
Direktur World Moslem Studies Center, Prof. Dr. KH. M. Noor Harisudin S.Ag, SH, M.Fil.I, CLA, CWC, mengapresiasi diaspora muslim Kanada yang telah mempraktikan agama Islam dengan baik. Padahal, sebagai negara dengan minoritas muslim, diaspora Kanada mendapati berbagai kesulitan yang tidak dijumpai di Indonesia. Demikian disampaikan Prof. Kiai Haris dalam Pengajian Syiar Montreal, di rumah H, Ransang W. Hadir puluhan diaspora yang tinggal di kota Montreal dan sekitarnya. Pengajian Syiar Montreal dilaksanakan menjelang buka puasa, Kamis, 19 Pebruari 2026. Jam 16.30 hingga 17.30 waktu Kanada.
Sebagaiman kita tahu, muslim di berbagai negara minoritas mendapati berbagai kesulitan terkait dengan fasilitas ibadah yang kurang dan bahkan tidak ada. Demikian juga dengan regulasi yang kadang mempersempit Gerak ibadah muslim. Namun justru disanalah, menurut Prof. Haris, diaspora muslim mendapatkan pahala ibadah yang lebih besar. Mengapa? Karena masyaqqatnya juga lebih besar. “Tentu effort diaspora muslim di Kanada lebih besar untuk misalnya sholat Subuh berjamaah di masjid. Karena mereka menghadapi tantangan dengan jauhnya masjid dan musim dingin yang esktrem”, kata Prof. Haris yang juga Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.
Pada sisi lain, Prof Haris yang juga Wakil Ketua Komisi Pesantren MUI Pusat ini juga memotivasi diaspora muslim Kanada untuk terus meningkatkan beragama. “Kita beragama itu ada levelingnya. Ada kelasnya. Ibarat kelas, ad akelas TK, SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi. Nah, sama dengan beragama kita. Kita usahakan meningkat terus tiap tahun, termasuk dalam ibadah puasa “, ujar Prof Haris yang juga Wakil Ketua Pengurus Pusat Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara-Hukum Administrasi Negara (PP APHTN-HAN).
Menurut Prof Haris, puasa juga ada tingkatannya. “Kita ingin puasa yang dikritik oleh Rasulullah Saw. Rubba shaimin laisa lahu min shiyaamihi illal ju’a wal athasa. Artinya, banyak sekali orang berpuasa, namun tidak dapat apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja”, ujar Prof Haris yang juga Pengasuh PP Darul Hikam Mangli Jember.

Oleh karena itu, Prof. Haris mendorong muslim Kanada untuk meningkat kualitas agamanya. “Kalau bisa, kita tingkatkan leveling puasa kita. Puasa tidak makan, tidak minum, tidak senggama ya. Tapi juga puasa bicara, puasa mendengar, puasa melihat, dan puasa pikiran dari hal lain yang tidak berguna dalam kehidupan”, kata Prof. Haris yang juga Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur.
Sebagaimana puasanya Siti Maryam, lanjut Prof. Haris, dalam al-Qur’an, beliau diabadikan sebagai orang yang berpuasa dengan puasa bicara. “ Innii nadzartu lirrahmi shauma. Falan ukalimannasa yauma. Saya bernadzar pada tuhan untuk puasa. Maka saya tidak bicara pada manusia”, tukas Prof. Haris yang juga Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur. Karena puasa bicara, maka Nabi Isa yang masih bayi yang akhirnya bicara pada manusia yang lain.
Acara pengajian ini dihadiri puluhan diaspora muslim di rumah H. Ransang W. yang sekarang bekerja di Kementerian Pertahanan Kanada. Hadir pada kesempatan ini H. Sigit Afrianto (Wakil Rois Syuriyah PCI NU AS-Kanada), H. Ransang W (Mustasyar PCI NU AS-Kanada), Fariduddin Athar, Ph.D. (Ketua Pengajian Syiar Montreal), dan puluhan diaspora muslim Indonesia lainnya.
Prof. Haris sendiri dikenal sebagai Dai Internasional. Pada tahun ini Prof. Haris dikirim oleh World Moslem Studies Center bekerja sama dengan Lazawa Darul Hikam Indonesia untuk bertugas dakwah selama 15 hari Ramadlan (17 Pebruari – 3 Maret 2026) di Kota Montrael, Ottawa dan Toronto negara Kanada,. Sebelumnya, Prof Haris telah berdakwah ke berbagai negara seperti Taiwan, Malaysia, Singapura, New Zealand, Australia, Belanda, Jerman, Jepang, Amerika Serikat, Hongkong, Turki dan berbagai negara dunia. Misi Womester adalah menebarkan Islam rahmatan lil alamin ke seluruh penjuru dunia. ***
Reporter: Iklil Naufal Umar
Editor: M Irwan Zamroni Ali
