Dubes RI Muhsin Syihab Terima Kasih atas Kehadiran Dai Internasional Womester di Kanada

Ottawa Kanada, 22 Pebruari 2026

Dubes RI di Kanada, Muhsin Syihab mengucapkan terima kasih atas kedatangan Prof. M Noor Harisudin, Direktur World Moslem Studies Center (Womester) di Ottawa Kanada dalam rangka Safari Ramadan mulai 6 Pebruari hingga 3 Maret 2026. Demikian disampaikan oleh Muhsin Syihab dalam acara Pengajian dan Buka Bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Ottawa pada Minggu, 22 Pebruari 2026.

“Selaku Dubes RI Kanada, kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran semuanya di Auditorium KBRI Ottawa ini. Dan juga, kami terima kasih atas kedatangan tamu khusus kita, Prof M. Noor Harisudin ke Kanada. Beliau datang dalam rangka Safari Ramadlan. Prof Haris adalah seorang yang ahli dalam ilmu hukum Islam. Kemarin beliau ke Montreal, sekarang di Ottawa dan nanti akan ke Toronto’, kata Muhsin Syihab yang menjadi Dubes Kanada bukan Juli 2025.

Muhsin Syihab berharap agar digunakan untuk berkonsultasi tentang agama pada Prof. Haris yang juga Guru Besar Ilmu Fikih di UIN Kiai Haji Achmas Siddiq Jember. “Karena Prof Haris selama lima hari ke depan, Prof Haris akan mengisi di KBRI Ottawa”, ujar Muhsin Syihab, Dubes muda yang lahir pada 5 Juni 1970.

Sementara, Prof Haris berterima kasih pada Dubes Kanada yang sesungguhnya adalah seorang ulama juga. Dalam paparannya, Prof Haris menjelaskan tiga unsur Islam yaitu tauhid, fikih dan tasawuf. “Ketiga-tiganya harus dipelajari dan diamalkan secara seimbang. ”, kata Prof Haris, Dai Internasional yang sudah keliling 23 negara dunia tersebut.

Secara spesifik, Prof Haris menjelaskan tentang Fikih Luar Negeri yang dalam bahasa lain Fikih Aqaliyat. “ Fikih Luar Negeri itu yang Fikih Aqaliyat. Ini fikih untuk muslim yang hidup di negara dengan minoritas muslim seperti Kanada, Amerika, Australia, Taiwan, Belanda, Jerman, Hongkong, Rusia, Jepang dan sebagai”, ujar Prof Haris yang juga Wakil Ketua Komisi Pesantren MUI Pusat.

Terkait dengan Fikih Luar Negeri, Prof Haris memberikan catatan bahwa muslim luar negeri secara khusus mendapatkan rukhsah dari agama. Sebagaiman dikatahui, rukhsah adalah lawan dari azimah. Jika azimah adalah hukum asal, maka rukhash adalah hukum keringanan yang ditetapkan oleh Allah dalam keadaan tertentu (fi haalatin khassah).

“Karena ada kesulitan tertentu, maka muslim mendapatkan keringanan. Misalnya kesulitan mensucikan najis babi atau sering disebut dengan Najis Mugholadzah. Menurut jumhur ulama, cara mensucikannya dengan tujuh kali basuhan dan salah satunya dengan debu. Nah sucikan dengan debu ini sulit di beberapa negara, maka diganti dengan sabun”, ujar Prof. Haris yang juga Pengasuh PP Darul Hikam Mangli Jember.

Mashul Khufain (mengusap mauzah atau sepatu) adalah rukhsah lain yang diberikan pada muslim di negara minoritas. “Karena kesulitan kaki dicopot, maka kita tidak usah copot. Dan tidak da tempat wudlu, kecuali westafel yang menutut orang luar negeri dinggap kumuh dan tidak sopan meletakkan kaki di westafel untuk wudlu. Maka kita bolej mengikuti pendapat ulama yang membolehkan mashul khufain di negara yang tadi saya sebut. Saya sendiri juga praktik mashul khufain di berbagai negara tersebut”, ujar Prof. M Noor Harisudin yang juga Guru Besar Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmas Siddiq Jember.

Namun demikian, meski ada kelonggaran dalam Fikih Luar Negeri, Prof Haris tetap mendorong muslim Kanada untuk terus berdakwah. Demikian ini agar umat Islam tidak menjadi minoritas selamanya, namun suatu saat nanti bisa mayoritas. “Saya dengar di Montreal dulu hanya ada satu masjid tahun 1956. Kini Montreal sudah memiliki 30 masjid. Demikian juga masjid di Ottawa yang dulu hanya satu masjid, kini punya sepuluh masjid. Demikian kota-kota besar lain di Kanada”, kata Prof M Noor Harisudin yang juga Wakil Ketua PP Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara-Hukum Administrasi Negara 2025-2030.

Acara dihadiri seratus lebih jamaah diaspora Indonesia di Ottawa. Selain Muhsin Syihab (Dubes RI), juga hadir Rezal Akbar Nasrun (Minister Counsellor) dan Keluarga Besar KBRI Ottawa juga hadir semua. Jamaah juga hadir seperti Ust Bani (Ketua Pengajian Masyarakat Muslim Indonesia Ottawa), Ust. Amin (Sesepuh PM2IO) Sigit Afrianto (Wakil Rois Syuriyah PCI NU As-Kanada) Sebelum tausiyah Ramadan, diawali dengan doa khataman al-Qur’an oleh Ust Amin. Acara selanjutnya buka puasa bersama dan sholat tarawih secara berjamaah. ***

Bagikan :

Facebook
WhatsApp
Telegram

Postingan Terkait