Categories
Berita

Ayatullah Mojtaba Khamenei Terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran

Jakarta, NU Online Ayatullah Sayyid Mojtaba Hossein Khamenei resmi terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran pada Ahad (8/3/2026). Keputusan tersebut disepakati dalam rapat Dewan Ahli Kepemimpinan yang dihadiri mayoritas anggotanya secara tatap muka di Qom, Iran.

“Setelah pembahasan dan diskusi yang lengkap, Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei diumumkan, dengan dukungan dan suara mayoritas yang tegas, sebagai Pemimpin Ketiga Revolusi Islam Iran,” demikian dikutip dari Tasnim News pada Senin (9/3/2026).

Selepas wafatnya Ayatullah Agung Ali Khamenei, pimpinan dan sekretariat Dewan Ahli Kepemimpinan sempat beberapa kali merencanakan penyelenggaraan sidang untuk menentukan pengganti. Namun, karena pertimbangan keamanan, sidang-sidang tersebut sebelumnya dibatalkan.

“Akhirnya pada malam ini (17 Esfand 1404 kalender Iran), dengan tetap menjaga seluruh aspek hukum dan keamanan, sidang tatap muka berhasil diselenggarakan. Setelah pembahasan serius terakhir, dilakukan pemungutan suara,” demikian dilaporkan Tasnim News.

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pesan khusus kepada pemimpin tertinggi yang baru terpilih tersebut. Ia menilai terpilihnya putra mendiang Ayatullah Ali Khamenei itu merupakan perwujudan kehendak rakyat Iran untuk memperkokoh persatuan nasional.

Menurutnya, persatuan tersebut telah menjadi benteng kokoh yang membuat bangsa Iran tetap teguh menghadapi berbagai tekanan dan konspirasi dari pihak luar.

“Pencapaian ayah syahid Anda yang agung dalam menjaga sistem negara dan mengangkat derajat revolusi telah menyediakan fondasi yang kuat bagi masa depan Iran,” katanya.

Dengan kepemimpinan Ayatullah Mojtaba, ia meyakini fondasi tersebut akan mengantarkan Iran menuju masa depan yang lebih cerah, ditandai dengan kemerdekaan yang berkelanjutan, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pembangunan yang menyeluruh.

Ia menyebut visi tersebut diharapkan melahirkan kemajuan, keadilan sosial, serta kehormatan Iran di tingkat global melalui persatuan dan kebijaksanaan bangsa.

Menurut Pezeshkian, sepanjang sejarahnya Iran telah berulang kali menunjukkan kemampuan untuk bertahan menghadapi berbagai kesulitan. Dengan bersandar pada kebijaksanaan kolektif, iman, dan kerja keras, Iran mampu melewati berbagai fase sulit.

“Hari ini pun, dengan memanfaatkan kemampuan para intelektual dari berbagai pandangan, para pemuda yang berani, serta para pengelola negara yang tulus, Iran akan terus melangkah menuju kemajuan,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa Iran tetap berupaya menghadapi berbagai tekanan eksternal, termasuk konflik dan ketegangan geopolitik, dengan keteguhan rakyat serta kesiapan aparat negara.

Saat pengumuman berlangsung, sorak-sorai warga Iran terdengar menyambut pemimpin barunya.

Sebagaimana diketahui, Ayatullah Mojtaba merupakan putra Ayatullah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi kedua Iran setelah Ayatullah Sayyid Ruhollah Khomeini. Ia lahir di Mashhad, Iran, sekitar 56 tahun lalu.

Sumber: https://nu.or.id/internasional/ayatullah-mojtaba-khamenei-terpilih-sebagai-pemimpin-tertinggi-iran-S8EDE

Categories
Berita

Santunan Dhuafa Lazawa Darul Hikam, Puluhan Warga Jember Terima Bingkisan Ramadan

Jember – Lembaga Zakat dan Wakaf Darul Hikam menggelar kegiatan santunan dhuafa pada Minggu, 15 Maret 2026 di kantor Lazawa Darul Hikam yang berlokasi di Perum Pesona Surya Milenia C7 No. 6 Mangli, Kaliwates, Jember. Kegiatan ini dihadiri 30 warga dhuafa dari berbagai wilayah di Kabupaten Jember, di antaranya dari Kecamatan Ajung, Mangli, Sukorambi, dan daerah sekitarnya.

Acara tersebut turut dihadiri Direktur Lazawa Darul Hikam Prof. Dr. KH. M. Noor Harisudin, S.Ag., S.H., M.Fil.I., CLA., CWC. Bendahara Bu Hj. Nyai Robiatul Adawiyah, S.H.I., M.H, Nazhir Ustad M. Irwan Zamroni Ali, S.H., M.H., CWC., serta sejumlah pengurus lainnya seperti Ustadz Wildan Rofikil Anwar, S.H., M.H,  Iklil Naufal, dan Arif Rahman. Hadir pula perwakilan donatur, Hj. Ratna Wahyuni, istri dari dr. H. M. Arief Heriawan.

Kegiatan diawali dengan doa bersama, tahlil, serta pembacaan Sholawat Nariyah yang diikuti seluruh jamaah. Suasana berlangsung khidmat sekaligus penuh kehangatan sebagai bagian dari syiar Ramadan dan kepedulian sosial kepada masyarakat yang membutuhkan.

Nazhir Lazawa Darul Hikam, Ustad M. Irwan Zamroni Ali, S.H., M.H., CWC menyampaikan bahwa selama bulan Ramadan 1447 H, Lazawa Darul Hikam telah melaksanakan berbagai program sosial dan dakwah yang melibatkan masyarakat luas.

“Selama Ramadan ini, Lazawa Darul Hikam berusaha menghadirkan berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi umat, mulai dari dakwah Islam di Kanada, buka bersama mahasantri dari tanggal 1 hingga 20 Ramadan, santunan baju lebaran bagi anak yatim, hingga santunan dhuafa seperti hari ini,” ujar ustad Irwan yang juga Dosen UIN KHAS Jember.

Ustad Irwan juga berharap kegiatan tersebut dapat memberikan kebahagiaan dan semangat baru bagi masyarakat yang membutuhkan.

“Harapan kami, di bulan suci Ramadan ini Lazawa Darul Hikam dapat terus berbagi kebahagiaan dengan saudara-saudara kita yang membutuhkan serta menjadi jembatan kebaikan antara para donatur dan masyarakat,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Hj. Ratna Wahyuni donatur Lazawa Darul Hikam juga turut membagikan zakat secara langsung kepada para dhuafa yang hadir sebesar Rp150 ribu untuk masing-masing penerima. Ia berpesan agar masyarakat tetap sabar dan kuat menghadapi berbagai kesulitan hidup.

“Saya senang dan bahagia bertemu dengan panjenengan semua. Semoga bantuan kecil ini bisa sedikit meringankan. Kita semua harus tetap sabar menghadapi segala situasi yang sulit. Mudah-mudahan Allah SWT selalu memberi kita kekuatan dan keberkahan dalam hidup,” pesannya.

Pada kesempatan yang sama, Guru Besar UIN KHAS Jember yang juga Ketua YPI Darul Hikam, Prof. Dr. KH. M. Noor Harisudin mengingatkan pentingnya rasa syukur dalam menjalani kehidupan, khususnya bagi mereka yang bekerja keras di lapangan.

“Kita harus selalu bersyukur kepada Allah SWT. Banyak saudara kita yang bekerja di luar ruangan, di bawah terik matahari, di jalanan atau di lapangan, namun tetap sabar dan ikhlas menjalani kehidupan. Namun, dalam keadaan apapun kita harus berusaha dan bersegera melakukan kebaikan,” tuturnya menyampaikan pernyataan ibnu Athoillah al Iskandari dalam kitab hikam.

Selanjutnya, Prof Haris juga mengajak masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi untuk turut berpartisipasi dalam meningkatkan kesejahteraan umat melalui berbagai instrumen filantropi Islam.

“Bagi masyarakat yang diberi kelapangan rezeki, mari bersama-sama menghidupkan kesejahteraan umat melalui zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Dari situlah keberkahan akan terus mengalir bagi kita semua. Kami berterima kasih pada Bu Hj. Ratna Wahyuni (ibu dr. Arif) yang telah hadir dan memberi sedikit uang kebahagiaan kepada bapak ibu sekalian. Juga donatur lain seperti Bapak H. Agus Lutfi,” pungkas Prof Haris yang juga Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur.

Kegiatan santunan kemudian ditutup dengan penyerahan bantuan kepada para dhuafa yang hadir, sebagai wujud kepedulian sosial Lazawa Darul Hikam kepada masyarakat di bulan suci Ramadan.

Reporter : Iklil Naufal Umar
Editor : Wildan Rofikil Anwar

Categories
Berita

Gabung Program THR Kemenag Jember, Lazawa Darul Hikam Ikut Salurkan Ratusan Paket Sembako

Jember – Lembaga Zakat dan Wakaf Darul Hikam bergabung bersama Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jember dan sejumlah lembaga zakat lainnya dalam program Selaras Hangat Lintas Agama — Joyful Ramadan Indonesia Berdaya melalui kegiatan Tebar Harapan Ramadan (THR) yang digelar pada Kamis (12/3/2026).

Dalam program ini, Lembaga Zakat dan Wakaf Darul Hikam turut berpartisipasi dengan mengutus M. Irwan Zamroni Ali, S.H., M.H., CWC selaku Nazhir, bersama Wildan Rofikil Anwar, S.H. Keduanya hadir bersama perwakilan lembaga lain seperti BAZNAS Kabupaten Jember, UPZ UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, Nurul Hayat, LAZISNU, LAZISMU, Persada Jatim, AZKA Al Baitul Amin, YDSF, RIZKI, serta sejumlah lembaga amil zakat lainnya di Kabupaten Jember.

Kasi Penyelenggaraan Zakat dan Wakaf Kemenag Jember, Dr. Abdul Basid, menjelaskan bahwa program Tebar Harapan Ramadan dirancang sebagai gerakan sosial yang melibatkan berbagai lembaga zakat agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

“Kegiatan ini tidak sekadar seremoni Ramadan, tetapi merupakan gerakan nyata untuk meningkatkan kualitas ibadah, kepedulian sosial, serta penguatan nilai kebangsaan di tengah masyarakat,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut dilakukan penyaluran bantuan berupa 356 paket bingkisan kepada para penerima manfaat. Paket tersebut terdiri dari 310 bantuan dari Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Kemenag Jember dan 46 paket dari berbagai Lembaga Amil Zakat, termasuk Lazawa Darul Hikam. Selain itu, zakat fitrah dari ASN Kemenag Jember juga disalurkan kepada para mustahiq sebanyak 746 paket.

Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Jember, Dr. Santoso, menyampaikan bahwa kolaborasi berbagai lembaga zakat seperti Lazawa Darul Hikam merupakan langkah penting dalam memperkuat solidaritas sosial selama Ramadan.

“Momentum Ramadan harus dimanfaatkan untuk mendorong umat Islam semakin dekat dengan ajaran agamanya, sehingga nilai-nilai spiritual tidak hanya menjadi rutinitas ibadah, tetapi juga tercermin dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa konsep Joyful Ramadan diharapkan mampu menghadirkan suasana ibadah yang penuh kebahagiaan sekaligus memperkuat kepedulian terhadap sesama.

“Ramadan harus menjadi ruang untuk memperkuat solidaritas sosial, menumbuhkan kepedulian terhadap sesama, serta menghadirkan kegiatan yang edukatif dan solutif bagi masyarakat,” tuturnya.

Nazhir Lembaga Zakat dan Wakaf Darul Hikam, Ustad M. Irwan Zamroni Ali, S.H., M.H., CWC. mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai bentuk sinergi yang baik antara lembaga zakat dan pemerintah dalam memperluas manfaat zakat kepada masyarakat.

“Kami sangat mengapresiasi inisiatif Kemenag Jember yang telah mengajak berbagai lembaga zakat untuk berkolaborasi dalam program Tebar Harapan Ramadan ini. Kegiatan seperti ini sangat penting untuk memperkuat sinergi dan memperluas manfaat zakat, infak, dan sedekah agar dapat dirasakan oleh lebih banyak masyarakat yang membutuhkan,” ujar Ustad Irwan yang juga Dosen UIN KHAS Jember.

Keikutsertaan Lazawa Darul Hikam dalam program ini menunjukkan komitmen lembaga tersebut untuk terus bersinergi dengan berbagai pihak dalam memperluas manfaat zakat, infak, dan sedekah bagi masyarakat yang membutuhkan, khususnya di bulan suci Ramadan.

Reporter : Iklil Naufal Umar
Editor : Wildan Rofikil Anwar

Categories
Berita

Menurut Imam Ghazali, Lailatul Qadar Ramadhan 1447 H Akan Jatuh pada Malam Ke-25

Jakarta, NU Online 

Lailatul Qadar pada Ramadhan 1447 H ini, menurut Imam Ghazali, akan terjadi pada malam ke-25, yakni Sabtu (14/3/2026) malam Ahad. Hal ini mengingat awal Ramadhan 1447 H dimulai pada Kamis (19/2/2026).

Mengutip kitab I’anatut Thalibin, Ustadz Yusuf Suharto menjelaskan bahwa Imam Ghazali memiliki kaidah khusus peristiwa malam lailatul qadar bergantung hari pada awal Ramadhan. Hal demikian sebagaimana diuraikan dalam artikelnya berjudul Kaidah Menandai Lailatul Qadar Menurut Al-Ghazali yang dikutip NU Online pada Selasa (10/3/2026).

Berikut rincian kedatangan lailatul qadar berdasarkan hari awal Ramadhan menurut Imam Ghazali.  

  • Jika awal Ramadhan jatuh pada hari Ahad atau Rabu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-29;
  • Jika awal Ramadhan hari Senin maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-21;
  • Jika awal Ramadhan hari Selasa atau Jum’at maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27;
  • Jika awal Ramadhan hari Kamis maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-25; dan
  • Jika awal Ramadhan hari Sabtu maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-23.

Imam Abul Hasan asy-Syadzili mengikuti panduan yang disampaikan Imam Ghazali ini. Karenanya, kaidah tersebut dinilai cukup representatif.

“Semenjak saya menginjak usia dewasa Lailatul Qadar tidak pernah meleset dari jadwal atau kaidah tersebut,” demikian komentar Imam asy-Syadzili.

Sebagaimana diketahui, baik Pemerintah melalui Kementerian Agama ataupun Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Lembaga Falakiyah PBNU mengikhbarkan bahwa awal Ramadhan 1447 H jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026.

Artinya, jika mengacu panduan Imam Ghazali di atas, maka malam Lailatul Qadar Ramadhan tahun 1447 H ini akan jatuh pada malam ke-25, yakni tepatnya pada Sabtu malam Ahad, tanggal 14 Maret 2026 M. 

Meski demikian, hal tersebut tidak bisa dijadikan sebagai sebuah kepastian. Pasalnya, Lailatul Qadar bisa terjadi pada tanggal berapa saja sesuai kehendak Allah swt. Pun pandangan ulama juga beragam mengenai peristiwa tersebut.

Oleh karena itu, Ustadz Yusuf Suharto menyarankan agar senantiasa mencari lailatul qadar di malam-malam Ramadhan, khususnya di tanggal ganjil pada 10 hari terakhir Ramadhan.

Sebagaimana diketahui, Lailatul Qadar merupakan malam istimewa yang paling dinanti seluruh umat Muslim. Pasalnya, pada malam tersebut, Allah menjanjikan ampunan dan keberkahan yang sangat besar bagi hamba-hamba yang menemuinya. Namun, kedatangan malam yang disebut lebih baik dari seribu bulan itu tidak bisa diprediksi ketepatannya seratus persen.

Sumber: https://nu.or.id/nasional/menurut-imam-ghazali-lailatul-qadar-ramadhan-1447-h-akan-jatuh-pada-malam-ke-25-LriTW

Categories
Berita

Haru dan Bahagia, Lazawa Darul Hikam Kembali Ajak Yatim Belanja Baju Lebaran di Jember Roxy Square

Jember – Lembaga Zakat dan Wakaf Darul Hikam menggelar kegiatan santunan baju Lebaran dan buka bersama anak yatim pada Rabu, 11 Maret 2026. Kegiatan ini diikuti oleh 20 anak yatim yang diajak langsung memilih baju Lebaran di pusat perbelanjaan Jember Roxy Square, salah satu mal terbesar di Kabupaten Jember.

Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hikam Putri, Ibu Nyai Hj. Robiatul Adawiyah, S.HI., M.H menyampaikan, sejak sore hari anak-anak yatim diajak berkeliling mal untuk memilih sendiri pakaian yang akan mereka kenakan saat Hari Raya Idulfitri. Kegiatan ini dilakukan agar mereka dapat merasakan kebahagiaan menyambut Lebaran seperti anak-anak lainnya.

“Melalui kegiatan ini kami ingin anak-anak yatim juga merasakan kebahagiaan yang sama saat menyambut Lebaran. Mereka bisa memilih sendiri baju yang mereka sukai, sehingga momen ini menjadi kenangan yang menyenangkan bagi mereka,” ujar Ibu Nyai Robi yang juga Wakil Ketua Fatayat NU Jember.

Setelah agenda belanja selesai, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama untuk para donatur dan keselamatan bangsa serta buka bersama anak yatim yang dilaksanakan di Aula Pondok Pesantren Darul Hikam Cabang Putra Ajung Jember. Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penutupan kegiatan pembelajaran di lingkungan pesantren.

Nazhir Lazawa Darul Hikam, Ust. M. Irwan Zamroni Ali, S.H., M.H, CWC, menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian sejumlah program sosial selama bulan Ramadan.

“Selain kegiatan santunan baju Lebaran Yatim, Lazawa Darul Hikam juga mengadakan buka bersama dengan seluruh mahasantri Darul Hikam sejak tanggal 1 sampai 20 Ramadan, serta menyalurkan santunan kepada kaum dhuafa,” ujar Ust. Irwan yang juga Dosen Fakultas Syariah UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

Ust. Irwan juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para donatur yang bergabung dalam program kegiatan ini. Ia menilai dukungan para donatur menjadi kunci terselenggaranya kegiatan berbagi kebahagiaan bagi anak-anak yatim tersebut.

“Kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para donatur yang telah mempercayakan zakat, infak, sedekah dan wakafnya melalui Lazawa Darul Hikam. Berkat dukungan dan kepedulian para donatur, kegiatan santunan baju Lebaran dan buka bersama anak yatim ini dapat terlaksana dengan baik,” ujar Ust. Irwan alumni Pasca Sarjana UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Yayasan sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hikam, Prof. Dr. KH. M. Noor Harisudin, S.Ag., S.H., M.Fil.I., CLA., CWC juga memberikan pesan kepada anak-anak yatim yang hadir. Ia menegaskan bahwa mereka adalah generasi penerus bangsa yang harus dijaga masa depannya.

“Adik-adik yatim ini adalah generasi penerus bangsa. Karena itu mereka harus dijaga dan diarahkan dengan baik. Yang paling penting adalah menghindari lingkungan yang tidak baik, karena lingkungan sangat mempengaruhi masa depan seseorang,” tutur Prof Haris yang juga Guru Besar UIN KHAS Jember.

Prof. Haris yang juga Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur menjelaskan, kegiatan ini tidak hanya sekadar santunan, tetapi juga menjadi momentum kebersamaan antara pesantren dan masyarakat.
“Kami berharap kegiatan ini membawa keberkahan bagi semua pihak. Selain berbagi dengan anak-anak yatim, kegiatan ini juga menjadi penutup pembelajaran di pesantren sebelum para maha santri PP Darul Hikam menyambut Hari Raya Idul Fitri,” tambah Prof. Haris yang juga baru datang dari Safari Ramadlan di Negara Kanada 16 Pebruari-3 Maret 2026.

Kegiatan santunan dan buka bersama ini berlangsung dengan penuh kehangatan. Anak-anak yatim tampak bahagia dapat memilih baju Lebaran mereka sendiri sekaligus berkumpul bersama para mahasantri, pengurus dan keluarga besar Darul Hikam dalam suasana kebersamaan di bulan Ramadan.

Reporter : Iklil Naufal Umar
Editor : M. Irwan Zamroni Ali

Categories
Berita

Pengajian Syiar Montreal Kanada, Prof. Haris Bagikan Trik Jaga Keimanan di Negeri Multikulturalisme

Montreal Kanada, 5 Maret 2026
Hidup di tengah negara multikulturalisme saperti Kanada tidak mudah. Di tengah orientasi untuk hidup berdampingan (life together) dengan pemeluk agama lain, umat Islam harus memiliki keimanan yang kuat alias teguh pendirian. Kanada adalah negara multi kultural dengan jumlah imigran dari berbagai belahan dunia. Belum lagi tantangan keterbatasan dalam menjalankan ibadah di tengah negara Kanada dengan penduduk 41 juta orang tersebut.

Oleh karenanya, Pengajian Syiar Montreal mengambil tema “ Menjaga Keimanan di Tengah Kebebasan Fiqih Minoritas Muslim dalam Masyarakat Yang Toleran” dengan mengundang Prof. Dr. KH. M Noor Harisudin S.Ag, S.H, M.Fil.I, CLA, CWC pada Minggu, 1 Maret 2026 jam 16.30 sd 18.00 Waktu Kanada. Pengajian diselenggarakan di rumah Bapak Lilik, 20 Rue Oslo Dollard-des-Ormeaux QC H9A 2H5 Montreal Kanada. Hadir pada kesempatan itu, KH. Sigit Afriyanto (Wakil Rois Syuriyah PCI NU AS-Kanada), Faridudin Athar, Ph.D (Ketua Pengajian Syiar Montreal), dan seratus orang jamaah pengajian tersebut, diantaranya para mualaf di kota Montreal tersebut. Pengajian ini merukan kelanjutan dari pengajian sebelumnya di rumah KH. Sigit Afrianto di 4959 Rue Bastien Pirrefonds QC H8z 3J9 Montreal Kanada.

Sebagai seorang muslim di Kanada, Prof. Haris menyampaikan bagaimana tantangan tersebut. “Saya memahami karena alhamdulillah saya sudah keliling 23 negara dunia. Tentu tidak mudah menjalankan ibadah dengan fasilitas terbatas, cuaca ekstrem, dan sebagainya, maka tentu ini butuh effort yang luar biasa dari seorang muslim khususnya di Kanada,” ujar Prof. Haris yang juga Direktur World Moslem Studies Center.

Tantangan lain adalah menjaga keimanan di tengah-tengah ritme hidup di Kanada yang lebih banyak menghabiskan hari-hari untuk bekerja membangun negara Kanada. “Regulasi di Propinsi Quebac misalnya tidak membolehkan semua orang untuk ibadah di kantor dan sekolah. Tentu ini sangat merepotkan bagi muslim di propinsi ini. Tapi, insyaallah Islam punya solusinya. Bapak ibu bisa sholat lihurmatil wakti –apa adanya meski tidak suci dan tidak dapat sholat berdiri, namun nanti diganti ketika berada di rumah. Dan yang lebih penting, tidak berdosa karena memang tidak memungkinkan untuk sholat”, ujar Prof Haris yang juga Dewan Pakar Pengurus Besar IKA PMII.

Lebih lanjut, Prof. Haris mengajukan trik bagaimana menjaga keimanan di tengah negara multi kulturalisme Kanada. Setidaknya beberapa hal untuk penguatan keimanan. Pertama, dengan berdzikir pada Allah Swt. “ jaddiduu imanakum biqauli la ila halla illah. Perbarui imanmu dengan dzikir la ila ha illaha. Insyaallah dengan dzikir ini secara istiqamah, iman kita akan teguh dan terus terjaga, “ tegas Prof. Haris yang juga Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur tersebut.

Kedua, lanjut Prof. Haris, bertemu dengan habitus yang mendekatkan diri pada Allah. Prof. Haris menukil perkataan Ibnu Athailah dalam Master Piece-nya, Kitab Hikam. “La tashab man la yunhiduka haluhu wala yadullaka ‘allaahi maqaaluhu. Jangan kau berteman pada orang yang perkataan dan perbuatannya tidak dapat mendekatkan diri pada Allah Swt. Kalau bahasa perguruan tinggi, ada teori habitus. Kita ini tergantung komunitasnya. Iman akan kuat kalau habitus-nya yang mendukung seperti habitus dalam Pengajian Syiar Montreal tersebut,” kata Prof. Haris yang juga Wakil Ketua Komisi Pesantren MUI Pusat 2025-2043 tersebut.

Ketiga, lanjut Prof haris, iman kita akan kuat jika selalu menjalankan ajaran Islam dengan baik. “Kalau kita selalu praktik ajaran Islam, insyaallah iman kita akan semakin kuat. Sebaliknya, kalau tidak praktik, maka iman juga akan semakin melemah, Karena iman itu yaziidu wa yanqusu. Iman itu naik turun ,” terang Prof. Haris yang juga Dekan Fakultas Syariah UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember masa bakti 2019-2023 tersebut.

Keempat, minta pertolongan pada Allah Swt. “Kita ini siapa. Kita ini tidak punya kekuatan. Oleh karenanya, maka jangan bosan-bosan untuk minta pertolongan pada Allah Swt agar Allah menjaga keimanan kita. Allah Swt. insyallah akan melindungi kita semua, “ urai Prof. Haris di hadapan jamaah Pengajian Syiar Montreal tersebut.

Acara pengajian dilanjutkan dengan doa khataman al-Qur’an dan buka bersama serta sholat ghaib atas kurban meninggal dunia perang di Iran dan Palestina hari-hari ini. Acara selanjutnya jamaah sholat Isya dan tarawih di rumah Pak Lilik tersebut. ***

Reporter : Iklil Naufal Umar
Editor : M. Irwan Zamroni Ali

Categories
Berita

Pengajian dan Buka Bersama di KBRI Ottawa, Prof. Haris Sebut Ukhuwah Level Tertinggi Sikapi Perbedaan

Level tertinggi bersikap terhadap perbedaan adalah persaudaraan. Bukan peminggiran ataupun pemusnahan pada mereka yang berbeda. Demikian disampaikan Prof. Dr. HM. Noor Harisudin, S.Ag, SH, M.Fi.I,CLA, CWC, Direktur World Moslem Studies Center, dalam Pengajian dan Buka Bersama di KBRI Ottawa Kanada, Sabtu, 28 Pebruari 2026.

Pernyataan Prof. Haris sangat relevan dengan Negara Kanada yang dikenal dengan multikulturalisme-nya. Di Kanada, penganut agama hidup berdampingan dengan damai. Ada masjid, gereja, sinagoge, kuil, dan rumah ibadah yang lain. Jutaan penduduknya yang berasal dari berbagai negara juga hidup rukun dan damai. Mereka memegang teguh akan multukultarisme yang menjadi nilai utama warga Kanada.

Lebih lanjut, Prof. Haris menjelaskan bahwa perbedaan adalah sunnatulah. Kapanpun dan dimanapun, pasti ada perbedaan. “Jangankan kita berbeda dengan orang lain. Dalam diri kitapun, kita seringkali berbeda. Buktinya, pagi hari tempe, malam hari kedelai. Pagi A, siang B dan malam C. Ini bukti kalau diri kita juga sering berbeda. Oleh karena itu, jangan takut dengan perbedaan”, ujar Prof. MN Harisudin yang juga Dai Internasional Kanada Tahun 2026 ini.

Prof. Haris menceritakan anekdot seorang yang tertabrak di Indonesia di rel kereta pai. Dia sudah berlumuran darah. “Seorang yang mau menolong ini banyak tanya. Kamu agama apa? Islam jawab yang tertabrak. Islam apa? NU atau Muhammadiyah? NU jawabnya lagi. NU nya apa? PKB atau PPP? PKB jawabnya lagi. Masih ditanya lagi PKB nya siapa? Gus Dur atau Muhaimin? Akhirnya sebelum menjawab dia meninggal duluan”, cerita Prof Haris yang disambut gelak ratusan tawa hadirin pada sore itu.

Islam, kata Prof. Haris, memberikan guidance bagaimana menghadapi perbedaan. Bukan dengan cara pemusnahan terhadap mereka yang berbeda, melainkan dengan bersikap toleran terhadap perbedaan. “Laula mukhalafata lama musaamahata. Seandainya tidak ada perbedaan, maka tidak akan ada toleransi. Makanya, sungguh Indah, level pertama adalah berbeda, tapi toleran atau menghargai perbedaan tersebut”, ujar Prof. Haris yang juga Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

Level selanjutnya adalah berbeda, tapi bersatu. “Tentu hal yang tidak mudah. Namun, kita bisa menaikkan levelnya. Seseorang bukan hanya toleran, namun juga bersatu –misalnya–menjadi bagian dari nation atau bangsa, Demikian juga bersatu menjadi bagian dari umat Islam dunia. Meski kita tahu–umat Islam berbeda: NU, Muhammadiyah, Sunni, Syiah, Ahmadiyah, dan seterusnya”, kata Prof. MN. Harisudin yang sudah berkunjung ke 23 negara dunia.

Dan level paling tinggi adalah berbeda, namun bersaudara. “Inilah yang diajarkan Islam. Kita berbeda, namun kita bersaudara. Islam mengajarkan Tri Logi Ukhuwah: persuadaran berdasarkan keislaman (Ukhuwah Islamiyah), persaudaraan berdasarkan kebangsaan (Ukhuwah Wathaniyah) dan persadauraan berdasarkan kemanusiaan (Ukhuwah Basyariyah). Dengan Tri Logi Ukhuwah ini, umat Islam akan mudah bergaul dimanapun dan kapanpun juga, khususnya di Kanada ini”, kata Prof. MN Harisudin ulama muda yang juga Wakil Ketua Komisi Pesantren MUI Pusat.

Hadir pada kesempatan itu, Muhsin Syihab (Dubes RI Kanada), Rahmania Maryam Syihab (Ibu Dubes RI Kanada), Rezal Akbar Nasrun (Minister Consuler), Ust. Bani (Ketua Pengajian Muslim Ottawa), dan para diaspora muslim yang berjumlah seratus lebih. Selain buka bersama dengan makanan khas Indonesia yang memikat, juga ada doa bersama untuk umat Islam di Iran dan penggalangan dana untuk umat Islam di Palestina. Acara diakhiri dengan sholat tarawih berjamaah mulai jam 7.30 hingga 8.30 malam waktu Kanada. ***

Reporter: Iklil Naufal Umar
Editor : M. Irwan Zamroni Ali

Categories
Berita

KBRI Ottawa Undang Dai Internasional Bahas Fikih Keseharian Muslim di Kanada

Ottawa, 27 Pebruari 2026.Islam secara subtansi adalah sama, baik Islam di Asia, Amerika, Australia, Afrikan maupun Eropa. Hanya saja, pada praktiknya, sedikit berbeda karena perbedaan tempat, waktu dan keadaan. Oleh karena itu, kaidah dalam fikih, mengatakan taghayurul ahkam bi taghayuril azminati wal amkinati wal ahwali. Hukum Islam berubah sesuai perubahan zaman, tempat dan keadaan.

Bertolak dari ini, maka KBRI Ottawa bekerja sama dengan Pengajian Kamila menyelenggarakan Kajian Ramadan dengan tema “Fikih Keseharian Muslim di Kanada”. Kegiatan diselenggarakan Kamis, 26 Pebruari 2026 di Auditorium Caraka Nusantara KBRI Ottawa Kanada. Hadir pada saat itu, Dubes RI di Kanada, Muhsin Syihab, dan segenap jajarannya seperti Rezal Akbar Nasrun, Heru Santoso dan lain sebagainya.

Ketua Pengajian Kamila (Kajian Muslim Lintas Negara), Rahmania Maryam Syihab yang juga istri Dubes RI Kanada mengatakan bahwa pengajian ini diperuntukkan Muslim di Kanada. ” Secara online, diaspora Muslim hadir dari beberapa kota besar di Kanada seperti Ottawa, Montreal, Calgary, Toronto dan Vancouver. Semantara, secara offline di KBRI, hadir puluhan orang bapak dan ibu serta diaspora muslim di Ottawa”, kata ibu Rahmania Maryam Syihab yang asal Palembang.

Sementara itu, Prof. M. Noor Harisudin Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq mengatakan bahwa fikih adalah salah satu unsur penting dalam Islam.”Unsur dalam Islam itu ada tiga: Tauhid (Iman), Fikih (Syariah) dan tasawuf (Ihsan). Sekarang kita bahas fikihnya dulu”, kata Prof. Haris yang juga Direktur World Moslem Studies Center.

Soal fikih, lanjut Prof Haris, menyatakan bahwa umumnya orang menyebut hukum Islam yang lima yaitu wajib, sunah, haram, makruh dan mubah. “Ini tidak salah, namun kurang lengkap. Ada dimensi lain dalam fikih yang objeknya adalah perbuatan manusia. Misalnya bagaimana sholat –kita contohkan sholat dluhur–itu dilakukan; apakah telah memenuhi syarat dan rukun sholar. Kalau syarat dan rukun terpenuhi, maka sholat dluhur sah dan gugur kewajiban sholat tersebut”, ujar Prof. Haris yang juga Pengasuh PP Darul Hikam Mangli Jember.

Demikian juga, ketika sholat dluhur, apakah dilakukan dalam keadaan normal atau dilakukan dalam keadaan khusus. “Dalam keadaan normal berlaku hukum asal, misalnya jumlah sholat dluhur dan ashar 4 rokaat dan dilakukan pada waktunya. Dalam keadaan khusus –misalnya bepergian dan orangnya disebut musafir—maka dia mendapat keringanan dari Allah Swt. Dia boleh sholat jama dan qashar dari 4 rakaat menjadi hanya 2 rakaat. Ini yang disebut dengan rukhsah”, ujar Prof. Haris yang juga Wakil Ketua Komisi Pesantren MUI Pusat.

Para jamaah sangat atunsias mengikuti pengajian yang berlangsung dua jam mulai 12.30 hingga 14.30 Waktu Kanada Ada banyak pertanyaan. Salah satunya tentang puasa Ramadan di daerah yang Maghribnya jam 10 malam. “Tapi kami ikut puasa sampai jam 6 sore, ustadz. Padahal keadaan musim panas (summer). Bagaimana puasa kami, Ustadz”, tanya ibu Laila ketika dia dan suaminya tinggal di Yellowknife Kanada. Prof Haris menjelaskan bahwa itu merupakan khilafiah (perbedaan pendapat). Ada ulama yang mengatakan buka puasa jam 10 malam dan ada ulama cukup jam 6.

“Silahkan ikut pendapat yang ibu yakini. Dan puasa ibu juga sah”, tukas Prof. Haris yang sudah berdakwah keliling 23 Negara dan lima benua tersebut. Wallahu’alam***

Categories
Berita

Dubes RI Muhsin Syihab Terima Kasih atas Kehadiran Dai Internasional Womester di Kanada

Ottawa Kanada, 22 Pebruari 2026

Dubes RI di Kanada, Muhsin Syihab mengucapkan terima kasih atas kedatangan Prof. M Noor Harisudin, Direktur World Moslem Studies Center (Womester) di Ottawa Kanada dalam rangka Safari Ramadan mulai 6 Pebruari hingga 3 Maret 2026. Demikian disampaikan oleh Muhsin Syihab dalam acara Pengajian dan Buka Bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Ottawa pada Minggu, 22 Pebruari 2026.

“Selaku Dubes RI Kanada, kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran semuanya di Auditorium KBRI Ottawa ini. Dan juga, kami terima kasih atas kedatangan tamu khusus kita, Prof M. Noor Harisudin ke Kanada. Beliau datang dalam rangka Safari Ramadlan. Prof Haris adalah seorang yang ahli dalam ilmu hukum Islam. Kemarin beliau ke Montreal, sekarang di Ottawa dan nanti akan ke Toronto’, kata Muhsin Syihab yang menjadi Dubes Kanada bukan Juli 2025.

Muhsin Syihab berharap agar digunakan untuk berkonsultasi tentang agama pada Prof. Haris yang juga Guru Besar Ilmu Fikih di UIN Kiai Haji Achmas Siddiq Jember. “Karena Prof Haris selama lima hari ke depan, Prof Haris akan mengisi di KBRI Ottawa”, ujar Muhsin Syihab, Dubes muda yang lahir pada 5 Juni 1970.

Sementara, Prof Haris berterima kasih pada Dubes Kanada yang sesungguhnya adalah seorang ulama juga. Dalam paparannya, Prof Haris menjelaskan tiga unsur Islam yaitu tauhid, fikih dan tasawuf. “Ketiga-tiganya harus dipelajari dan diamalkan secara seimbang. ”, kata Prof Haris, Dai Internasional yang sudah keliling 23 negara dunia tersebut.

Secara spesifik, Prof Haris menjelaskan tentang Fikih Luar Negeri yang dalam bahasa lain Fikih Aqaliyat. “ Fikih Luar Negeri itu yang Fikih Aqaliyat. Ini fikih untuk muslim yang hidup di negara dengan minoritas muslim seperti Kanada, Amerika, Australia, Taiwan, Belanda, Jerman, Hongkong, Rusia, Jepang dan sebagai”, ujar Prof Haris yang juga Wakil Ketua Komisi Pesantren MUI Pusat.

Terkait dengan Fikih Luar Negeri, Prof Haris memberikan catatan bahwa muslim luar negeri secara khusus mendapatkan rukhsah dari agama. Sebagaiman dikatahui, rukhsah adalah lawan dari azimah. Jika azimah adalah hukum asal, maka rukhash adalah hukum keringanan yang ditetapkan oleh Allah dalam keadaan tertentu (fi haalatin khassah).

“Karena ada kesulitan tertentu, maka muslim mendapatkan keringanan. Misalnya kesulitan mensucikan najis babi atau sering disebut dengan Najis Mugholadzah. Menurut jumhur ulama, cara mensucikannya dengan tujuh kali basuhan dan salah satunya dengan debu. Nah sucikan dengan debu ini sulit di beberapa negara, maka diganti dengan sabun”, ujar Prof. Haris yang juga Pengasuh PP Darul Hikam Mangli Jember.

Mashul Khufain (mengusap mauzah atau sepatu) adalah rukhsah lain yang diberikan pada muslim di negara minoritas. “Karena kesulitan kaki dicopot, maka kita tidak usah copot. Dan tidak da tempat wudlu, kecuali westafel yang menutut orang luar negeri dinggap kumuh dan tidak sopan meletakkan kaki di westafel untuk wudlu. Maka kita bolej mengikuti pendapat ulama yang membolehkan mashul khufain di negara yang tadi saya sebut. Saya sendiri juga praktik mashul khufain di berbagai negara tersebut”, ujar Prof. M Noor Harisudin yang juga Guru Besar Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmas Siddiq Jember.

Namun demikian, meski ada kelonggaran dalam Fikih Luar Negeri, Prof Haris tetap mendorong muslim Kanada untuk terus berdakwah. Demikian ini agar umat Islam tidak menjadi minoritas selamanya, namun suatu saat nanti bisa mayoritas. “Saya dengar di Montreal dulu hanya ada satu masjid tahun 1956. Kini Montreal sudah memiliki 30 masjid. Demikian juga masjid di Ottawa yang dulu hanya satu masjid, kini punya sepuluh masjid. Demikian kota-kota besar lain di Kanada”, kata Prof M Noor Harisudin yang juga Wakil Ketua PP Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara-Hukum Administrasi Negara 2025-2030.

Acara dihadiri seratus lebih jamaah diaspora Indonesia di Ottawa. Selain Muhsin Syihab (Dubes RI), juga hadir Rezal Akbar Nasrun (Minister Counsellor) dan Keluarga Besar KBRI Ottawa juga hadir semua. Jamaah juga hadir seperti Ust Bani (Ketua Pengajian Masyarakat Muslim Indonesia Ottawa), Ust. Amin (Sesepuh PM2IO) Sigit Afrianto (Wakil Rois Syuriyah PCI NU As-Kanada) Sebelum tausiyah Ramadan, diawali dengan doa khataman al-Qur’an oleh Ust Amin. Acara selanjutnya buka puasa bersama dan sholat tarawih secara berjamaah. ***

Categories
Berita

Tausiyah Ramadlan, Dai Internasional Womester Dorong Peningkatan Kualitas Beragama Diaspora Muslim Kanada

Direktur World Moslem Studies Center, Prof. Dr. KH. M. Noor Harisudin S.Ag, SH, M.Fil.I, CLA, CWC, mengapresiasi diaspora muslim Kanada yang telah mempraktikan agama Islam dengan baik. Padahal, sebagai negara dengan minoritas muslim, diaspora Kanada mendapati berbagai kesulitan yang tidak dijumpai di Indonesia. Demikian disampaikan Prof. Kiai Haris dalam Pengajian Syiar Montreal, di rumah H, Ransang W. Hadir puluhan diaspora yang tinggal di kota Montreal dan sekitarnya. Pengajian Syiar Montreal dilaksanakan menjelang buka puasa, Kamis, 19 Pebruari 2026. Jam 16.30 hingga 17.30 waktu Kanada.

Sebagaiman kita tahu, muslim di berbagai negara minoritas mendapati berbagai kesulitan terkait dengan fasilitas ibadah yang kurang dan bahkan tidak ada. Demikian juga dengan regulasi yang kadang mempersempit Gerak ibadah muslim. Namun justru disanalah, menurut Prof. Haris, diaspora muslim mendapatkan pahala ibadah yang lebih besar. Mengapa? Karena masyaqqatnya juga lebih besar. “Tentu effort diaspora muslim di Kanada lebih besar untuk misalnya sholat Subuh berjamaah di masjid. Karena mereka menghadapi tantangan dengan jauhnya masjid dan musim dingin yang esktrem”, kata Prof. Haris yang juga Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

Pada sisi lain, Prof Haris yang juga Wakil Ketua Komisi Pesantren MUI Pusat ini juga memotivasi diaspora muslim Kanada untuk terus meningkatkan beragama. “Kita beragama itu ada levelingnya. Ada kelasnya. Ibarat kelas, ad akelas TK, SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi. Nah, sama dengan beragama kita. Kita usahakan meningkat terus tiap tahun, termasuk dalam ibadah puasa “, ujar Prof Haris yang juga Wakil Ketua Pengurus Pusat Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara-Hukum Administrasi Negara (PP APHTN-HAN).

Menurut Prof Haris, puasa juga ada tingkatannya. “Kita ingin puasa yang dikritik oleh Rasulullah Saw. Rubba shaimin laisa lahu min shiyaamihi illal ju’a wal athasa. Artinya, banyak sekali orang berpuasa, namun tidak dapat apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja”, ujar Prof Haris yang juga Pengasuh PP Darul Hikam Mangli Jember.

Oleh karena itu, Prof. Haris mendorong muslim Kanada untuk meningkat kualitas agamanya. “Kalau bisa, kita tingkatkan leveling puasa kita. Puasa tidak makan, tidak minum, tidak senggama ya. Tapi juga puasa bicara, puasa mendengar, puasa melihat, dan puasa pikiran dari hal lain yang tidak berguna dalam kehidupan”, kata Prof. Haris yang juga Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur.

Sebagaimana puasanya Siti Maryam, lanjut Prof. Haris, dalam al-Qur’an, beliau diabadikan sebagai orang yang berpuasa dengan puasa bicara. “ Innii nadzartu lirrahmi shauma. Falan ukalimannasa yauma. Saya bernadzar pada tuhan untuk puasa. Maka saya tidak bicara pada manusia”, tukas Prof. Haris yang juga Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur. Karena puasa bicara, maka Nabi Isa yang masih bayi yang akhirnya bicara pada manusia yang lain.

Acara pengajian ini dihadiri puluhan diaspora muslim di rumah H. Ransang W. yang sekarang bekerja di Kementerian Pertahanan Kanada. Hadir pada kesempatan ini H. Sigit Afrianto (Wakil Rois Syuriyah PCI NU AS-Kanada), H. Ransang W (Mustasyar PCI NU AS-Kanada), Fariduddin Athar, Ph.D. (Ketua Pengajian Syiar Montreal), dan puluhan diaspora muslim Indonesia lainnya.

Prof. Haris sendiri dikenal sebagai Dai Internasional. Pada tahun ini Prof. Haris dikirim oleh World Moslem Studies Center bekerja sama dengan Lazawa Darul Hikam Indonesia untuk bertugas dakwah selama 15 hari Ramadlan (17 Pebruari – 3 Maret 2026) di Kota Montrael, Ottawa dan Toronto negara Kanada,. Sebelumnya, Prof Haris telah berdakwah ke berbagai negara seperti Taiwan, Malaysia, Singapura, New Zealand, Australia, Belanda, Jerman, Jepang, Amerika Serikat, Hongkong, Turki dan berbagai negara dunia. Misi Womester adalah menebarkan Islam rahmatan lil alamin ke seluruh penjuru dunia. ***

Reporter: Iklil Naufal Umar

Editor: M Irwan Zamroni Ali