Categories
Berita

Hari Terakhir! Seleksi Wawancara BIB Kemenag Sasar Calon Awardee S1 Dalam Negeri

JAKARTA | duta.co —Seleksi wawancara Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Kemenag Tahun 2025, telah memasuki hari terakhir. Wawancara telah dimulai sejak 14 Juli hingga 23 Juli 2025 dan diikuti oleh 3.900-an calon awardee.

Seleksi wawancara terakhir dikhususnya untuk Program S1 Dalam Negeri. Sebelumnya telah dilakukan wawancara Program S1, untuk program Beasiswa Santri Prestasi (PBSB), dan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ).

Hal itu disampaikan Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (PUSPENMA) Sekretariat Jenderal Kemenag RI, Ruchman Basori di tengah memantau pelaksanaan seleksi wawancara di Pusdiklat Keagamaan Ciputat, (23/07).

Doktor Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Semarang (UNNES) ini menerangkan bahwa program layanan beasiswa S1 Dalam Negeri, merupakan program yang distingtif, yang tidak ada pada layanan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kemenkeu.

Ruchman menegaskan layanan beasiswa S1 penting dilakukan karena keluarga besar Kementerian Agama memiliki calon mahasiswa didikan Madrasah Aliyah, Pendidikan Diniyah Formal Ulya, Mu’adalah Tingkat Ulya dan sederajat yang cerdas dan pintar, namun mengalami keterbatasan ekonomi.

“BIB diberikan kepada orang yang pintar dan cerdas, bukan semata-mata anak-anak yang kurang mampun secara ekonomi, sehingga dapat studi pada perguruan tinggi terbaik di negeri ini”, terang Ruchman.

Di hari terakhir ini Ruchman mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para pewawancara dari akademisi dan profesor dari Perguruan Tinggi Keagamaan (PTK) se-Indonesia. Juga Tim Liasion Officer (LO) yang bertugas mulai dari pagi hingga malam.

Ruchman Basori berharap, seleksi BIB tahun 2025 nantinya mampu menjaring calon awardee yang berkualitas, cerdas intelektual dan luhur karakternya. “Belasan ribu orang telah mengambil kesempatan beasiswa ini dan 3.900-an telah melakukan wawancara, saatnya berdoa untuk yang terbaik”, katanya.

Giat wawancara didampingi langsung oleh para Ketua Tim Puspenma, Siti Maria Ulfa, Amiruddin Kuba, Sendy Tria Santoso, Hendro Dwi Antoro dan Kasubbag TU, Sri Agustin Maswidaniyah. (Hps)

Sumber : https://duta.co/hari-terakhir-seleksi-wawancara-bib-kemenag-sasar-calon-awardee-s1-dalam-negeri

Categories
Opini

IKA PMII dan Kemajuan Bangsa

Penulis: Prof. Dr. Komarudin, M.Si*
*Rektor Universitas Negeri Jakarta dan Ketua Umum HISPISI 

Pengurus Besar Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB IKA PMII) yang dinakhodai Fathan Subchi, Anggota 6 BPK RI, baru-baru ini dikukuhkan, tepatnya pada tanggal 13 juli 2025 di Hotel Bidakara Jakarta. Momentum ini tentu saja bukan sekadar seremonial belaka. Lebih dari itu, ia menjadi penanda penting: sebuah momentum konsolidasi kekuatan strategis kaum intelektual muda Nahdliyyin dalam mengarahkan ulang arah perjalanan bangsa. Momentum ini juga menjadi penting dalam situasi bangsa yang menghadapi kompleksitas multidimensi — dari tantangan demokrasi elektoral termasuk sistem kepartaian di dalamnya, krisis etika kepemimpinan, hingga transformasi ekonomi global. Ringkasnya, pengukuhan PB IKA PMII bukan hanya sebagai simpul silaturahmi alumni, melainkan sebagai episentrum perubahan sosial-politik berbasis nilai untuk kemajuan bangsa.

Jika dilihat secara historis, PMII lahir 17 April 1960 di tengah dinamika perjuangan mahasiswa dan kekuatan Islam progresif yang berusaha menyeimbangkan antara nilai keislaman, keindonesiaan, dan kemodernan. Sebagai organisasi kader, PMII mengedepankan trilogi nilai: Independen, Intelektual, dan Moderat, yang sejak awal menjadi pembeda dibanding organisasi mahasiswa lainnya. Selanjutnya, IKA PMII kemudian dibentuk untuk merajut kembali jaringan alumni lintas generasi, memperkuat sinergi antar angkatan, serta memfasilitasi kontribusi nyata alumni PMII di berbagai sektor kehidupan berbangsa dan bernegara.

Harus diakui, IKA PMII hari ini bertransformasi laksana jaringan raksasa. Pengurus dan anggotanya tersebar di berbagai posisi strategis: dari pemerintahan pusat hingga daerah, parlemen, kampus, ormas, media, hingga dunia usaha. Di tengah krisis integritas dan defisit kepemimpinan transformatif, keberadaan figur-figur alumni PMII dengan integritas, wawasan kebangsaan, serta militansi sosial-politik menjadi sangat relevan. Tidak sedikit tokoh nasional yang berasal dari rahim PMII: menteri, kepala daerah, birokrat, akademisi, hingga tokoh lintas agama dan profesi. Hal ini menunjukkan bahwa IKA PMII bukan sekadar organisasi alumni, tetapi simpul intelektual-kultural yang memiliki kapasitas besar untuk memengaruhi arah pembangunan nasional.

Peran Strategis

Dalam konteks Indonesia saat ini yang sedang memasuki fase krusial menuju Indonesia Emas 2045, peran PB IKA PMII menjadi penting. Visi Indonesia Emas 2045 ini mengandung empat pilar utama, yaitu pembangunan manusia dan penguasaan IPTEK, pembangunan ekonomi berkelanjutan, pemerataan pembangunan, dan ketahanan nasional serta tata kelola pemerintahan yang baik (Bappenas, 2019). Dalam konteks ini, organisasi seperti PB IKA PMII tidak bisa hanya menjadi penonton. Peran historis dan ideologis yang dimilikinya memberi dasar kuat bagi IKA PMII sebagai kelanjutan dari PMII untuk berkontribusi strategis dalam mengawal serta mewujudkan visi tersebut.

Beberapa peran strategis IKA PMII dan tentunya PMII guna mengawal pencapaian visi Indonesia Emas 2045 di antaranya: Pertama, menjadi kawah candradimuka kepemimpinan progresif-transformatif. PMII berperan penting dalam mencetak kader-kader bangsa yang memiliki tiga karakter utama: intelektual, religius, dan nasionalis. Sebagai kawah candradimuka, PMII mengembangkan nalar kritis dan kepekaan sosial kadernya melalui tradisi diskursus, advokasi, dan kaderisasi berjenjang. Hal ini sangat relevan untuk menyiapkan pemimpin transformatif yang dibutuhkan Indonesia masa depan (Azra, 2021). Banyak alumni PMII kini menduduki posisi penting di pemerintahan, akademisi, hingga dunia usaha. Jaringan ini — yang terintegrasi dalam IKA PMII — merupakan modal sosial dan politik yang besar jika dikelola dengan semangat kolaboratif dan integritas kebangsaan.

Kedua, menjadi penjaga nilai moderasi, etika publik dan keberagaman. Dalam konteks kebangsaan yang kerap terancam polarisasi dan radikalisme, IKA PMII berperan sebagai penjaga nilai Islam moderat dan pluralis. IKA PMII konsisten dengan garis pemikiran ahlussunnah wal jama’ah yang mendukung sistem negara Pancasila dan demokrasi konstitusional (Hefner, 2000). Hal ini sangat penting mengingat keberhasilan Indonesia Emas tak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi, tetapi juga oleh kohesi sosial dan stabilitas politik. IKA PMII dapat berperan sebagai pengawal etika publik dan pendorong akuntabilitas kekuasaan. Di tengah krisis kepercayaan terhadap institusi negara, suara mahasiswa dan alumni PMII yang kritis namun konstruktif menjadi kebutuhan demokrasi.

Ketiga, agen transformasi sosial dan literasi kritis. PMII memiliki basis kuat di kampus, tempat lahirnya gagasan-gagasan perubahan. Dengan memanfaatkan potensi digital, PMII dapat menjadi agen literasi politik, ekonomi, dan teknologi untuk generasi muda. Sebagaimana ditegaskan oleh Castells (2009), kekuatan sosial baru lahir dari aktor-aktor yang mampu mengartikulasikan pengetahuan dan jaringan — dan PMII berada dalam posisi strategis untuk hal itu. Melalui gerakan advokasi dan pemberdayaan, PMII juga bisa mengawal pembangunan dari bawah, menyuarakan kepentingan kelompok marginal, dan mendorong kebijakan yang inklusif. Tentu peran-peran tersebut terus berlanjut dilakukan oleh IKA PMII baik yang berbasis di kampus maupun luar kampus.

Keempat, sinergi strategis dengan IKA PMII. Sebagai simpul alumni, IKA PMII memiliki potensi besar untuk menjembatani dunia aktivisme dan pengambilan kebijakan publik. Dengan mengintegrasikan energi kader muda dan pengalaman alumni di berbagai sektor, IKA PMII dapat mengembangkan ekosistem kolaboratif untuk mendorong good governance, reformasi birokrasi, penguatan ekonomi rakyat, hingga pengembangan pendidikan berbasis karakter. IKA PMII dapat bertransformasi menjadi mitra strategis pemerintah, baik di pusat maupun daerah, guna memastikan bahwa pembangunan nasional sejalan dengan cita-cita keadilan sosial dan kemandirian bangsa.

Energi Kolektif

Visi Indonesia Emas 2045 bukan hanya cita-cita teknokratis, tapi merupakan amanat peradaban. Ia membutuhkan energi kolektif dari semua elemen bangsa — terutama kelompok intelektual muda yang progresif, religius, dan nasionalis. Dalam konteks ini, PMII dan IKA PMII memiliki posisi yang tidak tergantikan. Dengan seluruh daya dan potensi tersebut, PMII dan IKA PMII tidak boleh hanya menjadi pelengkap dalam narasi besar bangsa. Mereka harus tampil sebagai aktor sejarah — penentu arah dan pengawal moral perjalanan bangsa menuju masa depan. Bukan semata mewarisi sejarah panjang gerakan mahasiswa, tetapi juga mewujudkan legacy baru untuk Indonesia yang lebih beradab, berkeadilan, dan berkemajuan. Dengan memperkuat kaderisasi, menghidupkan tradisi intelektual, membangun etika kepemimpinan, dan memperluas jaringan kolaborasi lintas sektor, peran strategis PMII dan IKA PMII dapat direalisasikan. Inilah waktunya. Semoga.

sumber: https://timesindonesia.co.id/kopi-times/546918/ika-pmii-dan-kemajuan-bangsa

Categories
Kolom Pengasuh

Masjid Koga, NU dan ‘Jombang’-nya Jepang

Oleh: M.  Noor Harisudin*

*Direktur Womester, Guru Besar UIN KHAS Jember dan Dai Internasional Jepang Tahun 2025

Jika anda aktivis NU, jangan lewatkan mengunjungi Kota Koga. Koga adalah kota yang berada di bawah prefektur (propinsi) Ibaraki. Jarak Tokyo ke Koga sekitar 80 km atau kurang lebih satu jam setengah perjalanan. Ketika datang ke Jepang, dari Tokyo, saya langsung disambut Gus Gazali dan Cak Yuanas menuju Koga. Malam pertama di Jepang, saya menginap di Koga. 

Koga adalah “Jombang-nya Jepang”, kata Kiai Zahrul yang juga mustasyar PCI NU Jepang. Kiai Zahrul –yang nama lengkapnya Muhammad Zahrul Muttaqien — bekerja sebagai Atase Kehutanan  di KBRI Tokyo mulai 2022 hingga 2025. Di Koga-lah, pusat kegiatan NU di Jepang bertumpu. Oleh karenanya, Kiai Zahrul menganalogikan Koga dengan Kota Jombang.

Seperti kita tahu, Jombang menjadi ‘kota legendaris NU’ karena Rois Akbar PBNU, Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari tinggal di kota tersebut. Di Jombang, banyak lahir tokoh-tokoh nasional berlatar belakang NU seperti KH. Wahid Hasyim, Gus Dur, Cak Nun, dan sebagainya. NU di Jombang, jangan ditanya.    

Masjid NU at-Taqwa berdiri megah di Koga. Masjid luas nan menawan tidak kelihatan kalau dilihat dari luar. Masjid ini dapat menampung kurang lebih 1000 jamaah. Di samping depan masjid tertulis “Masjid NU at-Taqwa Koga Ibaraki”. Halaman masjid ini juga lumayan luas.

Masjid ini dibeli secara gotong royong oleh warga NU. Penyematan masjid dengan kata “NU” membutuhkan keberanian dan effort sendiri yang tidak mudah. Pak Bubun, –orang masjid biasa memanggilnya– sesepuh yang juga pendiri masjid ini bercerita panjang tentang history masjid. “Meski banyak tantangan, akhirnya pada tahun 2021 masjid ini resmi dibuka oleh Dubes RI di Tokyo, Heri Akhmadi”, kata Pak Bubun yang nama aslinya adalah Rohibun dalam bincang santai menjelang buka puasa di Masjid NU at-Taqwa.  Selain pendiri, Pak Bubun juga menjabat sebagai Ketua DKM Masjid NU at-Taqwa (2021-2023). Ketua DKM selanjutnya adalah mas Eko untuk masa bakti 2023-2025.   

Saya menginjakkan kaki pertama di masjid keren ini jam 12.00 malam waktu Jepang. Ya, saya sampai di Jepang 1 Maret 2025, satu hari menjelang Ramadlan 1446 H. Di sinilah berbagai aktivitas NU digerakkan. Dari sini pula, aktivitas NU di seantoro Jepang dikoordinasikan.

Dalam masjid, selain ada tempat jamaah laki dan perempuan, juga tersedia ruang dapur yang memadai. Makanan buka dan sahur selama Ramadlan berada di tempat ini. Ruangan masjid yang semuanya ber-AC. Di ujung ruangan terdapat kamar mandi dan toilet yang semuanya pakai digital. Toilet serba digital berbahasa Kanji Jepang.  Di luar masjid, terdapat kran wudlu dua macam; air panas dan air dingin.  Masjid ini memiliki lantai dua yang berisi kamar-kamar. Di depan kamar-kamar,  terdapat ruang tamu dan ruang meeting PCI NU Jepang. Semua ruangan dan halaman masjid bersih dan tertata rapi.   

Berbagai pelatihan –misalnya PDPKP NU—yang diselenggarakan PCI NU Jepang ditempatkan di Masjid NU at-Taqwa.  Pengurus PBNU yang juga nara sumber seperti  KH. Masyhuri Malik, KH. Dr Faishal, dan sebagainya hadir di tengah-tengah para pengurus NU yang tersebar di seluruh Jepang. “Mereka semua menginap di sini, Prof”, lanjut Gus Gazali sembari menunjukkan lantai dua pada saya.  

Saya mengacungi jempol segenap pengurus PCI NU Jepang yang dikomaandani Gus Gazali. Tidak tanggung-tanggung. Di masanya, PCI NU Jepang memiliki 16 MWCI NU Jepang. Ini berarti sepertiga prefektur Negara Jepang.

“Semua MWCI NU-nya hidup. Para pengurus juga aktif berkegiatan, Prof. ”, kata Gus Gazali dalam diskusi ringan dengan saya.

Jika kita menengok data statistik, orang Indonesia di Jepang berjumlah 200.000 ribu lebih. Dari sini jumlah total muslimnya diperkirakan 151.095. Sementara, asumsi warga NU di Jepang berdasarkan survei LSI berjumlah  74.792 orang. Jumlah total orang Jepang sendiri pada tahun 2023 mencapai kurang lebih 125 juta orang.

Ketika keliling ke beberapa kota dan prefektur di Jepang, saya  benar-benar melihat langsung kegiatan NU yang semarak dan tak pernah henti. Misalnya Hiroshima, Nagano, Nigata, Tokyo, Ibaraki, Bendo, Mihara, dan lain sebagainya.  Jika NU di Indonesia bergerak itu biasa, tapi kalau NU di Jepang bergerak masif tentu luar biasa. Karena di negara Jepang, orang NU dituntut bekerja keras dan disiplin layaknya orang Jepang. Bayangkan, di sela-sela itu, mereka masih sempat mengurus NU. Kata mereka, ngalap berkah NU. Masya’allah.

Saat ini, PCI NU Jepang sedang merencanakan Konfercabis III pada 13-15 September 2025 tahun ini. Semoga berkah dan tambah jaya NU di Negeri Sakura. “Doanya Prof. Haris agar Konfercabis III PCI NU Jepang berjalan lancar”, kata Gus Gazali dalam sms-nya ke saya. Amin ya rabbal alamin.

Wallahu’alam. *

Categories
Opini

Budaya Mundur Menteri Tak Becus di Jepang

Oleh: M.  Noor Harisudin*

*Direktur Womester, Guru Besar UIN KHAS Jember dan Dai Internasional Jepang Tahun 2025

Masih ingat Menteri Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Jepang yang mundur dua bulan yang silam? Ya. Menteri Pertanian Kehutanan dan Perikanan  Jepang Taku Eto. Ia mengundurkan diri dari jabatannya pada 21 Mei 2025 tahun ini.

Menteri Taku Eto telah mendapatkan reaksi keras atas pengakuan kontroversialnya di depan publik . Ia hanya mengatakan bahwa dia tidak membeli makan beras di pasar. Lalu, sebelum diberhentikan Perdana Menteri Ishiba, Taku Eto memilih mundur.  

Berapa banyak pejabat di Jepang yang mundur karena mereka punya budaya ‘malu’. “Malu adalah salah satu budaya yang mendarah daging pada masyarakat Jepang”, kata mas Jimmy yang tinggal di Nagano Jepang. Mas Jimmy –nama akrabnya Jimmy Ibrahim Ramadan–adalah Ketua MWCI NU Nagano Jepang. Dalam kehidupan sehari-hari, orang-orang  Jepang merasa malu kalau mereka melanggar norma di sana.

Mereka malu jika buang sampah sembarang. Orang Jepang malu kalau tidak disiplin. Orang Jepang malu kalau tidak mau antrian. Orang Jepang malu kalau berbohong. Orang Jepang malu kalau melakukan hal yang merugikan orang lain. 

Pada level elitnya, para pimpinan Jepang juga memiliki budaya malu. Mereka malu jika tidak amanah dalam jabatannya. Mereka malu kalau tidak becus menjadi menteri. Mereka malu dan akan mundur kalau jadi menteri yang korup. Walhasil, mereka malu kalau melakukanjn moral hazard dalam sehari-hari mereka. 

Dalam tradisi Jepang, budaya ini disebut dengan 文化 atau haji no bunka. Budaya malu ini menjadikan orang Jepang selalu menjaga perilaku mereka dalam sehari-hari mereka. Mereka juga sebisa mungkin menghindari kesalahan. Budaya malu menggurita dalam hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat Jepang.  

Sejatinya, budaya malu di Jepang berakar dari ajaran Bushido (kode etik samurai). Nilai-nilai kesamuraian seperti kesetiaan, kehormatan dan keberanian terkait erat konsep malu. Kegagalan dan tindakan yang tidak sesuai etik, dalam tradisi Bushido, dapat menyebabkan rasa malu yang mendalam.

Selain ajaran Bushido, budaya malu juga berasal filsafat Konfusianisme. Dalam ajaran ini, budaya malu menekankan pentingnya hubungan harmonis dalam masyarakat dan juga hirarki. Ajaran ini berkontribusi dalam pembentukan budaya malu di Jepang.  

Orang Jepang memiliki dua konsep malu, yaitu kouchi (malu umum) dan sichi (malu khusus). Kouchi muncul pada situasi dimana seseorang merasa merasa malu saat mendapatkan perhatian khusus baik berupa sindiran, teguran atau ejekan orang lain. Kouchi ini terjadi pada lingkungan masyarakat luas. Sementara sichi  merasa malu yang hadir dalam diri sendiri akibat membandingkan dirinya dengan orang lain.  

Orang Jepang akan berusaha keras menjaga reputasinya. Caranya, secara aktif mereka hidup penuh disiplin, pantang menyerah, mandiri dan berhati-hati dalam bicara. Sementara, cara menjaga reputasi (yang pasif) adalah dengan menjadikan budaya malu sebagai pegangan dan pedoman hidup bagi masyarakat Jepang.

Bagaimana dengan kita di Indonesia? Apa kata orang Indonesia pada menteri Jepang yang mundur tersebut?.

Bagi sebagian besar orang Indonesia, apa yang dilakukan Menteri Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Jepang masih tak seberapa. Ia hanya ngomong asbun soal beras. Lihat para menteri dan pejabat di negeri kita. Jelas-jelas koruptor pun, masih terus bersikukuh dengan jabatannya. Aneh bin  ajaib memang negeri ini. Mereka pejabat jalan-jalan keluar negeri habiskan uang negara juga tanpa malu.

Hakimnya juga tidak malu menerima suap atau gratifikasi. Para birokrat PNS tidak punya malu. Datang terlambat, bolos dan kegiatan lain yang mestinya bagi orang Jepang, membuat mereka merasa malu. Rakyat biasa tidak malu membuang sampah sembarangan di jalan. Tidak ada malu lagi nyerobot antrian di Bandara Udara Juanda. Tak malu berbuat onar di tengah jalan.   

Islam mengajarkan kita untuk memiliki rasa malu. Rasulullah bersabda: al-hayau minal iman. (HR. Bukhari dan Muslim). Rasa malu adalah sebagian dari iman. Hadits Nabi Saw. ini benar-benar menjadi penjaga moral agar muslim tidak berbuat yang semau gue. Lalu, kalau masih banyak menteri tak becus di negeri ini yang tak mau mundur, lalu dimana letak salahnya? Ajaran Islamnya atau orangnya?.     

Wallahu’alam. ***

Categories
Keislaman

Sound Horeg Diharamkan, Ini Penjelasannya

Di berbagai daerah, sound horeg seolah sudah menjadi tradisi wajib dalam setiap perayaan. Apalagi saat karnaval bulan kemerdekaan Indonesia. Hampir setiap hari karnaval disertai sound horeg sebagai musik pengiringnya.

Bahkan tak hanya sebagai pengiring saat karnaval, tapi juga digunakan sebagai pengiring acara-acara keagamaan seperti halnya peringatan Maulid Nabi SAW. Meskipun sebagian orang ada yang pro dengan adanya sound horeg, tapi banyak juga pihak yang menolak. Lantas bagaimana pandangan Islam melihat fenomena ini?

Perlu diketahui, istilah sound horeg merujuk pada sebuah rangkaian sound system beragam jenis yang ditempatkan di atas truck, yang disetel dengan suara kencang dan menyebabkan kondisi sekitar bergetar atau disebut horeg. Bahkan ada yang sampai menggetarkan bangunan seperti runtuhnya genteng atau kaca bangunan.

Tidak hanya itu, karnaval yang melibatkan sound horeg biasanya diikuti oleh orang yang berjoget-joget baik laki-laki maupun perempuan, dan terjadinya percampuaran (ikhtilat) antara lawan jenis yang tidak dapat diindahkan.

Melihat hal ini, Syekh Syamsuddin menjelaskan keharaman memainkan dan mendengarkan alat-alat musik yang bisa mendorong pada kemaksiatan:

Artinya: “Dan haram menggunakan alat musik yang menjadi ciri khas para peminum khamr, seperti tunbur (dengan dhammah pada huruf pertama), ‘ud, rabab, santir, jank, dan kamanjah, serta sanj (dengan fathah pada huruf pertama), yaitu sebuah alat dari kuningan (logam) yang dipasang senar di atasnya lalu dipukul, atau berupa dua lempengan kuningan yang satu dipukulkan ke yang lainnya. Keduanya hukumnya haram. Juga mizmar ‘Iraqi (seruling khas Irak), serta seluruh jenis alat musik berdawai dan seruling. Demikian pula haram mendengarkannya, karena kenikmatan yang diperoleh dari alat-alat itu mendorong kepada kerusakan, seperti halnya minum khamr, terutama bagi orang yang masih baru bertobat atau dekat masanya dengan kemaksiatan.” (Syekh Syamsuddin al-Ramli, Nihayatul Muhtaj ‘ala Syarh al-Minhaj, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, tt], juz 8 halaman 296).

Sedangkan terkait acara, yang dapat mengganggu ketenangan orang lain, dalam hal ini karnaval dengan iringan sound horeg, maka hukumnya haram untuk dilakukan, serta harus dicegah pelaksanaannya, sebagaimana keterangan di bawah ini:

 قَالَ مُوسَى بْنُ الزَّيْنِ: وَحَيْثُ ضَيَّقَ اللَّاعِبُونَ بِالْكُرَةِ وَغَيْرِهَا الطَّرِيقَ عَلَى الْمَارَّةِ، أَوْ حَصَلَ عَلَى النَّاسِ أَذًى بِفِعْلِهِمْ أَوْ صِيَاحِهِمْ يَمْنَعُهُمْ سُكُونَهُمْ بِنَوْمٍ وَنَحْوِهِ، أَوْ جُلُوسِ النَّاسِ بِأَفْنِيَتِهِمْ: لَزِمَ أَوْلِيَاءَهُمْ وَسَادَتَهُمْ – بَلْ كُلُّ مَنْ قَدَرَ – زَجْرُهُمْ وَمَنْعُهُمْ، وَمَنْ امْتَنَعَ عُزِّرَ، قَالَ: وَحَيْثُ رُفِعَ مُنْكَرٌ لِوَالٍ فَقَدَرَ عَلَى إِزَالَتِهِ فَلَمْ يُزِلْهُ: أَثِمَ

Artinya: Musa bin az-Zayn berkata, “Apabila para pemain bola atau permainan lainnya menyempitkan jalan bagi para pejalan kaki, atau perbuatan mereka atau teriakan mereka menimbulkan gangguan terhadap orang-orang, seperti menghalangi ketenangan mereka dalam tidur dan semacamnya, atau mengganggu orang yang duduk di halaman rumah mereka, maka wajib bagi para wali (orang tua/pengurus mereka) dan pemimpin mereka (atau bahkan setiap orang yang mampu) untuk mencegah dan melarang mereka. Barangsiapa yang tidak melarang, maka boleh dikenai hukuman ta‘zīr (hukuman edukatif dari penguasa).”

Lebih lanjut, Musa bin az-Zayn juga berkata: “Barangsiapa yang melihat kemungkaran, sedangkan ia mampu menghilangkannya dengan melaporkan kepada wali/penguasa tetapi tidak melakukannya, maka ia berdosa.” (Syekh Abdullah bin Muhammad, Qolaidul Khoroid, [Beirut: Muasasah Ulumil Qur’an, 1990 M/1410 H], juz 2 halaman 356).

Sementara itu, Syekh Abu Bakar Syatha menjelaskan terkait keharaman sebuah acara yang terdapat percampuran antara laki-laki dan perempuan, meskipun itu acara yang baik seperti halnya khataman Al-Qur’an:

ٱلْوُقُوفُ لَيْلَةَ عَرَفَةَ أَوِ ٱلْمَشْعَرِ ٱلْحَرَامِ، وَٱلِٱجْتِمَاعُ لَيَالِيَ ٱلْخُتُومِ آخِرَ رَمَضَانَ، وَنَصْبُ ٱلْمَنَابِرِ وَٱلْخُطَبُ عَلَيْهَا، فَيُكْرَهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ ٱخْتِلَاطُ ٱلرِّجَالِ بِٱلنِّسَاءِ بِأَنْ تَتَضَامَّ أَجْسَامُهُمْ، فَإِنَّهُ حَرَامٌ وَفِسْقٌ

Artinya: “Berkumpul pada malam Arafah atau di Muzdalifah, berkumpul pada malam-malam khataman Al-Qur’an di akhir bulan Ramadhan, serta mendirikan mimbar dan berkhutbah di atasnya. Semua itu hukumnya makruh selama tidak terjadi percampuran laki-laki dan perempuan hingga tubuh-tubuh mereka saling bersentuhan. Namun apabila terjadi hal demikian, maka hukumnya adalah haram dan termasuk kefasikan.” (Syekh Abu Bakar Syatha, Hasyiyah l’anah ath-Thalibin, [Maktabah Syamilah, tt] juz 1 halaman 313).

Masih konteks yang sama, Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari dalam kitabnya menjelaskan, bahwa pelaksanaan Maulid Nabi yang menyebabkan terjadinya maksiat itu harus dihindari dan hukumnya haram, berikut penjelasannya:

 فَاعْلَمْ أَنَّ عَمَلَ الْمَوْلِدِ إِذَا أَدَّى إِلَى مَعْصِيَةٍ رَاجِحَةٍ مِثْلِ الْمُنْكَرَاتِ، وَجَبَ تَرْكُهُ، وَحَرُمَ فِعْلُهُ

Artinya: “Maka ketahuilah bahwa apabila pelaksanaan Maulid Nabi menyebabkan terjadinya maksiat yang dominan seperti kemungkaran, maka wajib untuk ditinggalkan dan haram untuk dilakukan.”

Selanjutnya, Kiai Hasyim merinci acara Maulid yang haram untuk dilakukan sekaligus dihadiri, karena memuat beberapa hal:

يَخْتَلِطُ فِيهِ الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ، وَيَلْبَسُ فِي بَعْضِ الْأَوْقَاتِ الشُّبَّانُ مَلَابِسَ النِّسْوَانِ فَيَحْصُلُ افْتِتَانُ بَعْضِ الْمُتَفَرِّجِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ، وَتَقَعُ الْفِتْنَةُ فِي الْفَرِيقَيْنِ، وَيَثُورُ مِنَ الْمَفَاسِدِ مَا لَا يُحْصَى، حَتَّى أَدَّتْ إِلَى حُصُولِ الْفُرْقَةِ بَيْنَ الزَّوْجِ وَالزَّوْجَةِ، وَهَذِهِ مَفَاسِدُ مُرَكَّبَةٌ مِنْ عَمَلِ الْمَوْلِدِ مَعَ فِعْلِ الْمُنْكَرَاتِ

Artinya: “Dalam perayaan itu, laki-laki dan perempuan bercampur baur. Pada sebagian waktu, para pemuda mengenakan pakaian perempuan, sehingga sebagian penonton—baik laki-laki maupun perempuan—menjadi tergoda. Akhirnya timbul fitnah dari kedua pihak, dan berbagai kerusakan pun meledak tak terhitung jumlahnya, hingga sampai menyebabkan perceraian antara suami dan istri. Ini semua adalah kerusakan-kerusakan yang muncul akibat perayaan maulid yang disertai dengan perbuatan-perbuatan mungkar.” (Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari, At-Tanbihat Al-Wajibat Li Man Yashna’ul Maulid Bil Munkarot, [Jombang, Maktabah At-Turots Al-Islami, tt], halaman 19-20).

Walhasil, hukum penggunaan sound horeg sebagai iringan acara-acara, seperti halnya karnaval adalah haram, baik mengganggu pihak lain atau tidak. Semua ini dengan pertimbangan bahwa penggunaan sound horeg identik dengan syi’ar fussaq (kerusakan/kefasikan), dapat menarik orang lain untuk berjoget yang diharamkan, bercampurnya laki-laki dan perempuan, dan bisa menjadi potensi maksiat yang lain.

Editor: Risma Savhira 

Kontributor: M Rufait Balya B

Sumber: https://jatim.nu.or.id/keislaman/sound-horeg-diharamkan-ini-penjelasannya-1euEM

Categories
Opini

Kesadaran Meiwaku di Jepang

Oleh : M. Noor Harisudin*

*Direktur Womester, Guru Besar UIN KHAS Jember dan Dai Internasional Jepang Tahun 2025

Salah satu nikmat terbesar dalam Safari Ramadlan Tahun 2025 adalah naik kereta api cepat di Jepang. Jepang memiliki Sinkansen. Negara Sakura dengan 47 prefaktur (propinsi) dihubungkan dengan trasnportasi publik yang keren abis. Karena itu, kalau anda jalan-jalan ke Jepang, jangan lewatkan naik Sinkansen.

Alhamdulillah, saya berkali-kali naik Sinkansen. Dari Koga ke Hiroshima, Hiroshima ke Tokyo, Nigata ke Tokyo dan juga rute Koga ke Nagano dan terakhir Nagano ke Tokyo. Umumnya, suasana dalam kereta hening. Tenang. Tidak ada orang yang bicara. Tidak ada keramaian sedikitpun. Semua khusuk menikmati Sinkansen.

Dalam sebuah perjalanan dari Hiroshima ke Tokyo, saya tak lama kemudian menghubungi keluarga di Indonesia. Maklum, saya meninggalkan rumah 15 hari cukup kangen juga. I miss you, my wife. Akhirnya dalam suasana hening kereta api, saya bincang-bincang istri hanya lima menit, Sementara di sebelah kanan depan dan di samping saya ada penumpang lain.

Tak lama kemudian, saya didatangi polisi. Dengan bahasa Jepang halus, ia menegur saya. Ya, karena saya berbicara dalam kereta. Padahal, menurut orang Jepang, itu mengganggu sekali. Meski tidak utuh memahami bahasa polisi di kereta api, saya mengerti bahwa polisi ini menyuruh saya untuk berhenti.

Apa yang menjadi catatan disini adalah prinsip jangan merugikan orang lain. Bahasa Jepangnya, hito ni meiwaku o kakenai. 人に迷惑をかけない. Artinya jangan merugikan orang lain.

Sejak kecil, anak-anak di Jepang diajari untuk tidak boleh merugikan. Apalagi mendzalimi orang lain. Ini adalah bagian dari pendidikan etika dan sopan santun. Pada level luas, prinsip ini digunakan dalam interaksi sosial sehari-hari, hubungan bisnis dan juga professional.

Saya juga punya pengalaman dengan Cak Yuanas, petani sukses asal Indonesia di Jepang. Ketika diajak menggunakan mobilnya, saya berencana mengambil foto di depan rumah orang Jepang. Namun, saya dilarang. Saking hati-hatinya, cak Yuanas melarang mengambil foto depan rumah orang atau Gedung.

Bandingkan dengan kita di Indonesia yang sedikit-sedikit selfie. Semua tempat adalah wahana selfie, meski kadang tidak peduli dengan perasaan orang lain.

Tidak hanya bicara dan selfie. Di Indonesia lebih ruwet. Orang sengaja menaruh sepeda motor seenaknya di tengah jalan tempat orang lewat. Mobil juga diparkir di pertigaan, padahal demikian itu sangat mengganggu orang lain. Demikian juga, orang mengendarai sepeda motor dari arah depan mobil kita dengan seenaknya. Bahkan, masih sempat marah-marah. Sudah salah, kok malah marah.

Jika kita jalan-jalan ke desa di Indonesia, kita juga sering mendengar suara musik yang berlebihan. Astagfirullah. Dug dug dug dengan suara yang bising dan bahkan bisa merusak kesehatan manusia. Aneh, hal-hal seperti ini dianggap biasa dan orang yang melakukannya juga merasa tidak bersalah.

Padahal, Islam mengajarkan pada kita untuk tidak merugikan orang lain. La dlarara wala dlirara, jangan sampai merugikan diri sendiri dan orang lain. Demikian juga, jangan berbuat dzalim pada orang lain. La tadzlimun wa la tudzlamun.

Apa yang dalam Islam, sejatinya sejalan dengan ajaran hukum alam. Hukum alam yang dianggap sebagai peraturan hidup berdasarkan kaidah old maxim juris praecepta suntan haec, honesta vivere, alterum non laedere suum cuique tribuere. Artinya, peraturan hukum adalah hidup dengan hormat, jangan merugikan orang lain, laksanakanlah kewajiban masing-masing.

Nah, semua hal yang merugikan orang lain di Jepang tidak ada. Tak heran, Ketua PCI NU Jepang yang juga alumni PhD. UGSAS Gifu University, Gus Gazali mengatakan kalau di Jepang sulit ada kejahatan. Karena semua peraturan termasuk budaya dibuat agar orang berbuat Kebajikan dan menjauhi kejahatan. Keren kan ?

Wallahu’alam***

Categories
Opini

Sang Penjaga Nurani Umat, Telah Pulang: Kesaksianku atas Mas Imam Azis

Oleh: Imam Baehaqi

Jum’at malam hingga Sabtu dini hari 11/12 Juli 2025 lalu menjadi malam yang menegangkan. Sejak pukul 21.45, kabar terkirim di WAG Jamaah LKiS bahwa Mas Imam Azis atau Mas Imam (begitu saya biasa memanggil KH. M. Imam bin KH. Abdul Azis) masuk RS Sardjito dalam kondisi kritis karena sesak nafas. Kontan menimbulkan rasa panik dan saya benar-benar cemas. Berbagai doa kita lafalkan agar Mas Imam bisa melewati masa kritis itu, tapi taqdir berkata lain, pada jam 01.02 tersiar kabar bahwa Mas Imam Azis telah meninggal, Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Tak kuasa menahan tangis kesedihan oleh duka yang amat dalam.  Duka karena telah ditinggalkan oleh orang yang saya merasa begitu dekat, yang selalu memberi motivasi dan arahan dalam langkah pergerakan dan pergaulan.

Duka ini adalah duka yang menyelimuti kaum aktivis di negeri ini. KH. Muhammad Imam Azis, Sang Pengasuh, Sang Pejuang, Sang Bapak bagi Kaum Tertindas, telah berpulang ke Rahmatullah pada usia 63 tahun. Kepergiannya, setelah berjuang melawan sakitnya, bukan sekadar kehilangan seorang tokoh, tapi padamnya mercusuar kemanusiaan yang cahayanya telah menerangi sudut-sudut gelap ketidakadilan selama puluhan tahun di bumi pertiwi.

Saya yang berada jauh dari Yogjakarta, karena satu hal tidak bisa ke Yogjakarta, dengan hati sedih yang mendalam, hanya bisa berdoa dan menyampaikan duka bela sungkawa dari jauh. Saya serasa kehilangan yang amat sangat, karena Mas Imam Azis bagiku adalah sahabat, guru, saudara dan apa saja sebutan yang bisa mewakili betapa saya sangat mengagumi almarhum dan menjadikannya panutan dalam menyikapi keadaan social kemasyarakatan dan juga dalam hal ke-NU-an.

Dari Pesantren ke Panggung Keadilan: Sebuah Laku Spiritualisme Praksis

Kedekatan saya dengan Mas Imam, sejak saya masuk kuliah di IAIN Sunan Kalijaga Yogjakarta 1990an lalu. Setelah beberapa kali mengikuti forum diskusinya Mas Imam, saya mulai merasakan kekaguman. Gaya bicara yang tenang namun menusuk di hati, sehingga mampu menggerakkan hati saya untuk terus mengikuti kegiatannya. Sejak di PMII, di masjid IAIN Sunan Kalijaga, di LKiS, hingga akhiy hayatnya. Dalam satu bulan terakhir, pertemuan saya ketika beliau berkunjung sekelarga ke rumah di Sarang Rembang, lalu kemudian saya juga ke Yogjakarta untuk menyelenggarakan Reuni Jamaah LKiS, yang diinisiasi olehnya dan memerintahkan saya untuk mengurus pelaksanaannya. Alhamdulillah Reuni yang berkesan, tampak Mas Imam bahagia dan begitu lepas menyampaikan apa yang ada pikirannya. Malam itu beliau menikmati setiap obrolan candaan dan sebagainya. Seperti hendak pamit.

Mas Imam Azis, bukanlah tokoh yang hanya berbicara dari mimbar. Darah pesantren yang mengalir deras dalam dirinya (almarhum adalah amuni Matholek Kajen) tidak menjadikannya terkungkung dalam menara gading. Justru, tradisi pesantren yang kaya akan nilai keadilan (_al-‘adl_), kasih sayang (_ar-rahmah_), dan pembelaan terhadap kaum lemah (_mustadh’afin_) menjadi fondasi kokoh bagi seluruh langkah hidupnya. Ia meyakini bahwa Islam rahmatan lil ‘alamin harus dibumikan dalam aksi nyata’.

Keprihatinannya yang mendalam terhadap penderitaan manusia, terutama mereka yang terpinggirkan, teraniaya, dan terlupakan oleh sistem, mendorongnya untuk melakukan advokasi dan membantu menjadikannya  manusia seutuhnya. Beliau mendirikan LKIS pada tahun 1993, yang menjadi “rumah” bagi pemikiran kritis dan sekaligus tangan yang terjulur untuk menyentuh luka-luka kemanusiaan.  Di sinilah karakter Imam Azis sebagai “intelektual organik” sejati terpancar. Ia tak hanya menerbitkan buku-buku tajam tentang Islam, negara, kekerasan, perempuan, anak jalanan dan kaum rentan lain, tetapi juga turun langsung ke kubangan lumpur ketidakadilan itu.

LKiS (Lembaga Kajian Islam dan Sosial) bukanlah sekedar lembaga kajian, tetapi menjadi laboratorium gerakan pemikiran Islam yang selalu disertai rumusan tentang implementasinya di masyrakat.  Tentang bagaimana menggerakkan tradisi dan pemikiran pesantren yang mampu menjawab tantangan social, tentang pemikiran gender yang diimplementasikan ke dalam pengorganisasian gerakan perempuan dan advokasi terhadap perempuan-perempuan yang terpinggirkan, baik di jalanan, di ruang public seperti parlemen dan lain-lain, maupun di ruang-ruang domestic. LKiS juga konsern pada advokasi kebudayaan local, tradisi local dan agama local, yang sering mengalami eliminasi dari arus utama kebudayaan. Inilah visi LKiS yang sangat kuat, sehingga dalam sejumlah penelitian, LKiS disebut sebagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang menjelma menjadi madzhab pemikiran Islam tersendiri dan gerakan social.

Menyentuh Luka yang Terlupakan: Suara bagi yang Dibungkam

Mungkin, tak banyak tokoh yang memiliki keberanian dan kelembutan hati seperti Mas Imam Azis untuk menyelami luka sejarah paling kelam bangsa: tragedi 1965 dan penderitaan panjang keluarga korban serta eks-tapol. Di saat kebanyakan orang memilih diam atau takut, Imam Azis justru mendekati mereka yang terstigmatisasi, terdiskriminasi, dan hidup dalam bayang-bayang ketakutan puluhan tahun.

Selain LKiS, Mas Imam juga mendirikan Syarikat, sebuah lembaga yang konsern pada advokasi keluarga eks tapol 1965 (PKI), terutama sebagai respon atas pencabutan TAP MPR No. II tahun 2001. Lembaga ini memiliki visi besar yakni melakukan rekonsiliasi kemanusiaan secara nasional terhadap semua elemen bangsa, terutama eks tapol 1965/PKI yang berpuluh-puluh tahun mengalami diskriminasi yang parah karena stigma PKI tersebut. Syarikat juga berusaha melakukan rehabilitasi terhadap stigmatisasi tersebut, sehingga mereka bisa hidup berbaur secara wajar di masyarakat dan mendapatkan hak-haknya secara konstitusional sebagai warga Negara. Ia tak hanya melakukan riset mendalam yang membongkar mekanisme diskriminasi, atau menulis jurnal dan buku yang menjadi saksi bisu penderitaan mereka. “Syarikat” adalah paguyuban, ruang aman tempat para korban dan keluarganya yang tercerai-berai oleh rasa malu dan takut, bisa berkumpul, bercerita, saling menguatkan, dan menemukan kembali martabat mereka yang terampas. Ia membuktikan, membela kaum yang paling terstigma sekalipun adalah bagian tak terpisahkan dari laku keislaman dan ke-NU-an.

Menggerakkan NU dengan Semangat Kemanusiaan dan Keberpihakan

Pada tahun 2010, Mas Imam mulai memperluas kiprahnya dengan menjadi salah satu Ketua PBNU pada periode Th 2010-2015. Pada keterlibatan periode pertama Mas Imam di PBNU ini tidaklah mulus. Beliau mengalami “tudingan” oleh sebagian tokoh pimpinan PBNU lain sebagai tokoh “Kiri” yang dianggap pro-PKI. Tetapi dengan kesabarannya, Mas Imam mampu membuktikan dirinya tetap “NU” yang justru sedang menerjemahkan karakter egaliter dan membela mustadh’afin dari ajaran Ahlussunnah Waljamaah dengan menjadi tokoh rekonsiliasi (_ishlah_) antara keluarga NU-PKI. Kiprahnya membawa NU menjadi kekuatan rahmatan lil ‘alamin yang nyata dan berpihak pada keadilan. Di tangan Mas Imam, NU semakin menunjukkan kepedulian pada isu-isu HAM, isu lingkungan, keadilan sosial, pluralisme, dan pembelaan kelompok marginal. Ia mengukuhkan NU sebagai rumah bagi semua, termasuk mereka yang sering dipinggirkan. Sebagai ketua PBNU, Mas Imam melakukan advokasi terhadap masyarakat yang menolak Pabrik Semen di Rembang yang dianggap melanggar aturan dan merusak lingkungan. Lalu juga kasus Wadas di Purworejo, dimana Mas Imam aktif menjadi tokoh utama yang melakukan advokasi korban proyek PSN tersebut, dan lain-lain.

Lalu kepiawaiannya sebagai organisatoris dan pemersatu diuji dalam tugas besarnya sebagai Ketua Panitia Muktamar NU ke-33 di Jombang (2015) dan Muktamar ke-34 di Lampung (2022). Pada Muktamar Lampung inilah Mas Imam mengalami tekanan politik dalam dinamika kontestasi kepemimpinan NU untuk periode 2021-2026. Walapun begitu, dengan tenang, cermat, dan penuh dedikasi, ia memimpin penyelenggaraan muktamar akbar di tengah tantangan kompleksitas dan dinamika internal yang tinggi, memastikan hajatan penting bagi warga NU itu berjalan sukses dan lancar.

Bumi Cendikia: Laboratorium Kader Bangsa Berkualitas

Terakhir kiprahnya, dia tumpahkan pada pondok pesantren yang dia dirikan bersama sejumlah aktivis NU Yogjakarta lain, bernama Pondok Pesantren Bumi Cendikia. Pondok Pesantren Bumi Cendikia (BC), yang didirikannya pada 2005 inilah “anak rohaninya” yang  berharga. Bumi Cendikia bukan sekadar tempat mengaji dan mewariskan sanad keilmuan pesantren. Ia adalah laboratorium tempat Mas Imam Azis mencetak kader-kader santri yang berkualitas sekaligus berkarakter. Di sini, integrasi ilmu agama dan ilmu sosial-humaniora diajarkan secara kritis, sekaligus mampun beradaptasi dengan kamajuan teknologi informasi mutakhir. Santri juga dididik untuk tidak hanya pandai membaca kitab kuning, tetapi juga membaca realitas sosial, mengenali ketidakadilan, dan memiliki keberanian moral untuk membela kebenaran. Nilai-nilai HAM, kesetaraan gender, pluralisme, perdamaian, dan keberpihakan pada kaum mustadh’afin menjadi napas pendidikan di Bumi Cendikia. Ia mewariskan bukan hanya pengetahuan, tapi semangat juang yang tak kenal lelah untuk menegakkan keadilan.

Ruang Sunyi Mas Imam Azis

Akhirnya, di masa-masa akhir hayatnya aku bersyukur sedang dekat-dekatnya dengan almarhum. Aku melihat jalan hidup mas Imam yang sebenarnya banyak melahirkan perubahan yang berarti dimanapun kiprahnya, tetapi ia adalah tokoh yang tidak pernah silau dengan sanjungan, juga cenderung menghindari publikasi atas apa yang dia perankan. Ia memilih sembunyi di ruang sunyi dari gempitanya hiruk pikuk kehidupan social politik yang melingkupinya. Sepertinya, itulah laku sufi almarhum, sebagaimana kata Ibnu Athoillah dalam Kitab Hikam;

Kata Ibnu Athoillah:

ادفن وجودك في أرض الخمول، فما نبت مما لم يدفن لا يتم نتاجه

“Pendam eksistensi mu dari kemasyhuran, karena sesuatu yang tidak tumbuh dari sesuatu yang dipendam tidak akan sempurna hasilnya”

Dan dalam syarahnya Hikam diberi penjelasan:

لا شيء أضر علي المريد من الشهرة وانتشار الصيت

“Tidak ada sesuatu yang berbahaya bagi seorang murid (berharap ridlo Allah), daripada suatu kemasyhuran dan popularitas”

Demikian kesaksian saya atas Mas Imam Azis, beliau adalah orang baik dan Surga adalah tempat yang sangat layak baginya. Al Fatihah.

Sarang, 18 Juli 2025

Categories
Berita

Womester dan Sejumlah Kampus di Indonesia Akan Ikut Konferensi Internasional di Belanda

Depok, 17 Juli 2025 — World Moslem Studies Center (Womester) bersama rombongan dari beberapa kampus di Indonesia akan mengikuti konferensi internasional dengan tema “Harmony in Turbulence: The Intersection of Faith, Climate Justice, and Global Peace” di Groningen, Belanda, pada 30 September–3 Oktober 2025. Acara ini diselenggarakan oleh PCINU Belanda dan akan diikuti oleh peserta dari berbagai negara.

Delegasi dari Indonesia yang akan berangkat bersama Womester terdiri dari perwakilan UIN Syeikh Wasil Kediri, IAIN Madura, Universitas Islam Lamongan, dan Universitas Yudharta Pasuruan. Keikutsertaan mereka merupakan bagian dari program internasionalisasi pendidikan yang sudah lama digagas oleh Womester.

Direktur Womester, Prof. Dr. KH. M. Noor Harisudin, S.Ag., S.H., M.Fil.I., CLA., CWC., mengatakan bahwa program ini bertujuan mengajak kampus-kampus di Indonesia untuk aktif dalam kegiatan akademik di tingkat global.

“Womester punya program internasionalisasi pendidikan. Kami mengajak teman-teman perguruan tinggi untuk ikut dalam forum-forum resmi yang diselenggarakan oleh kampus-kampus dunia. Ini sudah menjadi fokus utama kami sejak awal,” kata Prof. Haris yang juga Wakil Ketua PP Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara-Hukum Administrasi Negara.

Menurutnya, konferensi ini menjadi kesempatan penting untuk memperkenalkan gagasan dan pemikiran Islam moderat dari Indonesia kepada dunia. Selain itu, acara ini juga menjadi ruang bertemu dan berdiskusi dengan para akademisi dari berbagai negara.

“Kami ingin menularkan semangat internasionalisasi kepada kampus-kampus Islam. Penting bagi kita untuk tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri,” jelas Prof. Haris yang juga Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

Prof. Haris berharap kegiatan ini bisa menjadi ajang tukar pemikiran dan menjalin kerja sama jangka panjang yang bermanfaat bagi pendidikan tinggi di Indonesia.

Sementara itu, Ketua Panitia Konferensi Internasional, Azam Ph.D sangat berterima kasih pada Womester.

“Dari PCI NU Belanda, kami mengucapkan terima kasih pada Womester yang telah membantu dan berkolaborasi dengan kami. Acara ini dimulai tanggal 30 September hingga 3 Oktober 2025,” tutur Azam yang juga mahasiswa Ph.D Universitas Groningen dalam rapat koordinasi dengan Womester Kamis, 17 Juli 2025.

Womester sendiri sudah memiliki jaringan kerja sama di lima benua, yaitu Asia, Afrika, Eropa, Amerika, dan Australia. Melalui jaringan ini, Womester terus mendorong kampus-kampus untuk membuka diri dan menjalin kerjasama dengan institusi luar negeri.

Reporter : Wildan Rofikil Anwar
Editor : M. Irwan Zamroni Ali

Categories
Opini

Tokyo, ‘Kota Terbersih’ di Dunia

Oleh: M.  Noor Harisudin

Direktur Womester, Guru Besar UIN KHAS Jember dan Dai Internasional Jepang Tahun 2025

Salah satu destinasi wisata menarik di Jepang adalah Tokyo. “Tokyo keren dan bersih banget, Prof”, kata Gus Ghozali, panggilan akrab Ketua Pengurus Cabang Istimewa (PCI ) NU Jepang pada saya dalam perjalanan safari Ramadlan di Jepang tahun 2025 ini.  Ketika awal Maret mendarat di Bandara Internasional Narita Jepang, saya dijemput langsung Gus Ghozali, Ketua PCI NU Jepang dan Cak Yuanas, petani sukses di Jepang.  

Benar juga. Saya beberapa kali mondar-mandir ke Tokyo. Ibu kota Jepang dengan jumlah empat belas juta lebih itu memang sangat menawan. Stasiun Tokyo yang sangat megah dan besar. Kuil yang indah sepertu Kuil Sensoji, Kuil Meiji, Kuil Zojoji, Kuil Hie dan Kuil Kanda Myojin.

Namun, yang tak kalah menarik adalah Tokyo sangat bersih, bahkan termasuk tujuh kota paling bersih dunia selain Zurich (Jerman), Dubai (Uni Emirat Arab), Singapura, Calgary (Canada), Minsk (Belarus) dan Vienna (Austria).

Kalau anda keliling Tokyo, anda tidak akan menemukan sampah sedikitpun. Bunga Sakura yang mekar menambah asri dan indah kota terbesar di Asia tersebut.  Selain bertugas dakwah ke Tokyo, saya juga dakwah di kota-kota lain di Jepang seperti Hiroshima, Nigata, Nagano, Koga, Ibaraki, dan semuanya serba bersih.

Kita bisa membandingkan dengan negara-negara muslim. Bangladesh adalah kebalikan Jepang. Bangladesh adalah negara ‘paling kotor’ di dunia. Selain polusi udara, pencemaran lingkungan dan sampah yang menumpuk menjadi alasan utama mengapa disebut sebagai negara paling kotor dunia.

Tentu ironis sekali karena Islam mengajarkan ummatnya tentang kebersihan: an-nadlafatu minal iman. (HR Bukhori Muslim). Kita hanya lihat hadits ini dipampang sepanjang jalan kota-kota Indonesia, tapi anehnya sampah juga berserakan dimana-mana.   

Tentu ini berkebalikan dengan negara Jepang yang lifestyle penduduknya adalah bersih, bersih dan bersih. Meminjam bahasa Nicole Fridman, legal culture (budaya hukum). Jepang tidak membutuhan regulasi khusus tentang kebersihan, namun menekankan pada apa yang disebut dengan budaya hukum.

“Hidup bersih itu budaya kami. Gaya hidup kami, orang-orang Jepang”, kata Mr. Ishi, Wakil Konjen Jepang di Surabaya. Mr Ishi, istri dan anaknya saat mengundang saya untuk makan siang di Hotel Tunjungan Plasa.

Mr. Ishi menceritakan bahwa lima puluh tahun yang silam, ketika dia masih kecil, ada tradisi menarik di rumahnya.”Kalau kami bersih-bersih, bukan hanya halaman rumah kami yang dibersihkan. Namun juga halaman tetangga kanan kiri dan depan juga dibersihan”, kata Mr. Ishi pada saya.

Di masa sekarang, Jepang malah lebih ekstrem. Programnya keren abis: ‘zero waste’. Bahkan, bersih tanpa ada tempat sampah. “Akhirnya, kami harus sediakan tas. Sampah kami harus kami bawa ke rumah”, kata istri Mr. Ishi yang asli Indonesia.

Tidak berhenti disini. Sampah di rumah juga ada aturannya. Misalnya saat membuang sampah dibatasi hingga jam delapan pagi dan di-pilah mana yang organic dan non organik. Demikian juga, mana yang bisa dibakar, mana yang tidak bisa dibakar dan mana yang berbahaya.

“Capai juga sebetulnya. Kalau terlambat dua menit, kita sudah ditinggal. Tapi ya. Itu untuk kebaikan bersama”, kata istri Wakil Konjen Surabaya.

Sesungguhnya, Jepang tidak hanya membangun gaya hidup bersih, namun mereka juga mengupayakan  daur ulang kemasan makanan dan minuman. Demikian ini dikenal dengan 3R, yaitu reduce (menguangi), reuse (menggunakan Kembali) dan recycle (mendaur ulang). Tiga inilah kunci kesuksesan pengelolaan sampah di Jepang. Meski masing-masing pemerintah prefaktur di Jepang memiliki otonomi sendiri untuk pengelolaan sampah dan daur ulang tersebut.

Tentu, saya sangat iri dengan orang-orang Jepang yang sudah jauh mempraktikkan Islam soal ihwal kebersihan. Sementara kita ?

Wallahu’alam.  ***

Categories
Berita

Guru Besar UIN KHAS Jember Ikuti TOT Calon Pengajar Diklat BPIP 2024

Jakarta, 10 Juli 2025 — Salah satu Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (KHAS) Jember, Prof. Dr. KH. M. Noor Harisudin, S.Ag., S.H., M.Fil.I., CLA., CWC., turut berpartisipasi dalam Training of Trainers (TOT) Calon Pengajar Diklat Pembinaan Ideologi Pancasila (PIP) Kualifikasi Utama Tahun 2024 yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 8–10 Juli 2025 di Hotel Vertu Harmoni, Jakarta, ini menjadi forum strategis nasional untuk menyiapkan pengajar-pengajar profesional dalam bidang ideologi kebangsaan. Sebanyak 126 peserta terpilih mengikuti TOT ini, terdiri dari 88 calon pengajar untuk Diklat PIP Kualifikasi Maheswara dan 38 calon pengajar untuk Kualifikasi Penceramah.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala BPIP Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D. yang dalam sambutannya menegaskan pentingnya peran pengajar dalam menyebarluaskan nilai-nilai Pancasila secara holistik.

“Diklat PIP merupakan proses pembelajaran dalam meningkatkan kecerdasan karakter bangsa yang berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Maheswara ujung tombak sekaligus teladan dalam membangun sistem nasional Diklat PIP,” ucap Yudian dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (10/7/2025).

Dalam laporan kegiatan, Plt. Deputi Bidang Pendidikan dan Pelatihan, Dr. Surahno, menyampaikan harapan besar agar Kepala BPIP dapat hadir langsung untuk membuka kegiatan tersebut secara resmi.

“Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mewujudkan pemahaman yang sama bagi para pengajar Diklat PIP, baik dari aspek pengetahuan, keterampilan, maupun sikap, agar mampu menginternalisasi nilai-nilai Pancasila secara utuh kepada peserta diklat,” ujar Surahno.

Sementara itu, Prof. M Noor Harisudin yang menjadi peserta Diklat BPIP mengatakan urgensi kegiatan ini.

“TOT ini menjadi momentum penting untuk memperluas pengaruh akademik dalam membumikan Pancasila secara metodologis dan substantif, khususnya di lingkungan kampus dan masyarakat luas,” ujar Prof. Haris yang juga Wakil Ketua PP Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara-Hukum Administrasi Negara.

Prof. Haris menilai bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari ikhtiar kolektif untuk menghadirkan Pancasila tidak hanya sebagai dokumen historis, tetapi sebagai etos kehidupan berbangsa yang hidup di tengah-tengah masyarakat multikultural.

“Penguatan Pancasila harus dilakukan secara dialogis dan partisipatif. Peran para guru besar dan penceramah sangat vital untuk menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila ke dalam kerangka berpikir dan bertindak masyarakat,” tegas Prof Haris yang juga Pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli Jember.

Sebelumnya pada periode tahun 2024, Angkatan I telah menghasilkan Pengajar Diklat PIP, total khusus Maheswara sebanyak 124 orang dan Penceramah sebanyak 4 orang dan telah tersertifikasi tahun 2023. Sedangkan Angkatan II tahun 2024 yang saat ini menjalani proses ToT diikuti oleh 89 Maheswara Utama dan 39 Penceramah Utama.

Hadir sebagai narasumber dalam pelatihan ini Prof. Dr. M. Amin Abdullah selaku Anggota Dewan Pengarah BPIP, Wakil Kepala BPIP Dr. Rima Agristina, Prof. Dr. Ermaya Suradinata, S.H., M.H., MS., dan Plt. Deputi Bidang Pendidikan dan Pelatihan, Dr. Surahno, S.H., M.Hum.

Dengan pelatihan ini, BPIP berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia pengajar agar mampu menjadi garda terdepan dalam membumikan nilai-nilai Pancasila di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Reporter: Wildan Rofikil Anwar
Editor : M. Irwan Zamroni Ali