Categories
Berita

Pengasuh Darul Hikam Terima Belasan Mufti Kerajaan Perak-Malaysia di PWNU Jatim

Surabaya, Darul Hikam-Belasan mufti (pemberi fatwa) dari Kerajaan Perak, Malaysia, belajar tentang “thariqah” (tarekat/pendekatan kepada Tuhan) dengan bersilaturrahmi kepada Idarah Wustha JATMAN (Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah) PWNU Jatim di Surabaya, Sabtu.

Delegasi mufti dari Perak-Malaysia yang dipimpin Dato’ Sri Haji Wan Zahidi bin Wan Teh itu diterima DR KH Romdlon Chotib (Wakil Rais Syuriyah PWNU Jatim), Prof Dr HM Noor Harisudin (Wakil Sekretaris Tanfidziyah PWNU Jatim), KH Muhsin Nurhadi (Rais Mustafat JATMAN Jatim) dan DR KH Mustofa Badri MA (Mudir JATMAN Jatim).

Dalam pengantar kunjungan itu, Dato’ Sri Haji Wan Zahidi mengucapkan terima kasih atas sambutan pengurus PWNU Jatim yang penuh keakraban. “NU itu sama dengan Islam di Malaysia yang berpaham Aswaja (Ahlus Sunnah wal Jamaah), karena itu kami ingin bertukar pengalaman,” katanya.

Seorang anggota delegasi mufti Malaysia memperjelas tukar pengalaman yang diharapkan terkait dengan rencana para mufti dari Perak-Malaysia untuk memasukkan paham Aswaja dengan ajaran tarekat/tasawufnya diakui negara dalam UU, mengingat masuknya paham Wahabi yang suka mengkafirkan.

Menanggapi hal itu, Mudir JATMAN Jatim DR KH Mustofa Badri MA menyatakan tertarik dengan lawatan mahabbah dari para mufti dari Perak-Malaysia yang sangat lembut dan sesuai dengan paham NU dan juga tarekat JATMAN yang mengajarkan mahabbah/cinta dan tidak mudah mengkafirkan pihak lain.

“Saya merasa terharu dengan lawatan mahabbah yang didasari kecintaan itu. NU sendiri lahir dari cinta melalui Komite Hijaz yang memprotes Wahabi yang merusak khazanah lama, seperti makam Nabi dan mengkafirkan. Setelah Komite Hijaz sukses itu, maka ulama merasa perlu mempertahankan Aswaja dengan mendirikan NU,” katanya.

Oleh karena itu, Malaysia dengan Indonesia harus saling bekerja sama untuk menyelamatkan masyarakat dari dari ajaran Wahabi yang mudah menyesatkan/mengkafirkan. “NU sendiri bertujuan untuk menjaga agama, menjaga negara, dan menjaga umat dengan dakwah,” katanya.

Terkait JATMAN, ia mengatakan JATMAN merupakan salah satu “jalan dakwah” yang didirikan pada 1957 yang hingga kini tercatat ada 44 thariqah yang terseleksi mu’tabaroh, namun di Jatim hanya ada tujuh thariqah yang memiliki jamaah banyak.

“Soal seleksi itu ditangani mursyid yang menelusuri sanad dari guru ke guru hingga ke Rasulullah. Itu mursyid yang menyeleksi dan seleksi ulang akan dilakukan pada munas dan halaqoh mendatang, jadi kultural saja, kalau Malaysia mau formal (seleksi negara), ya bisa. Kalau ada imam thariqah mengaku Imam Mahdi, pun ada di Indonesia,” katanya.

Sementara itu, Prof. Dr. HM Noor Harisudin, M. Fil.I, Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur, menjelaskan bahwa kunjungan Mufti Negeri Perak ini bertujuan untuk mempelajari tasawuf di Indonesia, khususnya melalui JATMAN sebagai bahan penyusunan kebijakan keagamaan di Negeri Perak, Malaysia.

“Setiap negeri (propinsi: red) di Malaysia memiliki otoritas keagamaan sendiri, termasuk dalam menentukan aliran thariqah yang diakui. Karena itu, para mufti negeri Perak Malaysia ini meminta masukan mengenai kriteria thariqah yang mu’tabarah, yang tidak mu’tabarah, serta thariqah yang berpotensi menyimpang, lengkap dengan ukuran dan kriterianya, jelasnya”

Prof. Haris yang juga Ketua Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Pergerakan IKA PMII menegaskan bahwa JATMAN memiliki kredibilitas untuk menjadi kiblat spiritual yang sejajar dengan tradisi tarekat di Timur Tengah dan Afrika Utara.

“Saat ini, rujukan Malaysia dalam bidang tarekat dan tasawuf masih terbatas pada Mesir, Maroko dan juga Indonesia. Indonesia melalui JATMAN yang dibawah NU semakin diakui sebagai salah satu pusat rujukan penting di dunia Islam,” jelas Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember itu.

Diskusi berlangsung intensif sejak pukul 12.00 hingga 14.30 dan membahas berbagai aspek tarekat serta penerapannya dalam kehidupan beragama.

Reporter : Iklil NaufaL Umar
Editor : Wildan Rofikil Anwar

Categories
Berita

Berikut Susunan Lengkap Pimpinan MUI Periode 2025-2030

Berikut Susunan Lengkap Pimpinan MUI Periode 2025-2030

JAKARTA, MUI.OR.ID–Musyawarah Nasional (Munas) XI MUI telah menetapkan Pimpinan MUI untuk periode 2025-2030 setelah melalui musyawarah dengan sistem formatur.

Ada 19 orang formatur yang dipilih kemudian ditetapkan berdasarkan Peraturan Organisasi (PO) MUI Nomor:01/PO-MUI/VI/2025 tentang Pedoman Pemilihan Pengurus MUI.

Pemilihan Ketua Umum MUI dan Penyusunan Pengurus Dewan Pimpinan dan Dewan Pertimbangan MUI dilaksanakan dengan tahapan pemilihan formatur, penetapan formatur, pemilihan ketua umum, penyusunan Dewan Pimpinan MUI, pemilihan ketua Dewan Pertimbangan, dan penyusunan Dewan Pertimbangan.

Jumlah formatur ditetapkan sebanyak 19 orang, terdiri dari 3 orang unsur Dewan Pimpinan MUI Pusat demisioner (ketua umum, sekretaris jenderal, dan bendahara umum).

Kemudian satu orang dari unsur Dewan Pertimbangan, 7 orang dari unsur Dewan Pimpinan MUI Provinsi, 6 orang unsur pimpinan Ormas Islam yang terdiri dari NU dan Muhamadiyah sebagai unsur tetap, dan ormas lain secara proporsional/bergantian.

Kemudian satu orang unsur cendekiawan Muslim/perguruan tinggi Islam dan satu orang unsur pondok pesantren.

Wakil Presiden ke-13 RI KH Ma’ruf Amin kembali menjadi ketua Dewan Pertimbangan MUI. Sementara KH Anwar Iskandar kembali menjadi ketua umum MUI.

Kemudian hasil musyawarah ditetapkan dalam Rapat Pleno XII oleh Ketua SC Munas XI MUI KH Masduki Baidlowi pada Sabtu (22/11/2025).

Selain itu, Buya Anwar Abbas dan KH Marsudi Syuhud kembali menjadi wakil ketua umum MUI periode 2025-2030. Sementara Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah periode 2020-2025 KH Cholil Nafis menjadi wakil ketua umum MUI periode 2025-2030.

Berikut susunan lengkap Pimpinan MUI periode 2025-2030:

STRUKTUR DAN PERSONALIA ORGANISASI MAJELIS ULAMA INDONESIA MASA KHIDMAT 2025-2030

A. DEWAN PERTIMBANGAN

Ketua : Prof Dr KH Ma’ruf Amin

Wakil Ketua : Prof Dr KH Nasaruddin Umar

Wakil Ketua : Dr KH Afifuddin Muhajir

Wakil Ketua : Prof Dr Jimly Asshiddiqie

Wakil Ketua : Dr Hamdan Zoelva, S.H., M.H.

Wakil Ketua : Prof Dr Syafiq Mughni

Wakil Ketua : H Basri Bermanda, MBA

Wakil Ketua : KH Abdullah Jaidi

Wakil Ketua : Tamsil Linrung

Wakil Ketua : Prof Dr Kamaruddin Amin

Wakil Ketua : Prof Dr Hj Amany Lubis

Wakil Ketua : Dr Hj Badriyah Fayumi

Wakil Ketua : Dr H Yusnar Yusuf

Wakil Ketua : Prof Dr Masykuri Abdillah

Wakil Ketua : Dr KH Jeje Zaenudin,M.A.

Wakil Ketua : Prof Dr Masnun Tahir

Wakil Ketua : Dr KH Muhyiddin Junaidi, Lc, MA.

Wakil Ketua : H Muhammad Syarfi Hutauruk, MM.

Wakil Ketua : Dr KH Sa’ad Ibrahim

Sekretaris : Dr H Zainut Tauhid Sa’adi, M.Si.

Wakil Sekretaris : Dr KH Zulfa Mustofa

Wakil Sekretaris : Prof Dr Nadratuzzaman Hosein

Wakil Sekretaris : Prof Dr Ahmad Muzakki

Wakil Sekretaris : Dr Hj Sabriati Aziz

Wakil Sekretaris : Siti Aisyah

Wakil Sekretaris : Prof Dr Hj Valina Singka Subekti

Wakil Sekretaris : Prof Dr H Moh Mukri, MAg.

Wakil Sekretaris : Dr KH M Sodikun

Wakil Sekretaris : KH Nasirul Haq

Anggota:

Ketua-Ketua Umum dan Sekjend-Sekjend Ormas Islam (yang belum terwakili dijajaran ketua dan di undangan sebagai peserta Munas XI tahun 2025) dan Tokoh-Tokoh serta perseorangan.

DEWAN PIMPINAN MUI

Ketua Umum : K.H. M. Anwar Iskandar

Wakil Ketua Umum :

KH M Cholil Nafis, Ph.D.

Dr H Anwar Abbas, M.M., M.Ag.

Dr KH Marsudi Syuhud, M.M.

Ketua-Ketua

1. Bidang Fatwa Prof Dr KH M Asrorun Ni’am Sholeh, M.A.

2. Bidang Fatwa Metodologi Gusrizal Gazahar

3. Bidang Infokom KH Masduki Baidlowi

4. Bidang Dakwah KH Abdul Manan Ghani

5. Bidang Kerukunan Abdul Moqsith Ghozali

6. Bidang Ekonomi M Azrul Tanjung

7. Bidang Luar Negeri Prof Dr Sudarnoto Abdul Hakim

8. Bidang Ekonomi Syariah Sholahudin Al Aiyub

9. Bidang Kesehatan Prof Fasli Jalal

10. Bidang Seni Budaya H Pasni Rusli

11. Bidang Pendidikan Prof Dr Faisol Nasar Bin Madi, M.A

12. Bidang PRK Dr Siti Ma’rifah

13. Bidang Kajian Prof Utang Ranuwijaya

14. Bidang Hukum Prof Dr Wahiduddin Adams, SH, MA.

15. Bidang Ukhuwah Muhammad Zaitun Rasmin

16. Bidang Pesantren KH Fahrur Rozi Burhan

17. Bidang Penanggulangan Bencana Nusron Wahid

18. Bidang Halal Masyhuril Khomis

19. Bidang Filantropi Prof Dr Noor Achmad

Sekretaris Jenderal : H Amirsyah Tambunan

Wakil Sekretaris Jenderal:

1. Bid Fatwa Aminudin Yakub

2. Bid Fatwa Metodologi Drs H Muhammad Ziyad, M.A.

3. Bid Infokom Asrori S Karni

4. Bid. Dakwah Dr KH Arif Fahrudin

5. Bid. Kerukunan Sarmidi Husna

6. Bid Ekonomi Hazuarli Halim

7. Bid Luar Negeri Safira Machrusah, M.A.

8. Bid. Ekonomi Syariah Dr KH Bukhori Muslim, M.A.

9. Bid. Kesehatan Dr dr Muhammad Adib Khumaidi, Sp.OT

10. Bid. Seni Budaya Dr H Erick Yusuf, SSy, MPd.

11. Bid. Pendidikan Prof Dr Armai Arief, MAg.

12. Bid. PRK Nilmayetti Yusri

13. Bid. Kajian Dr KH Ali M Abdillah

14. Bid. Hukum Dr H Ihsan Tanjung

15. Bid. Ukhuwah Dr Syamsul Qomar

16. Bid. Pesantren KH Chaerul Shaleh Rasyid, S.E., M.Si.

17. Bid. Penanggulangan Bencana Mabroer M.S.

18. Bid. Halal Rofiqul Umam Ahmad

19. Bid. Filantropi Rahmat Hidayat

Bendahara Umum : H Misbahul Ulum

Bendahara:

1. Rudi Mas’ud

2. Diana Dewi

3. Trisna Ningsih Yuliati

4. Dr Yayat Sujatna, SE. MSi.

5. Jojo Sutisna

6. Idy Muzayyad, M.Si.

7. Mahsin

8. Dr Erni Juliana Al Hasanah, SE, M.Ak.

Categories
Berita

PBNU: Pendakwah Harus Menjaga Akhlak dan Martabat Kemanusiaan

Jakarta, jurnal9.tv -Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyesalkan tindakan dan perilaku pendakwah Elham Yahya Luqman, yang tidak mencerminkan akhlakul karimah serta bertentangan dengan ajaran Islam.Perilaku yang bersifat merendahkan martabat manusia, terlebih terhadap anak-anak, merupakan pelanggaran serius terhadap nilai kemanusiaan dan prinsip dakwah bil hikmah yang menjadi ciri dakwah Islam rahmatan lil ‘alamin.

“Itu menodai nilai-nilai dakwah sendiri yang seharusnya memberikan teladan melalui sikap dan lakunya kepada umat,” kata Ketua PBNU Alissa Wahid.

PBNU menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama mewarisi amanah besar untuk membangun kemaslahatan umat dengan berpegang pada prinsip Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah.

Oleh Karena itu, NU menolak keras segala praktik yang mencederai Maqashid Syariah (tujuan penerapan syariat), terutama perlindungan terhadap kehormatan manusia (hifdz al-‘irdh), tanpa memandang usia, status, maupun kedudukan sosial.

“Prinsip maqashid syariah inilah yang harus dipegang dan menjadi pertimbangan utama para pendakwah,” ujarnya.

PBNU juga menekankan bahwa penghormatan tinggi kepada para kiai-nyai didasarkan pada keulamaan, kearifan sebagai sosok pengasuh, serta peranannya sebagai pengayom jamaah. Penghormatan ini adalah amanah dan seyogyanya, setiap tokoh agama wajib menjaga diri dan berperilaku sebagai uswatun hasanah bagi umat.

“Sebab sejatinya kiai-nyai, pendakwah secara umum juga merupakan guru yang sudah sepantasnya digugu dan ditiru,” katanya.

Sejalan dengan itu, PBNU mengajak seluruh elemen jamaah dan jam’iyah Nahdlatul Ulama untuk menciptakan ruang yang aman dan bermartabat bagi semua insan, terutama bagi mereka yang lemah seperti anak-anak, santri, dan perempuan.

Sebagai bentuk tanggung jawab kelembagaan, PBNU telah membentuk Satuan Tugas Penanggulangan Kekerasan di Pesantren (SAKA). Tim ini dibentuk secara aktif bekerja menanggulangi praktik kekerasan, pelecehan, dan bentuk penyimpangan lainnya di lingkungan pesantren NU.

“Pembentukan SAKA merupakan wujud nyata komitmen PBNU dalam menjaga marwah pesantren serta memastikan lingkungan dakwah dan pendidikan Islam tetap berlandaskan kasih sayang, akhlak mulia, dan perlindungan terhadap kemanusiaan, serta maqashid syariah,” jelasnya.

PBNU menegaskan kembali tidak ada ruang bagi kekerasan, pelecehan, dan penyalahgunaan otoritas dalam dakwah Islam. “Dakwah harus menumbuhkan kemuliaan, bukan menistakan martabat manusia,” pungkasnya.

sumber : https://jurnal9.tv/pbnu-pendakwah-harus-menjaga-akhlak-dan-martabat-kemanusiaan/

Categories
Lembaga Wakaf Tunai

Dari Jember ke Gunungkidul, Lazawa Darul Hikam Berkolaborasi dengan Wakaf Mulia Institut Bangun Greenhouse Melon Premium

Lembaga Zakat dan Wakaf Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Wakaf Mulia Institut dalam pelaksanaan Program Cluster Wakaf Greenhouse Melon Premium tahap ke-2.

Kegiatan peresmian kolaborasi ini dilaksanakan secara daring pada Rabu, 5 November 2025, dan dihadiri oleh perwakilan dari Badan Wakaf Indonesia (BWI), Wakaf Mulia Institut dan pengurus Lazawa Darul Hikam.

Program Wakaf Greenhouse Melon Premium merupakan bentuk inovasi wakaf produktif yang menggabungkan potensi ekonomi syariah dengan pemberdayaan masyarakat. Setelah sukses pada tahap pertama, kini program tersebut memasuki tahap kedua dengan pembangunan tiga unit greenhouse melon premium di kawasan Kota Wakaf Gunungkidul.

Direktur Wakaf Mulia Institut, Eko Priyato, SE., CWC., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat ekosistem wakaf produktif nasional.

“Kami ingin menjadikan program ini sebagai model kolaborasi antara regulator, nazhir, pelaksana, dan masyarakat untuk mewujudkan ekonomi umat berbasis wakaf yang mandiri dan produktif. Program ini tidak hanya memproduktifkan aset wakaf berupa tanah, tetapi juga memberikan kemanfaatan ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat sekitar,” ujar Eko.

Komisioner Badan Wakaf Indonesia (BWI), Ir. Arief Rohman Yulianto, MM, menyampaikan apresiasi dan harapan atas bergabungnya Lazawa Darul Hikam. Ia menilai sinergi ini menjadi langkah penting dalam memperkuat gerakan wakaf produktif di tanah air.

“Selamat bergabung Prof. Haris bersama Pengurus Lazawa Darul Hikam. Terima kasih atas partisipasinya, insyaallah kolaborasi ini akan mempercepat perkembangan wakaf di Indonesia”, ujar Arief Rohman Yulianto dalam sambutannya dari Malaysia.

Sementara itu, Direktur Lazawa Darul Hikam, Prof. Dr. KH. M. Noor Harisudin, S.Ag., S.H., M.Fil.I., CLA., CWC., menyampaikan bahwa keterlibatan pihaknya dalam program ini menjadi tonggak penting dalam pengembangan wakaf produktif di lingkungan pesantren dan lembaga keagamaan.

“Alhamdulillah, bulan ini kami mulai berkolaborasi dalam program wakaf produktif pertanian melon bersama Wakaf Mulia. Ini terobosan baru bagi Lazawa Darul Hikam tahun ini,” tutur Prof. Haris yang juga Guru Besar UIN KHAS Jember.

Ia menambahkan bahwa program ini sejalan dengan visi dasar wakaf, yaitu menjaga pokoknya dan menyalurkan hasilnya untuk kemaslahatan umat.

“Program ini masih pertama bagi Lazawa Darul Hikam, dan kami ingin menjadi bagian dari ekosistem wakaf produktif di Indonesia bersama BWI, Bank Indonesia, dan Wakaf Mulia Institute. Ke depan, kami berharap akan semakin banyak alokasi wakaf produktif dari kami yang hasilnya bisa digunakan untuk kemaslahatan umat. Pelan tapi pasti, manfaatnya akan semakin luas untuk masyarakat,” ungkapnya.

Program Cluster Wakaf Greenhouse Melon Premium merupakan hasil sinergi berbagai pihak, antara lain: Badan Wakaf Indonesia (BWI), Kementerian Agama RI, Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul selaku regulator, Platform Satu Wakaf Marketplace sebagai agregator, Wakaf Mulia Institute sebagai inisiator dan nazhir wakaf uang, PC NU Kabupaten Gunung Kidul sebagai nazhir wakaf tanah, PT Nusa Farm sebagai pelaksana program, Nazhir Amal Produktif dan masyarakat sebagai investor wakaf.

Peresmian kolaborasi ini menjadi momentum penting bagi Lazawa Darul Hikam untuk memperluas jangkauan dan dampak gerakan wakaf produktif. Melalui kolaborasi strategis seperti ini, Lazawa berharap dapat melahirkan lebih banyak inisiatif wakaf yang tidak hanya memberdayakan, tetapi juga menumbuhkan kemandirian ekonomi umat di berbagai daerah.

Reporter : Iklil Naufal Umar
Editor : Wildan Rofikil Anwar

Categories
Lembaga Wakaf Tunai

Lazawa Darul Hikam Gelar Program MUSEMMA Kedua, Atunsiasme Jamaah Masjid Milenia Membludak

Jember – Lembaga Zakat dan Wakaf (Lazawa) Darul Hikam kembali melanjutkan kiprah dakwah inovatifnya melalui Program MUSEMMA (Muslim Sehat, Masjid Makmur) yang diselenggarakan untuk kedua kalinya di Masjid As-Salam Perum Milenia Mangli, Kaliwates, Jember, pada Sabtu pagi (8/11/2025).

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Lazawa Darul Hikam dan Takmir Masjid As-Salam Perum Milenia Mangli, dengan semangat untuk menguatkan jamaah secara spiritual sekaligus menumbuhkan kesadaran hidup sehat.

Program MUSEMMA merupakan terobosan Lazawa Darul Hikam yang memadukan dakwah dan edukasi kesehatan. Tidak hanya menghadirkan tausiyah keagamaan, tetapi juga memberikan pemeriksaan kesehatan gratis, konsultasi ZISWAF, serta pendampingan gaya hidup sehat bagi masyarakat.

Rangkaian acara dimulai sejak pukul 04.30 WIB dengan shalat Subuh berjamaah, dilanjutkan tausiyah Islam dan kesehatan, konsultasi ZISWAF, cek kesehatan gratis (tensi darah, gula darah, asam urat, dan kolesterol), serta sarapan pagi bersama jamaah.

Dalam kegiatan tersebut, Direktur Lazawa Darul Hikam, Prof. Dr. KH. M. Noor Harisudin, S.Ag., S.H., M.Fil.I., CLA., CWC, dan tenaga kesehatan dari RSD dr. Soebandi, Ns. Yoyok Prasetyo Santoso, S.Kep, kembali tampil sebagai narasumber utama.

Dalam paparannya, Prof. Haris, yang juga Guru Besar UIN KHAS Jember sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hikam Mangli, menyampaikan bahwa seorang Muslim akan selalu berada dalam dua keadaan saat beribadah—sehat dan sakit.

“Ketika sehat, ia harus bersyukur karena diberi kemampuan untuk beribadah dengan sempurna. Namun ketika sakit, ia juga harus bersabar karena sabar itu bagian dari ibadah,” tutur Prof. Haris.

Beliau menegaskan, menjaga kesehatan bukan hanya kewajiban jasmani, melainkan juga bagian dari tanggung jawab spiritual.

“Tubuh yang sehat memudahkan kita menegakkan shalat, berpuasa, dan beribadah lainnya. Karena itu, menjaga kesehatan sejatinya adalah bentuk syukur kepada Allah. Islam selalu mengajarkan keseimbangan antara kesehatan rohani dan jasmani,” tegasnya.

Prof. Haris menambahkan, MUSEMMA bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi akan terus dikembangkan secara berkelanjutan di berbagai masjid.

“Program ini InsyaAllah akan menjadi gerakan bersama untuk memakmurkan masjid dan meningkatkan kualitas hidup umat Islam,” ujar Prof. Haris yang juga Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian dan Pelatihan MUI Jawa Timur.

Sementara itu, Ns. Yoyok Prasetyo Santoso, S.Kep, dalam sesi edukasi kesehatannya menyampaikan bahwa puasa merupakan salah satu cara alami yang sangat efektif untuk menjaga kesehatan tubuh.

“Puasa bukan hanya ibadah spiritual, tapi juga terapi medis alami. Banyak penelitian membuktikan bahwa puasa dapat membantu menormalkan tekanan darah, menurunkan kadar kolesterol, menstabilkan gula darah, dan mengeluarkan racun dari tubuh,” jelas Yoyok.

Ia menambahkan bahwa dengan berpuasa secara teratur, tubuh diberi kesempatan untuk beristirahat dari proses pencernaan yang berat.

“Puasa bisa menjadi obat bagi berbagai penyakit seperti darah tinggi, asam urat, kolesterol, dan diabetes. Jadi, selain berpahala, puasa juga menyehatkan,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Yoyok juga mengingatkan jamaah agar memperhatikan pola makan dan menjaga keseimbangan antara aktivitas dan istirahat.

“Kesehatan itu bukan hanya urusan medis, tetapi gaya hidup. Jika kita menjaga makanan dan memperbanyak aktivitas ibadah, insyaAllah tubuh akan tetap sehat,” pesannya.

Program MUSEMMA kedua ini mendapat antusiasme luar biasa dari jamaah Masjid As-Salam. Puluhan warga Perum Milenia Mangli hadir sejak Subuh untuk mengikuti kegiatan hingga selesai pada pukul 07.00 WIB.

Para jamaah mengaku senang karena bisa mendapatkan manfaat ganda: penguatan spiritual dan pelayanan kesehatan gratis dalam satu kegiatan yang penuh makna.

Reporter: Wildan Rofikil Anwar
Editor: M. Irwan Zamroni Ali

Categories
Berita

Kami Ingin Semua Masjid Ramah Lansia dan Difabel

Wawancara Eksklusif Bersama Prof. Dr. KH. M. Noor Harisudin, CLA., CWC.

Direktur Lembaga Zakat dan Wakaf Darul Hikam Indonesia

Sejak di-launching tahun 2024, Program Wakaf Kursi Sholat mendapat sambutan hangat dari masyarakat Indonesia.  Program kursi wakaf merupakan program unggulan Lazawa Darul Hikam yang unik dan berdampak luas. Progrm ini juga merupakan wujud kepedulian terhadap jamaah lansia dan difabel agar tetap bisa beribadah dengan nyaman di masjid.

Program Wakaf Kursi Shalat dari Lazawa Darul Hikam merupakan contoh nyata bagaimana wakaf dapat diwujudkan dalam aksi sosial yang nyata dan berkelanjutan. Di bawah kepemimpinan Prof. Dr. KH. M. Noor Harisudin, CLA., CWC., Lazawa tak hanya mengelola dana umat, tetapi juga menggerakkan perubahan menuju masjid yang ramah lansia dan difabel. Program ini juga bekerja sama dengan Bank Indonesia dengan Platform Digital Satu Wakaf.

Di tengah kesibukannya yang seabrek di dalam maupun luar negeri, kami berkesempatan berbincang dengan Prof. Dr. KH. M. Noor Harisudin, CLA., CWC., Direktur Lazawa Darul Hikam Indonesia di kantornya di Perum Pesona Milenia C.7 No.6 Mangli Jember.

Apa yang melatarbelakangi munculnya program wakaf kursi di Lazawa Darul Hikam?

Ide ini berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi masjid yang belum ramah bagi jamaah lansia dan difabel. Kami melihat banyak masjid indah dan besar, tapi belum menyiapkan sarana yang memadai bagi jamaah lanjut usia dan penyandang disabilitas. Dari situ kami berinisiatif membuat program wakaf kursi agar mereka tetap bisa beribadah dengan nyaman.

Program ini merupakan upaya membumikan nilai-nilai Islam yang inklusif. Ibadah harus bisa diakses oleh semua, termasuk lansia dan difabel. Jangan sampai ada jamaah yang enggan datang ke masjid karena keterbatasan fasilitas.

Mengapa program ini menjadi fokus utama Lazawa Darul Hikam?

Pertama, isu masjid ramah lansia dan difabel belum banyak diperhatikan. Saya keliling ke berbagai kota di Indonesia, ini belum menjadi gerakan mainstream.

Kedua, negara belum hadir di bidang ini. Negara masih sibuk yang lain; MBG, penyediaan lapangan kerja, pencegahan korupsi, dan sebagainya. Oleh karenanya Lazawa Darul Hikam merasa terpanggil untuk menjadi pelopor.

Ketiga, trend global untuk lebih memanusiakan manusia. Khususnya yang berkebutuhan khusus. Kami merasa umat Islam belum mention pada tren global ini. Karena itu, Lazawa Darul Hikam ingin melakukan percepatan mainstream masjid ramah lansia dan difabel. 

Bagaimana pelaksanaan program ini?

Sejak tahun 2024, kami menjalankan program ini secara bertahap melalui kegiatan sosialisasi dan pembagian kursi wakaf ke berbagai daerah di Jawa Timur.

Kami berkeliling ke masjid-masjid untuk menyalurkan kursi wakaf sekaligus mengedukasi takmir tentang pentingnya masjid ramah lansia dan difabel. Kami terus bergerak dari satu masjid ke masjid dengan kampanye masjid ramah lansia dan difabel sembari memberikan 10 kursi sholat wakaf.

Setelah itu, kami membangun jaringan masjid inklusif agar program ini berkelanjutan. Masjid-masjid ini akan terus berkoordinasi untuk mempercepat fasilitas masjid yang ramah lansia dan difabel. Mereka akan menguatkan satu dengan lainnya.  

Kami kolaborasi dengan Bank Indonesia dalam platform digital Satu Wakaf untuk menggalang dana empat kegiatan program wakaf, salah satunya dengan program wakaf kursi. Alhamdulillah, sukses. Bank Indonesia banyak membantu kami. 

Bagaimana rencana program ini ke depan?

Ke depan, kami akan berkolaborasi dengan Badan Wakaf Indonesia (BWI) Jawa Timur dan Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya. Tujuannya untuk memperkuat dan mempercepat gerakan ini. Kami berharap program ini bisa direplikasi di luar Jawa Timur di tahun 2027.

Rencananya juga, kami akan menyelenggarakan Award untuk Masjid Ramah Lansia dan Difabel. Kami akan berkolaborasi dengan Unesa Surabaya, Badan Wakaf Indonesia Jatim, Dewan Masjid Indonesia Jawa Timur dan Pemprof. Doanya semoga ikhtiar ini sukses dan berhasi.

Bagaimana respons masyarakat sejauh ini?

Respons masyarakat sangat positif. Banyak masjid yang merasa terbantu. Jamaah lansia kini bisa beribadah dengan lebih nyaman. Bahkan kursi wakaf yang kami salurkan di berbagai kota di Indonesia: Jember, Bondowoso, Lumajang, Malang, Kediri, Bangkalan bahkan ke luar negeri yaitu di Masjidil Haram Mekah. Tentu ini menjadi kebanggaan tersendiri karena menandakan semangat umat Indonesia sampai ke Tanah Suci.

Apa tantangan terbesar dalam pelaksanaannya?

Menurut saya, tantangan utama terletak pada kesadaran masyarakat dan pendanaan. Masih banyak yang belum memahami pentingnya aksesibilitas di masjid. Ada yang beranggapan kursi bisa mengurangi kekhusyukan, padahal justru membantu jamaah yang tidak mampu berdiri. Selain itu, proses pengadaan dan distribusi kursi juga memerlukan biaya dan koordinasi yang besar.

Namun, kami optimis bahwa dengan niat baik dan kerja ikhlas, semua hambatan dapat diatasi. Kami yakin, selama dijalankan dengan keikhlasan, Allah Swt.  akan memudahkan.

Apa harapan ke depan dari program wakaf kursi ini?

Saya berharap gerakan ini menjadi Gerakan Nasional Masjid Ramah Lansia dan Difabel. Kami ingin dari Sabang sampai Merauke, semua masjid menjadi ramah lansia dan difabel. Targetnya  di tahun 2030, impian itu sudah terwujud. 

Oleh karena itu, kami ingin semua sadar dan bergerak: takmir masjid, jamaah masjid dan masyarakat luas. Demikian juga organisasi masjid dan semuanya harus bergerak menuju ke sana. Tidak harus besar, yang penting bermanfaat. Wakaf kursi ini sederhana, tapi dampaknya besar karena memberi kenyamanan ibadah bagi banyak orang khususnya orang lansia dan difabel. ***