-keringat kala berdagang di berbagai negeri.
Adalah keliru menyederhanakan sosok atau pribadi beliau yang kompleks hanya dengan seorang yang religious saja. Karena beliau adalah pribadi agung yang multi talenta. Seorang negarawan, dan sekaligus politisi. Juga, seorang organisatoris dan seorang orator yang ulung. Beliau adalah juga seorang pengusaha yang luar biasa, namun sayangnya tidak banyak diungkap dalam berbagai event forum.
Memunculkan spirit entrepreneur dengan merujuk pada Nabi Saw. adalah sebuah keniscayaan di tengah kemiskinan akut sebagian besar umat Islam di Indonesia. Jumlah mayoritas umat Islam di Indonesia secara de facto tidak diimbangi dengan mayoritas dalam kualitas ekonomi dan kesejahteraan warganya. Ini menjadi logis karena sebagian warga memiliki pandangan teologis bahwa kaya dan miskin adalah sebentuk takdir Tuhan, yang oleh karenanya, jika sudah ditakdirkan menjadi miskin, maka tidak perlu untuk ditolak, melainkan harus diterima tanpa reserve.
Seharusnya, cita-cita entrepreneur Islam yang harus dikokohkan dalam bangunan keberagamaan umat Islam. Meminjam bahasa Yusuf Kalla, salah satu cawapres sekarang–ketika seminar ulama dan pesantren di Ponpes Al-Hikam Depok Jakarta tiga bulan yang silam–, maka siapa yang bisa membangun masjid, madrasah dan pesantren, jika tidak ada orang kaya dalam Islam. Siapa yang membantu orang-orang janda, anak-anak yatim dan anak-anak miskin, jika tidak ada pengusaha. Karena itu, keberadaan orang kaya adalah fardlu kifayah untuk kepentingan dakwah Islamiyah dan syi’ar Islam.
Dalam catatan Yusuf Kalla, dari 40 orang kaya di Indonesia, hanya enam orang yang berasal dari agama Islam. Padahal, jumlah enam orang ini masih belum dihitung: berapa jumlah yang orang kaya Islam yang all out, memback up dakwah Islamiyah dan syi’ar Islam ?. Berapa jumlah orang kaya Islam yang mau berbagi dengan anak yatim, anak miskin, janda, gelandangan dan sebagainya tersebut?.
Karena itu jawabnya jelas: kemiskinan harus dijawab dengan banyaknya jumlah pengusaha muslim, bukan dengan membuka lowongan pegawai negeri sipil atau yang lain. Jika ada banyak pengusaha muslim, maka akan banyak orang kaya muslim. Jika banyak orang kaya muslim, maka dakwah Islamiyah akan terbantu dan berjalan lancar sesuai harapan.
Walhasil, Islam mengajarkan kepada umatnya untuk bekerja keras, membanting tulang, dan berusaha untuk menjadi orang kaya. Tapi, Islam tidak berhenti sampai menjadi orang kaya, melainkan harus diteruskan: bagaimana kekayaan itu dimanfaatkan oleh Islam untuk kepentingan dakwah Islam. Bagaimana agar kekayaan itu banyak bermanfaat pada yang lain, sebagaimana hadits: “khairukum anfaukum linnas”. Sebaik-baik kalian adalah yang paling banyak manfaatnya pada manusia yang lain.
Catatan Konferensi Internasional 29 – 30 Maret 2014
Oleh: Dr. M. Noor Harisudin, M. Fil. I
International Conference of Islamic Scholar (ICIS) kembali menghelat acara bertaraf internasional pada tanggal 29-30 Maret 2014. Tidak seperti biasanya, acara kali ini diselenggarakan di daerah terpencil Situbondo. Karena memang Konferensi Internasional dengan tema “ Konsolidasi Jaringan Ulama’ Internasional Meneguhkan Kembali Nilai-Nilai Islam Moderat” ini diselenggarakan oleh ICIS bekerja sama dengan Pesantren Sukorejo yang sedang melakukan hajatan 1 Abad Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo.
Adalah unik hajatan bertaraf internasional ini diletakkan sebuah tempat yang sepi dan jauh dari hiruk pikuk keramaian ibu kota. Tempatnya juga jauh karena harus menggunakan transportasi darat kurang lebih 6 jam (Surabaya-Situbondo). Namun, demikian ini tidak mempengaruhi peserta dan nara sumber yang datang dari berbagai negara. Misalnya Syaikh Wahbah az-Zuhaili (Syria), Syeikh Abdul Karim Dibaghi (Aljazair), Syeikh Mahdi bin Ahmad as-Shumaidai (Mufti Irak), Ammer Syaker Aljanabi (Qatar), Sadek bin Sadek (Duta Besar Libia), Bassam al-Khatib (Duta Besar Syiria), dan lain sebagainya.
Situbondo memang unik sehingga menjadi magnet berbagai peristiwa penting di negeri ini. Kita masih ingat, dulu pada tahun 1984, Pesantren Salafiyah Syafi’iyyah Situbondo adalah tempat para peserta muktamar NU memutuskan untuk menerima asas tunggal Pancasila. Pada Muktamar yang bersejarah itu, juga diputuskan bagaimana Khittah NU dijadikan landasan pemikiran dan sikap warga NU. Dalam rumusan Khittah NU tersebut, dinyatakan: NU tidak terikat dengan partai politik dan organisasi sosial kemasyarakatan yang lain. Pada tahun 2003, pesantren ini juga menjadi tuan rumah gawe besar “Muktamar Pemikiran NU”. Tokoh-tokoh intelektual NU, baik yang tua dan muda –misalnya KH. Masdar Farid Mas’udi, Prof. Dr. Nur Khalis Majid, MA, Prof. Dr. Mahasin, MA, Ulil Abshar Abdalla, Abd. Moqsith Ghazali, Ahmad Suaedy, Sumanto al-Qurtubi, dan lain sebagainya hadir di acara cukup bergengsi tersebut.
Kalau kemarin ini, Situbondo menjadi tuan rumah acara akbar Konferensi Internasional ICIS, maka bukan hal yang aneh. Karena Situbondo dipandang sebagai persemaian bumi gerakan dan pemikiran Islam moderat perspektif ahlussunah wal Jama’ah. Yang jelas, Situbondo menjadi wadah persemaian atas semua hal tersebut.
Gagasan Islam Moderat (Al-Wasathiyah)
Al-Wasathiyah atau juga dikenal sebagai Islam Moderat adalah bentuk keberislaman yang tidak tatharuf dan tidak ghuluw. Islam moderat adalah Islam yang tidak ekstrem kanan dan tidak ekstrem kiri. Sebaliknya, Islam moderat adalah Islam yang tengah dan i’tidal (lurus). Islam moderat adalah kebenaran (al-haq) di antara dua jalan kebatilan. Islam moderat adalah Islam yang tidak memudahkan mengkafirkan orang yang tidak kafir. Karena, Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa menuduh orang Islam itu kafir atau termasuk musuh Allah Swt sementara tidak sesuai dengan kenyataan, maka sesungguhnya demikian itu akan kembali pada dirinya”. (An-Nawawi: Riyadus Shalihin, tt).
Secara teologis, Islam moderat didukung oleh al-Qur’an dan al-Hadits. Allah Swt berfirman: “Wa kadzalika ja’alnakum umatan wasathan litakunu syuhada ‘alan nasi wa yakunu rasuulu ‘alaikum syahida”. Artinya: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”. (QS. Al-Baqarah: 143).
Dalam konteks hidup secara samhah (lapang dada) sebagai bagian dari sikap al-Washathiyah, Rasulullah juga bersabda: “Allah merahmati hamba yang lapang dada ketika menjual, ketika membeli, ketika membayar hutang”.(HR. Bukhori dan Ibnu Majah).
Salah satu argument mengapa Islam bisa dan mudah diterima siapapun dan sepanjang zaman apapun, sebagaimana dikatakan oleh Syeikh Dr. Wahbah az-Zuhaily, adalah karena ciri dan sifat Islam yang moderat dalam segala aspeknya. Karena itu, Islam moderat adalah solusi di tengah berbagai problematika yang dihadapi oleh umat Islam sekarang ini dan masa yang akan datang.
Global Islam Moderat: Solusi Dunia Islam
Gagasan Wasatiyah atau Islam moderat harus mendunia. Saya lebih senang menyebut istilah “Global Islam Moderat”. Yakni, upaya untuk menduniakan Islam moderat di se-antero dunia tanpa kecuali. Global Islam Moderat adalah sejenis dengan “Global Ethic”-nya Hans Kung, hanya beda pada aksentuasi gerakan. Global Ethicnya Hans Kung adalah penyelesaian berbagai masalah kemanusia dunia melalui etika global yang digali dari berbagai agama, maka Global Islam Moderat adalah kumandang etika Islam moderat sebagai solusi berbagai masalah dunia.
Hemat saya, global Islam moderat merupakan panacea atas berbagai persoalan umat Islam yang terjadi dewasa ini. Setidaknya, ada satu persoalan mendasar umat Islam dewasa ini, yaitu: tidak adanya sikap moderasi, yang ada adalah sikap yang ekstrem (thatarruf) dan berlebihan (al-ghuluw). Thatharruf ini selanjutnya membawa akibat kekerasan demi kekerasan yang tiada henti.
Kekerasan inilah yang terjadi di dunia Islam sekarang. Negara-negara Timur Tengah seperti Tunisia, Lybia, dan Mesir tengah dihadapkan pada transisi demokrasi yang tidak berjalan mulus dan malah penuh kekerasan. Di Irak, gesekan politik antar kelompok Sunni dan Syi’ah juga masih terjadi hingga sekarang. Di Syria, konflik politik dan perang saudara sesama muslim juga terjadi. Di Asia, Muslim Rohingnya juga dibantai kelompok Radikal Hindu. Di Mindanau Philipina, muslim di sana juga masih belum mendapatkan keadilan.
Kekerasan ini juga terjadi di level internal umat Islam di dunia. Munculnya berbagai aliran Islam yang radikal dan eklusif merupakan tantangan sendiri yang harus diselesaikan. Mereka ini pada umumnya merasa sebagai kelompok Islam yang paling benar sendiri dan kelompok yang lain adalah salah. Tidak hanya itu, mereka juga membid’ahkan, menyesatkan dan bahkan mengkafirkan kelompok yang berbeda pemahamannya dengan mereka.
Walhasil, Global Islam Moderat merupakan solusi atas berbagai permasalahan umat Islam dunia sekarang ini. Global Islam Moderat harus beranjak maju dengan kerja-kerja kongkrit ke depan. Gobal Islam Moderat untuk turut serta menguatkan peradaban dunia yang berbasis nilai-nilai agama dan kemanusiaan universal. Wallahu’alam. **
Oleh: M. Noor Harisudin (Pengasuh Ponpes Darul Hikam Jember & Katib Syuriyah PCNU Jember)
Kamis, 23/06/2011 11:49
Sejarah NU adalah sejarah perlawanan terhadap kaum Wahabi. Seperti dituturkan KH Abd. Muchith Muzadi, sang Begawan NU dalam kuliah Nahdlatulogi di Ma’ had Aly Situbondo dua bulan yang silam, jam’iyyah Nahdlatul Ulama didirikan atas dasar perlawanan terhadap dua kutub ekstrem pemahaman agama dalam Islam. Yaitu: kubu ekstrem kanan yang diwakili kaum Wahabi di Saudi Arabia dan ekstrem kiri yang sekuler dan diwakili oleh Kemal Attartuk di Turki, saat itu. Tidak mengherankan jika kelahiran Nahdlatul Ulama di tahun 1926 M sejatinya merupakan simbol perlawanan terhadap dua kutub ekstrem tersebut.
Hanya saja, kali ini, karena keterbatasan space, saya akan membatasi tulisan ini pada bahasan kutub ekstrem yang pertama, Wahabi. Pun bahwa saya akan membatasi pembahasan Wahabi secara khusus pada sejarah kelamnya di masa lampau, belum pada doktrin-doktrin, tokoh-tokohnya atau juga yang lainnya. Saya berharap bahwa fakta sejarah ini akan dapat kita gunakan untuk memprediksi kehidupan sosial keagamaan kita di masa-masa yang akan datang. Karena bagaimanapun juga, apa yang dilakukan oleh kaum Wahabi saat itu merupakan goresan noda hitam. Goresan noda hitam inilah yang kini mengubah wajah Islam yang sejatinya pro damai menjadi sangat keras dan mengubah Islam yang semula ramah menjadi penuh amarah.
Sebagaimana dimaklumi, kaum Wahabi adalah sebuah sekte Islam yang kaku dan keras serta menjadi pengikut Muhammad Ibn Abdul Wahab. Ayahnya, Abdul Wahab, adalah seorang hakim Uyainah pengikut Ahmad Ibn Hanbal. Ibnu Abd Wahab sendiri lahir pada tahun 1703 M/1115 H di Uyainah, masuk daerah Najd yang menjadi belahan Timur kerajaan Saudi Arabia sekarang. Dalam perjalanan sejarahnya, Abdul Wahab, sang ayah harus diberhentikan dari jabatan hakim dan dikeluarkan dari Uyainah pada tahun 1726 M/1139 H karena ulah sang anak yang aneh dan membahayakan tersebut. Kakak kandungnya, Sulaiman bin Abd Wahab mengkritik dan menolak secara panjang lebar tentang pemikiran adik kandungnya tersebut (as-sawaiq al-ilahiyah fi ar-rad al-wahabiyah). (Abdurrahman Wahid: Ilusi Negara Islam, 2009, hlm. 62)
Pemikiran Wahabi yang keras dan kaku ini dipicu oleh pemahaman keagamaan yang mengacu bunyi harfiah teks al-Qur’an maupun al-Hadits. Ini yang menjadikan Wahabi menjadi sangat anti-tradisi, menolak tahlil, maulid Nabi Saw, barzanji, manaqib, dan sebagainya. Pemahaman yang literer ala Wahabi pada akhirnya mengeklusi dan memandang orang-orang di luar Wahabi sebagai orang kafir dan keluar dari Islam. Dus, orang Wahabi merasa dirinya sebagai orang yang paling benar, paling muslim, paling saleh, paling mukmin dan juga paling selamat. Mereka lupa bahwa keselamatan yang sejati tidak ditunjukkan dengan klaim-klaim Wahabi tersebut, melainkan dengan cara beragama yang ikhlas, tulus dan tunduk sepenuhnya pada Allah Swt.
Namun, ironisnya pemahaman keagamaan Wahabi ini ditopang oleh kekuasaan Ibnu Saud yang saat itu menjadi penguasa Najd. Ibnu Saud sendiri adalah seorang politikus yang cerdas yang hanya memanfaatkan dukungan Wahabi, demi untuk meraih kepentingan politiknya belaka. Ibnu Saud misalnya meminta kompensasi jaminan Ibnu Abdul Wahab agar tidak mengganggu kebiasaannya mengumpulkan upeti tahunan dari penduduk Dir’iyyah. Koalisipun dibangun secara permanen untuk meneguhkan keduanya. Jika sebelum bergabung dengan kekuasaan, Ibnu Abdul Wahab telah melakukan kekerasan dengan membid’ahkan dan mengkafirkan orang di luar mereka, maka ketika kekuasaan Ibnu Saud menopangnya, Ibnu Abdul Wahab sontak melakukan kekerasan untuk menghabisi orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka.
Pada tahun 1746 M/1159 H, koalisi Ibnu Abdul Wahab dan Ibnu Saud memproklamirkan jihad melawan siapapun yang berbeda pemahaman tauhid dengan mereka. Mereka tak segan-segan menyerang yang tidak sepaham dengan tuduhan syirik, murtad dan kafir. Setiap muslim yang tidak sepaham dengan mereka dianggap murtad, yang oleh karenanya, boleh dan bahkan wajib diperangi. Sementara, predikat muslim menurut Wahabi, hanya merujuk secara eklusif pada pengikut Wahabi, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Unwan al-Majd fi Tarikh an-Najd. Tahun 1802 M /1217 H, Wahabi menyerang Karbala dan membunuh mayoritas penduduknya yang mereka temui baik di pasar maupun di rumah, termasuk anak-anak dan wanita.
Tak lama kemudian, yaitu tahun 1805 M/1220 H, Wahabi merebut kota Madinah. Satu tahun berikutnya, Wahabi pun menguasai kota Mekah. Di dua kota ini, Wahabi mendudukinya selama enam tahun setengah. Para ulama dipaksa sumpah setia dalam todongan senjata. Pembantaian demi pembantaian pun dimulai. Wahabi pun melakukan penghancuran besar-besaran terhadap bangunan bersejarah dan pekuburan, pembakaran buku-buku selain al-Qur’an dan al-Hadits, pembacaan puisi Barzanji, pembacaan beberapa mau’idzah hasanah sebelum khutbah Jumat, larangan memiliki rokok dan menghisapnya bahkan sempat mengharamkan kopi.
Tercatat dalam sejarah, Wahabi selalu menggunakan jalan kekerasan baik secara doktrinal, kultural maupun sosial. Misalnya, dalam penaklukan jazirah Arab hingga tahun 1920-an, lebih dari 400 ribu umat Islam telah dibunuh dan dieksekusi secara publik, termasuk anak-anak dan wanita. (Hamid Algar: Wahabism, A Critical Essay, hlm. 42). Ketika berkuasa di Hijaz, Wahabi menyembelih Syaikh Abdullah Zawawi, guru para ulama Madzhab Syafii, meskipun umur beliau sudah sembilan puluh tahun. (M. Idrus Romli: Buku Pintar Berdebat dengan Wahabi, 2010, hlm. 27). Di samping itu, kekayaan dan para wanita di daerah yang ditaklukkan Wahabi, acapkali juga dibawa mereka sebagai harta rampasan perang.
Di sini, setidaknya kita melihat dua hal tipologi Wahabi yang senantiasa memaksakan kehendak pemikirannya. Pertama, ketika belum memiliki kekuatan fisik dan militer, Wahabi melakukan kekerasan secara doktrinal, intelektual dan psikologis dengan menyerang siapapun yang berbeda dengan mereka sebagai murtad, musyrik dan kafir. Kedua, setelah mereka memiliki kekuatan fisik dan militer, tuduhan-tuduhan tersebut dilanjutkan dengan kekerasan fisik dengan cara amputasi, pemukulan dan bahkan pembunuhan. Ironisnya, Wahabi ini menyebut yang apa yang dilakukannya sebagai dakwah dan amar maruf nahi mungkar yang menjadi intisari ajaran Islam.
Membanjirnya buku-buku Wahabi di Toko Buku Gramedia, Toga Mas, dan sebagainya akhir-akhir ini, hemat saya, adalah merupakan teror dan jalan kekerasan yang ditempuh kaum Wahabi secara doktrinal, intelektual dan sekaligus psikologis terhadap umat Islam di Indonesia. Wahabi Indonesia yang merasa masih lemah saat ini menilai bahwa cara efektif yang bisa dilakukan adalah dengan membid’ahkan, memurtadkan, memusyrikkan dan mengkafirkan orang yang berada di luar mereka. Jumlah mereka yang minoritas hanya memungkinkan mereka untuk melakukan jalan tersebut di tengah-tengah kran demokrasi yang dibuka lebar-lebar untuk mereka.
Saya yakin seyakin-yakinnya jika suatu saat nanti kaum Wahabi di negeri ini memiliki kekuasaan yang berlebih dan kekuatan militer di negeri ini, mereka akan menggunakan cara-cara kekerasan dengan pembantaian dan pembunuhan terhadap sesama muslim yang tidak satu paham dengan mereka. Jika wong NU, jam’iyyah Nahdlatul Ulama, dan ormas lain yang satu barisan dengan keislaman yang moderat dan rahmatan lil alamien tidak mampu membentenginya, saya membayangkan Indonesia yang kelak menjadi Arab Saudi jilid kedua. Saya tidak dapat membayangkan betapa mirisnya jika para kiai dan ulama kita kelak akan menjadi korban pembantaian kaum Wahabi, terutama ketika mereka sedang berkuasa di negeri ini. Naudzubillah wa naudzubilah min dzalik. Wallahualam. **
*Wakil Sekretaris PCNU Jember, Wakil Sekretaris Yayasan Pendidikan Nahdaltul Ulama Jember, PW Lajnah Talif wa an-Nasyr NU Jawa Timur dan kini menjabat sebagai Deputi Direktur Salsabila Group.