
Oleh: M. Noor Harisudin
Direktur Womester dan Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember
Sabtu itu (21/2/2026), saya masih jetlek. Perjalanan 25 jam di pesawat—belum menghitung jam transitnya–dari Indonesia ke Kanada benar-benar melelahkan. Dan lagi, saya masih terbawa aura Indonesia. Tiga hari pertama di Montreal Kanada, saya masih berjuang keras melawan jetlek. Malam hari, saya tidak bisa tidur. Sebaliknya, siang hari jam 12, saya pingin tidur. Beberapa orang memberi saran untuk melawan jetlet, namun toh jetlek tetap jetlek. Sehingga kamar mewah Kiai Sigit Afrianto, saya rebahan ke sana kemari, tapi tidak bisa tidur.
Ketika hari Sabtu itu jam 10 waktu Kanada, ada meeting dengan para tokoh PCI NU Amerika Serikat-Kanada, saya benar-benar memaksakan diri saya. Nanti jam 12 selesai, dan saya pasti bisa tidur, gumam saya. Singkat kata, saya masuk zoom bersama para tokoh NU AS-Kanada. Kiai Sigit Afrianto yang menjadi inisator plus moderator acara tersebut. Kiai Sigit memberi kesempaatan untuk berkenalan satu-satu.
Rois Syuriyah PCI NU AS-Kanada 2025-2027, KH. Zainal Abidin yang memulai. “Saya ini sebetulnya bukan kiai. Namun tidak tahu, kenapa dipanggil kiai. Sebab bidang saya tehnik. Mas Anas Ketua Tanfidziyah tidak bisa hadir karena ada kegiatan, “ ujar Kiai Zainal Abidin. Kiai Zainal Abidin juga mengucapkan selamat datang pada saya di Kanada. Kanada dan Amerika Serikat gabung menjadi satu Pengurus Cabang Istimewa AS-Kanada. Ini seperti PCI NU Australia dan New Zealand.
Ketika diberi waktu, saya menyampaikan maksud dan kedatangan di Kanada. “Saya dari World Moslem Studies Center. Terima kasih atas undangan PCI NU AS – Kanada ke sini. Saya tahu banyak kalau PCI NU AS Kanada sangat aktif berkegiatan dan keren semua. Misalnya Summer Course yang terkenal itu”, kata saya memulai sambutan.
“Kami biasanya ada pengabdian masyarakat ke luar negeri khususnya di bulan Ramadlan. Sebelumnya Womester telah nelakukan engabdian masyarakat ke beberapa negara seperti Taiwan, Australia, Jepang, Belanda, Jerman, Hongkong, Malaysia, dan New Zealand,” ujar saya pada peserta zoom yang berjumlah delapan orang.
Selain itu, saya jelaskan topik khusus kami ke luar negeri, yaitu sosialisasu Pedoman Fikih Luar Negeri. “ Ini sesungguhnya modifikasi Fikih Aqaliyat. Kami sudah ke berbagai negara, bahwa negara minoritas muslim membutuhkan fiqh rukhsah (dispensasi) ini,” kata saya memberi mention pada tujuan utama kedatangan kami. Saya juga membagian oleh-oleh dua buku saya berjudul “Fikih Minoritas” dan “Fikih Nusantara” untuk teman-teman di Montreal, Ottawa dan juga Toronto.
Saya menyampaikan rukhash (dispensasi) dalam Pedoman Fikih Luar Negeri. Misalnya rukshah dengan bolehnya najis mughaladzah disucikan dengan tujuh basuhan. Salah satunya dengan campuran sabun. “Ini karena sulit kita menyampur air dengan debu kalau di negara minoritas Islam. Demikian juga bolehnya mashul khuffain ketika berwudlu di negara minoritas muslim karena faktor cuaca dingin dan masyaqat yang lain kalau sepatu dibuka ketika berwudlu”, urai saya.

Perkenalan dan diskusi dengan para tokoh PCI NU AS Kanada yang berjalan kurang lebih dua jam itu dinamis dan sangat menarik. Satu persatu pun lalu berkenalan dan menanggapi topik pedoman fikih luar negeri.
Misalnya Ust. Moh. Daniar, Wakil Rois Syuriyah PCI NU AS-Kanada. “Saya ini pokoknya ikut khidmah di Nahdlatul Ulama sini. Ingin mendapat berkah Mbah Hasyim Asy’ari,” kata Ust. Daniar yang juga ahli IT. Saya lihat profil ustadz Moh. Daniar selalu merendah alias tawadlu’.
Arif Hakim, Wakil Ketua Tanfidziyah PCI NU AS-Kanada adalah sahabat saya di Indonesia. “Saya sudah kenal lama Prof Haris di Indonesia. Saya sudah ketemu di berbagai forum. Ketika berangkat ke Amerika, saya diminta untuk menjadi pengurus PCI NU Amerika Serikat-Kanada”, kata Arif Hakim yang juga dosen UIN Fatmawati Bengkulu.
Arif Hakim adalah peserta Program Post Doctoral yang juga visiting lecturer di Hobart dan William Smith Colllages di Genewa New York, University of Illionis dan sejumlah kampus lain di Amerika Serikat.
Ada juga tanggapan Ahalla Tsauro yang juga sedang mengambil Ph. D di Quebac City. “Saya pernah mengajar di UIN Sunan Ampel Surabaya. Saya juga alumni FISIP Unair Surabaya. Sekarang mengambil S3 di Quebac City, Kanada, ” kata mas Ahalla Tsauro asal Tuban Jawa Timur kepada saya dan peserta zoom meeting.
Kiai Fachrizal Halim dari Kanada menyambut baik pedoman fikih luar negeri. “Kami sangat tertarik dengan Fikih Luar Negeri yang cocok dengan kita di negara minoritas muslim. Keadaan saya sendiri disini sebagai dosen di Kanada. Namun semua saya tangani sendiri, karena tidak ada orang lain. Selain itu, saya ‘mengobati’ orang-orang dalam perspektif agama-agama, bukan hanya Islam. Namanya Faith Leader, ” ujar Kiai Afrizal Halim yang juga lulusan Ph.D di McGhill University Montreal tersebut.
Sementara, Ust. Joko Supriyanto –pengurus PCI NU AS Kanada yang lain–merasa keberatan dengan kata “minoritas”. “ Saya kira, kita tidak boleh bersandar dengan keadaan minoritas di sini. Minoritas harus jadi Mayoritas. Makanya, kalau dulu pertama kali kita datang ke sini dalam rangka bekerja, nah sekarang niatnya kita tambah. Niat bekerja dan juga niat berdakwah,” ujar Ust. Joko Supriyanto yang juga aktif sebagai Ketua ICMI Amerika Utara.
Lebih dari itu, Ust. Joko Supriyanto menyatakan bahwa keadaan Islam di masa sekarang beda dengan masa dulu. “Kita di AS dulu masih sedikit. Alhamdulillah sekarang muslim sudah banyak. Saya menyebut ada tiga fase dakwah di sini. Pertama, fase membangun masjid. Ini sudah selesai. Kedua. fase membangun sekolah. Ini juga sudah selesai. Ketiga, fase membangun ekonomi. Ini sekarang kita kumpulkan para pengusaha di sini untuk dakwah Islam,” jelas Ust. Joko Supriyanto.
Saya setuju dengan Ust. Joko Supriyanto Dalam pandangan saya, Fikih Luar Negeri itu sebagai keadaan ‘koma’ dan bukan tujuan akhira. Sehingga dakwah menjadi solusi agar muslim semakin kuat secara kuantitas dan kualitas di AS – Kanada.
“Kalau sudah keadaan mayoritas, nanti fasilitas ibadah saudah memadai. Tentu kita tidak pakai Fikih Luar Negeri lagi. Rukhsah ini hilang dan kita jembali ke hukum asal (azimah), ” kata saya menjelaskan pada forum.
Sementara, soal tiga fase, dalam hemat saya, umat Islam di Kanada sudah masuk pada fase keempat. Yaitu fase politik. “Saya melihat, fase politik juga sudah masuk. Buktinya Zohran Mamdani menjadi mayor di New York, dan ada tujuh walikota muslim di negara tersebut. Meski fase keempat masih belum merata,” kata saya memberikan tanggapan.
Diskusi ditutup dengan perkenalan Kiai Sigit Afrianto. “Saya ini diminta menjadi jangkar penjaga gawang PCI NU di Kanada oleh Gus Izzul dan nahdlyin yang tinggal di Montreal, dan bendera PCINU AS-Kanada, sebelum akhirnya diminta menjadi Wakil Rois Syuriah melalui Pleno PCINU AS-Kanada,” kata Kiai Sigit Afrianto yang alumni PT Dirgantara Indonesia dan didikan BJ Habibie tahun 1990-an.
Wallahu’alam. ***
