
Ketika saya tanya, apa nilai-nilai yang dibangun di Kanada? Duta Besar Republik Indonesia di Kanda, Muhsin Syihab mengatakan bahwa Kanada dibangun dengan nilai-nilai multi kuturalisme.
Alhamdulillah, sejak bertugas Safari Ramadlan 16 Februari hingga 3 Maret 2026, saya telah berada di wisma KBRI Ottawa antara 23-28 Februari 2026. Saya berkesempatan berdiskusi banyak dengan Dubes RI yang juga keponakan Prof Qurais Syihab tersebut.
Wisma KBRI Ottawa sendiri adalah bangunan megah, dulu dengan pemandangan indah di sekelilingnya. Di belakang wisma, ada sungai yang saat ini membeku dan dilapisi salju. Maklum, musim dingin (winter). Sejauh mata memandang, kita akan melihat bendera Perah Putih yang berkibar dengan gagahnya. Sementara, di depan Wisma KBRI Ottawa juga penuh salju dengan ketinggian di atas satu meter.
“Biasanya pada musim panas (summer), sungai ini tampak indah dengan boat yang berjalan di sepanjang sungai,” kata Pak Dubes Muhsin Syihab bercerita pada saya.
“Meski tidak menyebut Canadian Values, namun Kanada telah menetapkan multi kulturalisme sebagai bagian dari bangsa ini. Jadi ya multikulturalisme ini acuannya,” kata Dubes dalam perjalanan dari Wisma ke Kantor KBRI Ottawa di Kanada.
Di sekeliling Wisma KBRI, ada wisma kedutaan negara lain. Jarak tempuh Wisma KBRI ke Kantor KBRI Ottawa kurang lebih 20 menit. Ottawa adalah ibu kota Kanada. Kotanya tidak besar, namun cantik dan indah. Ia menjadi destinasi wisata di Kanada.
Sebagaimana kita tahu, Kanada adalah negara dengan multikulturalisme. Istilah multikulturalisme pertama kali digunakan di Kanada pada dekade 1960-an oleh Pierre Trudeau saat menjabat sebagai Perdana Menteri Kanada saat itu. Pierre Trudeau menggunakan istilah multikuturalisme untuk membedakannya dengan konsep bikulturalisme.
Sebelum Pierre Trudeau, Kanada dikenal memiliki dua kelompok etnis yang saling bersaing: bangsa Inggris dan bangsa Perancis. Pada masa pemerintahan Pierre Trudeau, Kanada diubah statusnya sebagai negara multi kultural. Karena kelompok etnis di Kanada telah terdiri dari bangsa Inggris, bangsa Prancis, Indian dan Inuti.
Tidak hanya itu. Kanada juga memiliki imigran dari berbagai negara khususnya Tiongkok, India, Jerman dan Arab. Oleh karena itu, kebijakan multikulturalisme-nya klop dengan faktaa sosiologis empiris mult kulturalnya warga Kanada. Kebijakan ini selanjutnya juga menjadi–apa yang saya sebut dengan–‘ideologi’ negara Kanada.
Pada tahun 1989, Will Kymlicka mempopulerkan studi multikulturalisme di Kanada. Gagasan tentang multikulturalisme dia tuangkan dalam buku Liberalism, Community and Culture. Pada tahun 1995, ia memperkuat gagasannya dengan menerbitkan buku Multicultural Citizenship. Gagasan buku ini gayung bersambut dengan gerakan multi kulturalisme yang dimulai sejak tahun 1970-an.
Salah satu yang menopang gerakan multikulturalisme adalah pendidikan. Kanada menerapkan pendidikan multikultural sejak tahun 1960. Demikian ini karena masyarakat Kanada sejak awal pembentukan negaranya terdiri dari aneka ragam budaya. Penduduknya juga berasal dari para imigran. Pendidikan multikultural di Kanada menjadi progresif karena sejak awal pembentukannya, sebagian wilayah Kanada mengenal budaya yang berlainan. Di sinilah, apa yang saya sebut ideologi multikulturalisme ditanamkan pada anak-anak Kanada.
Walhasil, multikulturalisme di Kanada juga tidak terlepas dari peranan pemerintah. Pemerintah sejak awal memproklamirkan kebijakan negara Kanada sebagai negara penganut multikulturalisme. Multikulturalisme Kanada dikatakan berhasil karena mampu melindungi hak-hak warga negaranya sehingga dapat meredam masalah-masalah yang terjadi antara setiap etnis dan menjadi model percontohan bagi negara-negara lain.
Namun demikian, multikulturalisme Kanada tidak berjalan tanpa hambatan. Banyak perselisihan yang terjadi dalam masyarakatnya karena memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai multikulturalisme itu sendiri. Sehingga multikulturalisme memainkan peran vital dalam perkembangan kehidupan warga Kanada.
Meski berlangsung kurang dari satu abad, negara Kanada boleh dikatakan sukses membangun multikuturalisme di negaranya. Kita bisa melihat ragam rumah ibadah di Kanada.
“Ada masjid (Muslim), gereja (Kristen), sinagoge (Yahudi), gurdwara (Orang Sikh) dan rumah ibadah yang lain. Ini bukti bahwa Kanada sukses membangun multi kulturalisme di negeri ini,” kata Kiai Sigit Afrianto pada saya. Sebelum balik ke Indonesia (3/3/2026), Kiai Sigit mengajak saya berkeliling ke berbagai rumah ibadah ini di Montreal.
Dalam agama Islam, ragam multikulturalisme dapat dilihat dengan berbagai aliran. Perbedaan Sunni-Syiah tidak “dibesar-besarkan” di negara ini. Demikian juga dengan Ahmadiyah.
“Dulu ketika Kiai Zulfa Mustofa dan Kiai Said Asrori ke Toronto, kami membawa beliau ke Jaffari Community Center. JCF adalah kampung Syiah Itsna Asyariyah di Thornhill Toronto. JFC menjadi salah satu pusat Syiah terbesar di Amerika Utara,” kata Gus Izul melalui pesan aplikasi WA kepada saya. Gus Izul yang nama lengkapnya Muhammad Izzul Haq, Ph.D adalah Ketua PCINU Amerika Serikat-Kanada masa khidmah 2023-2025.
Tidak hanya itu. Gus Izul juga menyebut Peace Village di Vaughan Toronto. “Ini kampung Ahmadiyah. Nama jalan-jalannya pakai nama-nama imam dan ulama Ahmadiyah,” kata Gus Izul yang juga alumnus program doktor McGill University di Montreal Kanada.
Tentu, masih banyak ragam aliran keagamaan yang ada di negara ini. Termasuk ragam aliran orang yang tidak beragama. “Banyak juga orang yang tidak beragama di Kanada. Dalam logika multikulturalisme, ateis juga bebas hidup di negara ini,” kata Kiai Sigit pada saya.
Wallahu’alam.
M. Noor Harisudin; Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember dan Direktur Womester.
sumber: https://www.arina.id/amp/khazanah/ar-9cixs/melihat-multikulturalisme-di-kanada



